6 Hal Menarik yang Harus Kamu Tahu dari Universitas Indonesia

Universitas Indonesia atau yang lebih dikenal UI adalah salah satu perguruan negeri terbaik di Indonesia. UI selalu bercokol di tiga besar universitas terbaik bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Gadjah Mada (UGM).  


Kampus utamanya terletak di bagian Utara dari Depok, Jawa Barat tepat di perbatasan antara Depok dengan wilayah Jakarta Selatan, dan kampus utama lainnya terdapat di daerah Salemba di Jakarta Pusat. 

Berikut serupedia akan mengulas Hal menarik dari Universitas Indonesia.

1. Sejarah Universitas Indonesia

Pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1849 membangun sebuah sekolah tinggi ilmu kesehatan. Pada Januari 1851 sekolah tersebut secara resmi dinamakan sebagai Dokter-Djawa School. Sekolah tinggi ini mengkhususkan diri pada ilmu kedokteran, tepatnya pendidikan tenaga mantri. Setelah sempat mengalami perubahan nama di akhir abad 19, tepatnya di tahun 1898, nama Dokter-Djawa School berubah menjadi School tot Opleiding van Indische Artsen (School of Medicine for Indigenous Doctors) atau dikenal juga sebagai STOVIA. Selama 75 tahun STOVIA berfungsi sebagai tempat pendidikan terbaik untuk calon dokter di Indonesia, sebelum ditutup pada 1927. Namun demikian, sebuah Sekolah Kedokteran kemudian dibangun bersama dengan empat sekolah tinggi lain di beberapa kota di Jawa.

Sekolah tinggi tersebut adalah Technische Hoogeschool te Bandoeng (Fakultas Teknik) yang berdiri di Bandung pada 1920, Recht Hoogeschool (Fakultas Hukum) di Batavia pada 1924, Faculteit der Letteren en Wijsbegeerte (Fakultas Sastra dan Kemanusiaan) di Batavia pada 1940, dan setahun kemudian dibangunlah Faculteit van Landbouwweteschap (Fakultas Pertanian) di Bogor. Lima sekolah tinggi tersebut merupakan pilar dalam menciptakan the Nood-universiteit (Universitas Darurat), yang dibangun pada tahun 1946.

Nood-universiteit berganti nama menjadi Universiteit van Indonesië pada tahun 1947 dan berpusat di Jakarta. Beberapa professor nasionalis, salah satunya adalah Prof. Mr. Djokosoetono, melanjutkan fungsinya sebagai pengajar untuk Universiteit van Indonesië di Yogyakarta, yang saat itu menjadi ibukota negara.

Ibukota Indonesia kemudian kembali ke Jakarta pada 1949 setelah Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia. Universiteit van Indonesië Yogjakarta juga kembali pindah ke Jakarta.

Universiteit van Indonesië kemudian disatukan menjadi “Universiteit Indonesia” pada 1950.  Universitas ini mempunyai Fakultas Kedokteran, Hukum, Sastra dan Filsafat di Jakarta, Fakultas Teknik terletak di Bandung, Fakultas Pertanian di Bogor, Fakultas Kedokteran Gigi di Surabaya, serta Fakultas Ekonomi ada di Makasar.

Fakultas-fakultas yang berada di luar Jakarta kemudian berkembang menjadi universitas-universitas terpisah di antara tahun 1954-1963. Universitas Indonesia di Jakarta mempunyai kampus di Salemba dan terdiri dari beberapa Fakultas seperti: Kedokteran, Kedokteran Gigi, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Sastra, Hukum, Ekonomi, dan Tehnik.

Pada perkembangan selanjutnya berdirilah Fakultas Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Kesehatan Masyarakat, llmu Komputer dan kemudian Fakultas Keperawatan.

2. Tempat Bedirinya Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) di Indonesia : Mapala UI

Mapala UI merupakan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa tingkat universitas yang berdiri sejak 12 Desember 1964. Mapala UI merupakan wadah bagi mahasiswa Universitas Indonesia untuk berkegiatan di alam bebas, berkontribusi bagi masyarakat, serta peduli terhadap pelestarian lingkungan.

Mapala UI berdiri di Bukit Ciampea, Bogor. Nama yang digunakan waktu itu adalah Mapala Prajnaparamita. Prajnaparamita diambil dari bahasa Sanskerta yang berarti Dewi Pengetahuan. Mapala juga bermakna berbuah atau berhasil. Ide pembentukan organisasi pelopor pecinta alam di kampus ini dicetuskan oleh Soe Hok Gie (M-007-UI), seorang aktivis mahasiswa terkemuka. Jenuh dengan situasi yang penuh intrik dan konflik politik di kalangan mahasiswa waktu itu, Hok Gie mengusulkan untuk membentuk suatu organisasi yang bisa menjadi wadah berkumpulnya berbagai kelompok mahasiswa.

3. Logo UI diciptakan Mahasiswa ITB

Lambang UI ini dirancang oleh seseorang bernama Sumaxtono (nama aslinya adalah Sumartono). Ia adalah mahasiswa jurusan Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB) yang saat itu ditugaskan untuk membuat lambang UI. 

Setelah makna dari lambang UI ini dipublikasikan, muncullah kontra yang datang dari pendiri Fakultas Hukum UI Arifin Surya Atmadja. Arifin menyampaikan surat kepada rektor Gumilar mengenai ketidaksetujuannya atas makna dibalik lambang UI. 

Menurutnya, ada makna politik di balik lambang UI tersebut. Ia mengatakan bahwa sebenarnya jumlah cabang pada pohon yang ada di Makara itu ada 17 dan jumlah kerang yang ada di dasar airnya ada 8. Itu menunjukkan tanggal kemerdekaan RI yaitu tanggal 17 bulan Agustus. Namun hal ini dibantah oleh Srihadi yang merupakan kawan akrab Sumaxtono. Srihadi yang dulu sama-sama mengenyam pendidikan Seni Rupa di ITB menyatakan bahwa tidaklah mungkin Sumaxtono mengaitkan hal tersebut ke dalam politik karena Sumaxtono adalah orang yang bebas dan memiliki seni yang tinggi. 

Lagipula menurutnya, saat mencari ide pembuatan lambang itu, Sumaxtono berjalan-jalan ke candi-candi, diantaranya Candi Kalasan dan Candi Prambanan yang terdapat banyak lambang Kala dan Makaranya. Menurutnya itu hanyalah interpretasi bentuk saja, dulu belum ada interpretasi seperti itu. Memang lambang UI pernah mengalami beberapa kali perubahan. 

Lambang UI pertama kali digunakan yaitu pada tahun 1952 dan ditemukan di buku kurikulum Fakulteit Teknik untuk tahun ajaran 1952-1953. Farida sendiri pernah melihat foto-foto yang ditunjukkan oleh Srihadi mengenai kapan pertama kali lambang Makara digunakan sebagai lambang UI. “Saya juga lihat sendiri fotonya, ada bus untuk studi tur gitu lalu di kacanya ada lambang Makara dan di bawahnya ada tulisan ‘Jurusan Seni Rupa UI’ dan warnanya masih hitam,” katanya menjelaskan.

4. Serangkaian ospek universitas yang panjang

Kalau kamu baru diterima jadi mahasiswa UI, siap-siap rajin ke kampus untuk mengikuti serangkaian ospek universitas, termasuk latihan paduan suara dengan konduktor khas yaitu Pak Dibyo. Ya, beliau adalah sosok yang melatih para maba selama paduan suara, yang nantinya akan dijadikan paduan suara untuk para wisudawan. Serangkaian ospek universitas bukan hanya latihan paduan suara, tapi ada pengenalan lain-lain tentang universitas. Kalau kamu bolong-bolong mengikuti ospeknya, bisa jadi jaket almamatermu ditahan sementara. Serangkaian ospek universitas ini bisa memakan waktu hingga satu bulan. 

5. Jakun (jaket kuning) beserta warna Makara sesuai fakultas

Lewat jaket almamaternya—the famous yellow jacket itu, lho!—UI menciptakan sistem untuk menunjukkan identitas fakultas masing-masing pemakainya, yaitu lewat warna emblem Makara (simbol Universitas Indonesia) yang harus ditempel di sebelah dada kiri jaket

Almamater sakti ini juga punya keunikan yang membedakan kita dengan mahasiswa fakultas lain. Pembeda ini disebut Makara. Setiap fakultas mempunyai warna Makara yang berbeda dan diletakan di dada kiri. Contohnya Fakultas Hukum mempunyai Makara berwarna merah, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya mempunyai Makara berwarna putih, sedangkan Fakultas Teknik mempunyai Makara berwarna biru dongker dan masih banyak warna-warna lainnya.

6. Crystal of Knowledge

Crystal of Knowledge merupakan perpustakaan pusat Universitas Indonesia (UI) yang diklaim sebagai perpustakaan terbesar di dunia. Perpustakaan pusat UI ini memang menjadi salah satu landmark di kampus UI Depok. Bukan hanya dari kemegahan bangunan yang menjadikannya sangat instagramable atau bahkan dijadikan latar untuk foto pre-wedding, kelengkapan buku dan fasilitas-fasilitas lainnya juga terdapat di perpustakaan ini. Selain itu, perpustakaan ini dilengkapi banyak outlet seperti Bank BNI, Gold's Gym, Starbucks, Books & Beyond, Indomaret, hingga berbagai cafe lainnya.

Perpustakaan ini menempati lahan 2,5 hektare dengan luas bangunan 33.000 meter persegi dan diresmikan tanggal 13 Mei 2011.Perpustakaan ini mulai dibangun semenjak Juni 2009.

Perpustakaan ini memiliki 3-5 juta judul buku, dilengkapi ruang baca, 100 silent room bagi dosen dan mahasiswa, taman, restoran, bank, serta toko buku. Perpustakaan ini diperkirakan mampu menampung 10.000 pengunjung dalam waktu bersamaan atau 20.000 pengunjung per hari.Sebagian kebutuhan energi perpustakaan ini dipasok dari pembangkit listrik tenaga surya. Pembangunan gedung beserta pengadaan fasilitas perpustakaan ini menelan dana Rp 175 Milyar, dengan rincian Rp 123 Mliyar berasal dari anggaran pemerintah dan sisanya kerja sama dengan pihak swasta. UI sendiri menganggarkan Rp 12 M untuk perawatan dan pengadaan buku baru.

Referensi :
1. id.wikipedia.org
2. ui.ac.id
3. idntimes
4. kompasiana

loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "6 Hal Menarik yang Harus Kamu Tahu dari Universitas Indonesia"

Post a Comment