Namaku Arin Kesenanganku adalah Mempermainkan Laki-Laki di Ranjang

Namaku Arini, berusia 27 tahun dan telah menikah. Aku memiliki wajah yang imut dan rambut lurus panjang. Aku tidak pernah menjalani perawatan wajah maupun kulit dengan menggunakan kosmetik atau obat, melainkan selalu menjaga wajah dan kulitku dengan cara yang alami. Aku rajin berolahraga. Aku sering jogging dan sit-up, demi menjaga jantung, pernapasan, dan perutku. Aku tergabung dalam klub fitness dan aerobik, dan rajin latihan. Itulah yang membuat tubuhku terlihat bugar dan kencang. Pantatku cukup bulat dan berisi, sedangkan pahaku cukup seksi dan proporsional. Untungnya, aku dianugrahi buah dada yang bulat, padat berisi, proporsional dengan tubuhku, dan juga dilengkapi dengan puting susu berwarna merah muda yang sangat indah.

Gundukkan di selangkanganku pun juga merupakan anugerah yang datang dengan sendirinya, sehingga membuatnya terlihat indah dan menggoda. Untunglah, karena aku tidak tahu caranya memperindah kedua bagian tersebut. Jika aku melihat tubuh telanjangku melalui cermin, aku merasa sangat puas dengan tubuhku ini yang merupakan gabungan dari anugerah dan hasil usahaku secara alami, tanpa menggunakan obat-obatan atau kosmetik sedikitpun. Aku masih merasa percaya diri jika disandingkan dengan artis-artis hollywood yang memiliki tubuh indah seperti Scarlett Johansson, Jessica Alba, dan Angelina Jolie. Tinggi badanku sekitar 166cm, berat badanku 48kg, ukuran BH-ku 34B.



Di usia pernikahanku dengan suamiku yang kedua, kami belum juga dikaruniai seorang anak. Padahal, kami cukup sering berhubungan seks pada masa suburku. Permainan seks-ku dengan suamiku cenderung hambar. Suamiku kurang bisa mengatur pernapasannya, apalagi dihadapkan oleh wanita yang memiliki tubuh indah sepertiku, sudahlah… Baru 2 menit sudah crot crot croot… Sebetulnya, aku mendambakan seks yang dahsyat sekali. Akan tetapi, jika suamiku tidak bisa memberikannya, aku harus memahaminya karena selain seks, banyak hal indah yang bisa kudapat darinya. Tidak pernah terpikir dalam benakku untuk selingkuh dan mendapatkan kenikmatan dari laki-laki lain. Akan tetapi, aku memiliki kebiasaan dan kesenangan yang buruk, yang sangat bersifat paradoks dengan pemikiranku tentang kesetiaan. Aku sangat suka menggoda laki-laki lain, sampai mereka benar-benar penasaran denganku, dan membawaku ke ranjang, saling melucuti pakaian kami satu per satu, dan disaat batang kemaluan laki-laki yang bersamaku itu hendak memasukki lubang kemaluanku, langsung aku mengatur pernapasanku untuk mengalahkan semua birahiku, dan langsung mencampakkan laki-laki itu. Entah kenapa, aku sangat puas melihat wajah dan ekspresi laki-laki yang kucampakkan sesaat sebelum acara puncak. Aku ingat saat dengan Andi. Kami melakukan pemanasan yang membara, dari berciuman bibir, saling menjilati tubuh satu sama lain, dan pada saat ia sudah memasang posisi batang kemaluannya untuk menggenjot selangkanganku, langsung kutendang dadanya secara menyamping sehingga ia terpental dari ranjang dan terjerembab ke lantai. Lalu, aku berdiri dan meninggalkan kamar, sebelum pintu kamar menutup sepenuhnya, aku bisa melihat ekspresi kepalang tanggung dan kecewa dari Andi, yang membuatku sangat-sangat puas. Saat dengan Rico pun sama. Bedanya, waktu dengan Rico, posisiku ada diatas. Aku sudah memasang lubang kemaluanku untuk menggenjot penis Rico, dan pada saat itu kututup matanya dengan tanganku, kemudian aku langsung berdiri membuka matanya dan langsung meninggalkan ruangan. Lagi-lagi, ekspresi kepalang tanggung dan kekecewaannya itu benar-benar membuatku puas. Untungnya, dengan suamiku aku tidak pernah mempunyai keinginan untuk melakukannya. Ya, hanya suamiku yang bisa membuat hatiku benar-benar luluh, sehingga bisa merubuhkan pertahananku dengan birahi.

Laki-laki lain selain suamiku, tidak ada yang bisa merubuhkan pertahananku. Semuanya selalu berakhir dengan kekecewaan karena kupermainkan.
Oh iya, aku bekerja di salah satu cabang franchise fitness yang cukup besar. Aku bekerja sebagai instruktur yoga, aerobik, dan hip-hop. Kelasku selalu ramai. Kata teman-temanku sih, mereka bukannya kepingin ikut kelas, tapi karena pingin melihat instruktur nya yang imut-imut dan punya body bagus. Aku sih tidak heran ya, secara tubuhku memang bagus. Mungkin pembaca merasa bahwa aku ini orang yang ge-er sekali, tapi memang benar demikian. Sampai suatu saat, datanglah seorang personal trainer baru. Ia memperkenalkan dirinya bernama Handi. Aku perhatikan dia dari atas sampai bawah, sangat mantap penampilannya. Ia memiliki wajah yang tampan dan maskulin. Tubuhnya sudah jadi semua, dari bahu, dada, punggung, tangan, dan kaki. Tentu saja, ia menjadi idola setiap wanita, baik yang kerja di tempat fitness, maupun member. Hmmm, tiba-tiba saja aku jadi tertarik untuk mempermainkannya. Targetku sudah kutetapkan.

Awalnya, hubunganku dan Handi cenderung agak dingin. Kami ngomong seperlunya saja, dan reaksiku pun cenderung dingin. Aku bisa melihat bahwa sepertinya Handi memiliki rasa ketertarikan denganku. Ia suka mencuri-curi pandang kearahku, dan selalu mencari kesempatan untuk ngobrol berduaan denganku. Pernah suatu ketika, aku kebetulan sedang off dan karena karyawan di tempat fitness tempatku bekerja mendapatkan akses penuh atas fasilitas tempat fitness, maka aku menggunakan hari off itu untuk latihan dada dan perut. Aku latihan menggunakan bench press dengan beban 2.5 kg. Pada saat aku sedang break untuk set berikutnya, tiba-tiba kedua beban yang ada di ujung besinya dicabut.

“Mendingan ga usah pake beban, tapi set nya diperbanyak.” Kata Handi.

Kirain siapa, rupanya si Handi toh, bikin kaget saja. Tapi, aku turuti saja sarannya karena entah kenapa aku merasa bahwa dia bisa dijadikan panutan dalam hal fitness. Kemudian, aku melanjutkan set berikutnya. Handi pun kadang membantuku disaat menjelang akhir set. Maka, aku ganti ikut membantunya pada saat dia latihan, karena dia juga hari ini kebetulan latihan dada dan perut juga. Ia latihan menggunakan bench press dengan beban 30kg. Meskipun demikian, aku dapat membantunya karena kebetulan tenagaku tergolong sangat kuat untuk ukuran wanita. Tanpa harus disebutkan, mempermainkan laki-laki di ranjang itu juga memerlukan tenaga yang besar. Bayangkan saja, pada saat aku mempermainkan Andi, berapa banyak tenaga yang diperlukan. Untuk mengalahkan seluruh birahiku saja butuh tenaga yang besar, belum lagi lepas dari tindihan tubuhnya, dan menendang dadanya sampai seluruh tubuhnya terjatuh dari tempat tidur. Tanpa tenaga yang besar, hal itu hampir mustahil. Back to reality… Selesai bench press, kami istirahat sebentar sebelum latihan sit-up. Kami jadi mengobrol banyak hal, dan lama-kelamaan aku jadi terbuka pada Handi. Bahkan sampai urusanku di ranjang dengan suamiku pun kuceritakan. Begitu juga halnya dengan hubungannya dengan istrinya. Hubungan seks-nya dengan istrinya cenderung buruk. Istrinya termasuk dalam kategori wanita yang sangat mudah orgasme. Dengan bentuk tubuh atletis seperti Handi sih, kujamin istrinya tidak akan bertahan lama.

“Yok sit-up.” Kata Handi seraya berdiri dan meminum air putih dari botolnya.

Kami pun beranjak dari tempat semula ke area sit-up. Kami melakukan sit-up bersama-sama. Pada saat aku sit-up, dia berhenti, dan juga sebaliknya. Aku bisa melihat ketika aku sit-up, ia terbengong-bengong melihat dada dan perutku. Aku memakai tanktop hitam ketat, sehingga dada dan perutku benar-benar menjeplak. Walaupun ia terbengong-bengong, tapi ia tidak terlihat bodoh, tidak seperti Andi dan Rico. Sepertinya bukan target yang mudah, atau terlalu mudah?

Setelah sit-up, selesai sudah agenda fitnessku, sama halnya juga dengan Handi. Kami berjalan menuju area ganti baju sambil mengobrol. Tempat ganti baju kini sudah tinggal 6 meter didepan kami. Area ganti baju laki-laki ada di kiri, sedangkan perempuan ada di kanan. Aku sengaja mengajak Handi mengobrol sambil berjalan, dan setelah dekat dengan area ganti baju, aku sengaja membimbing Handi ke area ganti baju perempuan, yaitu ke kanan. Aku juga terkadang sengaja membungkukkan badan ke arahnya, sehingga ia bisa melihat BH-ku dan sedikit buah dadaku. Tapi rupanya, ia berhenti berjalan. Ia sadar bahwa ia harus jalan ke kiri, dan ia berpamitan kepadaku untuk pergi ke area ganti baju laki-laki. Wah, ternyata target yang tidak begitu mudah toh. Aku jadi penasaran dan lebih tertarik untuk mempermainkannya.

Setelah selesai mandi, sauna, dan berganti baju, aku menemui Handi diluar area ganti baju. Ia pun juga telah selesai. Kami keluar dari tempat fitness, dan makan bersama di restoran dekat tempat fitness itu. Selama makan, kami jadi lebih sering mengobrol dan menjadi lebih akrab. Bahkan, kami saling sharing mengenai kehidupan seks impian masing-masing. Sama sepertiku, ia pun mendambakan seks yang hebat dan penuh birahi. Akan tetapi, sama pula denganku, keadaan tidak memungkinkan. Istri Handi adalah seorang wanita karir yang sibuk. Saat Handi pulang dari bekerja sebagai personal trainer, ia tentu sangat lelah, dan membutuhkan pelayanan dari istrinya. Tetapi, karena terlalu lelah, istrinya langsung tidur setelah pulang kantor dan mandi. Terlihat nada kekecewaan dari Handi saat ia menceritakannya. Oke, berarti step pertama untuk mempermainkannya adalah dengan memberikan Handi lebih banyak sentuhan. Maka, selama mengobrol, aku terkadang menyertainya dengan merangkul bahunya sambil tertawa riang. Ya ampun, bahunya betul-betul jadi. Terasa sekali di tanganku pada saat aku merangkul bahunya. Terkadang, aku juga menyertai kedipan mata di sela obrolan kami. Handi kelihatan nyaman dengan itu. Ia pun sepertinya mulai terbawa. Terkadang ia mencubit tanganku, dan mengajakku tos di sela obrolan kami. Kekar dan kuat sekali tangannya, betul-betul terasa kokoh pada saat ia mencubit tanganku dan tos denganku. Setelah selesai makan, Handi menawariku untuk mengantarku pulang. Awalnya aku menolak, karena rumahku dan rumahnya berlawanan arah. Tapi setelah sedikit memaksaku, aku akhirnya ikut pulang juga dengannya. Anehnya, pada hari itu jalanan tidak macet sama sekali, sehingga dalam 15 menit kami sudah sampai dirumahku.

“Makasih ya babe udah nganterin aku.” Kataku.
“babe?” Tanya Handi.
“Daripada kupangil Han, sama aja kan?” Candaku.
“Iya juga sih ya.” Kata Handi.
“Oke, see you tomorrow Han.” Kataku.

Pada saat aku berkata demikian, kuselipkan juga ciuman di pipinya. Ia pun tampak kaget dengan perlakuanku tersebut. Tanpa menunggu lagi, aku turun dari mobilnya, dan melambaikan tangan kepada Handi. Aku berjalan menelusuri pekarangan rumahku. Pada saat aku melihat kebelakang, kulihat kaca mobil tempatku duduk tadi masih terbuka, sehingga aku bisa melihat Handi di dalamnya yang sedang senyum-senyum sendiri karena kuberi ciuman. Belum tahu kamu Handi… ini adalah awal dari penderitaanmu. Sesalilah hari dimana kamu pertama kali membantuku latihan bench press, yaitu hari ini.

Keesokan harinya, kami bertemu di tempat fitness. Kebetulan aku sedang tidak ada kelas, dan dia juga tidak ada sesi PT, sehingga kami menghabiskan waktu luang kami dengan saling sharing olahraga. Sekarang, setiap ada kesempatan, kami selalu menghampiri satu sama lain, entah itu membantu pekerjaan kami masing-masing, atau mengobrol dan sharing di waktu luang. Dari hari ke hari, hubunganku dengan Handi semakin dekat. Hingga suatu hari, pada saat ia mengantarku pulang…

“Rin, aku mao kasih hadiah ultah nih buat kamu. Kamu mao nerima dong.” Kata Handi.
“Dikasih hadiah siapa yang ga mao? Apalagi kalo hadiahnya mahal.” Candaku.
“Oke Rin, tutup mata kamu Rin. Biar begitu buka mata, hadiahnya ada didepan mata kamu.” Kata Handi.
“Katro amat sih kamu Han, sok romantis.” Kataku.
“Yaudah, turun gih. Ga ada hadiah kalo gitu.” Katanya sambil pura-pura ngambek.
“Iya-iya… nih aku tutup mata.” Kataku sambil menutup mataku.
“Tunggu, jangan buka mata dulu.” Kata Handi.
Aku penasaran dengan apa yang akan Handi berikan kepadaku sebagai kado ultah.
“Selamat ulang tahun, Arini.” Kata Handi.
Bersamaan dengan itu, aku merasakan ada benda kenyal yang melumat bibirku. Aku langsung tahu bahwa benda kenyal itu adalah bibir Handi. Maka, aku membuka mataku. Wajah Handi betul-betul sangat dekat dengan wajahku, sementara bibirnya masih sibuk melumat bibirku. Lama-kelamaan, aku mulai terbawa dengan permainannya. Maka, aku mulai membalas lumatannya, dan menelusupkan lidahku ke dalam mulutnya, dan disambut oleh lidahnya. Kini, lidah kami saling beradu berganti-gantian di dalam mulut Handi dan mulutku. Tangan Handi yang kekar mulai memeluk pinggangku. Hal ini sangat tidak kuantisipasi, rasanya bisa berbahaya jika diteruskan. Apalagi ini didepan rumahku, bisa gawat kalau tiba-tiba suamiku muncul didepan pintu utama. Maka, kukumpulkan segala napas untuk mengalahkan segala nafsu birahiku. Setelah berhasil mengumpulkan napas dan menenangkan diriku, aku mendorong Handi sehingga ia terjengkang ke pintu supir.
“Han, inget. Aku sudah bersuami, sedangkan kamu sudah beristri. Kayanya kita harus inget sama pasangan kita masing-masing deh.” Kataku dengan masih sedikit bergetar akibat perbuatan kami barusan.
“Iya Rin. Seharusnya aku sadar kalo kita itu sama-sama sudah punya pasangan hidup. Tapi apa daya Rin, aku sayang sama kamu.” Kata Handi dengan masih menatap mataku.

Aku tidak berkata apa-apa, dan langsung turun dari mobil dan masuk menuju rumahku. Sepanjang perjalanan masuk ke dalam rumahku, walaupun wajahku terlihat sangat tenang, tetapi hatiku sangat berdebar-debar mengingat kejadian tadi. Lumatan bibir Handi, dan permainan lidahnya, begitu berbeda dengan orang-orang sebelumnya. Kuakui, ia sangat pandai dalam bermain lidah dan bibir, bahkan hati kecilku harus mengakui bahwa ia lebih pandai dari suamiku. Entahlah, apakah ini disebabkan karena kurangnya gairah seks dalam kehidupan rumah tanggaku, ataukah tanpa kusadari aku telah menyayangi Handi sama seperti Handi juga sayang padaku. Entahlah, aku tidak mengerti… dan tidak mau mengerti.

Hari berikutnya, tidak ada rasa canggung diantara kami walaupun kami melakukan perbuatan semalam. Malah, kami semakin akrab saja. Hingga akhirnya, ia mengajakku nonton di dekat fitness centre tempat kami bekerja pada malam minggu sehabis pulang kerja. Kebetulan, pada hari minggunya kami berdua sama-sama libur. Kupikir, ini saatnya untuk mempermainkan dia di tempat tidur. Akan tetapi, ada perasaan takut juga di dalam hatiku. Aku takut kalau nantinya aku akan kalah, dan malah menodai pernikahanku dengan perbuatan yang tidak senonoh. Ah persetan! Kalau belum apa-apa sudah takut, mana bisa menang. Aku sangat ingin melihat ekspresi kekecewaan di wajah Handi. Kira-kira seperti apa yah wajahnya pada saat ia kucampakkan nanti. Maka, kuterima tawarannya untuk nonton bareng.

Begitulah pada hari Sabtu, setelah pulang kerja, kami menonton bersama di tempat yang telah ditentukan. Kami menonton film Mission Impossible Rogue Nations yang belum lama tayang. Kami cukup menikmati filmnya, karena kebetulan aku dan Handi menyukai film action. Di tengah film, ada adegan dimana artis wanitanya, Rebecca Ferguson, membuka pakaiannya sehingga sebagian kecil buah dadanya sedikit terlihat dari belakang. Jika aku bayangkan tampak depannya, aku percaya diri bahwa buah dadaku jauh lebih bagus. Handi pun tampaknya tidak nyaman dengan adegan itu. Sepertinya, ia sedang membayangkan aku melakukan adegan yang sama seperti di film itu. Aku memang geer sekali, sangat geer. Sepanjang film, kami saling berpegangan tangan, dan kepalaku kusandarkan ke bahunya, layaknya seperti orang pacaran. Bahunya sangat nyaman untuk kusandari, ya, bahu paling nyaman yang pernah kusandari. Film selesai dan waktu menunjukkan pukul 19:57. Kami sempat makan malam dulu sebelum akhirnya pulang. Aku ingat pada jam 20.30, ada sinetron yang ingin kutonton, sama pula halnya dengan Handi, ia juga kebetulan menyukai sinetron tersebut. Sialnya, jalan menuju rumahku macet parah, karena rumahku letaknya cukup strategis, sehingga banyak dilewati kendaraan bermotor.

“Aduh! Gimana nih? Mana itu sinetron lagi seru-serunya.” Kataku.
“Aku punya ide Rin. Gimana kalo kita nonton aja dirumahku, terus aku anter kamu pulang.” Kata Handi.
Halah, sengaja banget nih. Aku tahu, mengajakku nonton sinetron cuma modus, padahal sebenarnya akal busukmu berpikir lebih jauh dari itu. Eh, tapi kan ada istrinya di rumah.
“Buset. Kalo aku ke rumah kamu, ya istrimu bisa ngamuk Han. Gila aja kamu bawa perempuan lain ke rumah.” Kataku.
“Istriku lagi dinas keluar negeri, Rin. Jadinya gpp kok. Lumayan, siapa tau kamu bisa jadi pengganti istriku selama dia pergi hahaha” Canda Handi.
“Pengganti istri dalam hal apa nih? Dalam hal ranjang ato tugas?” Tanyaku dengan wajah sinis.
“Maksudku sih bantu-bantu cuci piring sama ngepel, rumahku belum dipel pagi ini. Tapi yah terserah kamu Rin kalo kamu juga mau jadi istriku di ranjang buat semalem.” Canda Handi.
Bantu cuci piring sama ngepel. Kaga mungkiinn! Kamu sengaja ngajak nonton weekend setelah pulang kerja. Setelah nonton, sengaja ngajak makan dulu untuk mengulur waktu, lalu pulang. Karena tahu jalur ke rumahku pasti macet, dan karena tahu juga bahwa sinetron yang kita tonton sedang seru, maka kamu mengajakku ke rumahmu dengan dalih menonton sinetron bareng-bareng. Ketebaak Han. Pengalamanku mempermainkan laki-laki itu bukan main-main. Mau ngajak aku ke rumah kamu, pasti dari awal kamu udah bersih-bersih rumah buat bikin aku kagum. Pake ngeles bantu cuci piring sama ngepel. Ketebaak Han.
“Yaudah, kita nonton di rumah kamu aja deh.” Kataku.

Oke, aku terima tantanganmu Han. Semoga kamu tidak menyesali hari ini. Tidak lupa aku mengirim sms kepada suamiku, dengan alasan macet, maka aku main dulu ke rumah temanku. Yang suamiku tahu adalah bahwa aku pergi bersama temanku yang wanita, Febi, untuk nonton bareng sehingga suamiku langsung mengizinkan aku main ke rumah temanku yang ia kira Febi, padahal sebenarnya Handi. Jam 20:48, kami sampai di rumah Handi. Cukup besar rumahnya. Halaman dan interior rumahnya tertata rapi. Dapurnya pun elegan, dan tentunya tidak ada cucian piring yang belum dicuci! Ia mengajakku ke kamarnya.

“Buset. Kita nonton di kamar? Ga ada TV diluar Han?” Tanyaku.
“Aku cuma punya satu TV Rin. Kalo ga mau gpp kok, aku tapi sih mau nonton di dalam.” Kata Handi.

Sialan. Step pertama dia yang menang. Apa boleh buat, karena aku ingin menonton juga, aku terpaksa ikut ke dalam kamarnya. Kami menonton sambil duduk di kasur. Memang lagi seru-serunya sinetron itu, kami menonton tanpa mengeluarkan suara saking serunya. Saat adegan sinetron itu betul-betul seru adalah saat dimana aku sangat lengah. Sepertinya Handi menyadari hal itu, atau dia hanya modal nekat saja, sehingga ia langsung menarik badanku ke dalam pelukan tubuhnya, dan langsung melumat bibirku. Sial, aku betul-betul tidak mengantisipasi hal ini karena terlalu fokus pada sinetron yang kutonton. Mendapat lumatan dari Handi, nafsu birahiku naik dengan cukup tinggi, karena aku tidak mengantisipasi hal ini sehingga pertahananku lebih mudah dijebol. Sebetulnya, sinetron sedang seru-serunya, tetapi entah kenapa aku lebih menikmati lumatan bibir Handi dibibirku. Maka, aku pun mulai membalas ciumannya, tapi masih dengan setengah-setengah. Lama-kelamaan, Handi mulai menelusupkan lidahnya ke dalam rongga mulutku, dan memutar-mutar lidahnya seputar rongga mulutku untuk menggelitikku. Jujur, aku sangat terangsang dengan perbuatan Handi itu. Akan tetapi, tiba-tiba timbul kembali kesadaranku. Maka, aku mengumpulkan tenaga untuk membuyarkan birahiku dengan pernapasan. Setelah tenagaku terkumpul, aku berusaha mendorong dada Handi, tetapi tenaga yang kukeluarkan hanya cukup untuk membuatnya menghentikan jilatannya di dalam mulutku, dan tubuhku pun masih berada di dalam pelukan tubuhnya.

“Han… inget perkataan aku. Kita sama-sama udah punya pasangan hidup. Jangan main-main.” Kataku.
“Rin… udahlah… kamu ga puas sama suami kamu kan? Aku juga ga puas sama istriku. Mendingan kita saling bekerjasama aja memenuhi kebutuhan seks masing-masing. Ini seks Rin, ga ada hubungannya dengan cinta ke pasangan masing-masing. Inget satu hal, cinta dan seks itu adalah dua hal yang berlainan.” Kata Handi.

Setelah meyakinkanku, Handi kembali melanjutkan ciuman dan jilatannya, kali ini menjalar ke seluruh wajahku. Pada saat ciuman dan jilatannya mencapai daun telingaku, ia juga menyisipkan kata-kata,”Aku sayang kamu, Arini”, sambil menghembuskan napas ke dalam lubang telingaku. Hembusan napas dan kata-kata sayangnya membuat diriku semakin terangsang. Maka, aku menarik napas panjang dan mulai mendesis-desis. Kali ini, ciuman dan jilatannya telah mencapai leherku. Leherku cukup sensitif, sehingga aku mendesis-desis semakin parah mendapat rangsangan itu. Baru kali ini aku mendapatkan rangsangan yang hebat seperti ini. Kuakui, Handi sangat pandai mengobarkan nafsu birahiku, tidak seperti Andi dan Rico yang kurang pandai, sehingga aku masih tersadar selama pemanasan dengan mereka.

Sambil menjilati leherku, tangan kanan Handi yang kekar mulai melepas kancing kemeja hitamku, sampai terbuka sepenuhnya sehingga memperlihatkan BH hitamku dan sedikit belahan buah dadaku, dan juga perutku. Sontak saja, aku langsung panik dan takut. Jujur saja, sebelumnya pada saat mengalami hal ini dengan Andi dan Rico, aku tidak takut sama sekali. Akan tetapi, kali ini dengan Handi, aku cukup takut. Mungkin karena aku tidak yakin bisa sepenuhnya mempermainkan dia.

“Han… cu.. cukuup cukupp… Kita u..udaah terlalu jauh…” Kataku dengan terbata-bata sambil menahan birahi dan takut.
“Masa baru sampe sini kamu bilang udah terlalu jauh, Rin. Kita belum apa-apa ini. Percaya aja Rin sama aku, aku akan muasin kamu, kamu ga
akan pernah menyesal Rin.” Kata Handi dengan napas yang mulai memburu.

Ia mulai membuka kemeja hitamku dan membuangnya ke lantai. Tangan kirinya masih memeluk punggungku, sementara tangan kanannya meraih tali BH-ku, dan berhasil melucuti BH-ku, sehingga tampaklah buah dadaku yang indah didepan matanya, apalagi posisi nya aku sedang berada diatas tubuhnya sehingga menambah keindahan buah dadaku. Aku berusaha menutupi buah dadaku dengan kedua tanganku, tetapi Handi langsung membuka dekapan tanganku, dan ia bergulung membalik tubuhku, sehingga kini aku dibawah dan dia diatas. Tanpa membuang waktu, ia langsung melumat buah dada kananku dan meremas-remas sekaligus memuntir puting susu buah dada kiriku. Ekspresi mukanya seperti orang yang penuh dengan nafsu, tapi padahal sebenarnya ia cukup tenang, karena aku bisa merasakan dari lumatan dan remasan di buah dadaku itu sangat terstruktur. Aku hanya bisa megap-megap menahan nikmat yang Handi berikan kepadaku. Bahkan dengan suamiku sekalipun, aku belum pernah mendapatkan rangsangan sehebat ini. Padahal, suamiku sudah pernah memasukkan penisnya ke dalam lubang vaginaku. Akan tetapi, kenikmatan yang kurasakan sekarang sudah melebihi segala kenikmatan yang pernah suamiku berikan kepadaku.

“Rii.. Riinn… te… tetee… kamu… putih dan… indaah sekalii… aku makiin… sukaa netee samaa kamu… sayaangg…” Kata Handi dengan nada yang mulai terputus-putus akibat birahi.

Mendapat pujian dari Handi, pikiranku makin melayang-layang. Gawat, ini sangat gawat. Jika diteruskan, sepertinya aku akan kalah. Tapi di sisi lain, aku ingin meneruskan karena penasaran dengan kenikmatan seperti apa yang akan aku dapatkan dari Handi. Setelah puas melumat dan meremas buah dadaku, kini Handi mulai menciumi dan menjilati perut dan pusarku.

“Perutt kamuu… juga langsing… sayaangg.. Ini perut paling inn.. indaah yangg pernah aku… lihaatt… sayangg…” Kata Handi.

Aku kembali mendesis-desis mendapatkan kenikmatan yang Handi berikan padaku. Sambil tetap menjilati perut dan pusarku, Handi mulai membuka resleting celana jeansku. Ia mengangkat punggungku keatas, sehingga memudahkan jalan bagi celana jeansku dan celana dalamku yang mulai ditarik oleh Handi kebawah. Celana jeansku dan celana dalam hitamku langsung lepas dalam sekali tarikan. Kini, tubuhku betul-betul telanjang di hadapan Handi. Biasanya waktu bermain dengan suamiku, Andi, maupun Rico, aku menggoda mereka untuk juga membuka seluruh pakaian mereka, tetapi kali ini dengan Handi aku tidak berani melakukannya. Handi tampak terbengong-bengong dan terpesona melihat pemandangan yang ada didepannya. Ia melihatku dari atas sampai bawah, dan terpancar campuran ekspresi kagum dan nafsu di wajahnya. Sebetulnya, aku ingin memamerkan tubuhku lebih lama kepada Handi, tetapi rasa takut langsung menguasaiku. Maka, aku membalikkan tubuhku untuk melindungi tubuh bagian depanku. Akan tetapi, tindakanku itu malah mengekspos punggung dan pantatku. Handi pun makin terpesona melihatnya. Ada rasa bangga dihatiku karena berhasil membuat Handi terpesona, tetapi ada juga rasa takut dihatiku karena aku tidak yakin bisa mengalahkan nafsu birahiku sendiri.

“Cukup Haan… Untuk yang ini jangan… Aku ga ingin menodai kesetiaanku dengan suamiku.” Kataku.
“Rin… udah kubilang cinta dan birahi itu hal yang berbeda… yang telah dan akan kita lakukan ini didasarkan pada birahi… Cinta kamu itu tetap untuk suami kamu, begitu juga cintaku tetap untuk istriku.” Kata Handi.

Entah karena aku setuju dengan perkataan Handi, atau aku sudah dibakar birahi, aku pasrah saja ketika ia mulai membalik tubuhku sehingga tubuh bagian depanku kembali terekspos didepan matanya. Ia kembali melumat buah dadaku, tetapi kali ini gantian yang kiri, sementara tangan kirinya meremas-remas buah dada kananku, dan tangan kirinya mengelus-elus paha, selangkangan, dan perutku. Mataku merem-melek mendapatkan rangsangan-rangsangan itu. Sementara, kurasakan napas Handi makin terengah-engah, sama halnya juga dengan napasku. Kemudian, Handi menghentikan semua perbuatannya kepadaku. Ia memasang posisi berlutut di hadapanku, dan mulai melepaskan bajunya dengan tidak terlalu cepat, tetapi tidak lambat, dan juga celananya. Kini, ia hanya memakai celana dalam saja. Ya ampun, tubuhnya betul-betul jadi semua. Otot-otot dada dan perutnya betul-betul kering, tidak ada lemak sedikitpun. Otot bisep dan trisep nya membuat tangannya terlihat semakin kekar. Bahkan otot yang menurutku paling susah dilatih, yaitu otot paha, kaki, dan betis, pun jadi semua. Handi betul-betul terlihat sangat gagah dan kekar. Mukanya pun semakin tampan dan maskulin dengan penampilan ini. Di bali celana dalam birunya, aku melihat gundukan yang besar. Sepertinya penisnya sudah sangat tegang. Aku betul-betul penasaran seperti apa rupa penisnya. Setelah memamerkan tubuhnya, Handi berbaring disampingku. Ia menarik tubuhku kembali ke dalam pelukannya. Ia mulai menjilati seluruh tubuhku mulai dari leher, turun ke dada, perut, dan pahaku. Setiap kali jilatannya turun, kepalanya ikut turun, sedangkan tubuhku makin naik. Jilatan-jilatannya di seluruh tubuhku benar-benar membuatku geli dan nikmat. Sambil menjilati pahaku, ia mulai memasukkan jari telunjuknya ke dalam lubang vaginaku dan memutar-mutarnya. Aku semakin terangsang saja saat jarinya mulai memainkan lubang vagina dan klitorisku.

“Ha.. Haann.. kamu ja.. jangaann masukkin jarii.. ke dalaamm… geliii…” Desahku.

Sadar bahwa aku semakin tenggelam dalam birahi, Handi makin menjadi-jadi dalam memainkan jarinya. Ia sangat pintar memainkan jarinya di lubang vagina dan klitorisku. Setiap gesekan jarinya membuatku nikmat dan hampir mengerang. Kemudian, ia menarik paha kananku, sehingga aku berada dalam posisi mengangkang diatas tubuh Handi, dan kepalanya sudah berada diantara kedua pahaku. Dalam posisi itu, bibirnya langsung melumat lubang vaginaku, sementara lidahnya menjilat-jilat bibir lubang vaginaku. Sesekali, lidahnya menelusup ke dalam lubang vaginaku. Aku betul-betul bergetar mendapat rangsangan itu, sehingga aku mulai mengerang.

Setelah 30 detik lamanya, Handi melepaskanku, dan meletakkan tubuhku disamping tubuhnya. Kini kami berbaring bersebelahan.

“Rin… Daritadi aku terus yang aktif… Gantian ya sekarang kamu yang aktif…” Kata Handi.
“Aku harus ngapain Han… Aku ga tau nih mulai darimana…” Jawabku masih dengan menahan birahi yang menguasaiku.
“Kamu pasti tau lah sayang…” Kata Handi.

Maka, aku mulai bangkit dan merangkak ke hadapan Handi. Pertama-tama, halangan yang mengganggu ini harus kusingkirkan, yaitu celana dalamnya. Kedua tanganku meraih sisi pinggang kiri dan kanan celana dalamnya, dan menariknya kebawah. Saat kutarik kebawah, bukan main kagetnya aku. Penis Handi yang telah tegang sepenuhnya langsung melompat kehadapanku, dan berhenti tepat kira-kira dua sentimeter didepan mataku. Bukan main bentuk penisnya. Penisnya sangat besar dan berotot, panjangnya kutaksir tidak kurang dari 24cm, dua kalinya panjang penis suamiku. Diameter nya sekitar 7cm, dan warnanya coklat muda. Di pangkal penisnya, tumbuh rambut-rambut yang cukup lebat. Aih, pikiranku campur aduk antara nafsu, ngeri, dan gemas. Saat aku terpesona dengan apa yang ada didepanku, tiba-tiba tangan Handi mengibas udara didepan wajahku. Aku langsung sadar.

“Jangan diliatin doang Rin…” Goda Handi.

Aku tersenyum kecil malu-malu. Sialan dia. Aku mulai menggenggam penisnya yang berukuran super jumbo itu. Ya ampun, tanganku tidak cukup untuk menggenggam penis itu sepenuhnya. Penis Handi betul-betul keras dan kokoh, sehingga membuatku membayangkan bagaimana rasanya jika penis itu merobos masuk ke lubang vagina wanita.
“Dipegangin doang Rin?” Goda Handi dengan senyum mesum.
Aku mulai mengocok-ngocok penis Handi. Ada sensasi tersendiri yang kudapatkan ketika tanganku mulai mengocok penis yang berotot dan kokoh itu. Handi sama sekali tidak bergeming mendapat rangsangan yang kuberikan. Lama-lama, kupercepat irama kocokanku, tetapi tetap saja Handi tidak bergeming.

“Cuma itu yang kamu bisa Rin?” Goda Handi.

Kurang ajar, kamu pikir cuma ini yang aku bisa Han? Rasakan ini. Aku mulai menjilati kepala penisnya, dan mulai turun hingga kebawah, sampai ke pangkal penisnya dan rambut kemaluannya. Kulihat ada reaksi dari Handi. Handi mulai berusaha mengatur napasnya dan memejamkan matanya. Aku merusaha mengulum penisnya, tapi penisnya terlalu besar untuk mulutku, sehingga aku hanya mengulum kepala penisnya saja seperti makan es krim batang. Handi mulai terengah-engah, sementara tangannya mulai memain-mainkan rambutku. Kemudian, ia melepaskan kepalaku dari penisnya, dan kemudian mengangkat tubuhku kemudian membaringkannya di ranjang. Tanpa membuang waktu, Handi langsung menindihku. Ooohh… kali ini tubuhku betul-betul sepenuhnya ditindih oleh tubuhnya. Handi memberikan ciuman dibibirku dengan lembut, sangat lembut. Aku pun ikut membalasnya dengan menciumi dan mengulum bibir Handi. Bermenit-menit, bibir kami terus berpagutan, sementara keringat kami mulai mengalir dengan deras. Dalam posisi itu, tiba-tiba kurasakan ada yang membuka kedua pahaku. Begitu aku membuka mata, pahaku sudah terbuka sepenuhnya, dan Handi sudah memposisikan penisnya di depan lubang kemaluanku. Tiba-tiba, timbul kesadaranku sebagai pertahanan terakhir sebelum pertahananku tembus sepenuhnya, bersamaan juga dengan ego ku untuk mempermainkannya. Akan tetapi, tubuhku terlalu lemah untuk memberontak, sebab tubuh Handi menindihku dengan kuat, dan tenaganya sangat kuat. Walaupun tenagaku juga kuat, tetapi tidak ada apa-apanya dibandingkan tenaga Handi. Sementara penisnya sudah semakin dekat dengan lubang vaginaku, aku mulai panik.

“Haannn… jangaan dimasukkiiinn…” Erangku.
“Tangguunngg Riin udah sampe sinii… kumasukkiin ajaa yaaahh…” Erang Handi.
“Jangaann Haann….” Pintaku sambil mengerang akibat kenikmatan.

Jujur, sebetulnya aku sangat ingin merasakan betapa nikmatnya penis Handi itu. Dalam hati kecilku, aku berharap Handi tidak akan mendengarkanku, dan tetap memasukkan penisnya ke dalam lubang vaginaku.

“Aduuhh… Yaa… yaudaahh… kalo gituuh.. aku gesek-geseekk ajaa yaa di luarann…” Desah Handi.

Aku diam saja. Penis Handi sudah sangat dekat dengan kemaluanku, dan terus mendekat. Aku menarik napas panjang, siap untuk menyambut penis Handi yang datang untuk menggesek-gesek bibir lubang kemaluanku. Saat penis itu akhirnya menyentuh bibir lubang kemaluanku, aku terangsang luar biasa, sehingga aku melenguh. Handi tampak kesulitan memasukkan kepala penisnya ke bibir lubang kemaluanku, karena penis nya sangat besar. Setelah sedikit dipaksa, akhirnya kepala penisnya berhasil menerobos bibir lubang vaginaku. Sungguh, nikmatnya sungguh tiada tara. Aku tidak bisa membayangkan kenikmatan yang melebihi ini, walaupun jika penis itu masuk sepenuhnya ke dalam lubang vaginaku, tentunya jauh lebih nikmat lagi. Sesuai janjinya, Handi hanya menggesek-gesek kepala penisnya di bibir lubang kemaluanku. Walaupun hanya demikian, kenikmatan yang kurasakan betul-betul luar biasa. Bibir kami masih terus berpagutan, sementara keringat kami semakin deras mengalir.

“Ar… Ariinii sayaanngg… ayoohh ngomongg… gimanaa rasaanyaah…” Desah Handi.
“Aaahhh… ooohhh… teruuss Haannn… enaakk bangeett…” Desahku.

Mendengar desahanku, Handi makin terangsang. Napasnya semakin memburu, sementara gesekan penisnya semakin menjadi-jadi. Lubang vaginaku mulai becek dengan cairan kenikmatanku. Merasakan lubang vaginaku mulai becek, Handi menurunkan kecepatan gesekannya menjadi sangat pelan. Aku bertanya-tanya apa yang sebetulnya terjadi. Aku membuka mataku, dan melihat Handi sedang membetulkan napasnya, dan memejamkan matanya. Ya ampun, aku telambat menyadari bahwa ia sedang mengumpulkan napas dan feel untuk mendorong masuk penisnya ke dalam lubang vaginaku. Ketika aku sadar, sudah terlambat untuk menghindar, sebab pantatnya ia dorong dengan sangat kencang, sehingga penis yang besar itu menerobos masuk dan amblas semua ke dalam lubang vaginaku. Bless… Penis super besar itu masuk ke dalam lubang vaginaku dengan sangat lancar karena mendapat bantuan dari cairan kenikmatanku. Lubang vaginaku betul-betul berasa sangat sesak dimasuki oleh penis Handi yang super besar itu.

“Loohh Haannn… bukannyahh tadii digeseek-geseek doangg janjinyaahh…” Desahku.
“Tanggung sayaanngg… sekalian ajaah…” Desah Handi.

Handi mulai memompa selangkanganku perlahan-lahan. Sangat terasa sekali penis yang besar itu menggesek-gesek dinding lubang vaginaku. Saat penis itu amblas semua ke dalam lubang vaginaku, aku dapat merasakan rambut kemaluanku bergesekan dengan rambut kemaluan Handi, sehingga memberikan sensasi geli tersendiri. Cleepp… cleeppp.. cleeppp.. cleepp… begitulah bunyi penisnya yang beradu dengan lubang vaginaku. Makin lama, Handi memompa selangkanganku semakin cepat. Aku yang sangat menikmatinya pun ikut menggoyang pantatku untuk memberikan kenikmatan kepada Handi.

“mee.. memeek kamuu sempiitt… sayaangg…” Desah Handi.
“tititt kamuu.. yangg kegedeaann… sayaanggg…” Desahku.

Sungguh, ini permainan seks paling hebat yang pernah kudapatkan. Bahkan, fantasiku sendiri pun tidak ada apa-apanya dibandingkan yang kurasakan sekarang. Handi betul-betul hebat, ia berhasil menjebolkan seluruh pertahanan yang kumiliki. Ia berhak mendapatkan hadiah berupa tubuhku yang indah ini.
Setelah sekitar 10 menitan, kurasakan nikmat yang menjalar keseluruh tubuhku. Aku makin liar menggoyang-goyang pantatku, sementara ciuman dan jilatan lidahku juga semakin liar. Napasku juga semakin terengah-engah. Ya, aku akan orgasme, dan sepertinya akan menjadi orgasme yang hebat.

“Haanndi sayaangg… akuu maoo orgasmee… niihh…” Erangku.

Tahu aku akan orgasme, Handi semakin liar menggenjot penisnya ke lubang vaginaku. Akibatnya, tidak lama kemudian, kenikmatan yang kurasakan pun menanjak, menanjak, dan menanjak, hingga akhirnya tidak bisa menanjak lagi dan seolah-olah meledak. Kurasakan seluruh tubuhku kejang-kejang dan bergetar hebat. Lubang vaginaku berkontraksi dengan sangat hebat, dan menyemburkan cairan kenikmatan ke penis Handi. Aku mengerang dengan sangat keras.

“Uugghhh…. Ooogghhhh… akuu klimaakkss sayaangg…” Erangku sambil menciumi bibir Handi.

Handi pun menghentikan genjotannya, dan memberiku waktu untuk menikmati orgasmeku. Betul-betul nikmat, sangat nikmat. Mungkin inilah permainan seks dahsyat yang kudambakan itu. Sayang sekali aku harus mendapatkannya dari orang lain yang bukan suamiku. Tapi persetan! Yang penting adalah sekarang, apa yang terjadi nanti itu urusan nanti.

“Ooohh… ooohhh… kamuu hebaat Handii…” Desahku menikmati detik-detik terakhir orgasmeku.
“Kan udah kubilang, aku bakal muasin kamu dan kamu ga akan menyesal… iya kan sayang?” Katanya sambil mengecup pipiku dengan sangat lembut.

Dia bukan hanya memberiku kenikmatan, tetapi juga kenyamanan. Bukan main perasaan yang kudapatkan ini.

“Lanjut aja Han… kamu belum keluar kan? Aku kuat kok.” Kataku.
“Oke. Tahan sebentar ya sayang, mungkin agak ngilu. Tapi nanti ga ngilu lagi kok.” Kata Handi sambil mengecup bibirku.

Kini, ia mulai memaju-mundurkan pantatnya lagi. Benar perkataannya, memang terasa sedikit ngilu. Tapi kutahan saja, dan aku hanya pasif saja karena aku sangat lemas. Makin lama, Handi semakin kencang menggenjotku. Bibirnya tidak henti-hentinya melumat puting susuku, sementara tangan kanannya memuntir-muntir puting susuku yang satunya. Sesuai perkataannya, ngilu yang kurasakan menghilang, dan berubah menjadi kenikmatan. Maka aku pun menjambak-jambak rambut Handi, dan mulai memutar-mutar pantatku lagi.

“Pengenn yangg.. kaya tadiihh.. lagii sayaangg?” Desah Handi.
“Maaooo…” Desahku.

Lalu, Handi mencabut penisnya. Ia berbaring disampingku, dan menarik tubuhnya ke dalam pelukannya. Kini aku ada diatas, dan dia dibawah.

“Ayoohh gantii… sekarangg Arini yang genjoott…” Desah Handi.

Aku tidak berkata apa-apa, melainkan hanya langsung memasang posisi penis Handi tepat ke lubang kemaluanku. Setelah sudah pas, langsung kudorong pantatku kebelakang, dan melahap seluruh penis Handi. Setelah penis Handi masuk sepenuhnya kedalam lubang vaginaku, aku mengulek-ulek penis Handi yang masih perkasa tegak mengacung itu dengan pantatku. Aku sedikit mengangkat tubuhku, sehingga tercipta ruang antara dadaku dan dada Handi. Ruang yang tercipta itu membuat dadaku leluasa untuk bergoyang-goyang akibat ulekan pantatku. Handi hanya bisa merem-melek dan terbelalak melihat dadaku yang berputar-putar.

“Tadii ajaahh ga maoo… Sekarangg jagoo bangeett….” Goda Handi sambil mengulum dan meremas-remas buah dadaku.

Hanya selang 5 menit saja, kenikmatan mulai mendera seluruh tubuhku. Putaran pantatku mulai tidak beraturan, sehingga lama kelamaan berubah menjadi gerakan menghujam atas bawah atas bawah. Aku semakin membenamkan wajah Handi ke dalam buah dadaku, dan bibirnya makin liar mengulum puting susuku. Akibat rangsangan yang Handi berikan kepadaku, aku makin tidak tahan. Sepertinya orgasmeku yang kedua sudah dekat.

“Haannn… akuu maoo… orgassmee lagii sayaangg…” Desahku.

Tahu aku hampir orgasme, Handi langsung bergulung membalikku, sehingga aku kembali dibawah dan dia diatas. Batang penisnya masih perkasa menusuk-nusuk lubang kemaluanku. Tangannya yang kekar memelukku, dan bibir kami saling berpagutan dengan hebat.

“Jangaann ditahaan-tahaann… sayaangg… keluariin semuaanyaahh…” Desah Handi.

Akibatnya, tidak lama kemudian aku betul-betul orgasme. Lagi-lagi kenikmatan merajai seluruh tubuhku. Otakku benar-benar rileks rasanya, keringat di tubuhku semakin deras mengalir. Lubang vaginaku kejang-kejang, dan berkontraksi memijat penis Handi dengan sangat hebat.
“Aaahhh… aku keluarr sayaanggg…” Desahku.
Orgasmeku yang kali ini sepertinya memberikan rangsangan yang sangat besar ke penis Handi. Ia menghujam-hujamkan penisnya dengan semakin cepat. Napasnya juga semakin tidak beraturan, dan tubuhnya bergetar dengan hebat.
“Arinii sayaangg… akuu mao keluaarr niihh… keluariin di dalam atoo luaarr?” Desah Handi.
“Diluaar aja sayaangg…” Desahku.
Handi pun mencabut penisnya keluar, dan mulai mengocok-ngocok penisnya. Bibirnya tersenyum penuh maksud. Entah apa maksud dari senyumannya.
“Aku keluarriin di luaarr… siaapp yaa sayaangg…” Desah Handi.
“He eehh…” Desahku.

Aku sudah siap menerima semprotan spermanya. Ia mengarahkan ujung penisnya ke perutku. Sepertinya ia bermaksud menyemprotkan spermanya ke perutku. Akan tetapi, tiba-tiba ia menindihku, dan mendorong penisnya kembali ke dalam lubang vaginaku.

“Tapi bohhoonngg… sayaanggg…” Desah Handi.

Sialan. Rupanya Handi nekat menyemprotkan spermanya ke dalam lubang vaginaku. Tapi sudah tanggung ini mah. Aku memutar-mutar pantatku dengan cepat. Tanganku memeluk tubuhnya dengan sangat erat, sementara bibirku menciumi bibirnya dengan liar. Crooottt… crooottt… crooootttt… Kurasakan sperma Handi mulai menyemprot didalam lubang vaginaku.

“Huuuhhh…. Huuuhhhh… uuuggghhh…” Dengus Handi.

Crooott… crooottt… croootttt….

“Aahhh… aku keluaarr sayaannggg… nikmaat bangeett memekk kamuu ituuu…” Erang Handi.

Crooott… crooott.. crooottt.. Akhirnya setelah gelombang ketiga, penis Handi berhenti menyemburkan sperma. Sperma Handi amat banyak sekali dan sangat kental. Lubang vaginaku terasa hangat dan basah kuyup akibat sperma Handi yang sangat banyak dan kental itu. Saking banyaknya, spermanya pun belepotan ke bibir lubang kemaluanku. Bibir kami masih saling berpagutan setelahnya. Lama-kelamaan, kenikmatan yang kurasakan mulai mereda. Tubuh kami masih berpelukan. Setelah 1 menit kira-kira lamanya, Handi mencabut penisnya dan berguling kesampingku.

“Sayang. Kamu betul-betul hebat. Aku puas.” Kata Handi sambil mengecup pipiku.

Aku merasa ada sesal yang bejubel. Mungkin akibat kebiasaan jelekku untuk mempermainkan orang, akhirnya pertahananku jebol juga. Bahkan tadinya mau mempermainkan Handi, malah Handi yang mempermainkanku dengan menyemprotkan spermanya di dalam lubang vaginaku. Tapi diluar itu, kuakui Handi itu sangat hebat. Ia mampu membobol seluruh pertahananku. Tenagaku dibuat tak berdaya oleh tenaganya, sedangkan napasku dibuat tak berdaya oleh birahi yang ia berikan.

“Udah mau pulang belum?” Tanya Handi.

Aku hanya mengangguk. Aku langsung memakai kembali pakaianku, tanpa mencuci terlebih dahulu lubang vaginaku. Aku merasakan sperma Handi masih memenuhi lubang vaginaku, sengaja kubiarkan seperti itu. Setelah kami memakai pakaian kami dengan lengkap, kami menuju mobil, dan Handi langsung menginjak gas menuju rumahku. Sepanjang perjalanan, kami tidak berkata apa-apa. Sesampainya dirumahku, sebelum membuka kunci pintu mobil, Handi mengulurkan tangannya, meminta sesuatu dariku dengan senyum yang penuh maksud. Aku mengerti maksudnya. Maka, kulepas BH dan celana dalam hitam yang kukenakan saat itu, dan kuberikan padanya. Ia mengambilnya, dan barulah ia membuka kunci pintu. Sebelum aku sempat keluar, Handi mencium bibirku.

Aku keluar, dan menuju rumahku. Ternyata, suamiku pun juga sedang pergi. Untunglah, tepat sekali waktunya. Aku langsung bebersih dan menuju tempat tidur setelahnya. Sebelum tidur, aku sempat membayangkan apa yang sudah kami lakukan tadi. Aku masih sangat berdebar-debar memikirkan tubuh atletis Handi dan penis Handi yang sangat perkasa menghujam-hujam lubang vaginaku itu. Aku masih ingin merasakan kenikmatan itu. Ya, pertahananku telah jebol sepenuhnya. Bukan hanya itu, dia pun berhasil mempermainkanku di ranjang. Kuakui kamu sangat hebat, Handi. Lihat saja, kali berikutnya, kamu yang akan kukerjai habis-habisan. Aku sudah tidak sabar menunggu hari Senin.
meguriaufutari, Aug 13, 2015 Lapor#1Like+ QuoteReply

loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Namaku Arin Kesenanganku adalah Mempermainkan Laki-Laki di Ranjang"

Post a Comment