Sponsored Links

Ternyata Suamiku Nakal - 3

Episode 3: Ah...

Malam itu selepas acara lesbi dengan Marni aku merasa sangat lelah apalagi suamiku sebelumnya telah menghajar vaginaku. Aku sendiri juga heran bagaimana bisa aku melakukan seks dengan sesama wanita. Tapi biarlah toh aku tidak berselingkuh dengan pria lain. Pukul 9 malam lewat aku merasa sangat ngantuk sekali. Aku sendiri tidak tahu apa yang sedang dilakukan suamiku di ruang kerja biarlah saja suamiku memang orang sibuk. Akan tetapi dia adalah pria yang bertanggung jawab, sekalipun aku punya penghasilan sendiri dia tetap memberiku nafkah baik secara materi maupun nafkah batin. Mataku terasa berat, entah sejak kapan aku telah terlelap.

--

Aku berjalan menuju lantai satu, aku mendengar suara-suara yang sedikit aneh. Seperti orang yang sedang dikejar-kejar sesuatu. Suara itu aku sangat yakin berasal dari kamar Marni. Semakin dekat semakin jelas bukan suara biasa tetapi suara desahan. Aku sangat yakin suara itu salah satunya Marni. Namun, suara satunya membuat jantungku sempat berhenti berdetak. Itu suara Suamiku.

“Yah...terus Marni...kamu...pinter banget.”suara suamiku

“Ah....ah...ah....e..nak...Pa.”suara Marni.

Pintu kamar Marni ku dekati dengan pelan-pelan tanpa menimbulkan suara. Pintu kamar itu tidak tertutup rapat sehingga dari luar masih dapat melihat apa yang terjadi dalam kamar itu. Untung saja pencahayaan di luar kamar Marni lebih gelah dibandingkan di dalam kamar itu.
Aku mengintip ke dalam celah pintu. Astaga. Ku lihat suamiku sedang menggenjot Marni dari belakang sedang tangannya sibuk meremasi payudara Marni. Aku masih shock dengan pemandangan itu. Aku hanya terdiam terpaku melihat persetubuhan suamiku dengan Marni. Sungguh, aku tak dapat berkata apapun. Aku hanya merasa ada yang aneh. Tubuhku serasa panas. Aku merasa ada yang merembes keluar dari celah pahaku. Rupanya pergulatan antara suamiku dengan Marni membuatku terangsang.



Pelan-pelan tanganku ku turunkan ke selangkanganku. Sambil menonton suamiku bersenggama dengan Marni ku rangsang diriku sendiri.

“Ah....Sssss.....”suaraku ku tahan.
Sementara tangan kananku sibuk menggosok vaginaku. Tangan kiriku meremas-remas payudaraku sendiri. Di dalam kamar rupanya sudah hampir mendekati klimaks.

Ku lihat suamiku sudah mulai menegang.

“Mar...Pa...pa...uda...ma...u ke..luar....”desah suamiku

“Mar...ni...ju...ja....pa.”balas Marni.

Tidak beberapa lama ku lihat keduanya menegang dan semenit kemudian mereka terengah-engah. Marni yang di setubuhi dalam posisi doggy style tengkurap di bawah badan suamiku yang masih erat memeluknya. Aku pun hampir mencapai puncakku.

“Ah........”aku melenguh merasakan kenikmatan.

Namun, sungguh fatal aku kehilangan keseimbangan. Aku pun mencari pegangan sialnya daun pintu kamar Marni yang jadi pegangan dan hasilnya.

“Gubrak!”aku terjatuh masuk ke dalam kamar Marni.

Suamiku dan Marni kaget. Tapi, aku lebih kaget mendengar suara suamiku.

“Mama.”

Aku pun terbangun dari tidurku. Ku dapati suamiku ada disampingku sementara ku lirik jam masih menunjukkan pukul 3 pagi. Tiba-tiba suamiku bertanya.

“Kenapa Mah, mimpi buruk?”tanya suamiku setengah sadar.

“Gak pah, Mama mimpi...mm.....”aku ragu.

“Mimpi apa Ma?”tanya suamiku

“Tapi Papa jangan marah ya.”

“Apaan sih Ma?”tanya suamiku lagi.

“Janji Papa gak marah”.

“Iya Ma.”

“Mama mimpi Papa selingkuh.”aku tidak bilang kalau itu dengan Marni.

“Ah Mama ada ada aja. Sudah tidur lagi.”

Suamiku kemudian memeluk tubuhku dan aku pun akhirnya terlelap lagi dengan perasaan agak-agak cemas.

--

Jam 3 pagi istriku terbangun dari tidurnya. Dia bilang dia bermimpi aku berselingkuh. Ah...apa ini firasat atau memang aku harus hati-hati. Terutama tindakan mesumku pada Marni. Untung saja istriku tidak tahu kenakalanku terhadap Marni. Aku sejenak memperhatikan istriku yang ku peluk. Rupanya dia sudah terlelap dalam tidurnya. Sejenak pikiranku menerawang apa yang telah ku lakukan tadi tengah malam.
Jam 11.30 malam yang lalu.

“Hehe sudah waktunya nih aku menjalankan rencanaku. Mama uda terlelap, Marni juga sudah tidur di rumah ini Cuma tinggal aku yang masih terjaga.”aku bicara sendiri.

Aku pun segera turun ke lantai 1 menuju kamar Marni. Aku ingin mengulangi perbuatanku tempo hari. Perbuatan nakal yang pernah ku lakukan dan ingin ku ulangi lagi. Pelan-pelan ku masuki kamar Marni dan seperti tempo hari kamar itu tidak terkunci seakan Marni memang sengaja.

Aku kemudian memasuki kamar Marni dan wow...ku dapati Marni tidur telentang dengan daster yang tersingkap hingga ke perutnya. Sementara bagian bawahnya hanya tertutup celana dalam. Aku tahu Marni tidak memakai BH juga karena semalam aku lihat setelah permainan panas dengan istriku dia hanya mengenakan celana dalam saja.

Sungguh beruntungnya aku malam ini. Pelan-pelan ku goyangkan badan Marni. Rupanya memang anak ini benar-benar susah dibangunkan. Apa memang kebiasaan atau karena dia kelelahan setelah main dengan istriku.

“Asyik. Malam ini aku bisa melakukannya lagi.”batinku.

Tanpa menunggu perintah lagi. Ku tanggalkan seluruh bajuku. Penisku yang sejak tadi menginginkan bertemu dengan vagina Marni menegang keras. Ku perhatikan Marni dengan seksama. Marni memang anak remaja yang cantik. Pastinya sebentar lagi dia tidak akan kalah cantik dibanding istriku. Ku perhatikan dadanya naik turun. Payudara Marni pun ikut bergerak seirama dengan hembusan nafasnya.

Aku benar-benar sudah tidak tahan. Pelan-pelan ku elus paha Marni. Mulu sekali. Dengan gerakan lembut ku pelorotkan celana dalam Marni dan akhirnya terlihat vagina mungil yang ku idam-idamkan, diatasnya dihias bulu-bulu halus yang masih jarang.
Seperti yang ku lakukan tempo hari. Ku renggangkan kedua paha Marni. Sehingga celah vagina Marni semakin terlihat merangsang birahi. Pelan-pelan ku gosok vagina Marni dengan jari-jariku. Sensasinya benar-benar luar biasa.

Ku dekatkan bibirku ke vagina Marni. Tercium bau khas kewanitaan. Ah....sungguh menggoda. Pelan-pelan ku cium bibir vagina Marni. Sang pemilik seolah merasakan sentuhan di bibir vaginanya. Ku jilat permukaan vagina Marni dan dengan lembut ku sisipkan lidahku di dalam celah goa lembab itu. Nikmat sungguh nikmat. Tanganku pun aktif merabai kedua paha mulus Marni. Aku tidak tahan lagi. Lubang vagina Marni semakin basah. Aku semakin tidak tahan. Segera ku tempatkan diriku.

Ku pegang batang penisku tepat di depan bibir vagina Marni. Pelan-pelan ku gosok bibir kemaluan Marni. Nampak Marni meringis keenakan dalam tidurnya.

“Ah....enak sekali.”batinku,

Kepala penisku ku gosok-gosokkan di celah vagina basah Marni. Setengah jongkok ku ciumi payudara Marni dari balik daster tipis yang membalut tubuhnya. Sementara penisku masih aktif menggosok-gosok vagina Marni. Pelan dan pasti kepala penisku mulai terjepit di bibir vaginanya. Ku lihat Marni semakin beringsut tak karuan. Betapa nikmatnya. Tak habis pikirku, kenapa Marni tidak juga bangun dari tidurnya. Apakah memang dia lelah atau memang sengaja. Ah sudahlah yang pasti ini benar-benar momen yang mengasyikkan.

Ku dorong pinggulku pelan. Aku tidak mau membuat Marni terbangun kaget, bisa habis aku. Kepala penisku sudah tertelan ke dalam lubang vagina Marni. Sejenak aku menimbang-nimbang apakah harus ku bobol keperawanan Marni.

“Tidak, tidak.”batinku. Aku masih waras.

Ku dorong penisku lebih dalam hingga ada sesuatu yang menghalangi. Cukup sampai disini saja. Pelan-pelan ku maju mundurkan pinggulku. Tangan kiriku tetap menjaga agar penisku tidak masuk lebih dalam.

Sensasi yang ku rasakan sungguh nikmat sekali. Sesekali ku lirik weker di samping ranjang Marni. Sudah cukup lama rupanya. Beberapa lama kemudian ku rasakan ada yang akan keluar dari dalam diriku. Aku benar-benar tidak tahan. Segera ku cabut penisku dari lubang vagina Marni.

“Ah.....”desahku tertahan ku semprotkan spermaku tepat di atas vagina Marni. Sebagian besar menempel di bulu kemaluan Marni. Ku nikmati momen itu. Setelah
reda aku lekas memakai bajuku dan berlalu dari kamar Marni. Ku peluk istriku dan akhirnya terlelap.

“Ada yang kelupaan.”pikirku. Tapi apa aku bertanya sendiri.

“Ya ampun spermaku belum ku bersihkan dan celana dalam Marni belum ku pakaikan.”aku tidak dapat tidur lagi dengan perasaan gelisah. Namun, ternyata aku salah. Tahu-tahu istriku sudah membangunkanku.

“Bangun Pa udah jam 6 lho.”sambil mengecup dahiku.

Aku masih terbayang-bayang kecerobohanku tapi biarlah.

--

Pagi hari ini langit nampak sangat cerah. Seperti biasa keluarga ini serasa sangat ramai. Papa Wijaya dan Mama Revita biasa aku memanggil kedua orang itu,
pasti lagi seru-serunya. Bukan ribut karena berantem tapi karena memang sudah jadi rutinitas. Semenjak kedatanganku ke rumah mereka aku merasa sangat nyaman, aku merasa seperti di rumah sendiri. Kesedihanku karena kehilangan orang tua sudah mulai dapat ku lalui. Simbok, nenekku sudah lama kerja di keluarga ini jadi memang sudah seperti sendiri. Beruntung aku memperoleh perlakuan yang cukup istimewa. Mungkin karena Papa dan Mama belum punya anak sendiri.

Pagi itu kami duduk di satu meja makan. Tidak ada hal yang istimewa semua merupakan rutinitas pagi hari. Hanya saja kali ini ada yang sedikit berbeda.

“Mar, sarapan yang banyak”kata Papa Wijaya.

“Nih Mar.”Mama Revita menyodorkan telur dadar ke piringku.

“Makasih Ma.”aku sudah tidak canggung lagi memanggil Papa dan Mama ke mereka.

Sarapan kami tetap diiringi obrolan ringan seputar diriku yang hari ini merupakan hari pertama masuk sekolah. Ah, siapa sangka gadis desa sepertiku dapat melanjutkan sekolah lagi.

“Mar, kamu sudah siap dengan hari pertama kamu?”tanya Papa.

“Udah Pa.”jawabku.

“Seragam itu cocok sekali buat kamu, iyakan Pa.”Mama Revita menyela.

“Iya Ma.”Jawab Papa Wijaya.

“Yaudah gih sarapan agak cepetan udah siang.”kata Mama

Aku pun segera menyelesaikan sarapanku. Segera setelah itu ku beresi semua. Jangan disangka aku jadi nona muda disana. Aku tetap cucu Simbok pembantu di rumah ini.Tapi bukan karena status itu tapi karena aku memang dari dulu sudah mandiri.

Aku ambil tas dan segera melangkah keluar. Namun, segera Mama Revita mencegah.

“Lho Mar, kok buru-buru gitu?”tanya Mama

“Takut telat Ma.”jawabku.

“Kamu bareng Papa aja. Lagian juga searah sama sekolah kamu.”kata Mama.

“Pa..pa..papa...buruan....Marni keburu telat.”

“Iyah Mah.”jawab Papa

Papa kemudian masuk ke mobil ke bagian kemudi, karena memang Papa sopirnya. Aku segera masuk ke belakang. Namun, tiba-tiba Papa mengatakan padaku untuk
pindah ke depan. Bukan apa-apa sih tapi aku merasa ada yang salah.

“Kamu ke depan sini dong Mar. Masa Papa dijadiin supir gini.”Canda Papa.

“Iya deh Pa, kirain Marni harus dibelakang. Kebiasaan naik angkot sih Pa.”jawabku

Pelan-pelan mobil meninggalkan pelataran rumah menuju jalanan. Cukup ramai pagi itu. Ku lirik sepintas Papa disebelah kananku. Memang Papa cukup tampan dan sangat serasi dengan Mama.

“Kenapa Mar ada yang salah?”tanya Papa.

“Gak, Gak kok Pa.”jawabku agak kaget. Rupanya Papa menyadari perbuatanku. Malu rasanya.

Pikiranku melayang kembali ke pagi hari ketika aku terbangun dari tidurku. Ku dapati cairan lengket di beberapa bagian tubuhku dan yang lebih mengagetkan celana dalamku sejak kapan terlepas. Aku yakin betul aku memakainya ketika aku keluar dari kamar Mama. Satu-satunya yang mungkin ku curigai hanya Papa. Satu-satunya laki-laki di rumah. Tapi aku tidak punya bukti apapun. Biarpun aku gadis desa aku tidak kolot-kolot amat. Beberapa temanku di desa sudah ada yang memiliki handphone yang bisa mengakses internet. Jadi, sangat wajar jika aku juga ikut kena imbasnya, termasuk urusan orang dewasa.
Tanpa ku sadari ada yang basah di bawah sana. Astaga, aku mengompol. Tapi tidak mungkin ini sangat berbeda. Rasanya aku ingin Papa mnyentuhku tapi apa mungkin. Sudahlah aku tidak tahu.

Beberapa menit kemudian kami sampai di depan sekolah. Aku cium tangan Papa kemudian berpamitan. Papa hanya mengatakan agar aku belajar serius.

--

“Curirut curirut.”HP ku berbunyi.

Rupanya ada pesan dari Papa. Dalam pesan itu Papa menanyakan apakah aku sudah pulang atau belum.

“Sdh plg blm Mar?”

“Blm Pa”

“Papa jemput ya. Papa udah kelar kerjaan di kantor”

“Iya Pa, tunggu Mar di dpn yah.”

Aku beruntung selain mendapat perhatian, biaya untuk sekolah aku juga diberikan fasilitas yang cukup. Handphone aku juga diberi walau bukan hp yang canggih-canggih banget.

Tidak lama kemudian ku lihat mobil Papa sudah ada di depan gerbang sekolah. Segera aku menyongsongnya.

“Ayo Pa kita pulang.”ajakku setelah masuk ke mobil.

“Yuk.”jawab Papa.

Aku pikir Papa agak terkejut dengan penampilanku. Secara pulang sekolah aku tidak lagi mengenakan seragamku. Memang hari ini, hari pertama aku masuk
sekolah dan hari ini pula aku ikut dalam ekskul basket. Jadi yah, hanya memakai kaos olahraga dan celana training. Jelaslah lekuk tubuhku terlihat menonjol. Aku sendiri sadar aku tidak seksi banget. Biarlah orang lain yang menilai. Sepintas ku lihat Papa melirikku bukan Cuma sekali. Beberapa kali. Apa mungkin Papa tertarik kepadaku.

“Pa Marni cantik gak Pa?”tanyaku

Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutku.

“Mmmm...cantik kok Mar”jawab Papa

“Serius Pa?”tanyaku meyakinkan

“Iya Papa serius.”tegas Papa.

“Seksi gak Pa?”tanyaku sambil membusungkan dada menghadap Papa Wijaya.

Sejenak Papa melirik melihatku, matanya kemudian kembali ke jalanan.

“Seksi lho. Coba 2 atau 3 tahun lagi. Mama Revi pasti kalah sama kamu Mar.”

Seneng juga aku mendengarnya, walau dibandingin sama Mama Revita yang memang sudah seksi. Aku hanya tersenyum sendiri. Tidak ada lagi obrolan lagi sampai
di rumah.

--

“Ah...apa benar semalam perbuatan Papa?”tanyaku sendiri.

“Ah sudahlah aku mandi saja.”

Aku segera melucuti seluruh baju yang aku kenakan. Sumpek, gerah rasanya. Mandi merupakan solusi yang bagus. Untung saja kamar di rumah ini masing-masing memiliki kamar mandi sendiri. Jadi, tidak akan ada kata antri. Istimewanya lagi ada pemanas air juga. Padahal biasanya di desa aku mandi di bilik yang serba apa adanya. Shower ku nyalakan dan segera membasahi tubuh telanjangku. Segar sekali rasanya. Sesekali ku sentuh daerah-daerah kewanitaanku. Rasanya enak. Pikiranku melayang jauh. Seandainya Papa. Ah tidak Papa sangat baik Padaku. Segera ku tepis keinginanku jauh-jauh. Ritual mandi pun selesai. Ku keringkan badanku dengan handuk. Kemudian ku lilit tubuh telanjangku dengan handuk.

“Tlebuk!”

“Aduh.......”aku mengaduh cukup keras. Aku terpeleset di depan kamar mandi kamarku.

“Tok tok tok.”ku dengar pintu kamarku di ketuk.

“Ada Mar?”ku dengar suara Papa.

Aku tetap saja hanya mengaduh pinggangku sakit. Tanpa mengunggu persetujuan dariku Papa masuk ke dalam kamarku.

“Ya ampun Marni.”Papa kaget melihatku masih mengaduh di lantai.

“Marni jatuh Pa, aduh pinggang Marni sakit ni.”keluhku.

Tanpa di duga Papa langsung membopong aku, kemudian di baringkan aku di ranjangku. Namun, rupanya tanpa aku sadari lilitan handukku sudah longgar dan akhrinya seluruh lekuk tubuhku terekspos.

Ku lihat Papa hanya bengong saja. Segera ku tutup badanku dengan handuk. Namun tidak dapat menutup sempurna. Aku malu juga bergairah ada dorongan dari dalam. Aku mau Papa Wijaya. Sejenak ku lihat Papa hendak beranjak pergi. Entah setan mana yang mendorongku ku cegah Papa keluar kamarku.

“Pa...”ku panggil Papa sambil tanganku memegang tangan Papa.

Satu tanganku memegang ujung handuk, satu tangan lain memegang tangan Papa.

“Kenapa Mar?”tanya Papa

“Marni....”suaraku tercekat.

Papa yang sudah duduk di tepi ranjang nampak kebingungan. Kesadaranku sudah hilang tanpa menunggu persetujuan dari Papa ku dekatkan wajahku dekat dengan wajah Papa. Ku cium bibir Papa. Papa hanya diam saja. Ku pikir Papa marah. Aku kemudian agak menjauh.

“Maaf Pa.”bisikku lirih.

Ku pikir Papa marah ternyata tidak. Papa justru menarik mukaku dan kemudian memberikan ciuman yang sangat-sangat panas kepadaku. Aku yang baru sekali ini merasakannya sempat kewalahan. Seakan aku kehabisan nafas. Namun, Papa Wijaya sudah berpengalaman. Semakin lama aku semakin menikmati ciuman Papa, lidah kami saling membelit saling hisap. Aku yang tadinya pasif semakin panas. Pertahananku jebol, kedua tanganku memeluk leher Papa. Ciuman yang sangat panas. Papa kemudian membaringkan tubuhku dengan tetap mencium bibirku. Aku setengah menjerit ketika ku rasakan kedua payudaraku disentuh tangan besar Papa. Rasanya enak.

“Hmmph....”hanya itu yang keluar dari bibirku.
Papa kemudian melepas pagutannya dan bibirnya turun menjelajah leherku. Enak. Geli. Panas. Semua campur aduk. Bibir itu kemudian bermain di atas payudaraku. Aku merasa melayang seakan-akan ada yang hendak keluar.

Ciuman Papa di kedua payudaraku semakin menjadi-jadi. Tangannya tidak kalah sibuk meremasi payudaraku yang masih tumbuh. Aku merintih-rintih dan mendesah-desah tak karuan. Lebih hebatnya lagi ku rasakan ada tangan yang menyentuh bibir vaginaku. Aku hampir....ya hampir seperti setengah mati ku rasakan kenikmatan ini. Aku pun tidak sadar sejak kapan Papa sudah telanjang bulat.

Ku rasakan ada benda lain. Benda tumpul menggesek-gesek vaginaku. Nikmat sekali rasanya. Vaginaku rasanya basah sekali.

“Ah...shshs....ssss....en...nyak Pa....”aku mendesah tak karuan.

Tiba-tiba.

“Tin...tin...tintin.”suara klakson mobil.

“Ya ampun Mama pulang.”Papa terperanjat. Aku pun demikian juga.
loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ternyata Suamiku Nakal - 3"

Post a Comment