5 Tanaman yang Baik Dikonsumsi Pada Saat Survival di Hutan

Halo Serupedians

Pernah mengalami tersesat di gunung atau hutan rimba? Pada saat itulah kita bener-benar harus melakukan Survival atau bertahan hidup di hutan dalam segala keterbatasan. Kondisi ini sangat ja!uh dari kata nyaman. Dan yang membuat kita akan tersiksa adalah melawan rasa lapar dan dahaga yang teramat sangat.


Salah satu jalan keluar untuk mengatasi rasa lapar tersebut adalah memanfaatkan tumbuhan yang disediakan di hutan. Berikut serupedia akan mengulasnya dalam 5 Tanaman yang Baik Dikonsumsi Pada Saat Survival di Hutan. Selamat menyimak!


1. Daun semanggi

Mungkin Anda pernah melihat ada rumput kecil di bawah tanah, dan memiliki daun mirip yang berbentuk seperti hati. Inilah daun semanggi atau biasa disebut clover.

Daun semanggi merupakan jenis tumbuhan paku air ( salvinialis ) dari spesies marsiela, tumbuhan ini sangat mudah diperoleh di Indonesia, biasanya tanaman ini dapat ditemukan di tepi saluran irigasi sawah ataupun di pematang sawah. Tumbuhan dengan spesies ini memiliki bentuk yang khas seperti payung yang tersusun dari empat anak daun yang posisinya berhadapan, di dalamnya terkandung beberapa zat yaitu minyak atsiri, zat samak, dan saponin. Yang mana semua anggotanya memiliki dua tipe spora yang berbeda kelamin.

Tak sulit untuk menemukan rumput clover. Rumput ini termasuk kosmopolit atau mudah ditemukan di dataran, termasuk hutan Indonesia. Nah, saat tersesat, tanaman inilah yang paling mudah Anda cari untuk bahan makanan. Ambil saja daunnya dan bersihkan kemudian konsumsi.

2. Begonia

Anda tahu tanaman begonia? Biasanya tanaman ini dipajang di depan rumah sebagai hiasan. Nah, ternyata begonia juga banyak ditemukan di dalam hutan. Ciri-cirinya adalah tumbuhan ini berbulu di bagian tangkai hingga daun.

Begonia adalah genus dalam keluarga tanaman berbunga Begoniaceae. Satu-satunya anggota keluarga lainnya Begoniaceae adalah Hillebrandia, genus dengan spesies tunggal di Kepulauan Hawaii, dan genus Symbegonia yang baru-baru ini termasuk dalam Begonia.

"Begonia" adalah nama umum serta nama generik untuk semua anggota genus.Nama genus, diciptakan oleh Charles Plumier, pelindung Perancis botani, menghormati Michel Begon, mantan gubernur koloni Perancis Haiti kemudian diadopsi oleh Linnaeus. Dengan lebih dari 1.500 spesies, Begonia adalah salah satu dari sepuluh genera angiosperma terbesar. 

Spesies yang terestrial (kadang-kadang epifit) herbal atau undershrubs dan terjadi di iklim lembab subtropis dan tropis, di Amerika Selatan dan Tengah, Afrika dan Asia Selatan. Spesies darat di alam liar biasanya tegak bertangkai, rhizomatous, atau tuberous. Tanaman yang berumah satu, dengan bunga-bunga berkelamin jantan dan betina terjadi secara terpisah pada tanaman yang sama, laki-laki mengandung banyak benang sari, betina memiliki ovarium rendah besar dan 2-4 stigma bercabang atau bengkok. Dalam sebagian besar spesies buah adalah kapsul bersayap yang mengandung banyak biji menit, meskipun buah baccate juga dikenal. Daun, yang sering besar dan beragam ditandai atau beraneka ragam, biasanya asimetris (tidak sama sisi). Masalah yang biasanya dihadapai dalam tumbuhan begonia adalah kutu putih, tungau, thrips, lalat putih, embun tepung, busuk batang, rimpang busuk, dan nematoda.

Meski tanaman berbulu biasanya tidak layak dikonsumsi, begonia bisa Anda manfaatkan sebagai bahan makanan jika sedang tersesat di hutan. Potonglah daun dan tangkainya kecil-kecil sebelum dimakan. Jika Anda membawa alat masak, sebaiknya direbus dulu sebelum dikonsumsi.

3. Pohpohan

Pohpohan adalah salah satu tumbuhan yang sudah biasa dijadikan lalapan di rumah-rumah. Tumbuhan berdaun lebar ini ternyata banyak ditemukan di hutan Indonesia. Biasanya, bagian pohpohan yang sering dikonsumsi adalah bagian daun mudanya.

Kandungan gizi yang terdapat dalam daun pohpohan (per 100 gr bahan) yaitu energi 37 Kal, protein 2,5 gr, lemak 0,8 gr, karbohidrat 6,9 gr, Kalsium (Ca) 744,0 mg, fosfor 80,0 mg, besi 5,9 mg, vitamin A 900 RE, vitamin C 5 mg, vitamin B1 0,03 mg, air 87,4 gr dan BODnya 69 %. Dengan melihat komposisinya ternyata daun pohpohan sangat tinggi kandungan kalsium per 100 gr (744,0 mg) jika dibandingkan dengan sayuran lain, misalnya daun katuk 540 mg, daun singkong 165 mg dan daun bayam 267 mg. Tubuh manusia sangat memerlukan kalsium untuk pertumbuhan dan pembentukan tulang dan gigi pada masa pertumbuhan anak-anak hingga remaja, pada saat hamil dan selama masa menyusui. Kecukupan kebutuhan kalsium dapat mencegah pengapuran pada tulang (osteoporosis) pada usia dewasa.

4. Paku sayur

Salah satu tumbuhan yang banyak ditemukan di dalam hutan, terutama hutan Indonesia adalah jenis paku-pakuan. Tanaman paku memiliki ciri daun bergerigi, dan biasanya ada banyak kantung spora seperti bintik-bintik hitam di bagian bawah daun.

Paku sayur (Diplazium esculentum) merupakan sejenis paku/pakis yang biasa dimakan ental mudanya sebagai sayuran oleh penduduk Asia Tenggara dan kepulauan di Samudera Pasifik. Paku ini biasanya tumbuh di tepi sungai atau di tebing-tebing yang lembap dan teduh. Pemanfaatanya biasanya digulai ("gulai paku") atau dijadikan lalap setelah direbus terlebih dahulu. Konsumsi mentah tidak dianjurkan karena mengandung asam sikimat yang mengganggu pencernaan manusia.

Nah, jika Anda bertemu tanaman seperti ciri-ciri di atas, berarti Anda dihadapkan dengan tanaman paku. Tanaman ini juga biasa dijadikan lalapan, sehingga disebut paku sayur. Sama seperti pohpohan, bagian tumbuhan paku yang bisa dinikmati adalah daun mudanya.

5. Rotan

Nah, selain paku tumbuhan lain yang banyak ditemukan di hutan Indonesia adalah rotan. Biasanya rotan hutan menjadi musuh utama para pendaki karena duri yang menyelimuti seluruh batangnya.

Rotan adalah sekelompok palma dari puak (tribus) Calameae yang memiliki habitus memanjat, terutama Calamus, Daemonorops, dan Oncocalamus. Puak Calameae sendiri terdiri dari sekitar enam ratus anggota, dengan daerah persebaran di bagian tropis Afrika, Asia dan Australasia. Ke dalam puak ini termasuk pula marga Salacca ( misalnya salak), Metroxylon (misalnya rumbia/sagu), serta Pigafetta yang tidak memanjat, dan secara tradisional tidak digolongkan sebagai tumbuhan rotan.

Batang rotan biasanya langsing dengan diameter 2–5 cm, beruas-ruas panjang, tidak berongga, dan banyak yang dilindungi oleh duri-duri panjang, keras, dan tajam. Duri ini berfungsi sebagai alat pertahanan diri dari herbivora, sekaligus membantu pemanjatan, karena rotan tidak dilengkapi dengan sulur. Suatu batang rotan dapat mencapai panjang ratusan meter. Batang rotan mengeluarkan air jika ditebas dan dapat digunakan sebagai cara bertahan hidup di alam bebas. Badak jawa diketahui juga menjadikan rotan sebagai salah satu menunya.

Namun ternyata tumbuhan ini bisa menjadi sahabat ketika Anda tersesat. Buah dari rotan yang masih muda aman untuk dimakan langsung. Sedangkan batangnya menyimpan air yang bisa untuk diminum.

Referensi diambil dari wikipdia
loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "5 Tanaman yang Baik Dikonsumsi Pada Saat Survival di Hutan"

Post a Comment