Rumah Dewi

Nama-ku Joe. Aku mendapat tugas untuk mengantarkan pesan keluarga untuk saudara laki-laki dari pihak Ibu. Om Iqbal sebenarnya sudah meninggal setahun lalu. Aku disuruh untuk mengantarkan pesan kepada Istrinya. Karena menyangkut pembagian harta warisan almarhum nenekku. Keluargaku adalah keluarga pedagang sehingga mereka tidak bisa meninggalkan toko mereka. Jadilah aku yang diutus untuk menyampaikan pesan penting ini karena aku masih kuliah.

Aku tidak terlalu dekat dengan keluarga Om Iqbal. Apalagi Om Iqbal tinggal jauh di luar kota di daerah Jember. dan jarang sekali hadir di acara keluarga. Bukan karena Om Iqbal malu disebut orang desa, tapi yang kudengar bahwa Om Iqbal kaya dan menjadi tuan tanah di desanya. Wajah istrinya saja tidak pernah kulihat.

Kudengar kalau istrinya ini merupakan istri kedua setelah istri pertamanya meninggal dan menurut rumor istri keduanya ini adalah seorang artis. Namun karena tidak pernah bertemu maka keluarga kami meragukan kebenaran rumor tersebut. Bahkan kalaupun benar, di keluarga kami tidak ada yang tahu nama panggung dari istri kedua Om Iqbal ini.



Aku sampai di desa sudah sore sekitar jam 5. Aku bertanya ke penduduk desa letak rumah Om Iqbal. Tidak sulit namun memang agak terpencil dari rumah penduduk lainnya.

Rumahnya tidak besar namun terbuat dari tembok permanen, berlantai dua. Maklum karena si Om tuan tanah di desa itu. Halaman depan rumahnya pun tampak sepi. Seperti tidak ada penghuni. Pintu dan jendela tertutup.

Kuketuk pintu beberapa kali. Lama kutunggu tidak ada jawaban. Aku membalikkan badan tepat setelah itu terdengar suara kunci diputar. Pintu terbuka, muncullah seorang wanita dari balik pintu.
“Siapa ya?” Wanita itu bertanya.
“Saya Joe, keponakan Om Iqbal, anak dari Bu Mira.” kataku.
Wanita itu memandang curiga. Wajah wanita itu berparas cantik. Bibirnya seksi. Paras wajahnya mirip dengan artis Dewi Persik. Rambutnya panjang hitam tergerai. Kulitnya putih terawat bahkan berkilau-kilau diterpa cahaya matahari sore. Ia mengenakan daster gombrong warna hitam. Kutebak dari balik dasternya pasti tubuhnya bagus melihat begitu terawatnya kulit wanita ini. Kutebak umurnya sekitar 20 tahun.
Amat sangat tidak mungkin kalau artis seperti Dewi Persik ada di desa terpencil ini. Apalagi menikah dengan Om-Ku, Mungkin hanya sekedar mirip dan banyak wanita yang wajahnya mirip,itulah yang disebut orang sebagai “muka pasaran”, aku pun bergumam dalam hati.
Aku membuka tas dan menunjukkan surat dan foto-foto keluarga Om Iqbal. Takut wanita ini tidak percaya. Ia membuka surat tersebut dan membacanya. Juga memperhatikan album foto itu.
“Ayo masuk.” Ajaknya, tampaknya kecurigaannya sudah hilang.
Aku melangkah masuk ke dalam rumah. Walaupun tampak megah, perabotan rumah itu terasa minimalis.
“Namaku Dewi, aku Istri Om kamu. Kita belum pernah bertemu sebelumnya, ya?” katanya memperkenalkan diri ketika aku duduk di ruang tamu. “kamu mau minum apa?”
“Nggak pakai Persik kan, Tante?” tukasku setengah bercanda. Ini cewek bukan saja berwajah mirip, nama depannya juga mirip.
Dewi hanya menyunggingkan senyum manisnya, tidak menjawab pertanyaanku. Ia mempersilakan aku untuk duduk. Aku pun duduk dan menceritakan pesan yang hendak kusampaikan kepadanya.

***

Terdengar adzan maghrib di kejauhan ketika aku menyelesaikan pesanku.
“Oh begitu, baiklah. Tapi sebenarnya aku tidak peduli soal warisan atau apapun dari keluarga. Karena semua itu hak Iqbal suamiku, tapi karena dia sudah meninggal, aku menyerahkan semua keputusan kepada keluarga saja. Sesuai musyawarah.” katanya bijaksana.
“Kalau begitu aku pamit dulu, tante.” kataku.
“Panggil aku Mbak saja. Sudah hampir malam, lebih baik kamu menginap saja di sini.” kata Dewi. “Lagipula kalau sudah maghrib kendaraan ke kota susah. Besok saja kamu pulang.” Dia tersenyum. manis sekali.
Aku berfikir sejenak. Benar juga kata tanteku ini, kesini saja tadi menunggu kendaraan hampir 2 jam. Apalagi pulang nanti.
“Sudah nginap saja. Aku siapkan kamar ya.” katanya. Belum juga aku memutuskan.
“Oh, baiklah.” aku tidak menolak tawaran yang tidak bisa kutolak karena sebelum aku mengiyakan, yang punya rumah sudah bergegas bangkit menuju pintu ruang sebelah yang tertutup gorden.

***

Segar dan dingin air di desa ini. Mampu membuat pikiran rileks dan tenang setelah mandi. Aku keluar dari pintu kamar mandi yang terletak di lantai bawah. kamar mandi itu terletak di samping kamar tamu yang kutempati. Begitu keluar kamar mandi langsung bertemu dengan ruang makan yang terletak di dekat tangga.
Tampak Dewi duduk di meja makan. Tubuhnya terbalut dengan daster hijau. Rambutnya basah, sepertinya dia juga baru mandi. Wajahnya tampak segar dan makin cantik sehabis mandi. Tentunya pasti dia punya kamar mandi sendiri di lantai dua.
"Ayo makan dulu, Joe. Maaf seadanya, Mbak nggak masak tadi." katanya sambil menyendok nasi.
"Tidak apa-apa, Mbak." kataku membiasakan diri memanggilnya Mbak.
Aku menghampiri meja makan. Kulihat sayur daun singkong di meja, sambal hijau, daging empal pedas dan tempe goreng. Aku menarik kursi meja makan dan duduk. Mengambil nasi dari magic jar yang terletak di meja makan. Aku lapar sekali.
"Beginilah kehidupan kami di desa." kata Dewi. "Kalau disana bagaimana?"
"Sama saja, Ibu juga jarang masak kok." Aku menyantap nasi dengan lahap. “Wah, empuk sekali empalnya.” Aku sedikit memuji. "Om Iqbal dulu meninggalnya kenapa?" tanyaku sembari menelan daging empal empuk yang beraroma wangi khas daging.
"Om Iqbal sakit. Entah sakit apa tidak ada yang tahu. Sudah berobat ke temannya dokter di kota tapi tetap saja tidak sembuh." Dewi menjelaskan sambil makan. "Kata orang desa diguna-guna. Tiga bulan kemudian meninggal."
"Memangnya seperti apa sakitnya?" aku penasaran, apalagi kalau sampai melibatkan guna-guna yang kudengar masih marak di daerah terpencil ini.
"Sakit perut tiap malam, suka kejang-kejang. Aku sendiri bingung." kata Dewi.
"Tidak dibawa ke dukun?" aku bertanya.
"Om Iqbal kamu itu tidak percaya dukun. Dia kan dokter." kata Dewi.
Benar dugaanku kalau Om Iqbal adalah dokter di desa terpencil ini. Dugaan yang berdasarkan yang kulihat dari buku-buku kedokteran yang berderet di rak dekat ruang tamu.
"Dulu Om kamu itu suka melayani masyarakat di sini secara cuma-cuma. Makanya waktu meninggal banyak yang kehilangan dia." Dewi bercerita.
"Kenapa tidak ada yang bilang ke keluarga kami kalau dia meninggal?" tanyaku.
"Aku ingin dan berusaha mencari, tapi aku tidak tahu keluarganya. Bahkan nomer telepon atau apapun yang berhubungan dengan keluarga tidak kutemukan di catatannya." kata Dewi.
Aku heran, pertanyaan yang masih mengganjal. Seakan Om Iqbal membuang dirinya dari keluarga besar. Ada apa? Aku tidak bertanya lebih jauh karena kuyakin istrinya ini juga tidak tahu.
Dewi menyelesaikan makannya. Kemudian bangkit berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangan.
Aku menyelesaikan makanku. Nikmat juga masakan tanteku ini. Apalagi rasa sambal terasinya yang pas benar pedasnya. Beruntungnya almarhum om Iqbal memiliki istri cantik, seksi dan pintar memasak.
"Tumpuk saja di dapur, biar besok aku yang mencuci." kata Dewi ketika melihat aku membereskan piring kotor kami.
"Dapurnya dimana?" tanyaku.
"Itu di ujung. Sini, aku saja yang bawa." kata Dewi.
"Tidak usah, Mbak. Sudah tanggung."
Dewi berjalan menuju dapur. Aku mengikutinya dari belakang. Tidak sengaja kulihat goyangan pinggulnya dari balik daster hijaunya yang meliuk indah saat berjalan. Astaga, aku segera mengalihkan pandanganku. Aku melangkah sepanjang lorong pendek melewati pintu empat pintu di kiri dan kanan yang kuduga mungkin kamar atau gudang. Di ujung lorong ada pintu menuju dapur.
“TONG... TONG... TONG...” Terdengar samar-samar dari dalam pintu di sebelah kiri lorong tersebut seperti suara besi dipukul-pukul.
“Suara apa itu?” tanyaku.
Dewi berhenti dan membalikkan badan. “Suara apa?”
Kami hening sejenak, tidak terdengar suara lagi.
“Ah, lupakan.” kataku.
Dewi meneruskan langkahnya menuju dapur, aku mengikutinya.
Dapur itu cukup luas. Lebih luas dari ruang tamu, dengan meja berbentuk letter L, juga ada meja marmer di tengahnya. Terlihat kompor gas, juga microwave di meja berbentuk letter L. Beragam pisau dan alat memasak tergantung di dindingnya, juga ada wastafel di sebelah kirinya. Aku menaruh piring kotor di wastafel itu. Sedangkan Dewi mengambil termos air panas.
"Mau teh atau kopi?" tanyanya.
"Gak usah, Mbak, aku cuma minum air putih." kataku meninggalkan dia yang sedang menyeduh teh.
Aku kembali ke ruang televisi yang terletak di samping kiri ruang tamu kalau dilihat dari pintu depan. Berbeda dengan ruang tamu. Antara ruang televisi dan ruang tamu dipisahkan tembok dengan korden berwarna merah sebagai pintu. Ruang televisi ini memiliki sofa modern yang empuk. Televisi 30 inc terletak di lemari panjang dari kayu yang di bawahnya terdapat etalase kaca yang juga berisi buku. Televisi tersebut sejak sore tadi memang menyala dan menampilkan film drama.
Kurebahkan tubuhku di sofa empuk itu. Dewi masuk ke ruang televisi sambil membawa segelas teh. Ia duduk di sofa panjang di sampingku. Aku memang masih ingin mengobrol banyak dengan tanteku mengenai Om Iqbal.
"Selain jadi dokter, apa yang Om Iqbal lakukan sehari-hari?"
"Selain dokter, dia bertani, nanti siang kamu bisa lihat kebun dan sawah kami di belakang." Dewi menjelaskan. "Iqbal orang yang sosial, dia jadi dokter secara cuma-cuma untuk masyarakat desa ini, tapi dia praktek juga di puskesmas kecamatan. Untuk memenuhi kebutuhan hidup kami, dia menjual hasil pertanian dan kebon."
"Kalau Mbak asli daerah sini?" tanyaku "maaf, kalau aku banyak tanya. Aku penasaran dengan keluarga Om." maklum rasa ingin tahuku berlebihan.
"Nggak. Aku dulu perawat. Aku dari daerah Solo. kebetulan waktu itu lagi diperbantukan di puskesmas dan bertemu deh dengan Om kamu." Dewi meletakkan gelasnya yang sudah habis setengah. "Kemudian kami menikah. Namun setelah Om kamu meninggal, aku lebih banyak mengurus tanahnya.”
"Mbak menikah dengan Om Iqbal sudah berapa lama?" kataku. "Belum punya anak?"
"Kami belum punya anak karena aku ada kista dan rahimku diangkat. Sekitar lima tahun kami menikah. Kenapa?" tanyanya.
"Mau tau aja sih, berarti Mbak menikah sekitar umur 17 atau 18 donk."
Tiba-tiba Dewi tertawa renyah. "Memangnya kamu kira aku umur berapa?"
"Antara 20 sampai 23 tahun." kataku polos.
Dewi tertawa lagi. Kemudian mengambil gelas tehnya. Menyeruput tehnya. Meletakkan di meja. "Umurku jauh kog sama kamu." kata Dewi.
"Aku umur 22, berarti memang tidak jauh jika Mbak berumur 23 atau 25." aku menebak.
"Kamu salah, aku berumur 30 tahun." katanya tersenyum.
"Yang benar?" Aku ragu dan terperanjat kaget.
Dewi hanya mengangguk meyakinkanku dengan raut wajah serius.
Ternyata dari paras wajahnya, kulit muka dan tubuhnya tidak tampak tanda-tanda penuaan. Bahkan menipu semua mata semua lelaki yang mengira kalau Dewi berumur sekitar 20 tahun.
"Mbak tidak tampak seperti berumur 30 tahun. Wajah dan kulit Mbak kencang seperti gadis remaja." kataku memuji.
"Ah, kamu ini pintar merayu." Kata Dewi tersenyum tersipu.
"Ini pujian lho." kataku
Kami berpandangan sejenak. Tiba-tiba Dewi dengan cepat melompat, duduk di pangkuanku berhadapan. Dari dekat tercium wangi tubuhnya yang harum.
"Mbak ngapain?" Aku memegang pinggangnya karena kaget, sedikit memberi penolakan.
"Joe, daripada merayu aku, kita langsung saja yuk. Aku sangat membutuhkan sejak Om kamu tidak ada." Dewi membelai lembut wajahku. Senyum dari bibirnya yang indah dan menggoda ada di depan wajahku.
Dadaku langsung bergejolak. Sebagai laki-laki normal bagaimana tidak tergoda apabila ada seorang janda cantik, berkulit halus dan bertubuh seksi berhadapan wajah di pangkuanku sambil memutar-mutar kecil pinggangnya di selangkanganku. Sehingga penisku pun bereaksi positif terhadap perubahan suasana.
Gimana nih? kataku panik dalam hati. Aku harus tetap tenang. Bagaimanapun wanita ini adalah istri pamanku, walaupun pamanku sudah meninggal tetap saja, tidak etis. Tapi setan di kupingku seakan berbisik lain untuk menyuruh nafsuku segera memeluk, menciumi dan menelanjangi perempuan cantik dih adapanku ini. Apalagi ketika Dewi menempelkan keningnya di keningku. Nafas perempuan itu terasa harum.
Aku memegang pinggang Dewi yang terasa ramping dari balik dasternya. Mendorong Dewi ke samping sehingga wanita itu jatuh terlentang di sofa namun menahan tubuhnya dengan siku. Hal ini kulakukan supaya nafsu setan dalam diri kami tidak mempengaruhi lebih jauh.
“Maaf Mbak, Aku gak tega.” kataku.
Dewi menatapku terdiam. Ia membelai pipiku. “Sekilas kamu mirip Ario Bayu, tapi lebih mirip seperti Iqbal sih.”
Aku menepis tangannya. Kami pun membetulkan posisi duduk kami. Ia merapikan dasternya kemudian berdiri. “Aku tidur dulu, Joe.” Dewi berjalan melewatiku. Ia menaiki tangga.
Kuperhatikan langkahnya ketika menaiki tangga, ketika sampai di pertengahan tangga ia memalingkan wajahnya ke bawah melempar senyum manisnya kepadaku, kemudian melanjutkan lagi menaiki tangga.
Aku heran dengan arti senyumnya itu. Mungkin maksudnya supaya aku menyusulnya menuju kamar dan memperkosanya habis-habisan. Aku menyandarkan diri ke sofa kembali menikmati acara televisi.

***

Jam 6.30 ketika wekerku berdering dari handphone. Sebenarnya lupa kumatikan karena biasanya kunyalakan pada hari kuliah. Aku sedang libur semester jadi aku bisa santai.
Aku bangun beranjak dari tempat tidur karena kepengen kencing. Masih mengenakan celana pendek yang kupakai tidur. Ruang makan terlihat kosong. Aku hendak membuka pintu kamar mandi namun kaget ketika tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Aku meloncat ke belakang, Kulihat tante Dewi keluar dari dalam kamar mandi hanya mengenakan handuk yang melingkari tubuhnya saja.
“Pagi, Joe, maaf mengagetkan. Shower kamar mandi di atas bocor, jadi kupakai yang di bawah. Silahkan,” Dewi melewatiku dengan cuek seakan sudah terbiasa dan tidak terjadi apa-apa.
Aku segera masuk kamar mandi untuk pipis. Sebenarnya melihat tanteku hanya berbalut handuk membuat nafsuku bangkit. Mengingat kejadian semalam. Aku heran bagaimana jika tadi tante dengan sengaja memancing? Ah tidak mungkin, mana tau tante kalau aku baru bangun tidur. Kalau bukan tanteku, mungkin saja semalam sudah kutiduri wanita itu. Kalau itu adalah Sherly pacarku atau Dina teman kampusku, sudah pasti tadi malam sudah nambah sampai 5 kali. Mungkin pagi ini lanjut ronde ke 4.
Sebenarnya baru 2 kali aku main dengan perempuan, dengan pacarku pun tidak pernah, paling hanya petting dan blow job. Main dengan perempuan itupun dengan pelacur dan ditraktir Ricky teman baikku yang kaya raya.
Aku mengelap penisku yang besar, setelah kencing. Walaupun tidak ngaceng ukuran penisku sudah 13 cm dan kalau tegang bisa sampai 21 cm, dengan lingkar batang 4 cm dengan kepalanya yang berdiameter 5cm. Sherly pacarku sering memuji penisku ketika melakukan blow job. Penisku hanya muat kepalanya saja di mulut kekasihku yang mungil itu, jadi selama blow job kadang-kadang Sherly hanya mengocok sambil menjilat batangku seperti makan es krim. Sayangnya dia tidak mau penetrasi ke vagina karena takut hamil sekalipun aku menawarkan untuk menggunakan kondom.
Setelah kembali ke kamar aku memakai pakaian training. Aku menjumpai tanteku yang sudah berada di dapur. Tante Dewi memakai baju daster terusan ketat berwarna putih sampai ke betisnya. Sehingga lekuk tubuhnya yang bagus dan indah terlihat jelas dari belakang ketika aku menghampirinya.
“Mbak, aku mau jalan-jalan dulu.” kataku pamit.
“Oh silahkan, jangan lama-lama ya. Mbak lagi masak sarapan pagi nih.” Tante Dewi berbicara hanya menolehkan mukanya karena tangannya tampak sibuk mengupas bawang.

***

Aku berjalan-jalan ke belakang rumah melalui pintu dari dapur. Halaman belakang rumah ini luas dan ditumbuhi tanaman jagung dan umbi-umbian. Aku melintasi jalan setapak diantara pepohonan di kiri dan kanan. Aku berhati-hati ketika menuruni ujung jalan setapak yang curam yang menuju ke sawah. Tidak jauh kulihat sebuah sungai kecil yang bening airnya membatasi antara kebun dan sawah.
Padi-padi di sawah tampak masih muda belum siap panen. Kulihat pagar kawat di sebelah utara yang melintang dari rumah Om sampai ke ujung bukit yang terletak jauh di ujung sebelah timur kemudian pagar itu melingkar kembali ke rumah Om aku. Kira-kira 5-8 hektar luasnya dihitung dari, rumah, sawah dan kebun. Kuperhatikan di ujung bukit tampak sebuah bangunan kecil seperti lumbung.
Kemudian aku membalikkan badan hendak kembali ke rumah pamanku. Aku kembali ke rumah paman hendak menjelajahi area di sekitar rumah tetangga, pikirku. Aku menaiki jalan setapak di depanku yang menuju ke kebun halaman belakang rumah paman.
Langkahku terhenti ketika kulihat Dewi berdiri di hadapanku ketika aku sampai di kebun. Ia berdiri dengan memegang golok hitam berukuran sedang di tangan kanannya. Kedua rambutnya tergerai lepas ke depan. Sorot mata dan raut wajahnya tampak dingin.
"Ja-jalan lihat sawah." aku gugup, karena kaget melihat wanita yang tiba-tiba muncul dihadapanku.
Dewi menyunggingkan senyum manisnya, dengan tatapan wajah seperti seorang psikopat. Ia memutar sedikit badannya sambil mengangkat tangannya yang memeganng golok. Dengan cepat ia menebas. Aku kaget, segera menghindar ke belakang.
Ternyata Dewi hanya memotong batang pohon singkong yang ada di depan sebelah kanannya. Ia kemudian berjongkok di bawah pohon yang di tebangnya tadi. Menggunakan golok, ia mencangkul tanah di sekitar pohon tersebut.
Aku bernafas lega kupikir perempuan ini benar psikopat yang hendak menyerangku dan memotong-motong tubuhku dengan golok di tangannya. Kuperhatikan sejenak Dewi yang sedang menggali tanah menggunakan goloknya, kemudian menancapkan goloknya. Ia berdiri sambil menarik batang singkong itu.
"Tolong bantu aku cabutin donk, keras banget nih." kata Dewi sambil menoleh kepadaku.
"Sini biar aku saja." kataku mendekatinya.
"Terima kasih." kata Dewi sambil melangkah mundur.
Aku menarik pohon singkong itu. Setelah tercabut dari dalam tanah, kulihat ternyata besar sekali umbinya. Pantas saja berat, kataku dalam hati.
"Besar ya, Setelah di potong dari batangnya nanti kamu tancapkan lagi batangnya di tanah itu, biar nanti tumbuh lagi." Dewi mengajariku.
Aku mencabut golok yang masih menancap di tanah. Kemudian memotong batang singkong memisahkan dari umbinya. dan kemudian merapikan tanah dan menancapkan batang yang berukuran sekitar 30 senti itu kembali ke tanah.

***

Selesai makan pagi yaitu nasi goreng dan ubi rebus, masakan tanteku yang rasanya enak sekali. Bahkan nasi goreng langgananku kalah nikmat. Hebat sekali Om Iqbal memilih istri.
“Memang kamu benar-benar titisan Iqbal.” kata tanteku sembari mengambil kursi dan duduk berhadapan denganku. Mungkin ia begitu karena melihatku melahap hampir 2 piring nasi goreng.
“Om Iqbal senang dengan nasi goreng.” kata tanteku.
Di hadapanku dapat kulihat belahan buah dada tante Dewi yang menyembul dari balik daster ketatnya. Buah dada yang putih indah dan besar. Kulihat sekilas tadi perut tante yang rata dan pinggangnya yang kecil kontras dengan payudaranya.
Tiba-tiba timbul hasratku. Aku berusaha menahan godaan rayuan tanteku. Mungkin kalau setelah makan aku angkat kaki dari rumah ini bisa menepis godaan maut tante Dewi. Setidaknya cuma bisa jadi bahan masturbasi di rumah.
Masturbasi? Goblok banget aku ini. Ada janda cantik dan seksi kesepian di depan mata yang sedang membutuhkan seks, kenapa harus masturbasi? Peluk dan cium saja, telanjangi, sodok dengan penis, dan semprotkan air mani di vaginanya, toh juga gak bakal hamil karena sudah steril. Ngapain pakai tangan? Setan berbisik di telingaku.
Tiba-tiba, seorang perempuan masuk rumah dari arah dapur. Nafas perempuan itu ngos-ngosan.
“Tolong, Bu, Pak Darno jatuh dari tangga di lumbung.” kata perempuan itu.
“Hah! Si udin ada nggak?” kata tante.
“Udin kan lagi sakit tipes.” kata perempuan itu polos.
“Joe, kamu bisa menyetir mobil?” kata tante kepadaku.
“Bisa, kenapa?”
“Kamu bisa tolong Mbak Siti ini antar pak Darno pakai mobil.” kata Tante. “Sebentar aku ambil kuncinya. Mobinya ada di garasi.”
Akhirnya aku menyantarkan orang yang kecelakaan itu ke rumah sakit di dekat situ, kira-kira setengah jam perjalanan dengan mobil Avanza milik tanteku. Menunggu operasi karena lukanya sangat parah. Tante sendiri tidak ikut karena harus jaga rumah. Jadilah hanya aku, dua orang pria muda dan wanita bernama Siti ini. Aku pulang kembali ke rumah paman ketika hari sudah malam sekitar jam 7.
Wah, gak jadi lagi aku pulang, kacau nih. Aku berdoa dalam hati semoga tanteku tidak menggodaku lagi. Aku menutup pintu garasi dan memasuki rumah. Kulihat tante Dewi sedang di depan televisi masih mengenakan pakaian daster gombrongnya yang semalam. Syukurlah tidak pakai yang ketat, kataku dalam hati.
“Gimana, joe?” katanya ketika aku menyerahkan kunci mobil.
“Sudah di gibs dan dikasih pen. Sudah langsung pulang kog.” kataku.
“Kasian pak Darno. Dia itu orang kepercayaan Iqbal dari muda dulu, dan yang mengurus semua tanahnya ini. Kamu mandi dulu gih sana.” kata tante, nadanya biasa.

***

Aku makan sambil ditemani tante yang bercerita tentang masa mudanya. Aku hanya mendengarkan saja sambil sesekali menanggapi dengan menceritakan tentang kehidupan kampusku, pacarku dan teman-temanku.
Entah kenapa malam ini aku melihat tante dengan sangat bernafsu. Nafsu untuk menyetubuhinya. Padahal sikap tante dan gaya bicaranya biasa saja dan tidak menggoda. Kupendam saja karena mungkin itu nafsu sesaat dan tidak etis jika aku memulai karena malam sebelumnya aku menolak.
Kami menonton televisi seperti pada malam sebelumnya ditemani segelas teh tanpa kami berkata hanya menikmati film lepas di hadapan kami. Tante Dewi tiba-tiba menyandarkan kepalanya ke bahuku.
Yah, dia mulai lagi, kataku dalam hati. Dalam kondisi libido yang sedang tinggi-tingginya.
“Maaf ya, semalam.” kata tanteku. Ia mengelus dadaku yang bidang karena aku rajin fitnes.
Entah setan apa yang merasuki aku. Tiba-tiba aku sudah merangkul pundaknya mengelus-ngelusnya mesra. “Nggak apa-apa, Mbak.” jawabku santai. Sial, libido ini sulit dikendalikan.
“Aku benar-benar kangen sama Om kamu. Kamu benar-benar mirip dia.” Tante tetap mengelus-ngelus dadaku.
“Dada Om seperti aku?” tanyaku.
“Iya, cuma perutnya itu lho sedikit buncit.” kata Dewi sambil tersenyum menatap wajahku. Mata kami membuat eye contact, sambil aku membalas senyumnya.
Aku mulai tergoda untuk mengecup bibir nya yang berwarna pink itu. Tapi kutahan sebisa mungkin jangan sampai terjadi. Dadaku sudah bergemuruh. Penis di balik celanaku sudah bereaksi. Aku memang sengaja mengulur waktu supaya tidak terjadi 'hal yang diinginkan'.
“Rambutnya hitam cepak kayak kamu. Dan kumis dan jambang tipis ini, benar-benar mirip.” Tante Dewi membelai pipiku yang ditumbuhi jambang dan kumis tipis.
Tanganku membelai-belai pundaknya yang mulus dan licin. Damn! Om Iqbal, kamu benar-benar pria hebat punya istri seperti ini.
“Anggap saja aku Om Iqbal malam ini, tante.” kataku.
DUEENG! Entah kenapa aku berkata bodoh seperti itu. Perkataan yang membuka jalan kepada 'hal yang diinginkan'. Tapi tidak bisa kutarik lagi ucapanku itu.
Dan tentu saja akibat perkataanku itu tante Dewi mulai agresif menciumi dada dan merambat ke leherku di dekat kuping. Aku ketawa kegelian.
“Disitu biasa suamiku, sama ya dengan kamu.” kata Tante Dewi. Ia ikut tertawa kecil dan kembali menciumi leherku.
Sudahlah, aku tidak tahan lagi. Kuanggap ini rezeki, ditahan-tahan malah bikin kepala pusing dan penis senat-senut. Kalau ditahan juga buntut-buntutnya coli. Toh dosanya sama saja. Ngapain ditahan, udah nikmatin aja, biarkan mengalir saja.
Awalnya kubiarkan wanita ini menciumi leherku. Kemudian kuputar kepala dan menyambar bibir merah jambu-nya itu. Lembutnya bibir dan legitnya terasa ketika aku memagut Tante Dewi. Bibirnya terasa manis.
Mungkin malaikat yang menahanku sejak semalam sudah KO masuk rumah sakit, digebukin setan-setan yang ada sekitarku. Tapi ‘What the hell!’ Sudahlah, mau apa lagi.
Tanganku menggerayang ke punggung Dewi yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Lembutnya bibir wanita ini, nafasnya yang memburu nafsu. Tanganku meraba perutnya yang ramping dari balik dasternya sambil terus menikmati bibir legit dan manis milik tante Dewi. Tangan tante Dewi pun menggerayangi ke arah selangkanganku, mencari-cari penisku. Kemudian setelah dapat diremasnya penisku yang terbungkus celana pendek dan celana dalam itu.
“Satu yang kurang dari Iqbal.” kata tante ketika kami melepaskan ciuman.
“Apa itu, Mbak?” tanyaku menatap mata bening perempuan itu.
“Penis Iqbal tidak sebesar kamu.” Dewi tersenyum sambil meremas penisku yang sudah ngaceng keras itu. Kulumat lagi bibirnya sambil tangan Dewi menelusup ke balik celana dalamku, membebaskan batangku yang sudah meronta-ronta. Kami melepaskan ciuman untuk mengambil nafas.
“Di kamar yuk?” ajakku.
“Nanti saja. Malam masih panjang. Disini aja.” kata Dewi sambil bangkit berdiri di hadapanku.
Kedua tangannya melepaskan tali daster yang tersangkut di pundaknya. Dan kain daster itu langsung melorot ke bawah mengikuti bentuk tubuh Tante Dewi. Sehingga dihadapanku dia telanjang hanya dengan mengenakan celana dalam hitam bertali. Buah dadanya putih, bulat, kencang dan besar berukuran 36B. Lingkar puting susunya sekitar 3cm dengan puting susu sebesar kacang yang tampak merah tua.
Perutnya ramping tidak ada selulit, rata dan kencang. Pahanya putih dan bulat. Body yang hanya bisa kulihat di film-film biru, kini nampak di depanku. Bahkan Sherly pacarku kalah seksi dengan perempuan di depanku ini. Kulit putih tante Dewi tampak berkilat-kilat karena pantulan lampu ruangan.
Aku memelorotkan celana pendek dan celana dalamku yang terasa sudah sempit dari tadi. Kemudian tante Dewi naik ke pangkuanku. Duduk berhadapan denganku. Tangannya memegang penisku yang sudah tegak keras itu. Tanganku pun langsung meremas lembut payudara di hadapanku. Payudaranya kencang dan kenyal, kuusap dan kemudian kujilat puting susunya yang mancung yang menggemaskan.
Kedua tanganku tidak habis ingin terus meremas kedua buah dada kenyal itu. Kujilat dan kumainkan kedua puting susu itu bergantian. Tangan tante masih bermain-main di penisku yang panjang.
“Kayak tongkat hansip punya kamu.” kata tante Dewi di tengah-tengah permainan. “Dildo yang kupunya aja tidak sebesar ini.” selorohnya lagi.
Tanganku mengerayangi perut ratanya, kemudian menarik lepas tali celana dalamnya. Aku benar-benar tidak tahan. Aku sudah lupa semuanya. Hanya ada nafsu-nafsu dan nafsu. Tangan kiriku menggerayang di vaginanya. Kurasakan bulu-bulu jembutnya, pendek dan tajam serta bibir vagina yang basah.
Aku menatap wajah tante Dewi. Wajah perempuan itu sudah memerah karena terangsang. Tapi aku tidak buru-buru, tanganku tetap bermain di itilnya sehingga membuat perempuan itu menggeliat matanya terpejam. Tangannya meremas penisku. Kusodok jari tengah sedikit ke dalam lubang vaginanya yang basah. Well, sempit. Benar kata dia semalam karena mungkin sudah setahun dia tidak mendapat sex sehingga vaginanya kembali rapet.
Tante Dewi menarik celana dalamnya yang sudah terbuka. Karena hannya dililit tali maka celana itu mudah dilepas. Ia menaikkan tubuhnya dan menaruh kepala penisku di pintu lubang vaginanya.
“Gak pakai kondom, Mbak?” tanyaku.
“Memangnya aku bisa hamil?” katanya tersenyum. Ia mendesak tubuhnya supaya kepala penisku masuk ke dalam vaginanya.
Ada rasa sedikit perih di lubang saluran kencingku ketika penisku memaksa memasuki vaginanya. Lembut dan hangat ketika perlahan-lahan kurasakan kedua alat kelamin kami bersatu. Alat kelaminku masuk ke dalam vaginanya yang hangat dan bergerinjel-gerinjel sampai mentok di ujung vagina.
“Hmmmmfff...” Tante Dewi mendesah ketika batang kemaluanku memenuhi seluruh vagina itu.
Aku menengok ke bagian kelamin. Kulihat hanya tersisa seperempat saja penisku di luar, sisanya ada di dalam vagina wanita seksi ini. Kurasakan dinding-dinding vagina perempuan ini terasa memijat-mijat lemah walau belum memulai goyangan. Tante Dewi memegang ujung baju yang masih kukenakan. Kubiarkan saja ia melepaskannya dari tubuhku menelanjangiku. Dan kini kami berdua sudah dalam keadaan tanpa busana.
Tante Dewi mulai bergoyang naik turun pelan sambil mendesah pelan. Tanganku memegang pinggangnya menahan perempuan itu. Baru kali ini aku merasakan seks tanpa kondom dan lebih enak ternyata. Lebih terasa legit dan bergerinjel rasa dari vagina yang menggesek penisku jika dibanding seks pakai kondom dengan pelacur.
Tante Dewi menyodorkan buah dadanya ke wajahku. Aku segera bereaksi dengan menjilat dan menggigit-ggit kecil puting susu mancung itu. Tante Dewi mendesah-desah. Tiba-tiba kurasakan geli gatal di batang penisku. Sial. Lagi enak-enak udah mau nge-crot, kataku dalam hati. Kayaknya harus ganti posisi deh.
“Tahan, sayang, sebentar lagi.” Tante bersuara.
Pinggangnya naik turun maju mundur. Kedua tangannya tiba-tiba menarik kepalaku, membenamkan wajahku diantara kedua buah dadanya yang sentosa itu. Kurasakan pijatan vagina di penisku mulai terasa makin kencang, ditambah genjotan wanita itu. Rasa hangat dan panas kurasakan di sekitar batang kemaluanku menjalar, dari kepala penis sampai ke seluruh batang yang berada di dalam vagina itu. Disusul erangan kencang tante Dewi.
“Errggghhh...” Kedua tangan wanita itu membekap kepalaku di buah dadanya sehingga aku kesulitan benafas. Goyangannya liar berputar-putar, kedua tanganku menahan pinggulnya. Wanita di atasku ini sedang orgasme.
Karena goyangan liar tante Dewi, penisku jadi tidak tahan. Aku mengerang ketika kurasakana air maniku mendesak di ujung batang. Aku menarik pinggang wanita di atasku ini supaya penisku makin mentok di dalam. Kukeluarkan cairan air mani yang sudah dua minggu tidak keluar dari penisku. Banyak sekali kurasakan air mani menyembur dari ujung penisku. Kurasakan vagina tante Dewi memijat dan menyedot-nyedot setiap semburan air mani yang keluar dari penisku.
Kami berdua berpelukan berdiam diri setelah orgasme dashyat yang sama-sama kami alami. Penisku terasa dipijat-pijat oleh vagina lembut itu. Tangan wanita itu mengelus rambutku. Wajahku masih memeluk dada tante Dewi yang kenyal kayak bantal. Sedangkan tanganku mengelus-ngelus punggung mulusnya menenangkan perempuan itu yang nafasnya tersengal-sengal karena setelah sekian lama baru hari ini ia merasakan seorang lelaki lagi.
Kami melonggarkan pelukan. Tante Dewi tersenyum puas kepadaku. Bibir kami kembali berpagutan.
“Kalau kamu kesini. Kamu bisa gantikan posisi suami tante. Toh dia masih sedarah dengan kamu. Mungkin arwahnya mengirim kamu kesini untuk memuaskanku.” katanya kepadaku.
“Berarti aku menikah donk dengan Mbak.” aku bertanya polos sambil mengecup puting susu menggemaskan di hadapanku.
“Ya enggak donk. Hanya seks saja, cintaku masih milik Om kamu kok.” kata Tante Dewi. Ia menggoyang kecil pinggangnya sehingga penisku yang masih di dalam vaginanya tergesek geli.
Well, sangat beruntungnya almarhum Om Iqbal. Memiliki istri yang setia bahkan setelah suaminya tidak ada. Entah ilmu pelet apa yang digunakan.
“Mau ronde dua, Mbak?” kataku sambil meremasi buah dada sekal itu.
Kami tertawa kecil. Kembali kukenyot puting susu kecil coklat itu. Kedua tanganku meremas kedua buah dada indahnya. Kenyal dan kencang buah dada montok itu. Bagai seorang bayi yang sedang menyusu pada ibunya. Dewi membelai-belai lembut rambutku selagi aku menikmati buah dadanya.
Penisku yang sudah lemas masih terbenam di dalam vagina perempuan itu. Kurasakan rasa becek di bagian kemaluan kami yang masih bersatu. Pijatan-pijatan vagina Dewi terasa di sekujur batang penisku. Cairan lendir terasa mengalir di buah zakarku, menetes dari sela-sela vagina Dewi. Lendir hasil perpaduan kedua kelamin kami.
Dewi memainkan putingku. Membuat badanku bergetar kegelian sambil masih menjilat dan mengenyot buah dadanya.
Dewi memegang kepalaku, Menjauhkan buah dadanya dari kenyotan rakusku.
“Kenapa?” bisikku.
“Aku mau pipis dulu” Dewi tersenyum kepadaku.
Wanita itu berdiri mengeluarkan batangku yang mulai sudah setengah ngaceng dari dalam vaginanya. Cairan mani langsung terlihat menetes melewati lubang vaginanya, berleleran di sofa.
“Banyak amat, Joe.” Dewi tertawa kecil, tangan kirinya ditaruh di vaginanya supaya air maniku tidak tumpah keluar.
“Sudah dua minggu.” kataku.
“Kalo rahimku masih ada, bisa hamil nih.” kata Dewi sambil berjalan menuju kamar mandi, tangan kirinya masih berada di selangkangan.
Aku mengambil tissue di meja. Kubersihkan cairan yang berleleran di penis dan selangkanganku. Kemudian aku berjalan ke kamar tidur sambil masih bertelanjang bulat. Ngapain pakai baju, toh pasti habis ini lanjut ke ronde dua. Aku memunguti pakaian kami yang bertebaran di lantai dan kutaruh di kursi kamar.
Kurebahkan tubuhku di ranjang empuk itu. Masih terbayang jelas buah dada putih dan perut rata Dewi yang seksi. Juga enaknya vagina yang legit , bergerinjal, dan sempit, yang sudah setahun tidak menelan penis.
Penisku mulai bangkit mengeras membayangkan kejadian barusan. Kutunggu, lama sekali Dewi di kamar mandi. Ah, biarkan saja, kalau dia mau tambah pasti sudah tahu harus kemana. Tapi penisku yang sudah ereksi tegang seperti monas itu sepertinya tidak mau kompromi, masih ingin menikmati enaknya vagina legit.
Kenapa tadi malam malu-malu. Aku berfikir, kalau dari semalam kulayani mungkin sudah terkuras habis tenagaku melayaninya sepanjang hari.
Dewi masuk ke kamar sambil tersenyum manis dalam keremangan lampu bohlam kuning kamar ini. Tubuh mulusnya terlihat begitu menggoda ketika berjalan ke arahku. Membuat penisku tambah keras ereksinya melihat tubuh seksi dengan kedua buah dada yang kencang itu.
Tanpa basa-basi Dewi menaiki tubuhku yang tergeletak di ranjang. Tangan kirinya mencengkeram batang penisku, diarahkannya ke lobang vaginanya. Dewi menekan tubuhnya untuk memasukkan penisku.
Kurasakan penisku mulai masuk kembali ke sarangnya, ke dalam vagina yang legit itu. Vagina itu sudah tidak terasa begitu basah, peret dan menjepit erat batang penisku di dalamnya. Hanya masuk ¾ nya saja.
Kuraba dan kuremas buah dada menggemaskan Dewi ketika ia mulai menggoyang badannya naik turun. Wajahnya yang cantik dan bibirnya yang tipis mendesah pelan menikmati penisku. Kubiarkan saja perempuan ini berbuat semaunya. Toh malam masih panjang, masih ada besok pagi, masih ada lusa.
Sesekali perempuan itu membuat gerakan berputar di pinggangnya kemudian naik turun lagi di atas tubuhku. Kedua tangannya menekan dadaku. Enak benar, rasa vaginanya yang kian lama kian terasa membasahi kepala penisku di dalam.
Dewi mempercepat goyangannya, naik-turun, maju-mundur, kiri-kanan.
Tubuh perempuan itu mengejang. Tubuhnya melenting ke belakang memamerkan kedua putingnya yang mengencang. Gemas rasanya melihat buah dada bulat, putih indah itu. Kurasakan vaginanya memijat-mijat penisku. Rasa hangat terasa mengalir dari kepala sampai batang kemaluanku. Desahan kencang dari mulut Dewi yang tanpa malu-malu menggema di seluruh ruangan.
Nafas Dewi mulai ngos-ngosan sehabis orgasme. Aku bangkit dan mencium puting susunya sambil memainkan buah dadanya.
“Nungging ya.” kata Dewi disela-sela desahannya.
Dewi bangkit mengeluarkan penisku dan mengambil posisi doggy style. Kuarahkan penisku ke bibir vagiananya lalu kuhujamkan dalam-dalam. Kugesek vagina legit dan lembut itu sambil memegang pinggang ramping Dewi. Desahan dan erangan perempuan itu menggema di ruangan kamar. Bibir vagina Dewi ikut tertarik keluar ketika kutarik penisku dan kembali ikut terbenam ketika kusodok penisku. Legit-nya kurasakan bibir vagina Dewi.
Aku menarik bahu perempuan itu supaya menegakkan tubuhnya sehingga dengan leluasa dapat kuremas kedua buah dada putih yang sedang menggantung itu.
Dewi mengerang mendesah ketika orgasmenya tiba. Digoyangkan pinggulnya maju-mundur dengan liar di tengah gelombang orgasme. Kuremas payudara yang sedang mengeras. Perempuan itu mendesah berteriak menyambut orgasmenya. Kuhajar terus lubang vaginanya. Dewi ambruk lemas terngkurap di ranjang dengan penisku masih menancap di liang vaginanya. Terus kugenjot penisku keluar-masuk vagina legit itu. Dewi mendesah-desah. Aku meremas kedua buah pantatnya yang juga bulat dan indah.
Sempurna sekali wanita ini, pikirku.
Kuputar tubuh Dewi miring dengan kaki kirinya di bahuku. Aku kembali menikmati legitnya vagina perempuan ini dengan posisi ini. Tanganku kembali leluasa bermain di payudara kenyal dan kencang nya. Perempuan itu mengerang, matanya merem melek. Kedua tangan wanita itu mencengkeram seprai menahan kenikmatan yang kuberikan.
Dewi kembali orgasme. Tubuhnya terlonjak-lonjak menerima hantaman penisku. Kurasakan penisku di sedot-sedot oleh vaginanya yang sempit. Aku menghentikan goyangan menikmati orgasme yang dirasakan perempuan itu. Enak sekali.
Kuganti posisi kami ke missionari. Dewi melingkarkan kakinya ke pinggangku terpaut-terikat kepadaku. Kutindih tubuh seksi putihnya. Bibir kami bertemu; berlumatan seperti sepasang kekasih yang sedang dilanda asmara.
“Aku gak tahan lagi. geli... pingin pipis... akhh...” Dewi bergetar.
Ia kembali memelukku erat ketika kurasakan orgasme perempuan itu kembali datang. Perempuan itu menggigit pelan bahuku merasakan deru orgasmenya. Kurasakan perih ketika gigi-gigi wanita itu menghujam bahuku.
Kugoyang batangku lebih kencang menggesek di vagina yang sudah sangat becek itu, karena memang aku sudah mulai merasakan air maniku hendak muncrat akibat goyangan pinggang ditambah sedotan-sedotan vagina Dewi. Perempuan ini terus memelukku erat seakan tidak mau lepas. Desahannya terdengar jelas di kupingku.
“Aaahh... geli banget, Joe.” dan Dewi kembali menggigit bahuku.
Sehingga membuatku semakin bergairah. Tidak bisa menahan lagi rasa geli gatal di ujung penisku. Kusodokkan seluruh penisku mentok ke ujung lorong vagina perempuan ini. Kusemprotkan air maniku di dalam vagina. Kurasakan sedotan vagina Dewi seakan ingin menyedot seluruh air mani dari penisku. Aku memejam, tubuhku mengejang ketika merasakan kenikmatan sampai ke ubun-ubun.
Kurasakan semprotan cairan mani terakhir keluar dari penisku. Aku terkulai lemas di atas tubuh wanita seksi ini. Rasanya tidak puas-puasnya kami bersetubuh. Aku menciumi dan menjilati leher perempuan itu. Dewi tertawa kegelian karena tingkahku.
“Masih banyak aja keluarnya. Mau ronde tiga?” katanya berbisik di telingaku.
Kami pun berciuman. Berpagutan bibir saling menikmati hubungan yang terjadi barusan. Singkat tapi sangat nikmat. Nampaknya tidak perlu menunggu, karena penisku kembali bangkit sebelum sempat kucabut dari dalam vaginanya, dan malam itu kami bertempur sampai 5 ronde. Setelah itu kami pun tertidur pulas tanpa sehelai benang pun. Masa bodoh dengan seprai yang becek oleh karena keringat dan carian mani kami berdua.

***

Aku tersadar ketika kurasakan tanganku tidak bisa digerakkan. Penglihatanku perlahan-lahan mulai membiasakan diri dengan suasana ruangan. Aku mendapati diriku berada di sebuah ruangan dan kedua tanganku terikat dengan rantai di sebuah pipa besi. Bau kemenyan di ruangan itu serasa menusuk hidungku.
Dimana aku? Bukankah semalam aku habis bersetubuh dengan Dewi? Kenapa aku disini?
Mataku menyapu seluruh ruangan. Di samping kiriku tampak sebuah lemari berisi buku, kepala tengkorak, keris, patung dan berbagai benda mistis. di pojok depan tampak sebuah altar, seperti altar pemujaan. Dupa-dupa tertancap di meja itu, dan lilin-lilin berwarna merah yang belum menyala tampak menghiasi meja itu.
 Tampak sebuah logo terpampang di meja tersebut. Di belakang tempat aku terikat tampak dua ekor anjing herder, di dalam sebuah kandang besi. Kadang kala terdengar bunyi suara seperti besi dipukul ketika kedua anjing itu berjalan. Aku menduga berada di salah satu dari dua ruangan dekat lorong dapur, tempat dimana kudengar suara besi berdentang tempo hari.
Yang lebih mengerikan, di tembok tergantung penis manusia dengan berbagai macam bentuk yang sudah diawetkan, tampaknya dipotong dari pemiliknya.
“Kamu sudah bangun, Joe.” suara Dewi terdengar dari belakang.
Aku menoleh asal suara itu. Dewi berjalan dari belakang sambil mengelus punggungku yang tanpa busana dan kemudian dia berdiri berhadapan denganku yang terikat erat. Ia membelai lembut dadaku. Dewi masih tanpa busana, rambutnya dibiarkan berantakan, penampilan terakhirnya sama seperti ketika kami habis bercinta tadi.
“Kenapa aku disini? Apa yang akan Mbak lakukan?” aku membentak.
Dewi tersenyum. “Sewaktu kamu datang, tepat sekali kamu menebak namaku.” Ia memutar jemarinya di putingku.
“Jadi benar kamu Dewi Persik?” kataku tersentak kaget mendengar pengakuannya. “Apa yang kamu lakukan di desa ini?”
“Desa ini tempat kelahiranku. Kalau sedang tidak ada show atau shooting, setahun dua kali aku berkunjung kesini.”
“Lalu kenapa aku diikat seperti ini?” tanyaku “Lepaskan aku!”
“Kebetulan aku sedang membutuhkan korban.” jawab Dewi. “Ritual.”
“Ritual? Maksudnya?”
“Kamu nggak heran apa, jika wanita desa seperti aku ini bisa terkenal dan kaya?” jawab Dewi, tubuh bugilnya berjalan ke meja ritual. Ia mulai menyalakan lilin-lilin yang berjejer satu per satu.
“Om kamu mati karena kuracun. Lumayan aku dapat hartanya, apalagi perbuatanku tanpa terekpose media infotainment. Setidaknya cukup untuk pensiun nanti.” Dia tertawa. “Aku menjalankan ritual kuno untuk menambah pamor dan tentu saja kecantikan.” Dewi menjelaskan.
“Pertama, aku membutuhkan sperma lelaki muda. Makanya, makanan kamu kuberi obat perangsang. Tapi kemarin nggak berhasil, sehingga tadi pagi dan malam kutambah dosisnya.” Dewi kemudian menunjukkan botol kecil berisi cairan putih. ”Ini yang aku keluarkan dari rahimku tadi habis ronde pertama.”
Dewi mengambil mangkuk di altar, kemudian mengambil semacam suntikan. Ia membuka kakinya dan menancapkan suntikan tersebut ke dalam vaginanya. Wajahnya tampak merem melek ketika ia menarik ujung suntikan tersebut, seakan menikmati hal tersebut. Tak lama suntikan tersebut dikeluarkan dari vaginanya. Tabungnya tampak terisi penuh dengan cairan lendir putih.
“Air kamu ini, Joe.” Dewi menunjukkan tabung suntikan itu.
Dia kemudian mengeluarkan cairan yang ada di dalam suntikan itu ke mangkuk kecil di tangan kirinya. Ia menaruh mangkuk di meja altar. Kemudian sambil terpejam mulutnya komat-kamit membaca mantra.
Tiba-tiba Mbak Siti muncul dari belakang. Siti kembali berdiri di hadapanku sambil tersenyum genit. Wanita berparas manis itu kemudian menyentil batang penisku. Sakit dan perih terkena kuku perempuan itu.
Siti menjilati putingku, terasa geli, aku menggelinjang. Tangan kiri perempuan itu meremas, mengelus dan mengocok penis dan buah zakarku. Akibat rangsangan tersebut, penisku pun berdiri. Konak kencang. Aku mulai merasakan nikmat oleh rangsangan gadis berwajah mirip Asmirandah itu.
Tiba-tiba rasa sakit yang teramat perih terasa di bagian penisku. Aku berteriak, Tubuhku meronta-ronta akibat rasa perih yang teramat sangat ngilu.
Siti menunjukkan penis dan buah zakar milikku di tangan kirinya yang berlumuran darah. Ia rupanya memotong penisku dengan pisau di tangan kanannya.
“Yang kedua, kami membutuhkan zakar dan penis laki-laki.” Siti tersenyum jahat. “Tenang saja, tubuhmu nanti akan dibereskan anjing-anjing itu.”
Siti menebas leherku. Kurasakan perih di sekitar leher, darah dari arteri vena di leherku bermuncratan ke wajah perempuan itu. Aku masih melihat Dewi Persik sibuk komat-kamit di depan altar, sebelum kesadaranku hilang untuk selamanya.
loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Rumah Dewi "

Post a Comment