Pertukaran yang Adil

Aku tak pernah menyangka bahwa mendapat tetangga baru, akan memberikan warna baru juga dalam hidupku. Membuat pendewasaan dan pengalamanku semakin bertambah.

Namaku Farid, aku tinggal bersama kedua orang tuaku, mereka berdua bekerja demi mencukupi kehidupan kami sehari-hari. Kami tinggal di sebuah kontrakan di pinggiran kota. Rumah kami terletak di belakang rumah pemilik kontrakan. Ada dua rumah di belakang rumah pemilik, tapi seringnya kosong, karena memang sedikit jauh dari mana-mana.

Aku sendiri boleh dibilang anak yang supel, bahkan boleh dibilang agak sedikit urakan dan kurang ajar. Hidup sebagai anak tunggal, dimana orang tuaku bekerja, walau tanpa pengawasan ketat, aku tidak lantas tumbuh menjadi anak yang bandel. Bahkan, karena jarak rumah temanku yang agak jauh, menjadikanku lebih sering tinggal di rumah.

Ketika usiaku sekitar sebelas tahun, aku mendapat tetangga baru, sebut saja keluarga Pak Nurdin. Dia bersama istri, dua anak, dan menantunya pindah ke sebelah rumahku. Yang membuat aku senang, anak mereka yang kedua, Baim, usianya hanya terpaut satu tahun lebih muda dariku. Hingga dari awal kepindahan mereka, kami cepat akrab. Sedangkan kakak Baim, mbak Nurmala, sudah menikah dan baru saja memiliki seorang bayi berusia enam bulan. Suaminya bekerja sebagai sopir bus antar kota, jadi jarang pulang. Kedatangan keluarga Pak Nurdin membuat orang tuaku senang, karena mereka jadi semakin tenang bila meninggalkanku untuk pergi bekerja.



Makin hari kedekatanku dengan keluarga Baim semakin terjalin. Tiap hari aku bermain bersama Baim. Bahkan mbak Nurmala, akhirnya membantu keluargaku dengan mencucikan pakaian kami. Pak Nurdin yang cuma bekerja serabutan, memang harus sedikit bekerja extra keras demi mencukupi kehidupan mereka sekeluarga. Bu Nurdin bukannya tidak mau membantu, sehari-hari dia bekerja menjadi kuli pengupas bawang di pasar. Pagi berangkat, pulang sore hari. Hasilnya lumayan untuk bayar uang sekolah Baim.

Bu Nurdin, usianya saat itu belum genap 40 tahun, katanya beliau kawin muda sehabis lulus sekolah dasar. Selain kelihatan masih segar, Bu Nurdin termasuk orang yang sangat ramah. Tak jarang beliau suka bercerita kepadaku tentang pengalamannya saat masih muda dulu. Sambil bercerita, biasanya dia minta pijat kepada Baim, mungkin capek habis kerja seharian di pasar. Kadang, jika Baim malas memijat, aku maju untuk menawarkan diri, dan dia suka memberi upah kalau aku melakukannya. Begitu juga dengan mbak Nurmala, tak jarang aku menawarkan jasa membantu jika Baim malas. Aku jadi makin akrab dengan mereka berdua.
Sebulan setelah mereka tinggal, hubungan kami makin seperti keluarga sendiri. Aku yang sedikit pecicilan, sering dijadikan bahan candaan, baik oleh orang tuaku maupun keluarga Baim. Pernah suatu kali, saat ibuku ngobrol di rumah mereka, ibuku bertanya, “Seksi mana, ibu sama mbak Nurmala?” tanya ibuku yang memang masih kelihatan cantik dan seksi di usianya yang memasuki pertengahan tiga puluhan.
“Seksi mbak Nurmala,” kataku spontan.
”Kenapa?” tanya mbak Nurmala, kelihatan senang karena bisa mengalahkan ibuku.
“Susu mbak gede, sedang punya ibuku kecil.” kataku terus terang.
Kontan ibu, mbak Nurmala, dan bu Nurdin yang lagi pada ngumpul, ketawa ngakak. ”Dasar kamu ini,” kata bu Nurdin sambil mengusap kepalaku.
“Ibu juga masih seksi,” kataku pada bu Nurdin.
“Ah, ibu sih dadanya sudah turun,” sahut bu Nurdin yang payudaranya memang sudah agak turun meski ukurannya cukup besar juga. Aku bisa memastikan itu karena suatu kali, saat bu Nurdin sedang berada di kamar mandi, aku tak sengaja memergokinya. Kami memang menggunakan satu sumur bersama, dan jarak kamar mandi kami juga berdekatan. Mendengar suara air diguyurkan, aku pun mengintip lewat celah pintu yang hanya berupa kain kelambu kumal.
“Hayo, ngapain nengok-nengok?” tegur bu Nurdin kalem saat melihat kepalaku muncul di pintu, dia tidak kelihatan marah sama sekali. Aku hanya mesem menanggapinya. Dan dia meneruskan mandinya, membiarkanku memandangi tubuh sintalnya yang masih sangat mulus dan aduhai. Aku tidak punya pikiran apa-apa saat itu karena aku memang masih sangat polos.
Pun ketika aku memperhatikan mbak Nurmala yang sering menimba air hanya dengan mengenakan beha dan jarit saja, aku hanya senyum-senyum saja melihatnya. Dan mbak Nurmala tampaknya juga tidak keberatan kuperhatikan. Bahkan dia sering menyusui bayinya di depanku, memamerkan bulatan payudaranya yang besar kepadaku, lengkap dengan putingnya yang hitam kecoklatan, yang ukurannya hampir seujung jariku. Aku sama sekali tidak terpengaruh. Kenakalanku memang termasuk kenakalan anak kecil biasa, yang suka memperhatikan tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Semua itu terus berjalan hingga beberapa bulan berikutnya, dan aku mengalami mimpi basahku yang pertama. Aku bermimpi bersetubuh dengan seorang perempuan -yang aku lupa siapa, tapi aku yakin kalau mengenalnya- dan menumpahkan air maniku untuk yang pertama kali. Nikmat sekali rasanya. Sejak itu, semuanya berubah. Saat itu usiaku sekitar duabelas tahun, hampir lulus SD. Karena mimpi itu, pikiranku jadi sering kacau. Bahkan akhirnya, aku jadi sering melakukan onani. Baim yang mengajari, dia memang lebih dulu mimpi daripada aku.
”Begini caranya,” Baim mengurut penisnya yang tidak lebih besar dari punyaku, mengocoknya dari pangkal hingga ke ujung. Aku mengikutinya. Saat itu kami berdua berada di kamar mandi rumahku. Rasanya memang nikmat sekali, dan aku muncrat tak lama kemudian. Meski rasanya tidak seenak bila mimpi basah, tapi cukup lumayan untuk meredakan keteganganku.
Sejak itu, kami jadi sering onani bareng. Dan sebagai anak kecil yang baru beranjak dewasa, kami juga sering membicarakan hal-hal berbau porno. Utamanya tentang wanita-wanita yang ada di sekitar kami. Mulai dari tetangga hingga guru-guru di sekolah yang cantik-cantik. Dan seringnya, membandingkan ibu kami masing-masing. Baim suka dengan ibuku, dan aku suka melihat ibunya, bahkan kakaknya aku juga suka. Sekarang, kalau mbak Nurmala menyusui bayinya di depanku, aku sering menemaninya sambil tak berkedip memelototi bulatan payudaranya. Entahlah, aku jadi pengen memegangnya. Aku penasaran dengan rasanya. Sepertinya bakalan nikmat sekali.
”Empuk dan hangat.” kata Baim suatu kali, saat kami onani bareng seperti biasa.
”Bagaimana kamu bisa tahu?” tanyaku sambil terus mengurut batangku. Semakin hari, benda itu menjadi kian besar dan panjang. Bahkan bila dibandingkan, punyaku sekarang sedikit lebih besar daripada punya Baim.
”Kemarin tak sengaja aku memegangnya, saat kak Nurmala ketiduran di depan TV sehabis menyusui bayinya.” kata baim, dan tak lama kemudian dia ejakulasi, menumpahkan spermanya di lantai kamar mandi.
”Hmm,” aku tidak menyahut. Membayangkan bisa memegang bongkahan payudara mbak Nurmala yang mulus dan besar, membuatku tak tahan. Akupun menyusul Baim tak lama kemudian. Spermaku muncrat di dinding dan luruh ke lantai, bercampur dengan sperma Baim. Kami tertawa berbarengan.
Setelah membersihkan diri, saat kami berniat untuk pergi, tiba-tiba mbak Nurmala muncul di depan sumur. Seperti biasa, dia cuma mengenakan beha untuk menutupi payudara mulusnya. Benda itu tampak seperti ingin meloncat keluar karena begitu kecilnya beha yang ia pakai. Aku dan Baim spontan menelan ludah melihatnya. ”Hayo, lagi pada ngapain?” katanya sambil tersenyum penuh arti.
“Nggak, kak. Tuh si Farid, burungnya bangun melulu.” jawab Baim.
Mbak Nurmala tertawa mendengarnya. ”Habis lihat apa, Rid, kok bisa bangun? Gede nggak?” tanyanya penasaran.
”Gede dong. Lebih gede daripada punya Baim.” sahutku nakal.
Sejak itu, sesekali, jika tidak ada orang, mbak Nurmala sering becandain aku. “Hayo, burungnya bangun nggak?” katanya sambil mencolek selangkanganku. Dan apabila saat itu burungku lagi bangun, ia memeganginya agak lama dan mengurut-urutnya dari atas ke bawah, hingga akhirnya membuatku tak tahan. Kalau sudah melihatku lari terbirit-birit ke kamar mandi untuk melakukan onani, mbak Nurmala bakal tertawa ngakak penuh kemenangan.
Sehabis menuntaskan hasratku, aku mendatanginya dengan muka jengkel tapi juga puas. Mbak Nurmala hanya tersenyum melihatku. “Mbak, boleh nanya nggak?” tanyaku.
Dia mengangguk. ”Nanya apa?”
”Ehm, mbak apa nggak kangen sama anunya cowok?” tanyaku ragu-ragu, takut dia marah.
Tapi mbak Nurmala ternyata menanggapinya dengan biasa, aku jadi lega. ”Kangen sih, tapi yang dikangenin pergi melulu.” katanya merujuk pada sang suami yang jarang pulang.
”Punya suami mbak gede ya?” tanyaku lagi, sedikit lebih berani.
“Hmm, lupa, Rid. Saking seringnya nggak ketemu.” jawab mbak Nurmala asal sambil tertawa.
“Ah, mbak.” sahutku ikut tertawa.
Semakin lama, hubunganku dengan keluarga Baim menjadi semakin erat. Mereka menganggap keinginantahuanku akan seks adalah hal yang wajar, mengingat umurku yang sedang puber dan beranjak dewasa. Mereka seperti tak sungkan dengan segala tindakan jailku, malah seperti membiarkannya. Atau mungkin, mereka merasa tidak enak karena sering dibantu oleh keluargaku? Karena ketika Baim masuk SMP di sekolah yang sama denganku, orangtuaku lah yang mendaftarkan, bahkan membayari uang pangkalnya. Itu dikarenakan Pak Nurdin lagi tidak punya uang. Meski sudah bekerja sekuat tenaga, tapi penghasilannya masih belum cukup untuk membayar uang sekolah Baim.
Dan pagi itu, sifat pecicilanku akhirnya membawaku ke dalam pengalaman baru. Aku ingat, waktu itu aku masuk siang. Jaket yang biasa kupakai untuk ke sekolah, dipinjam oleh Baim. Sekitar jam sepuluh pagi, sebelum mandi, aku berniat untuk mengambilnya. Dengan hanya mengenakan handuk, aku masuk rumah Baim lewat pintu dapur dan kupanggil nama temanku itu, ”Im, Baim, aku mau ambil jaket.” kataku.
Tapi kakaknya yang menjawab. ”Dia lagi keluar, Rid. Nggak tahu kemana, nggak bilang sama mbak soalnya.” kata mbak Nurmala yang sedang sibuk memasak di dapur. Dia berdiri membelakangiku.
“Aku mau ambil jaket, mbak.” kataku. Kuperhatikan tubuhnya dari belakang, tampak sangat seksi sekali; pinggulnya besar, begitu juga dengan bokong dan pahanya, mungkin karena habis melahirkan sehingga jadi montok kayak gitu. Ingin aku mendekat dan memegangnya, tapi segera kuurungkan. Kalau sampai kepergok Bu Nurdin bisa repot.
”Cari aja di kamar belakang,” kata mbak Nurmala, masih tanpa menoleh. Rumah Baim hanya terdiri dari dua kamar; kamar depan dipakai oleh orang tuanya, sedang kamar belakang, bersebelahan dengan kamarku, dipakai oleh mbak Nurmala dan bayinya. Sementara Baim cukup tidur di lantai dengan menggelar tikar, kasihan sekali anak itu.
Akupun segera beranjak ke kamar belakang, mencari tapi tak ketemu. Yang sering kujumpai malah celdam dan beha mbak Nurmala yang berserakan di atas ranjang. Kuambil satu dan kutaksir ukurannya; memang besar sekali! tanganku tidak akan cukup kalau mau memegangnya. Celdamnya kuendus, sudah bau sabun sehabis dicuci. Kucari yang kotor, tapi tidak ketemu. Ah sayang sekali. Padahal aku ingin sekali mencium aroma kewanitaan kakak Baim itu, penasaran bagaimana baunya. Apakah sewangi punya ibuku? Ya, aku memang sering mencium celdam ibuku, dan aku menyukainya! karena baunya memang sangat khas; bikin aku tak tahan untuk segera lari ke kamar mandi dan onani disana.
Aku kemudian beranjak ke kamar depan yang hanya ditutup tirai kecil. Saat mengintip ke dalam, kulihat bu Nurdin yang hanya mengenakan beha dan sarung, sedang duduk di kasur sambil menyisir rambut. ”Bu, boleh aku masuk.” aku menyapanya.
”Ah, kamu, Rid. Bikin kaget aja.” katanya tersenyum tanpa berusaha menutupi bongkahan payudaranya yang menjadi santapan mataku.
”Kok cuma pakai gituan, bu?” tanyaku sambil melangkahkan kaki mendekatinya.
”Habis mandi, belum sempat pake baju.” sahutnya. Aku hanya tersenyum melihat kemolekan tubuhnya. ”Lha kamu sendiri, ngapain keluyuran cuman pake handuk?” dia menunjuk handuk yang melilit di pinggangku.
”Saya lagi mau mandi, Bu. Tapi teringat Baim yang meminjam jaketku. Saya mau mengambilnya.”
”Sudah coba cari di kamar belakang?” tanya bu Nurdin.
”Sudah, tapi nggak ketemu.”
“Ccoba cari disini,” katanya kemudian.
Aku segera memandangi sekeliling kamar, tapi jaketku tetap tidak keliatan. ”Sepertinya nggak ada, Bu.” aku berkata.
”Tuh, cari di tumpukan itu.” kata bu Nurdin sambil menunjuk tumpukan baju yang ada diatas kasur.
Akupun melangkahkan kaki dan semakin masuk ke dalam kamar. ”Permisi, bu.” kataku sambil mulai membolak-balik tumpukan baju itu, tapi jaketku tetap tidak ada. Sambil melakukannya, sesekali aku melirik bu Nurdin yang duduk menyamping di sebelahku. Payudaranya yang besar kelihatan sebagian, membuat jantungku berdetak cepat; deg-degan!
“Ada nggak?” tanyanya sambil menoleh ke arahku.
”Nggak ada, Bu.” sahutku. Kulihat dia terbelalak melihatku. Adakah yang salah dengan tubuhku?
Jawabannya kuketahui sedetik kemudian, “Ah, burungmu kenapa tuh?” kata bu Nurdin sambil menunjuk selangkanganku.
Aku segera menunduk melihatnya. Ah, aku baru tahu, ternyata burungku sudah berdiri tegak, besar sekali hingga membuat handukku menggembung dan terangkat. Aku jadi malu dibuatnya, tapi aku berusaha tetap tersenyum untuk menutupi rasa rikuhku. ”Maaf, bu. Dasar burung nakal, nggak bisa lihat orang cantik!” kataku.
”Siapa yang cantik?” tanya bu Nurdin tak mengerti.
”Ibu,” jawabku terus terang.
Dia tertawa mendengarnya. ”Ah, kamu bisa aja, Rid. Ibu kan sudah tua.”
”Tapi tetap cantik kok. Lihat, burungku aja sampai begini gara-gara lihat ibu.”
Bu Nurdin kembali tertawa. ”Sepertinya gede ya?” tanyanya penasaran sambil matanya tak berkedip menatap tonjolan berbalut handuk yang ada di selangkanganku.
”Ibu mau lihat?” tawarku nakal. Entah kenapa aku bisa berkata seperti ini, mungkin karena dorongan naluri.
Bu Nurdin mengangguk. ”Mana, coba lihat.” dia kelihatan berbinar dan tidak sabar.
Pelan, tanpa malu sedikitpun, mulai kubuka lilitan handukku. ”Kecil ya, Bu?” aku bertanya saat burungku sudah mencuat panjang di depan mukanya.
Bu Nurdin tidak langsung menjawab. Dia tampak mengagumi dan terpesona oleh ukuran batangku. “Ehm, ya enggak lah. Segini sih termasuk gede.” katanya sambil berusaha menelan ludah yang macet di tenggorokan.
Aku tersenyum melihatnya. Kutaruh handukku di tumpukan baju, dan masih dengan tubuh tetap telanjang, bertanya kepadanya. ”Bu, kalau punya wanita gimana bentuknya? Saya boleh lihat nggak?” kataku, berharap agar bu Nurdin mau memperlihatkan kemaluannya. Aku penasaran dengan benda yang satu itu, kalau susunya sih aku sudah sering lihat.
“Jangan ah, nanti ketahuan orang.” kata bu Nurdin malu-malu. Matanya tetap tak lepas memandangi batang besarku.
“Saya nggak akan bilang siapa-siapa, Bu. Sumpah!” kataku untuk meyakinkannya.
“Bener?” tanyanya sedikit tak percaya.
Aku cepat mengangguk, ”Iya, Bu.”
”Baiklah, ini cuma buat kamu. Jangan bilang siapa-siapa ya?” perlahan bu Nurdin membuka kain sarungnya. Bisa kulihat pahanya yang putih mulus saat kain itu mulai tersingkap ke atas.
”Lho, ibu kok nggak pake celana?” tanyaku bloon begitu kulihat bokong dan pinggulnya yang tidak tertutup apa-apa lagi. Sedangkan kemaluannya masih terjepit diantara pahanya, hanya jembutnya saja yang kelihatan; tumbuh semrawut dan sepertinya sangat lebat sekali.
”Ibu kan baru mandi. Belum sempat pake celana, kamu sudah keburu nongol.” kata bu Nurdin sambil membuka belahan pahanya.
Kini bisa kulihat bibir vaginanya yang tebal menghitam dengan ukuran yang cukup besar. Rambut keriting tebal tumbuh lebat di sekitarnya. Saat bu Nurdin menyingkap lipatan belahannya, warna hitam itu berubah menjadi merah tua. Lorongnya yang basah dan bergelambir berujung pada lubang sempit yang terus berkedut-kedut. Di bagian atas, di pertemuan antar lipatan, kulihat tonjolan daging kecil sebesar biji jagung. ”Ini kelentit namanya,” kata bu Nurdin saat aku bertanya apa namanya. ”Wanita paling suka kalau ininya dimainin.” lanjutnya sambil tersenyum.
“Apa ibu juga suka?” tanyaku sambil mengusap kelentit itu menggunakan ujung jari.
”Oughhhh... Rid!” bu Nurdin langsung mendesah dan menggeliat.
Melihat matanya yang tertutup rapat, aku jadi makin berani memegangnya. Kuusap-usap terus kelentitnya sambil kuobok-obok lubang vaginanya. Bu Nurdin merintih semakin kencang, tapi dia segera membungkamnya dengan tangan, takut didengar oleh mbak Nurmala yang lagi sibuk memasak di dapur.
Saat vaginanya sudah semakin basah dan memerah, bu Nurdin menarik tanganku dan berbisik. ”Rid, a-ada lagi yang l-lebih enak.” katanya dengan suara parau dan putus-putus.
”Apa, Bu?” tanyaku sambil mengikutinya yang membimbingku supaya naik ke atas ranjang.
”Masukkan itumu ke punyanya ibu.” ia berbisik dan membuka kakinya lebar-lebar, memberi akses seluas-luasnya kepadaku untuk menikmati tubuh mulusnya. Bra hitam masih menutupi tonjolan payudaranya. Kutarik lepas benda itu, dan Bu Nurdin sama sekali tidak menolak. Jadilah kami sekarang sama-sama telanjang di siang hari yang panas itu.
Aku segera menindih tubuhnya. Kuremas-remas payudaranya sambil kupilin-pilin pelan putingnya. ”Gimana caranya, Bu?” aku bertanya. Sebagai seorang pemula, aku memang belum tahu caranya bersetubuh. Tapi ada rasa geli di ujung kontolku saat kutempelkan benda itu di tengah-tengah daging yang berbulu milik bu Nurdin.
”Begini,” dia meraba kontolku dan perlahan menggeser ujungnya hingga akhirnya kurasakan ada celah yang sangat hangat dan basah. ”Dorong, Rid. Tapi pelan-pelan aja.” bisiknya.
Kulakukan apa yang ia perintahkan, aku mulai mendorong. Kutekan batang kontolku sedikit demi sedikit. Kulihat bu Nurdin hanya diam. Aku bergerak makin mendekatinya untuk mengemut putingnya sambil terus mendorong. ”Enak nggak?” bisik bu Nurdin di telingaku.
”Enak, Bu. Masukin semua ya?” tanyaku.
Bu Nurdin mengangguk. Aku pun mendorong lebih keras, ”Sleeep!!” dengan mudah batang kontol mengisi liang memeknya. Rasanya hangat, geli, sekaligus nikmat. Kubiarkan terdiam sebentar sampai bu Nurdin berbisik, ”Maju mundurin pelan-pelan, Rid. Gesek punya ibu.”
Akupun mulai memaju-mundurkan kontolku pelan-pelan. Kudengar nafas bu Nurdin makin tak teratur, semakin berat dan putus-putus. Tangannya kemudian meremas-remas pantatku, sambil bibirnya mencari mulutku untuk diajak berciuman. Kuladeni semua yang ia inginkan. Kulumat habis bibirnya sambil tanganku tak henti-henti meremas payudara besarnya yang terasa sudah mulai kendor. Kurasakan nikmat yang luar biasa di persetubuhan pertamaku itu. Bu Nurdin benar-benar total mengajariku. Sampai akhirnya secara tak sadar, aku telah memeluk tubuhnya saat kurasakan desakan nikmat dari dalam batang kontolku. Aku pun makin mengencangkan genjotanku.
”Bu, ahh… ahh...” suaraku tertahan oleh jeritan, kurasakan cairan kental menyemprot deras dari lubang kontolku disertai denyutan-denyutan kecil yang luar biasa nikmatnya. Kuperas semuanya hingga tidak ada yang tersisa sedikitpun, kupindah semuanya ke lubang kelamin bu Nurdin. Ehm, aku lemas, tapi sangat puas. Tubuhku jadi terasa ringan dan nyaman. Rasanya puluhan kali lebih nikmat daripada onani sendiri di kamar mandi!
Setelah itu aku tak berkata apa-apa, kucabut kontolku dan segera memakai pakaian kembali. Begitu juga dengan bu Nurdin, ia juga hanya diam. Setelah mengucapkan terima kasih, aku kemudian pergi meninggalkannya. Bu Nurdin membalas pamitku dengan tersenyum penuh arti.
Di dapur, aku bertemu dengan mbak Nurmala. Dia masih sibuk memasak. ”Gimana, ketemu nggak jaketnya?” tanyanya tanpa menoleh.
”Nggak, mbak. Nanti aku tanyakan Baim saja.” aku terus ngeloyor keluar sambil bertanya-tanya dalam hati; setelah bu Nurdin, bisa nggak ya aku meniduri mbak Nurmala?

***

Setelah kejadian itu, aku sedikit malu bila bertemu dengan bu Nurdin, walau bu Nurdin sepertinya bersikap biasa-biasa saja. Sampai kira-kira seminggu kemudian, kami berpapasan di kamar mandi saat dia baru selesai mandi. Tubuh mulusnya cuma dibalut handuk pendek sebatas pinggang. Sementara payudaranya yang besar hanya ditutup beha putih tipis.
”Kok sepi, Bu, pada nggak ada ya?” kataku basa-basi.
”Iya, Baim lagi ngantar Nurmala ke Puskesmas untuk imunisasi bayinya.” kata bu Nurdin.
Aku terus melihatnya. Terpesona oleh kesintalan tubuhnya.
“Kenapa kamu melihat ibu seperti itu?” kata bu Nurdin genit.
”Nggak, Bu. Cuma teringat yang kemarin.” kataku.
”Ingat kenapa?” tanyanya lagi, semakin menggoda.
”Ehm, ibu enak nggak?” kataku malu-malu.
”Enak dong, habis sudah lama nggak main seperti itu. Kamu tahu sendiri kan Pak Nurdin sudah jarang banget pulang.” memang, sejak diterima kerja di luar pulau, Pak Nurdin jadi jarang sekali pulang. Sebulan sekali juga sudah bagus. Ini malah hampir tiga bulan tidak pulang. Hmm, pantas istrinya jadi sange seperti itu. Aku kalau tiga bulan nggak onani pasti juga seperti itu, bakal sange dan nafsu sekali!!
”Ehm... ibu nggak pengen lagi?” tanyaku nekad.
”Kenapa, kamu mau lagi?” jawabnya, tidak terlihat marah sama sekali. Malah yang kulihat senyumnya menjadi semakin lebar.
Aku mengangguk. ”K-kalau ibu nggak keberatan sih.”
”Kenapa juga mesti keberatan. Ayo deh, mumpung rumah lagi sepi.” dia menggandeng tanganku dan mengajak masuk ke dalam rumah.
Akhirnya, pagi itu, aku masuk lagi ke kamarnya. Bu Nurdin langsung berbaring telentang di kasur sambil membuka lilitan handuknya. Dia telanjang. Bisa kulihat memeknya yang tembem dengan jembut lebat tumbuh subur di sekitarnya. Benda itu masih basah dan terasa dingin saat kusenntuh. ”Ayo cepat, nanti keburu Baim dan Nurmala pulang.” kata bu Nurdin sambil perlahan menarik turun celana boxerku. Kontolku yang sudah tegang pun langsung meloncat keluar. Dan bu Nurdin dengan sigap menangkapnya, lalu mulai mengocoknya maju mundur begitu cepat.
”Ehmm... Bu!!” merintih keenakan, kubalas perbuatannya dengan mempermainkan lubang vaginanya menggunakan jariku. Kami sama-sama saling memasturbasi sampai akhirnya bu Nurdin memintaku untuk melakukannya.
Sementara aku bersiap-siap, bu Nurdin melepas behanya hingga kami sama-sama telanjang sekarang. Berpegangan pada tonjolan buah dadanya, aku pun mulai mendekatkan ujung kontolku ke belahan vaginanya, kemudian kumasukan pelan-pelan dengan bimbingan tangannya. ”Hegghm...” rintih kami berbarengan saat penisku kembali menembus hingga terbenam seluruhnya.
”Goyang, Rid.” perintah bu Nurdin sambil mulutnya melumat mesra bibirku.
Kembali aku mengenjot wanita paro baya itu. Kugerakkan kontolku maju-mundur di lorong vaginanya sambil tak lupa kuremas-remas tonjolan buah dadanya yang terasa hangat dan kenyal. Dan seperti yang pertama, aku juga tidak tahan lama. Tak sampai lima menit, aku sudah keluar. Air maniku kembali muncrat di dalam ruang kenikmatan wanita tua itu. Tapi bedanya, kali ini bu Nurdin membalas dengan ikut menyemprotkan cairannya. Aku sedikit kaget saat menerimanya. Tapi lenguhan dan rintihan bu Nurdin yang sepertinya begitu nikmat membuatku mengurungkan niat untuk mencabut penis. Kubiarkan alat kelamin kami tetap bertaut erat sampai semprotan-semprotan itu mereda.
”Trims ya, Rid.” bisik bu Nurdin sambil mencium mesra bibirku.
Kubalas dengan melumat puting payudaranya dan menggerakkan kembali penisku yang perlahan kembali menegang, bersiap untuk memasuki ronde kedua.

***

Setelah persetubuhan tiga ronde di pagi hari itu, kami jadi makin sering mengulanginya. Terutama jika rumah lagi sepi, baik rumahku maupun rumah bu Nurdin. Kenikmatan yang kudapatkan membuatku jadi sedikit ketagihan. Begitu juga dengan bu Nurdin, ia puas dengan pelayananku, padahal usiaku saat itu belum genap 14 tahun, seusia dengan putra bungsunya, tapi bu Nurdin seakan tak peduli. Ia terus memancing dan memanfaatkan gairah mudaku untuk melampiaskan nafsunya.
Setelah kira-kira dua bulan kebersamaan kami, tak kusangka kenikmatan lain dapat aku reguk. Hari itu aku pulang agak cepat. Sekitar jam sebelas, aku sudah sampai rumah. Baim masih belum pulang, katanya mau mampir dulu ke perpus untuk pinjam buku. Aku sebenarnya ingin menemui bu Nurdin, dua hari tidak ketemu membuatku kangen untuk menidurinya.
Tanpa repot berganti pakaian, aku pergi ke rumah Baim. Saat masuk lewat pintu belakang, kulihat mbak Nurmala sedang asyik menyusui bayinya di ruang tengah. Ia berbaring di depan tivi dengan tetek sebelah kiri terburai keluar, kelihatan bulat dan mulus sekali. Putingnya dikenyot si bayi, tapi aerolanya yang coklat kemerahan bisa kulihat dengan jelas. Seperti biasa, aku pun segera mendekat dan menontonnya.
”Baim mana, mbak?” aku bertanya untuk basa-basi.
”Belum pulang tuh,” jawab mbak Nurmala sambil tersenyum ke arahku. ”Kalian nggak bareng?”
”Ehm, mungkin dia masih di perpus. Katanya tadi mau kesana dulu.” aku duduk di sebelahnya. ”Kalau ibu?” aku menanyakan keberadaan bu Nurdin, tumben aku tidak melihatnya, padahal biasanya dia selalu berada di rumah.
”Oh ibu lagi sambang ke saudaranya, ada apa?” tanya mbak Nurmala agak sedikit curiga.
”Enggak. Nggak apa-apa.” jawabku cepat. “Mas Dirman sudah berapa hari pergi, mbak? Perasaan sudah lama.” tanyaku untuk mengalihkan pembicaraan. Mas Dirman adalah nama suami mbak Nurmala, kerja sebagai sopir bus, jadi jarang pulang.
”Sudah hampir seminggu.” sahut mbak Nurmala.
”Mas Dirman jadi jarang pulang ya, mbak?” kataku.
Mbak Nurmala mengangguk. Memang akhir-akhir ini kuperhatikan mas Dirman jarang ada di rumah. Biasanya dia tiga hari sekali pulang, tapi sekarang jadi seminggu atau dua minggu sekali. Menurut rumor yang beredar, mas Dirman punya istri lagi di kota lain. Aku sebenarnya basa-basi mengajak mbak Nurmala ngobrol, tujuan utamaku adalah bisa memperhatikan buah dadanya yang besar dan putih mulus itu, yang asyik dikenyot oleh bayinya, hingga memberiku pemandangan luar biasa yang bisa sedikit membangkitkan gairah.
Mbak Nurmala yang menyadari apa yang aku lakukan, menegur menggoda. ”Ngapain lihat-lihat, mau netek juga?” katanya sambil tersenyum. Dia sudah biasa melontarkan pertanyaan seperti kepadaku saat aku menemaninya menyusui, dan aku biasa menjawab dengan gelengan kepala dan senyum lebar.
Tapi tidak kali ini. Birahi yang bergejolak membuatku mengangguk cepat, dengan tetap tersenyum lebar tentunya. “Iya, mbak. Jadi penasaran gimana rasanya. Itu si Dimas kelihatannya enak banget.” kutunjuk bayi di pelukan mbak Nurmala yang kini sudah tertidur.
”Ah, kamu itu.” mbak Nurmala tersenyum, tapi tidak marah dengan jawabanku. Sesaat dia mencabut putingnya, tapi tidak langsung memasukkan kembali ke dalam beha. Malah yang ada, dia membiarkan menggantung keluar, seperti sengaja memamerkannya kepadaku. Tidak berkedip, kuperhatikan tonjolan putingnya yang sebesar jari kelingking, kelihatan basah dan memerah sisa air liur Dimas. Ingin aku langsung memegang dan mencucupnya, tapi tidak berani.
“Jangan dilihatin terus ah, jadi malu.” kata mbak Nurmala genit. Dia sengaja meremas-remasnya sebentar sebelum memasukannya kembali ke dalam beha.
”Besar sekali, mbak. Bulat lagi, tidak seperti punya...” aku berkomentar, hampir kelepasan omong membandingkannya dengan milik bu Nurdin.
”Punya siapa?” kejar mbak Nurmala, sedikit penasaran.
”Ehm, punya ibuku.” aku berbohong.
”Kamu sering lihat punya ibumu?” tanyanya.
”Iya,” aku mengangguk. ”Tapi punya mbak lebih menarik... coba aku diijinin pegang.” kataku malu-malu.
“Kenapa, kamu mau?” tanya mbak Nurmala.
Aku mengangguk.
”Jangan ah, nanti kamu bilang ibu kamu lagi.” katanya ragu.
”Nggak bakal, mbak. Sumpah!” kataku untuk meyakinkan.
Mbak Nurmala tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya dia melambaikan tangannya, menyuruhku untuk mendekat. ”Janji ya, jangan bilang siapa-siapa!” bisiknya sambil kembali membuka kancing depan bajunya setelah tadi ia tutup.
”Iya, mbak. Janji!” aku mengangguk mantab, tidak sabar.
Perlahan mbak Nurmala menarik keluar tonjolan buah dadanya yang sebelah kiri, dan memberikannya kepadaku. Sekali lagi, tak berkedip aku menatapnya. ”Ayo pegang, nggak apa-apa kok.” katanya.
Perlahan aku menyentuhnya, menekannya dengan ujung jari. Terasa empuk dan kenyal. Putingnya yang menonjol kemerehan kugeser-geser ke atas dan ke bawah. Dari satu jari, aku tambah menjadi dua jari. Kujepit puting itu dan kupilin-kupilin dengan ringan. Rasanya sungguh mengasyikkan. Bulatannya yang tidak nampak kendor sama sekali, kini sudah kutangkup dengan telapak tanganku dan kuremas-remas gemas. Benda itu jadi mencong kesana-kemari saat aku melakukannya.
“Mau netek juga nggak?” tawar mbak Nurmala dengan suara sedikit berat. Aku pun mengangguk cepat. ”Di dalam aja yuk?!” katanya mengajakku pindah ke kamarnya.
Beriringan kami berjalan menuju kamar belakang. Mbak Nurmala menggendong bayinya dengan tetek masih tetap menggantung keluar, sedang aku mengikutinya dari samping sambil meliriknya malu-malu, memperhatikan saat teteknya bergoyang-goyang setiap kali ia melangkahkan kaki. Ughh... sungguh indah sekali.
Di dalam, setelah menaruh bayinya dalam boks, mbak Nurmala kemudian berbaring. Aku pun menyusul berbaring di sisinya. Kupandangi tonjolan buah dadanya yang kini berada tepat di depanku, hanya berjarak satu centi dari mulutku. Bisa kulihat semburat urat kehijauan yang menyebar merata di sekujur bulatannya yang bulat besar.
”Ayo, Rid, nunggu apa lagi?” mbak Nurmala memegangi teteknya dan mengarahkannya ke mulutku. Pelan aku pun mencaplok putingnya dan mulai menghisap-hisapnya perlahan, persis seperti yang dilakukan Dimas tadi. Rasanya begitu mengasyikkan, puting mbak Nurmala yang mengganjal ketat di lidahku terasa begitu kenyal dan keras. Semakin kuhisap, semakin benda itu menjadi kaku dan liat. Kulihat sesekali mata mbak Nurmala terpejam saat aku melakukannya. Bahkan tak lama kemudian kurasakan tangannya mulai menyentuh kemaluanku.
”Lho, Rid. Ini apa? Kok jadi bangun begini?” tanyanya pura-pura. Sebelum aku sempat menjawab -karena mulutku penuh oleh payudaranya- mbak Nurmala sudah keburu ngomong, ”Mbak buka ya, penasaran pengen lihat.” katanya, dan tanpa menunggu persetujuanku, sudah membuka resleting celana sekolahku. Dia tersenyum saat melihat kontolku muncul dan mengintip malu-malu dari celahnya.
”Celananya buka aja ya?” katanya lagi. Dan seperti tadi, aku hanya bisa diam. Aku masih terlalu terpana oleh peristiwa ini. Kubiarkan dia memelorotkan celanaku hingga ke mata kaki, lalu menarik dan melemparnya entah kemana, aku tak peduli.
Kini aku sudah setengah telanjang, kontolku yang mengacung tegak sudah berada dalam genggaman mbak Nurmala. Dia mengocoknya naik turun pelan-pelan sambil berusaha mencopot celananya sendiri. Setelah sama-sama terbuka, ia kemudian berbisik. ”Mau yang enak nggak?”
Aku mengangguk. Aku tahu apa yang ia inginkan. Aku sudah sering melakukan ini bersama bu Nurdin, dan sekarang aku akan melakukannya dengan mbak Nurmala, wanita yang lebih muda dan lebih bergairah, pasti akan luar biasa sekali nikmatnya.
”Sini, Rid.” Kulihat mbak Nurmala membuka kakinya dan memamerkan memeknya yang sudah basah kepadaku. ”Naik ke tubuh mbak.” bisiknya, mengira aku belum tahu caranya bersetubuh.
Menuruti kemauannya, perlahan aku mulai naik ke atas tubuh sintalnya. Kugesekkan ujung kontolku ke bibir vaginanya, tapi sengaja tidak kudorong, cuma kutempelkan saja. ”Terus gimana, mbak?” tanyaku pura-pura tolol dengan mulut kembali netek di putingnya. Payudara yang sebelah kanan juga kutarik keluar hingga bukit kembar kini menjadi mainanku.
”Kamu nurut aja apa kataku,” mbak Nurmala kemudian memegangi kontolku dan mengarahkannya tepat ke lubang memeknya. ”Tekan, Rid!” katanya saat ujung penisku sudah menusuk belahannya hingga terkuak sebagian.
Pelan tapi pasti, aku mendorong. Tidak seperti punya bu Nurdin, punya mbak Nurmala masih terasa sedikit seret. Aku agak kesulitan melakukannya. Tapi aku tetap tidak berputus asa. Apalagi mbak Nurmala membantu dengan menggoyangkan pinggulnya, mengejar batang penisku, hingga perlahan-lahan mulai melesak masuk dan akhirnya makin lama makin terbenam lebih dalam. Rasanya lebih enak dari punya bu Nurdin, memek mbak Nurmala lebih ketat dan menggigit. Juga terus berkedut-kedut kencang sepanjang aku menyetubuhinya.
Sambil meremas dan menghisap-hisap putingnya, aku mulai memaju-mundurkan kontolku mengikuti gerakan tangan mbak Nurmala yang memegangi pinggangku, terus membimbingku dengan sabar dan telaten. ”Iya, gitu. Pelan-pelan aja, Rid. Mbak ngerasa enak. Oughhh!” lenguhnya.
”Iya, mbak. Aku juga enak.” bisikku dengan nafas tersengal-sengal. Kembali kukulum putingnya dan kuhisap-hisap dengan penuh nafsu. ASI-nya yang mengalir kutelan semua hingga tuntas.
”Kamu kuat banget, Rid.” bisiknya mengomentari staminaku yang masih tetap terjaga. Saat itu, sudah hampir lima menit aku menggeluti tubuhnya.
Haduh, saking nikmatnya, aku sampai lupa. Seharusnya, di pengalaman pertama bercinta, aku tidak boleh sekuat sekarang. Aku harus sudah keluar di beberapa kali goyangan awal, seperti saat aku melakukannya dengan bu Nurdin dulu. Tapi yang ada, aku malah menyetubuhinya seperti oarang yang sudah berpengalaman. Gawat kalau mbak Nurmala sampai curiga.
Jadi, untuk mempertahankan sandiwaraku, segera kunaikkan tempo agar spermaku cepat menyembur keluar. Kutusukkan penisku lebih dalam dan lebih kencang sambil kuremas-remas terus bulatan payudaranya. Sebentar saja, aku sudah tidak tahan. “Mbak, aku mau keluar nih.” kataku di telinganya.
”Nggak apa-apa, keluarin aja di dalam.” sahut mbak Nurmala dengan mata merem melek keenakan.
Sesaat kemudian, sambil memeluk tubuhnya, akupun mengejang. Kubenamkan kontolku dalam-dalam ke liang vagina mbak Nurmala dan kusemburkan seluruh spermaku ke mulut rahimnya. “Mbak, enak banget, mbak. Oughhhh... nanti mau lagi ya?” bisikku, kukecupi pipinya dengan mesra.
”Iya, tapi ingat pesan mbak; jangan sampai siapapun tahu ya!” katanya, dan membalas ciumanku dengan melumat bibirku ringan.
Aku mengangguk. ”Pasti, mbak.” kutarik penisku dan berbaring di sisinya. Kumainkan kembali tonjolan payudaranya saat kami berbaring diam mengatur nafas.
”Mbak kesepian ya?” tanyaku kemudian, sok tahu.
”Iya, mbak sudah lama nggak gituan sama bang Dirman. Untung ada kamu, sekarang hati mbak jadi sedikit tenang.” katanya.
”Begitu ya, mbak?” sahutku pura-pura baru mengerti. ”Berarti ibu lebih kasian lagi dong, kan sudah lama pak Nurdin nggak pulang.”
“Memang, ibu jadi suka ngelamun sekarang.” saat itulah, mbak Nurmala seperti tersadar. ”Hei, kamu mau gituin ibu juga?!”
”Kalau ibu mau, boleh juga. Kan kasian.” kataku sambil nyengir.
“Ih dasar. Awas ya kalau kamu sampai gituan sama ibu.” sahut mbak Nurmala sambil memencet hidungku, tak tahu kalau sebenarnya aku sudah melakukannya dari dulu.
”Emang kenapa, mbak?” kubalas dengan memilin putingnya, membuat kakak Baim itu merintih dan memeluk tubuhku.
”Kan sudah ada aku, masa masih kurang?” mbak Nurmala memegangi batang penisku yang kembali menegang dan mengarahkannya menyelip ke lubang memeknya yang sempit. Sebelum aku sempat menjawab, ia sudah menindih tubuhku. ”Lakukan lagi, Rid. Mbak masih pengen.” bisiknya.
Jadilah siang itu, aku kembali menghantamkan kontolku ke belahan memeknya. Terhitung tiga kali aku ejakulasi di atas tubuhnya. Dua di dalam memek, satu di atas payudara saat mbak Nurmala menjepit batang kontolku dengan buah dadanya dan mengocoknya naik turun. Ughh, nikmat sekali rasanya. Aku begitu puas, begitu juga dengan dia. Kami begitu menikmati permainan ini.
loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pertukaran yang Adil "

Post a Comment