Memuaskan Obsesi

Memang, sudah lama Dudit putus sama Bella, tapi dia masih belum bisa melupakan gadis cantik itu, padahal kini dia sudah punya pacar baru: si Citra, yang tak kalah semok dan bahenol. Entah kenapa bayangan Bella seperti tak mau hilang hingga menimbulkan iseng di hati Dudit untuk mendatangi si cantik yang sekarang berstatus mantan itu. Aneh, tapi nyata. Tapi ini sungguh-sungguh terjadi. Serasa ini sudah jadi semacam obsesi bagi Dudit.

Sepanjang mereka bersama. Walau resminya pacaran, Bella selalu berkata 'tidak', 'tidak', dan 'tidak' pada Dudit. Padahal hanya minta cium doang. Beneran itu bikin penasaran. Sekarang setelah putus, adakah rasa kehilangan itu?

Kalau Bella kehilangan, mungkin justru setelah putus begini, dia malah 'ya', 'ya', 'ya'. Yah. Siapa tahu? Namanya juga iseng-iseng berhadiah. Pelan Dudit melangkah menyambangi rumah si mantan. Saat mendekati pintu rumah Bella, dada Dudit bergetar. Rasa itu masih ada. Dia mengingat segala kenangan indah bersama si cantik. Kenangan menggemaskan sih sebenernya. Abis gimana? Dia ditolak melulu.



Ah, tapi.. semua jadi terasa seru. Ditolak melamar kerja, itu pasti capek. Tapi kalo sama orang cantik, ditolak juga serasa.. merinding aja bawaannya. Begitu Bella membuka pintu, serrr... dada Dudit bergetar. Dibanding Citra, paras Bella memang lebih cantik, meski bodinya agak kalah setingkat. Namun tidak mengapa, yang penting bisa merasakannya.

Akan tetapi, begitu melihat Dudit yang datang, Bella langsung memasang tampang juteknya. "Eh, Mas, kalo sepi begini, Mas jangan ke sini, ah!" Bella kelimpungan.

Dudit yang pada mulanya tidak banyak berharap, jadi semakin tak bersemangat. Yah, gimana mau berharap? Selagi resmi masih pacaran saja, memegang tangannya aja susah. Sekarang sudah dalam status putus, apa lagi yang mau diharap?

Tapi Dudit tetap nekat masuk, Bella terpaksa menerimanya. Namun saat diajak ngobrol, nada suara Bella terus saja meninggi, hingga... lama-lama Dudit sadar; suasana rumah begitu sepi, jadi kalau misal dia memaksa, paling Bella juga tidak bisa apa-apa. Menatap si cantik yang bertubuh semampai itu, 166 senti, dan bagian belakangnya bulat indah, hasrat Dudit pun meliar. Apalagi saat melihat kancing-kancing baju Bella, resletingnya, juga kainnya yang feminin, keliaran hasrat tak jelas itu semakin bablas tak terkendali.
"Bella, kamu tuh ngegemesin, ya.." Dudit mulai merayu.
"Gombal!" Bella mendengus jijik.
"Nggak usah galak, deh. Kalo aku memaksa, kamu mau apa, coba?" ancam Dudit.
"Idih. Ya jangan main paksa, dong!" tampik Bella sengit.
Dudit menilai situasi. Warga sekompleks sekarang sedang kumpul di lapangan untuk perayaan tahun baruan. Termasuk oom dan tante Bella. Pembantunya juga di sana. Bella di rumah, sendirian, karena dia sedang flu. Bisa nih kayaknya. Dudit gemetar sendiri oleh apa yang dia khayalkan.
Sejenak kemudian Bella panik. Dia sadar, kalau Dudit nekat, dia bisa apa? Dan di pihak lain, Dudit terus merangsek. "Ayolah, Bella. Kamu tuh kayak ama siapa aja. Nggak apa dong aku sebagai mantan nengokin kamu. Kita kan masih saling sayang."
"Sayang apaan?!! Orang udah putus..." Bella memprotes.
"Ya sayang sebagai teman." Dudit tersenyum nyengir.
"Tapi ke sininya jangan pas sepi-sepi gini, dong!" kata Bella bersungut-sungut.
"Dari tadi kamu banyak banget kata jangan-nya ya?" Dudit mulai tak sabar.
"Biarin, ah. Udah sono, pulang." Bella mengusir secara terang-terangan.
"Nih, supaya kamu lebih seger, minumlah multi vitamin," Dudit sok baik. Dia angsurkan tube multivitaminnya. Kebetulan dia memang membawanya di ransel.
"Ah, Mas! Nggak mau, ah Mas! Nggak mauuu!!" Bella menggeleng.
Semakin Bella menolak, semakin Dudit gemas. Dirangkulnya tubuh sintal gadis itu, bahkan agak dipegang-pegang juga, dia meraba di sekitar dada Bella yang meski tidak begitu besar tapi terasa begitu padat.
“Jangan, Mas, aku nggak mau.” Bella meronta, tapi segera berhenti saat Dudit mencium bibirnya, menghisapnya rakus, dan menggoyangkan lidahnya di sana. Takut diapa-apain, Bella akhirnya mau juga dipaksa minum multivitamin.
"Iya, iya. Aku minum. Tapi kamu tangannya anteng, deh!" Bella pun memasukkan pil besar itu ke air, dan setelah melarut, dia meminumnya. Tidak tahu kalau obat itu berefek obat-perangsang.
Sementara itu, Dudit mesam-mesem di situ sambil memperhatikan wajah cantik Bella yang bening mulus. Biar bibir mungilnya selalu berkata tidak, tapi saat diremes dan dicium tadi nyatanya tidak keberatan. Jutek sih, tapi makin jutek kan justru makin nafsuin.
Bella sebenernya ingin segera mengusir Dudit pergi, tapi diputer-puter sana-sini, akhirnya lewat juga mereka mengobrol selama dua puluh menit. Ngomongin hal-hal paling nggak penting sedunia. Sejenak kemudian, efek multivitamin mulai bikin Bella kebat-kebit sendirian. Rasa jablay-nya pun muncul tanpa diundang.
"Udahlah, aku tahu kok kamu jablay. Kita kan pernah saling menyayangi," Dudit kembali mendesak.
"Hah! Kok tahu sih kalo ada perasaan jablay di dalam hatiku?" Bella melunak.
"Kelihatan dari sorot mata kamu. Yang bening. Cantik." Dudit mesam-mesem, tangannya sudah gatel pengen merengkuh badan Bella kembali.
"Biasa aja deh," Bella tidak lagi menggunakan kata negatif.
Maka Dudit segera memeluknya. Bella masih risih, tapi penolakannya sudah tidak sekeras tadi. Pertama, mungkin efek dari obat perangsang itu. Kedua, flu-nya tidak bisa diajak kompromi, bikin dia jadi males ngapa-ngapain.
"Mas.. tolong deh. Udah ah... Mas kan udah jadian ama si Citra." Cuma begitu saja Bella menolak rengkuhan Dudit.
"Ssst. Kalo lagi berdua, jangan nyebut-nyebut yang lain dong, mantanku sayang." Dudit mengeratkan pegangannya. Lalu dia semakin menjadi dengan main rogoh sembarangan.
Bella langsung panik saat Dudit mulai mengelus bongkahan payudaranya! Tahu kalau adu tenaga akan kalah, dia yang terdesak segera menawar. "Jangan, Mas! Kalo kita resmi, Mas mau apa aja baru aku layani," bujuknya sambil celingukan mencari bantuan.
Olala, tapi akan datang tepat waktukah bantuan itu?
Kletek! Tahu-tahu terdengar ada yang membuka pintu pagar. Rupanya oom si Bella pulang. Dudit pun langsung menahan diri. Tangannya yang semula sudah hiking ke daerah berhawa sejuk, segera ia tarik kembali ke markasnya. Bella juga buru-buru membenahi bajunya yang sedikit awut-awutan.
"Eh, kamu ngapain di sini?!!" si oom menegur begitu membuka pintu depan.
"Eh, itu oom, anu. Menengok Bella. Katanya sakit," Dudit gugup.
"Sakit apa? Orang cuma flu ringan biasa, kok," kata si oom.
"Iya, Oom. Ternyata ringan." Dudit nyengir.
"Ya udah. Jangan lama-lama. Katanya kalian udah putus?" si oom mengintimidasi.
"Iyalah, Oom. Saya pamit pulang dulu," Dudit pun pergi dengan hati dongkol.
Bella lega sejenak saat melihat Dudit menghilang. Dari tadi, memang itulah yang dia harapkan, ada seseorang yang mengusir mantan tak tahu diri itu. Ganteng enggak, tajir apalagi. Ngapain juga udah putus masih nengok-nengok ke sini? Ups, tapi kelegaan Bella ternyata cuma sejenak saja.
"Kamu tuh sakit-sakit kok penampilannya seksi banget," tiba-tiba oomnya nyeletuk begitu.
"Hah?" Bella bengong. Selama ini, si oom memang sering memuji-muji kecantikannya kalau si tante tidak ada. Tapi, biasanya, Bella tidak pernah berduaan di rumah hanya dengan oomnya saja. Waduh, kalo si oom juga nekat gimana, nih? Bella mulai mikir. Andai tidak menikah dengan tantenya, si oom ini kan orang lain seratus persen?
"Baju kamu kok lecek berantakan gitu? Habis diapain aja tuh kamu sama si Dudit?" si oom menegur lagi.
"Hah?" Bella makin speechless. Ini maksudnya menegur sebagai saudara tua, atau menggoda, nih?
"Ditanya kok diem aja!" si oom kali ini merengkuh Bella terang-terangan.
"Eh, jangan, oom!!" Bella menjerit.
"Jangan gimana?! Selama ini aku udah sering ngintipin kamu mandi ta'uk! Semua detil milik kamu udah aku hafal bentuknya! Tinggal megang aja yang belum pernah," begitu kata si oom sambil nekat menerkam.
"Aiiih!!! Toloong!!!" Bella makin melolong.
Dia pikir, Dudit itu ganas, dan oomnya orang yang baik. Gak tahunya, hari ini lelaki itu menampakkan sifat aslinya. Serigala berbulu domba. Gak cuma jentikan jemari, dia langsung saja mengganas. Dia memulai aksinya dengan mengelus toked mulus Bella.
"Toked kamu imut tapi ngacengin, Bel." si Oom meremas pelan, puting Bella digesek-geseknya dari luar kaos sehingga bentar saja benda mungil itu sudah mengeras tajam. "Pentil kamu juga imut, jarang diemut ya, Bel?" Dia terus meremas kedua toked Bella secara bergantian.
"Oom... uhh," lenguh Bella dengan nafsu mulai naik. Selain karena efek obat perangsang, juga karena diremes-remes terus sama si oom. Kemudian lelaki itu mencium bibirnya dengan lembut. Bella mencoba untuk menggeleng, namun  bibirnya malah menyambut ciuman itu.
Si oom menjorokkan lidahnya ke dalam, membelit lidah Bella, mengemut serta menghisap-hisapnya rakus, sementara remasan di toked Bella menjadi semakin ganas. Tangannya kini menyusup ke dalam kaos Bella dan langsung memelintir-lintir puting Bella hingga membuat gadis cantik itu menggelinjang kegelian.
"Oom, uuh..." Bella merintih. Cukup lama mereka terus berciuman sembari si oom terus meremas-remas. Bella tanpa sadar mulai agresif ikut meremes selangkangan laki-laki itu, terasa kontol oom-nya yang sudah gede dan keras di balik celana panjang.
"Tanganmu udah ahli gitu ngeremesnya, tau gini udah dari dulu om minta sama kamu," kata si oom sambil mencium bibir Bella lagi. "Bajumu dilepas ya?" Dia menarik kaos Bella ke atas tanpa perlu diminta. Dan nyatanya Bella malah mengangkat tangannya ke atas sehingga sebentar saja, ia sudah duduk bertelanjang dada.
"Toked kamu napsuin banget, Bel, imut gini. Pentilnya imut juga, udah keras. Kamu nafsu ya, Bel?" tanya si oom sambil mulai mengemut puting susu Bella, dia melakukannya seraya meremas toked Bella yang satunya lagi. Dicubitnya puting mungil yang ada di sana sambil sesekali memilin-milinnya halus. Sementara itu lidahnya menjilat-jilat lincah di atas pentil yang satunya.
Memek Bella langsung basah, apalagi ketika tangan nakal si oom mulai meremas-remas selangkangan itu. "Bel, udah basah gini, sampe ngerembes ke celana kamu. Dilepas aja ya?" Tanpa menunggu persetujuan Bella, lekas dia menarik celana dalam tipis itu ke bawah.
Bella tanpa membantah mengangkat pantatnya sehingga dengan mudah kain segitiga itu dilolosi dari tempatnya semula. Obat perangsang dari Dudit benar-benar membuat gadis itu tak dapat berpikir jernih, sekarang yang ada di otaknya hanya bagaimana bisa mendapat kepuasan dari suami tantenya ini.
"Waduh.. udah tokednya nafsuin, memek kamu lebih nafsuin lagi, Bel. Sempit, jarang ditusuk ya sama pacar kamu?” laki-laki itu mengelus jembut Bella yang lumayan lebat. "Kalo lebat gini pasti nafsunya gede, iya kan, Bel? Kutebak kamu pasti nggak puas kalo maen cuman seronde."
Si oom mulai mengelus bibir memek Bella dengan jemarinya. Digigitnya juga puting Bella gemas saat jarinya menusuk-nusuk masuk. “Ahh.. suka, Bel, diginiin?"

Bella cuma mengangguk, "Apalagi kalo pake kontol om," jawabnya linglung. Tubuhnya mulai terangsang oleh sentuhan-sentuhan itu.
"Iya, bentar lagi deh. Sekarang oom maenin dulu biar kamu jadi nafsu banget, baru setelah itu oom masukin.” Si oom yang senang melihat reaksi Bella, segera membuka kedua paha gadis itu.
Bella merinding geli ketika merasakan hembusan nafas hangat di sela-sela bulu jembutnya, berikutnya ia memekik manakala lidah si oom mulai menyapu bibir memeknya secara tiba-tiba. Laki-laki itu menjilati belahannya yang sempit, namun kini sudah nampak basah oleh cairan pelumas, begitu juga dengan itil Bella yang kecil mungil, yang beberapa kali digigit-gigit rakus hingga membuat nafas Bella terasa semakin berat dan memburu kencang.
“Ahh... oom!!” Bella merintih nikmat ketika si oom menghisap memeknya dan menelan lendir bening yang keluar dari situ. Setelah menghisap, dia menjilat lagi dan lendir itu pun mengalir semakin deras, seperti tiada habis-habisnya. Apalagi saat si oom mememasukkan jari tengahnya ke dalam memek Bella yang sudah makin terasa basah dan lengket, lalu mulai menggerakkannya pelan keluar-masuk, mengocok-ngocoknya ringan.
“Aihh... auw!!” Bella menjerit sambil membuka pahanya lebih lebar lagi agar si oom lebih mudah dalam menjilat sambil menusuk-nusukkan jari ke lubang memeknya. “Oohh...” dia menggigit bibir agar tidak merintih terlalu keras ketika si oom menggunakan lendirnya untuk mengolesi lubang pantat Bella yang sebelumnya dia jilat terlebih dahulu.
Setelah merasa cukup basah, segera saja dia memasukkan jari tengah tangan kanannya ke dalam lubang pantat itu bersamaan dengan jari tengah tangan kirinya menusuk masuk ke dalam memek Bella. Gadis itu tentu saja langsung menjerit kencang, “Ahh... oughh.. Oom!” rintihnya, antara sakit dan nikmat.
Si Oom mulai menggerakkan tangannya maju mundur, dia menusuk-nusuk kedua lubang Bella secara bersama-sama. Tusukan pada lubang pantat terasa begitu nikmat, apalagi tusukan pada memek, karena kadang-kadang jempol si oom ikut aktif memijat-mijat itil Bella di kala dia menggerakkan jari.
"Ah, oom... udah. Bella udah pengen ngerasain kontol oom keluar masuk di memek Bella." Gadis itu merintih sambil menutup mata, napasnya mulai terasa berat.
Kini si oom sudah sudah bugil dan kontolnya yang lumayan besar sudah diacungkan ke dekat memeknya. "Gede banget kontol oom," lirih Bella takjub.
"Gede mana sama punya pacar kamu?” tanya lelaki itu.
"Gede punya om, dong! Panjang lagi," Bella menyanjung, padahal sih sama saja ukurannya; baik tebal maupun panjangnya. "Ayo, oom. Bella udah pengen ngerasain memek Bella diaduk sama kontol gede ini," pintanya nakal, sudah tak ingat siapa dirinya dan siapa laki-laki yang tengah menindihnya sekarang. ini semua akibat obat perangsang dari Dudit.
Pelan si oom mendorong pantatnya hingga ujung palkonnya yang tumpul mulai merekahkan bibir memek Bella yang sudah basah kuyup. “Oooh... oom!” rintih gadis cantik itu.
Si oom menggesekannya ke atas dan ke bawah, trus ke atas lagi untuk menekan-nekan itil Bella yang sudah merah membara. "Oom, masukin dong! Bella udah nggak tahan pengen ngerasain kemasukan kontol gede kayak punya oom."
Lolongan itu begitu keras hingga Dudit yang masih wira-wiri di halaman depan, sanggup mendengarnya dengan begitu jelas. Pikiran pemuda itu cepat berputar. Sejak lama, dia sering membatin memang, "Apa si oom bisa kuat serumah sama Bella yang cantik itu?"
Selama ini, segala tanya-tanya itu tidak pernah terbukti, karena memang Bella menjaga diri tak pernah serumah berduaan dengan si oom. Lagi pula, tante Bella yang bernama Azra, juga amatlah jelita. Jadi, selama keinginannya sudah teredam oleh si tante, mestinya si oom bisa anteng-anteng saja.
Namun hari ini semuanya lain. Ternyata si oom tidak seanteng yang dikira, dan akibat obat perangsang juga membuat Bella jadi pasrah. Bukan pertolongan yang ia dapat, malah acara bopong-bopongan yang sekarang mereka lakukan. Mengetahui hal itu, langsung saja Dudit mengendap kembali masuk ke rumah. Saat dia mengintip, alamak! Ternyata Bella sudah ditunggangi oleh oomnya sendiri, suami tante Azra yang cantik jelita itu.
Memang dasarnya si oom sudah nakal. Dia sengaja menyelinap pergi dari acara tahun baruan buat menggoda keponakannya. Dasar lelaki. Sudah punya istri jelita, masih juga ingin bercengkrama dengan keponakan istri sendiri! Di luar, Dudit bingung. Bagaimana cara dia masuk? Pintunya dikunci!
Bella duduk selonjor dan pahanya sudah mengangkang lebar sekali, sementara si oom memegangi pahanya dan mulai menekan palkonnya masuk. Bella cuma bisa menggigit bibir sambil memejam mata. Si oom pun ngakak. "Ooh, wow! Sudah lama aku ingin ngerasain tubuhmu, Bella-ku sayang!"
Dudit yang diam-diam menonton pun jeri. Dia memang kembali, sangat dekat malah, tapi cuma bisa mematung seperti tugu monumen. Selama jadian dengan Bella, tidak banyak rahasia gadis itu yang diketahui oleh Dudit. Hari itu, Dudit tercengang melihat betapa indahnya ragawi Bella dalam keadaan tak berdaya seperti itu.
Walau hubungan mereka telah punah, rasanya tak rela batin Dudit saat melihat si oom menggasak mantannya yang cuma bisa pasrah tanpa suara. Ini semua juga salahnya sendiri, kalau saja Dudit tidak memberi obat perangsang, cerita pasti bakal jadi lain.
Tidak sampai lima menit. Dan manalah mungkin ada lelaki yang bisa nahan lebih dari lima menit bersama Bella pertama kalinya. Tapi bagi si oom, lima menit itu sudah merupakan pengalaman tak terlupakan yang benar-benar tuntas. Dudit dalam sembunyinya cuma bisa menahan iri, dan Bella yang terlena kini terdiam, langsung semaput.
"Merdekaa!!!" si oom meraung panjang saat tuntas merambah lubang hangat. Bella yang sudah tidak bergerak lagi, dia biarkan saja teronggok di sofa. Jahatnya si oom, dia langsung saja plencing, pergi kembali untuk bergabung di keramaian perayaan tahun baru. Bahkan pintu rumahnya sampai lupa tidak dikunci.
Dudit menyesali kedatangannya yang terlambat, namun dia tetap mengendap masuk. "Bella, Bella, kamu nggak apa-apa, Bella?" Stupid question. Sudah jelas dia habis dibejek-bejek, pake ditanya lagi.
Bella tidak menjawab. Dia masih semaput. Pelan-pelan Dudit mendekat, dan melotot. Dia pungut beha Bella yang teronggok. Dia ciumi, termasuk kain berendanya yang mungil kusut. Tak cukup puas, Dudit ganti beralih ke tubuh telanjang Bella yang masih terdiam pasrah. Dasar anak kadal. Orang teraniaya yang mestinya ditolong, malah dia inspeksi.
"Kalo si oom dapat enak, kenapa aku enggak?" pikiran nggak jelas itu merasuk ke jidat Dudit. Palagi saat melihat tetek Bella yang masih kencang, juga lubang surgawinya yang masih meneteskan cairan kental. Langsung saja dia pun mengambil ancang-ancang.
Wow! Skenario ini memang pas banget. Dia bisa dapat enak, tapi yang terkutuk bakalan si oom doang! batin Dudit dengan dengkul gemetar. Maka pelan dia bentangkan lagi jalan masuk ke area kewanitaan Bella, dan Dudit pun pasang kuda-kuda.
Namun tiba-tiba, "Berhenti!!" seru sebuah suara merdu. Tante Azra yang entah kapan datang, buru-buru merangsek masuk. “Apa yang kamu lakukan?” tanyanya sengit saat melihat dua makhluk berlainan jenis bertindihan bugil di sofa ruang tamu.
“Eh, t-tante... s-saya bisa menjelaskan, tante.” Dudit tergagap, dan buru-buru menarik kelaminnya yang sudah hampir masuk.
Tante Azra terpengarah. Namun bukannya memberi tempelengan, dia malah tersenyum pada Dudit sambil memandang pentungan di selangkangan pemuda itu penuh arti. “Hmm... gede juga punya kamu,” bisiknya sembari membasahi bibir.
Dudit terdiam bingung, berusaha menelaah situasi. “M-maaf, tante... s-saya...”
Namun ucapannya langsung dipotong, “Kamu baru kumaafkan kalau bisa membuatku KO tiga kali.” Dan sambil berkata begitu, si tante berjalan mendekat. Senyumnya semakin merekah, sementara tangannya dengan terampil mulai mencopoti baju yang melekat di tubuh sintalnya satu demi satu, hingga begitu tiba di depan Dudit, ia sudah sepenuhnya telanjang bulat layaknya bayi yang baru lahir.
Seperti kucing yang disuguhi ikan asin, Dudit pun ikut mesam-mesem. Mimpi apa dia semalam hingga bisa dapat rejeki seperti ini. Gagal meniduri Bella, kini malah bisa mencicipi bodi montok tante Azra yang sejak dulu sudah membuatnya cenat-cenut penasaran. Buah dada perempuan itu tampak membusung besar, kepadatan dan bentuknya yang masih membulat sempurna membuat toked Bella jadi tidak ada apa-apanya. Kedua buah dada itu bergelayutan dan bergoyang indah saat tante Azra memegang tangan Dudit dan meletakannya di atas puncak gundukan.
Ahh, rasanya begitu empuk, kenyal, dan halus sekali. Putingnya yang berwarna merah tua dan agak besar terasa sedikit mengeras. Karena sudah tak sabar, Dudit pun langsung memencet-mencetnya dengan kasar. Tante Azra tersenyum, “Pelan-pelan, Dit. Elus gini, perlahan-lahan. Kita punya banyak waktu kok,” bisiknya penuh pengertian.
Puting yang agak sensitif itu segera dielus Dudit dengan lebih perlahan, sambil tangan yang satunya mulai meraba-raba bagian tubuh tante Azra yang lain, yang berwarna putih bersih dan berkulit sangat halus. Telapak tangan Dudit bagai jadi panas membara saat menyentuhnya. Napas si tante memburu setiap kali Dudit menyentuh bagian-bagian tertentu, maka dengan cepat Dudit mempelajari tempat-tempat yang sekiranya disukai oleh tante Azra.
Tidak lama kemudian, “Cium, Dit. Jangan cuman diremes-remes aja,” pinta perempuan cantik itu sambil menyodorkan tonjolan buah dadanya.
Dudit pun mulai menghisap dan menjilat, puting tante Azra terasa mengeras di dalam mulutnya. Napas perempuan itu semakin menderu-deru, membuat buah dadanya turun-naik bergoyang-goyang dengan penuh irama. Dudit terus menjilat sampai seluruh buah dada tante Azra berkilatan oleh air liurnya. Benda yang aslinya sudah berukuran besar itu, kini nampak jadi lebih besar lagi.
“Oh, Dudit...” Wajah cantik tante Azra bercahaya penuh oleh gairah. Bibirnya yang merah merekah digigit seperti sedang menahan sakit, sementara kedua lututnya mulai melebar secara perlahan. Pahanya yang putih mulus seperti susu tampak terbuka menantang. Perempuan itu merintih sambil tak berhenti mengelus-elus tubuh Dudit yang sama-sama telanjang.
“Sekarang yang ini, Dit.” Dengan lembut ia menuntun kepala Dudit agar bergeser ke bawah, ke arah perutnya.
Semakin ke bawah ciuman Dudit, semakin terbuka kedua paha perempuan itu. Dudit mulai dapat melihat pangkal paha atas tante Azra yang sedikit berbulu hitam. Kontras dengan milik Bella yang lebat, jembut tante Azra nampak tercukur rapi, indah sekali. Dudit tak dapat melepaskan matanya dari pemandangan yang sangat mempesona itu.
Sambil tetap berdiri, tante Azra memamerkan pinggulnya yang montok, nampak serasi dengan kedua buah dadanya yang sekal. Pantatnya yang masih kelihatan padat, nampak mencuat menungging ke belakang. Indah sekali. Dudit sama sekali tidak menyangka, seorang wanita berumur seperti tante Azra dapat terlihat begitu merangsang dan menggiurkan. Dia sangat terpesona memandang wajah dan keindahan tubuh tante Azra yang bercahaya penuh oleh gairah.
“Kamu pastinya sudah pernah kan jilat memek?” tanya perempuan itu sambil merebahkan diri di sofa.
Mengangguk mengiyakan, Dudit mulai meraba-raba paha tante Azra yang putih mulus dan tak bernoda. Pertama-tama tangannya agak gemetar, tetapi melihat si tante sungguh-sungguh menikmati semua perbuatannya, maka ia semakin berani dan lancang. Inilah untuk pertama kalinya ia dapat menyaksikan memek tante Azra, yang pastinya diidam-idamkan oleh semua pria, dari jarak dekat.
Karena bulu-bulu di sekitar kemaluannya telah dicukur, maka membuat lekuk memek itu tampak jelas dari arah depan. Lipatan bibirnya rada tebal dan kehitam-hitaman, meliuk bertumpuk menutupi lubang vagina yang ternyata sudah basah dan berwarna merah muda kecoklatan. Tante Azra membuka selangkangannya lebar-lebar dan menyodorkan kewanitaannya kepada Dudit tanpa rasa malu sedikitpun
Dudit mendesah. Sembari berjongkok diantara kedua paha perempuan cantik itu, ia menjentikkan jari telunjuknya untuk mulai meraba. Rasanya sangat hangat, lengket, dan basah. Klitoris tante Azra semakin membesar ketika ia menyentuhnya. Aroma dari kewanitaan itu dengan segera memenuhi seluruh sudut ruangan. Dari dalam lubang memek si tante nampak cairan lengket berwarna putih kental perlahan-lahan mengalir keluar, melumuri semua permukaan lubang sempit itu.
“Aku jilat ya, tante?” Dudit menjulurkan lidah, tante Azra hanya mengangguk kecil dan tersenyum.
Perlahan Dudit mulai mencicipi, ia jilat lubang vagina si tante yang merah membara dengan begitu lembut. Cairan kental yang mengalir keluar dari dalam sana, ia tangkap dengan menggunakan lidahnya, lalu ia kembalikan cairan itu balik ke asalnya semula. Namun bukannya habis, cairan itu malah semakin deras mengalir. Rasanya yang rada-rada asin dan berbau sangat khas membuat Dudit ketagihan, ia dapat menjilatinya secara terus-menerus karena memang sangat menyukainya.
“Auwh... Dudit!!” tante Azra mendadak menjerit kecil, itu karena lidah Dudit yang tanpa sengaja menyentuh klitorisnya. Tahu kalau ternyata perempuan itu mengerang enak, Dudit pun meneruskan aksinya. Kini bukan hanya lubang memek si tante yang ia permainkan, namun biji klitorisnya juga ia jilat dan hisap-hisap rakus.
Tante Azra melengking. Pinggulnya diangkat naik tinggi, sementara tangannya tak berhenti meremas-remas buah dadanya sendiri. Napasnya sudah tidak beraturan, dan kepalanya terbanting ke kanan dan ke kiri. Pahanya kadang-kadang mengejang kuat, berputar dengan liar, hingga membuat kepala Dudit tergoncang keras oleh dorongan itu. Namun dia terpaksa tetap bertahan karena tangan tante Azra menjambak rambutnya, menekan kepala Dudit erat ke arah selangkangannya.
“Ahh... terus, Dudit! Yah begitu... ohh, kamu pintar!” Dari bibirnya yang mungil keluar desahan dan rintihan, seperti irama musik di telinga si pemuda.
Keringat tante Azra yang mulai keluar dari setiap pori-pori tubuhnya, membuat kulit perempuan itu tampak bergemilang di bawah cahaya lampu. Mata tante Azra sudah tak lagi memandang, melainkan menutup rapat sembari merintih kencang. Ia terus meminta pada Dudit untuk menyodok-nyodok liang senggamanya dengan begitu dalam dan kuat. Dengan senang hati Dudit mengabulkannya, meski harus membuat seluruh mukanya basah tertutup oleh cairan kental.
Di sebelah mereka, Bella masih tergeletak pingsan, sama sekali tak tahu kalau tantenya yang cantik jelita sedang berbuat nakal dengan sang mantan pacar. Berikutnya tante Azra meminta Dudit untuk berbalik. Kini gantian ia yang berlutut di hadapan si pemuda.
“Sini, tante pengen lihat lagi kontolmu yang gede itu.” kata perempuan itu sembari memperhatikan kemaluan Dudit dengan teliti. Senyum tidak pernah terlepas dari wajahnya yang cantik. Hati Dudit berdebar kencang saat merasakan sentuhan tangan tante Azra yang begitu halus dan hangat.
“Kamu rebahan aja,” ujar tante Azra membujuk, suaranya lembut dan menghanyutkan.
Dudit mulai terlena oleh elusan tangannya. Tante Azra ternyata sangat mahir memainkan kemaluan, setiap sentuhannya membuat kontol Dudit bergetar oleh kenikmatan. Ini jauh lebih enak dari sentuhan Citra, bahkan kulumannya juga kalah. Perempuan itu mengocok kemaluan Dudit, mengelusnya secara perlahan-lahan, sesekali menggenggamnya erat sambil membuka lebar-lebar kedua paha si pemuda agar dapat turut mengusapi biji pelir Dudit yang mulai panas membara.
Kontan kontol Dudit jadi tumbuh kencang sekali, benda itu berdiri tegak seenaknya dihadapan tante Azra yang cantik jelita. Perlahan perempuan yang masih belum beranak itu mendekatkan mukanya, seperti mempelajari. Terasa napasnya yang hangat berhembus di paha dan biji pelir Dudit. Hampir pemuda itu tidak percaya bahwa tante Azra yang dulu sering ia khayalkan, sekarang benar-benar sedang berjongkok diantara selangkangannya.
“Ahh... tante,” Tidak dapat menahan rasa geli dari godaan jari-jari lentik itu, pinggul Dudit jadi tidak bisa diam. Ia mulai mengikuti setiap irama kocokan tangan tante Azra yang licin dan berminyak. Belum pernah Dudit merasa seperti ini, semua kenikmatan duniawi seperti berpusat tepat di tengah-tengah selangkangannya, membuatnya tak tahan, hingga akhirnya ia pun menjerit keras.
“Kamu pasti sudah hampir keluar ya? Daripada nanti ngotorin karpet, lebih baik tante hisap aja ya?” Tanpa menunggu jawaban, perempuan itu segera mengeluarkan lidahnya untuk menjilat kepala kemaluan Dudit. Perlahan ia menyusupkan kontol Dudit yang panjang dan tebal ke dalam mulutnya.
“Tante!” Hampir saja Dudit melompat dari sofa karena saking kagetnya, ia tidak tahu harus berbuat apa kecuali menekan pantatnya keras-keras ketika tangan lentik tante Azra menyusup ke bawah pinggulnya dan mengangkat bokong Dudit perlahan ke atas.
Kini kemaluan Dudit terangkat tinggi seperti pasak bumi. Kembali lidah tante Azra menjilati ujungnya yang tumpul dengan begitu halus, sembari menghisap dalam-dalam batang panjang itu hingga bibir tipisnya yang merah merekah kelihatan begitu seksi saat menutupi seluruh kemaluan si pemuda. Mulut dan lidahnya terasa sangat hangat dan basah. Tante Azra mempermainkannya dengan sangat mahir, sambil matanya tetap memandang Dudit seperti ingin meyakinkan bahwa ini bukanlah mimpi.
“Ahh... tante!” Dudit mengerang manakala tangan tante Azra kembali menggenggam kedua biji pelirnya. Ia merasa geli setengah mati. Apalagi saat si tante mulai menghisap kedua biji itu secara bergantian, kiri dan kanan, bahkan sesekali juga menelannya langsung bersamaan, sambil diselingi dengan gigitan-gigitan kecil yang begitu lembut dan menggemaskan.
Dudit hanya dapat berpegangan erat ke sandaran sofa, sembari mencoba menahan rintihannya. Setiap sedotan tante Azra terasa seperti menarik nyawanya hingga terlepas, membuat napas Dudit tak dapat diatur lagi. Pinggul pemuda itu menegang, sementara kepalanya mulai pening akibat dari kenikmatan yang terkonsentrasi tepat diantara selangkangannya.
“Tante... a-aku...” Dudit menjerit ketika mendadak ia merasa kemaluannya seperti akan meledak. Karena takut dan panik, cepat ia tarik pinggulnya ke belakang.
Seperti mempunyai kehidupan sendiri, kemaluan Dudit langsung berdenyut dan menyembur deras, menyemprotkan cairan putih yang begitu lengket dan hangat, jatuh ke muka tante Azra yang cantik jelita, juga ke rambut perempuan itu yang panjang sebahu. Seluruh badan Dudit bergetar oleh kenikmatan. Ia tidak sanggup untuk menahan kejadian ini. Merasa telah berbuat kesalahan yang sangat fatal, Dudit pun lekas meminta maaf dengan napas masih tersengal-sengal.
”Tidak apa-apa kok, sudah biasa tante disembur di muka kayak gini,” sahut perempuan berkulit putih itu sambil tersenyum lebar. Lalu tanpa merasa jijik sedikit pun, ia menjilati semua sperma Dudit yang meleleh di ujung bibirnya, juga semua sisa-sisa cairan itu di wajah dan kemaluan Dudit hingga bersih.
“Rasanya sedap, Dit. Tante suka,” tambahnya sambil mencium kening Dudit dengan lembut.
Mereka berbaring telanjang berpelukan di sofa. Badan tante Azra yang berkeringat  terasa hangat saat memeluk tubuh kurus Dudit. Tangan perempuan itu tetap meraba dan menggenggam kemaluan Dudit yang perlahan mulai mengecil. Aroma dari yang baru saja mereka lakukan terasa memenuhi seluruh ruangan. Senyum tampak menghiasi wajah tante Azra yang terlihat lelah. Angin yang sejuk meniup dari jendela yang terbuka, mendinginkan hasrat Dudit yang masih melambung tinggi.
Tapi tampaknya ia harus menunda gairah itu karena di sebelah mereka, Bella mulai menggeliat bangun. Sebelum gadis itu sadar sepenuhnya, cepat-cepat tante Azra mengajak Dudit berpakaian. Saat mengantarkan pemuda itu keluar lewat pintu samping, ia berbisik, “Di lain waktu, kalau ada kesempatan, akan kuijinkan kontolmu masuk ke dalam memekku, Dit.”
Dudit hanya menyeringai dan memagut bibir tante Azra dengan lembut. Selanjutnya ia lekas pergi meninggalkan rumah itu sebelum Bella memergoki ulah mereka yang ugal-ugalan.
loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Memuaskan Obsesi "

Post a Comment