Kisah Petualangan Evan 9 : Pesta Bertiga

Sore keesokan harinya, Tya Ariestya menelepon Evan, meminta pemuda itu untuk datang ke rumahnya.

”Ada apa?” tanya Evan dengan setengah semangat, capek setelah menemani Maria Selena kemarin.

”Datang aja. Ada kejutan buat kamu.” jawab Tya penuh rahasia.

Evan pun pergi ke sana dengan pakaian santai, hanya mengenakan kaus oblong dan celana panjang. Ternyata di rumah Tya sudah ada teh Happy Salma. Perempuan sunda yang baru menikah dengan orang Bali itu menyambut Evan dengan lirikan mata penuh arti. Setelah ngobrol dan basa-basi sejenak, mereka kemudian makan malam bertiga dengan diterangi cahaya lilin.

”Biar romantis,” kata Tya menyeringai.

Usai makan malam, mereka duduk di teras belakang rumah Tya. Ada taman kecil di situ. Cahaya lampu taman yang redup memberikan nuansa yang menenangkan.



”Aku kangen sama kamu, Van.” bisik Tya sambil merapatkan duduknya, dan tiba-tiba, tanpa disangka-sangka oleh Evan, langsung melumat bibirnya. Tya melakukannya dengan penuh gairah meski disitu ada teh Happy Salma. Evan tentu saja jadi salah tingkah dibuatnya. Namun Happy Salma hanya tersenyum menyaksikan, seolah-olah menyatakan kalau itu normal dan biasa saja. Tidak ada masalah dengan itu.

Lama mereka saling berciuman, sampai Happy Salma tiba-tiba menarik tangan Evan dan berbisik. ”Aku juga dong, jadi pengen nih!”

Evan merasakan wajahnya jadi memerah, ia lirik Tya untuk meminta persetujuan.

”Nggak apa-apa, Van. Happy bukan orang lain kok,” jelas Tya.

Maka, dengan tubuh gemetar, Evan pun melumat bibir tipis Happy. Mereka berpagutan rakus untuk sejenak.

”A-aku nggak ngerti.” tanya Evan begitu ciuman mereka terlepas.
 
”Apanya?” tanya Tya.

”K-kenapa bisa seperti ini?” jawab Evan.

Tya dan Happy berpandangan, lalu tertawa ngakak tak lama kemudian.

”Hei, jawab dulu dong pertanyaanku!” seru Evan bingung.

Tya berusaha mengatur nafasnya dan berbicara. ”Ini adalah kesepakatanku dengan Happy. Kamu tahu, kami adalah sahabat akrab. Begitu akrabnya hingga apapun berbagi. Saat Happy menikah, aku diperbolehkan tidur dengan suaminya. Kami sering main bertiga. Makanya, begitu aku kenal sama kamu, segera aku bagi dengan Happy. Dan sempatnya adalah hari ini.”

”Sebenarnya suamiku juga mau ikut, tapi sayang dia tiba-tiba harus balik ke Bali.” tambah Happy riang.

Evan melongo, tak tahu harus berkata apa. Tapi Tya segera menegurnya. ”Daripada ngobrol tak tentu, kita ke dalam aja yuk!” ajaknya.

Mereka pun masuk dan duduk di karpet ruang tengah. Sambil nonton tv, Tya mengajak untuk main kartu.

”Main kaya biasanya?” tantang Happy.

”Siapa takut!” Tya mengangguk mengiyakan.

Evan yang tidak tahu apa-apa hanya terdiam mengikuti.

”Siapa yang kalah wajib buka baju!” begitu Tya menerangkan peraturannya.

Evan tidak kaget. Dia sudah bisa menebak. Bukankah tujuan mereka ngumpul disini untuk ngentot rame-rame, pasti permainan kartu ini juga mengarah kesana. Maka tanpa banyak kata ia mengikutinya. Toh tidak ada ruginya juga. Siapa yang bisa menolak merasakan tubuh molek wanita secantik Happy Salma. Betul tidak?

Kartu pun dibagi. Di putaran pertama, Tya yang kalah. Ia segera membuka bajunya hingga kelihatan bh-nya yang berwarna merah marun menyanga payudaranya yang cukup besar. Meski sudah sering melihatnya, bahkan juga memegang dan memijit-mijitnya, tak urung Evan menelan ludah juga begitu melihatnya. Bagaimanapun ia adalah laki-laki normal yang tak luput dari godaan birahi.

Di putaran berikutnya, giliran Evan yang kalah. Ia segera membuka kausnya juga hingga menampakkan dada bidangnya yang sedikit berbulu. Happy Salma tampak memandangnya takjub penuh keinginan, namun Tya segera menyenggolnya karena permainan harus segera dilanjutkan.

Tertawa mengiyakan, Happy pun membagi kartu kembali. Dan Evan kalah lagi hingga kini harus membuka celana panjangnya. Ia kini bertelanjang dada dan cuma mengenakan celana pendek.

Berikutnya Evan kalah lagi dan membuka celana pendeknya. Dengan hanya bercelana dalam membuat Happy memandang Evan penuh gejolak birahi. Tampak kontol Evan yang sudah mulai ngaceng tercetak jelas di balik celana dalamnya yang minim.

Namun permainan harus terus dilanjutkan. Happy membagi kartu kembali, dan kali ini ia yang kalah. Dengan penuh semangat Happy segera membuka bajunya, bahkan juga celana pendeknya.

”Hei, kok langsung dua!” protes Tya.

”Oh iya,” Happy baru sadar. ”Heheh... habis udah nggak tahan sih.” celetuknya.

Tya tidak memprotes dan kembali membagikan kartu. Sementara Evan hanya terbengong-bengong menatap tubuh mulus Happy Salma yang kini cuma terbungkus daleman berwarna kuning gading. Terlihat payudaranya yang sangat besar masih terbalut bh kuning tipis, menampakkan betapa montok dan menggodanya benda bulat itu. Sama sekali tidak merasa risih, Happy malah seperti sengaja menggoyang-goyangkan payudaranya agar Evan semakin tergoda.

”Eh... sudah, sudah! Mau main nggak?!” kata Tya begitu melihat dua orang di depannya saling menonton satu sama lain.

”Ah, iya, iya!” Evan tergagap dan lekas mengambil kartunya, sementara Happy hanya tertawa saja.

Kali ini Tya yang kalah dan segera melepas hotpants nya. Sekarang Evan  yang hanya bercelana dalam ditemani oleh dua perempuan cantik yang sama-sama hanya berkutang dan bercelana dalam, membuatnya bingung harus mengarahkan pandangan kemana. Namun tentu saja Happy Salma yang mendapat prioritas utama karena Evan jarang melihatnya, dan Tya sama sekali tidak terlihat keberatan dengan hal itu.

Berikutnya Tya kalah lagi dan melepaskan tali bh-nya, hingga terlihatlah payudaranya yang bulat dan indah, lengkap dengan puting mungil yang berwarna coklat kemerahan.

”Hmm... dilihat berapa kalipun, payudaramu nggak pernah membosankan, Tya!” puji Happy sambil mengelus lembut payudara Tya.

”Ah, punyamu juga. Lebih bagus malah!” sahut Tya sambil balas meremas tonjolan payudara Happy yang masih tertutup bh. Dan tidak cuma meremas, ia bahkan menyingkap cup itu hingga salah satu bukit payudara Happy melompat keluar.

”Auw! Nakal kamu.” jerit Happy, namun sama sekali tidak menolak. Bahkan ia membiarkan payudaranya tetap terburai keluar hingga menjadi santapan mata nakal Evan yang sudah sejak tadi menunggu.

Evan menatapnya sambil senyum-senyum. Tampak tonjolan di selangkangannya jadi semakin keras saja menyaksikan ulah dua wanita cantik yang ada di depannya ini.

Di giliran berikutnya, Evan tidak beruntung. Ia kalah sehingga terpaksa membuka satu-satunya kain yang masih melekat di tubuh tegapnya. Kini Evan sudah sepenuhnya telanjang. Kontolnya yang besar dan panjang tampak mengacung tegak, menantang siapa saja yang berani mengusiknya. Tya dan Happy memandangnya tanpa berkedip, keduanya tampak sama-sama kagum dan terpesona.

”Mau dilanjut nggak?” tanya Evan sambil duduk kembali.

”Eh, iya, iya.” Tya segera membagikan kartu. Sementara Happy masih melirik malu-malu kontol Evan yang kini melingkar di sela-sela paha. Evan sendiri tanpa sungkan menatap tonjolan payudara Happy yang terus bergoyang-goyang indah di depan matanya. Bulatannya tampak begitu sempurna, begitu montok dan besar sekali, mungkin tidak akan cukup kalau dicakup dengan satu tangan. Sementara putingnya begitu kecil dan mungil, dengan aerola berwarna kuning kemerahan yang sungguh sangat membangkitkan gairah.

Evan bersorak saat di giliran berikutnya, Happy Salma yang kalah. Namun ternyata wanita itu membuka celana dalamnya terlebih dulu alih-alih bh-nya yang sudah acak-acakan. Happy melepas celananya dan melemparnya begitu saja entah kemana, lalu duduk kembali dengan tetap berbeha namun dengan satu payudara terburai keluar.

”Kok itu dulu yang dibuka?” tanya Evan penasaran.

”Emang kamu nggak pengen lihat memekku?” jawab Happy sambil sedikit membuka lipatan kakinya hingga Evan bisa melihat pintu lubang surganya yang merekah indah.

Tya tertawa mendengar jawaban itu, sementara Evan langsung melongo menatap pemandangan indah yang tersaji di depan matanya. Tampak kemaluan Happy yang tercukur bersih, lengkap dengan sepasang paha yang putih mulus, juga tonjolan pantat yang menguji imannya. Membuat kontol Evan jadi makin tegang saja saat melihatnya.

Permainan kembali diteruskan. Happy kembali kalah dan terpaksa membuka kutangnya.

”Hore, akhirnya telanjang deh!” sorak Tya seperti anak-anak yang mendapatkan hadiah, sementara Happy hanya tertawa saja menanggapi.

Evan kembali menatap tak berkedip. Tampak Tya mulai memijiti tonjolan payudara Happy yang berukuran lebih besar dari miliknya. Putingnya yang merah kecoklatan dijepit dan dipilin-pilin ringan hingga membuat Happy merintih kegelian.

”Sudah ah, Evan pengen tuh.” Happy menunjuk Evan.

Tya tertawa dan menyahut, ”Biarin aja,”

Setelah puas, baru permainan dilanjutkan. Dan Happy kalah lagi.

”Wah, aku nggak punya apa-apa lagi yang bisa dibuka.” kata Happy bingung, namun sepertinya cuma pura-pura.

Tya segera menyahut, ”Kalau gitu, kamu harus mencium kita berdua sebagai hukuman.”

Evan yang menebak-nebak, tentu saja suka dengan usulan itu. Ia segera melumat rakus bibir tipis Happy saat wanita itu mendekat dan memeluknya erat. Mereka berciuman begitu lama dengan lidah Happy masuk ke dalam rongga mulut Evan dan menggelitik lembut disana, membuat darah Evan semakin terpompa ke ubun-ubun. Bisa ia rasakan tonjolan payudara Happy yang besar mengganjal lembut di depan dadanya. Evan sudah akan meraih dan meremas-remasnya saat didengarnya Tya berbisik.

”Udah ah, aku kan belum.” katanya sambil menarik tubuh motok Happy dan memeluknya. Mereka saling tersenyum dan berpandangan sejenak sebelum bibir mereka bertemu dan saling menyatu tak lama kemudian. Tya dan Happy berciuman sambil tangan mereka saling meremas payudara pasangannya. Desahan keduanya terdengar di sela-sela ciuman terlarang yang mereka lakukan. Evan hanya dapat menonton perbuatan itu sambil mengusap-usap kontolnya sendiri.

Beberapa saat kemudian, Tya melepaskan ciumannya dan membiarkan Happy kembali ke tempatnya semula. Bertiga mereka saling berpandangan dan tersenyum penuh pengertian. Tya kembali membagikan kartu, dan kali ini giliran dia sendiri yang kalah. Dengan cepat Tya melepas celana dalamnya hingga jadi sama-sama telanjang bulat seperti Happy dan Evan.

”Mau diteruskan nggak?” tanya Happy sambil melirik kontol Evan yang sudah ngaceng penuh, ia tampak sudah tidak sabar untuk segera merasakannya.

Tya yang mengerti segera berkata. ”Langsung ke acara inti deh,” ia lalu  bertanya pada Eva. ”Gimana, Van, kamu setuju?”

”Aku ngikut aja deh,” jawab Evan yang juga sudah tidak sabar.

Tya segera menarik kedua tangan Happy dan membaringkannya di karpet. Lalu ia mulai menciumi bibir Happy sambil meminta pada Evan agar mengerjai bagian bawah tubuh Happy yang menganggur. Tanpa membantah Evan memegangi kedua paha Happy dan membukanya lebar-lebar, lalu mulai menciumi memek Happy yang bersih tanpa rambut. Happy tentu saja mengerang-erang diperlakukan seperti itu.

Tya terus menciumi bibir Happy sambil meremas-remas payudaranya sendiri, sedangkan Evan sambil menciumi memek Happy, tangannya mencari payudara Happy yang bulat besar dan lekas meraba serta meremas-remasnya dengan penuh nafsu. Habislah Happy diserang oleh keduanya secara bergantian. Sekarang Tya yang turun ke bawah, ia sudah berganti posisi dengan Evan. Gilirannya untuk mengerjai memek Happy, sedangkan Evan kini menciumi payudara Happy, putingnya dilumat hingga membuat Happy semakin kuat merintih.

”Ohh... geli! Terusin... yang dalam, Sayang!” rintih Happy saat Tya memegang bibir labianya dan membukanya lebar-lebar, lalu dengan suatu gerakan lembut Tya menjulurkan lidahnya masuk menusuk liang memek Happy yang basah memerah. Ditambah remasan tangan Evan pada tonjolan payudaranya yang berganti-ganti dengan gigitan lembut, makin membuat Happy terbang ke awang-awang.

Tya mendukung aksi Evan dengan menjilat dan menghisap klitoris Happy semakin kuat, membuat pantat bulat Happy sampai terangkat dan pinggulnya menggeliat-geliat kesana-kemari. Tya sempat menghentikan kegiatannya sejenak untuk mengajak Evan berciuman. Terasa aroma khas memek Happy saat Evan melumat bibir Tya dengan lembut. Mereka berpagutan sejenak, sambil tangan Evan terus memijit dan meremas-remas tonjolan payudara Happy yang terasa begitu lembut dalam genggamannya.

Setelah itu kembali Tya menciumi Happy. Ia memagut bibir tipis Happy sambil jari-jarinya mengelus sekujur tubuh Happy yang ramping dan indah. Happy membalas ciuman itu dengan ganas. Bahkan tak cuma mulut, bibirnya juga turun ke leher dan dada Tya yang bulat. Tya kini ada di bagian bawah. Ciuman Happy baru berhenti saat sampai di paha Tya, dengan dua tangan ia kuak labia memek Tya yang sudah basah untuk mencari klitorisnya.

Tya yang tidak mau tinggal diam diperlakukan seperti itu, segera menarik pantat Happy dan ditempatkan tepat di atas wajahnya. Saat Happy mulai menjilat, iapun juga melakukan hal yang sama. Keduanya kini dalam posisi 69, dengan saling mencium, menjilat, mendesah, mengerang dan merintih secara bergantian.

Evan memperhatikan semua itu sambil mengocok-ngocok penisnya sendiri dan meremas-remas tonjolan payudara Tya dab Happy Salma secara bergantian. Rintihan kedua wanita itu semakin keras terdengar saat keduanya mengalami orgasme bersama-sama. Happy segera memutar tubuhnya dan mengajak Tya saling berciuman bibir, mesra mereka berbagi cairan vagina yang baru saja diperoleh. Keduanya berpelukan di ranjang dengan Evan bertugas meratakan cairan kenikmatan yang masih berceceran ke paha dan pantat masing-masing. Sungguh suatu tugas yang sangat menggairahkan, bisa merasakan bentuk memek artis cantik macam mereka berdua.

”Van, Happy pengen banget kenalan sama kontolmu,” bisik Tya lembut di telinga Evan saat nafasnya sudah mulai tenang.

”Boleh. Mau sekarang?” tantang Evan sambil menciumi dagu dan bibir Tya. Ia juga meremas-remas payudara perempuan itu hingga membuat Tya kembali mendesah dan mengerang nikmat.

”Iya. Cepat sana puasin dia,” bisik Tya sambil mendorong tubuh Evan menjauh.

Happy menerima kedatangan Evan dengan senang hati. Lekas ia buka kedua kakinya lebar-lebar, memperlihat lubang kemaluannya yang sudah merekah indah, siap untuk dimasuki penis kapanpun juga. Namun saat Evan akan menusuknya, Happy tiba-tiba berkata mencegah.

”Jangan dulu. Aku masih pengen ngemut kontolmu, Van!” katanya sambil menarik pantat Evan ke dekat kepalanya hingga batang kontol Evan yang sudah menegang tajam tepat berada di atas mulutnya. Lidah Happy pun mulai menjulur keluar untuk menjilati kepala penis Evan.

Tak kalah dengan permainan mulut Tya, Happy rupanya juga pintar melakukan oral. Bahkan bisa dikatakan setingkat di atas Tya. Ia dengan lihai memainkan penis Evan, membuat darah Evan jadi mengalir deras memasuki setiap sel di seluruh tubuhnya. Terasa gelora birahinya sudah mencapai ubun-ubun. Kalau diteruskan, bisa-bisa Evan muncrat duluan. Maka lekas ia menarik penisnya menjauh, memutus gairahnya agar tidak keburu klimaks.

Happy yang masih ingin kontol, tampak mendesah kecewa. Namun ia segera tersenyum kembali begitu Evan mulai menggesek-gesekkan ujung penis pada klitorisnya dan kemudian ke celah-celah vaginanya. ”Ahh...” Happy mengerang sambil menarik pantat Evan agar semakin dalam memasukkan penis ke lorong vaginanya.

Tanpa ampun, Evan pun segera memasukinya. Memang agak sulit, namun ia bisa melakukannya. Setelah terbenam seluruhnya, dan Happy mulai terlihat menikmatinya, pelan Evan mulai menggerakkan pinggulnya dengan irama pelan namun teratur. Ia mulai menyetubuhi Happy Salma, salah satu artis di Indonesia yang paling cantik dan seksi. Happy sendiri tampak mulai meracau mendapat perlakuan yang demikian.

”Van, yang dalam dong! Cepetan, aku sudah nggak kuat nich!” pintanya.

Maka Evan pun mempercepat gerakan pantatnya, menekan sambil melempar senyum pada Tya. Sambil memaju-mundurkan pantatnya, dalam hati ia berterima kasih pada kekasihnya ini, sebab karena jasa Tya lah hingga ia dapat merasakan memek artis cantik seperti Happy Salma.

Agak beda dengan milik Tya, memek Happy seakan-akan ada empot ayamnya. Membuat Evan jadi benar-benar ketagihan. Namun tak ingin menyerah mudah, ia lekas menarik keluar penisnya saat merasakan spermanya hampir meledak dan lalu memegang penisnya pada bagian pangkal untuk digesek-gesekkan kembali pada klitoris Happy.

Happy mendesah dan merintih semakin lirih menerimanya, ”Van, ayo masukin lagi! Aku mau sampai nih! Oughh... enak banget kontolmu!” dia menggeliatkan pinggulnya semakin cepat saat payudaranya yang bergerak-gerak dicium dan diremas-remas oleh Tya, sedangkan Evan melumat bibirnya sekali lagi. Diserang berdua seperti itu tentu saja membuat Happy jadi blingsatan. Apalagi saat kembali batang kontol Evan masuk sedalam-dalamnya ke lorong vaginanya.

”Ahh... nikmatnya!!” teriak Happy keras-keras tanpa bisa menahan lagi.

Gerakan Evan kini menjadi semakin kencang untuk mengimbangi geliat tubuh perempuan cantik itu, pantat Happy sekarang terangkat-angkat seakan menginginkan kontol Evan menusuk masuk lebih dalam lagi. Evan yang mengerti segera memegangi pinggul Happy hingga hunjaman penisnya bisa semakin dalam. Kedua paha Happy melingkari punggungnya dengan ketat, membuat Evan kembali jadi merasa ketagihan.

”Kuat benar perempuan ini, jepitannya maut!” batin Evan dalam hati.

Namun ternyata beberapa detik kemudian, ”Ahh... Van, aku dapat! Oughh... sshh...” jerit Happy sambil menyorongkan pantat dan pinggulnya ke arah paha Evan sehingga kedua kemaluan mereka dapat menyatu begitu rapat, seakan tak dapat dipisahkan lagi.

”Iya, Teh, sama. Aku juga dapet nih... ahhh!!” geram Evan sambil menancapkan batang penisnya hingga ke pangkalnya. Ia merasakan empot ayam di dalam memek Happy menjadi semakin keras, seakan memijit dan meremas-remas kepala penisnya hingga menjadi serpihan. Denyutan dinding vagina itu begitu hebat menjepit batang kontol Evan yang tengah menyemburkan benih cintanya. Begitu banyak dan kental sekali, bercampur dengan cairan kewanitaan Happy yang juga mengucur deras hingga membuat lorong yang sempit itu jadi terasa semakin lengket dan basah.

Evan terus menghentakkan beberapa kali batang penisnya ke dalam vagina Happy sambil meremas dan menggigit mesra payudara perempuan cantik itu, bergantian kiri dan kanan. Sedangkan Tya dengan nakalnya memagut bibir tipis Happy dan tak ingin melepaskannya hingga membuat Happy jadi tak bisa berteriak karenanya. Yang ada ia hanya bisa merintih dan menggeram teredam saat menjemput kenikmatan orgasmenya.

Happy masih terengah-engah saat Evan mencabut batang penisnya. Mereka beristirahat untuk sejenak dengan berbaring bersebelahan, dengan Evan berada di tengah-tengah diapit oleh Tya di kiri dan Happy Salma di kanan. Tangan Evan melingkar di kedua tonjolan payudara mereka dan meremas-remasnya pelan sambil menunggu batang penisnya bangun lagi. Tya mempermainkan kemaluan yang sudah melemas itu dengan mengelus-elusnya pelan, sementara Happy yang sudah kelelahan namun terlihat sangat puas hanya bisa berbaring lemah sambil menutup matanya. Ia mengucapkan terima kasih pada Evan sebelum mulai tertidur tak lama kemudian.

Kini tinggal Tya dan Evan. Tya yang belum mendapat kepuasan segera menjilati kontol Evan sampai menjadi tegang kembali. Setelah itu ia segera memposisikan diri dengan menungging membelakangi Evan. Tanpa membuang waktu, Evan segera menusuknya. Namun bukannya di vagina, Evan malah  mengarahkan penisnya ke lubang anal Tya.

Tya yang memang sudah sering diperlakukan seperti itu oleh Evan, menerima
saja dengan senang hati. Malah ia menikmati hujaman penis Evan sambil menempatkan wajahnya di antara kedua paha Happy yang masih terbaring kelelahan dan mulai mencucup serta menjilatinya hingga membuat Happy menggeliat bangun lagi.

“Ah, Tya. Nakal deh,” lirih Happy sambil balas meremas dan memijit-mijit tonjolan payudara Tya yang menggantung indah.

Dengan batang kontol Evan yang bergerak semakin cepat, kini desahan Tya sudah berubah menjadi jeritan lirih. “Auhh... enaknya… aduuh… nikmat banget!”

Evan memegangi pinggul Tya sambil terus menghentakkan penis sedalam-dalamnya dan bertanya, “Mana yang paling enak, di bokong apa di vagina?”

“Ssh… aah… enak di situ, tapi jangan terlalu kuat, ntar pecah bokongku!” jawab Tya di sela-sela rintihannya.

Evan segera memperlambat laju pantatnya, namun rintihan Tya tetap terdengar keras, bahkan kini sepertinya menjadi semakin kuat. Mungkin dia sebentar lagi akan orgasme.

Dan benar saja, beberapa detik kemudian, Tya tiba-tiba menggeram sambil memeluk kaki Happy kuat-kuat. “Van, aduh... aku dapet!”

Dari lorong memek Tya yang sempit, Evan bisa merasakan semburan cairan hangat yang mengguyur batang penisnya. Memang terasa begitu nikmat, apalagi dinding-dinding memek Tya juga berkedut cepat memijiti batang penisnya. Namun karena baru saja orgasme dengan Happy tadi, membuat Evan jadi sanggup untuk bertahan.

Dibiarkannya Tya menikmati sensasi orgasmenya untuk sejenak, sebelum ia mencabut batang penisnya dan mendekati Happy yang terlihat bergairah kembali. Tya tampak tidak keberatan melihat Evan yang kembali mengusap-usap payudara Happy dan merabai lorong vaginanya. Ia hanya bisa berbaring menatap sambil mengelus-elus payudaranya sendiri.

”Mau dimana, disini apa di belakang?” tanya Evan sambil menunjuk memek dan lubang pantat Happy.

”Belakang aja, Van. Sepertinya nikmat banget ditusuk disitu.” kata Happy sambil berjongkok di atas pinggang Evan, lalu perlahan-lahan mulai mengarahkan batang kontol laki-laki itu tepat ke lubang analnya. Tidak seperti Tya, Happy terlihat sedikit kesulitan saat melakukannya. Sepertinya lubang belakangnya jarang dimasuki. Namun justru itu yang disukai oleh Evan, ia jadi seakan memperawani Happy.

Setelah sedikit usaha yang cukup menguras tenaga, akhirnya bisa masuk juga batang kontol Evan ke lubang pantat Happy. ”Auhh... kok agak sakit ya? Padahal waktu sama suamiku nggak sesakit ini.” tanya Happy pada Tya.

”Kontol suamimu kan lebih kecil daripada kontol Evan, ya pasti sakit lha! Tapi coba kamu nikmati, ntar juga bakalan enak sendiri. Dijamin deh!” kata Tya seperti berpromosi.

Happy tidak menjawab, namun desah kesakitan yang keluar dari mulutnya berganti menjadi rintihan penuh nikmat saat Evan mulai menggerakkan pinggulnya. Rupanya benar kata Tya, agaknya Happy mulai bisa menikmati persetubuhan itu. ”Ehss... pelan-pelan, Van, nanti robek bokongku!” desis Happy dengan tangan bertumpu ke belakang menahan berat tubuhnya, sedangkan Evan terus memasuk-keluarkan penis ke dalam lubang pantatnya.

Terangsang melihat ulah itu, Evan mengarahkan kedua tangannya untuk meremas-remas bongkahan payudara Happy yang bergoyang-goyang indah seiring gerakannya. Entahlah, menikmati benda tersebut, Evan rasanya tidak pernah bosan. Perlahan juga ia dengar Happy semakin kuat menggeram, mungkin wanita itu sudah semakin dekat ke puncak kenikmatannya.

”Sssh... terusin, Van. Enak! Yah gitu, Sayang! Ooughh…” rintih Happy sambil meliuk-liukkan tubuh sintalnya.

”Tukar posisi dulu, Teh, biar cepat sampai!” saran Evan.

Happy segera bangkit berdiri hingga batang kontol Evan lepas dari lubang analnya. Lalu ia menungging membelakangi laki-laki itu, berharap Evan mengerjainya dalam posisi doggy style.

Evan kini berdiri di belakang tubuh montok Happy, ia mengusap-usap paha Happy yang putih mulus dan dengan perlahan-lahan memegang kedua pangkal paha perempuan cantik itu menggunakan kedua tangannya.

”Lho, mau pakai gaya apa, Van?” tanya Happy penasaran.

”Tenang aja, Teh. Pokoknya dijamin nikmat!” kata Evan sambil mengangkat kedua paha Happy mendekati pinggangnya dan mengarahkan penisnya ke lubang vagina yang merekah indah di depannya. Diperlakukan seperti itu membuat Happy jadi tak tahan, apalagi saat liang memeknya mulai disusupi oleh batang kontol Evan. Dengan posisi doggy style yang divariasi begini, membuat tusukan penis Evan pada liang vagina Happy jadi semakin maksimal.

”Ahh... nikmat sekali! Pinter banget kamu, Van!” desahan Happy langsung berubah menjadi jeritan-jeritan kecil penuh kenikmatan saat Evan mulai menggerakkan pinggulnya. Tya yang duduk bersandar di punggung ranjang menatap kelakuan mereka sambil tersenyum.

Semakin lama, semakin cepat batang kontol Evan bergerak mengocok memek sempit Happy. Bongkahan pantat perempuan cantik itu juga ia tarik dan dorong semakin cepat hingga batang penisnya menusuk semakin dalam. Dengan gerakan seperti itu, sambil tangan Evan menggerayangi bulatan payudara Happy yang bergelantungan indah, ia antarkan Happy ke puncak kenikmatannya. Teriakan panjang terdengar dari mulut Happy yang tipis, tetapi dengan cepat disumpal oleh Evan yang begitu lincah memagut.

“Aughh… mmppff… aahh…” rintih Happy dengan tubuh berkedut-kedut pelan.

Evan yang masih belum orgasme, tampak berusaha mengatur nafas. Tya yang  selama ini sangat tahu bagaimana cara memuaskan Evan, segera menggantikan posisi Happy yang sudah kelelahan. Ia menarik tangan Evan agar mendekati dirinya. Evan segera memeluk tubuh molek Tya sambil menciumi bibirnya dengan lembut. Tya membalas dengan tak kalah rakus hingga kembali mereka terlibat dalam ciuman yang begitu panas dan penuh gairah.

Saat dilihatnya Evan mulai tak tahan, Tya kemudian membalikkan tubuh dan meminta Evan agar segera menyetubuhinya. Perlahan-lahan Evan menggesekkan penisnya ke vagina Tya dari arah belakang. Benda itu masih terasa lembab dan juga hangat, sangat siap untuk dimasuki.

”Lekas masukin, Van!” Tya meminta.

Evan pun menusukkan penisnya dalam-dalam ke vagina perempuan cantik itu. Beberapa tusukan yang dilakukan Evan membuat Tya merintih, tidak hanya mendesah. Itu akibat tekanan penis Evan pada klitoris dan dinding vaginanya.

”Lebih cepat lagi, Sayang!!” rengek Tya manja.

Evan memenuhi permintaan itu dengan semakin mempercepat laju pantatnya, sehingga batang penisnya semakin cepat keluar masuk di vagina Tya yang semakin terasa becek. Evan juga menjulurkan kedua tangannya ke depan untuk merabai kedua payudara Tya yang terjepit di tempat tidur. Saat kesulitan untuk memegangnya, Evan segera mengalihkan sasaran ke payudara Happy Salma yang masih berbaring tak bergerak di sebelah mereka. Evan memijit dan meremas-remasnya dengan penuh nafsu, ia juga menjepit dan memilin-milin putingnya yang mungil kemerahan sambil pinggulnya terus bergerak cepat menyetubuhi tubuh molek Tya dari arah belakang.

Tusukan penis Evan yang bertubi-tubi tentu saja membuat Tya makin terangsang hebat. Rintihannya semakin keras terdengar dan geliat pinggulnya juga terlihat semakin kuat. ”Vann... aaah... enaknya... aku dapet lagi...” jerit Tya penuh kenikmatan.

Evan yang ingin bersamaan mencapai puncak kenikmatan, segera berusaha mengejar dengan semakin kuat menggerakkan penisnya di dalam memek Tya yang tengah berdenyut-denyut pelan. Dan usahanya itu ternyata tidak sia-sia, dengan satu erangan keras, Evan menusukkan penisnya dalam-dalam sambil memeluk tubuh molek Tya Arietya dan meremasi tonjolan payudaranya. Bersamaan mereka mengelurkan cairan masing-masing.

Mereka berpelukan untuk sejenak, sebelum Evan mencabut batang penisnya beberapa saat kemudian dan berbaring di sebelah Happy. Kembali mereka tidur bersisian dengan nafas masih terdengar berat, dengan tangan Evan membelai tubuh kedua wanitanya penuh rasa sayang. Evan melirik ke jam dinding, menunjukkan pukul 00.30 dini hari. Hampir tiga jam mereka melakukan hubungan seks gila-gilaan sejak main kartu tadi.

Kelelahan namun sangat puas, mereka pun tidur hingga pukul 9 pagi. Begitu bangun, mereka mandi bertiga dan sempat saling berciuman di kamar mandi, tetapi tak ada lagi permainan panas di situ, sebab perut mereka sudah lapar minta diisi. Tya segera memasak dan menggoreng telur untuk sarapan, lalu mereka duduk-duduk di teras belakang membahas permainan semalam sambil tertawa-tawa.

”Aku harap ini nggak cuma berhenti sampai disini.” kata Happy Salma.

”Tentu saja. Evan kan belum merasakan memek teman kita yang satu lagi.” timpal Tya.

”Siapa?” tanya Evan penasaran.

”Ada deh,” jawab Tya sambil tersenyum penuh teka-teki. Happy hanya tertawa saja mendengarnya.
loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kisah Petualangan Evan 9 : Pesta Bertiga"

Post a Comment