Kisah Petualangan Evan 8 : Kenalan Baru

Hari sudah menjelang sore ketika Evan selesai mengantar Tya Ariestya ke tempat syuting. Sebelum berangkat, mereka sempat bercinta sejenak. Dua hari tidak ketemu membuat Tya kangen kepada Evan. Begitu juga dengan Evan. Meski lelah akibat permainan bertiga di villa milik Hannah Al-Rashid, ia berusaha melayani Tya dengan sepenuh hati. Bagaimanapun Tya lah yang telah membantu dan meringankan beban hidupnya, juga yang telah mengajarinya menjadi laki-laki dewasa. Karena Tya pula lah, Evan bisa mencicipi tubuh artis-artis lain, mulai dari Aura Kasih, Tyas Mirasih, Marissa, hingga yang tua tapi tetap cantik macam Nadya Hutagalung.

Evan bersyukur, merasa senang dan sangat menikmati gaya hidupnya yang sekarang, meski masih ada sedikit yang kurang. Chelsea. Ya, Chelsea Olivia, pacar Evan, sepertinya makin jauh dan makin renggang saja. Di kampus, mereka jarang bertemu dan berbicara. Kalau kebetulan berpapasan, cukup saling senyum dan saling sapa sekedarnya. Tidak ada lagi tawa dan canda seperti dulu.

Evan tahu, dia lah penyebabnya. Kesibukannya dengan Tya membuat Evan jadi jarang mengurusi Chelsea. Mereka memang masih saling berkirim kabar lewat chat atau sms, tapi sudah tidak mesra seperti dulu. Hanya sekedar formalitas dan pengingat kalau sebenarnya mereka adalah sepasang kekasih. Evan tahu kalau Chelsea masih sangat mencintainya, begitu juga dia. Evan tidak sanggup untuk melepaskan Chelsea, apalagi berpisah darinya. Namun Evan juga tak bisa kalau disuruh meninggalkan Tya. Dua-duanya sangat berarti baginya. Kalau disuruh untuk memilih salah satu, Evan terus terang tidak bisa.

”Huh,” Evan menghembuskan nafas dalam, bingung dengan keputusannya.

Chelsea sangat cantik dan baik, juga sedikit lugu. Sangat cocok untuk dijadikan sebagai istri, Chelsea pasti akan jadi ibu yang sempurna bagi anak-anaknya nanti. Di lain pihak, Tya begitu menggoda dan menggairahkan. Dengannya, semua nafsu birahi Evan selalu terpuaskan, suatu hal yang tidak bisa diberikan oleh Chelsea.



Ya, selama 3 tahun masa pacaran mereka, belum sekalipun Evan tidur dengan Chelsea. Paling banter mereka cuma berpelukan dan berciuman, itupun hanya jenis kecupan ringan, bukan sebuah lumatan panas yang nakal dan penuh gairah. Namun meski begitu, dengan Chelsea, Evan selalu bisa menemukan kedamaian. Sebuah perasaan tenang dan nyaman yang tidak ditemukannya dalam diri wanita lain. Termasuk juga sesosok perempuan yang tiba-tiba menghentikan mobilnya sore itu.

Evan baru saja akan memundurkan mobilnya saat dilihatnya seorang gadis cantik melambai-lambaikan tangan. ”Van, tunggu. Bisa tolong aku sebentar?” kata gadis itu dengan senyum indah terkulum di bibir. Wajah cantiknya kelihatan familier, dan Evan mengenalinya.

”Maria? Bukankah kamu sudah pulang dari tadi?” tanya Evan sambil membuka kaca mobilnya.

Gadis yang dipanggil Maria itu mengangguk. ”Mobilku mogok. Aku nggak tahu cara benerinnya.” jelasnya sambil menunjuk mobil sedan merah yang terparkir tak jauh dari mobil Evan.

Dia adalah Maria Selena, mantan Putri Indonesia tahun 2011. Evan mengenalnya karena Maria adalah lawan main Tya di film selanjutnya. Seringnya bertemu di tempat syuting membuat mereka jadi kenal, meski tidak bisa dibilang akrab.

Evan pun lekas turun dari dalam mobil. ”Coba aku periksa.” Bersama Maria, ia kemudian berjalan beriringan menuju mobil gadis itu. Evan membuka kap-nya dan mengotak-atiknya sebentar sebelum kemudian berkata, ”Sepertinya ada yang korslet, harus dibawa ke bengkel.”

Maria mengernyit bingung. ”Sudah sore gini, apa masih ada bengkel yang buka.” katanya.

Evan tersenyum. ”Besok aja. Sekarang kamu pulang bareng aku, bukankah rumah kita searah.”

Maria mengangguk. ”Makasih ya, Van. Kamu memang baik banget. Sory kalau merepotkan.”

Evan mengajak Maria Selena kembali ke arah mobilnya. ”Nggak masalah. Sesama teman harus saling tolong menolong.” katanya sambil melirik gadis putih jangkung yang ada di sebelahnya ini. Selama berhubungan dengan wanita, Maria adalah yang paling tinggi di antara semuanya, hampir seukuran dengan Evan. Tidak heran karena selain sebagai model, Maria adalah atlit basket juga.

Mereka masuk ke dalam mobil. Maria duduk di sebelah Evan, dan merekapun segera keluar dari tempat parkir studio Tra** TV. Mendung yang menggelayut sejak siang tadi mulai menebarkan isinya, hujan rintik-rintik perlahan turun membasahi kota.

”Untung ada kamu, aku jadi nggak kehujanan.” kata Maria mencairkan suasana.

”Aku juga, lumayan ada teman ngobrol di jalan.” balas Evan santai.

”Tya gimana, dia nanti pulang sama siapa?” tanya Maria.

”Oh, dia nanti bareng sama teh Happy Salma. Ada urusan sebentar, aku nggak boleh ikut.” Evan tertawa.

”Rahasia wanita,” Maria menimpali, dan ikut tertawa.

Gerimis rintik-rintik terus turun membasahi jalanan yang mereka lewati. Dan seperti biasa kalau sedang hujan, penyakit di ibukota, macetnya minta ampun. Waktu sangat cepat berlalu, jam di mobil Evan menunjukkan pukul 20.15.

”Kamu nggak dingin?” Evan bertanya memecah keheningan diantara mereka berdua. Ia sudah merusaha mengeset AC di setelan minimal, namun mobil tetap terasa dingin juga.  Mungkin karena hujan, meskipun tidak begitu deras.

”Iya, Van. Dingin banget.” jawab Maria sambil mendekapkan tangan ke dadanya yang membusung indah.

Evan melirik sambil tersenyum. Di luar, hujan turun menjadi semakin deras. Jalanan makin macet. Pukul 21.00, mereka masih berkutat di kawasan Sudirman.

”Aku lapar, Maria. ” ujar Evan spontan.

”Sama, aku juga. Udah dari tadi malah,” Maria menjawab jujur sambil tersenyum.

Evan menanggapinya dengan tertawa ringan.

”Van,” panggil Maria.

”Ya?”

”Aneh ya, padahal kita jarang ngobrol, tapi kenapa aku merasa kenal dekat sama kamu ya?”  kata Maria.

”Hmm, mungkin karena kita adalah sepasang kekasih di kehidupan sebelumnya.” jawab Evan sambil nyengir.

”Haha, ada-ada aja kamu,” balas Maria sambil tiba-tiba merebahkan kepalanya di bahu kiri Evan.

Meski dalam hati menginginkannya, tapi jujur, Evan cukup terkejut juga dengan keberanian gadis ini. Tapi ia tidak ingin menolak, dibiarkannya Maria menggunakan bahunya sebagai bantal. Toh tidak mungkin terjadi apa-apa hanya gara-gara tiduran di bahu. Betul tidak?

Dengan sudut matanya, Evan melirik Maria. Gadis itu tampak sangat damai, dan makin kelihatan cantik. Maria sedang menggosok-gosokkan tangan kanannya ke paha, mungkin biar hangat. Sambil menahan nafas, Evan pelan-pelan memegang tangan itu. Ia melakukannya dengan pura-pura ingin memegang hand rem.

”Eh, maaf.” Evan berkata, tapi tetap tidak melepaskan genggaman tangannya.

Maria memang sedikit kaget, namun tidak terlihat keberatan. Malah ia balik meremas jari-jemari Evan. Gadis itu juga memandang Evan dengan tersenyum.

”Tanganmu dingin banget, Maria.” cetus Evan.

”He-eh... tapi mungkin jadi hangat kalau kamu pegang terus seperti ini,” balas Maria tanpa bermaksud menyindir.

Hujan turun semakin lebat, sehingga praktis mobil Evan berhenti seperti mobil-mobil yang lain. Macet parah. Dalam keheningan, Evan terus meremas-remas tangan Maria Selena. Meresapi betapa halus dan mulusnya jari-jemari itu. Maria tetap terdiam, dengan tangan balas meremas jari-jemari Evan.

”Lumayan. Agak hangat,” kata Evan.

”He-eh,” jawab Maria lagi sambil tersenyum, cantik sekali.

Evan meliriknya. Diperhatikannya Maria yang mengenakan rok mini warna gelap. Meski cahaya di dalam mobil agak sedikit gelap, namun Evan bisa melihat dengan jelas kaki jenjang Maria yang putih mulus tanpa celah, kelihatan kontras dengan warna roknya.

Evan membawa tangannya ke atas paha Maria. Gadis itu masih terdiam, sama sekali tidak memprotes ataupun menolak. Bahkan ia melepaskan genggaman agar tangan Evan leluasa menyentuh dan meraba kulit pahanya. Halus, haluus sekali. Evan mulai mengusap-usap naik turun. Mulai dari ujung lutut, merayap perlahan naik ke atas, mengusap-usap kulit mulus paha Maria, dan dengan gerak sedikit mengambang, menyentuh pangkal celana dalam gadis itu.

”Hmm...” Maria melenguh pelan saat Evan menyentil permukaan selangkangannya.

”Hangat, Maria.” bisik Evan dengan nafas memburu.

Maria diam saja tidak menanggapi. Evan meliriknya lagi, Maria tampak memejamkan matanya, menikmati usapan-usapan Evan pada kulit paha dan selangkangannya. Tangannya memegangi tangan Evan, seperti tidak ingin kehilangan. Ia mengusap-usapkan tangan Evan ke atas lapisan satin celana dalamnya. Kini Marialah yang mengendalikan tangan Evan. Evan membiarkannya karena dalam hati ia juga menikmatinya. Bisa dirasakannya celana dalam Maria yang kini mulai sedikit basah.

Melewati pintu tol, Evan menarik tangan halus Maria. Dibawanya jemari lentik itu ke atas gundukan kejantanannya yang sudah menegang sedari tadi. Maria yang mengerti, segera mengelus dan meremas-remas lembut batang kontol itu. Lama... mereka saling mengelus, mengusap dan meremas bagian-bagian yang paling sensitif dari tubuh masing-masing. Evan merasa setetes cairan bening sudah mulai membasahi celana dalamnya.

Ia yang semakin berani segera menarik dengan lembut celana dalam Maria, menggesernya agak sedikit ke samping. Tangannya yang terus aktif bergerilya, kini bisa merasakan rambut kewanitaan Maria yang tumbuh lebat, juga permukaan memek gadis itu yang sudah sangat basah dan hangat. Evan memang tidak bisa melihat bentuknya, tapi berdasarkan pengalamannya ia bisa menaksir kalau memek Maria begitu sempit dan indah. Seperti jarang dipakai.

”Ahh, Van...” dengan mata masih terpejam, Maria mulai melenguh. Pahanya terasa semakin panas, sementara tangannya semakin aktif mengelus-elus batang kontol Evan dari luar celana.

Tidak terasa, mereka sudah sampai di rumah Maria. Jam di mobil Evan sudah menunjukkan pukul 23:00.

”Kita nyampe, Maria,” bisik Evan lembut sambil menjilat belakang telinga Maria.

”Hmm... mampir dulu, Van.” Maria mendesah pelan.

Evan memutuskan untuk tidak menolak undangan itu. Ia segera membelokkan kemudi mobil ke kanan, siap untuk memasuki rumah Maria. Untuk sementara, kegiatan usap-mengusap dan saling meremas dihentikan dulu. Terlihat ada wanita gendut yang berlari-lari memakai payung menyambut membukakan pintu gerbang. Setelah tahu kalau yang datang adalah Maria Selena, sang majikan, wanita itu juga segera membuka pintu garasi dan mempersilakan mobil Evan untuk masuk.

”Masuk yuk...” kata Maria kepada Evan. Ia kemudian turun dari mobil dan menggandeng lengan Evan, mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke dalam kamarnya. Maria lalu mengunci pintunya dari dalam.

Sebuah spring bed besar tampak berada di tengah ruangan. Dua tempat duduk dan satu meja kaca, lemari buffet kecil dengan pesawat TV 20 inch di atasnya, melengkapi perabotan di sisi-sisi ruangan. Di dindingnya tertempel sebuah kaca cermin besar. Di sana juga tersedia kamar mandi di dalam ruangan, yang dilengkapi dengan shower. Kamar ini tidak kalah mewah dengan milik Tya.

Melihat isi kamar itu, Evan tampak tertegun. Dan lebih kaget lagi saat melihat Maria bergeser dan berdiri tepat di hadapannya. Mata gadis itu tajam memandang ke arah mata Evan. Ada sesuatu yang bergelora disana. Agak lama mereka berdua saling menatap, terdiam dengan pikiran masing-masing... sampai akhirnya beberapa saat kemudian wajah mereka semakin mendekat dan sekilas Evan melihat Maria menutup matanya saat ia memberanikan diri mengusap rambut dan mengecup pelan bibir gadis itu. Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba tubuh mereka sudah saling merapat. Evan menciumi Maria sampai nafas gadis itu terengah-engah. Ia menjilati bibir Maria sambil tetap dalam posisi berdiri. Lidahnya meliuk-liuk di dalam mulut Maria Selena.

Maria pun tak kalah garang. Dia memeluk tubuh Evan erat-erat dan membalas ciumannya dengan buas. Tangan kirinya menyusup ke dalam celana Evan dan mengusap-usap lembut batang kontol Evan yang masih tetap menegang tajam. Evan mengimbangi dengan meraih bagian belakang tubuh Maria dan balas mengusap dan meremas lembut belahan pantat gadis itu. Ia juga terus menciumi bibir tipis Maria dengan buas. Bibir sensual yang begitu mengundang dan menggairahkan itu ia lumat habis. Tak lupa lidahnya meliuk-liuk di dalam mulut Maria, yang disambut oleh Maria dengan hisapan rakus yang tak kalah lincah.

Mereka terus berada dalam posisi seperti itu sampai akhirnya mulut Evan mulai turun ke arah leher Maria yang jenjang, ia pagut dan jilati leher gadis itu erat-erat. Maria memejamkan matanya, tampak sangat menikmati sekali rangsangan Evan pada tubuh sintalnya. Tangannya terus mengusap-usap kejantanan Evan yang masih rapi berada di balik celana. Mereka terus berciuman bagaikan sepasang kekasih yang telah lama tidak berjumpa. Menumpahkan segala kerinduan dalam kehangatan dalam sebuah pagutan hangat.

Perlahan Evan meraih pinggang Maria dan mendudukkannya dalam pangkuan. Mereka bertindihan di atas tempat tidur. Kini tubuh mereka semakin melekat. Lembut Evan mengusap rambut panjang Maria yang dikuncir kuda, yang dibalas oleh Maria dengan memegang lembut kulit pipinya. Sekali lagi mereka saling berpandangan. Tanpa perlu bersuara, hanya dengan isyarat mata, keduanya sudah mengerti dengan keinginan masing-masing.

Kembali bibir  mereka bertemu, saling melumat dan menghisap dengan penuh nafsu. Sesekali terdengar tarikan nafas Maria saat Evan menggigit terlalu keras, dan gadis itupun merintih pelan begitu Evan kembali menurunkan bibir ke arah batang lehernya.

”Ughh...” lirih Maria ketika merasakan hangatnya bibir Evan yang menjelajahi kulit lehernya. Tidak ada perlawanan berarti yang bisa ia lakukan. Maria hanya bisa mendongakkan kepala, semakin memamerkan lehernya yang putih dan jenjang kepada Evan.

Evan pun semakin terhanyut terbawa suasana. Ia perlakukan Maria selembut mungkin, terus ia jelajahi mili demi mili leher gadis itu, sambil perlahan mengusap rambutnya dan makin menekan punggung Maria ke arah tubuhnya.

”Van, ooh...” lenguh Maria saat menyadari lepasnya satu per satu kancing baju kemejanya. Ya, Evan memang melepasnya sambil terus melanjutkan cumbuan kepada leher Maria. Perlahan-lahan kemeja itu jatuh terhempas ke karpet ruangan, menyisakan bagian atas tubuh Maria yang tinggal berbalutkan sehelai bra putih, terlihat sangat serasi dengan kulit tubuhnya yang halus dan putih mulus.

Jilatan-jilatan lembut mulai menjalari buah dada Maria. Terdengar lagi lenguhan lirih gadis itu. Evan melanjutkan cumbuannya dengan mengulum ringan buah dada Maria, membuat lenguhan Maria terdengar semakin keras. Hasrat birahi tampak sudah memenuhi kepala gadis itu. Jilatan-jilatan Evan yang diselingi gigitan-gigitan kecil pada puting buah dada Maria terbukti berkali-kali membuat Maria berjingkat terkejut. Kaget sekaligus suka dan sangat menikmatinya.

Evan meneruskan cumbuan ke arah perut datar Maria. Sambil mencumbu, ia juga membuka rok span gadis itu hingga terlepas jatuh ke karpet, bertumpuk dengan baju Maria yang sudah luruh terlebih dahulu. Sekarang terpampanglah pemandangan paling indah yang tidak mungkin dilupakan oleh Evan; Maria Selena, mantan Puteri Indonesia tahun 2011, rebah dengan hanya berbalutkan celana dalam satin putih tipis. Mata gadis itu memandang lembut ke arah Evan, menghadirkan begitu banyak kedamaian, sekaligus juga hasrat  dan gairah yang menggebu-gebu.

Perlahan Evan meneruskan aksinya, menurunkan kain terakhir yang menempel pada tubuh indah Maria. Terdengar sedikit nada terkejut saat ia mulai menurunkan centi demi centi celana dalam gadis cantik itu. Evan menariknya ke bawah menyusuri kedua kaki jenjang Maria dan menumpuknya bersama baju-bajunya.

”Van, kamu mau ngapain?” tanya Maria saat melihat Evan menurunkan kepala ke arah selangkangannya. Dan pertanyaan itu terjawab begitu Maria merasakan sebuah jilatan mendarat di bibir memeknya. ”Uughh...” ia langsung melenguh penuh nikmat karenanya.

Evan berusaha memainkan lidahnya pada liang kewanitaan Maria dengan selembut mungkin, hingga terkadang hanya sedikit saja ujung lidahnya menyentuh. Namun hal ini justru malah memicu reaksi dari Maria, gadis itu tampak semakin terbakar oleh gairah.

”Ohhhh... Van!” lenguh Maria panjang diiringi desah nafasnya yang semakin memburu.  Hisapan dan jilatan Evan silih berganti terus menyerangnya dengan penuh kelembutan, hingga pada akhirnya membuat Maria menjerit saat akan mendekati puncaknya.

”Aaacchh...” pekik Maria panjang sambil menghentakkan tubuhnya ke atas. Puncak kenikmatan datang melanda tubuh sintalnya, menggulungnya dalam suatu sensasi geli yang sangat melenakan dan menghempaskannya ke dalam jurang nafsu yang begitu dalam.

Evan memandangi wajah cantik Maria. Tampak gadis itu terpejam sambil menggigiti bibirnya sendiri, tangannya yang lentik mencengkeram seprei di tepian ranjang dengan kuat, sementara nafasnya masih belum beraturan. Semua itu cukup untuk menunjukkan betapa nikmat gelombang orgasme yang baru saja dilalui oleh Maria. Evan membiarkannya sejenak, memberi waktu bagi Maria untuk menikmati puncak birahi yang masih melanda.

Ia duduk selonjor di atas tempat tidur, bersandarkan bantal di belakang punggungnya. Maria berbaring telentang di sebelahnya. Memeknya yang basah menempel di tangan Evan, yang dipermainkan Evan dengan begitu gemasnya. ”Maria, kontolku sakit.” bisik Evan sedikit mengerang.

Maria yang mengerti segera membantu Evan melepas celana. Saat sudah telanjang, Maria sedikit tercekat memandangi kejantanan Evan. ”Besar sekali, Van.” gumamnya kagum.

Evan tersenyum. Segera ia berikan benda coklat panjang itu pada Maria untuk dikocok dan dijilat. Maria melakukannya dengan penuh nafsu. Ternyata ia cukup pandai juga memanjakan penis. Evan menikmati segala sentuhan dan perhatiannya. Tak butuh waktu lama, batang kontolnya sudah ngaceng penuh. Tampak sangat basah dan mengkilat oleh air liur Maria Selena.

”Sudah siap, Van,” kata Maria mengomentari batang kontol Evan.

”Ntar dulu... jilatin terus, biar makin gede.” kata Evan ketagihan.

Maria menjilatinya lagi, sampai akhirnya Evan meraih tubuh mulusnya dan menidurkannya di atas ranjang. Karena tinggi badan Maria tidak jauh beda dengan Evan, maka wajah gadis itu tepat berada di depan wajah Evan. Mereka terdiam saling berpelukan, menikmati tubuh mereka yang sedang menempel erat. Agak lama keduanya saling terdiam. Hanya tangan Evan yang tampak bergerak-gerak meremas dan mengusap-usap bukit payudara Maria.

Meski hujan masih terus mengguyur, ruangan makin terasa hangat, bahkan cenderung panas. Tubuh mereka mulai berkeringat. Dengan hidungnya Evan bisa mencium wangi tubuh Maria. Begitu harum. Begitu menggairahkan. Tanpa bisa menahan diri, kembali ia lumat bibir tipis Maria kuat-kuat. Maria menyambut dengan menghisap dalam-dalam bibir Evan. Disedotnya pula lidah laki-laki tampan itu.

”Ahhh...” Maria melenguh saat ciuman Evan turun ke arah leher dan buah dadanya. Ia peluk kepala Evan, mengusap-usap dan menekannya lebih dalam begitu Evan mengulum dan menghisap puting susunya yang sudah tegak menantang.

Di bawah, tangan Evan juga bergerak meraba-raba paha mulus Maria, sebelum akhirnya mengusap-usap lembut rambut kewanitaan gadis cantik itu, berulang-ulang. Setelah dirasa cukup, dengan jari tengahnya Evan memasuki celah sempit kewanitaan Maria. Ia masukkan perlahan-lahan jari itu sebelum menariknya lembut tak lama kemudian. Keluar-masuk... keluar-masuk... begitu terus berulang-ulang. Sampai akhirnya Maria merintih penuh nikmat karena tindakannya itu.

”Auhh, Van...” kepala Maria bergerak-gerak tak beraturan ke kiri dan kanan, kadang juga maju-mundur. Sepertinya ia sudah mulai on lagi.

Evan meningkatkan serangan. Sambil mengocok semakin cepat, terus ia jilati puting payudara Maria. Ia puntir-puntir benda merah mungil itu dengan ujung lidahnya, sebelum ia hisap dan kunyah-kunyah berulang kali. Maria memejamkan mata menikmati semua itu. Hanya bibirnya yang terlihat meringis menahan nikmat. Itu terjadi saat jari nakal Evan menemukan klitorisnya, dan segera memainkannya dengan menekan, menggelitik dan memencet-mencetnya pelan hingga membuat Maria semakin menggelinjang karenanya. Keringat tampak mengucur deras dari wajahnya yang cantik jelita.

”Jangan masturbasi sendiri, sini aku bantu.” kata Maria saat melihat Evan mengocok batang kejantanannya sendiri. Gadis itu menggeliat. Dadanya dinaikkan. Putingnya tampak mencuat indah. Sekeliling payudaranya basah oleh keringat. Kakinya ditekuk sedikit. Mulus sekali.

Evan segera merebahkan badan di samping tubuh indah Maria. Ia miringkan badan, memeluk Maria dari samping. Gadis itu tersenyum dengan nafasnya yang masih agak cepat namun teratur. Evan meletakkan kaki kanan di atas paha mulus Maria. Lututnya tepat berada di tulang kewanitaan gadis cantik itu. Evan menggerak-gerakkannya ke atas dan ke bawah, menggesek bibir kewanitaan Maria pelan. Batang penisnya menempel erat di pinggul montok gadis itu, dengan tangan kirinya mengusap-usap payudara Maria yang mengganjal lembut di depan dadanya.

”Giliranku untuk memuaskanmu,” ujar Maria sambil beringsut bangun dan duduk bersila di samping perut Evan. Tanpa basa basi, ia langsung memegang dan mengurut-urut batang kontol Evan dengan tangan kirinya.

”Uffh...” Evan kontan melenguh nikmat dengan mata terpejam. Maria terus mempermainkan kejantanannya. Gadis cantik itu mencengkeramnya kuat, sebelum dilepas lagi. Cengkeram, lepas lagi. Begitu terus. Jadi senut-senut jadinya. Sedikit ngilu namun sangat nikmat.

Saat melihat Evan merintih keenakan, dengan jempolnya Maria kemudian mengusap-usap ujung kejantanan Evan. Dikocoknya batang besar itu dengan lembut, semakin lama menjadi semakin cepat. Dan seiring waktu menjadi makin cepat lagi, namun tetap dengan lembut dan sangat nikmat. Evan menikmati semua rangsangan itu sambil memejamkan matanya. Ia merasa di awang-awang. Apalagi saat tangannya tanpa sengaja menemukan tonjolan payudara Maria yang menggantung indah di depan perutnya. Dengan penuh nafsu Evan segera meremas-remas dan memijitinya. Terasa sangat kenyal dan nikmat sekali. Jari-jarinya dengan gemas memainkan puting yang mungil dan indah, bergantian ia pilin-pilin ringan. Terasa sangat menonjol karena Maria juga sama-sama terangsang.

Maria kemudian merubah posisi. Dengan tangan tidak lepas dari kejantanan Evan, ia melangkahi laki-laki itu. Perlahan ia mulai menduduki perut Evan. Tangannya dengan lembut membimbing batang kontol Evan untuk memasuki lubang surgawinya.

”Auw, Van!” rengek Maria begitu kejantanan Evan masuk menusuk ke dalam lubang memeknya. Slebb...! Maria mendudukinya dengan mantap, menelan seluruh batang kontol Evan ke dalam lorong kewanitaannya. Terdengar ia sedikit merintih merasakan bagaimana kejantanan Evan telah menikam tubuh sintalnya.

Evan tersenyum. Maria balas tersenyum. Dadanya yang bulat besar dengan puting yang menonjol indah tergantung dengan begitu manisnya. Tangan Evan segera terjulur kesana, kembali meraih dan meremas-remasnya dengan begitu gemas dan penuh nafsu.

”Kamu cantik dan seksi sekali, Maria.” kata Evan tulus dan pelan.

Tidak menyahut, Maria mulai menggerakkan pinggulnya. Pelan, memutar. Evan menikmatinya dengan kedua tangan terus mengelus-elus kedua bukit payudara Maria. Ia biarkan Maria yang memegang kendali. Dengan bertumpu pada pundak Evan, gadis itu memompa tubuh sintalnya dengan begitu keras dan liar. Kesan sebagai mantan Puteri Indonesia hilang sudah, tergantikan oleh seorang Maria Selena yang jalang dan nakal, haus akan sentuhan birahi. Evan membantu dengan sedikit menaikkan posisi pinggulnya sehingga batang penisnya terasa menghunjam semakin dalam di lorong kewanitaan Maria.

Merasa nikmat, Maria mulai menggerakkan pinggulnya semakin cepat. Matanya terpejam, sementara rambut panjangnya yang kini terurai ke punggung tampak sudah mulai basah oleh keringat. Bibirnya yang merah tipis digigitnya sendiri, dan tubuhnya yang sintal terus berguncang-guncang menyetubuhi Evan. Tangannya mendekap jari-jari Evan di dadanya, menekannya agak sedikit lebih keras sehingga Evan semakin mengeraskan cengkeraman. Ia remas-remas kuat payudara Maria, merasakan betapa lembut dan kenyalnya benda bulat padat itu. Maria menyambut dengan goyangan pinggul semakin menggila, ia menggenjot tubuh Evan bertubi-tubi, tiada henti dan tanpa lelah. Erangan semakin keras terdengar dari mulutnya yang merah tipis.

”Ahh... ahh... tusuk lebih keras, Van.” erang Maria.

Evan mengimbangi dengan ikut menggerakkan pinggulnya. Makin keras ia menyodok, makin keras desahan dan erangan Maria.

Hingga kemudian, ”Aaacchh...” Maria mengerang panjang, tubuh sintalnya menggelinjang sebentar sebelum kemudian terdiam. Maria lalu merebahkan tubuh di atas perut datar Evan, memeluknya erat. Evan balas merangkul mesra, membiarkan Maria menikmati sisa-sisa orgasmenya yang masih melanda.

Kontol Evan masih tegak dan keras di dalam liang memek Maria, dan Evan mulai menggerakkannya perlahan saat dilihatnya Maria sudah sedikit lebih tenang. Bahkan Maria kini duduk lagi, tapi kali ini ia mengambil posisi berjongkok. Seperti tadi, mulanya goyangan mereka cuma pelan. Namun seiring waktu yang terus berlalu, dan juga karena Maria yang sudah mulai ON lagi, makin lama goyangan itu menjadi semakin cepat. Evan juga semakin dalam menusukkan batang penisnya, bisa dirasakannya lorong kewanitaan Maria yang sudah begitu basah dan licin, namun tetap sangat nikmat dan menggairahkan.

Terasa sesuatu mulai mendesak ingin keluar dari dalam tubuh Evan. Berawal dari perut, kenikmatan itu mengalir menuju ujung batang penisnya. Evan melenguh, merasa kalau sebentar lagi ia akan mencapai puncaknya.

”M-Maria, a-aku mau keluar... ahh…” bisik Evan lirih sambil mempercepat gerakan tubuhnya. ”Di dalam atau di luar?” tanyanya memastikan.

Tanpa menjawab, Maria segera mencabut jepitan memeknya dari batang kontol Evan. Lalu dikocoknya kejantanan Evan dengan cepat, namun belum juga keluar.

”Emut, Maria...” pinta Evan.

Maria segera menunduk dan memasukkan batang kontol Evan ke dalam mulutnya. Dengan tangan tetap mengocok, ia mememainkan lidahnya, mengemut-emut ujung kontol Evan. Terus seperti itu hingga pada akhirnya...

”Maria, aku keluaarr..!! Arghhhh...” teriak Evan sambil mendekap erat tubuh montok Maria Selena. Dari ujung kontolnya, menyembur cairan kental berkali-kali. Sangat banyak dan deras sekali hingga memenuhi mulut manis Maria. Dengan tanpa ragu Maria menelan semuanya. Bahkan tangannya terus mengocok, seperti memeras sperma Evan hingga tetes terakhir.

Agak lama kejantanan itu berada di dalam mulutnya. Ketika sudah loyo, baru Maria mengeluarkannya. Diambilnya tissu untuk menyeka sisa-sisa sperma Evan yang belepotan di bibirnya. Evan memandangi dengan perasaan kagum, sama sekali tak menyangka kalau Maria Selena yang mantan Puteri Indonesia ternyata begitu liar dan binal di atas ranjang. Maria memeluk dan tersenyum kepada Evan. Untuk beberapa saat mereka hanya saling menatap sambil rebah bersisian di atas ranjang.

“Thanks, Maria... kamu benar-benar luar biasa.” bisik Evan sambil mengecup lembut bibir tipis Maria.

”Sama-sama, Van... kamu juga hebat,” lirih Maria.

Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 00:20 dini hari. Lebih dari satu jam mereka bercinta. Di luar hujan masih turun, namun sudah tidak sederas tadi. Tak terasa sudah lebih dari lima belas menit mereka berbaring dalam posisi diam.

”Van, aku pengen mandi. Rasanya tubuhku lengket semua,” suara merdu Maria mengejutkan Evan.

”Ya udah sana mandi,” jawab Evan. “Eh... pintunya jangan dikunci ya, siapa tau ntar aku mau nyusul,” tambahnya begitu melihat Maria mulai beranjak bangun.

”Huh... maunya, aku sudah lemes tau.” sahut Maria manja, ia jentikkan jari telunjuknya ke hidung Evan sebelum kemudian berlalu menghilang di balik pintu kamar mandi.

Evan tersenyum dan melanjutkan lamunannya. Mengingat betapa beberapa menit yang lalu ia telah melalui sebuah permainan cinta yang sangat indah, bersama gadis yang begitu cantik dan jelita. Sungguh jauh lebih indah dibandingkan dengan pengalaman-pengalamannya terdahulu, dengan beberapa wanita yang sempat hadir dalam malam-malamnya yang sepi. Akankah seindah ini saat ia bercinta dengan Chelsea nantinya? Ah, Evan tidak pernah tahu. Chelsea begitu dekat, namun sekaligus juga sangat sulit untuk diraih.

Tanpa sadar Evan telah melangkahkan kaki ke arah kamar mandi untuk menyusul Maria. Ia memutar handle pintu, ternyata memang tidak dikunci. Perlahan Evan membukanya untuk kemudian kembali mendapatkan suatu pemandangan yang sangat memukau. Terlihat samar-samar dari belakang bagaimana Maria tengah menikmati pancuran air dari shower yang membilas lembut tubuh sintalnya. Kaca penutup shower menghalangi pandangan Evan karena telah tertutup uap panas, namun entah bagaimana justru pemandangan yang tersamar ini malah membangkitkan kembali gairahnya. Dengan cepat penisnya yang layu mulai mulai menunjukkan reaksinya.

Perlahan ia membuka pintu kaca shower untuk kemudian mendekap erat  tubuh montok Maria dari belakang. ”Hei..!” seru suara terkejut Maria begitu menyadari ada orang lain yang berada dalam kotak showernya. Namun setelah mengetahui kalau itu adalah Evan, gadis itupun terdiam. Bahkan ia tersenyum dan diam saja saat Evan mulai mendaratkan ciuman bertubi-tubi ke arah leher belakangnya yang jenjang.

”Ughh... Van,” lenguh Maria pendek. Sementara Evan masih menciumi seluruh tubuhnya, perlahan ia menyabuni seluruh tubuh Evan dengan pelan dan lembut. Mula-mula tangan Evan, lalu dada dan perut. Sebelum kemudian dimintanya Evan untuk berbalik, sekarang punggung laki-laki itu yang mendapatkan giliran.

Setelah bagian atas tubuh Evan rata terkena busa sabun, Maria pun  berjongkok. Disabuninya kaki Evan, lalu naik ke paha. Evan memejamkan mata. Ia rasakan seluruh elusan dan usapan tangan lembut Maria di sekujur tubuhnya. Sampai akhirnya Maria memegangi kejantanannya, mengelusnya perlahan. Terasa sangat licin karena busa sabun, namun juga begitu nikmat saat Maria mulai mengocok dan mengurutnya.

Tidak lama, hanya sekedar ingin membangunkan benda itu, Maria kemudian  menarik dan melepaskan genggaman tangannya. Kini tiba giliran Evan. Ia segera mengambil sabun dari tangan Maria. Mula-mula ia mengusap kedua tangan Maria. Lalu beralih ke perutnya yang mulus dan rata. Sebelum kemudian tangannya merayap naik, meraih kedua payudara Maria dan mengelusnya pelan menggunakan busa sabun. Evan meremas dan memijitnya dengan lembut. Terasa begitu kenyal. Puting merahnya tampak mencuat indah ke atas, terlihat sangat kontras dengan warna putih mulus kedua bukit kembarnya.

”Ahh... Van,” Maria merintih kegelian. Namun tidak berusaha untuk menghentikannya, yang ada ia malah terlihat menikmatinya.

Evan merapatkan tubuh. Dengan posisi seperti memeluk, tangannya beranjakmenyabuni punggung dan pantat bulat Maria. Ketika tangannya sampai di belahan pantat gadis itu, sengaja Evan sedikit menusukkan jemarinya dengan lembut ke lubang anus Maria.

”Emmhh... Van!” membuat Maria mendengus perlahan karenanya.

Setelah bagian atas tubuhnya rata dengan sabun, Evan lalu berjongkok. Ia mulai mengusap kaki dan betis indah Maria. Pelan, perlahan sekali. Evan sungguh sangat menikmati keindahan ini. Lalu tangannya naik ke paha Maria. Maria agak merenggangkan kakinya agar tangan Evan bisa leluasa menyusup ke celah pahanya. Lalu tangan Evan naik lagi, sampai akhirnya ia bisa menyabuni rambut-rambut kewanitaan Maria. Agak lama Evan mengusap-usap disana hingga bibir kewanitaan Maria mulai merekah indah, tampak sangat menggairahkan sekali.

“Sudah… Van. Geli, aku nggak tahan.” lenguh Maria dengan tubuh sempoyongan.

Evan pun berdiri, ia segera memeluk tubuh montok gadis itu. Terasa licin, tetapi sangat nikmat. Tubuh mereka kembali bersatu, saling meremas dan mengusap dengan penuh nafsu. Evan kembali mencium bibir indah Maria, melumatnya panas bertubi-tubi hingga membuat nafas Maria semakin berat dan terengah-engah. Tubuh keduanya terus bergerak saling menggesek mencari kenikmatan.

Dengan lincahnya tangan Evan mengusap pantat, paha dan kedua bukit payudara Maria. Yang dibalas oleh Maria dengan menggerayangi tubuh telanjang Evan, terutama batang penisnya. Dikocoknya benda coklat panjang itu dengan penuh nafsu. Membuat Evan jadi melenguh, belum pernah ia merasakan nikmat yang seperti ini. Sungguh sangat dahsyat dan menggairahkan.

Maria lalu mundur untuk bersandar di dinding. Kakinya direnggangkan, matanya terpejam seolah mengundang Evan untuk berbuat lebih jauh. Evan yang mengerti segera menempelkan ujung batang penisnya ke bibir kewanitaan Maria yang sudah merekah indah, lalu mendorongnya pelan hingga kemaluannya kembali memenuhi lorong rahim gadis cantik itu. Mereka terdiam dan saling berpandangan untuk sejenak, menikmati bersatunya tubuh telanjang mereka berdua.

Evan mengecup lembut bibir tipis Maria saat mulai melakukan gerakannya. Mula-mula perlahan. Tapi makin lama semakin bertambah cepat. Tangan Maria memeluk kedua pantat Evan, seperti ikut menekan. Nikmat sekali rasanya. Badan keduanya masih sama-sama licin oleh busa sabun hingga mempermudah Evan dalam mengayun-ayunkan pantatnya. Batang penisnya yang panas terus menghujani kewanitaan Maria berulang-ulang, menggesek dan menggerus dinding-dinding rahimnya yang lembab hingga jadi bertambah lengket dan basah. Evan bisa merasakan betapa buah dada Maria menekan perutnya dengan begitu lembut, juga betapa hangat dinding-dinding kewanitaan gadis cantik itu melingkupi batang penisnya yang terus memompa, membawa mereka semakin tinggi terbuai kenikmatan duniawi.

Tak lama, Maria kembali merasa tak tahan. Segera dipeluknya tubuh kekar Evan erat-erat saat ia mencapai puncak birahinya. Evan yang merasa batang penisnya dijepit kuat, membalas dengan menancapkan pinggulnya semakin kuat. Ia terus mengayun, berharap bisa segera menyusul Maria yang masih kelojotan keenakan dalam pelukannya.

“Ahh…” lenguh Maria saat Evan mencabut batang penisnya dan memutar tubuh indahnya agar menghadap ke dinding. Sepertinya laki-laki itu menginginkan doggy style. Maria pun menuruti karena  diam-diam ia rupanya juga menyukainya.

Dengan pantat masih licin oleh busa sabun, Maria pun menungging. Evan mengusap-usap sebentar bokong bulat Maria, sebelum jari tengahnya memainkan kewanitaan Maria tak lama kemudian. ”Ahh... Van,” kontan Maria  melenguh. Apalagi saat Evan memainkan klitorisnya dengan mengusap dan memilin-milin menggunakan dua jari. Maria makin menggelinjang karenanya.

”Sekarang, Van... lakukan sekarang...” desahnya saat sudah tak tahan. Lekas dipegangnya kejantanan Evan, dibimbingnya masuk ke dalam celah kewanitaannya.

Evan memejamkan mata. Pelan ia tusuk bibir memek Maria dari arah belakang. Terasa sangat licin, sungguh nikmat sekali. Ia condongkan badan ke depan agar bisa menusuk lebih dalam lagi. Tangan Evan terjulur untuk meraih kedua bukit indah payudara Maria, dan diusap-usapnya pelan penuh nafsu. Sama, juga terasa licin. Seluruh permukaan tubuh Maria terasa licin oleh busa sabun, nikmat sekali. Evan terus menggerayangi tubuh mulus gadis itu sambil tetap menusuk, menggenjotkan batang penisnya ke dalam celah kewanitaan Maria.

Dengan memegang sisi pinggul Maria, Evan mulai mempercepat ayunan. Maria mengimbangi dengan menggoyang-goyangkan pinggulnya. Jeritannya terdengar semakin keras.

”Di dalam atau di luar, Maria?” bisik Evan saat merasa sudah akan keluar, nafasnya terengah-engah.

”Di luar saja,” sahut Maria, tidak ingin hamil oleh kencan kilat ini.

Evan segera mencabut kejantanannya dari lubang kewanitaan Maria. Maria yang mengerti lekas membalik badan dan lalu jongkok untuk mengocok dan mengulum batang kejantanan Evan.

“Argghhhhh…” dengan diiringi lenguhan panjang, benih-benih cinta Evan muncrat ke wajah cantik Maria. Meski tidak sebanyak tadi namun cukup untuk membuat mulut tipis Maria belepotan. Maria terus mengurut dan meremas-remas kejantanan Evan sampai laki-laki itu mengeluarkan tetesan spermanya yang terakhir.

Maria lalu meratakan cairan cinta Evan ke dada, perut dan tonjolan payudaranya. Baru kemudian ia basuh dengan air shower. Evan membantu dengan menggosok-gosok tubuh indah Maria, membersihkan sisa-sisa busa sabun yang masih menempel. Tetapi tetap saja, yang lama ia gosok adalah payudara Maria yang putih ranum. Bahkan putingnya ia hisap-hisap, Evan menetek seperti anak kecil yang minum asi pada ibunya. Maria hanya tertawa saja melihat perbuatannya.

”Nggak usah pakai handuk, Maria.” kata Evan ketika Maria mau keluar menuju tempat tidur.

Maria tersenyum. Menuruti permintaan Evan, ia keluar dari kamar mandi dengan tubuh tetap telanjang bulat. Evan mengikuti dari belakang. Hawa kamar sudah menjadi sedikit lebih hangat, hujan di luar sudah mereda sepenuhnya.

”Lapar?” tanya Evan singkat pada Maria yang kembali merebahkan tubuh di atas ranjang.

”Sangat,” sahut Maria sambil tersenyum.

Tepat saat itulah, terdengar pintu kamar diketuk dari luar. Maria segera membungkus tubuhnya dengan selimut, sementara Evan kembali balik ke kamar mandi untuk bersembunyi disana. Rupanya itu asisten rumah tangga Maria yang datang membawakan makanan.

Setelah mengucapkan terima kasih, Maria segera mengundang Evan untuk makan bersama. Ia menuangkan sebotol coca-cola ke dalam gelas yang telah berisi es. Evan langsung meneguknya. Ah, kesegaran serentak memenuhi tenggorokannya yang kering. Sepiring nasi goreng mereka makan berdua. Evan dan Maria saling menyuapi, sungguh sangat romantis suasana waktu itu.

Evan memangku tubuh mulus Maria Selena, yang sambil makan terus menggerak-gerakkan pantatnya sehingga batang kejantanan Evan yang terjepit mulai mengeras kembali.

”Sakit kontolku, Maria...” bisik Evan sedikit mengerang.

”Sebentar...” Maria mengangkat pantatnya, kemudian memegang kejantanan Evan yang sudah siap tempur dan perlahan ia masukkan ke dalam celah kewanitaannya. Bless... kembali alat kelamin mereka saling bertemu dan bertautan.

”Nggak sakit lagi kan?” tanya Maria sambil tersenyum.

Evan tertawa, memang nakal sekali gadis ini..
loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kisah Petualangan Evan 8 : Kenalan Baru"

Post a Comment