Sponsored Links

Kisah Petualangan Evan 7 : Tamu Yang Tak Disangka

Menjelang pagi hari, Evan terbangun ketika merasakan ada yang mengerjai tubuhnya. Ternyata Hannah dan Marissa yang sudah telanjang bulat sedang mengerjai bagian-bagian tubuhnya.

Mereka berdua menciumi dada Evan, juga menjilati putingnya. Marissa di sebelah kiri, sedangkan Hannah di sebelah kanan. Kemudian Marissa yang sudah mulai naik nafsunya segera membuka celana boxer Evan dan menariknya hingga terlepas. Karena Evan tidak memakai CD, maka kontolnya pun langsung menyembul kencang.

Hannah yang asyik menjilati puting Evan berbisik pada Marissa, "Kita kerjai sama-sama yuk, Ris." kata Hannah sambil tersenyum.

Mereka berdua langsung berjongkok. Marissa memandangi kontol Evan dengan berbinar, "Ah, gila nih kontol, besar banget! Bisa kelojotan lagi nih memekku. Han, aku isep batangnya ya, kamu isep bijinya!" kata Marissa.

"Oke, Ris. Tapi gantian ya?" pinta Hannah.



Marissa mulai menjilat kepala kontol Evan. Evan merasakan jilatan Marissa lebih mantap ketimbang Hannah. Marissa lebih terampil menjilat, ia memasukkan kontol Evan ke dalam mulutnya sambil lidahnya menjilati ujung benda coklat panjang tersebut. Sementara di bawah, Hannah yang tidak mau kalah dengan begitu ganasnya mulai menjilat dan mengenyot habis biji pelir Evan yang menggantung indah.

Dengan telaten Hannah terus menjilati pangkal kontol Evan, bahkan sampai ke anusnya juga.  Sementara Marissa tanpa henti terus mengeluar-masukkan kontol Evan ke dalam mulutnya, dia juga mulai mengocok batang Evan dengan jari-jari tangannya yang lentik.

Evan merasakan nikmat sekali. Dengkulnya seakan mau copot. Ia salah, ternyata dalam hal menghisap kontol, Hannah dan Marissa sama-sama piawai. "Aah... enak banget, Ris... aah... kamu jago banget nyepongnya!" erang Joni keenakan, “Ooh.. nikmat banget, Han... terus... enak gila...” ia juga mengerang ketika Hannah mengenyot biji pelirnya semakin kencang.

"Mmmh... kontol kamu juga enak, Van... mmh...” balas Marissa. Ia lalu memutar tubuhnya sehingga sekarang memeknya berada tepat di atas mulut Evan. “Van, jilatin memekku dong?" pintanya.

Mengikuti instruksi gadis cantik itu, Evan pun mulai menjulurkan lidah untuk menjilati celah liang memek Marissa. Mantan VJ MTV itu terlihat sangat menikmati sekali apa yang diperbuat oleh Evan pada liang memeknya. Ia merintih dan menjerit semakin kencang.

"Aaah... enak, Van... terus... yah begitu..." erang Marissa. “Hmm… kocok memekku… hisap itilku, Van...” ia melenguh keenakan setiap kali Evan memainkan jari dan menghisap tonjolan itilnya. Marissa membalas dengan terus menghisap batang kontol Evan. Sementara di sebelahnya, Hannah juga terus mengulum dan menjilat biji pelir Evan.

15 menitan kontol Evan dikerjai oleh dua cewek cantik tersebut, namun belum ada tanda-tanda kalau Evan akan keluar dalam waktu dekat. Mulut Marissa mulai capek, begitu juga dengan Hannah. Marissa segera mengeluarkan kontol Evan dari dalam mulutnya dan melepaskan memeknya dari jepitan bibir laki-laki itu. Tindakannya itu diikuti oleh Hannah. Kini keduanya duduk mengelilingi Evan sambil bernafas terengah-engah.

”Ayo,” Evan meminta salah satu diantara mereka untuk bersiap-siap dientoti.

Hannah langsung mengangkangi tubuh Evan, dipegangnya kontol besar laki-laki itu lalu diselipkan ke bibir memeknya. Pelan-pelan Hannah mulai menurunkan pantatnya sehingga batang kontol Evan mulai masuk menembus lubang vaginanya.

Slleepp... Blleeess...

Kewanitaan Hannah yang tembem dan rimbun terasa sangat sempit saat melingkupi kemaluan Evan, terasa begitu ketat dan rapat karena memang jarang sekali dipakai. Hannah mendesah sejenak, baru kemudian mulai menaik-turunkan pantatnya sehingga kontol Evan yang besar dan panjang mulai  keluar masuk di lubang vaginanya. Dengan penuh semangat Hannah  menggoyang dan memutar bokongnya, mengulek-ulek kontol Evan yang menancap dalam di lorong memeknya.

Evan mendesah-desah penuh nikmat saat menerimanya. ”Oughh... Han,  memekmu... shh... aah... empotannya... aah... enak...” tangannya melingkar di buah dada perempuan cantik itu dan mulai meremas-remas pelan.

Gerakan naik turun pantat Hannah semakin lama menjadi semakin cepat. “Arghh… kontolmu juga enak, Van… ahh… rasanya memekku jadi sesak banget...” Hannah mendesah-desah sambil terus memutar pinggulnya.

Marisaa yang duduk di sebelahnya ikut membantu dengan memberikan tonjolan buah dadanya pada Evan, mempersilakan laki-laki itu untuk menjilat dan menyusu disana. Marissa dengan senang hati meneteki Evan dengan payudaranya yang bulat besar.
 
“Oughh… Van, aku tahan lagi… aku mau keluar… arghhh…!!” Hannah berteriak kencang, tubuh sintalnya mengejang, sementara otot-otot di dalam liang memeknya mencengkeram kuat batang kontol Evan. Ia sudah menggapai orgasmenya.

Seeerr... seeerr... seeerr... cairan kenikmatan Hannah menyemprot membasahi batang kontol Evan.

Setelah kedutan di liang memek Hannah berhenti dan nafas gadis itu mulai sedikit teratur, dengan lembut Evan mendorong tubuh Hannah sehingga kontolnya terlepas dari jepitan memek gadis itu. Evan lalu mengalihkan pandangannya ke arah Marissa yang sedari tadi memperhatikan aksi mereka.

Marissa yang mengerti maksud Evan, sambil tersenyum segera memposisikan diri sedemikian rupa sehingga kini memeknya tepat berada di atas batang kontol Evan. Ia pun langsung menunggangi kejantanan laki-laki itu, bleeess... kontol Evan masuk perlahan ke dalam liang memeknya. ”Ahh...” mengeluh pelan, Marissa mulai menggoyang pinggulnya. Di depan, tangan Evan dengan nakal mulai meremasi tonjolan buah dadanya yang mulus dan indah.

Sementara Hannah yang terkapar karena puncak kenikmatannya, rupanya nafsunya sudah kembali. Dia pun lekas nimbrung dengan mengangkangkan liang memeknya ke muka Evan, meminta untuk dijilat dan dihisap. Evan tanpa menyia-nyiakan kesempatan segera melahap dan mengulumnya penuh nafsu, lidahnya bergerak liar menjilati memek Hannah yang sudah basah kuyup oleh cairan kenikmatan.

“Aaghh… Van, kontolmu masuk semua… aah besarnya... sampai sesak rasanya memekku… oghh...” lenguh Marissa merasakan kontol Evan yang terbenam dalam di liang vaginanya.

“Riss… ahh… memekmu juga sempit… aah… enak...” Evan ikut mengerang merasakan sempitnya liang memek Marissa yang melingkupi batang penisnya, meski tidak sesempit punya Hannah, tapi cukup membuat Evan merintih keenakan juga.

Tak lama kemudian...

"Aaah... Van... aku keluar... aaah... nikmat!" teriak Marissa dengan tubuh menggelosoh memeluk erat badan Evan, ia mengejang berkali-kali saat dari dalam liang memeknya keluar cairan kenikmatan yang banyak sekali. Badan Marissa sampai gemetar dibuatnya, seeerr... seeerr... seeerr...  setelah tuntas, barulah Marissa melenguh puas sambil berbaring lemas kelelahan.

Evan yang masih belum klimaks, segera memanggil Hannah yang terduduk menanti di depannya, "Han, kamu nungging dong!" pintanya sambil menarik pantat Hannah ke atas.

Hannah tanpa membantah langsung menekuk kedua kakinya, ia menungging tepat di depan Evan. Dengan kaki terbuka lebar, liang memeknya jadi kelihatan merekah indah sekali. Tidak hanya itu, Hannah juga menggoyang-goyangkan bokongnya untuk menggoda Evan. Ia seperti ingin memamerkan bokongnya yang bulat besar pada laki-laki itu.

"Han, bokong kamu bagus juga," puji Evan, dan tanpa banyak basa basi, ia langsung menghujamkan kontolnya ke liang memek Hannah sambil menepuk-nepuk bulatan bokongnya.

“Ughh… pelan-pelan, Van…” Hannah melenguh saat batang kontol Evan mulai melesak masuk ke dalam liang vaginanya.

Mendengar itu, Evan mendiamkan gerakannya sejenak. Beberapa saat kemudian, setelah Hannah mulai bisa menikmati, dengan sekali sentakan, ia pun menekan kontolnya kuat-kuat ke dalam liang memek Hannah. Perbuatan itu kontan membuat Hannah menjerit kaget, "Aaah... ganas banget sih kamu, Van... pelan-pelan dong!" protesnya.

"Habis aku gemes lihat bokongmu," kata Evan. Ia memang tak tahan melihat bongkahan pantat Hannah yang bulat besar, sambil terus mengayunkan kontolnya, ia pun segera meremas dan menepuk-nepuk bulatan daging indah itu. Tangan Evan juga meremas-remas susu Hannah yang terus bergoyang-goyang pelan, bergerak ke depan dan ke belakang seirama dengan sodokan pinggulnya.

“Oughh... Van, terus... oughh... enak sekali... oughh... sodok yang keras, Van... tekan yang dalam... oughh...” lenguh Hannah menjadi-jadi.

Evan terus menekan batang kontolnya lebih dalam di liang memek Hannah, begitu dalamnya sampai ia merasakan ujung kepala penisnya seperti menyentuh dinding rahim gadis itu.

“Aghh... aku sudah tak tahan lagi, Van... oughh... aku mau keluar... uhh... enak sekali kontolmu... ahh...” Hannah mengerang. Seeerr... seeerr... seeerr... tanpa bisa dicegah, ia pun mencapai puncak kenikmatan untuk yang kedua kalinya di pagi hari itu. Tubuhnya mengejang, sementara memeknya berdenyut-denyut kencang saat mengeluarkan lahar kenikmatannya.

”Ahh...” Evan ikut merintih, ia merasakan dinding memek Hannah seperti meremas-remas batang kontolnya. Evan segera menekan lebih dalam dan membiarkan kemaluannya terbenam sebentar di dalam liang memek Hannah.

”Auw... hhh... hah...” tubuh Hannah terus bergetar dengan hebat, kepalanya mendongak ke atas, sementara matanya terpejam rapat. Terlihat pantatnya masih mengejang-ngejang seirama dengan semburan cairan kenikmatannya yang masih mengalir keluar. Hannah mencengkram paha Evan kuat-kuat untuk melampiaskan rasa nikmatnya.

Evan menunggu dengan sabar, setelah gelombang kenikmatan Hannah mereda, barulah ia memompa lagi batang kontolnya. Kali ini lebih cepat dan kencang, juga lebih dalam. Makin lama, genjotannya menjadi semakin kasar dan brutal, hingga Hannah merasakan kontol Evan mulai berdenyut pelan tak lama kemudian.

“Ayo, Van, tembakkan pejuhmu di dalam memekku!” Hannah berkata memberi semangat pada Evan yang sebentar lagi akan mencapai puncak kenikmatannya.

“Iya, Han... nih, terima ini!” Evan menggeram, tubuh kekarnya melenting ke depan saat ia menekan batang kontolnya dalam-dalam di liang kemaluan Hannah.

Crooott... crooott... crooott... pejuhnya dengan kencang menyemprot, memenuhi liang memek Hannah hingga jadi semakin terasa basah dan lengket. Cairan mereka bertemu dan bercampur menjadi satu.

Evan terdiam, sejenak menikmati sisa-sisa orgasmenya. Setelah semburan pejuhnya berhenti dan nafasnya mulai sedikit teratur, barulah ia mencabut batang kontolnya dari jepitan liang vagina Hannah. Evan mengeluh saat merasakan badannya sungguh sangat capek setelah dalam waktu yang hampir beruntun harus memuaskan dua cewek yang birahinya begitu tinggi.

Namun ia juga merasa puas karena dapat merasakan sempitnya memek Hannah dan Marissa yang tidak semua lelaki bisa mendapatkannya. Hanya yang beruntung seperti dirinya lah yang bisa. Memek Hannah sungguh masih sangat sempit karena baru sekali ditembus oleh kontol lelaki. Sementara memek Marissa juga tak kalah sempit meski sudah beberapa kali dipakai. Bagi Evan, persetubuhan kemarin dan hari ini benar-benar sangat menguras tenaganya, namun ia juga mendapatkan balasan setimpal; kepuasan yang teramat sangat.

"Gila, kamu kuat banget, Van... sore hari bikin Marissa KO, lalu malamnya gantian aku yang KO... dan pagi ini, kami berdua kamu bikin KO. Bener-bener deh, kamu memang pejantan sejati... nggak nyesel deh sudah dientot sama kontolmu yang gede ini..." kata Hannah sambil mengelus-elus batang kontol Evan yang sudah setengah melemas.

“Aku juga puas banget dapat ngentoti kalian berdua. Makasih ya...” balas Evan, lalu diciumnya kening Hannah dengan lembut. Sementara itu Marissa yang kelelahan sudah tidur terlelap di sebelah mereka.

“Kamu kuat sekali, Van... baru kali ini kutemukan lelaki sangat perkasa seperti dirimu.“ puji Hannah jujur.

“Mau lagi?“ tawar Evan sambil tersenyum.

“Aah... gila kamu! Masa masih kuat?!“ cubit Hannah tak percaya.

Lagi asyik-asyiknya bercanda, saat itulah, tiba-tiba terdengar suara langkah sepatu dan seseorang yang memanggil-manggil nama Hannah. ”Haan... Hannah... aku datang!” seru suara itu.

”Oh my god, itu mbak Nadya. Mau ngapain dia kesini?” pekik Hannah bingung. Evan juga ikut bingung, tak ingin dipergoki dalam keadaan seperti ini. Hanya Marissa yang tampaknya tidak terpengaruh, memang ia masih tertidur sih...

”Kapan masuknya, kok nggak kedengaran?” tanya Evan.

”Mbak Nadya punya kunci sendiri, villa ini kan dulu pernah dipake buat acara nginap kru MTV VJ Hunt.” terang Hannah.

”Jadi, kalau gitu, dia itu...” tebak Evan. Terbayang di wajahnya seorang model dan pemandu acara TV berdarah campuran Australia dan Batak.

”Ya,” Hannah mengangguk membenarkan, ”Nadya Hutagalung.”

Evan melongo, tak tahu harus berbuat apa. Antara senang dan takut bercampur menjadi satu dalam hatinya, dan belum sempat ia bertindak untuk menyelamatkan diri, tahu-tahu Nadya sudah nongol di depan pintu.

”AHH... APA-APAAN KALIAN!!!” jeritnya kencang dengan mata membelalak lebar.  Di usianya yang sudah menginjak 39 tahun, ia masih kelihatan cantik dan seksi sekali.

”Eh, gini, Mbak...” Hannah mencoba menjelaskan, tapi bingung harus mulai dari mana.

Evan sendiri tetap terdiam, hanya batang penisnya yang bergerak untuk memberikan jawaban. Benda itu perlahan bangun dan mengeras begitu memperhatikan tubuh molek Nadya.

”Cepat pakai baju kalian! Pagi-pagi udah berbuat mesum...” semprot Nadya garang, dia memang kelihatan marah, tapi sekilas Evan bisa menangkap kalau Nadya juga memperhatikan tubuh telanjangnya.

”Van, coba lihat tuh... kita jahilin yuk!” ajak Hannah, rupanya ia juga memperhatikan lirikan mata Nadya pada batang penis Evan.

Evan tentu saja mengangguk setuju. Beriringan mereka bangkit dan melangkah pelan menghampiri Nadya.

”Eh, kalian mau apa?” tanya perempuan cantik itu ketakutan. Apalagi saat merasakan tangan Hannah yang masih ada sisa pejuh Evan dioleskan ke muka dan bibirnya. ”Mpph... ffggh...” sontak Nadya terkejut dan membuang muka. ”Kalian jangan kurang ajar ya!” hardiknya cepat.

”Udahlah, mbak... saya tahu kalau mbak juga ikutan pengen, nggak usah munafik deh,” Hannah tersenyum-senyum genit.

”AHH... aku... ehh... anu...” Nadya gelagapan kehabisan kata-kata. Ingin membantah tapi bahasa tubuhnya menunjukkan kesan sebaliknya, tak berkedip ia menatap batang kontol Evan.

”Kalau mbak Nadya horny, nggak papa kok... saya rela membagi Evan buat mbak.” kata Hannah ringan.

”Iya, mbak. Saya masih kuat kok!” tantang Evan sambil mengelus-elus penisnya naik turun di depan mata Nadya, membuat si cantik yang kini tinggal di Singapura itu makin tak sanggup mengalihkan pandangannya. Ya, walaupun sudah menyemprotkan amunisinya dua kali, kontol itu masih sanggup untuk berdiri kencang. Malah sekarang benda itu berdenyut-denyut pelan dan mengangguk-angguk dengan gagahnya seolah menyetujui usul Evan dan Hannah yang sangat nakal.

”Ahh... aku... aku...” gagap Nadya mulai sedikit gentar.

Tidak ingin menunggu lama, Evan yang sudah kembali bergairah segera melumat habis bibir Nadya yang mungil. ”Mmph... mmppf... aah...” Nadya mendesah, tapi tidak kelihatan ingin menolak. Yang ada ia malah berbisik meminta pada Evan, ”Yah, puaskan aku, Van... guyur aku dengan pejuhmu!”

Evan tertawa, begitu juga dengan Hannah. Mereka senang bisa mengajak Nadya, senior VJ di MTV, ikut dalam petualangan gila ini. Evan kembali  melumat bibir tipis perempuan cantik itu, juga leher Nadya yang jenjang. Tak lupa ia juga menjilati telinganya yang kontan membuat Nadya merinding dan tersengal-sengal geli. Rupanya disitu adalah salah satu titik rangsangannya.

Hannah membantu dengan melepas celana ketat yang dipakai oleh Nadya. Ohh, pantas di selangkangannya tidak terlihat alur celana dalam, rupanya Nadya cuma memakai G-String mungil yang hanya mampu menutupi bulatan itilnya. Selebihnya... terlihat bibir memeknya yang sudah membengkak kemerahan dan basah kuyup oleh cairan lendirnya. Permukaan kemaluannya terlihat bersih dari bulu jembut, hal ini membuat kontol Evan makin tegak dan mengeras tajam.

”Ohh... Van... sshh... aah...” Nadya merintih-rintih sambil menggeleng-gelengkan kepalanya saat bibir Evan mulai turun ke arah bulatan payudaranya.

Perlahan-lahan Evan membuka kemeja Nadya hingga bongkahan payudaranya yang bulat kencang menyembul keluar. Benda itu masih terbungkus bh merah sexy, kontras sekali dengan warna kulit Nadya yang sangat putih dan mulus. Evan menelan ludah, tak sanggup membayangkan seperti apa isi bh merah itu.

”Ohh... Mbak Nadya kok mulus banget sih!” Evan mulai menceracau. “Susu mbak montok banget... paha mbak sekel dan putih... bikin saya jadi tambah ngaceng,”

Nadya menatapnya sambil tersenyum. Tak menjawab, matanya sesekali melirik ke arah kontol Evan yang kini sudah mengeluarkan lendir dari ujung lobangnya. Dan sejurus kemudian, Nadya menurunkan bh-nya.

”Ini kan yang kamu mau?” tanyanya kepada Evan saat bulatan payudaranya yang tegak mengacung terlempar keluar. Putingnya kelihatan merah sekali. Meski sudah pernah melahirkan dan memiliki tiga orang anak, payudara itu tidak kelihatan kendor sama sekali. Sama-sama montok dan menggairahkan seperti milik Hannah dan Marissa, hanya ukurannya yang sedikit lebih kecil.

Tapi itupun sudah cukup untuk membuat Evan tergoda. Cepat ia mendekatkan bibir dan melahapnya. Hap! Mulutnya dengan rakus mulai menghisap puting Nadya yang sebelah kiri, sementara tangannya meremas-remas yang sebelah kanan sambil tak lupa memilin-milin putingnya.

”Auhh... Van... ampun...” Nadya berteriak menahan nikmat.

”Mbak, kontol Evan diusap dong... tuh nganggur!” ujar Hannah mengingatkan.

Segera tanpa diperintah dua kali, Nadya meraih kontol Evan dan mengusap serta mengocoknya secara bergantian.

”Uhff... Mbak... nggak nyangka bisa berbuat begini sama mbak.” Evan mendesis keenakan. Apalagi saat dirasakannya Nadya ternyata sangat terampil dalam urusan kocok mengocok, sehingga tak perlu waktu lama, kontolnya sudah menegang sekeras baja, ujungnya mengkilat kemerahan, dengan urat-urat mungil bertonjolan liar di seluruh permukaannya. Benda itu sudah siap untuk digunakan kembali.

Evan yang tak sabar segera membalik tubuh molek Nadya sehingga posisi wanita cantik itu sekarang nungging di depannya. Lututnya bertumpu pada ranjang, sementara punggungnya meliuk, menambah keseksian dan kecantikannya. Dengan pantat membulat padat, tampak bibir memek Nadya merekah merah dan berkilat licin oleh cairan birahinya. Evan pun langsung menyerbunya setelah terlebih dahulu memelorotkan g-string yang masih menutupi. Dengan rakus ia menjilati itil dan mengorek-ngorek liangnya yang sempit.

”Arghh... Van... ohh... nikmat banget!” Nadya menjerit dengan nafas tersengal. Nafasnya memburu cepat. Sementara matanya tertutup rapat menikmati segala perlakuan Evan pada lubang vaginanya.

Evan terus menjilat lagi untuk beberapa lama. Setelah dirasakan suhu memek Nadya bertambah panas, serta lendir cintanya mengalir semakin banyak, segera ia menghentikan aksinya dan cepat menggantikan dengan batang kontolnya. Ia arahkan benda coklat panjang itu ke liang memek Nadya, siap untuk menusuk dan merojoknya.

”Ughh... aaghhh... Vaann!!” pantat Nadya sedikit tersentak menerima hunjaman kontol Evan yang begitu tiba-tiba.

Untung Hannah memegangi tubuhnya, kalau tidak, bisa-bisa ia jatuh karena saking kagetnya. Kontol Evan begitu besar, lebih besar dari milik suaminya, juga lebih panjang, karena itulah Nadya jadi merintih nikmat karenanya. Memeknya jadi terasa begitu penuh. Ujung yang tidak pernah dicapai oleh suaminya, kini bisa disentuh oleh Evan. Apalagi saat Evan mulai memompa tubuhnya, tanpa bisa dicegah, ia pun menjerit-jerit nikmat. Tubuhnya bagai disetrum berkali-kali, terus bergetar dan terkejang-kejang sepanjang permainan.

Evan juga merasakan hal yang sama. Memek Nadya terasa lain dari yang lain. Meskipun sama-sama becek dan mampu berdenyut kencang, ia merasakan sensasi lain dibandingkan milik Hannah dan Marissa. Yang ini lebih ketat dan menggigit, padahal sudah melahirkan 3 orang anak. Gimana saat perawan dulu ya? Evan tak sanggup untuk membayangkannya. Yang pasti sangat nikmat sekali.

”Sini, Van...” Hannah memberikan bibirnya, mengajak Evan untuk berciuman. Mereka saling melumat bibir untuk beberapa saat sebelum Evan merasakan otot-otot di sekitar pantat dan selangkangan Nadya mengejang dengan tiba-tiba. Belum sempat ia berekasi, Nadya sudah menekan pantatnya dan melolong begitu panjang...

”OOUUWWWW... VAANNN... AKU NYAMPEEE!!!” nafas perempuan itu tertahan sejenak saat dari dalam liang senggamanya mengucur air cinta yang amat banyak, membasahi batang kontol Evan yang masih menghujam dengan begitu cepatnya.

Tanpa berhenti, Evan terus menyerang, seolah ingin menghajar memek sempit itu. Lendir birahi Nadya terasa hangat di batang penisnya, makin membuatnya bergairah. Memek Nadya memang jadi sedikit becek, namun tetap sempit dan menggigit, bahkan kini kedutannya terasa semakin kencang. Itu yang disukai oleh Evan, membuatnya jadi tak tahan.

“C’mon, honey... shot your sperm inside my mouth!” Nadya meminta, ia menoleh menatap Evan dengan pandangan mata sayu.

“Bentar, mbak… oughh… lagi nanggung nih...” sahut Evan sambil terus memaju-mundurkan pantatnya. Ia usap-usap bokong Nadya yang putih bulat untuk makin menambah rasa nikmatnya, hingga tak lama kemudian, “AARRGGHHH… HERE I COME!” sambil berteriak keras, Evan mencabut kontolnya dan lekas mengarahkannya ke mulut Nadya.

Nadya dengan serta merta membalik tubuh untuk menerimanya. Ia meraih kontol Evan dan mengocoknya cepat sambil mulutnya menghisap kepala dan biji pelirnya. “C’mon... Van, keluarin pejuhmu!” pinta Nadya. “Aku pengen ngerasain pejuh kamu.” tambahnya genit.

Hannah pun tak tinggal diam. Dia memeluk Evan dari belakang dan menggesek-gesekkan payudaranya yang bulat besar ke punggung laki-laki itu. Tangan Hannah juga meremas-remas bokong Evan untuk menambah rangsangannya.

Diserang dari dua arah seperti itu, Evan pun tak tahan. Ia menyerah. Dalam satu sentakan cepat, dari ujung penisnya menyembur cairan kental yang amat banyak... crooott... crooott... crooott... memenuhi rongga mulut Nadya yang sudah terbuka sedari tadi.

Meski sudah siap, dan mengharapkannya, tampak Nadya sedikit gelagapan saat menerimanya. Tak kurang dari lima semburan kencang diberikan oleh Evan, sebagian besar bisa ia telan, sisanya yang tak tertampung meleleh di hidung, mata, dan pipinya. Nadya menjilati sisa-sisanya yang masih nampak menetes dari ujung kontol Evan sebagai penutup.

”Aah... auw... sudah, Mbak... sudah... jangan dihisap terus... geli!!” Evan meringis kegelian.

”Gimana, mbak... puas kan?” tanya Hannah sambil mencolek lelehan sperma di pipi Nadya dan menjilatinya rakus.

”Ahh... enak banget, Han!” angguk Nadya. ”Gila si Evan, kontolnya gede banget... memekku rasanya jadi begitu penuh. Mana kontol dia panjang lagi, berasa mentok di rahimku.”

”Liang mbak nggak dalem sih,” timpal Evan. Memang benar, dibanding Hannah atau Marissa, lubang memek Nadya adalah yang paling dangkal. ”Tapi asyik kok rasanya, tetep bisa bikin saya ngecret.” hiburnya agar Nadya tidak kecewa.

”No problem, Van... aku juga puas main sama kamu.” sahut Nadya tanpa merasa tersinggung.

Mereka pun bercanda sejenak sekedar untuk melepaskan lelah, sambil tetap bertelanjang badan tentunya. Evan melirik jam, sudah 09.30. Di sebelahnya, Marissa masih tetap tertidur pulas, kelelahan.
loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kisah Petualangan Evan 7 : Tamu Yang Tak Disangka"

Post a Comment