Sponsored Links

Kisah Petualangan Evan 6 : 2 Lawan 1

Selama satu minggu ini Marissa masih merasakan di dalam memeknya ada sesuatu yang mengganjal. Rasanya kontol Evan masih mengisi lubang itu. Masih terbayang dalam ingatannya bagaimana dia merasa puas dengan terjangan batang kontol Evan, seseorang yang baru saja ia kenal, yang katanya adalah teman dekat Tya Ariestya. Masih terbayang dalam benak Marissa bagaimana enaknya dientoti oleh kontol Evan yang besar dan panjang itu.

Lagi enak-enaknya berkhayal, tiba-tiba nada panggil di HP-nya berbunyi. Marissa melihat layar, ternyata telepon dari Hannah Al-Rasyid, teman satu manajemen yang sama-sama berdarah Arab. Seperti juga Marissa, Hannah juga sangat cantik dan seksi. Payudaranya juga besar seperti milik Marissa.

“Hallo,” sapa Marissa.

“Hai, Ris, aku mau ajakin kamu main ke Vila di Puncak punya Om aku.” kata Hannah to the point.

Marissa tidak segera menjawab, pikirannya justru membayangkan alangkah nikmatnya jika dia dapat dientot Evan di Vila itu.

“Gimana, Ris, kamu mau nggak?” tanya Hannah saat melihat temannya cuma diam.

Marissa yang sudah kegatelan pun punya ide gila. “Mau-mau aja, tapi aku boleh bawa temen nggak?”

“Cewek apa cowok?” tanya Hannah.

“Cowok dong. Biar nggak kedinginan di Puncak.” seru Marissa.

“Huh, dasar. Baru juga ditinggal beberapa minggu ma Daniel ke LN. Kamu udah cari gebetan baru. Payah kamu, Ris.” sahut Hannah bercanda.

“Eh, yang ini sih bukan gebetan, tapi pejantan. Hahaha...” Marissa tertawa.

“Maksud kamu?” tanya Hannah penasaran.

“Ah, nanti kamu juga tahu. Gimana, boleh nggak?” tanya Marissa.

“Oke, oke, gimana kamu aja. Entar hari Sabtu aku jemput kamu ya?” kata Hannah.

“Nah, gitu dong. Oke, aku tunggu.” Marissa tersenyum mendengar jawaban Hannah, ’Siap-siap aja kamu, Han, ntar kamu akan kelojotan kalau memek kamu ditusuk kontol gedenya si Evan...’ batin Marissa.

***



Siangnya, Marissa menemui Evan di tempat syuting. “Van, hari Sabtu-Minggu ada acara nggak?” tanyanya.

“Emang kenapa?” Evan balik bertanya.

“Gini, temen aku ngajakin ke Vila punya pamannya di Puncak. Kalau kamu nggak ada acara, mau nggak ikut aku kesana?” jawab Marissa.

Evan tidak langsung menjawab. Dia teringat pada Chelsea, pacarnya. Kalau dia pergi, berarti sudah dua malam minggu ini Chelsea tidak ia kunjungi. Memang sih Chelsea tipe cewek yang tidak pernah menuntut tiap malam minggu mesti ketemuan. Tapi sebagai pacar, Evan jadi kasihan juga padanya. Rencananya malam minggu ini dia akan mengajak Chelsea jalan-jalan. Namun Evan juga membayangkan kenikmatan yang akan didapat kalau dia memenuhi ajakan Marissa. Dia masih ketagihan kenikmatan saat mengentoti Marissa seminggu yang lalu. Kini kenikmatan itu terbayang lagi. Apalagi Marissa bilang kalau disana nanti ada temannya. Pasti akan lebih nikmat apabila dia dapat mengentoti mereka berdua.

“Gimana, Van, mau ikut nggak?” tanya Marissa, “Siapa tahu nanti kamu dapat mencoba juga alat pemanasnya Hannah, teman aku yang punya villa. Miliknya jarang sekali dipakai lho...” bisik Marissa berpromosi.

Mendengar cerita gadis itu, Evan jadi terpengaruh juga. Dalam benaknya dia pun ingin merasakan memek sempit Hannah Al-Rasyid. “Oke Deh, aku ikut. Kebetulan aku nggak ada acara,” jawab Evan pada akhirnya.

“Nah, gitu dong.” seru Marissa, “Punyaku juga udah gatal nih, pingin disodok lagi sama punyamu...” bisik Marissa di dekat telinga Evan.

***

Akhirnya hari Sabtu pun tiba. Sesuai rencana, Hannah, Evan dan Marissa berangkat menuju Puncak jam 10 pagi. Siang itu jalan menuju Puncak sudah agak sedikit padat. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 2,5 jam, akhirnya mereka tiba di Vila milik paman Hannah. Vila itu tempatnya masih masuk, jauh dari jalan raya, sehingga tempatnya tenang, sangat cocok sekali untuk beristirahat melepas penat dan bisingnya kota Jakarta. Bangunannya cukup besar dengan dikelilingi oleh pagar tinggi, sehingga aktifitas apapun yang mereka lakukan di dalam Vila tidak akan terlihat oleh orang luar, sekalipun mereka berada di halaman Vila.

Begitu tiba, mereka segera masuk ke kamar masing-masing. Hannah menempati kamar paling depan, Marissa di kamar tengah, sedangkan Evan di kamar paling belakang dekat kolam renang. Setelah menikmati makan siang, mereka bertiga beristirahat di kamar masing-masing untuk menghilangkan penat akibat perjalanan.

Jendela kamar Evan tepat menghadap ke kolam renang, dan karena letak tempat tidurnya berada persis disamping jendela, maka dari tempat tidurnya ia dapat melihat ke arah kolam renang dengan sangat-sangat jelas.

Sejak habis makan siang tadi, Evan hanya tidur-tiduran di atas ranjang sambil melihat acara olah raga di saluran ESPN dari TV yang ada di kamarnya. Lagi asyik-asyiknya menonton, tiba-tiba ia dikejutkan oleh langkah kaki seseorang yang melewati jendela kamarnya menuju ke arah kolam renang. Evan segera memalingkan mukanya, ia melihat ke arah kolam renang. Disana, terlihat Hannah yang sudah berdiri di tepi kolam renang. Evan tidak berkedip mengamati tubuh montok gadis itu yang hanya terbungkus bikini mungil yang sangat seksi.

Evan makin terpana ketika melihat bagian bawah tubuh Hannah. Tepat di tengah selangkangannya, bukit memek Hannah tampak menggembung dengan bayangan hitam jembutnya terlihat sangat jelas. Karena jarak kolam renang dengan jendela kamar Evan sangat dekat, maka dari atas tempat tidurnya, Evan dapat melihat jembut Hannah yang nongol ke samping dan ke atas bikininya. Sementara susu gadis itu terlihat sangat montok sekali sehingga BH-nya yang kekecilan seperti tidak muat menampung semuanya. Pantat Hannah juga bulat dan padat. Karena gadis itu memakai bikini model G-string, maka Evan dapat melihat bokong telanjang Hannah. Evan beberapa kali menelan ludahnya memandangi bodi sintal Hannah Al-Rasyid. Jakunnya bergerak naik-turun.

Sedang asyik-asyiknya memandangi tubuh molek Hannah, Evan dikagetkan  oleh suara Marissa, “Hayo, lagi ngintipin Hannah, ya?” goda gadis itu sambil matanya melihat keluar jendela kamar Evan. “Sampai melongo gitu, kamu kayaknya nafsu banget lihat bodinya Hannah,” sambung Marissa yang sudah berdiri di samping tempat tidur Evan.

Kini pandangan Evan beralih ke arah Marissa. Saat ini gadis itu hanya memakai gaun tidur yang sangat tipis sekali sehingga terlihat jelas lekuk-lekuk tubuhnya yang sintal. Sekilas pandang, Evan dapat melihat kalau Marissa tidak memakai apa-apa lagi di balik baju tidur tersebut.

“Segar, Van, habis mandi.” kata Marissa berusaha mengalihkan perhatian Evan.

Evan yang sudah tidak tahan, dengan cepat menarik tangan Marissa hingga gadis itu jatuh ke dalam pelukannya.

”Auw!” menjerit kaget, Marissa sama sekali tidak kelihatan menolak. Ia yang tahu kalau Evan sudah ingin mengentotinya, segera membuka satu persatu pakaian Evan hingga pemuda itu telanjang bulat. Kemudian Marissa juga membuka gaun tidurnya sendiri sehingga mereka jadi sama-sama telanjang sekarang. Dengan gemas ia raih kontol Evan yang sudah ngaceng berat dan lekas dikocoknya penuh nafsu.

“Aah... aku udah nggak sabar pingin ngerasain kontolmu, Van!” seru Marissa sambil duduk dan memeluk Evan serta mencium bibir laki-laki itu.

Evan yang juga sudah bergairah langsung memeluk tubuh montok Marissa, bibirnya dengan cepat menghisap bibir Marissa, sementara tangannya mulai meremas-remas susu gadis itu yang terasa mulai mengeras padat. Dengan gemas Evan memilin dan memelintir-lintir putingnya yang juga sudah mengeras tajam.

"Kamu udah nafsu ya, pentil kamu udah keras banget.” bisik Evan. ”Aku yakin, memek kamu pasti juga udah basah. Iya ’kan?" tebaknya. Dengan semakin banyaknya cewek yang berhasil ia entoti, kini Evan semakin berpengalaman juga dalam urusan seks. Dia mulai hafal tanda-tanda cewek yang mulai naik nafsu birahinya.

Tidak menjawab, Marissa terus mengelus dan mengocok-ngocok kontol besar Evan.

"Ooh... yah begitu, Ris… ughh, nikmat banget!" desis Evan. Dia sekarang berbaring, sedangkan Marissa menelungkup di atas tubuhnya. Gadis itu mulai menjilat sambil terus mengocok-ngocok batang penisnya. Tak lupa biji peler Evan yang mungil kembar juga diremas-remas mesra. Uh, sungguh sangat nikmat sekali rasanya.

"Gede banget kontolmu, Van, bikin orang ketagihan!" kata Marissa gemas sambil menurunkan kepala dan mulai memasukkan kontol Evan ke dalam mulutnya.

"Ooh... ssh... nikmat banget, Ris," erang Evan suka. Marissa tengah menjilati kepala kontolnya, gadis itu menghisap sambil terus mengocok-ngocoknya pelan. Sesekali Marissa juga memasukkan seluruh batang kontol Evan ke dalam mulutnya untuk dikenyot dan dilumat habis.

"Ooh... enak banget, Ris!" teriak Evan kelojotan.

Marissa mengambil nafas, ia berhenti menghisap kontol Evan tapi terus ia kocok-kocok pelan.

"Isep lagi, Ris! Isep lagi! Enak banget!!" pinta Evan tak sabar.

Tidak menghiraukan, Marissa tetap mengocok-ngocok kontol Evan sambil ia pelintir pelan-pelan.

"Essh... ooh... enak banget, Ris... enak banget... terus, Ris!!" desis Evan.

Marissa terus melakukan aktivitas tangannya, membuat Evan jadi makin merintih tak tahan.

"Jangan pakai tangan, Ris... pakai mulut kamu... isep lagi... ayo!" pinta Evan memelas.

Marissa hanya tersenyum dan mulai menghisap lagi. Kali ini benar-benar hot,  kepalanya sampai bergoyang ke kiri dan ke kanan, bahkan naik-turun berkali-kali, sementara tangannya terus mengocok dan memutar batang kontol Evan. Marissa terus melakukannya hingga terasa batang kontol Evan makin menegang keras.

"Terus, Ris, isep terus!" jerit Evan, hampir saja pertahanannya bobol akibat hisapan Marissa yang begitu nikmat. Tapi tepat sebelum spermanya menyembur keluat, Evan cepat menghentikan aksi gadis cantik itu.

”Stop dulu, Ris, stop. Berhenti sebentar!” ia menarik kepala Marissa, lalu diajaknya duduk di sebelahnya. "Makasih ya, Ris, enak banget..." puji Evan  sambil mencium pipi Marissa penuh cinta. Ia memeluk pinggang Marissa yang ramping saat melumat mesra mulut gadis itu.

"Essh..." Marissa mendesis saat tangan nakal Evan mulai meraba bulatan payudaranya dan meremas-remasnya pelan. Ia yang juga sudah terangsang, segera merebahkan diri. Tangannya tetap mengelus-elus batang kontol Evan, sementara Evan terus meremas-remas buah dadanya dengan bibir mulai menjilati leher Marissa yang jenjang, lalu turun dan terus turun hingga sampai di belahan payudara Marissa yang curam.

"Terus, Van, terus ke bawah lagi!" kata Marissa setengah berteriak. Ia mendorong kepala Evan agar terus turun hingga tepat berada di depan bukit kemaluannya.

”Hmm,” Evan memandanginya. Dengan hidungnya ia dapat merasakan kelembaban pada daerah memek Marissa yang tertutup jembut lebat. Sepertinya benda itu sudah begitu basah, terlihat dari lendir bening lengket yang mulai merembes keluar dari celahnya yang sempit.

"Ayo, Van, jilati memekku!" teriak Marissa tak sabar.

Tapi bukannya segera menjilat, Evan malah menciumi paha Marissa, juga telapak kaki dan betis jenjang gadis cantik itu, sebelum ditutup dengan mencium kembali bibir Marissa penuh kemesraan.

”Ahh, Van!” Marissa membalas ciuman itu dengan gemas. Apalagi saat Evan menjilati daun telinganya. Pintar juga Evan merangsang nafsu Marissa. Kali ini kembali giliran buah dada Marissa yang jadi sasarannya. Dengan penuh nafsu Evan meremas-remasnya sambil tangan satunya mulai menggosok-gosok itil Marissa yang sudah terasa menyembul kaku.

"Masukin tanganmu, Van, ssh... aku udah nggak tahan!" Marissa kembali  memohon agar Evan menggarap lubang memeknya.

Tidak menjawab, Evan terus saja meraba memek marissa sambil mulutnya tak henti-henti menjilat serta menciumi susu besar gadis itu.

"Kamu jahat...!!!" teriak Marissa kesetanan. Sebagai pembalasan, ia remas-remas kontol Evan dengan sangat keras.

"Auw! Isep, Ris! Aku pengen diisep lagi," kata Evan sambil sedikit menarik kepala Marissa mendekati batang kontolnya.

"Nggak ah, tadi kan udah. Sekarang giliranku!” desis Marissa. Evan yang masih asyik menghisap susu Marissa, merasa kepala didorong ke bawah. "Jilat memekku, Van!" pinta gadis cantik itu sambil jari-jari tangannya membuka belahan bibir memeknya.

Evan segera menjulurkan lidah dan melahapnya dengan begitu rakus. ”Nyam, nyam,”

“Ooh, Van… nikmat sekali! Terus, Van, isep itilku... yah begitu, Ooh...” lenguh Marissa saat merasakan nikmat yang luar biasa akibat jilatan lidah Evan. Tubuhnya sedikit menggelinjang saat Evan memasukan lidahnya dalam-dalam ke celah liang memeknya.

"Auw! Van, terus... yang dalem... ooh, nikmat banget!!" jerit Marissa sambil terus menekan kepala Evan, berharap agar lelaki itu terus menghisap dan menjilati lubang memeknya.

Evan melakukannya, dengan sabar ia terus menggarap memek sempit Marissa. Hingga akhirnya, “Ough… Van, s-sudah… ssh... aah… m-masukin… cepat masukin... aku ingin kontolmu ke dalam memekku… ough… aku nggak tahan lagi, Van… cepat! Aku pingin merasakan kontolmu yang besar itu…” Marissa mengerang saat gairah di tubuhnya sudah memuncak tinggi sekali.

Evan pun merangkak dan mulai mengatur posisi. Dia menempatkan tubuh diantara selangkangan Marissa yang sudah siap menerima sodokan penisnya. Begitu melihat memek Marissa yang sudah mereka kemerah-merahan, ia lekas menempelkan kepala kontolnya ke bibir memek gadis itu. Setelah itu ditekannya perlahan-lahan sampai amblas seluruhnya, masuk tenggelam ke memek sempit Marissa hingga ke pangkal-pangkalnya.

“Oughh... Van, kontolmu gede banget... rasanya memekku sampai penuh... ohh!” Marissa melenguh dengan mata terpejam-pejam akibat gesekan kontol Evan yang kini mulai bergerak pelan, menggesek bagian dalam liang kelaminnya secara lembut dan mesra.

“Hmm…” Evan mendesah dan terus menggoyang. Ia juga menjilat dan menggelitik puting susu Marissa dengan bibirnya agar makin menambah kenikmatan persetubuhan itu.

Marissa berusaha memberi perlawanan. Setiap hujaman kontol Evan, cepat disambutnya dengan goyangan pinggul dan pantat secara berlawanan. Terasa sekali oleh Evan betapa batang kontolnya seperti dilumat-lumat oleh benda lembut saat Marissa melakukan itu. Bahkan kepala penisnya seperti dikenyot-kenyot oleh dinding memek Marissa yang basah dan hangat. Evan jadi makin bersemangat dibuatnya, terus ia gerakkan kontolnya keluar-masuk di dalam memek sempit Marissa yang terasa begitu ketat dan mencekik.

Lewat beberapa menit, Marissa mulai terlihat tidak dapat bertahan. Matanya terpejam-pejam, sementara mulutnya mendesah-desah dengan nafas tersendat-sendat parah. "Ough… Van, aku mau keluar… aghh!!” rintihnya dengan tubuh mengejang kaku. Akhirnya ia sampai juga pada puncak klimaksnya. Marissa menjerit lirih, “Oughh… aku keluar, Van... sshh… aghh!!”

Seerr… seerr… seerr… Dinding memek Marissa berdenyut-denyut kencang saat memuntahkan lahar kenikmatannnya. Evan merasakan betapa hangatnya cairan itu, ia juga merasakan denyutan-denyutan yang sangat kuat meremas-remas batang kontolnya saat cairan kenikmatan Marissa menyembur kencang membasahi batang kontolnya.

"Aduh, aduduh... aah... enak, Ris!" Evan mengerang menikmati empotan memek Marissa. Didiamkannya sebentar batang kontolnya untuk merasakan pijitannya yang nikmat.

Karena melihat kontol Evan yang masih tegak menantang, Marissa yang baru saja orgasme, birahinya jadi bangkit kembali. “Hhm, Van, puaskan aku! Entot aku lagi dengan kontol besarmu itu... ouh… bawa aku ke puncak kenikmatan lagi!” erang Marissa.

Mengangguk mengiyakan, Evan kembali mengocok kontolnya di liang memek Marissa, gerakannya sekarang jadi lebih leluasa karena benda sempit itu sudah sangat basah oleh cairan kenikmatannya. Bunyi kecipak kontol Evan saat memasuki liang memek Marissa semakin menambah sensasi kenikmatan mereka berdua.

“Puaskan aku, Van, ohh… yah, terus pompa kontolmu! Oouh... tekan yang dalam… yang kuat, Van… yah, lagi... yang kuat… ohh… kontolmu enak banget!” Marissa merintih-rintih menikmati enjotan kontol Evan di dalam liang memeknya, ia tidak peduli lagi kalau suaranya dapat didengar oleh orang lain. Dan gadis itu terus menjerit-jerit dengan hebatnya hingga tubuhnya kembali menjadi kaku dan menegang tak lama kemudian.

Evan yang tahu kalau Marissa hampir mencapai puncaknya kembali, berbisik di telinga gadis cantik itu. ”Kita sama-sama, Ris!” ia yang rupanya  juga sudah tak mampu lagi bertahan, mulai bergetar akibat menahan suatu desakan yang sudah terasa di ujung kontolnya.

“Oogh... aku keluar, Van! Arghh…” lenguh Marissa duluan. Seerr… seerr… seerr… lahar kenikmatannya kembali menyembur dengan kuat membasahi batang kontol Evan. Pelukannya di tubuh Evan semakin erat, sementara matanya terpejam menikmati puncak birahinya.

Tak mau kalah, Evan mengerang dan menekan dalam-dalam kontolnya ke liang memek Marissa. “Uugh… aku juga keluar, Ris! Aahh...” Crroot… crroot… crroot… dari ujung kontolnya, memancar cairan putih yang sangat banyak, memenuhi liang rahim Marissa hingga jadi begitu basah dan penuh.

Keduanya berpelukan dengan erat menikmati saat-saat indah puncak kenikmatan dari persetubuhan itu. Bibir mereka berpagutan dengan mesra. Marissa dengan perlahan-lahan menggoyangkan pinggulnya untuk memeras  sisa-sisa pejuh Evan untuk terakhir kali.

Tak lama berselang, Evan melepaskan pelukannya dan mencabut kontolnya yang mulai mengkerut dari dalam liang memek Marissa. Kontolnya tampak mengkilat karena cairan kenikmatan mereka berdua, sementara dari memek Marissa terlihat cairan putih mengalir perlahan membasahi sprei. Keduanya kemudian beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

***

Di tepi kolam, Hannah menghembuskan nafas yang sudah sejak tadi ia tahan. Persetubuhan antara Evan dan Marissa benar-benar menyita perhatiannya. Melihat adegan itu, Hannah tidak dapat berbuat apa-apa selain melakukan masturbasi untuk menyalurkan gejolak birahinya. Sempat 2 kali ia  merasakan puncak kenikmatannya sambil membayangkan bahwa cewek yang sedang dientot oleh Evan adalah dirinya.

’Gila, kontol Evan gede banget... Ihh, apa muat kalau kontol itu masuk ke dalam memekku...’ batin Hannah, ’Nanti malam, akan k buktikan omongan si Marissa waktu di telepon kemarin. Ah, jadi pingin juga merasakan kontol yang gede itu!’ lanjutnya dalam hati sambil membetulkan posisi bagian depan G-string nya yang tadi sempat menyamping akibat gesekan jari-jarinya yang mengocok memeknya sendiri. Terlihat memek Hannah sudah basah kuyup akibat cairan kenikmatan yang keluar dari dalamnya.

Saat Evan dan Marissa masuk ke kamar mandi, lekas Hannah bergegas masuk ke dalam Vila dan berjalan cepat menuju kamarnya sendiri. Ia juga harus membersihkan diri guna menyambut malam yang penuh gairah nanti.

***

Sehabis makan malam, Evan duduk santai di Gazebo yang ada di taman belakang menikmati indahnya sinar bulan. Udara Puncak yang masih bersih terasa segar terhirup paru-parunya. Tidak berapa lama kemudian, Hannah datang menghampirinya.

“Kok sendiri, Van, mana Marissa?” tanya gadis itu.

“Nggak tahu, tadi habis makan malam dia langsung masuk ke kamarnya. Mungkin dia ketiduran.” jawab Evan.

“Kayaknya Marissa kecapekan habis bertempur sama kamu. Tadi sore hot banget lho!” kata Hannah dengan senyum manis tersungging di bibirnya yang tipis.

“Hayo, tadi ngintip ya?” goda Evan.

“Ih, sorry lah yow... lagian siapa yang ngintip, nggak usah ngintip juga udah kelihatan jelas kok dari jendela kamarmu. Makanya lain kali kalau mau main tutup dulu dong jendelanya, soalnya kalau sudah merasakan nikmatnya, biasanya suka lupa tuh sama keadaan sekitar.” kata Hannah membela diri.

“Emang sengaja kok, biar kamu kepingin,” kata Evan memancing reaksi Hannah, “Kamu pasti kepingin ML juga kan lihat aku sama Marissa tadi?” pancingnya.

“Ya iya lah... aku kan masih normal. Kalau sampai nggak kepingin, wah bisa gawat, harus ke psikolog, karena itu berarti ada kelainan alias sudah nggak normal lagi.” jawab Hannah.

“Kalau sekarang kita ML, mau nggak?” tanya Evan langsung to the point.

“Kalau aku mau, memangnya kamu masih kuat? Bukannya tadi sore udah bertempur habis-habisan sama Marissa?” tanya Hannah.

“Mau nggak?” tanya Evan meyakinkan.

“Mau sih, tapi...” kata Hannah ragu-ragu sambil menundukkan wajahnya yang cantik.

“Tapi apa?” tanya Evan penasaran.

“Tapi nanti mainnya pelan-pelan ya,” kata Hannah lirih, “Soalnya memekku baru sekali dientot sama cowok dan lagi kontolnya tidak segede punya kamu.” lanjutnya. Wajah Hannah sudah memerah pertanda mulai terangsang. Nafsu birahinya sudah menggebu-gebu sejak sore tadi saat dia menyaksikan persetubuhan antara Evan dan Marissa.

Mendengar jawaban itu, dengan penuh nafsu Evan langsung memeluk tubuh montok Hannah Al-Rasyid kuat-kuat, diciuminya kening dan pipi gadis itu sambil melumat bibirnya dengan nafsu birahi yang sudah menggelegak. Bibir mereka saling melumat, lidah mereka saling berbelit dan berkait erat.

Sambil berciuman, kini tangan Evan mulai mengusap-usap susu Hannah yang menyembul montok, terasa sangat kenyal dan padat sekali meski masih tertutup oleh baju dan BH berenda. Evan berulang kali mengusapnya dengan pijitan lembut namun sangat menggairahkan.

"Buka aja, Van, lakukan apa yang kamu mau. Malam ini kuserahkan tubuhku untukmu!“ kata Hannah pasrah.

Maka Evan pun segera melucuti pakaian gadis itu hingga yang tersisa di tubuh montok Hannah hanya BH dan CD saja. Itupun tidak lama karena Evan juga memelorotkan BH Hannah ke bawah sehingga bagian tubuh atasnya sudah dalam keadaan polos tanpa penghalang. Terlihat jelas betapa indahnya bentuk bukit susu Hannah yang montok dan padat, juga kulitnya yang mulus dan bersih. Dengan tangan gemetar Evan mulai beraksi meremas-remas susu Hannah silih berganti, rasanya yang empuk dan kenyal membuat nafas Evan jadi memburu cepat.

"Ahh, Van, terus remas susuku... ahh!" rintih Hannah keenakan.

Tak cuma meremas, mulut Evan sekarang juga nyosor untuk mengulum dan menjilati putingnya yang mungil kemerahan. Dikemotnya silih berganti sambil sesekali digigit-gigit kecil. Hal yang baru kali kedua dirasakan Hannah setelah ia diperawani oleh mantan cowoknya yang brengsek itu, membuat Hannah menggeliat-geliat dan merintih-rintih kegelian. Tak terhingga nikmat yang dirasakan gadis itu, membuat jiwa Hannah bagai melayang menuju pintu surga.


"Aah... bawa aku ke kamar, Van, kita lanjutkan di kamar aja. Nanti di kamar, kamu boleh melakukan apa saja, sepuasnya...” ucap Hannah dengan tubuh gemetar.

Segera Evan merangkul tubuh montok gadis itu dan mengangkatnya menuju kamar. Ditidurkannya Hannah di kasur, CD-nya yang masih membungkus pingulnya yang bulat lekas ia lepas sehingga kini tubuh mulus Hannah Al-Rasyid benar-benar telanjang bulat. Jantung Hannah berdenyut kencang menanti apa yang akan terjadi. Evan lalu menyerbu bibir dan susu Hannah secara ganas. Nafsu pemuda itu terlihat sangat besar sekali karena baru pertama kali melihat sesosok tubuh gadis cantik yang baru sekali dientot oleh cowok, tergolek indah di depan matanya, siap untuk dinikmati sesuka hati.

”Van,” Hannah mengangkangkan kakinya sehingga lubang bagian dalam liang memeknya yang berwarna merah muda kecoklatan terlihat jelas oleh Evan, tampak benda itu sudah basah oleh cairan pelumasnya.

Evan berlutut di depannya, dengan tangan kiri ia mulai mengelus-elus paha mulus Hannah, sementara yang kanan meraba-raba belahan memek gadis cantik itu, tak lupa jempolnya memijit dan menekan-nekan itil Hannah yang mulai menyembul indah.

“Ooh… Van!” Hannah mendesah.

“Hhm… memekmu enak, Han, wangi!” kata Evan sambil menghisap itil Hannah kuat-kuat dan menjilati liang memeknya.

“Ooh… geli, Van… tapi nikmat…” jawab Hannah sedikit mengerang.

“Ssh... punyamu sempit, Han.” Evan  memasukkan jari tengahnya ke dalam liang memek Hannah sambil terus menjilat. ”Jariku aja nggak muat, apalagi kontolku… hmm…” Terasa liang itu menjepit dengan ketat jari tengah Evan sambil berkedut-kedut pelan.

"Ooh!" Hannah merintih. "Cepat entot aku, Van, cepat! Masukkan kontolmu yang besar itu ke dalam memekku!" teriak Hannah menahan nafsu birahinya yang semakin meninggi.

Evan merasakan jari tangannya basah oleh cairan pelumas yang keluar dari memek Hannah, tanda kalau benda mungil itu sudah siap untuk diterobos.

”Ayo cepat lakukan, Van. Tapi pelan-pelan,” ucap Hannah tak sabar menunggu. Ia memejamkan matanya rapat-rapat ketika merasakan tubuh montoknya mulai ditindih oleh Evan. Dengan sangat hati-hati Evan menusukkan kontolnya.

Sleeeeeeeb...!!!

"Eesh...” erang Evan saat ujung kontolnya mulai membelah bibir memek Hannah. Perlu perjuangan ekstra agar kontolnya dapat menerobos celahnya yang sangat sempit.

“Eegh... sakit, Van, pelan-pelan…” Hannah merintih.

Bleeessss...!!!

Evan terus berusaha menekan kontolnya, tak peduli dengan Hannah yang menggelinjang kesakitan.

“Pelan, Van, jangan terlalu dalam... aduh, sakit!!!” kembali Hannah merintih, ia sedikit meronta saat Evan terus berusaha mendorong kontolnya semakin dalam.

Usaha Evan tidak sia-sia, perlahan tapi pasti kontolnya mulai  menerobos memek sempit Hannah. Sekarang sudah masuk setengahnya.

“Aghh... pelan-pelan, Van, tahan dulu… ahh, kontolmu besar sekali… oughh… rasanya memekku jadi robek!!!” Hannah menjerit saat kontol Evan  semakin dalam menerobos liang senggamanya.

Bleess...!!! Evan menekan sekali lagi.

“Aduh... sakit, Van... arghh... perih!!” Hannah mengerang kesakitan saat merasakan kontol besar Evan yang sudah memenuhi rongga memeknya. Dengan merintih memilukan, ia merasakan sakit seperti saat selaput perawannya dirobek. Hannah memang sudah tidak perawan, namun memeknya baru sekali dimasuki cowok, itupun tidak sebesar punya Evan. Karena sekarang kontol yang dihadapinya sangat besar, juga panjang, maka Hannah sampai menggelinjang ke kiri dan ke kanan untuk meredakan rasa perihnya.

“Sabar, Han... nanti juga nggak sakit. Ini karena liang memekmu belum terbiasa dimasuki batang kontol lelaki. Rileks dan tenang aja, nanti rasa sakit itu akan hilang dengan sendirinya. Percaya deh sama aku,” Evan berkata menenangkan.

Dan itu memang benar. Setelah Hannah mulai tenangm rasa sakit itu pun mulai berkurang. Terasa oleh Hannah liang memeknya yang sempit terisi penuh oleh batang kontol Evan.

"Masih sakit?" tanya Evan penuh perhatian.

"S-sudah  agak mendingan..." sahut Hannah.

”Aku gerakkan sekarang ya?” tanya Evan sambil mulai menggoyang kontolnya maju-mundur secara perlahan-lahan. Ia ciumi mulut Hannah yang sedang mengerang dan merintih penuh kemesraan. Hannah dengan gelagapan membalasnya. Berpegangan pada payudara Hannah yang besar, Evan merubah gerakan pinggulnya, sekarang ia memutar-mutarnya sambil mulutnya asyik memagut bibir tipis Hannah. Evan berharap gerakan ini tidak terlalu menyiksa memek sempit Hannah. Dan ternyata benar, rintihan kesakitan Hannah mulai berganti dengan desahan keenakan. Tampaknya gadis itu sudah mulai bisa menikmatinya.

“Oough… Van, terus… putar aja gitu… enak, udah nggak sakit lagi!” desah Hannah suka.

Evan terus melakukannya, sambil memutar pinggulnya, ia juga kembali menarik dan menekan kontolnya berulang-ulang ke dalam liang memek Hannah. Kali ini tidak ada penolakan, bahkan Hannah tersenyum karena rasa nyeri dan sakit yang mendera lubang kemaluannya telah berubah menjadi rasa geli-geli nikmat yang amat sangat. Hannah merenggangkan kedua pahanya sehingga makin menambah kenikmatan persetubuhan itu. Apalagi Evan juga terus memijit dan memilin-milin puting susunya secara bergantian.

"Enak, Van, terus... ouhh... ahh..." rintih Hannah.

“Hhm... memek kamu enak banget, Han, sempit… ooh...” Evan ikut  mengerang keenakan sambil terus menggenjot liang memek Hannah.

“Ahh... kontolmu juga enak... gede banget, bikin punyaku jadi penuh. Terus, Van... sodok yang kuat...” erang Hannah yang keenakan dengan aksi Evan. Kakinya kini menjepit pinggang Evan. Saat pemuda itu melesakkan kontolnya, ia menekan pinggang Evan ke bawah sehingga kontol Evan melesak makin dalam di liang memeknya. Pelukan tangannya juga semakin erat memeluk tubuh Evan, sementara nafasnya semakin memburu. Rupanya Hannah hampir mendekati puncak kenikmatannya, ia di ambang pintu klimaks.

Dengan kaki menekan kuat-kuat pinggang Evan, dan pelukan yang bertambah kencang, tubuh Hannah pun mengejang. Seerr... seerr... seerr... Dari liang memeknya menyembur cairan lahar yang banyak sekali. Evan  merasakan kontolnya menjadi hangat akibat semburan itu, ia juga merasakan dinding memek Hannah berkedut-kedut dengan kuat, seolah meremas dan memijit-mijit batang penisnya.

“Ahh... aku keluar, Van! Kontolmu betul-betul enak... aah!!” Hannah melenguh sejadi-jadinya saat merasakan letupan-letupan puncak birahi yang terus melanda tubuh sintalnya.

Evan menghentikan genjotan kontolnya dan membiarkan kontolnya tetap berada di dalam liang memek Hannah, ia ingin memberi kesempatan pada gadis itu untuk menikmati puncak birahinya. Setelah kedutan di dalam memek Hannah melemah, barulah Evan menggenjot kembali batang kontolnya. Makin lama genjotannya menjadi semakin cepat akibat liang memek Hannah yang sekarang sudah sangat basah. Rasanya begitu nikmat, Evan bisa merasakan desakan pejuh mulai menggelegak di ujung kepala kontolnya.

”Han, aku mau keluar.” bisiknya pada Hannah.

”Terserah kamu, keluarin aja di dalam.” sahut Hannah tanpa sadar.


Maka, dengan tubuh mengejang, Evan pun menekan kuat-kuat batang kontolnya hingga melesak lebih dalam ke liang memek Hannah. Dan croott... croott... croott... pejuhnya menyembur di liang memek gadis cantik itu. Kontolnya terus berkedut-kedut menguras segala isinya sampai akhirnya tubuh Evan melemas dan ambruk di atas tubuh montok Hannah tak lama kemudian.

Hannah memeluk erat tubuh Evan. Begitu banyaknya cairan yang mengisi rahimnya hingga beberapa ada yang merembes keluar melalui celah-celah alat kelamin mereka yang masih bertaut erat. Mereka terus berpelukan untuk beberapa saat. Hannah merasakan kontol Evan tetap besar dan keras meski habis muntah-muntah parah.

"Van, aku puas sekali..." kata Hannah, dari wajahnya terpancar rona penuh kepuasan.

"Aku juga, Han. Memekmu sempit banget, aku seperti ngentoti memek perawan." balas Evan.

Disela kenikmatan mereka berdua, mata mereka saling berpandang-pandangan. Hannah melemparkan senyum manis yang mempesona. Pandangan mereka bertemu. Senyuman mereka merekah. Mereka langsung berpelukan erat. Bibir mereka beradu mesra, kecupan lembut menggemaskan, cumbu rayu mereka lakukan untuk membakar gairah birahi yang perlahan mulai datang kembali.

Evan mencabut kontolnya dari dalam liang memek Hannah, lalu merebahkan tubuhnya disamping tubuh gadis itu. Hannah yang semakin berani, segera meraih dan memijit-mijit batang kontol Evan dengan kedua tangannya. Ia mulai mengocoknya dengan lembut sehingga batang coklat panjang itu kembali membesar dan mengeras.

”Ahh, Han!” Evan yang juga tidak ingin tinggal diam, membalas dengan mengemut puting susu Hannah yang terlihat begitu mengagumkan. Ia menjilatinya kiri dan kanan secara bergantian, membuat Hannah jadi merintih-rintih kegelian.

“Ooh, Van... puaskan aku lagi... entot aku dengan kontol besarmu itu... bawa aku ke puncak kenikmatan...” Hannah mengerang.

Evan kembali mengambil ancang-ancang dengan tengkurap di atas tubuh molek Hannah, kontolnya yang sudah berdiri tegak ia arahkan ke lubang memek Hannah yang sudah terbuka lebar dan mulai ditekannya pelan-pelan.

Sleeepp... Bleeess...!!! Tidak seperti tadi, kali ini berjalan dengan lebih lancar dan mudah. Begitu sudah masuk seluruhnya, Evan pun kembali menggerakkan pinggulnya naik turun.

"Ooh, Van... terus, genjot yang kuat... ooh... enak banget!” Hannah mengerang keras merasakan kenikmatan tusukan kontol Evan di dalam liang memeknya. Ia menghentak-hentakkan pinggulnya untuk mengimbangi, sambil sesekali menyembulkannya ke atas saat menyambut tusukan kontol Evan yang begitu tajam dan cepat. Tidak hanya itu, Hannah juga memutar-mutar pinggulnya agar seluruh dinding memeknya dapat berkedut-kedut meremas batang kontol Evan.

“Han, arghh... memekmu kok bisa ngempot gitu sih?! Uhh... enak banget!” erang Evan menikmati jepitan memek Hannah di batang penisnya. Keduanya menikmati persetubuhan yang semakin lama semakin nikmat. Setelah beberapa lama kemudian, barulah...

“Ouh... Van, aku mau keluar... ahh!” Hannah mengerang, tubuh sintalnya mengejang menyambut puncak birahinya yang sebentar lagi akan tercapai.

“Ahh... aku juga, Han!” Evan ikut mengerang.

Croott... seerr... croott... seerr... croott... seerr... berbarengan mereka menggapai puncak kenikmatan. Cairan  orgasme dari kelamin masing-masing berhamburan untuk saling bercambur dan menyatu menjadi satu. Hannah dan Evan merasakan kedutan-kedutan kemaluan pasangannya saat masing-masing menyemburkan lahar kenikmatannya.

Setelah tetes terakhir, Evan perlahan-lahan menarik kontolnya yang sudah mulai mengecil dan mengkerut lemas. Nampak cairan putih bercampur dengan lendir bening menetes mengalir ke kain sprei dari celah memek Hannah.

“Terimakasih, Van, sudah memberiku kepuasan. Aku benar-benar puas malam ini.” Hannah berkata kepada Evan dengan nafas yang masih memburu.

“Sama-sama, Han... aku juga puas sekali ngentoti kamu. Boleh nggak kapan-kapan aku ngentoti kamu lagi?” jawab Evan sambil mengharap lain kali dapat menyetubuhi Hannah lagi.

“Dengan senang hati, Van. Tapi jangan sekarang ya, beri aku waktu untuk beristirahat... Habis kontol kamu gede banget sih, rasanya masih mengganjal di dalam memekku.” jawab Hannah sambil tersenyum manis.

Evan mengangguk, ia kemudian mengenakan pakaiannya kembali. Hannah mengantarnya ke pintu dan memberikan kecupan di pipi sambil mengucapkan terimakasih sekali lagi. Setelah itu Hannah menutup pintu kamarnya. Evan pun menuju ke kamarnya yang ada di belakang dan langsung tertidur pulas, sama sekali tidak tahu kalau besok pagi ia akan mendapatkan kejutan yang tidak kalah nikmatnya
loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kisah Petualangan Evan 6 : 2 Lawan 1"

Post a Comment