Sponsored Links

Kisah Petualangan Evan 5 : Marissa VJ Binal

Semenjak penampilan Evan berubah dan ditambah lagi kini dia punya mobil, maka banyak cewek-cewek di tempat syuting yang mulai mendekati dirinya. Dan Evan pun kini semakin pede dan tidak malu-malu lagi menggoda artis-artis muda pendatang baru tersebut. Apalagi setelah Evan merasakan nikmatnya ngentoti perempuan, kini dia jadi kepingin merasakan memek-memek lain selain milik Tya dan Aura.

Siang itu Evan lagi bersantai sambil menunggu hujan reda sehabis mengantar Tya syuting. Siang itu memang hujan turun sangat lebat. Saat itulah tiba-tiba pandangannya tertuju pada sesosok cewek yang duduk di pojok studio sambil menikmati minumannya. Cewek tersebut berwajah sangat cantik. Bibirnya tebal sensual. Bodynya semok alias seksi dan montok. Susunya gede. Satu lagi bentuk tubuhnya model KiJang PanTer, Kaki Jenjang Pantat Muter... sungguh sangat sempurna. Siapapun kalau melihatnya pasti akan bilang Wooow...

Evan langsung tertarik dengan cewek tersebut, maka segera dihampirinya sang target buruan. Dengan pedenya Evan duduk di depan gadis itu.

“Hai, boleh kenalan?” tanya Evan basa-basi, “Saya Evan,” sambung Evan sambil mengulurkan tangannya.

“Saya Marissa,” jawab cewek tersebut.

“Rasanya saya baru lihat kamu di tempat ini?” tanya Evan kemudian.

“Iya, saya memang baru gabung syuting. Sebelumnya saya jadi VJ di MTV. Ini tadi habis take, mau pulang, tapi hujan turun deras banget.” jawab Marina. Dari logat bicaranya yang agak cadel, Evan bisa menebak kalau cewek berwajah Arab itu berasal atau lama tinggal di luar negeri.

“Gak pa-pa, disini aja. Saya temani, kalau boleh.” kata Evan.



“Boleh kok... saya jadi nggak bosen, ada teman ngobrol.” sahut Marissa  sambil terus melihat ke arah tubuh Evan. Badan Evan yang kekar dan atletis, serta wajahnya yang tampan sangat menarik minat Marissa, membuat nafsu gadis berdada besar itu memuncak dengan cepat. Birahinya yang sudah lama terpendam segera menggeliat dan bangkit kembali. Marissa jadi teringat dengan Daniel, mantan pacarnya yang kini sudah putus. Postur tubuhnya sama dengan Evan, sehingga Marissa jadi membayangkan kontol Evan pasti juga besar seperti milik Daniel, dan Evan pasti juga perkasa di atas ranjang sama seperti Daniel.

“Ah, rasanya pasti nikmat kalau dientot sama dia.” pikir Marissa mesum. Sudah hampir sebulan ini ia putus dengan Daniel, berarti sudah sebulan juga Marissa tidak merasakan kenikmatan pada memeknya akibat tusukan kontol lelaki. Selama ini Marissa masih mampu bertahan terhadap godaan lelaki lain selain pacarnya. Namun ketika melihat ketampanan dan keramahan Evan, rasa itu bangkit kembali. Memeknya menjadi gatal pingin digaruk oleh kontol lelaki, dan lelaki itu adalah Evan yang kini sedang ngobrol dengannya.

Sementara itu Evan pun juga mengagumi tubuh indah Marissa. Pakaian yang dikenakan gadis itu begitu ketat hingga menunjukkan semua daya tarik tubuhnya. T-shirt yang dipakainya tidak cukup untuk menyembunyikan bongkahan besar kedua buah dadanya. Demikian pula rok span super mini yang dipakai Marissa tidak dapat menyembunyikan keindahan kulit pahanya yang putih mulus. Pendeknya, semua yang ada di tubuh Marissa membuat nafsu birahi Evan merangkak naik.

“Gila, kenapa gue jadi nafsu gini melihat dia?” batin Evan dalam hati.

Hujan mulai berhenti. Belum hilang kekaguman Evan pada tubuh molek Marissa, ia dikejutkan oleh pertanyaan gadis itu. "Habis hujan gini, apa kamu nggak kedinginan?" tanya Marissa sambil mengerlingkan matanya yang bulat. Suaranya terdengar manja dan menggoda.

"Emang kalau kedinginan kenapa?" Evan balik bertanya.

"Saya punya alat penghangat, kalau kamu mau." jawab Marissa tanpa ragu.

"Apaan tuh?" tanya Evan pura-pura tak mengerti.

“Nih, ada di dalam sini.” jawab Marissa sambil tersenyum nakal, lantas menunjuk ke arah selangkangannya yang mumpluk seperti apem.

Meski sudah bisa menebak, tak urung Evan terkejut juga melihat kenakalan gadis itu. Belum hilang rasa keterkejutannya itu, Marissa sudah menarik tangannya dan mengajak Evan untuk lekas pergi dari tempat itu. "Ayo kita ke rumahku. Nanti disana kamu bisa nyoba alat penghangatnya. Kalau disini bisa berabe," ujar Marissa dengan nada menggoda.

"Ayo, siapa takut. Saya juga sudah nggak sabar pengen masukin sosis saya yang dingin ke dalam situ." kata Evan sambil bangkit dari duduknya dan mengikuti Marissa menuju tempat parkir. Dengan memakai mobil Marissa, mereka meluncur meninggalkan lokasi syuting. Evan sengaja meninggalkan mobilnya agar Tya tidak curiga. Kalau gadis itu bertanya, Evan tinggal berbohong mengatakan kalau lagi nyari makan siang.

Begitu tiba di rumah Marissa, Evan tanpa banyak bertanya mengikuti gadis itu masuk ke dalam kamar. Marissa segera membaringkan tubuh sintalnya di atas ranjang dan mulai melucuti pakaiannya satu per satu, sementara Evan terbengong-bengong melihat kenekatannya.

Dengan tubuh telanjang, Marissa tersenyum kepada Evan seraya berkata, "Ini alat pemanasnya, Van, silakan dinikmati...” ujar gadis itu sambil menunjuk bukit memeknya yang tampak munjung dan banyak ditumbuhi bulu.

Jantung Evan berdetak kencang menyaksikan semua itu. Ia berusaha keras menenangkan perasaan hatinya biarpun rangsangan birahi sudah bergejolak hebat di dalam tubuhnya. Dalam hati Evan mengakui bahwa Marissa memang memiliki tubuh yang sangat indah. Selain cantik, gadis itu juga memiliki kulit yang mulus dan indah meski tidak putih-putih amat. Tapi yang membuat Evan tak bisa mengedipkan mata adalah bongkahan susu Marissa yang besar dan bulat, tampak tidak turun sama sekali meski ukurannya jauh di atas rata-rata. Putingnya yang mungil terlihat lucu dan menggemaskan, tumbuh tepat di puncaknya dengan warna coklat kemerahan. Agak ke bawah, bukit memek Marissa yang agak menonjol tampak mengintip malu-malu di sela-sela paha mulusnya. Lengkap sudah, jadilah Marissa bidadari yang sangat sempurna di mata Evan.

Evan segera menghampirinya dan duduk di tepi ranjang, di dekat tubuh hangat Marissa yang sudah tergolek pasrah menunggu jamahannya. "Alat pemanas yang indah sekali,” ujar Evan sambil mengelus mesra bibir memek Marissa. Ia menghela nafas dalam-dalam untuk menahan gejolak birahinya yang semakin memuncak.

"Cobalah, Van... hangat tubuhmu pakai ini, aku jamin pasti enak.” sahut Marissa dengan nada manja. Kini tangannya sudah mengelus-elus tonjolan daging panjang yang ada di selangkangan Evan.

"Kalau aku coba, berapa bayarnya?” pancing Evan, matanya nanar menatap bongkahan payudara Marissa yang bulat dan besar, yang bergerak naik turun seiring tarikan nafas gadis itu, namun masih belum berani untuk menjamahnya.

"Nggak usah bayar, asalkan aku bisa puas." sahut Marissa dengan tersenyum manis. Nampak lesung pipitnya saat ia tersenyum, menambah manis wajah arabnya.

Sehabis berkata, Marissa tanpa babibu langsung memeluk tubuh Evan serta memagut bibirnya. Mendapat serangan tiba-tiba seperti itu, Evan sedikit gelagapan juga. Namun dibalasnya juga pagutan bibir Marissa di mulutnya. Mereka bergumul mesra di atas kasur. Mulut mereka saling melumat dengan berputar-putar ke kiri dan ke kanan disertai nafsu birahi yang semakin menggelegak di tubuh masing-masing.

Marissa menyodorkan susunya yang besar ke mulut Evan. ”Hisap, Van!” pinta gadis itu.

Evan yang memang sudah sejak tadi menginginkannya, tentu tidak menyia-nyiakan tawaran tersebut. Langsung saja ia mencaplok dan menghisapnya dengan begitu rakus. Dihisapnya benda mungil yang terasa kenyal itu sambil ujung lidahnya menjilat-jilat sekeliling aerola Marissa. Evan menghisap dan menggelitiknya dengan begitu lincah dan pintar, hingga membuat tubuh montok Marissa menggeliat-geliat dan bergetar disertai desahan nafas yang semakin tersendat-sendat. Gadis itu tampak sudah tak kuasa lagi menahan gelombang birahi yang berkecamuk di dalam tubuhnya. Dengan cepat ia melucuti baju yang dipakai oleh Evan.

"Kamu telanjang juga donk," ujar Marissa sambil memelorotkan celana dalam Evan ke bawah. Kontol Evan yang sudah ngaceng berat pun langsung terlontar keluar, mendarat tepat di jari-jari tangan Marissa yang lentik dan halus, yang siap untuk menggenggam dan mengocoknya hingga benda itu jadi siap untuk digunakan.

"Wow, kontol kamu besar banget, Van! Panjang dan keras, sesuai perkiraanku.” Marissa terlihat senang bukan main. ”Aah... Van, pasti nikmat sekali rasanya kalau masuk ke dalam memekku." tambahnya penuh nafsu.

"Emut sebentar ya, biar jadi sedikit basah...” ujar Evan dengan nada suara terputus-putus akibat birahi yang mulai meninggi merasakan lembutnya tangan Marissa yang mengelus-elus batang kontolnya.

Mendengar permintaan Evan, Marissa pun membuka mulutnya dan lekas melahap habis batang kontol Evan. Ia menjilati dengan rakus dan penuh nafsu meski agak sedikit kesulitan saat melakukannya akibat begitu panjang dan besarnya kontol Evan. Beberapa lama Marissa melakukannya hingga mulutnya jadi terasa kelu, sementara bibir bawahnya sudah terasa begitu basah. Iapun melepaskan kontol Evan Joni dari jepitan mulutnya dan lantas tersenyum.

“Aah, Van... cepat masukkan kontol kamu, memekku sudah gatel nih. Ayo cepat!!” pinta Marissa sedikit memaksa. Ia ingin gejolak birahinya yang muncul dengan tiba-tiba ini segera dituntaskan.

Evan pun rupanya juga sudah sangat kepingin merasakan jepitan memek Marissa. Ia segera melepaskan hisapan mulutnya pada susu Marissa, kemudian merangkak naik ke atas tubuh montok gadis itu. Evan mengatur posisi, sedangkan Marissa membuka lebar-lebar kedua kakinya sehingga tampaklah belahan memeknya yang menganga lebar, tampak basah dan kemerah-merahan hingga ke bagian dalamnya.

Dada Evan berdegub kencang, darahnya mendesir cepat saat melihatnya. Ia memegang dan menjilatinya sebentar sebelum kemudian membimbing kontolnya untuk ditempelkan ke belahan bibir memek Marissa. Saat sudah pas, barulah Evan menekannya sampai batang kontolnya terbenam seluruhnya di dalam liang memek Marissa. Terasa begitu hangat dan ketat.

”Auwhh...” Marissa mendesah pelan ketika batang kontol Evan menggesek dan membentur pelan bagian dalam lorong cintanya. Ia kembali merengek-rengek sambil memegangi susunya, minta dihisap oleh mulut Evan. "Ayo, Van... hisap lagi. Aah..." rengek Marissa.

Sambil mulai menggoyang tubuhnya, Evan pun menunduk dan menyambar kedua susu Marissa yang bulat dan besar. Ia hisap-hisap putingnya yang semakin menonjol menggiurkan dengan rakus. Di bawah, penisnya dengan mudah terus menyodok-nyodok liang memek Marissa. Lendir yang semakin banyak mengalir dari memek gadis itu membuat kontol Evan bisa bergerak dengan leluasa. Bleess... slleeeb... bleeess... slleeeb...

Marissa yang menerimanya, hanya bisa merem melek keenakan, sambil sesekali mulutnya mendesah dan merintih pelan. "Ooh... ssh… aah... enak banget, Vann.” ujarnya dengan suara tersendat-sendat.

Semakin lama, Evan semakin gencar menusukkan penisnya. Ia obok-obok memek sempit Marissa dengan sesuka hati. Marissa sudah tentu tidak tinggal diam, setiap hujaman kontol Evan ia sambut dengan goyangan pinggul dan pantat yang membuat Evan jadi tak tahan, kontolnya bagai diremas serta dipijit-pijit oleh dinding memek Marissa. Kali ini Evan harus mengaku kalah pada seorang wanita, dan itu adalah Marissa. Pertahanan Evan yang biasanya kokoh menjadi goyah oleh permainan Marissa yang binal.

"Aah... ssh... aah... kamu hebat, Marissa. Aku sudah tak tahan, hampir keluar..." bisik Evan sambil menghentakkan kontolnya dalam-dalam ke liang memek Marissa. Sedetik kemudian, tubuhnya menjadi kaku dan menegang. Dengan mesra Evan meraih tubuh molek Marissa dan mendekapnya dengan sangat erat.

”Keluarin di dalam aja, nggak apa-apa.” sambut Marissa.

"Aaaaahhh!!!” teriak Evan, dan croot... croott... crooott... dari ujung kontolnya memancar cairan kental yang amat banyak, mengalir deras membasahi liang rahim Marissa.

Di saat itu pula tubuh Marissa mengejang kaku dengan kedua tangan merangkul erat pantat Evan. Dia juga sudah sampai pada puncak klimaksnya. Marissa menjerit lirih ketika air mani keluar dari dalam liang memeknya. Seerr... seerr... seeerr... terasa sekali oleh Evan saat cairan hangat itu mengguyur dan membasahi batang penisnya.

Betapa nikmat yang dirasakan oleh kedua insan tersebut, jiwa mereka bagai melayang ke langit ke tujuh sementara tubuh menjadi lemah tak berdaya. Evan lekas mencabut kontolnya yang sudah melemas dan bergulir ke samping tubuh Marissa yang terkapar kelelahan. Dari liang memek gadis itu tampak campuran antara pejuh Evan dan air mani Marissa mengalir keluar membasahi sprei.

Mereka berangkulan sejenak sampai nikmat orgasme keduanya mereda, barulah setelah itu perlahan Evan bangkit dari posisi tidurnya. Marissa tersenyum saat melihat Evan memandangi tubuhnya dengan terkagum-kagum.

”Jangan diliatin ah, aku jadi malu." kata Marissa sambil berusaha menutupi bukit memeknya dengan kedua tangan.

”Kenapa malu, tubuhmu sangat indah sekali.” balas Evan sambil melumat mesra mulut tebal gadis itu. Mereka berpagutan sejenak sebelum perlahan ciuman Evan turun ke bawah. Susu besar Marissa yang bulat dan padat dijilatinya dengan rakus sehingga membuat putingnya yang sudah menegak kencang makin terlihat mencuat ke atas.

”Ahh... Vann!” Marissa mendesah dan meringis karena merasa kegelian, namun dia terlihat sangat menikmatinya. Perlahan birahinya yang sedikit turun kembali menggelegak manakala mulut Joni mulai menghisap-hisap lubang memeknya. "Aduh, Van... aah! Geli!" rengek Marissa dengan tubuh menggelinjang, ia mengangkat kedua kakinya ke atas lalu membentangkan kedua pahanya lebar-lebar agar Evan semakin leluasa melakukan aksinya.

Evan dengan penuh nafsu terus menusukkan lidahnya, ia masukkan semua ke dalam memek sempit Marissa hingga amblas sampai ke pangkal-pangkalnya. ”Ahh, Van...” Marissa melenguh ketika merasakan lidah Evan membentur bagian dalam liang memeknya.

Semakin lama irama jilatan lidah Evan semakin rakus dan menghebat, hisapan mulutnya di bibir memek Marissa yang masih sempit dan kecil itu semakin cepat. Tak henti-hentinya Evan menjepit dan menggigit kelentit Marissa yang mungil dengan gigi-giginya sambil sesekali menggeseknya dengan ujung lidah hingga membuat Marissa semakin merintih keenakan.

"Ohh... aah... ssh... enak banget, Vann...” erang gadis itu. “Aku nggak tahan... aahh...” rintih Marissa sambil menghentakkan pinggulnya yang besar ke mulut Evan.

Evan yang tahu kalau Marissa akan mencapai klimaksnya, semakin mempercepat hisapan dan jilatan lidahnya. Akibatnya empotan memek Marissa menjadi kian cepat dan terasa. Lidah Evan bagai diremas dan dipijit-pijit oleh dinding memek Marissa yang sempit. Sungguh nikmat yang luar biasa.

“Ouhh, Vann… aduh enaknya... shh... aku... aah... h-hampir keluar...” erang Marissa sambil meremas-remas payudaranya sendiri. Ia berteriak histeris saat Evan makin mempercepat hisapan di liang memeknya. Kemudian dengan satu teriakan keras, gadis itupun menjemput orgasmenya. Seerr... seerr... seerrr... cairan hangat mengalir deras membasahi muka Evan. Tubuh montok Marissa bergetar hebat dengan nafas yang tersengal-sengal saat ia menikmati klimaksnya. Evan masih menyentil-nyentil kelentit Marissa beberapa saat sampai tubuh gadis itu terkulai lemah dan akhirnya pantatnya pun jatuh kembali ke kasur. Marissa melenguh panjang pendek meresapi kenikmatan yang baru ia rasakan, sementara Evan masih menyedot sisa-sisa lendir yang masih mengalir keluar dari celah liang memeknya.

“Ooh, Vann... ayo tusuk memekku dengan kontolmu, sekarang!!!” pinta Marissa lirih.

Evan masih terus menjilati selangkangan gadis itu hingga memek Marissa jadi kelihatan bersih, “Kamu puas kan?” tanyanya dengan tangan terulur ke atas untuk menggapai bongkahan payudara Marissa, Evan memijit dan meremas-remasnya dengan lembut.

“Enak banget, Van... oughh... ayo, aku pingin sekarang! Ohh... masukin kontol kamu ke dalam memek aku!!” Marissa memohon sekali lagi. Saat Evan masih tetap diam, ia segera bangkit dan mendorong cepat tubuh Evan hingga laki-laki telentang.

”Sekarang giliranku untuk memuaskanmu.” kata Marissa sambil mengangkangi paha Evan, liang memeknya yang sudah becek tepat menganga diatas batang kontol Evan. Sambil menggenggamnya, Marissa  menduduki kontol itu. Ia memejamkan matanya begitu kontol Evan mulai menembus lubang memeknya.

Sleep... bleeess... perlahan tapi pasti, kontol Evan yang besar dan panjang membelah bibir memek Marissa yang sempit dan ketat. Evan sedikit bergidik saat merasakan kulit kontolnya yang sensitif bergesekan dengan dinding memek Marissa yang hangat dan basah. Sementara Marissa sendiri menyeringai menahan nikmat menerima kontol Evan yang sudah kembali memenuhi liang rahimnya.

"Duh, Van... kontol kamu gede banget sih, punyaku jadi sesak jadinya." rintih Marissa.

Saat kemaluan keduanya sudah bertaut erat dan saling mengisi satu sama lain, perlahan Evan dan Marissa mulai menggoyang seirama, plok... plok... plok... mereka saling mengadu pinggul hingga menimbulkan gesekan yang amat nikmat di kemaluan masing-masing. Evan menggunakan payudara Marissa sebagai pegangan, sementara Marissa cuma bisa menjerit dan merintih-rintih lirih merasakan kenikmatan yang mengalir cepat di tubuh sintalnya.

"Aah, Vann... kontol kamu enak banget! Aah... aku jadi... aah!!” Marissa berteriak sejadi-jadinya menerima sodokan Evan.

Lama mereka saling menggoyang, menaik-turunkan pantat masing-masing. Tiap hujaman Evan disambut Marissa dengan menggoyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan, sehingga tak ayal kontol Evan jadi seperti dipijat dan dipilin-pilin mesra. Benda itu juga tampak mengkilat akibat cairan pelumas yang semakin banyak keluar dari liang memek Marissa.

Marissa yang masih duduk berjongkok dengan menaik-turunkan pantatnya, kini sudah basah kuyup oleh keringat. Namun gerakan pantatnya tampak semakin kuat dan cepat, sedangkan di depan, tangan Evan dengan nakal terus meraba dan meremas-remas payudara sintalnya. Kelakukuan Evan itu membuat Marissa semakin menggeliat-geliat bagai penari striptease. Desahan dan erangannya yang serak-serak parau makin menambah nikmat persetubuhan itu.

“Aauh... Van! Eegh..." rintih Marissa dengan mata merem melek keenakan, mukanya yang cantik kini merah padam oleh gairah, dan tampak semakin menegang seiring waktu yang terus berlalu. Evan kini tidak hanya meremas-remas puting susunya, tapi telah menghisap-hisapnya secara bergantian kiri dan kanan, hingga membuat Marissa semakin mendesah lemah tak berdaya.

“Ooh... aku udah nggak tahan, Vann... ooh... kontol kamu rasanya mentok... aduh! Ahhhh... auw!!!” Marissa mengerang panjang. Dari liang vaginanya mengalir cairan kenikmatan yang kental dan hangat, membasahi batang penis Evan hingga menjadi semakin lancar bergerak. Ini adalah untuk yang ketiga kalinya Marissa mendapatkan puncak birahinya, hingga membuat gadis cantik berdada besar jadi lelah dan lemas tak berdaya.

Evan segera bangkit dan duduk setengah berlutut di atas tubuh Marissa yang basah oleh keringat. Ia menarik kaki Marissa ke atas dan ditumpangkan ke pangkal pahanya hingga kini selangkangan Marissa menjadi terbuka semakin lebar. Evan menggerakkan kontolnya yang masih menancap di liang memek gadis itu pelan-pelan.

“Van, geli ah... langsung goyang aja.” kata Marissa sambil menggeliat manja.

"Bener ya, nih terima!” bisik Evan penuh nafsu. Ia pun menusukkan penisnya dalam-dalam dan mulai menggoyang.

”Auw!” Marissa menggigit bibir karena saking nikmatnya. Ia memejamkan mata rapat-rapat dengan kedua tangan kembali mencengkeram kain sprei kuat-kuat.

Evan merebahkan badannya di atas tubuh montok Marissa. Terasa bulatan payudara gadis itu kembali menekan dadanya. “Gimana rasanya, enak nggak?” bisik Evan menggoda sambil menggenjot pinggulnya semakin cepat.

"Emhh... aah... gila, kontol kamu enak banget! Memekku rasanya sesak, mau robek!!" jawab Marissa, dibiarkannya Evan yang kembali menyusu ke bulatan buah dadanya.

Evan sekarang asyik menciumi kedua puting Marissa dengan penuh nafsu, dijilatinya kedua benda mungil yang terlihat indah itu sambil tak lupa terus menggoyang pinggulnya naik turun. Kontolnya yang besar dan panjang menggesek memek Marissa dan menghunjam begitu cepat hingga membuat Marissa kembali merintih dan memekik keenakan tak lama kemudian, ”Ahh, Van... auw!”

Beberapa kali Evan sempat menggigit puting Marissa karena saking bernafsunya. Terutama saat merasakan betapa memek Marissa menjepit kuat batang penisnya, terasa begitu hangat dan nikmat hingga membuat Evan merintih kegelian dibuatnya.

"Aah... nikmat banget punyamu, Ris." bisik Evan, "Bikin aku jadi tak tahan aja!" tambahnya.

"Aku juga mau nyampe, Van… aah... terus, lebih cepat... sodok yang kuat, Van." erang Marissa.

Evan merasakan pijatan-pijatan kuat di batang kontolnya, sepertinya Marissa sudah hampir orgasme lagi. ”Kita sama-sama... ahh!” lenguh Evan dan croot... croot... croott... kontolnya berkedut kencang saat menembakkan pejuh yang amat banyak sekali di dalam rahim Marissa.

“Arghh… Vann!” Marissa mengerang keenakan saat kontol Evan memuntahkan isinya. Bersamaan dengan itu, ia juga  mengejang hebat dan seer… seerr… sseer… liang memeknya menyemburkan lahar kenikmatannya, menyiram batang kontol Evan, bercampur dengan lendir laki-laki itu.

Berpelukan mereka menikmati sisa-sisa kenikmatan. Marissa menciumi Evan dengan mesra, keduanya berpagutan lama sekali, tangan Evan melingkar di dada Marissa untuk membelai puncaknya yang menggemaskan. Beberapa saat kemudian, setelah nafsu keduanya mereda, Evan menarik pantatnya untuk mencabut batang penisnya yang sudah mulai mengecil hingga terlepas dari jepitan memek Marissa. Nampak batang penis itu mengkilat oleh pejuh dan cairan kenikmatan Marissa. Kelelahan, Evan lantas merebahkan diri di samping tubuh Marissa.

“Makasih yah, Van, aku puas banget.” Marissa berkata sambil mengecup mesra pipi Evan.

”Sama-sama, aku juga puas banget." balas Evan, tangannya terus mempermainkan buah dada Marissa yang bulat besar dengan memilin dan memenceti putingnya secara bergantian.

”Huahh... gila, kamu kuat banget. Nggak nyesel aku ngajak kamu ngentot, kontolmu gede..." sambung Marissa.

"Ah, masa sih?" tanya Evan pura-pura, padahal setiap wanita selalu berkata seperti itu setiap kali selesai ia entoti.

"Sumpah, Van, Daniel aja nggak ada apa-apanya. Kontolnya juga gede sih, tapi cuma tahan satu ronde, habis itu loyo gak bisa bangun lagi. Beda banget sama punya kamu, bisa terus bangun dan ngentoti aku berkali-kali. Aku puas banget main sama kamu. Rasanya jadi pingin tiap hari dientot sama kamu..." kata Marissa.

“Aku juga gitu, tubuhmu yang indah ini selalu bisa bikin aku ngaceng. Makasih sudah memberi kesempatan kepadaku untuk mencoba pemanas yang super duper nikmat ini... “ kata Evan sambil menepuk bukit memek Marissa yang terasa hangat dan basah.

Beberapa saat keduanya saling berangkulan dan berpelukan, hingga kemudian Evan melepaskan dekapannya dan bangkit untuk berkemas-kemas. Ia harus kembali ke lokasi syuting menjemput Tya.

”Kamu mau kan melakukannya lagi denganku?” tanya Marissa yang masih tergolek lemas di tempat tidur.

”Tentu saja, siapa yang bisa menolak wanita secantik dirimu.” balas Evan sambil mengecup ringan bibir Marissa. ”Nggak usah diantar, aku bisa naik taksi.” tambahnya.

Dengan bibir tersungging senyum kepuasan, Marissa mengantar kepergian Evan, pujaan hatinya yang baru
loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kisah Petualangan Evan 5 : Marissa VJ Binal"

Post a Comment