Kisah Petualangan Evan 4 : Pantai Birahi

Sejak punya mobil hadiah dari Tya Ariestya, Evan semakin jarang berada di tempat kost. Biasanya kalau tidak ada acara dengan Tya, Evan lebih sering tampak duduk-duduk di beranda tempat kosnya sambil membaca buku. Kini waktunya lebih sering dihabiskan di luar dan baru pulang larut malam atau bahkan pagi dini hari. Evan lagi seneng-senengnya menikmati mobil hadiah dari Tya.

Sore itu ketika Evan hendak pulang dari kampus, ia melihat Aura Kasih keluar dari halaman kampus.

"Raa!" panggil Evan. Aura menoleh. ''Mau kemana loe?" tanya Evan lagi.

"Mau pulang," jawab Aura pendek.

“Kok nggak bawa mobil? Kemana mobil loe?” tanya Evan kemudian.

“Mobil gue lagi di bengkel” jawab Aura, “Mobil baru ya?” lanjut gadis itu.

“Ah, cuma mobil bekas...” jawab Evan berkilah, "Mau coba? Yuk kita jalan-jalan," ajak Evan. Sebenarnya itu yang dikehendaki oleh Aura, diapun langsung masuk ke dalam mobil Evan.

"Kemana kita?" tanya Aura begitu mereka sudah melaju.

“Loe maunya kemana?” Evan balik bertanya sambil menjalankan mobilnya pelan-pelan.

"Terserah loe aja, dibawa kemana aja gue mau asal dapat jatah ini lagi," jawab Aura sambil tangannya meremas kontol Evan dari luar celana panjangnya.

"Hei, hei, hei..." Evan menegur. "Sudah gatal ya ininya?" goda Evan sambil tangannya menepuk bagian selangkangan Aura.



"Emang...” jawab Aura genit, “Sejak loe colok gue minggu kemarin, rasanya kontol loe masih ngeganjal di memek gue. Memek gue jadi gatal pingin dicolok lagi sama kontol loe.” lanjutnya, “Ayo dong colok gue lagi?!" pinta Aura.

"Kalau loe mau, sekarang juga boleh. Kita ke Ancol yuk?" ajak Evan, “Tapi kita cari makan dulu, laper nih gue,” ajak Evan kemudian.

"Terserah loe aja deh," jawab Aura.

Sehabis makan, akhirnya malam itu mereka berdua melaju ke Ancol. Karena malam itu bukan malam minggu, pantai sangat sepi. Tidak banyak mobil yang parkir di pantai Ancol. Kaca film mobil Evan sangat gelap sehingga dari luar orang akan sulit mengintip ke dalam mobil, dan karena mobil di parkir menghadap ke semak-semak maka dari depan pun orang juga tidak dapat mengintip ke dalam mobil. Evan sengaja memilih tempat yang strategis.

Begitu sepinya pantai malam itu sehingga deburan suara ombak terdengar sampai ke dalam mobil. Aura melendot manja pada Evan. Matanya sayu. Evan tak sempat bicara apa-apa ketika tiba-tiba dengan berani Aura langsung menyumbat mulutnya dengan suatu ciuman mesra. Begitu bernafsunya gadis itu sehingga tanpa malu-malu Aura berani memulai suatu percumbuan. Rupanya sejak bertemu dengan Evan sore tadi, Aura sudah dalam kondisi birahi tinggi.

Evan dengan senang hati meladeni ciuman itu. Dia juga menginginkan kenikmatan dari tubuh Aura Kasih yang semok. Dengan bernafsu pula ia membalas ciuman gadis itu. Didekapnya tubuh Aura erat-erat dan dicumbuinya dengan mesra.

"Ahhh..." Aura merintih keenakan. Rambutnya yang panjang jadi kusut masai akibat gerakan liarnya. Sementara Evan terus memberinya rangsangan dengan mencium lembut batang lehernya. Tangan Evan juga mulai menggerayang menyambar susu Aura dari balik kaos ketatnya. Dengan gemas diremas-remasnya bulatan daging yang empuk dan kenyal itu.

"Loe nggak pakai BH?" tanya Evan begitu menyadari kelembutan susu Aura yang berada dalam genggaman tangannya.

"Sengaja gue lepas waktu di rumah makan. Lagian biar loe mudah meremasnya.” jawab Aura riang.

Evan geleng-geleng kepala menghadapi kenakalan gadis itu. Ia mulai membuka kaos yang dikenakan oleh Aura. Begitu kaos itu terlepas, maka susu Aura yang besar dan bulat padat langsung menyembul keluar. Dengan gemas Evan segera menangkupnya dengan dua tangan, lekas diremas-remasnya daging empuk dan kenyal itu sambil sesekali memilin dan memelintir-lintir putingnya yang mungil kemerahan. Aura tentu saja menjadi kian terangsang karena ulahnya.

“Ahh, Van... terus remas-remas susu gue.” kata gadis itu manja.

sambil terus meremas-remas, Evan mulai membuka retsluiting celana Aura. Dipelorotkannya celana itu sampe ke paha hingga terlihatlah CD Aura yang berwarna merah marun. CD itu berbentuk G-String yang sangat minim yang hanya menutupi sebagian kecil bukit memek Aura. Jembut Aura yang lebat terlihat berhamburan di kanan kiri dan bagian atas CD-nya. Dengan penuh nafsu jari-jari Evan langsung menerobos ke sela-sela paha Aura dan menggosok-gosok permukaan memek gadis itu yang masih dilapisi celana dalam tipis.

“Punya loe udah basah banget, Ra. Loe udah nafsu ya?” tanya Evan sambil mulutnya mengecupi puting susu Aura satu per satu.

Aura mengangguk mengiyakan sambil mendesah ringan.

”Kita ngentotnya di mobil aja ya?” kata Evan lagi.

Tidak menjawab, kembali keduanya bergumul dalam mesra. Aura membuka retsluiting celana Evan dan menurunkannya juga, kemudian dia merogoh masuk CD pemuda itu. Evan membiarkan Aura menelusuri batang kontolnya yang besar dan panjang, yang kini sudah mulai tegak menegang.

"Nih kontol makin hari makin gede aja," kata Aura manja, “Jadi makin enak rasanya." lanjutnya.

"Pastinya. Bikin loe ketagihan kan? Baru disodok minggu kemarin, sudah gatal minta disodok lagi.” jawab Evan menggoda.

"Bagaimana dengan Chelsea?" tanya Aura, “Pasti dia puas sekali menikmati kontol besar loe.” kata Aura.

"Mana gue tahu? Sampai saat ini gue belum pernah ngentotin dia.” jawab Evan terus terang.

”Hah, benarkah?” Aura membelalak tak percaya.

“Ah sudah, jangan bicara soal dia. Mendingan kita nikmati aja suasana indah ini." kata Evan sambil merebahkan sandaran bangku mobilnya sehingga posisi tubuh Aura menjadi berbaring.

Direngkuhnya tubuh Aura yang sudah dalam keadaan telanjang. Sementara Evan mencumbu payudara gadis itu, Aura dengan telaten mempreteli bajunya hingga mereka jadi sama-sama telanjang tak lama kemudian. Evan meneruskan menciumi puting Aura. Kiri dan kanan ia lumat habis secara bergantian. Aura terpejam menikmati ciuman dan remasan Evan di bukit payudaranya.

Puas bermain dengan dada gadis itu, ciuman Evan naik ke leher dan akhirnya mendarat di bibir Aura. Nafas Aura terdengar memburu, mereka berdua pun tenggelam dalam aksi saling cium yang sangat panas. Kemudian Evan kembali mengarahkan mulutnya ke leher Aura, lalu ke pundak gadis itu, dan terus turun ke bongkahan payudara Aura yang sudah mengeras tajam. Evan memainkan lidahnya di puting Aura yang juga sudah menegak kencang, kiri dan kanan ia hisap habis-habisan.

“Aaaaah, Vaan, enak!” kata Aura terengah-engah karena nafsunya yang sudah berkobar-kobar. Evan terus menciumi putingnya hingga benda mungil itu menjadi sangat basah dan memerah, baru setelah itu Evan turun ke perut Aura dan menciumi pusarnya. Aura selalu kegelian kalo pusarnya dicium, tapi ia tetap membiarkan Evan melakukannya karena sambil mencium pusarnya, tangan Evan mulai menggosok-gosok lubang memeknya. Inilah yang dicari-cari oleh Aura.


“Ra, jembut loe bikin gue tambah nafsu.” kata Evan sambil mengelus-elus jembut Aura yang lebat. Dengan jemarinya Evan menyentuh cairan lendir di memek gadis itu. Kemudian jari tengahnya ia benamkan di lorong memek Aura yang sudah terbuka lebar, dikorek-koreknya liang itu dengan penuh perasaan sambil jempolnya terus menggesek-gesek itil Aura. Otomatis paha Aura mengangkang supaya Evan semakin mudah mengakses lubang memeknya. Evan terus mengocoknya dengan lembut sambil sesekali mencabut jemarinya kemudian membauinya. Tercium bau khas memek seorang perempuan yang sedang diamuk birahi. Terlihat memek Aura semakin membasah dan memerah akibat ulahnya.

“Ra, makin basah aja memek loe. Sudah pingin banget dientot ya?!” kata Evan menggoda.

Aura tidak menjawab pertanyaan itu. Dia hanya mengerang keenakan karena gesekan jari-jari Evan ke bulatan itilnya semakin cepat dan kuat sekarang. Mulut Evan juga sudah mulai menciumi jembut Aura dan kemudian lidahnya menggantikan fungsi jarinya mengerjai itil gadis itu. Aura tentu saja semakin tidak dapat menahan nafsunya diperlakukan seperti itu, erangannya semakin keras terdengar. Apalagi saat mulut Evan terus mengerjai memek dan itilnya sambil kedua tangannya meremas-remas kedua susu Aura yang bulat besar dan memilin-milin puting mungilnya.

“Vann, gue udah pengen dientot! Masukin kontol loe, Van!” kata Aura meminta.

Tapi Evan masih terus berusaha membangkitkan nafsu birahi Aura lebih tinggi lagi. Ia berpikir, semakin tinggi birahi wanita, reaksinya akan lebih nikmat pula. Evan terus menggerakkan lidahnya menjilati itil Aura sehingga kembali gadis itu mendesah keenakan.

“Oooohhh... enak banget, Van, padahal baru dijilat. Apalagi kalo disodok pake kontol gede loe, pasti lebih enak lagi. Ayo dong, Van, gue udah nggak tahan nih,” Aura terus merengek-rengek minta segera dientot.

Tapi sekali lagi, Evan bukannya segera menyetubuhi Aura, malah memposisikan bagian selangkangannya ke dekat puting gadis itu. “Ra, gue pingin ngerasain kontol gue disepong dulu sama loe.” kata Evan sambil mendekatkan kontolnya ke mulut Aura.

Aura yang tanggap segera menggapai kontol panjang Evan yang sudah ngaceng berat dan ia masukkan ke dalam mulutnya. Aura langsung mengulum dan mengemutnya dengan penuh nafsu. Evan menikmatinya dengan mendorong kontolnya keluar masuk pelan-pelan di mulut Aura. Sambil mendesis, Aura terus melahap batang kontol itu.

“Ra, diemut bibir loe aja nikmat gini, apalagi kalo ditancapkan ke memek loe ya?!” kata Evan saat sudah tak tahan.

”Makanya, Van, cepat masukkan!” kata Aura sambil melepas kontol Evan dari dalam mulutnya. "Buruan entotin gue, Van. Gue udah nggak tahan nih!" bisik Aura lirih, ”Gue udah pengen ngerasain kontol loe keluar masuk di memek gue. Sekarang, Van, aaaah... sekarang saja!" pinta Aura memelas. Matanya menatap sayu pada Evan, sementara tubuhnya yang putih montok menggeliat-geliat menahan gejolak birahinya yang kian membara.

Evan tersenyum, dia segera memposisikan pinggulnya tepat diantara kedua paha Aura dan mengarahkan kontol besarnya ke lubang memek gadis itu. Aura membantu dengan membimbing kontol Evan agar tegak lurus pada liang vaginanya. Ketika sudah pas betul, Evan pun segera menekannya perlahan. Aura merintih panjang sambil mendesis merasakan kenikmatan ketika kontol panjang Evan mulai menelusup masuk ke celah vaginanya. Perlahan Evan menekan lagi sehingga sedikit demi sedikit batang kontolnya terus menyeruak masuk memenuhi lubang memek Aura yang sempit dan kesat. Evan melakukannya dengan lembut agar Aura bisa menikmati tiap inchinya.

Nyatanya memang demikian. Aura terus merintih, mendesis dan sesekali menggaruk-garuk putingnya sendiri. Nikmat banget rasanya saat dinding memeknya bergesekan dengan batang kontol Evan yang besar dan keras itu. Evan menekan lagi pantatnya. Aura merasakan ujung kontol pemuda itu menggelitik semakin dalam di liang memeknya, membuatnya semakin  merintih lirih disertai desisan panjang yang menggugah gairah.

"Oooh... Vaan... ooooh..." desah Aura. Selang berapa saat, ia merintih lagi, "Tekan lebih dalam lagi, Van, ayo...” bisik Aura keenakan.

Dengan tenang Evan menekan batang penisnya lebih dalam lagi seperti yang dikehendaki oleh Aura. Perlahan tapi pasti tonggak panjangnya makin menancap ke dalam memek Aura. Akhirnya, dengan satu hentakan keras, Evan mendesakkan kontolnya dengan cepat dan tiba-tiba untuk terakhir kalinya sehingga batang penisnya menancap semuanya di memek Aura yang makin megap-megap menerimanya. Amblas sudah kontol Evan menembus dasar memek Aura. Menjerit kencang, Aura mengejang dengan memek berkedut-kedut keras menjepit batang penis Evan.

“Vann… aaahh!” erang gadis itu.

“Ra, memek loe emang nikmat banget empotannya,” kata Evan sambil mulai mengenjotkan pinggulnya. Makin lama ia rasakan memek Aura jadi makin basah dan licin, yang mana hal itu makin memudahkan Evan untuk memompa batang kontolnya dalam liang memek Aura yang terasa sedikit sempit.

"Bagaimana, Ra, enak?" tanya Evan sambil terus memaju-mundurkan pantatnya sehingga batang kontolnya keluar masuk semakin cepat di liang memek Aura.

"Enak sekali, Van. Aaaaaaahh... enaaak!!" erang Aura kesetanan, ia remas-remas sendiri bulatan payudaranya sebagai pelampiasan rasa nikmatnya.

"Ada yang lebih enak lagi lo. Terima ini...!!!" kata Evan sambil memutar kontolnya di dalam memek Aura, lalu menggoyangnya ke kiri dan ke kanan. Perbuatannya itu jadi membuat Aura seperti diserang oleh mesin bor berkecepatan tinggi yang sangat nikmat.

"Aduuh... ssshh... betul, Van, enak banget!!" jawab Aura terus terang. Tanpa sadar ia mengimbangi gerakan Evan dengan memutar-mutar dan  menggoyangkan patatnya, mengiringi enjotan kontol Evan di lubang memeknya yang kini menjadi semakin basah. Akibat gerakan tersebut, kontol Evan bagai diremas-remas dan dipijiit-pijit oleh dinding-dinding memek Aura.

Evan terus menarik dan menekankan kontolnya berkali-kali tanpa jeda sedikitpun. Malah makin lama semakin cepat ia melakukannya. Aura kembali terengah-engah menerimanya. Beberapa butir keringat nampak meleleh di keningnya yang licin, menambah ayu wajah bulatnya yang sedikit oriental. Mulut Aura menganga, giginya yang putih bersih menambah indah birahi gadis cantik berdada besar itu. Sementara di bawah, gerakan keluar masuk kontol Evan di liang memeknya terasa semakin cepat saja.

"Ughhh... enak, Van... enak sekali... aaahh..." rintih Aura penuh kenikmatan, “Habis ini loe mesti entoti gue sekali lagi. G-gue... ahh... gue udah hampir sampai... ohh... oh..."

"Loe mau keluar?" tanya Evan memastikan.

Aura mengangguk, "Hampir. Enjot yang kuat, Van. Goyang terus! Oouuuh...” jawab gadis itu.

Evan memompa kontolnya semakin cepat. Aura mendesakkan tubuhnya lebih ketat. Pantatnya diangkat tinggi-tinggi menyambut enjotan kontol Evan dalam liang memeknya.

"Apakah loe juga sudah mau... ooh... akh!!!" Aura tak sempat melanjutkan kata-katanya karena Evan sudah keburu menekan kontolnya lebih keras lagi hingga menggelitik di dasar lorong vaginanya. Kembali keduanya saling merengkuh. Kenikmatan demi kenikmatan terus mereka rasakan berdua.

"Loe ganas amat sih, Van!" celetuk Aura heran.

"Gue nafsu banget, Ra. Memek loe enak banget. Kecil, rapet... hmm, nikmat pokoknya!" Evan mendesis merasakan enaknya empotan memek Aura, ia terus menekan-nekan batang penisnya hingga benda coklat panjang itu tertanam seluruhnya di dalam liang memek Aura.

“Van, ahhhh... gue keluaaar!!” teriak Aura keenakan. Matanya melotot, semenatar tubuh sintalnya gemetar hebat, disertai dinding-dinding memeknya yang menegang dahsyat dan mengejut-ngejut ringan, menjepit kuat batang kontol Evan.

Seerrr... Seerrr... Seerrr... cairan hangat menyembur dari dalam liang memek gadis itu, membasahi seluruh batang penis Evan.

Dalam waktu yang hampir bersamaan, Evan pun merasakan bahwa dia juga akan mencapai puncak kenikmatannya. “Aaahh... nikmat banget, Ra!!“ Evan menancapkan kontolnya dalam-dalam ke rahim Aura dan croott... crooott... .. crooott... crooott... pejunya pun muncrat beberapa kali ke dalam memek Aura, banyak dan kental sekali.

Tubuh keduanya menggelosoh bermandikan keringat. Aura terkulai lemas sambil memeluk Evan, sementara Evan bernafas berat sambil memainkan puting Aura dengan ujung jarinya.

“Ra, enak banget ngentot sama kamu. Puas sekali rasanya!” kata Evan jujur.

“Gue juga nikmat, Van, abis kontol loe gede banget sih. Rasanya gue nggak akan nolak kalau tiap hari loe entotin.” jawab Aura genit.

Setelah badai birahi keduanya mereda, Evan mencabut kontolnya. Batang yang sudah melemas itu berlumuran peju dan cairan memek Aura. Tanpa perlu diminta, Aura segera membersihkan dengan mengulumnya. Evan mengambil tisu dan diberikannya kepada Aura, dimintanya gadis cantik itu untuk mengelap memek dan keringatnya yang belepotan. Setelah bersih, mereka berdua pun memakai pakaian kembali. Tanpa banyak kata, Evan lalu mengantarkan Aura pulang.
loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kisah Petualangan Evan 4 : Pantai Birahi"

Post a Comment