Kisah Petualangan Evan 3 : Kembali Bersama Tya

Sudah tiga hari ini Evan tidak menemui Tya. Bagi Tya, tiga hari tak ketemu Evan merupakan siksaan yang sangat menyakitkan, ia rindu dengan kontol laki-laki itu. Selama tiga hari ia diamuk birahi, terutama akan kepuasan biologisnya yang selama ini ia peroleh dari Evan. Selama ini, Evan selalu menemaninya, entah itu di rumahnya, atau ditempat lain sesuai keinginannya. Dan sore itu, Evan kembali datang ke rumah Tya.

"Oh, Van... Evan!" sambut Tya gembira begitu melihat kemunculan Evan.

Sementara Evan hanya cengar-cengir menyambut pelukan Tya Ariestya.

“Rasanya memekku sudah gatel banget, sudah tiga hari ini nggak digaruk sama kontolmu.” kata Tya genit. “Kenapa kamu nggak muncul-muncul, Sayang?" tanya Tya sambil melendot mesra, "kamu sakitkah?" lanjutnya.



"Aku masuk angin, kemarin kehujanan.” jawab Evan. Sebenarnya dia semata-mata sakit bukan karena kehujanan, tapi karena kondisi tubuhnya saat itu yang kelelahan akibat habis menggilir tiga cewek cantik sehingga kondisi tubuhnya melemah. (Baca : Serial Petualangan Evan 2)

Mendengar jawaban pemuda itu, Tya pun jatuh rasa kasihannya. "Oh, Van, kasihan kamu.” dia mengelus kepala Evan penuh rasa sayang. ”Eh, tahu nggak, syutingku sudah selesai lho. Besok aku akan menerima pembayarannya. Begitu terima, aku akan memberi hadiah mobil buat kamu.” kata Tya penuh semangat. Dia memang baru menyelesaikan syuting film terbarunya yang bakal tayang sebentar lagi.

“Ah, yang bener? Becandanya jangan kelewatan dong...” potong Evan setengah tak percaya.

“Aku serius, Van. Aku nggak bercanda kok. Karena kamu telah membuat semangat hidupku bangkit lagi, hingga akhirnya aku dapat menyelesaikan syuting tersebut tepat waktu dan hasilnya memuaskan bagi produser...” jelas Tya, “Maka sudah sepantasnya kalau kamu juga menikmati hasil yang aku peroleh.” lanjutnya.

Evan sangat gembira mendengar apa yang barusan Tya katakan. Kebetulan kedatangannya kali ini sebenarnya ingin minta tambahan uang untuk biaya pengobatan ibunya yang sedang sakit dan harus dioperasi. Uang tabungannya masih kurang 30juta-an untuk membiayai semuanya. Mengingat hal itu, wajah Evan jadi sedikit sedih.

“Sabar ya, Sayang, aku pasti membelikan kamu mobil kok.” kata Tya, dia memeluk Evan lebih erat tanpa mengerti beban yang sedang dipikul oleh pemuda itu. Untuk sesaat mereka berdua saling bermesraan dalam posisi seperti itu. Tya mulai mencium dan mengulum bibir Evan, namun pelukan dan balasan Evan ternyata tidak sehangat biasanya, Evan agak ogah-ogahan melayani Tya, pikirannya masih dibayangi oleh ibunya yang sedang sakit.

“Ayolah, Sayang... kenapa kamu membiarkan aku begini?!” rengek Tya jelalatan diamuk birahi, “Puaskan aku! Nikmatilah tubuhku! Ayo dong, Sayang...” Tya tanpa malu-malu merengek, meminta untuk segera dipuaskan oleh Evan. Tanpa sungkan ia meminta dan memaksa Evan agar segera menyetubuhi dirinya, karena itulah yang selalu mereka lakukan setiap kali bertemu.

"Ibuku sedang sakit," kata Evan lirih, "Aku perlu uang 30juta untuk tambahan biaya Ibuku." ia terpaksa berterus terang.

"Ah, itu soal kecil, aku akan kasih... tapi, puaskan aku dulu dengan kontolmu!” Tya terus merengek sambil berusaha mencium bibir Evan. Sementara tangannya tidak berhenti mengelus-elus kontol Evan yang masih terbungkus celana jeans.

Setelah mendengar jawaban dari Tya yang akan memberi tambahan uang untuk biaya operasi Ibunya, barulah Evan mendekap tubuh montok Tya dengan mesra. Diciumnya bibir gadis itu penuh rasa cinta, digelitiknya lidah Tya dengan lidahnya.

Mendapat perlakukan tersebut, Tya yang sudah tak sabar segera menarik tubuh Evan masuk ke dalam kamarnya. Begitu tiba di kamar, Tya langsung melepas pakaian yang dikenakannya. Dengan sekali tarik pada tali yang ada diujung bahunya tersebut, maka tubuh Tya kini sudah dalam keadaan telanjang bulat.

Tya langsung merebahkan dirinya di ranjang dan mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar, dia mempertontonkan memeknya yang sudah basah memerah pada Evan. Ditariknya wajah pemuda itu agar mendekatkan ke bukit kemaluannya. Evan yang mengerti apa keinginan Tya, segera menjulurkan lidahnya dan menyusupkannya ke celah kecil di belahan bibir memek Tya, dengan jari-jarinya ia menguak belahan itu agar terbuka semakin lebar.

"Ouhh... ouff... ssh... yah begitu, Sayang... terus masukkan lidahmu lebih dalam! Yaah... teruss... ough!!" erangan Tya terdengar lembut dan bergairah menikmati sentuhan lidah Evan pada bulatan itilnya yang sudah terasa semakin keras mencuat keluar, membuat Tya jadi merintih keras karenanya.

"Vann... ahh... betul! Terus... yang lembut, Sayang! Ough... eshh... ssh... gila, enak banget! Aduh... eshh... uuh... eshh..." desah Tya tiada henti.

Evan merasakan lendir yang keluar dari liang memek Tya semakin banyak saja membasahi lidahnya. Aroma khas bau alat kelamin perempuan yang sedang bergairah juga semakin tajam menusuk hidungnya. Semua itu membuat Evan jadi semakin bernafsu untuk menjilat dan menghisapnya, terutama itil Tya yang berwarna merah muda kecoklatan, benda itu sangat membangkitkan nafsu birahi Evan yang sudah dari tadi menggelegak. Dengan penuh nafsu ia terus menyentil itil itu dengan lidahnya, baik ke samping maupun ke atas dan ke bawah, dengan irama yang sangat rakus namun tetap teratur.

"Aduh, Van... eghh... pintar sekali kamu! Yah begitu, terus... duh nikmatnya! Aduh... aduduh!" rintihan Tya terdengar semakin keras, dan malah sekarang seperti menjerit kecil, apalagi sekarang Evan mulai memagut itilnya dan langsung mengulum layaknya sebuah permen. Evan bertekad akan memberikan pelayanan terbaik kali ini, biar Tya semakin sayang kepadanya.

Dalam kenyataannya, Tya memang semakin sayang pada Evan. Dia sangat tergila-gila oleh kontol Evan yang besar dan panjang. Ditambah lagi dengan kepintaran Evan dalam berhubungan seks yang makin hari semakin meningkat. Karena alasan itulah, Tya tidak merasa rugi memberikan sebagian dari hartanya kepada Evan. Sebab Evan selalu memberinya kenikmatan dalam setiap kali persetubuhan mereka. Tya selalu mendapatkan kenikmatan lebih dari satu kali. Hal itulah yang membuat semangat hidupnya berkobar. Semua itu berdampak terhadap semangat kerjanya sehingga kontrak film-filmnya semakin banyak dan mahal. Dan itulah salah satu alasan buat Tya untuk berbagi dengan Evan, karena Evan ikut andil dalam semua yang telah dicapai olehnya.

Evan terus mengerjai memek Tya. Ia mengulum dan mengemut itil gadis itu dengan gemas bercampur nafsu. Kontan tubuh Tya kelojotan karenanya, dia menggelinjang hebat merasakan nikmat yang amat sangat di pusat kewanitaannya. Tanpa sadar Tya bangkit dari posisi tidurnya dan kemudian duduk dengan bongkahan pantatnya tepat di atas kepala Evan, sementara belahan memeknya tepat di depan mulut pemuda lajang itu.

"Vann... ouhh... emut terus! Aduh... enak, Sayang! Lebih keras lagi! Yah, begitu... terus hisap itilku! Emut yang kuat, Sayang! Yaah, begitu!" jeritan dan rintihan kenikmatan Tya terdengar putus-putus sambil lebih mendesakkan lubang memeknya ke wajah Evan. Sementara Evan tak bosan-bosannya terus menghisap sambil menarik kuat-kuat itil Tya masuk ke dalam mulutnya. Ia terus menjilati kemaluan gadis itu, Evan berusaha memberikan rangsangan maksimal pada Tya.

"Oughh... sudah, Vann! Geli! Aku tak tahan! Sekarang, Sayang... ayo sekarang... masukkan kontolmu!" pinta Tya memelas, ia sudah terlihat pasrah.

Namun Evan belum melakukannya. Malah ia menciumi bibir Tya. Disumbatnya bibir tipis gadis itu dengan mulutnya. Setelah melumat sejenak, ciuman Evan menjalar menyusuri telinga dan belakang leher Tya yang jenjang, membuat Tya  jadi menggelinjang kegelian karenanya.

"Geli, Van..." rintihnya manja. Tya makin menggeliat ketika lidah nakal Evan menelusuri belahan payudaranya dan terus bermain-main disana. Evan menciumi gundukan buah dadanya, tapi belum sampai ke pentilnya.

"Van, diisep dong pentinya! Nanti gantian Tya isepin kontol kamu..." Tya Ariestya mendesah-desah.

Evan terus saja menjilati bongkahan payudara Tya, tapi putingnya sama sekali tidak ia sentuh. Yang ada ciumannya malah turun ke arah perut Tya sambil tangannya mengusap-usap daerah selangkangan gadis itu. Tya jadi tak tahan lagi, sambil menggeram, cepat ia tarik dan didekatkannya kepala Evan ke arah putingnya.

"Diisep dong, Van!" rengek Tya putus asa.

Evan segera melahap dan menghisap puting itu, sambil tangannya meremas-remas bongkahan susu Tya yang bulat besar.

Kelakuannya itu membuat Tya menjerit keenakan dan merintih semakin keras, "Terus, Van... yah, begitu... isep yang keras... enak, Van... aah!!" erangnya.

Evan mengemut puting Tya bergantian, demikian pula susu gadis itu, diremasnya berganti-ganti antara yang kiri dan yang kanan. Sesekali tangannya turun ke bawah untuk mengelus-elus itil Tya yang kini sudah terasa semakin basah saja.

Tya sadar bahwa batang kontol Evan belum merasakan sentuhan apapun darinya. Merasa kasihan, ia pun segera bangkit dan melepas semua pakaian yang menempel di badan Evan. Begitu sudah telanjang, terlihat kontol Evan yang besar dan panjang sudah ngaceng dengan kerasnya.

"Kontol kamu udah keras, Van, gede banget!!” kata Tya sambil mengocok lembut batang penis itu.

“Kamu suka kan, Tya, sama kontolku?” tanya Evan, tangannya tetap bertengger di bulatan payudara Tya yang bulat sekal dan meremas-remas lembut disana.

“Suka banget, Van! Kontol kamu tuh selalu bikin memekku sesak kalau sudah masuk semua! Apalagi kalau sudah kamu enjot, gesekannya terasa banget, bikin aku jadi tak tahan! Ayo, Van, cepat setubuhi aku! Aku udah nggak sabar nih pengen ngerasain kontolmu!” jawab Tya penuh nafsu sambil menciumi kontol Evan dan mengenyot bagian kepalanya. Tak lama, ia pun mulai menjilatinya.

"Enak, Tya! Terusin ngemutnya," kata Evan suka.

Tya menghisap batang kontol Evan semakin keras, kepalanya sampai terangguk-angguk saat ia melakukannya. Terus dikeluar-masukkan benda panjang itu di dalam mulutnya, sambil Tya tak henti-henti mengocok batangnya dengan lembut saat ia mengenyot ujung kontol Evan kuat-kuat.

"Oouhh, Tya... nikmat banget seponganmu!” teriak Evan terengah.

Tapi disaat Evan mulai kelimpungan, Tya tiba-tiba menghentikan kulumannya dan mengeluarkan kontol pemuda itu dari dalam mulutnya, dia kemudian merebahkan tubuhnya disisi Evan, “Sini, Van, letakkan kontolmu disini!!” perintah Tya sambil menunjuk belahan susunya.

Tanpa banyak bertanya, Evan segera menjepitkan kontolnya yang sudah keras sekali diantara belahan susu Tya. Tya menjepit batang panjang itu dengan bukit payudaranya, lalu mulai menggerakkannya maju mundur, ia menggesekkan susunya yang empuk dan kenyal pada kontol Evan. Sambil melakukannya, tak lupa ia mengemut kepala kontol Evan yang timbul turun naik diantara belahan payudaranya. Hal itu terus berlangsung berulang-ulang hingga membuat Evan mengerang keenakan tak lama kemudian.

"Aah, Tya... nikmat sekali!!" rintih Evan mendapatkan sensasi kenikmatan yang baru. Setelah merasa puas digesek oleh susu Tya, dia pun ingin segera merasakan kenikmatan yang sesungguhnya. Evan tahu bahwa Tya juga sudah sangat terangsang, memek gadis itu sudah sangat basah saat teraba oleh tangannya.

"Sekarang, Tya...” kata Evan sambil berbaring, “kamu di atas ya?!" perintahnya.

Segera Tya menaiki tubuh Evan dan menempatkan kontol si pemuda yang sudah ngaceng berat ke belahan memeknya. Tya lalu menurunkan pinggulnya pelan-pelan. Sleeep... Bleeess... Kontol Evan yang besar mulai ambles di dalam memek Tya.

"Aah... enak banget, Vann." lenguh Tya saat dinding-dinding memeknya digesek oleh batang kontol Evan. Liangnya terasa penuh. Dia mulai menaik turunkan pantatnya dengan cepat sehingga kontol Evan semakin cepat terkocok di dalam liang vaginanya, nikmat sekali rasanya.

"Nikmat, Tya... terus yang cepet." Evan melenguh.

Tya merunduk dan mencium bibir pemuda itu. Evan memeluk punggungnya sambil gantian mengulum bibirnya. Evan meremas-remas susu Tya yang berguncang-guncang seiring dengan naik turunnya badan gadis itu mengocok liang senggamanya. Puting Tya yang mungil kemerahan dipilin-pilin oleh Evan, membuat Tya jadi semakin bernafsu mengocok kontol Evan dengan memeknya. Evan memegang pinggul gadis itu sementara Tya terus menggerakkan pinggulnya. Semakin lama genjotan Tya menjadi semakin kencang.

"Van, aku sudah mau nyampe nih..." kata Tya terengah-engah.

Evan meraba itil gadis itu dan dikilik-giliknya, hal itu untuk mempercepat proses puncak kenikmatan bagi Tya.

Dan benar saja, tidak lama kemudian, "Aaaah... Vann... aku keluar... ouhh... nikmat..." lenguh Tya sambil ambruk menelungkup di badan Evan. Seer... seerr... seerrr... seeerr... terasa memeknya mengeluarkan cairan kenikmatan membasahi kontol Evan.

Setelah badai kenikmatan yang dialaminya mereda, Tya mengeluarkan kontol Evan dari jepitan memeknya, kontol itu masih terlihat tegak perkasa. Tya mulai menciuminya, ia emut kepala kontol Evan yang nampak basah memerah. Kepala Tya kembali terangguk-angguk mengeluar masukkan kontol Evan di dalam mulutnya. Kontol itu terus diemutnya sambil Tya mengocok-ngocok batangnya dengan cepat.

"Aaah... enak banget, Tya." erang Evan.

Cukup lama Tya mengemut kontolnya, namun pertahanan Evan masih terlalu tangguh. Puncak kenikmatannya masih sangat jauh. Evan bisa bertahan lama karena kemarin sudah dikuras habis oleh Aura, Shinta dan Tyas Mirasih.

"Sekarang, Sayang... masukkan kontol besarmu ke memek Tya lagi... ayo sayang." rengek Tya yang birahinya kembali memuncak.  Batang kontol Evan yang besar masih tegak dan keras, mengacung penuh siap menantangnya. Tya langsung meremas batang kontol itu kemudian memegangnya erat-erat, diarahkan kontol tersebut ke dalam lubang miliknya yang telah basah kuyup.

Bleeess...!!! benda itu kembali masuk.

"Tekan, Van... yeah... tekan terus... begitu... ssssh... ahh!" Tya merintih-rintih ketika Evan benar-benar menusukkan kontolnya hingga amblas tertelan oleh lubang memeknya.

Evan kemudian memutar-mutar kontolnya, menggelitik dinding bagian dalam memek Tya. ”Aughhh!!” Tya menjerit kenikmatan. Dalam beberapa saat saja Evan dapat merasakan kehangatan pada bagian dalam memek Tya. Itu tandanya kalau gadis itu sudah dalam keadaan sangat terangsang. Evan memutar-mutar kontolnya lebih giat lagi dalam memek Tya, membuat Tya jadi begitu terperangah karenanya.

"Aduh, enak sekali, Van... enak... sshh..." Tya mendesis-desis merasakan nikmat pada lubang vaginanya. Apalagi saat Evan menekan-nekan semakin kuat batang kontolnya, sepenuh tenaga menghujam memek sempit Tya, sampai ujungnya yang keras terasa menusuk pada bagian terdalam lubang kewanitaannya. Itulah yang membuat rasa nikmat pada diri Tya Ariestya.

Tya mencoba mencari kenikmatan lain dengan menggoyangkan pantatnya memutar. Otot-otot memeknya terasa menciut dan mengembang ketika ia melakukan itu. Kontol Evan yang menancap dalam bagai merasakan pijitan yang nikmat, memek Tya seperti memijit dan meremas-remas batangnya. Evan melenguh nikmat luar biasa merasakannya, "Uh... uhh..." desisnya pendek.

Evan berusaha meredam gejolak nafsunya. Dia masih ingin lebih lama lagi menikmati persetubuhannya dengan Tya. Kontolnya yang besar, panjang dan keras berusaha rileks mengikuti gerakan-gerakan yang diberikan oleh gadis itu. Evan juga menghela nafas panjang untuk meredam nafsunya, biasanya cara itu bisa efektif mengurangi tekanan gejolak birahinya.

Sementara itu birahi Tya terus memuncak. Dia bagai histerisdan kesetanan. Matanya membeliak-beliak, lebih-lebih ketika mendengar suara merdu yang ditimbulkan oleh tubrukan antara memeknya dengan kontol Evan. PLOK... PLOK... PLOK... Tya jadi semakin bernafsu karenanya.

Keras sekali goyangan pantatnya, ia memutar-mutar pantatnya bagai mengulek kontol Evan. Tidak sia-sia dia berlatih senam kegel seminggu tiga kali untuk melatih mengendalikan cengkeraman otot-otot vaginanya. Inilah hasilnya. Goyangan pantatnya ringan dan lincah. Sesekali ditarik ke bawah. Saat itulah kontol Evan terbawa serta. Kali ini Evan yang meringis. Batang kontolnya serasa disedot-sedot di dalam lubang memek Tya. Nikmatnya sungguh luar biasa.

Bagian dalam memek gadis itu terasa semakin panas. Evan menekan lebih dalam lagi batang penisnya. Bagian lunak memek Tya terasa semakin membengkak. Basahnya bagaikan banjir. Evan tahu Tya sebentar lagi akan mencapai puncak kenikmatannya kembali. Maka kontolnya diputarnya lagi lebih kuat, kemudian ditekannya dalam-dalam.

Bleess!!!

”Aughhh...” Tya merintih panjang. Sambil mengejangkan seluruh tubuhnya, ia merasakan sesuatu yang luar biasa. Dari ujung kaki hingga ubun-ubunnya dijalari nikmat yang tak terhingga. Bersamaan dengan itu, seer... seerr... seeerr... Tya memuncratkan lagi lahar panas kenikmatannya.

“Oh, Vann... aku keluar lagi... aku kalah lagi... aah... nikmat sekali rasanya!!" jerit gadis itu saat merasakan puncak kenikmatan untuk yang kedua kalinya.

Sebaliknya Evan masih belum apa-apa. Mungkin masih tahan dua kali permainan lagi. Sebab dalam kenyataannya, kumpulan pejuhnya masih jauh dari ujung kontolnya. Merasakan memek Tya yang kini menjadi sangat becek, cepat diraihnya sapu tangan yang ada di dekat situ. Evan mencabut kontolnya dari memek Tya, lalu dilapnya batang kontol yang basah akibat siraman cairan kenikmatan Tya itu hingga bersih, juga dilapnya pula memek Tya hingga kedua-duanya jadi kering. Begitu selesai, langsung dimasukkannya lagi.

Sleeep... bleesss.... Tya meringis, agak ngilu dan perih rasanya ketika batang kontol Evan yang besar menggesek kembali dinding memeknya yang kering. Dikarenakan kontol Evan yang makin membengkak, maka lubang memek Tya serasa semakin menyempit saja.

Evan terus menekan-nekan kontolnya keluar masuk di lubang memek Tya agar dia dapat cepat mencapai puncak kenikmatannya. Namun sia-sia, dia masih belum merasakan tanda-tanda itu, Evan tetap kukuh bertahan. Sedangkan Tya yang semula lunglai kini mulai bersemangat kembali. Rangsangan seks yang diberikan oleh Evan dengan cepat menyerang tubuh sintalnya.

Tya meminta Evan untuk mencabut dulu batang penisnya. Setelah alat kelamin mereka terpisah, Tya cepat merubah posisi tubuhnya. Dia kini menungging hingga pantatnya yang besar itu mendongak ke atas. Itilnya terlihat mengintip diantara selangkangannya. Evan menyentuh usil itil itu dengan ujung telunjuknya.

"Apaan nih?" godanya.

"Ada aja... ini kacangku." canda Tya sambil tangannya menggerakkan telunjuk Evan sehingga jari pemuda itu kini menggesek-gesek bulatan itilnya.

"Bau ya?" goda Evan mencoba mencium ujung jari telunjuknya setelah lepas dari pegangan tangan Tya.

"Biar bau tapi nikmat!" jelas Tya.

"Dan diincar banyak orang," sambung Evan sambil menusukkan kembali kontolnya ke lubang memek Tya, kali ini dari belakang. Batang kontolnya yang besar menyeruak di selangkangan Tya sehingga memaksa Tya agak sedikit merenggangkan posisi menunggingnya.

Agak sulit bagi Evan untuk memasukkan kontolnya ke dalam memek Tya, karena dalam posisi menungging seperti itu, memek Tya jadi terasa semakin sempit. Namun berkat usaha yang ulet, akhirnya, sleeepp... bleeess... dia berhasil memasukkan batang kontolnya dengan sempurna ke dalam memek Tya. Evan mulai menggerakkannya maju-mundur sambil berusaha mencari posisi yang paling enak agar kontolnya dapat keluar masuk dengan lancar. Evan segera memutar dan menekan-nekannya lebih keras saat posisi itu sudah ia peroleh. Gerakan itu ia lakukan secara berulang-ulang dan terus-menerus. Tya ikut membantu dengan memaju-mundurkan pinggulnya sehingga kontol Evan dapat semakin dalam menusuk lubang memeknya. Mereka terlihat begitu menikmati permainan itu.

"Enak, Tya... uuhh..." kata Evan ketika Tya mulai menggoyang dan memutar pantatnya semakin cepat.

"Aku juga, Van... sshh... enak!!" desis Tya tak mau kalah.

“Ooh… Tya… oooh… enak sekali, Tya... aakh…” Evan melenguh. Tangannya kini menggenggam susu bulat Tya. Diremasnya benda besar itu dengan mesra. Sementara Tya terus menggerak-gerakkan tubuhnya ke depan dan ke belakang. Ia pun merintih-rintih penuh nikmat. Batang kontol Evan terasa menancap dengan ketat di dalam liang memeknya, membuat benda sempit itu jadi basah dan becek kembali. Terdengar bunyi mendecik tiap kali alat kelamin mereka saling bertemu dan bergesekan, crop... crop... crop... Bunyi itu menambah gairah bagi keduanya.

"Gila, Vann... aku mau nyampe lagi." kata Tya, "Kamu gimana, Van?" tanyanya pada Evan.

"Belum, Tya, rasanya masih jauh." jawab Evan terus terang.

"Edan kamu. Kok tahan amat sih?!" maki Tya tak percaya.

"Tapi kamu suka kan?" kata Evan menggoda.

"Ya iyalah, Semua cewek pasti suka cowok yang tahan lama.” jawab Tya, lalu kemudian, “Ahhh... aah... aku... oooh... Vann... aku keluaaaaaarr...!!!” teriak Tya kesetanan, tubuhnya meregang, pantatnya mendesak kuat sehingga kontol Evan masuk semakin dalam, bahkan tenggelam sampai ke pangkalnya. Dalam lengkingan panjang, Tya kembali merasakan kenikmatan orgasme yang luar biasa.

Sudah tiga kali ia menyemburkan cairan kenikmatannya. Untuk ketiga kalinya ia kembali kalah oleh keperkasaan Evan. Badannya lemas. Tenaganya benar-benar terkuras dalam permainan seksnya dengan Evan kali ini.

"Van, capek banget. Kita istirahat dulu ya?" ajak Tya. Evan tak menolak karena diapun tahu kondisi gadis itu. Butuh waktu beberapa lama untuk memulihkan tenaga Tya kembali setelah orgasme tiga kali hanya dalam rentang waktu beberapa menit.

Kesempatan istirahat itu dimanfaatkan Evan untuk mengemukakan niatnya. Dia minta kekurangan uang buat biaya operasi Ibunya agar secepatnya ditransfer oleh Tya.

"Maaf, Tya, aku sangat membutuhkan uang tersebut. Tanpa uang itu, Ibuku mungkin tidak akan tertolong. Dan kalau hal itu terjadi, maka akulah orang yang paling bertanggung jawab..." kata Evan sambil tangannya terus mem-belai bulu-bulu halus di selangkangan Tya yang lebat. Sesekali sambil ditekannya jari-jarinya tepat di itil gadis itu sehingga membuat Tya kembali menggelinjang nikmat.

"Auw, nakal kamu, Van..." maki Tya gemas, "Tenang aja, soal uang itu gampang. Kalau perlu aku bisa transfer sekarang.” lanjutnya lalu bangkit. Dia mengambil HP-nya di meja rias kemudian menghampiri Evan yang masih berbaring di tempat tidur. Tya mengetikkan sesuatu di HP-nya dan tak lama kemudian dengan senyum manis, melalui layar HP, dia menunjukkan jumlah uang yang akan ditransfer ke rekening Evan.

“Beres, Van, sudah aku transfer uang itu ke rekening kamu.” kata Tya setelah menyelesaikan transaksi SMS Banking-nya.

Melihat hal itu, Evan langsung memeluk Tya. Diserbunya bibir gadis itu yang mungil namun menggemaskan. Sambil terus berciuman, tangan Tya mulai mengocok-ngocok dengan lembut kontol Evan. Saat batang itu semakin menegang, Tya melepaskan bibirnya dari serbuan bibir Evan, lalu dengan penuh nafsu menunduk dan mulai mengulum batang kontol Evan.

Evan merintih menikmati hisapan mulut Tya. Batang kontolnya terasa semakin tegak dan keras. “Aah, Tya… bibir dan lidahmu terasa begitu enaknya…” erang Evan suka.

Kemudian Tya berjongkok dengan kakinya berada di kanan kiri pinggul Evan. Rupanya gadis itu sedang berusaha memasukkan kembali batang kontol Evan ke dalam lubang memeknya. Bleess… slleeepp... Batang itupun  membenam lagi ke dalam liang memeknya, disusul dengan himpitan dada Tya ke atas dada Evan sambil Tya mulai menggerak-gerakkan lagi pantatnya naik turun. Dinginnya udara malam tak terasa lagi bagi mereka berdua. Kehangatan dan kenikmatan membuat Evan dan Tya berkeringat.

“Aduh, Vann... enak banget dientot sama kamu... sshh!!” desis Tya sambil mempercepat ayunan pinggulnya sehingga batang kontol Evan seperti ditarik-tarik ke atas dan ke bawah.

“Iya, Tya, nikmati aja...” sahut Evan, “Memek kamu juga enak…” sambungnya.

“Kontol kamu lebih enak, Sayang. Enak sekali… aahh... aduh... aduduh... bikin aku jadi tambah sayang sama kamu…” kata Tya sambil terus mengulek kontol Evan dengan memeknya.

“I-iya, Tya… a-aku juga sayang sama kamu…” lenguh Evan.

Tiba-tiba Tya menghentikan ayunan pinggulnya, “Wah, kalau posisi gini aku bisa nyampe lagi… aku mau kita keluar bareng, Sayang.” kata Tya, “ganti posisi...!!!” perintahnya. “Aku mau di bawah...” kata Tya sambil merebahkan tubuh ke samping Evan sehingga batang kontol Evan terlepas dari jepitan liang memeknya. Tya telentang sambil mengganjal pinggulnya dengan bantal, lalu kedua kakinya direntangkan selebar-lebarnya sehingga belahan memeknya tampak merekah indah, bagian dalamnya terlihat begitu basah dan memerah.

“Biar bisa masuk semua,” kata Tya tersenyum sambil mengelus-elus memeknya sendiri, “Ayo Masukin lagi, Van!” pintanya manja, “Cobalah… pasti beda rasanya.” ia meyakinkan Evan.

Evan tersenyum, lalu mengikuti petunjuk Tya. Ia masukkan batang kontolnya ke dalam memek Tya yang sudah basah. Kemudian Evan menahan tubuhnya dengan kedua tangan tertekan di kanan kiri Tya, seperti tukang becak yang sedang memegang stang becaknya.

Bleeeeeeeeeeeessss...

“Gila! Benar, Tya. Rasanya batang kontolku amblas sepenuhnya ke dalam liang memekmu!” kata Evan terkejut. “Lebih mantap rasanya…” cetusnya sambil mulai mengayun pinggul dan batang kontolnya.

Tya pun mengangkat kakinya sampai melewati bahu Evan sehingga kakinya menggantung di bahu pemuda itu. Ia melakukannya agar Evan makin leluasa membenamkan batang kontolnya ke dalam liang memeknya sedalam-dalamnya.

Evan terus mengayun dan menggoyang tubuhnya, menyetubuhi tubuh mulus Tya Ariestya. Keringat mulai bercucuran di tubuhnya yang atletis, berjatuhan ke perut dan dada Tya yang membulat indah. Oh, sungguh permainan yang indah sekali. Evan merasa bangga karena dalam senggama di hari itu dia berhasil membuat Tya tiga kali orgasme. Evan memang tangguh, tiga wanita saja dapat ia taklukkan, apalagi cuma Tya seorang.

“Oooh... aku nggak kuat, Vann... mau keluar lagi...” teriak Tya sambil memeluk erat tubuh Evan.

Seer... seerr... seeerr... belum sempat Evan menjawab, kembali memek Tya menyemburkan cairan kenikmatannya. Cairan hangat itu menyiram kontol Evan yang tenggelam dalam di liang memek Tya. Mulut Tya megap-megap menahan kenikmatan orgasmenya yang keempat. Setelah gelombang itu mereda, Tya baru melepaskan pelukan pada tubuh Evan.

Evan yang kasihan melihat Tya yang seperti sudah kepayahan disetubuhi olehnya, kini berkonsentrasi agar cepat ejakulasi. Setelah berusaha cukup keras, akhirnya ia berhasil juga meraih kenikmatan itu. Evan membenamkan batang kontolnya sedalam mungkin, sampai menyeruduk ujung liang memek Tya. “Ohh, Tya… aku keluar… aaahhh…” ia mengerang menyambut puncak kenikmatannya. Tubuhnya mengejang. Evan memagut bibir Tya penuh nafsu saat pejuhnya menyembur memenuhi liang memek gadis itu. Setelah terkuras habis, Evan pun lalu ambruk ke dalam dekapan sayang Tya Ariestya.

“Ouw... aaah…” erang Tya ketika merasakan kontol Evan yang masih berkedut-kedut di dalam liang memeknya. “Akhirnya aku merasakan hangatnya semburan pejuhmu, Sayang.” kata Tya sambil mencium mesra pipi Evan.

“Iya, aku kasihan sama kamu, sudah ngos-ngosan gitu,” kata Evan sambil mempermainkan susu Tya yang masih dibasahi keringat.

Karena sudah terlalu larut malam, ditambah kondisi tubuhnya yang sangat capek akibat persetubuhannya dengan Tya, akhirnya Evan memutuskan untuk tidur saja di rumah Tya malam ini. Sambil berpelukan mesra, mereka berdua tertidur setelah mereguk kepuasan bersama-sama.

***

Pagi harinya setelah keduanya mandi dan berpakaian rapi, Tya mengajak Evan ke Bank untuk mengecek pembayaran kontrak syuting yang semalam diceritakannya pada Evan. Begitu tiba, Tya langsung menemui CS Bank tersebut. Setelah mengutarakan maksudnya, Tya mendapat jawaban bahwa ada penambahan saldo pada rekeningnya yang berasal dari transfer sebuah rumah produksi.

Tya tersenyum pada Evan, “Van, sesuai janjiku semalam, hari ini aku akan membelikan mobil buat kamu.” kata Tya saat mereka meninggalkan Bank.

“Tya, agar tidak terlalu mencolok dan menimbulkan kecurigaan dari temen-temen dan juga keluargaku, aku minta mobilnya jangan yang baru. Mobil second aja, yang penting masih bagus kondisinya. Dan karena keluargaku banyak, aku minta mobil jenis minibus aja.” jelas Evan, “Sori ya, Tya, sudah dibelikan banyak permintaan lagi...” lanjutnya.

Tya tersenyum manis, “Hebat kamu, Van! Kamu masih menjaga perasaan orang lain dan keluargamu. Sungguh mulia hatimu… Ternyata kamu sama sekali tidak memanfaatkan diriku semata untuk memenuhi keinginan kamu. Padahal bagi orang lain mungkin mereka sudah memilih mobil dengan model dan keluaran terbaru.” puji Tya jujur, “Ah, rasanya aku semakin jatuh cinta padamu, Van...” batinnya. “Nggak apa-apa, Sayang... aku sangat menghargai permintaan kamu.” jawab Tya kemudian.

“Terima kasih ya, Tya...” Evan mencium lembut pipi Tya sebagai rasa terima kasih, lalu mereka berdua pun meluncur ke sebuah show room mobil.

Setelah Evan mendapatkan mobil sesuai pilihannya, Tya pun menyelesaikan pembayarannya. Setelah semuanya beres, pihak show room berjanji akan mengantarkan mobil tersebut dua  hari ke depan.

Evan tersenyum, “Akhirnya aku dapat mempunyai mobil sendiri...” katanya dalam hati.

Selesai dari show room, Tya mengantarkan Evan ke tempat kosnya, sedangkan dia sendiri menuju studio karena masih ada sisa syuting yang harus diselesaikannya disana.

“Sampai ketemu lagi ya, Van...” kata Tya ketika mobilnya berhenti tepat di mulut gang tempat kos Evan. Dikecupnya lembut bibir pemuda itu. Mereka berpagutan sejenak dengan mesra sebelum akhirnya Evan keluar dari mobil tersebut.

***

“Gila loe, Van...!!! Kemana aja loe semalam? Siang hari gini baru nongol...” tanya Dodi temen kosnya saat berpapasan dengannya di teras rumah.

“Ah kamu, mau tahu aja urusan orang. Gue lagi ada bisnis.” jawab Evan mengelak.

“Tadi ada Chelsea,” kata Dodi, “Dia ingin bertemu...” tambahnya.

“Mana dia?” tanya Evan.

“Pergi lagi. Kelamaan nungguin loe enggak dateng-dateng.” jawab Dodi.

“Kenapa kamu nggak tahan dia?” tanya Evan.

“Gue udah berusaha, tapi Chelsea bilang masih ada kepentingan yang lain, dia kesini hanya mampir.” jawab Dodi menjelaskan.

Ada perasaan kecewa dan bersalah tergambar di raut wajah Evan. Sejak dia bertemu dengan Tya dan merasakan kenikmatan tubuh perempuan itu, dia jadi jarang menemui Chelsea. Padahal Chelsea lah orang pertama yang memberikan dorongan semangat padanya disaat keadaannya belum seperti sekarang.

Kini rasa sayangnya terbagi antara Chelsea dan Tya. Karena Tya telah memberi segalanya, termasuk memberikan sesuatu yang selama ini belum dia peroleh dari Chelsea, yaitu kenikmatan dalam persetubuhan, dimana kenikmatan itu hampir setiap hari Evan dapatkan dari Tya, sehingga dia lebih sering bertemu dengan Tya dibandingkan dengan Chelsea.

Namun dalam hatinya, Evan masih menyimpan rasa sayangnya buat Chelsea. Dia masih mencintai gadis itu. Kini dia dihadapkan dengan dua pilihan, antara Chelsea dan Tya, dua wanita yang hadir dalam hatinya.

“Ah, biarlah semuanya berjalan seiring berlalunya waktu. Sekarang biarlah aku nikmati semuanya selagi bisa.” batin Evan lalu melangkah masuk ke kamarnya.
loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kisah Petualangan Evan 3 : Kembali Bersama Tya"

Post a Comment