Kisah Petualangan Evan 2 : Foursome Bersama 3 Bidadari

Semenjak kejadian siang itu, hubungan Evan dan Tya Ariestya semakin erat. Kapanpun Tya membutuhkan Evan, maka Evanpun siap menemani dan melayani Tya.

Setiap Evan berhasil memberi kepuasan baginya, Tya tidak segan-segan memberikan uang kepada Evan sebagai hadiah. Dengan uang itu, maka kehidupan Evan pelan-pelan mulai membaik. Kini Evan telah mampu membeli pakaian-pakaian bermerk sehingga penampilannya berubah dari seorang pemuda yang biasa-biasa saja menjadi pemuda yang sangat menarik. Evan juga kini menenteng HP merk terkenal. Semua itu makin membuat ketampanan Evan terlihat.

Perubahan itu diam-diam diperhatikan oleh seseorang, dia adalah Aura Kasih, teman baik Tya yang sering main ke rumah Tya. "Heran," kata Aura yang lagi ngumpul bersama teman-temannya di restroom saat jeda syuting. "Teman Tya jadi keren gitu ya?" lanjutnya. Sehari-hari, Evan memang diperkenalkan sebagai ’teman’ oleh Tya Ariestya.



"Makin keren makin berisi lagi," sahut Tyas Mirasih, "Eit, jangan salah tafsir dulu, maksud gue tuh sekarang Evan banyak duitnya." tambah Tyas.

"Apa iya?” sela Shinta Bachir.

"Gua saksinya," potong Aura, "samber gledek gue berani, Evan memang makin kelihatan tampan aja.”

"Dari dulu tuh emang loe udah naksir sama Evan. Apa lagi sekarang. Evan kan sekarang banyak duit.” kata Tyas.

"Enak saja, bukan gue kali yang naksir dia, tapi dia yang naksir gua. Tapi kalau dulu sih mungkin gue akan tolak juga sih, tapi kalau sekarang gue mau. Habis Evan tambah tampan aja dan tebal dompetnya.'' aku Aura.

“Huh... Dasar cewek matre loe, Ra.” kata Tyas dan Shinta hampir bersamaan. Lalu mereka bertiga tertawa.

Saat itulah, Aura tiba-tiba melontarkan ide gila. ”Gue jadi pengen ngerasain tubuhnya nih.” bisiknya.

Tyas dan Shinta langsung terdiam begitu mendengarnya, tapi setelah mengerti, mereka kemudian tertawa lagi. Aura, Tyas dan Shinta termasuk cewek-cewek yang menganut free sex, sehingga tidak heran jika mereka bertiga telah melakukan hubungan sex dengan cowok-cowok yang telah memacari dirinya atau dengan cowok yang mereka sukai dan inginkan. Kini mereka bertiga sama-sama penasaran ingin menikmati keperkasaan Evan. Apalagi status mereka bertiga saat ini sama, yaitu sama-sama jomblo dan baru putus dengan cowok-cowok mereka masing-masing.

Aura putus dengan Ariel 4 bulan yang lalu. Tyas diputuskan Raffi sebulan yang lalu dan Shinta baru seminggu ditinggalkan cowok bulenya pulang ke negara asalnya.

Maka demi tercapainya keinginan mereka dan untuk menghilangkan rasa penasaran mereka bertiga terhadap Evan, atas saran Tyas dan Shinta, Aura akan mengundang Evan ke rumahnya nanti malam. Kebetulan nanti malam adalah malam Minggu.

Kemudian Aurapun menelepon Tya, meminta nomor HP Evan. Setelah mendapatkannya, ia segera menghubungi Evan. “Halo, bisa bicara dengan Evan?” kata Aura ketika panggilannya mulai diangkat oleh seseorang.

"Ya saya sendiri, maaf ini siapa ya?” Evan balik bertanya.

“Ini aku, Aura...” jawab Aura memperkenalkan diri.

“Hai, Ra... ada apa nih tumben telepon aku? Pasti Tya ya yang ngasih tahu nomorku?” lanjut Evan.

“Iya, Van, Tya yang kasih tahu nomor loe ke gue.” jawab Aura terus terang. “Begini, Van, aku mau loe datang ke rumah gue...” ajaknya kemudian.

“Emangnya ada perlu apa?” tanya Evan tanpa curiga.

“Gue mau loe betulin laptop gue di rumah. Laptop gue tiba-tiba hang dan nggak dapat dihidupin lagi. Gue mau loe nanti malam ke rumah gue.” jawab Aura berbohong.

“Nanti malam?” Evan kaget karena Aura mendadak mengundang dirinya. Padahal rencananya nanti malam ia ingin ketemu Tya guna melepaskan hasrat birahinya yang sudah seminggu ini tidak tersalurkan karena waktunya tersita oleh kesibukannya dalam mengolah data-data untuk keperluan tugas akhirnya.

“Iya, Van, nanti malam. Bisa kan, Van? Tolongin gue ya, Van, soalnya disitu ada rekaman lagu baru gue nih.” kata Aura dengan nada memohon.

“Oke-oke, nanti malam gue ke rumah loe.” jawab Evan pada akhirnya.

“Makasih ya, Van. Gue tunggu di rumah nanti malam. Bye, Van.” kata Aura menutup pembicaraan.

“Bye, juga...” Evan mematikan hapenya.

“Yes!!” teriak Aura Kasih penuh keberhasilan.

“Asyik, Shin, ntar malam kita jadi pesta.” kata Tyas Mirasih kepada Shinta Bachir.

“Iya, Ty, loe kan tahu si Alex itu sudah tiga hari ini mudik ke negaranya. Ortunya sudah habis masa dinasnya di sini. Si bule itu nafsunya gede banget. Hampir setiap ketemu sama gue, dia selalu minta ngentot. Apalagi kalau malam minggu, bisa sampai pagi dia ngentotin gue di apatemennya. Makanya ini gue masih ngerasa gatal, tiga hari ditinggal si Alex...” jawab Shinta sambil tangannya terus memegangi selangkangannya.

Aura dan Tyas tertawa berderai melihat ulahnya. Mereka segera tos tangan untuk merayakan keberhasilan mereka.

***

Malam harinya, Evan benar-benar datang ke rumah Aura. Evan memencet bel yang ada di dekat pintu pagar masuk rumah Aura begitu dia tiba disana. Tidak berapa lama kemudian muncul Aura dengan rok mini dari bahan jeans dan tanktop dari bahan kaos yang sangat ketat. Rok yang dikenakan Aura sungguh super mini sehingga jika seandainya Aura membungkuk, pasti CD-nya akan jelas kelihatan. Demikian juga dengan tanktop yang dikenakannya, begitu ketatnya benda itu hingga kedua susu Aura yang bulat besar tampak menonjol indah di depan dadanya, serta lekak-lekuk tubuh bahenolnya tercetak dengan jelas disana. Pemandangan tersebut kontan membuat Evan bengong, ia tak berkedip menikmati keindahan tubuh Aura Kasih.

“Hei, Vann, yuk masuk...” ajak Aura setelah dia membukakan pintu pagar rumahnya sekaligus membuyarkan lamunan Evan, “Kita ngobrolnya di lantai atas aja ya, Van, biar nyantai.” lanjutnya sambil mengajak Evan menuju ruang santai di lantai dua rumahnya.

“Kok sepi, Ra, bokap sama nyokap loe kemana?” tanya Evan begitu melihat keadaan rumah Aura yang sunyi sepi.

“Ortu lagi ke Semarang. Kakak Nyokap gue di Semarang mau nikahin anak sulungnya. Pembokat gue diajak juga sama ortu untuk bantu-bantu disana. Jadi gue sendirian di rumah malam ini,” jawab Aura menjelaskan. Sebenarnya dia berbohong ke Evan kalau dirinya sendirian di rumah karena sebenarnya ada Tyas dan Shinta yang sengaja sembunyi di kamar yang terletak tidak jauh dari tempat Aura dan Evan ngobrol sehingga mereka dapat mendengarkan pembicaraan Evan dan Aura, serta dapat mengintip kejadian di ruangan tersebut dari tempat mereka bersembunyi.

Tanpa curiga Evan mengikuti Aura naik ke lantai atas. “Oh gitu ya? Terus mana laptop loe, biar gue periksa.” kata Evan sambil matanya mencuri pandang ke arah belahan susu Aura Kasih yang bulat besar. Mereka sudah duduk berdua sekarang, tapi karena posisi duduk Aura yang agak mengangkang, maka Evanpun dapat melihat dengan jelas ke dalam celah belahan paha Aura yang putih mulus. Samar-samar terlihat bayangan hitam di bukit selangkangan gadis itu.

Aura menyadari kalau sejak mulai dari pintu pagar sampai masuk ke dalam rumahnya, mata Evan selalu mencuri-curi pandang memperhatikan tubuh sintalnya. Baik ke arah belahan susunya maupun tonjolan bukit pantatnya. Dan Aura senang dengan hal itu. “Perangkapku mulai menunjukkan hasil,” bisiknya dalam hati, “Sebentar lagi pasti gue akan mendapatkan loe, Evan!” yakin gadis itu.

Maka bukannya segera mengambil laptopnya, Aura malah menggeser posisi duduknya sehingga tepat berada di depan Evan. Dia tidak malu-malu lagi untuk membuka pahanya lebih lebar lagi di depan mata pemuda tampan itu. Aura yakin kalau dengan posisi duduknya yang sekarang, Evan pasti dapat melihat dengan jelas bagian dalam selangkangannya. Usaha Aura ternyata berhasil. Pandangan Evan kini beralih dari belahan susunya turun ke arah sela-sela pahanya.

Aura tersenyum pada Evan, “Van, jangan marah ya? Sebenarnya laptop gue tuh nggak rusak. Gue sengaja cari alasan agar loe mau datang ke rumah gue. Soalnya kalau enggak gitu, pasti loe nolak permintaanku...” kata Aura terus terang, “Sebenarnya gue cuma pingin loe temenin gue malam ini. Gue takut sendirian di rumah, gue pingin ditemenin loe.” lanjutnya.

Sambil mendengarkan penjelasan dari gadis itu, mata Evan terus menatap tajam ke arah sela-sela paha Aura yang semakin terbuka sehingga dia dapat melihat kalau Aura tidak mengenakan CD. Karena tidak ada CD yang menutupi daerah itu, maka Evan pun dapat melihat langsung bulu-bulu jembut Aura yang menghitam lebat.

Sejak merasakan kenikmatan seks dengan Tya Ariestya, kini Evan mulai kepingin juga merasakan kenikmatan seks dengan wanita lain. Makanya begitu melihat Aura yang memprovokasi dirinya dengan pemandangan indah belahan memeknya, Evan jadi ingin sekali menyetubuhi gadis itu. Evan teringat cerita teman-temannya kalau wanita yang bulu jembutnya lebat, nafsunya biasanya tinggi. Kalau dientot tidak cukup hanya sekali, pasti minta lagi dan lagi. Membayangkan itu, perlahan-lahan nafsu Evan mulai bangkit.

“Emang kenapa loe pingin ditemenin gue?” tanyanya menggoda, “Kenapa nggak minta cowok loe aja yang nemenin loe. Kan enak kalau cowok loe yang nemenin, bisa berduaan, mana rumah sepi lagi...” lanjut Evan.

Aura tahu arah dan maksud dari perkataan Evan. “Rupanya dia telah benar-benar terjerat oleh perangkapku. Tinggal menunggu waktu...” batin Aura dalam hati. Menyadarai hal itu, dia segera pindah tempat duduk sehingga kini dia duduk bersisian dengan Evan.

“Habis loe menarik sih. Lagian gue sekarang lagi jomblo, gue udah putus sama cowok gue empat bulan yang lalu.” jawab Aura sambil tangannya dilingkarkan pada leher Evan. Bagi Aura, Evan adalah pemuda yang cukup tampan. Sebenarnya sudah dari dulu Aura menyukai postur tubuh Evan yang tegap dan gagah, yang mencerminkan keperkasaannya. Cowok seperti Evan  inilah yang disenangi oleh para cewek. Dengan penampilannya yang sekarang ini, Evan makin terlihat tampan dan keren, hal itulah yang menambah penasaran bagi Aura untuk membuktikan keperkasaan Evan. Bagi Aura yang sudah berpengalaman dalam masalah sex, dari beberapa cowok yang pernah menikmati tubuhnya, cowok dengan postur tubuh seperti Evan lah yang memiliki keperkasaan lebih di atas ranjang. Untuk itu, sekaranglah saatnya bagi Aura untuk membuktikan keperkasaan Evan Sanders.

“Apa sih yang membuat loe tertarik sama cowok miskin seperti gue ini?” tanya Evan sambil mendongakkan wajahnya. Dengan demikian, dia bisa semakin jelas melihat bongkahan susu Aura yang bulat dari dari belahan lengan tanktop gadis itu. Perlahan Evan juga melingkarkan tangan kirinya ke  pinggang Aura dan kemudian pelan-pelan naik ke atas sehingga menyentuh bongkahan susu Aura yang empuk dan kenyal. Karena tidak ada penolakan, maka Evan semakin berani dengan mengelus dan mengusap-ngusap bongkahan susu Aura yang gede tersebut sambil tangan kanannya mulai meraba paha Aura yang halus dan putih mulus.

Dikerjai seperti itu, Aura merasakan gairahnya mulai naik. Matanya tampak terpejam nikmat merasakan elusan tangan Evan pada susu dan belahan pahanya. Sementara itu dari tempat persembunyiannya, Tyas Mirasih dan Shinta Bachir secara bergantian mengintip aksi mereka.

"Ssst...” Tyas mendesis, "Lihat, Shin, mereka udah mulai!" lanjutnya sambil menyuruh Shinta untuk gantian mengintip.

"Asyiik!!" bisik Shinta pula.

Evan masih terus meraba-raba bongkahan susu dan paha Aura. Aura makin melebarkan kangkangannya untuk memberi peluang bagi tangan Evan mengusap pahanya lebih ke atas, menuju ke arah bukit kemaluannya. Dengan posisi seperti itu, kini tangan Evan lebih leluasa menjelajahi seluruh daerah selangkangan Aura hingga akhirnya ia merasa tangannya meraba bulu-bulu jembut Aura yang hitam dan lebat.

"Gue tertarik sama tipe cowok kayak loe, Van. Gue yakin meski belum pernah ngeliat, kontol loe pasti gede, yang membuat tiap cewek selalu pingin dientot sama loe," kata Aura dengan mata setengah terpejam. Dia menatap sayu gundukan daging yang mulai terbentuk di selangkangan Evan, membuat Aura jadi tidak malu-malu lagi berkata jorok dihadapan pemuda ganteng itu. “Gue pingin merasakannya malam ini, Van.” lanjut Aura sambil matanya merem melek menikmati elusan tangan Evan pada bukit kemaluannya.

"Benar juga kata temen-temen, tipe cewek kayak Aura nafsunya memang gede..." kata Evan dalam hati. Tangan kirinya yang tadi mengusap-usap bongkahan susu Aura dari luar tanktop-nya, kini telah berada di dalam. Dengan lembut diremas-remasnya susu Aura yang bulat besar, yang terasa begitu empuk dan kenyal dalam genggamannya.

Diperlakukan seperti itu, nafsu Aura jadi semakin meninggi, "Pindah ke kamar gue aja yuk. Tenang aja, lagian nggak ada orang kok. Yuk!” ajak Aura. Cepat digandengnya tangan Evan dan dibawanya masuk ke dalam kamarnya.

“Van, gue kunci pintu depan dulu ya...” kata Aura kemudian. Sebelum meninggalkan kamarnya, dikecupnya dengan lembut bibir Evan sebentar. Sebenarnya Aura bukan hendak mengunci pintu depan, tapi dia ingin menemui kedua temannya yang berada di kamar sebelah karena pintu depan telah dikuncinya sejak tadi, sejak Evan masuk ke rumahnya.

Menanti di dalam kamar, jantung Evan mulai berdegup kencang. Tidak menyangka malam ini dirinya akan dapat merasakan memek selain milik Tya Ariestya. Entah bagaimanakah rasanya... apakah lebih enak, atau malah sama saja? Membayangkan hal itu, kontol Evan yang masih berada dalam celana jadi membengkak keras. Segera dibukanya kaos dan celana panjang yang ia kenakan sehingga kini Evan hanya mengenakan CD saja saat duduk di kasur empuk milik Aura Kasih.

Sementara itu, begitu keluar dari kamar, Aura bergegas masuk kamar sebelah untuk menjumpai kedua temannya. “Gila loe, Ra! Jadi nih malam ini?” tanya Tyas Mirasih dengan suara agak keras.

Mendengar suara tersebut, Aura buru-buru menutup mulut Tyas. “Sst, jangan keras-keras, dodol!” bisik Aura sambil memelototkan matanya.

“Gimana, Ra, gede nggak kontolnya Evan?” tanya Shinta Bachir pelan.

“Mana aku tahu. Lihat aja belum. Baru juga mau dicoba.” jawab Aura.

“Awas! Jangan loe nikmati sendiri. Ingat, bagi-bagi, Ra...” kata Tyas mengancam, tampak sudah sangat tidak sabar.

“Beres. Tapi sesuai kesepakatan, gue dulu dong sebagai tuan rumah yang menikmatinya.” jawab Aura sambil tersenyum. Kedua temannya dengan berat hati mengiyakannya.

Aura lalu pergi meninggalkan Tyas dan Shinta untuk kembali menuju ke kamarnya, dimana Evan telah menunggunya. Aura terpaku begitu menjumpai pemuda itu, dia tampak terpesona oleh pemandangan indah yang ada di depan matanya. Tubuh kekar Evan kini hanya terbungkus CD yang cuma menutupi batang kontolnya. Tonjolan kontol yang mulai ngaceng itu terlihat jelas dari balik CD-nya. Melihat semua itu, Aura jadi semakin bernafsu, pikirannya makin melayang membayangkan betapa nikmat lubang memeknya saat dimasuki oleh batang kontol Evan yang besar itu.

Bagaikan kena hipnotis, tanpa sadar Aura pun mulai melepaskan tanktopnya. Begitu terlepas, kedua bongkahan susunya yang besar dan bulat langsung terburai keluar tanpa terhalang apapun karena Aura memang sejak tadi sudah tidak memakai BH. Aksi Aura berlanjut dengan membuka rok mininya. Begitu reslitingnya terbuka, maka dengan sekali tarik, rok itupun jatuh ke lantai.

Kini ganti Evan yang terpana melihat keindahan lekuk tubuh Aura Kasih. Kedua susu Aura yang bulat besar dengan pentil berwarna merah kecoklatan terlihat menggantung indah di depan matanya. Sementara tepat di selangkangan gadis itu, bulu-bulu jembut yang hitam dan lebat tampak tumbuh rapi menutupi lubang memeknya yang memerah basah. Bulu-bulu itu terlihat sangat kontras dengan kulit paha Aura yang putih mulus.

“Oohh...” Aura merintih ketika Evan mulai memeluk dan mencium bibirnya, ia juga tidak mengelak ketika Evan perlahan menjilati telinga dan batang lehernya yang jenjang. Rasanya hangat dan mesra. Aura membalasnya dengan penuh birahi. Keduanya telah dikuasai oleh nafsu. Evan melumat bibir tipis Aura dengan satu tarikan nafas panjang, diputarnya lidahnya berulang kali sambil mengulum mesra bibir Aura yang mungil. Sesaat kemudian didorongnya tubuh gadis itu ke atas tempat tidur.

”Auw!” Aura sedikit memekik saat terjerembab dan berbaring menelentang, tapi bukannya marah, dia malah terlihat sangat menyukainya. Ekspresinya membuat Evan jadi semakin bernafsu. Perlahan diusap-usapnya paha Aura yang halus lembut dengan penuh perasaan. Aura menggelepar nikmat menerimanya, birahinya yang tertahan selama berbulan-bulan kini tercurahkan.

Diapun mulai merintih manja. “Aaah... Vann,” tubuh Aura  bergetar merasakan usapan tangan Evan pada kulit pahanya. Ia segera menarik lengan Evan hingga pemuda itu jatuh terjerembab ke atas tubuhnya. Tak lama kemudian kedua tangan Evan sudah mulai meluncur menuju ke arah kedua bukit susu Aura yang bulat sekal dan perlahan meremas-remas lembut disana, sesekali pentilnya yang mengacung tegak kemerahan dipilin-pilin oleh Evan dengan gemas.

“Hhhm… sshh… oohh…”desah Aura merasakan nikmatnya sentuhan dan remasan tangan Evan di kedua payudaranya. Dia semakin menggeliat ketika Evan mulai mengecup dengan lembut putingnya yang sebelah kanan, dilanjutkan dengan jilatan-jilatan di pentilnya yang lain, dan kadang-kadang diselingi hisapan-hisapan ringan yang sungguh sangat membangkitkan gairah.

Sementara tangan Evan ganti meluncur ke bawah, ke arah selangkangan Aura yang sudah membasah kemerahan. Dengan gerakan lembut, dia mengusap-usap bukit kemaluan Aura yang tertutup oleh rimbunnya bulu jembut. Disibakkannya bulu-bulu itu hingga Evan dapat menyelusupkan tangannya ke dalam liang memek Aura yang sempit dan hangat. Terasa olehnya kalau benda itu sudah begitu basah dan lengket, Evan segera mulai menggesek-gesekkan jemarinya ke klitoris Aura yang besar dan terasa menonjol keras, dia melakukannya dengan begitu mesra dan lembut.

Aura semakin mendesah dan merintihan keenakan menikmati aksi tangan dan mulut Evan pada tubuhnya, “Ohh... enak... terus, Vann... loe emang hebat... ohh... puaskan gue, Van... oohh...” rintih Aura.

Ciuman Evan mulai merambat turun, saat bibirnya sampai di selangkangan Aura, dengan lembut ia meregangkan kedua kaki gadis itu hingga selangkangannya semakin terbuka. Menunduk, Evan mulai menjilati klitoris Aura sambil sesekali mulutnya menggigit dan menghisap lembut disana. Dua jari tangannya juga perlahan mulai masuk untuk mengocok-ngocok rongga memek Aura yang hangat dan basah.

Akibat perlakuan itu, Aurapun melenguh keenakan. “Ohh… Van, nikmat banget! Terus, Vann... hisap itilku, oow...” Kaki Aura sampai mengejang untuk menahan kenikmatan tersebut.

“Van, sudah... gue udah nggak tahan... ayo, Vann, buruan entot gue... gue udah pengen banget ngerasain kontol loe. Segera tusuk memek gue sama kontolmu itu... sekarang, Van, sekarang... gue mau kontol loe sekarang... jangan buat gue tersiksa kayak gini... oohh!!” Aura terus meracau, me-rengek-rengek pada Evan agar segera menyetubuhinya.

Evan tahu kalau nafsu Aura sudah sangat tinggi. Menyadari hal itu, iapun segera berdiri dan melepaskan CD-nya, lalu bersiap-siap untuk memasukkan kontolnya yang sudah berdiri tegak dan keras ke lubang memek Aura yang sempit dan legit. Evan mulai merangkak mengangkangi tubuh telanjang Aura.

Aura menyambutnya dengan tangan menggapai-gapai untuk mencari batang penisnya. Begitu sudah menangkapnya, sambil melirik ke arah benda itu, Aura terlihat sangat kaget dan mengaguminya,sama sekali tidak menyangka kalau kontol Evan akan begini besar dan panjang. Tangan mungil Aura sampai tidak sanggup menggenggamnya dengan sempurna. Tersenyum, Aura mulai membayangkan kenikmatan yang bakal diterimanya saat kontol yang besar itu masuk dalam lubang memeknya.

“Gila, gede banget, ternyata melebihi dugaanku selama ini!” batinnya sambil membimbing benda itu agar tepat pada sasarannya. Saat sudah pada posisi, perlahan Evan menekan kontolnya ke arah lubang memek Aura. Namun meleset. Dicobanya lagi, dan tetap terpeleset. Sulit sekali.

“Kontolmu kegedean, Van.” lenguh Aura tak sabar. Lubang memeknya yang sudah bolong karena sering dimasuki kontol Ariel ternyata masih terasa sempit bagi kontol Evan yang besar. Benar-benar luar biasa.

Untuk ketiga kalinya Evan mencoba menusuk, kali ini Aura membantu dengan membuka pahanya lebih lebar lagi. Dan ternyata usaha mereka berhasil, Sleeepp... ujung kontol Evan mulai menancap di bibir memek Aura.

"Aakh... enak, Vann... masukin lebih dalam lagi..." lenguh Aura meminta.

Bleeess... Evan menekan lagi. Kontol itu sudah masuk setengahnya. Aura kembali merintih dan sesekali mendesis dengan mata terpejam rapat saat menerimanya. Evan terus mendorong kontolnya hingga tenggelam lebih dalam lagi, dan akhirnya dengan satu genjotan keras, Bleeess!!! Seluruh batangnya menancap semuanya di belahan memek Aura. Dinding memek yang lembut terasa hangat menggelitik batang penisnya. Ujung kontol Evan terasa seperti menyundul sesuatu, dan ketika dia mencoba menggoyangnya, Aura langsung menjerit lirih.

"Aduuh, Van... ahh... enak banget, Van... kontol loe masuk semuanya... bikin memek gue sampe sesek banget rasanya!" jerit Aura kesetanan.

Kemudian Evan berusaha menggoyangkan pinggulnya, ia tarik kontolnya tapi tidak sampai lepas, lalu didorongnya kembali masuk ke dalam memek Aura. Demikian berulang kali. Evan terus menggerakkan kontolnya, semakin lama menjadi semakin cepat dan keras hingga membuat Aura merasakan kenikmatan yang teramat sangat.

"Oohh... memek loe peret, Ra... jarang kemasukan kontol ya, nikmat banget..." puji Evan diantara goyangannya. Aura senang mendengar pujian itu.

"Bukan jarang, Van, tapi kontol loe yang kegedean.” aku Aura, “Aku juga nikmat, Van, kontol loe gede banget!"

"Emang loe belum pernah ngerasain kontol gede ya, Ra?" tanya Evan.

"Yang gede sih sering, Van... tapi yang segede kontol loe ya baru kali ini. Enak, Van... terus... enjot memek gue... yang cepet, Van... sodok yang keras... ughh, nikmaaat..." Aura terus merengek dan mengaduh menerima entotan Evan.

Sementara itu di luar kamar, Tyas Mirasih dan Shinta Bachir yang sedari dari mengintip aktifitas mereka, semakin gelisah mendengar erangan dan rintihan kenikmatan Aura Kasih.

"Ooh... gue nggak tahan ngeliatnya, Shin..." rintih Tyas sambil meremas-remas payudaranya sendiri.

"Gue juga!" timpal Shinta sambil menggaruk-garuk selangkangannya.

Perlahan mereka mulai membuka pakaian masing-masing dan sebentar kemudian keduanya sudah berdiri dalam keadaan telanjang bulat. Sesaat kemudian, mereka mengintip kembali. Di dalam kamar, Evan dan Aura terlihat semakin asyik. Mereka saling rengkuh dan saling pacu dalam gairah. Kemaluan mereka saling beradu. Kontol Evan yang besar dan panjang terus secara cepat menggenjot memek sempit Aura.

Tyas Mirasih dan Shinta Bachir yang sudah tak tahan akhirnya memutuskan untuk menerobos masuk. Brak!!! Mereka mendorong pintu hingga terbuka. Evan kaget dan terpaku. Dia langsung menghentikan gerakannya. Dipandanginya Tyas dan Shinta yang masuk dalam keadaan telanjang. Mata kedua cewek itu menatap nanar ke arahnya. Tampak dari sorot mata keduanya kalau mereka sudah sangat bernafsu.

"Jangan pedulikan mereka! Ayo, Van, teruskan...!!” rintih Aura.

Tyas dan Shinta langsung menjerit histeris begitu mendengarnya. "Gue ikut!!" seru Tyas Mirasih sambil melompat ke atas tempat tidur, yang disusul oleh Shinta Bachir tak lama kemudian.

"Entar dulu! Gue hampir nyampai, Dodol!!" sergah Aura keberatan.

Evan tak memperdulikan Tyas dan Shinta yang menyerbu kemudian menciuminya secara bertubi-tubi. Ia sadar harus melawan tiga cewek cantik sekarang. Evan bertekad akan melumpuhkan Aura terlebih dahulu yang sudah dientotnya sejak tadi. Jadi dia menekan kontolnya dalam-dalam dan kembali dipompanya memek sempit Aura dengan cepat.

“Oooh… Van… terus… genjot yang cepat… yang kuat, Van… aaw… terus, Vann… yah begitu… makin cepat… aghh… makin kuat, Van… guee… ooghh… keluaar… oooh... enakk!!” Aura mengerang sejadi-jadinya merasakan nikmatnya digenjot oleh Evan. Ia menjerit panjang saat  mendapatkan orgasmenya. Seerr... seeerrr... seeeerr... air maninya muncrat dan terasa hangat membasahi batang kontol Evan yang masih terbenam dalam di liang memeknya.

"Oooh… Vann… gue puas banget... nikmatnya bukan main...” kata Aura menggelepar keenakan.

Melihat dia telah mendapatkan orgasmenya, Tyas dan Shinta yang sudah tidak sabar menunggu langsung menyerbu Evan. Tyas mendekap Evan dari belakang, sedangkan Shinta dari samping.

"Sekarang giliran gue!" kata Tyas Mirasih sambil mencium bibir Evan. Ia membuka selangkangannya dan diperlihatkannya kepada Evan. Tampak belahan memek Tyas yang merekah merah telah basah oleh lendir birahinya dan tercium aromanya yang harum.

Melihat pemandangan tersebut, Evan jadi bernafsu untuk segera menyodok memek Tyas Mirasih. Dia segera mencabut kontolnya dari dalam memek Aura Kasih dan dengan cepat menarik pantat Tyas sehingga posisinya sekarang jadi agak menungging membelakanginya. Dengan perlahan-lahan, dari arah belakang, Evan mulai mengarahkan batang kontolnya ke lubang memek Tyas Mirasih yang tampak menganga lebar. Sleeepp... Bleeess... ditusuknya lubang itu kuat-kuat hingga batang kontolnya menancap seluruhnya ke dalam sana.

"Akh... akhirnya gue merasakan juga," kata Tyas begitu merasakan batang kontol Evan menelusup masuk ke dalam liang vaginanya.

Tak menunggu lama, Evan mulai mengenjot kontolnya dengan irama pelan tapi teratur, membuat Tyas merem-melek menikmati sensasi gesekan benda itu yang memenuhi rongga memeknya. Desahan Tyas makin keras terdengar tatkala tangan Evan terjulur untuk meremas dan memilin kedua susu dan pentilnya. Terasa oleh Evan pentil Tyas yang besar semakin bengkak dan mengeras dalam jepitannya. Tyas sendiri merasakan nikmat yang teramat sangat dengan kelakuan Evan. Ia senang akhirnya pemuda ganteng ini bisa menyetubuhinya, Tyas juga bangga bahwa kontol besar Evan dapat menusuk masuk ke lubang memeknya.

“Oohh… Van…” rintih Tyas keenakan. “Aaghh… enaknya kontol loe… nikmat banget... sssh... ahhh... terus genjot memekku, Van… aghh… hhhm… aghh...” desahnya dengan tubuh kelojotan.

“Ooghh… memek loe juga enak, Tyas…” Evan ikut mengerang keenakan merasakan jepitan memek Tyas Mirasih pada batang penisnya.

Shinta Bachir yang melihat Evan lagi ngentoti Tyas, segera memeluk tubuh pemuda itu dari belakang dan mulai mulai menciumi punggung, telinga serta tengkuk Evan, sambil salah satu tangannya bergantian mengelus dada dan biji peler Evan. Evan yang merasakan serangan Shinta mulai melenguh, ia merasakan sensasi nikmat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, terutama saat tangan Shinta mengelus-elus biji pelernya yang sedang bergoyang keluar masuk di lubang memek Tyas. Ciuman Shinta di punggung dan tengkuknya juga membuat Evan merinding kegelian.

Di bawah, kontolnya semakin gencar keluar masuk di memek Tyas Mirasih yang kini terasa semakin basah dan hangat. Gerakannya menjadi bertambah cepat. Merasakan serbuan itu, desahan dan erangan Tyas juga semakin menjadi, cairan birahinya juga semakin banyak mengalir keluar dari lubang memeknya.

CROP… CROP… CROP… Suara tumbukan kontol Evan dan memek basah Tyas terdengar begitu keras di tengah suasana malam yang sepi itu. Suara tersebut semakin menambah gairah birahi mereka berdua, nafsu birahi kedua insan itu semakin membara seiring dengan semakin kerasnya suara kecipak alat kelamin mereka.

“Oghh… enaak… terus, Vann... enjot terus kontolmu… ughh... enak sekali… terus, Van, terus…. Enjot yang kuat... oohh… sssh…” Tyas merintih-rintih keenakan sambil kedua tangannya meremas-remas kedua susu Aura Kasih yang berbaring lemas di sebelahnya. Sementara itu Evan merasakan elusan Shinta di biji pelernya berubah menjadi remasan-remasan lembut yang sangat membangkitkan gairah, membuat ia semakin cepat menggerakkan pinggulnya menyetubuhi Tyas Mirasih.

”Hhmm… jangan dihabisin sekarang, Van… jangan lupa sisakan kontol loe buat gue... hmm... gue juga pingin disodok sama kontol super loe, Van,” bisik Shinta lirih di telinga Evan.

“Oughh... sssh... aghh... pasti, Shin, kontol gue masih sanggup kok nyodokin memek loe.” kata Evan menjanjikan.

“Vann, ohhh… genjot lebih cepat, Van... aaah... guee... mau... keluar...” rintih Tyas Mirasih yang merasakan orgasmenya yang akan segera ia raih.

Evan tersenyum mendengar jeritan itu, Aura Kasih telah tumbang, maka kini dia harus segera mengakhiri perlawanan Tyas Mirasih, karena masih ada Shinta Bachir yang menunggu dirinya.

“Keluarin, Tyas, keluarin…. Ini, terima kontol gue… aghh!!” Evan menyodokkan kontolnya kuat-kuat ke dalam memek Tyas yang sempit dan menekannya dengan keras.

“Aow! Vann!!” jerit Tyas Mirasih saat menerimanya, “Aaaah... hhhhh... aku keluar, Vann...” dia mengerang. Dan akhirnya, Tyas yang sejak tadi diamuk birahi, menggeliat hebat hingga tubuh montoknya bergetar berulang kali saat...  ssrrr… ssrrr… ssrrr… memeknya memuntahkan air kenikmatan yang banyak sekali hingga menetes keluar disertai kenikmatan yang tak terhingga.

Shinta tersenyum melihat Tyas Mirasih yang kelojotan setelah merasakan nikmatnya terjangan kontol besar Evan, ia kagum melihat stamina Evan yang berhasil mengalahkan dua wanita dalam satu serangan. Shinta jadi semakin penasaran ingin merasakan kenikmatan disodok oleh kontol panjang Evan, dia penasaran apakah ia akan kalah seperti Tyas atau ia dapat mengatasi keperkasaan Evan.

Shinta segera memagut bibir pemuda itu dengan penuh nafsu, ia merasakan memeknya sudah sangat gatal ingin segera menikmati sodokan kontol Evan. Lidah Shinta menerobos masuk ke rongga mulut Evan, yang disambut oleh Evan dengan penuh nafsu pula, sementara kontolnya masih terbenam dalam di lubang sempit Tyas Mirasih. Perlahan tangan Evan mulai merambat untuk meremas-remas kedua susu Shinta yang terasa mengganjal empuk di depan dadanya, desahan birahi mereka mulai terdengar melirih pelan. Tyas yang baru saja mencapai orgasme, merasakan kontol Evan semakin mengeras dan berdenyut-denyut di dalam liang vaginanya. Walaupun masih ingin merasakan lagi kontol perkasa Evan yang ganteng ini, tapi Tyas tahu diri untuk memberi kesempatan kepada Shinta untuk ikut menikmatinya juga.

Jadi dia pun mendorong tubuh Evan menjauh sehingga kontol pemuda itu terlepas dari jepitan memeknya. Mengikuti dorongan Tyas, Evan sekarang berbaring telentang di tempat tidur dengan kontol yang masih menegak kencang ke atas. Tersenyum penuh kesenangan, Shinta Bachir segera menaiki tubuh pemuda itu, mereka bertindihan sambil berpelukan mesra. Kedua mulut mereka menyatu untuk kembali berpagutan dengan mesra dan penuh nafsu.

Shinta juga mulai menggesek-gesekkan lubang kencingnya ke batang kontol Evan yang terasa mengganjal keras, dengan tidak sabar ia meraih kontol itu dan cepat diarahkannya menuju ke lubang memeknya. Sleeep… benda itu pun mulai membelah bibir memeknya. Pelan tapi pasti, kontol Evan mulai menyeruak masuk dalam lubang memek Shinta yang terus berusaha mendorong pantatnya ke bawah. Dalam beberapa detik, kontol Evan akhirnya terbenam seluruhnya ditelan oleh memek basah Shinta Bachir.

“Aahh… Van, masuk semua kontol loe… ahhh... sudah seminggu memek gue nggak merasakan kontol… oghhh!!” Shinta melenguh keenakan.

“Shin... aghh… memekmu sempit juga... aaah… enak, Shin!!” Evan ikut mengerang merasakan sempitnya lubang Shinta yang menyelimuti batang penisnya. Jika dibandingkan dengan punya Aura Kasih maupun Tyas Mirasih, memek Shinta Bachir memang terasa paling sempit, sehingga jepitan benda itu terasa sangat nikmat bagi batang kontolnya yang besar.

Tanpa menunggu lama, Shinta mulai menggerakkan pantatnya maju mundur sehingga kontol Evan mulai bergeser keluar masuk dengan sendirinya. Sambil menggoyang, ia juga terus memagut bibir Evan dan melumatnya dengan penuh nafsu hingga tubuh keduanya seolah menyatu. Tyas Mirasih dan Aura Kasih terbelalak melihat aksi mereka berdua, Shinta Bachir yang sehari-hari lembut, ternyata sangat liar di atas ranjang seperti yang mereka saksikan sekarang.

Shinta yang sudah berpuasa selama satu minggu inipun semakin liar beraksi diatas tubuh kekar Evan, goyangan pantatnya betul-betul hebat; kadang bergerak maju-mundur, kadang berputar-putar, atau sesekali bergerak tak teratur, yang penting kontol Evan terus menyodok-nyodok lubang memeknya dengan keras dan cepat. Shinta merasakan kontol Evan bagai sedang mengebor lubang memeknya saat ia putar pantatnya kuat-kuat.

“Ohh… kontol loe emang enak, Van... aah... hhm… agh... enak banget kontol loe, Vann...” desah Shinta keenakan, “Gimana, Van, memek gue… enak juga kan... aah…” tanyanya sambil merintih.

“Ooh… aah.... nikmat banget, Shin… memek loe betul-betul sempit… ooh… terus, Shin, goyang terus… ooh… putar, Shin, putar... empotan memek loe kerasa banget...” Evan mengerang merasakan kontolnya yang seperti diperas-peras dan dipijit-pijit di dalam memek Shinta saat gadis itu memutar pantatnya.

Saat itu Shinta sedang dalam posisi menduduki Evan, sambil memaju mundurkan pantatnya dengan penuh semangat. Melihat kedua susu Shinta bergoyang seiring dengan gerakan maju mundur pantatnya, Aura Kasih yang telah pulih kembali dari nikmatnya orgasme, perlahan mendekat dan mulai meremas-remasnya pelan. Tidak hanya tangannya yang beraksi, tapi mulut Aura juga ikut bekerja. Silih berganti ia jilati dan hisap-hisap kedua pentil Shinta yang merah kecoklatan hingga kedua benda mungil itu semakin mengeras dan mengacung tegak ke depan.

“Ooh, Ra... hisap terus, Ra… yah… ooh… terus hisap… oohh…” Shinta mendesah keenakan menikmati jilatan Aura pada puting susunya. Sementara di bawah, gerakan maju mundur pantatnya juga semakin bertambah cepat. Dengan berpegangan pada tubuh Aura Kasih yang sedang asyik mengenyoti kedua susunya, ia semakin gencar menggerakkannya. Akibatnya, kontol Evanpun semakin cepat menyodok-nyodok liang memeknya. Semakin lama, gerakan Shinta menjadi kian tidak beraturan, tubuh montoknya mulai tampak bergetar hebat, sepertinya dia hampir mencapai puncak kenikmatannya sebentar lagi.

“Oooh… Van, enak sekali… ooh… gue mau keluar, Van… aghh… kontol loe memang nikmat...” Shinta mengerang dengan tubuh kelojotan keenakan.
Dan tak lama kemudian… “Van, aaghh… gue keluar... aahh… nikmat banget, Vann… oghhh…” Shinta menjerit kecil dengan mulut menganga dan mata membeliak lebar, sementara tubuhnya mengejang bersamaan dengan memeknya yang memuntahkan lahar kenikmatannya. Cairan itu menyembur kencang membasahi batang penis Evan yang masih bergerak liar di jepitan liang vaginanya.

Sambil berpegangan pada tubuh Aura Kasih yang masih memainkan kedua susunya, Shinta menikmati sensasi orgasmenya. Nafasnya masih terdengar memburu, tapi tersungging senyum penuh kepuasan di bibirnya yang sensual. Perlahan kedutan-kedutan nikmat di dinding memeknya mulai berhenti. Menyadari kalau Aura sudah on lagi, Shinta segera bangkit dari tubuh Evan dan menyerahkan ’piala bergilir’ mereka pada Aura.  Tidak menyia-nyiakan kesempatannya, Aura segera menerkam Evan. Dipeluknya cowok itu erat-erat sambil diciuminya penuh nafsu.

"Gue masih mau, Van..." bisik Aura sambil merangsek liar. Digerayanginya tubuh kekar Evan, digenggamnya kontol Evan yang masih keras dan mulai mendudukinya. Bleeess... batang itupun dengan cepat masuk ke dalam liang memeknya. Tak menunggu lama, Aura mulai menggerakkan pantatnya maju mundur dengan perlahan.

Tyas Mirasih yang juga sudah mulai on kembali, kini menggantikan posisi Aura yang tadi mengenyoti kedua susu Shinta. Kini ia yang akan mengenyoti kedua susu besar Aura Kasih. Tapi belum juga ia melakukannya, Aura dengan tiba-tiba mengangkat kepalanya dan langsung melumat bibir tipis Tyas. Lidahnya menerobos ke dalam rongga mulut Tyas dan menari-nari disana dengan penuh nafsu. Tyas Mirasih yang mendapat serangan mendadak seperti itu, menjadi kaget. Belum pernah selama ini dia dicumbu oleh seorang wanita. Matanya terbelalak, tapi setelah tangan Aura meremas-remas bulatan susunya, Tyas pun mulai mendesah. Tak mau kalah, ia pun membalas serangan Aura dengan ikut meremas-remas susu Aura yang bulat besar. Mulutnya juga mulai membalas lumatan yang dilakukan oleh gadis itu.

Melihat aksi mereka, Evan tidak mau tinggal diam saja, iapun mulai menaik-turunkan pantatnya seiring gerakan maju mundur pinggul Aura yang semakin cepat. Tangannya juga tidak mau ketinggalan, dengan tangan kanannya Evan mulai beraksi menggelitik memek Tyas Mirasih yang duduk mengangkang di sebelahnya. Dengan lembut digosok-gosoknya klitoris gadis itu hingga membuat memek Tyas jadi semakin basah dan lengket. Tyas yang mendapat serangan atas bawah, mulai mendesah-desah keenakan. Aura juga  mengalami hal yang sama, terutama saat Evan menaikkan pantatnya kuat-kuat hingga batang kontolnya masuk lebih dalam ke lorong liang vaginanya. Suara desahan, erangan, dan lenguhan mereka bertiga saling bersahutan, keringat juga sudah membanjiri tubuh mereka bertiga.

“Ohh… hhm... aah… ssh… hhm... aah...” desah Aura keenakan.

“Hhm… aah… oughh… hhm... ssh… aah… hhm...” Tyas merintih tak mau kalah.

“Oughh… Ra, enak banget memek loe... terus goyang, Ra, terus... yeah… aah…” erang Evan memungkasi, tangannya kini asyik mengocok-ngocok memek sempit Tyas Mirasih

Tubuh mulus Tyas menggelinjang karenanya, ia terhenyak oleh gerakan jari-jari Evan yang nakal. Walau tidak senikmat saat kontol Evan yang menerobos masuk, tapi gerakan jari-jari itu sudah cukup membuatnya merintih dan mengerang-erang penuh kenikmatan. Gesekan yang dirasakan Tyas di dinding memeknya makin bertambah manakala Evan menyelingi kocokannya dengan menggoyang jari-jarinya ke kiri dan ke kanan, menggesek bagian belakang klitorisnya hingga membuat Tyas semakin menggelinjang keenakan.

“Ooh... hhh... Van, ooh… hhm… enak, Vann… hhm... terus, Van…” erang Tyas dengan tubuh menggelinjang hebat.

di bawah, Aura kasih menimpali tak kalah keras, “Ohh… genjot terus, Van... tekan lebih dalam... kontolmu enak... ohh… sodok memekku kuat-kuat, Vann… aghh!!”

“Ahh… kalian suka?” tanya Evan pada Tyas dan Aura sambil menekan kontolnya lebih dalam ke lubang kemaluan Aura Kasih, sementara jari-jemarinya semakin aktif menggesek itil dan dinding memek Tyas Mirasih.

“Ohh… enak, Vann... terus sodok lebih dalam memek gue… ahh… iyah… terus, Van… terus… buat gue puas…. aghh…” Aura mengerang-erang keenakan.

“Aku juga enak, Van… terus… goyang tanganmu… ahh… kocok terus, Van... kocok lebih kuat… aghh… enak!!” rintih Tyas penuh kenikmatan.

Evan pun menyodokkan kontolnya lebih dalam lagi ke memek sempit Aura sehingga pangkal selangkangan mereka beradu, menimbulkan suara yang sangat merdu, PLOK… PLOK… PLOK… yang makin menambah gairah birahi mereka bertiga. Tangan Evan juga semakin aktif menerobos dan mengocok-ngocok dinding memek Tyas Mirasih.

“Ahh… enak banget, Vann… oughhh…” erang Tyas dengan tubuh mulai terlihat mengejang dan terkedut-kedut, ia mulai merasakan desakan lahar kenikmatannya yang hendak menerobos keluar dari lubang memeknya. Setelah tidak tertahankan lagi, dengan melenguh panjang, Tyas pun akhirnya ’kencing’ untuk yang kedua kalinya. Cairan yang dikeluarkannya sangat banyak sampai mengalir turun membasahi tangan nakal Evan.

“Oughh… Van, aku keluar lagi… ahh… enak, Van… enak sekali... ohh…” Tyas Mirasih mengerang, tubuhnya masih bergetar dengan hebatnya sampai akhirnya berhenti tak lama kemudian.

Evan yang tahu bahwa Tyas lagi orgasme, menambah sensasi kenikmatannya dengan meremas-remas kedua susu Tyas yang tersaji indah di depan hidungnya, sambil tetap memaju mundurkan pantatnya dengan cepat menyetubuhi Aura Kasih. Remasan itu menambah kenikmatan buat Tyas Mirasih, tubuhnya kembali bergetar, nafasnya masih terengah-engah, hingga akhirnya ia ambruk setelah kedua kakinya tidak kuat lagi menopang tubuh montoknya.

Meninggalkan Tyas, Evan kini kembali berkonsentrasi pada Aura.
Dipegangnya bongkahan pantat gadis itu untuk mengimbangi gerakan Aura yang semakin liar dan brutal. Sambil sibuk saling melumat dan bertukar air liur, desahan dan lenguhan mereka semakin jelas terdengar.

“Ough… hhm… Van, terus… ahh... lebih cepat, Van… hhm...” Aura  melenguh sambil tetap memagut bibir Evan.

“Ough… shh… iya, Ra… gue mau keluar nih... aghhh…” lenguh Evan sambil mempercepat gerakannya.

“Barengan, Vann… gue juga mau keluar… oghhh…” Aura ikut mengerang.

Dan dengan hentakan kuat, Evan menekan batang kontolnya dalam-dalam ke lubang memek Aura yang sempit, sementara kedua tangannya meremas dengan kuatnya payudara Aura yang bulat besar. Tubuh Evan mengejang saat pejuhnya meledak keluar di mulut rahim Aura, croot… crrooot… crrooot…

Pada saat yang hampir bersamaan, tubuh Aura juga bergetar hebat, memeknya berkedut dengan kuat, dan… ssrrr… sssrrr… sssrrrr… Evan merasakan kontolnya menjadi hangat akibat disiram oleh cairan kenikmatan Aura yang bercampur dengan pejuhnya. Evan juga merasakan dinding memek Aura meremas-remas kuat batang kontolnya, sementara Aura juga merasakan kontol Evan yang berkedut-kedut kuat menguras seluruh isinya. Terdengar nafas mereka berdua terengah-engah, kedua tubuh mereka seolah menyatu, keringat mereka membanjiri sprei.

Setelah proses orgasme itu selesai, Aura membaringkan tubuhnya di atas ranjang, disusul kemudian oleh Evan yang juga merebahkan tubuhnya diantara Aura dan Tyas. Shinta ikut mendekatkan diri disamping Tyas. Senyuman manis menghiasi bibir ketiga cewek tersebut. Raut muka ketiganya tampak bahagia penuh dengan kepuasan. Mereka bertiga betul-betul merasakan kejantanan Evan yang luar biasa, melebihi apa yang mereka bayangkan sebelumnya.

Sementara bagi Evan, sungguh merupakan pengalaman yang luar biasa dalam hidupnya bisa menggilir tiga cewek cantik sekaligus. Cewek yang tidak sembarangan karena mereka adalah artis-artis terkenal yang banyak diincar oleh laki-laki. Kini telah empat memek yang ia rasakan semenjak pertama kali melepas keperjakaan dengan Tya Ariestya. Evan bahagia bukan main dibuatnya
loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kisah Petualangan Evan 2 : Foursome Bersama 3 Bidadari"

Post a Comment