Kisah Petualangan Evan 10 : Kejutan Dari Tetangga

Evan baru bangun saat hari sudah menjelang sore. Kecapekan bermain dengan Tya dan Happy Salma membuatnya tidur nyenyak seharian. Happy sudah pulang siang tadi, sedangkan Tya pergi syuting ke daerah Bogor. Tinggal Evan sendirian yang leyeh-leyeh di kamar tidur Tya yang cukup besar. Kamar itu sekarang bau sperma dan keringat, hasil dari perbuatan mereka kemarin malam.

Sebenarnya dia sudah akan tidur lagi, tapi teringat akan kedatangan sahabat Tya tadi pagi, Evan segera bangkit dan membawa sprei serta selimut yang bernoda cairan itu ke ruangan belakang. Tadi pagi sebelum pergi, Tya berpesan kalau Franda, sahabatnya sesama presenter acara bola, akan mampir untuk menginap barang semalam. Evan tidak menjumpainya, meski dia tahu kalau Franda sudah datang, karena dia lebih sibuk memuaskan Happy Salma yang nafsunya ternyata ugal-ugalan. Entah sudah berapa kali sperma Evan muncrat di dalam tubuh wanita cantik itu, yang jelas banyak sekali. Bahkan sampai sperma Evan jadi sangat encer dan kering sekarang.

”Ughh...” Menggeliat meregangkan tubuh, Evan membereskan dapur, lalu berjalan ke arah kulkas, mencari makanan. Sambil mengunyah kue, ia melihat ke halaman belakang. Tampak Franda lagi tidur-tiduran di bangku pinggiran kolam renang. Wah, enak juga nih, sore-sore dapat pemandangan gratis.



Ia segera berjalan ke arah kolam. Nampak Franda lagi bersantai dengan baju renang bikininya, namun bagian atasnya masih ditutupi kaos.  ”Hei, kok nggak bangunin aku?” sapa Evan.

”Kamu sudah makan belum?” Franda malah balik bertanya. Mereka memang sudah saling kenal. Keduanya sudah sering bertemu di tempat syuting kalau Evan lagi mengantar Tya. ”Tuh ada pizza di meja.”

”Belum, tapi nanti aja. Masih kenyang.” mata Evan nyalang menatap tubuh Franda yang halus dan putih mulus.

”Ya udah,” Franda hanya mengangguk, lalu melanjutkan acara menjemurnya.

Mereka saling terdiam, tidak tahu harus berkata apa lagi. Merasa dicuekin, Evan yang kikuk segera loncat ke kolam dan berenang. Segar rasanya, bolak balik ia dari sisi satu ke ujung lain. Puas berenang, ia naik ke atas, menuju lemari handuk untuk mengeringkan tubuhnya, lalu berjalan ke bangku lain di samping Franda. Gadis cantik itu masih bermalas-malasan. Evan pun ikut berbaring di bangku, berjemur sinar matahari sore yang masih agak terik.

Terkena angin sepoi-sepoi, mata Evan jadi kembali mengantuk. Namun baru saja akan memejamkan mata, tiba-tiba Franda bangkit dan kini dalam posisi duduk. Evan melihat gadis itu membuka kaosnya, nampak keteknya yang bersih tanpa bulu. Bikininya bergoyang saat Franda mengangkat kaosnya ke atas. Ugh, kontol Evan langsung mengeras, ia arahkan pandangan matanya fokus ke daerah dada Franda. Wow, nampak dada itu sudah tumbuh berkembang dengan baik, Franda sudah menjadi wanita yang sangat seksi dan sempurna. Seingat Evan, dulu payudara Franda tidak seketat sekarang, nampaknya buah dada gadis itu sudah menjadi bertambah besar, sudah hampir seukuran Tya. Juga pinggul dan pantat Franda yang tampak lebih montok dan berisi. Menyaksikannya membuat kontol Evan langsung mengeras sejadi-jadinya.

Kalau saja tidak teringat kata-kata Tya, ingin Evan segera menggumulinya. Namun Tya sudah memperingatkan agar Evan menjaga jarak dari Franda. ”Gadis itu jangan diapa-apakan,” begitulah pesan Tya. Dan Evan tidak ingin melanggarnya. Ia tidak ingin membuat Tya kecewa.

Lagi enak-enaknya terpesona oleh tubuh mulus Franda, ia mendengar suara gadis itu memanggilnya, ”Woiii... ngapain bengong, ngelihatin apa kamu?”

”Eh... e-enggak kok.” Evan tergagap, merasa tertangkap basah. ”Aku nggak bisa nolak rejeki kan?” bantahnya.

”Dasar mesum!” sindir Franda. ”Sini, tolong aku. Usapin lotion ini ke punggungku.”
Wah, sungguh tawaran yang sangat menggiurkan. Lumayan buat menghibur ’adik’ Evan yang lagi mengeras di balik celana. Sekalian kesempatan untuk jahilin gadis manis yang ceriwis ini. Franda lalu segera tengkurap begitu Evan  memulai tugasnya. Posisi Evan membungkuk dengan kaki mengangkang di atas pantat bulat Franda. Segera ia tuang lotion ke tangannya, dan mengusapkannya ke punggung dan badan Franda. Sengaja Evan mengusap-ngusap dengan agak bertenaga sedikit, seperti memberikan pijatan. Dan sepertinya Franda suka dan menikmatinya.

”Enak, Van. Rasanya nyaman, bikin pegel-pegelku hilang semua. Sekalian deh kakinya.” pinta gadis manis itu.

”Woii... memangnya aku tukang pijit.” seru Evan, namun tetap memberikannya. ”Tapi itu tali bh-nya dibuka ya, biar nggak nyangkut-nyangkut.” katanya mulai nakal.

”Ya sudah, kamu tarik sendiri.” balas Franda tanpa curiga.

Evan pun segera menarik tali bh bikini tersebut. Ia lalu mengambil lotion dan  kembali mulai memijat. Kali ini dari kaki, ia usapkan lotion ke telapak kaki Franda, lalu betis, naik lagi ke paha, lalu tangannya sampai ke daerah cd gadis cantik itu. Sengaja Evan melebarkan kaki Franda pelan-pelan. Nampak belahan pantat Franda yang montok. Evan memijit dengan lembut kedua belahan pantat itu, jarinya juga perlahan sesekali menyentuh ’tanpa sengaja’ bagian terluar dari daerah memek Franda yang tertutup celana dalam.

Gadis itu diam saja, entah tidak tahu atau sangat menikmati pijitan itu. Cukup lama Evan memijat daerah pantat Franda, sampai samar-samar ia mencium bau aroma menyenangkan yang sudah sangat ia kenal. Masa sih memek Franda mulai basah? Batin Evan dalam hati. Untuk memastikannya, iapun meneruskan pijatannya dengan khidmat.

”Eh-hemm...” Franda berdehem sambil tertawa, lalu berkata. ”Hei, aku mintanya pijat seluruh badan, bukan hanya pantat.”

”Eh, i-iya,” Evan segera mengambil kembali lotion, kali ini ia duduki pantat Franda yang sudah basah mengkilap, lalu mulai memijat punggung perempuan cantik itu.

Ia usap-usap dan belai dengan lembut serta sedikit bertenaga punggung mulus Franda, sampai bagian tengah punggung. Disitu sengaja Evan melebarkan jari-jari tangannya untuk sedikit menyentuh bagian pinggiran payudara Franda yang tergencet ke kursi plastik. Franda sama sekali tidak memprotes, bahkan saat berkali-kali Evan mengelus dan meraba-rabanya. Nampaknya ia benar-benar enjoy dengan pijitan Evan. Ia biarkan saja pemuda itu berbuat sesuka hati. Franda seperti tidak tahu kalau sambil memijat, tanpa terasa batang kontol Evan semakin mengeras dan berdenyut-denyut kencang.

Sebelum kebablasan, Evanpun segera menyudahi kegiatannya. “Nda, sudah ya. Capek nih.” ia beralasan.

“Pijatan kamu enak lho, pegel aku jadi ilang nih. Bentar lagi deh,” Franda masih ingin.

”Ogah ah, capek. Memangnya bagian depan juga mau dipijit?” tanya Evan berlagak lugu.

”Yehh... kalau itu mah aku bisa sendiri. Ya sudah, makasih ya, Van.” Franda lalu segera berbalik, tangannya memegangi bh-nya. Lumayan agak ke bawah sedikit sehingga gunung kembarnya terlihat seperti mau meloncat keluar. Makin ngaceng deh Evan jadinya. Pemuda itu segera memutuskan untuk pergi ke dalam daripada terjadi apa-apa.

Namun baru saja ia berjalan, didengarnya suara Franda berkata sambil tertawa. ”Van, benar lho pijatanmu enak, makasih ya. Tapi kok tadi rasa-rasanya ada benda aneh yang nyundul-nyundul di atas pantatku. Hahaha.”

”Sialan!” Evan mengumpat. “Aku kan lelaki normal, Nda.” Ia segera menuju ke dalam rumah. Gawat, kontolnya benar-benar tidak mau kompromi, terpaksa deh pakai cara tradisional.

Segera Evan masuk ke dalam, berdiri di tempat yang tidak terlihat dari arah kolam renang, namun bisa melihat secara leluasa ke sana. Ditatapnya Franda yang sedang duduk, nampak gadis itu sedang mengoleskan lotion pada bagian depan tubuhnya. Evan segera mememelorotkan celananya, tangannya lumayan licin sisa lotion tadi. Segera ia mengocok batang penisnya. Dilihatnya payudara Franda yang bergoyang-goyang indah saat gadis itu mengoleskan lotion pada permukaan kulitnya. Franda memasukkan tangannya ke balik bh.

Duh, kenapa tidak dibuka aja sih? pikir Evan mesum. Kocokannya menjadi semakin kencang. Apalagi saat nampak Franda yang mulai melebarkan kakinya, dan kini sedang mengolesi wilayah sekitar paha dan selangkangannya. Evan mengocok kontolnya semakin cepat. Denyutan di batangnya terasa semakin tidak tertahankan.

Beberapa detik kemudian, croot... croot... croot... ah, akhirnya keluar juga. Lega rasanya. Segera Evan membersihkan muncratannya dengan menggunakan celananya, lalu segera menuju kamar mandi. Sambil mandi, ia tersenyum sendiri. Sudah lama juga ia tidak onani, terhitung sejak kenal dengan Tya. Namun hari ini darurat, daripada bablas...

***
Malamnya, Evan kembali sendirian. Franda keluar entah kemana, sedangkan Tya masih belum pulang. Bahkan sepertinya masih akan lama karena sms Evan tidak berbalas, itu tandanya kalau Tya masih sibuk syuting. Terpaksa puasa deh malam ini.

Besoknya juga sama. Franda hanya sebentar mampir di rumah, selebihnya banyak dihabiskan di luar. Sedangkan Evan, merana sendiri di kamar Tya. Apalagi saat mendapat kabar kalau Tya baru akan pulang dua hari lagi, semakin lemaslah dia. Belum lagi kontolnya ngaceng terus melihat Franda dengan bikininya di kolam renang tiap sore.

Untunglah di hari ketiga, muncul seseorang yang bisa membantu meredam kesuntukan Evan. Hesti Purwadinata, tetangga Tya di perumahan elit itu, datang berkunjung. ”Mbak Tya-nya lagi syuting tuh, Mbak.” kata Eva saat perempuan itu datang menghampirinya.

”Aku perlu sama kamu kok, bukan sama Tya.” jawab Hesti yang memakai tank top ketat dengan rok pendek sepaha yang menampakan kemulusan kulit kakinya.

Evan langsung terpana dibuatnya. Sudah lama ia mengagumi kesintalan tubuh wanita ini, Hesti selalu bisa menyita perhatiannya. Tempo hari Evan melihat wanita ini mesra banget dengan suaminya, membuat Evan jadi kepingin juga. Dan sekarang Hesti muncul di depannya, tepat saat Evan lagi terangsang berat. Apa bukan rejeki itu namanya.

”A-ada perlu apa, Mbak?” tanya Evan.

“Jangan panggil ‘mbak’ ah, kita kan seumuran. Panggil Hesti aja,” jawab perempuan berumur 30 tahun itu.

Evan mengangguk, “I-iya,” Lalu mempersilakan Hesti untuk masuk dan duduk.

“Gini, Van.” Hesti mulai mengutarakan maksudnya. “Kudengar dari Tya, kamu pintar komputer.”

“Ah, nggak pinter-pinter amat kok, hanya sekedar bisa.” jawab Evan merendah.

“Nggak apa-apa,” Hesti tersenyum. Kesintalan tubuhnya membuat air liur Evan menetes tertahan. ”Aku ingin dibuatkan web pribadi, kamu bisa kan?” tanyanya kemudian.

Evan mengangguk, ”Itu gampang, kamu punya alamat email kan?”

Hesti memberikannya. Dengan laptopnya, Evan segera membuatkan perempuan itu sebuah blog pribadi. “Apa saja yang hendak diisikan disini?“ tanyanya sambil terus mengetik, mengutak-atik blog itu agar tampilannya menjadi manis dan dinamis.

”Apa sajalah, yang penting ada profil pribadiku...“ jawab Hesti.

“Profil luar apa dalam?” pancing Evan nakal.

”Maksudnya?” tanya Hesti tak mengerti.

”Ya siapa tahu kamu mau nyantumin ukuran dada sama celana dalam favorit di blog ini.” Evan tertawa.

”Ya janganlah... masa yang seperti itu diobral.“ ujar Hesti dengan tersenyum sambil membusungkan dadanya, seolah ada yang gatal di punggungnya. Membuat napas Evan langsung sesak saat melihatnya.

Alamak, besar sekali! Ingin aku merasakan kekenyalan buah dada itu, batin Evan dalam hati. “Ya setidaknya aku diberi tahu, kalau memang tidak mau dicantumin disini.” ujarnya sambil cengengesan.

Bukan marah yang didapat Evan, namun justru ia dilempar bungkus permen. ”Buat apa sih, kamu mau tahu ukuran behaku?”

”Cuma penasaran aja,” jawab Evan riang.

”Penasaran apa penasaran?” todong Hesti.

“Emang boleh kalau lebih dari penasaran?” tukas Evan sambil menyunggingkan senyum nakalnya.

Hesti tertawa ngakak. ”Dasar mesum!”

”Bukan mesum,” Evan berkilah. ”Lha disuruh nulis profil, kan harus tahu yang sebenarnya biar nggak salah kutip.” ujarnya sambil tertawa. ”Lagian, kalau cuma dicantumin nama dan tanggal lahir, itu semua orang juga pada tahu. Gampang mencarinya di Google. Menurut saya, blog pribadi itu harus diisi dengan hal-hal yang bersifat pribadi. Yang tidak ada di web lain.”

“Nakal ah kamu.“ Hesti masih nampak keberatan.

“Lha kalo cuma ditulis apa adanya, penggemar nggak bakalan mau ngakses. Paling tidak harus ada yang ditonjolkan disitu.” kata Evan sengit.

“Menonjol? Emangnya susu menonjol...” sahut Hesti sambil tertawa.

”Lha itu kamu tahu,” sahut Evan.

”Eh, ada lho satu lagi yang menonjol.” Hesti memasang muka lugu.

”Apaan?” tanya Evan penasaran.

”Tuh, burungmu menonjol.” Hesti tertawa keras. Karena saking kerasnya, payudaranya sampai terguncang-guncang.

”Haha...” Evan ikut tertawa, tapi matanya tertuju pada buah dada Hesti yang besar itu.

Hesti yang merasa diperhatikan, segera menghentikan tawanya dan memandang Evan. “Nakal kamu,“ ujarnya sambil menjawil hidung Evan.

Sehabis berkata begitu, entah siapa yang memulai, tahu-tahu keduanya sudah saling berpelukan dan berciuman. Mereka melakukannya dengan gairah yang sama-sama membara. Hesti meremas-remas kontol Evan yang sudah mengeras di balik celana, sementara tangan Evan meremas-remas gundukan dada perempuan cantik itu yang masih terbungkus baju tanktop tipis.
”Van... ahh!” rintih Hesti saat Evan mulai menelanjangi tubuhnya. Ia juga membantu Evan melepaskan kaos dan celananya. Setelah itu mereka segera bergumul liar di atas karpet ruang tamu.

Penuh nafsu Evan memeluk dan menciumi bibir Hesti, lalu ciumannya turun ke daerah dada gadis cantik itu. Dengan rakus mulut Evan menghisap puting susu Hesti yang mungil kemerahan secara bergantian, tangannya pun mulai meraba dan membelai-belai rambut kemaluan Hesti yang lebat. Evan mengusap-usapnya sambil sesekali jarinya mencari lubang memek Hesti yang sempit namun terasa sangat panas, dan menusukkan dua jarinya kesana secara perlahan-lahan.

”Auw... Van!” Hesti langsung memekik dan memeluk punggung Evan, membelainya dengan kasar. Wajahnya menunjukkan ekspresi bahwa ia mau memuaskan semua dahaganya bersama Evan.

Tangannya pun mulai turun ke arah pantat Evan, dan terus turun hingga bisa meraih batang penisnya. Hesti mengocoknya dengan cepat sambil sesekali juga menggesek kedua biji pelirnya. Ia mengusap-usap dan memainkannya dengan amat lembut. Ugh, nikmat sekali rasanya. Evan pun terus menciumi dan memainkan bulatan payudara gadis berambut panjang itu, ia menjilati dan menciuminya dengan sepuas hati. Aroma wangi dari Hesti yang rajin merawat tubuhnya menggelitik hidung Evan, membuat kontolnya jadi semakin mengeras dan mengacung tegak.

Puas bermain-main, Evan segera mengarahkan batang penisnya ke belahan dada gadis cantik itu. Hesti yang paham apa yang Evan mau, segera mengapitkan kedua payudaranya untuk menjepit batang kontol Evan tepat di tengah-tengahnya.

”Ughh...” melenguh keenakan, Evan segera memaju-mundurkan pantatnya, menggerakkan kontolnya dengan nikmat di antara jepitan payudara Hesti yang besar itu. Terlihat puting Hesti yang mungil kemerahan sudah mengeras dan mencuat ke atas, nampak begitu mempesona. Evan meraih dan memilin-milin dengan menggunakan dua jarinya, membuat Hesti jadi mendesah kegelian dibuatnya.

”Auh... enak, Van!” ia merintih. Lalu tanpa merubah posisi, tangannya segera menarik dan mendorong pantat Evan ke depan sehingga kontolnya kini berada tepat di depan mulutnya. Dengan tangannya Hesti memegangi batang kontol Evan, smentara mulutnya mendekat. Dalam waktu singkat, lidahnya mulai menjelajahi dan menari-nari di atas batang kontol Evan. Ohh... rasanya sungguh tiada tara.

Perlahan mulut Hesti mulai menelan kepala kontol Evan, lalu batangnya, bahkan hingga sampai ke pangkalnya. Sebelum akhirnya Hesti menghisap dan mengulum-ngulumnya dengan kuat namun sangat nikmat. Kontol Evan pun jadi berdenyut-denyut saat mulut Hesti mulai memompa maju-mundur. Awalnya pelan, tapi semakin lama menjadi bertambah cepat. Sambil ditimpali dengan permainan lidah yang lihai, membuat Evan hanya bisa mendesah menahan kenikmatan ini.

”Terus! Oghh... enak sekali,” desisnya sambil kembali meraih bulatan payudara Hesti dan meremas-remasnya gemas.

Nampaknya Hesti benar-benar ingin melumat habis kontol itu dengan mulutnya, karena saat Evan hendak menyudahi oral Seks ini, perempuan itu menahan dengan menggunakan tangannya. Ya sudah, Evan membiarkannya saja. Kini Hesti semakin semangat dalam mengulum dan menghisap kontol Evan. Kadang mulutnya mengulum biji peler sambil tangannya mengocok batang Evan yang besar dan panjang, sebelum kemudian mulutnya kembali bermain dengan batang kontol itu.

Perbuatan yang sangat nikmat itu lama kelamaan membuat kontol Evan jadi berdenyut kuat. Rasanya mau keluar sebentar lagi. ”Hes... aku sudah mau keluar nih.” Evan berbisik.

Tidak menyahut, Hesti malah semakin mempercepat hisapannya, dan pada waktu yang tepat, mulutnya membuka di depan kepala kontol Evan, sementara tangannya memegang kuat-kuat batang kontol itu. Kemudian dilepasnya sesaat saja, Crooot... sperma Evan keluar dengan perlahan ke mulutnya. Lalu digenggam lagi dengan kuat, dan sesaat dilepas... croot! Sperma Evan kembali menetes perlahan, dan Hesti kembali menggenggam kuat. Kali ini agak lama, sampai akhirnya ia melepaskannya. Kepala kontol Evan pun langsung memuntahkan spermanya dalam jumlah banyak. Terlihat sangat kental dan putih sekali. Hesti menampung semua di dalam mulutnya. Ia memandang Evan, lalu sesaat kemudian menelannya. Tanpa rasa jijik sama sekali, Hesti menjilati dengan rakus sisa-sisa sperma Evan yang masih meleleh di sekitar batang penis.

”Sudah lama aku nggak ngerasain sperma yang gurih seperti ini.” bisiknya sambil tersenyum.

”Emang suami kamu kemana, spermanya nggak enak ya?”

Hesti mengangguk. ”Iya, lebih enak punya kamu. Sudah dua minggu ini dia pergi ke luar negeri, ada urusan pekerjaan.”

”Karena itu kamu jadi gatel ya?” canda Evan.

Hesti tertawa, “Emang kamu nggak pengen juga?” tanyanya balik.

Evan menggeleng, ”Tubuhmu selalu membuatku bergairah.” Kembali ia penceti bulatan payudara Hesti yang membusung indah satu persatu secara perlahan-lahan, lalu berbisik, ”Tadi itu enak banget, kamu pintar waktu bikin aku keluar bertahap seperti itu. Rasanya sungguh luar biasa!”

”Siapa dulu dong, Hesti Purwadinata gitu,” Ia menyombong. ”Nah, sekarang gantian kamu yang puasin aku.”

Hesti mengelap mulutnya dengan tisu yang tersedia di meja, lalu merebahkan tubuh sintalnya yang telanjang di karpet ruang tamu. Saat itu mereka benar-benar telah dibakar api birahi sehingga tidak menyadari pintu ruang tamu yang sedikit terbuka. Karena di luar agak gelap dan mereka sedang sibuk berpanas-panasan, keduanya tidak menyadari ada sepasang mata yang sedang melihat dengan terbelalak.

Franda berdiri terpaku di depan pintu, kaget dan terkejut dengan kenyataan yang dia lihat sedang terjadi di ruang tamu. Ia yang baru kelar syuting sinetron striping, tadinya bermaksud untuk langsung masuk ke rumah Tya. Namun ia heran karena melihat pintu depan yang tidak tertutup rapat, dan saat ia mendekat, terdengar suara desahan dan rintihan yang sudah sangat ia kenal. Penuh keheranan dan tanda tanya, Franda mendorong sedikit pintu itu, dengan perlahan sekali. Ia langsung kaget dan terkejut mendapati Evan dan Hesti yang tengah telanjang berpelukan di lantai ruang tamu, dengan Hesti sedang menghisap batang kontol Evan yang besar dan panjang. Franda melihat dengan mulut ternganga, tidak bisa mengeluarkan suara apapun. Sementara kakinya juga tidak bisa beranjak dari situ. Akhirnya ia pun melihat semua adegan dewasa yang sepatutnya tidak pernah terjadi tersebut.

Kini disaksikannya Evan yang turun ke daerah selangkangan Hesti. Tetangga Tya itu segera menaikkan lututnya untuk membuka kedua kakinya lebar-lebar. Nampaklah memek Hesti yang mempesona, yang langsung dicium dan dijilati oleh Evan. Pemuda itu menjelajahi permukaan memek Hesti dengan lidahnya, ia menjilati semuanya. Perlahan jarinya juga ikut melebarkan liang memek Hesti, sebelum lidahnya kembali menjilati dengan begitu buasnya, terutama ke biji itil Hesti yang mungil kemerahan bagai kacang arab. Tak perlu waktu lama dikerjai, benda itupun mulai menegak dan membesar kencang, membuat Evan jadi semakin bersemangat saja memainkannya.

”Jilat terus, Vann... yah, mainin itilku... terus, sayang... oohh... ahhh... auww!” Hesti pun mendesah penuh kenikmatan. Dari liang memeknya keluar aroma nikmat yang membuat Evan semakin mabuk kepayang.

Franda melihat adegan yang tengah berlangsung tersebut dengan hati berdebar-debar. Dari balik pintu bisa dilihatnya batang kontol Evan yang besar dan panjang sedang bergoyang-goyang. Ada sensasi dan perasaan aneh yang menjalar pada dirinya, membuat memeknya mulai panas dan berdenyut-denyut di balik celana dalam. Tanpa sadar tangan Franda mulai meremas-remas dadanya sendiri, memainkan bulatan dan juga putingnya. Sebelum kemudian tangan itu bergerak turun ke bawah untuk mulai mengelus-elus belahan celana dalamnya. Awalnya perlahan, tapi semakin lama menjadi semakin kuat. Hingga tanpa sadar Franda mulai memasukkan tangan ke balik celana dalamnya. Terasa rambut kemaluannya yang lebat saat ia mulai mulai mengusap-usap belahan kewanitaannya. Semakin lama semakin cepat, sementara ia berusaha untuk menahan suaranya agar tidak sampai terdengar.

”Auwh... ohh... ohhh...” Di dalam, Hesti semakin menggeliatkan badannya. Mulutnya mendesah-desah keenakan, sementara pinggul dan pantatnya bergerak semakin liar. Itu semua karena Evan yang semakin ganas saja memainkan biji itilnya, bahkan kini jarinya juga ikut menusuk-nusuk lubang memek Hesti. Evan mengocoknya, semakin lama semakin cepat. Membuat batang kontol pemuda itu jadi tambah mengeras akibat menikmati rintihan dan desahan Hesti yang teramat nikmat.

Franda yang melihatnya jadi ikut tak tahan, ia pun mulai menurunkan celana dalamnya sendiri. Dan segera berlutut dengan kedua kaki agak dilebarkan. Jemari tangannya buru-buru mencari itilnya, lalu mulai menggosok-gosok benda mungil tersebut. Walaupun pemandangan yang dilihatnya begitu mengagetkan dirinya, namun ia tidak bisa menahan perasaan aneh yang mulai menjalar dan menggelitik birahinya. Jarinya terus memainkan itilnya, sementara matanya terus menatap dengan lekat adegan Evan yang sedang menggarap tubuh montok Hesti Purwadinata.

Dengan lidah bergerak amat cepat, Evan terus menyapu dan membelai itil mungil perempuan cantik itu. Desahan dan erangan Hesti mulai tidak terkendali, pertanda kalau ia sudah hampir tiba pada pertahanan terakhirnya. Dan benar saja, tak lama kemudian, dengan tubuh mengejang dan pantat yang sedikit terangkat, terlihat memek Hesti menyemburkan cairan hangat orgasmenya.
”Hmm... permainan lidahmu bener-bener ganas, Van.” bisik Hesti dengan tubuh masih bergetar pelan. Tampak liang memeknya jadi basah dan memerah karena permainan lidah Evan.

”Itu baru lidah, belum yang ini.” kata Evan sambil menurunkan pantatnya sedikit, lalu memajukan kontolnya ke depan. Karena memek Hesti sudah sangat-sangat basah, mudah saja bagi kontolnya untuk menerobos lubang sempit itu. Terasa hangat dan licin sekali.

”Auwh... pelan-pelan saja, Van.” rintih Hesti begitu Evan mulai memaju-mundurkan kontolnya dengan berirama. Ia menggantung kedua kakinya di bahu laki-laki itu, sementara dari pantat ke kepala tetap dalam posisi berbaring. Hesti mengangkat kedua tangannya dan mengapitkannya di belakang kepalanya sendiri.

Terlihat keteknya yang tercukur putih mulus tanpa bulu dan mulai basah oleh keringat. Makin bernafsu saja Evan jadinya, pompaan kontolnya menjadi semakin cepat dan ditancapkannya dengan sedalam mungkin. Payudara Hesti yang bergoyang-goyang indah, dipeganginya dengan dua tangan dan diremas-remasnya lembut.

”Plok... plok... plok...” bunyi kontol Evan yang terus memompa memek sempit Hesti, terdengar jelas di malam yang sepi itu. Ditingkahi oleh Hesti yang semakin mendesah nikmat. Apalagi saat Evan mulai merubah tekniknya; sengaja pemuda itu memompa dengan pelan beberapa kali, sebelum kemudian menarik kontolnya perlahan sampai batas ujung kepala kontol, lalu blesss... membenamkannya lagi dengan sangat keras ke celah memek Hesti yang sempit. Terus berulang-ulang seperti itu.

Setiap kali akan menerobos masuk, dilakukannya dengan cepat dan bertenaga sehingga langsung menancap sekuat mungkin, bahkan sampai terasa di ujung liang memek Hesti yang terdalam. Hesti pun semakin menggeliat keenakan, merasa nikmat sekali setiap kali kepala kontol Evan  menghujam di lorong kewanitaannya. Saat menerobos masuk, kontol tersebut terasa membelai lembut itilnya, menambah nikmat Hesti jadi tiada tara. Tak butuh waktu lama, perempuan itupun kembali mengejang menjemput orgasmenya.

Evan berhenti sebentar. Hanya tangannya yang bergerak pelan membelai lembut tubuh mulus Hesti.

”Lagi dong, Van...” Hesti merintih dengan tubuh terkejang-kejang. ”Jangan berhenti,” ia meminta.

”Ganti posisi ya... aku duduk, kamu kupangku. Sambil menggoyang, aku mau mainin tetek kamu.” sahut Evan.

”Boleh...” Hesti tidak menolak.

Evan segera menyandarkan badannya ke dudukan sofa, kakinya lurus di lantai. Hesti ikut mengatur posisi dengan duduk di atas kontol pemuda itu, posisi tubuhnya membelakangi Evan, tangannya dinaikkan ke atas mengapit kepala Evan. Perlahan Hesti meregangkan kakinya, memeknya sudah memerah karena hujaman kontol Evan yang bertubi-tubi. Lubangnya sudah membuka, dan perlahan Hesti menurunkan pantatnya.

Jleeb... tanpa kesulitan kontol Evan menerobosnya. Dari belakang, tangannya segera meremas-remas kedua tetek Hesti, dipijitnya dengan kuat dan gemas, juga dimainkan dan dipilin-pilinnya puting Hesti yang sudah membesar. Sementara lidah Evan juga ikut bergerak, mulai menjilati ketek Hesti yang terbuka lebar.

”Ahh... Van!” Hesti mulai bergerak menaik-turunkan pinggulnya, ia memompa kontol Evan yang memenuhi lubang senggamanya dengan mantab dan cepat. Terlihat cairan sisa orgamenya mengalir turun membasahi batang kontol Evan.

Mata Franda terpaku melihat ke arah ruang tamu. Tak berkedip ditatapnya Evan yang sedang menjilati ketek Hesti, dan juga meremas-remas payudara perempuan cantik itu. Juga terlihat kontol Evan yang besar sedang bergerak naik turun memompa lubang memek Hesti yang sudah memerah karena terus ditusuk sedari tadi. Diperhatikannya wajah tetangga Tya tersebut, Franda belum pernah melihat ekspresi Hesti yang seperti itu. Wajah Hesti terlihat penuh kebahagiaan, seperti sangat memuja dan menikmati permainan itu.

Kembali Franda melihat ke arah batang kontol Evan yang sedang memenuhi liang memek Hesti. Sambil membayangkan benda itu menghunjam di miliknya, jemari Franda semakin cepat memainkan itilnya. Benda mungil itu kini sudah berubah menjadi sangat basah menyaksikan adegan seks antara Evan dan si cantik Hesti Purwadinata. Franda merasakan kenikmatan menjalar di sekujur tubuhnya akibat rasa enak yang dia dapatkan saat memainkan itilnya. Itilnya sendiri memang agak besar, lebih besar dari milik Hesti dan menonjol keluar.

Semakin cepat dan tanpa henti ia memainkannya, semakin gairahnya juga terbakar hebat. Saat ini ia tidak dapat berpikir mengapa Hesti dan Evan bisa melakukan persetubuhan yang seharusnya tidak boleh terjadi tersebut. Namun itu bisa menyusul, saat ini Franda lebih sibuk memuaskan dirinya sendiri akibat menyaksikan adegan panas yang sedang terjadi.

Disana, Evan masih memainkan ketek dan payudara Hesti dengan begitu leluasa. Kontol pemuda itu kini mengeras sekeras-kerasnya, aroma tubuh Hesti yang harum menimbulkan rangsangan tersendiri yang tidak bisa dilukiskan oleh Evan. Kini iapun mulai ikut menaik-turunkan pantatnya, mengimbangi goyangan Hesti yang bertubi-tubi. Semakin lama, semakin cepat dan seirama goyangan mereka. seiring dengan deru nafas kenikmatan yang semakin mendera.

”Ahm... ahh...” Kini Evan menjilati leher Hesti. Perempuan yang baru saja menikah itu tentu saja jadi menggelinjang kegelian. Apalagi begitu Evan mencari bibirnya, dan melumatnya dengan begitu rakus. Hesti membalas ciuman itu dengan tak kalah panasnya. Lidah mereka bertautan dengan cepat, saling menarik dan menghisap, dengan goyangan kontol dan memek keduanya menjadi semakin cepat.

Tangan Evan juga semakin kuat meremas-remas dan memainkan payudara Hesti yang menyembul indah. Itu dilakukannya dikala merasakan denyutan-denyutan lembut pada batang kontolnya akibat pijitan dinding memek Hesti. Ditahan sekuat apapun, ia akhirnya tetap kalah juga. Tubuh montok Hesti menggelinjang berbarengan dengan Evan yang menyemprotkan cairan spermanya. Di saat yang sama, Hesti juga memuntahkan orgasmenya untuk yang kesekian kalinya.

Di luar kamar, Franda ikut terkulai lemas. Memeknya sudah basah kuyup, ia juga baru saja mengalami orgasme yang sangat hebat. Memeknya masih berdenyut-denyut nikmat sehabis memainkan itilnya. Matanya tetap mengawasi yang terjadi dalam kamar, nampaknya tidak ada tanda-tanda Evan maupun Hesti menyadari kalau sedang diintip. Dilihatnya kedua orang itu terdiam lemas, masih berciuman dengan lembut dan mesra. Nampak cairan putih menetes keluar dari lubang memek Hesti, membasahi batang kontol Evan yang masih menancap di dalamnya. Wajah keduanya nampak bahagia dan sangat puas.

Franda membiarkan dirinya berdiam diri sebentar, beristirahat, sampai otaknya mulai bisa berpikir jernih kembali. Kalaupun ia tetap di sini, adegan berikutnya yang akan terjadi juga sama saja; Hesti dan Evan akan bersetubuh dengan panasnya. Jadi lebih baik ia pergi saja, sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Memutuskan seperti itu, Franda segera mengambil celana dalamnya yang tergeletak di lantai. Dengan kain segitiga itu ia menyeka cairan yang tersisa di paha dan liang kemaluannya, lalu berdiri dan melangkah keluar halaman secara perlahan dan tanpa suara.

Di ruang tamu, Evan dan Hesti masih tetap dalam posisi seperti tadi. Lemas namun sangat puas. Mereka berdiam diri untuk memulihkan tenaga yang terkuras sehabis memuaskan dahaga yang tertahan.

”Aku puas dan nikmat sekali main sama kamu, Van.” bisik Hesti memecah keheningan.

”Aku juga, Hes. Rasanya terobati deh puasaku tiga hari ini.” balas Evan.

”Maklumlah kamu masih muda, masih penuh semangat dan mudah terangsang.” Hesti tersenyum.

”Kamu juga kan?” tuding Evan sambil membelai lembut bulatan payudara Hesti yang nangkring di perutnya.

”Ah... nakal kamu.” Hesti menggelinjang manja.

Lalu perlahan ia mencabut batang kontol Evan yang mulai melemah dari liang kemaluannya. Hesti menjilati sebentar sisa sperma yang masih ada di batang kontol itu, sebelum mengelap keringat di tubuh Evan dan juga di tubuhnya dengan menggunakan taplak meja. Setelah itu mereka berbaring dan berpelukan, saling berciuman dengan mesra.

Malam itu Evan kembali menggarap tubuh montok Hesti sebanyak dua kali lagi, sebelum mengijinkan perempuan cantik itu balik lagi ke rumahnya. Suami Hesti sudah pulang, jadi sangat riskan kalau meneruskan kebersamaan mereka. Hesti menjanjikan akan datang lagi secepatnya. Evan hanya menyahutinya dengan senyuman. Karena kelelahan setelah memuaskan birahi bersama tetangga Tya itu, tanpa terasa Evan ketiduran di ruang tamu.
loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kisah Petualangan Evan 10 : Kejutan Dari Tetangga"

Post a Comment