Sponsored Links

Kisah Petualangan Evan 1 : Kenikmatan Pertama

Rintik hujan mulai turun ketika Evan baru saja selesai konsultasi dengan dosen pembimbing tugas ahirnya dan keluar dari Kampus. Dia terpaksa berlari-lari kecil untuk menuju halte tempat pemberhentian angkot dan bus kota yang ada di dekat kampusnya. Kadang-kadang ia berlari setengah bongkok untuk melindungi buku-buku yang ia bawa.

Kalau pagi tadi dia menuruti saran teman kosnya, sudah tentu ia tidak kehujanan seperti sekarang. Karena lagi musim hujan, temannya menyarankan agar Evan membawa payung ke kampus. Namun dia menolaknya. Lagi pula pagi tadi cuaca langit memang cerah. Namun ternyata cuaca cepat berubah, dan terbukti siang ini hujan mulai turun.

Pagi tadi sebenarnya Chelsea Olivia, pacar Evan, menawarkan untuk ikut mobilnya saja. Namun Evan menolak. Tak enak setiap hari nebeng mobil pacar. Evan rupanya punya gengsi juga.




Evan masih terus berlari-lari kecil menuju halte. Dari arah berlawanan, sebuah mobil melaju melintasi kubangan. Jrooot! muncratan air kubangan tepat mengenai Evan. Reflek, Evan melompat menghindar, tapi tetap saja air kubangan membasahi seluruh tubuhnya. Dia sudah akan marah saat dilihatnya mobil tersebut perlahan menepi dan berjalan mundur ke arahnya, dan berhenti tepat di samping Evan.

”Hei, dimana mata...” ucapan Evan terputus.

Dari kaca pintu mobil yang terbuka, tersenyum seorang wanita. “Maaf ya, Mas…” kata wanita tersebut, "Baru selesai kuliah ya? Kasihan, jadi kotor deh bajunya. Mau kemana?” tanyanya.

Evan yang tadinya dongkol, jadi tertegun begitu melihat betapa cantiknya wanita tersebut. Menurut taksiran Evan, usia wanita itu tidak terpaut jauh dari usianya, paling empat-lima tahun dibawah dia. Dan juga, wajahnya kelihatan familier, tapi Evan lupa pernah melihat dimana. Lamunan Evan buyar setelah wanita tersebut membuka pintu mobilnya dan menyuruh Evan untuk masuk.

"Ayo. Biar aku antar!" kata wanita itu.

Dengan agak ragu Evan pun masuk ke dalam mobil dan duduk di sampingnya. Dalam hati Evan berucap, “Ini baru rejeki...”

"Maaf, jadi basah kuyup," kata wanita itu. "Pulang kuliah ya?" tanyanya lagi.

"Ya, Mbak. Serius nih mau mengantarkan saya ke tempat kos?" Evan balas bertanya.

"Boleh. Tempat kos kamu dimana?" kembali wanita itu bertanya.

"Tempat kos Evan jauh, Mbak. Sengaja cari yang jauh agar ongkos sewanya murah." jawab Evan sambil tertawa.

“Ooo, namamu Evan.” kata wanita itu sambil kembali menjalankan mobilnya. “Aku Tya Ariestya…” lanjutnya.

Baru beberapa lama mobil berjalan, "Van, mampir dulu sebentar ke tempatku ya. Aku mau ambil sesuatu dulu di rumah," ajak Tya.

Evan hanya menganggukkan kepala saja sebagai tanda setuju. Rumah Tya  ternyata tidak jauh dari tempat kejadian, yang berarti dekat juga dengan kampus Evan. Sebuah rumah mewah di pinggir jalan besar. Seorang wanita lain muncul ketika mobil berhenti di teras. Dari cara bicaranya, wanita yang muncul dari dalam rumah itu adalah pembantu Tya.

"Min, ini Mas Evan, teman Tya. Ambilkan handuk buat Mas Evan, Min...!!!” perintah Tya kepada pembantunya sambil menunjuk ke arah Evan.

“Gak usah, Mbak. Toh tidak lama kan?” ujar Evan.

“Jangan gitu, Van, aku gak mau melihat kamu masuk angin. Pakaianmu basah kuyup gitu. Bila perlu mandi dulu. Min, Min...!!!” panggil Tya ke pembantunya.

“Ya, Non..." jawab Minah sambil mendekat ke arah Tya.

“Antarkan Mas Evan ke kamar mandi! Setelah mandi, kamu antarkan Mas Evan ke kamar tidur depan. Sekalian kamu siapkan pakaian punya Den Angga yang ada di lemari kamar depan agar dapat dipakai sama Mas Evan.” perintah Tya kepada Minah.

“Mbak...” belum juga Evan selesai bicara, Tya sudah memotongnya,

"Jangan menolak, Van. Di rumah ini cuma ada aku sama Bi Minah, jadi kamu jangan grogi dan malu-malu gitu. Biasa aja, anggap saja ini rumah kamu sendiri. Sana buruan mandi biar nggak masuk angin. Sementara kamu mandi, aku akan ganti pakaian dulu.”

Evan tidak bisa menolak perintah Tya. Dari kamar mandi, ia bisa mendengar Tya menyuruh Bi Minah untuk menyiapkan makanan, "Min, siapkan makan. Setelah itu kamu boleh istirahat di belakang. Jangan masuk ruang utama kalau tidak aku panggil!" perintah Tya.

Sementara saat Evan mandi, Tya mengganti pakaiannya. Setelah selesai berganti pakaian, dia duduk di meja makan, menanti Evan yang sedang mandi.

Tidak lama kemudian Evan muncul dengan berbalut handuk sambil membawa pakaian basahnya dengan ditemani Minah. Ketika berpapasan dengan Tya di ruang makan, baik Evan maupun Tya sama-sama saling pandang dan terdiam.

Evan kaget dengan baju yang dikenakan oleh Tya. Wanita itu telah mengganti bajunya dengan kaos ketat yang agak tipis sehingga kedua susu Tya yang bulat montok tercetak dengan jelas disana, lengkap dengan kedua pentilnya yang bulat mungil karena Tya memang tidak mengenakan BH. Celana panjang yang tadi dikenakan gadis itu juga telah diganti hotpants super pendek dan super ketat yang mempertunjukkan bongkahan pantat bulat Tya. Bagian selangkangannya tampak menonjol, dan karena tidak ada garis segitiga disana, sudah dapat dipastikan bahwa Tya tidak memakai celana dalam. Ditambah paha putih mulus gadis itu, makin lengkaplah dia menjadi penyegar bagi mata nakal Evan.

Sementara Tya juga kagum dengan bentuk tubuh Evan yang sangat Atletis. Dada Evan yang bidang dihiasi bulu-bulu halus yang menawan. Otot perut Evan berbentuk sixpack. Begitu pula dengan kedua otot lengan Evan yang kekar. Dengan bentuk tubuh seperti itu, Tya dapat memastikan bahwa Evan rajin fitness dan berolahraga.

Sementara Evan masih mendelik memandangi tubuh sintalnya, dengan sedikit gugup Tya berkata, "Berikan aja pakaian basahmu sama Minah, biar dicuci. Toh besok kamu bisa mampir untuk mengambilnya!"

"Jadi ngrepotin nih, Mbak." kata Evan malu-malu.

"Gak apa-apa, Van. Aku nggak merasa direpoti kok.” sela Tya.

Kemudian Evan menyerahkan pakaian basahnya kepada Minah sambil berjalan menuju ke kamar tidur yang ditunjukkan oleh pembantu itu untuk berganti pakaian. Setelah berpakaian, segera Evan keluar dari kamar dan menuju ke ruang makan dimana Tya telah menunggunya.

“Silakan duduk, temani aku makan. Semoga aja kamu suka dengan masakannya." ajak Tya begitu Evan telah ada di ruang makan.

Evan tertegun sejenak melihat bongkahan susu Tya yang mengintip malu-malu dari balik kaosnya.

"Kubilang santai saja,'' kata Tya, "Gak usah tegang seperti itu, lagian aku sendiri kok disini." jelasnya.

"Makasih, Mbak. Mbak baik banget," puji Evan.

“Biasa aja kali..." ujar Tya sambil berjongkok mengambil sendoknya yang jatuh. Dia sepertinya sengaja mempertunjukan ’sesuatu’ di balik kaos ketatnya kepada Evan. Dengan sedikit berlama-lama Tya menundukkan tubuh hingga Evan dapat melihat dengan lebih jelas dua bongkahan susu putihnya yang bulat dan montok tanpa BH.

Wajah Tya memang cantik. Kulitnya putih. Meskipun agak gemuk namun hal itu malah makin menambah kesintalan tubuhnya sehingga bodynya makin mempesona. Mungkin itulah yang membuat Evan jadi merasa betah berada di rumah Tya. Jantung Evan berdetak semakin kencang. Dia semakin penasaran ingin melihat lebih detail lagi setiap lekuk tubuh Tya. Dia membayangkan alangkah nikmatnya jika dia dapat menggumuli tubuh montok wanita di depannya ini. Rasanya dia ingin membuka celana pendek Tya untuk memastikan bahwa memang benar Tya tidak memakai CD sehingga Evan dapat melihat bagian selangkangannya. Selain itu ingin juga rasanya Evan untuk membuka kaos Tya sehingga dapat melihat langsung kedua susu montok Tya tanpa penghalang.

Evan jadi terbayang tubuh montok Chelsea Olivia, pacarnya. Bentuk tubuh Chelsea tidak jauh beda dengan tubuh Tya. Sehingga saat melihat keindahan tubuh Tya  dengan pakaian seperti itu, ingatan Evan melayang membayangkan tubuh Chelsea. Karena selama mereka berpacaran, Evan baru sekali melihat keindahan tubuh Chelsea. Saat itu tanpa sengaja Evan melihat Chelsea yang habis berenang, tubuh Chelsea yang molek tampak menggairahkan dibalut baju renang. Tapi  begitu melihat kehadiran Evan, dengan serta merta Chelsea langsung meraih handuk dan membungkus tubuhnya dan bergegas pergi menuju ruang bilas. Setelah mengganti bajunya dengan pakaian santai yang agak longgar, barulah dia menemui Evan.

Selama pacaran, Evan memang belum pernah melakukan ML dengan Chelsea. Paling hanya berciuman dan paling jauh sebatas raba-meraba. Terkadang Evan pingin lebih dari itu, apalagi jika mendengar cerita teman-temannya saat mereka berpacaran. Hampir semua teman dekatnya telah merasakan nikmatnya menyetubuhi pacar masing-masing. Tapi Evan belum. Ia ingin meminta pada Chelsea, namun takut. Tapi meski begitu, karena kebaikan Chelsea, sampai saat ini Evan masih sangat mencintainya. Evan tahu, suatu saat nanti pasti dia akan merasakannya juga.

Karena hal itu pulalah, sambil menikmati santap makan siang bersama Tya, Evan tidak menyia-nyiakan pemandangan indah dihadapannya. Dia terus memandangi tubuh montok Tya sampai mereka selesai makan.

”Kamu kuliah ambil jurusan apa?” tanya Tya saat mereka berpindah ke ruang tengah.

”Teknik Mesin, Mbak.” jawab Evan pendek.

Tya mencoba bertanya lagi untuk mencairkan suasana, ”Tingkat berapa sekarang?"

”Sekarang tinggal nyusun tugas akhir, Mbak." jawab Evan.

“Wah, hebat juga kamu, Van.” puji Tya. “Suka permen? Ayo ambil saja," kata Tya sambil menyodorkan sekotak permen coklat. Saat itu Evan dapat melihat kembali dengan jelas betapa indahnya susu Tya.

"Hei, hei... kenapa melihatnya kemari,” goda Tya sambil menunjuk ke dadanya, “Permennya disini, ambil aja!" lanjutnya.

"Oh! Maaf... Makasih, Mbak, tapi saya sudah kenyang.” jawab Evan sedikit gugup ketika ketahuan oleh Tya kalau dia sedang memperhatikan susunya.

"Apa yang kamu lihat, Van?" tanya Tya dengan nada menggoda.

"Ah, enggak, Mbak." jawab Evan tersipu.

"Kamu punya pacar, Van?" kembali Tya bertanya.

Evan tidak menjawab.

Sambil mengunyah permen, Tya menggeser duduknya sehingga tepat berada di depan Evan. Posisi duduk Tya yang mengangkangkan kaki membuat Evan dapat melihat dengan jelas belahan yang ada di selangkangan gadis itu. Evan yakin, Tya memang benar-benar tidak mengenakan CD. Dan karena hotpants yang dipakai Tya dari bahan yang agak tipis, maka bayangan hitam pada selangkangannya tampak jelas membayang. Evan makin nanar melihatnya.

“Pasti jembut Mbak Tya sangat lebat, dari luar aja sudah terlihat hitam legam begitu, dan di balik itu tentu ada sesuatu yang lebih indah. Juga pahanya, Ohh betapa indah kaki putih mulus itu.” kata Evan dalam hati, mengagumi keindahan bagian bawah tubuh Tya.

Sedang asyik-asyiknya menikmati pemandangan di depan matanya, tiba-tiba terdengar suara Tya, "Ngobrol dong." kata Tya dengan nada menggoda. Tya tahu bahwa Evan sedang menikmati keindahan tubuhnya.

Evan seakan gagu, ia terdiam.

"Kenapa, sakit ya?" tanya Tya lagi, “Jangan-jangan kamu masuk angin. Mau minum obat?" tawarnya.

Belum sempat Evan menjawab, Tya sudah menghilang meninggalkannya dan sebentar kemudian wanita itu kembali dengan membawa sebutir pil dan segelas air putih. Kemudian diberikannya pada Evan.

“Nih obatnya. Ayo minum...!!!” perintah Tya. Pil tersebut sebenarnya bukan obat masuk angin atau flu, tapi obat perangsang. Pil tersebut sengaja diberikan ke Evan karena Tya tahu bahwa sebenarnya Evan lagi terangsang, tapi masih sungkan. Dengan adanya pil itu, Tya berharap birahi Evan semakin tinggi lagi dan tidak sungkan lagi.

Seperti terkena hipnotis oleh keindahan tubuh Tya, Evan hanya menurut saja saat Tya memberinya obat untuk diminum. Maka dia yang sebenarnya tidak sakit apa-apa, dengan rela meminum obat tersebut.

Beberapa menit kemudian, tampak oleh Tya duduk Evan semakin gelisah. Dahinya berkeringat. Obat yang diberikan olehnya mulai bereaksi dalam tubuh Evan. Mengetahui hal itu, sambil tersenyum, Tya bangkit dari tempat duduknya dan bergeser ke samping Evan. "Bagaimana, Van, agak baikan?" tanyanya sambil memijit-mijit kepala Evan.

"Sebenarnya Evan nggak sakit, Mbak." jawab Evan dengan suara agak parau, ia berusaha dengan keras menahan gejolak nafsunya yang semakin menggelegak.

"Lalu kenapa?" tanya Tya pura-pura tidak tahu. Padahal dalam hati ia bersorak kegirangan karena sebentar lagi dia bakal merasakan kenikmatan yang telah lama hilang darinya sejak pacarnya memutuskan hubungan.

Evan yang terus digoda, akhirnya nekat juga. Gejolak birahi sudah tidak dapat ia kendalikan lagi, apalagi setelah meminum obat yang diberikan oleh Tya. Pikirannya makin buntu. Yang ada adalah bagaimana bisa melampiaskan nafsunya pada tubuh montok Tya. Jadi, sambil menahan nafasnya, dalam sekejap Evan memeluk erat tubuh montok Tya lalu menyergap bibir mungil wanita cantik itu.

Mendapat perlakukan seperti itu, Tya bukannya berontak, malah membalas lumatan bibir Evan yang liar. Dari cara Evan mencium bibirnya, Tya tahu bahwa Evan memang belum berpengalaman dalam bercinta, tapi justru itu akan sangat menyenangkan baginya.

”Ah, Van, Kamu nakal!” teriak Tya dengan suara manja.

"Mbak bikin Evan jadi sange sih." balas Evan sambil melepas ciumannya.

"Itu namanya kamu lelaki normal." jelas Tya.

"Mbak, Evan pingin..." kata Evan ragu-ragu.

"Pingin apa, Van, ngomong aja. Kamu terangsang lihat tubuhku ya, terus kamu pingin meniduriku kan? Sekarang kamu boleh melakukan apa saja terhadap aku, Van." jawab Tya to the point.

"Bener, Mbak? Tapi terus terang Evan belum pernah melakukannya," kata Evan lagi.

"Sekarang lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Dengan senang hati Mbak akan melayanimu!" jelas Tya.

Evan memeluk Tya lebih erat lagi. Pelukannya kali ini nampak tidak ragu-ragu. Ciumannya pun mulai lembut dan makin terarah. Merasakan hal itu, membuat Tya bertanya pada Evan. "Van, kamu bohong sama Mbak ya? Kamu mungkin sudah sering meniduri pacar kamu, ya kan?" tuduh Tya.

"Sungguh, Mbak, Evan belum pernah melakukannya!!!" jawab Evan bersemangat, “Kalau dengan pacar, paling hanya sebatas ciuman dan saling raba. Tidak lebih dari itu. Mungkin belum waktunya kali, Mbak...”

“Kasihan deh loe...” ledek Tya, “Nah sekarang kamu akan merasakan kenikmatan yang telah diceritakan teman-temanmu. Kenikmatan surga dunia, Van... Mbak akan memberikan kenikmatan itu.” lanjut Tya.

Kemudian tangan Tya menelusup ke dalam celana Evan. "Gila, gede banget, Van!” teriak Tya ketika tangannya menyentuh kontol Evan. Dengan cepat dia melucuti pakaian Evan hingga tinggal celana pendek yang menutupi tubuh pemuda itu. Dan karena Evan tidak mengenakan celana dalam, maka begitu celana pendeknya ditarik Tya hingga ke ujung kaki, kontol Evan yang gede dan panjang langsung meloncat keluar bagai pentungan hansip.

“Wow, Van! Ternyata dugaanku tidak salah. Saat melihat kekekaran tubuhmu waktu sehabis mandi tadi, aku sudah membayangkan bahwa kamu pasti memiliki kontol yang super... dan ternyata memang benar-benar luar biasa. Udah gede, panjang lagi..." jelas Tya kagum.

Evan tidak memperdulikan apa yang diucapkan oleh Tya. Apa yang dilakukan gadis itu malah semakin membuat nafsu birahinya menggelora. Ia mulai berani membuka pakaian Tya, semuanya, sehingga tubuh Tya benar-benar telanjang bulat sekarang.

Saat itulah tiba-tiba Evan merasakan kenikmatan pada kontolnya ketika dengan lahapnya Tya mengulum batang itu. Bibir Tya yang merah dan seksi berputar-putar saat menghisap. Evan merasa bagai ditarik-tarik tenaga gaib. Ia menggeliat menahan nikmat yang luar biasa itu.

"Uuh... nikmat, Mbak... ouhh… ssh… ahh… enak sekali, ssh… ahh…" Karena belum pernah dioral seperti itu, maka Evan terus mengerang merasakan kenikmatan yang baru pertamakali ini dia rasakan.

Sementara Tya terus menghisap dan melumat kontol Evan dengan lahapnya, membuat batang besar itu semakin mengeras dan berdenyut-denyut kencang. Tya tahu bahwa sebentar lagi Evan akan menyemprotkan pejuhnya. Maka dia pun semakin lahap melumat, menghisap dan menjilat seluruh batang kontol itu hingga beberapa detik kemudian Evan tak mampu lagi menahan birahinya.

Crot... croott... crooottt... dengan denyutan cepat disertai rasa nikmat yang luar biasa, Evan memuncratkan cairan pejunya. Tanpa melepaskan kontol Evan dari mulutnya, Tya melahap seluruh cairan itu. Setelah tidak keluar lagi, baru Tya melepaskan kulumannya.

“Hmm... sekarang aku baru percaya bahwa kamu emang jarang dan mungkin belum pernah ngentot dengan perempuan,” kata Tya yang dengan tidak malu-malu mulai berkata vulgar. "Pejuh kamu gurih dan wangi, Van." lanjutnya sambil terus menjilati batang kontol Evan. Sesekali biji peler Evan tidak luput dari jilatan dan hisapan mulutnya. Karena Tya terus menjilatinya, perlahan batang kontol Evan mulai tegak kembali.

"Eh, bangun lagi tuh,” kata Tya manja, ”Kita pindah ke kamarku aja yuk, biar lebih leluasa...” ajak Tya sambil melepaskan jilatannya pada kontol Evan. Dia menarik tangan Evan untuk diajak menuju ke kamar. Di dalam, Tya langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tanpa disuruh, secara insting, Evan naik ke atas tubuh polos Tya yang sedang dalam posisi mengangkang. Evan menenggelamkan wajahnya diantara kedua susu Tya yang bulat, besar dan montok itu. Mulutnya mulai mengenyot dan menjilati kedua susu Tya secara bergantian sehingga lama-lama pentilnya makin tegak dan mengeras.

“Ohh... Van... terus, Van… sedot yang kuat susuku, Van...” rintih Tya dengan mengerjapkan mata sambil menggigit bibir bawahnya, dia meminta Evan untuk terus mengisap kedua puting susunya.

Sementara tangan kanan Evan memegang susu Tya, tangan kiri pemuda itu menempel pada bagian bawah selangkangan Tya, tepat di atas bukit kemaluannya. Disana, Evan menemukan bagian yang lembut dan lembab, yang ditutupi oleh rimbunnya bulu-bulu jembut yang sangat tebal dan hitam. Ada cairan halus tersentuh oleh ujung jarinya saat Evan berusaha membelah bibir memek Tya dan memasukkan salah satu jarinya. Evan mencium cairan tersebut, terhirup olehnya bau yang belum pernah dia rasakan. Bau khas memek perempuan yang sedang terangsang. Bau tersebut semakin menambah nafsu birahinya.

Dengan penuh nafsu Evan kembali menjilati kedua susu Tya. Putingnya yang mungil kemerahan ia kulum halus dengan menggunakan bibirnya, sambil sesekali ia jilati ujungnya hingga basah memakai lidahnya. Lagi-lagi Tya memejamkan matanya meresapi kenikmatan yang ia peroleh dari Evan. Di bawah, jari-jari Evan merasakan memek Tya semakin banjir oleh cairan birahinya.

Perlahan, ciuman Evan merambat turun dari dada Tya. Kini ia mulai menjilati daerah sekitar pusar Tya, kemudian jilatan Evan semakin turun dan turun hingga mulutnya tepat berada di depan lubang memek Tya. Perlahan Evan  membuka kedua paha Tya semakin melebar. Karena memek Tya hanya berjarak sekitar 10 cm dari wajahnya, maka bentuk benda itu semakin jelas terlihat olehnya. Evan memperhatikannya dengan seksama tanpa berkedip, terlihat sekali kalau dia sangat kagum dan menyukai benda itu.

"Ooo, ini toh yang namanya memek itu, begini toh bentuknya...!" kata Evan dalam hati. Tampak jelas sekarang bentuk bibir luar memek Tya. Benda itu terlihat sedikit terbuka, memperlihatkan bagian dalamnya yang lengket dan memerah. Sementara di bagian pucuk atas tempat pertemuan dua bibir, bertengger dengan indahnya secuil daging kecil berwarna merah muda yang terlihat menonjol keluar. Evan menduga ini pasti yang namanya klitoris.

Beberapa lama Evan terpana memperhatikan semua pemandangan dahsyat yang baru kali ini dia lihat dalam hidupnya secara nyata. Tiba-tiba, "Aduuhh..!" Evan menjerit kecil ketika tangan Tya mencubit pipinya.

"Van, kamu ngeliatin apa sih?" tanya Tya manja. Dia pura-pura bertanya karena tak tahan merasakan hembusan nafas Evan yang terasa panas pada lubang memeknya.

"Cuma mau dilihatin aja?" kembali Tya bertanya saat melihat Evan masih terdiam, membuat pemuda itu menjadi sedikit kikuk.

"Ehh... ohh... nggak, habis baru pertama kalinya Evan melihat memek perempuan secara nyata. Punya Mbak bagus!" Evan menjawab sekenanya, karena tidak tahu apa yang harus ia katakan.

"Ah, masa sih?" sahut Tya bangga, lalu seperti memancing gairah kelelakian Evan, ia mulai mengusap-usap itilnya sendiri dengan menggunakan jari. Benda mungil itu ia pelintir sedemikian rupa hingga bertambah kaku dan mencuat. Nampak oleh Evan lorong vagina Tya yang berwarna merah semakin banjir oleh cairan birahinya.

"Masa sih punyaku bagus? Kalau bagus, kok cuma diliatin aja?" Tya menyambung perkataannya sambil jari-jari tangannya masih mengerjai itilnya, terdengar oleh Evan suara Tya menjadi sangat seksi.

Kemudian perlahan Tya memegang kepala Evan dan menariknya agar semakin mendekat ke arah lubang memeknya. Sambil menggoyang-goyangkan pantat, Tya seakan menyodorkan memeknya agar dinikmati oleh Evan. Sekarang jarak liang memeknya dengan wajah Evan hanya tinggal sejengkal. Aroma khas bau memek perempuan merebak menusuk hidung Evan kuat-kuat, membuatnya jadi ingin bersin. Padahal memek Tya begitu harum dan lembut seperti bau daun pandan, tapi tetap saja Evan mendengus. Sesaat dia memejamkan mata menikmati aroma yang tercium lembut menembus hidungnya itu.

"Ihh... nih orang, ngapain sih? Tadi cuma ngeliatin aja, sekarang cuma mencium baunya! Maunya apa sih?!" suara Tya sontak membuyarkan lamunan Evan.

Evan tersenyum melihat wajah Tya yang sedikit cemberut. "Iya, Mbak! Masa nggak boleh sih Evan menikmati dulu harumnya memek Mbak? Baru pertama kali Evan mencium bau yang seperti ini. Beneran lho, Mbak. Memek Mbak haruummm banget!" Evan mencoba merayu Tya.

Akibat cairan birahi Tya yang terus keluar dari dalam liang vaginanya, tampak oleh Evan bibir memek Tya semakin mengkilat, dan bulu-bulu jembutnya juga mulai terlihat basah. Cairan birahi itu semakin banyak keluar sejalan dengan semakin memuncaknya nafsu birahi Tya. Saat Evan hendak melanjutkan aksinya menjilati lubang memek Tya, tiba-tiba Tya menarik kepalanya agar Evan naik kembali ke atas. Begitu wajah mereka telah sejajar, Tya langsung melahap bibir Evan sebentar sebelum melepaskannya kembali tak lama kemudian.

“Oughh… Van, mainin memeknya nanti aja ya, masih banyak waktu! Sshh... aghh… masukin kontolmu, Van… oughh… aku nggak tahan lagi… cepat, Van… aku ingin merasakan kontolmu yang besar itu!” Tya mengerang, menyuruh Evan agar segera memasukkan kontol ke dalam memeknya. “Ayo, Sayang, memekku udah gatal pingin digaruk sama kontol kamu!” rengeknya tak sabar, Tya memang sudah pengen dientot. Semenjak pacarnya memutuskan hubungan beberapa bulan yang lalu, Tya sudah lama tidak merasakan memeknya dimasuki oleh kontol lelaki. Dulu hampir setiap ada kesempatan dia dan pacarnya selalu memuaskan nafsu birahi mereka. Dimana saja kapan saja, asal ada kesempatan, mereka selalu berpacu dalam birahi.

Dan kini, entah mengapa nafsu itu kembali berkobar saat Tya bertemu dengan Evan. Dia benar-benar menginginkannya. Tya pingin merasakan memeknya kembali disodok oleh kontol lelaki. Dan kontol itu adalah milik Evan, yang kini telah teracung tegak siap memasuki memeknya. Tya segera meraih batang kontol itu dan mengarahkannya ke depan hingga posisinya sekarang berada tepat di atas belahan memeknya. Dada Evan berdebar menanti saat-saat dimana dia akan merasakan untuk pertama kali dalam hidupnya bagaimana nikmatnya bersanggama dengan seorang perempuan.

Seperti tahu akan perasaan Evan, Tya mencoba membuatnya rileks, "Van, kok kamu tegang sih? Santai saja, aku maklum kalau kamu tegang begitu, aku dulu juga seperti kamu, gelisah dan tegang. Nikmati saja ya?" kata Tya menenangkan, “Sekarang kamu turunkan pantatmu pelan-pelan,” perintahnya.

Pelan-pelan Evan kemudian menekan pantatnya ke bawah. Sleeep... ujung kontolnya mulai membelah celah yang lembab dan hangat di selangkangan Tya. Dengan telaten tangan Tya membimbing batang kontol Evan untuk mendapatkan posisi yang tepat agar tusukannya bisa pas. Begitupun dengan pinggulnya, Tya sedikit menggoyangkannya agar posisi ujung kontol Evan  tepat berada dalam jepitan bibir memeknya. Evan memejamkan mata saat merasakan geli bercampur ngilu akibat gesekan kulit kontolnya dengan dinding kemaluan Tya.

Ia melenguh, ”Ughh... Mbak Tya,” sambil diremas-remasnya payudara wanita cantik itu.

“Tekan lagi, Van.” Tya memberi komando pada Joni.

Evan mengatur nafasnya dan mengangguk, lalu Bleess…! Ia menurunkan pinggulnya kuat-kuat hingga terasa batang penisnya perlahan menerobos masuk ke dalam celah memek Tya yang sempit. Sedikit demi sedikit batang itu terus masuk lebih dalam lagi seiring dengan dorongan pantat Evan yang semakin kencang.

"Ouhh... Mbak!" hanya itu rintihan yang keluar dari mulut Evan mewakili berjuta kenikmatan yang baru kali ini ia rasakan di umurnya yang sudah menginjak tigapuluh tahun. Terasa dinding memek Tya begitu lembut dan hangat menyelimuti sekujur batang penisnya.

"Ouuff... gimana, sayang... hegh... enak? Ahh... ssh... aduh... gila! Kontol kamu... uuff... aduh... oughh... gila! Kontol kamu gede banget... lubang memekku terasa penuh sama batang kontolmu, edan! Uufff... aduh!" rintih Tya berulang kali.

"Ahh... Mbak! Benar ya, Mbak... oushh... benar k-kata orang, ngentot itu... aduh... sshh... nikmat banget!" desah Evan tak mau kalah.

“Shh… aghh... Van, kontolmu besar… sssh… enak, Van... puaskan aku dengan kontolmu itu... sssh!” desis Tya. Dia mulai merem melek keenakan ketika Evan mulai menaik-turunkan pantatnya dengan pelan hingga kelamin mereka yang bertaut erat saling menggesek mesra. Tya tampak begitu menikmati genjotan kontol Evan yang keluar masuk dengan lancar di dalam lorong sempit liang vaginanya.

Melihat Tya begitu bernafsu, Evan mulai berani melumat bibir perempuan cantik itu. Ia menjilati leher, telinga dan payudara Tya yang membusung indah sampai akhirnya mulutnya tertambat di puting Tya yang mungil dan menghisap-hisap lembut disana. Aksi Evan itu semakin membuat desahan Tya membahana keras. “Ouhh… sssh… ahh… Vann, kontolmu enak sekali... sshh… aaah!” teriak Tya keenakan.

“Hmm… eghhm… memek Mbak juga enak… oohh… sempit sekali… ahh!” Evan melenguh tak kalah nikmat merasakan jepitan memek Tya yang ketat membungkus batang penisnya. Sambil melenguh, ia terus menghisap-hisap puting susu Tya. Setiap kali ia menggerakkan kontolnya, Evan merasakan memek Tya seperti mencekiknya hingga kontolnya jadi terasa seperti diperas dan dipijit-pijit ringan. Sungguh sangat nikmat sekali. Evan merasakan tubuhnya mulai dijalari oleh rasa ngilu yang amat sangat.

“Oughh… Van, terus sodok memekku dengan kontolmu itu… aghh!” Tya mengerang menikmati sodokan kontol Evan di lubang senggamanya.

“Hhm… ahh… memek Mbak benar-benar sempit... enak… aku suka... ough!“ Evan juga melenguh keenakan merasakan jepitan memek Tya di batang penisnya.

“Tekan lebih dalam, Van... yah, begitu... shhh… ough…” rintih Tya meminta, yang dituruti oleh Evan dengan menghentak lebih kuat hingga kontolnya terbenam sampai ke dasar

Kedua insan ini sudah tidak ingat apa-apa lagi selain menikmati persetubuhan mereka yang semakin menggila. Evan semakin cepat mengeluar-masukkan kontolnya di dalam lubang memek Tya yang sempit, sementara Tya  dengan penuh semangat menggoyangkan pantatnya untuk mengimbangi gerakan Evan yang semakin lama menjadi semakin cepat. Keringat sudah mengalir deras di tubuh polos mereka berdua.

“Aghh… aku sudah tidak tahan lagi, Van… oughh… aku mau keluar… ouhh... enak sekali kontolmu, Vann… aaghh… aku keluar… aaghhh...” Tya mengerang kesetanan. Sssrrr… ssssrrrrr… ssssrrrrr… tubuhnya mengejang saat ia mencapai puncak kenikmatannya. Lubang vaginanya berdenyut-denyut kencang saat mengeluarkan lahar kenikmatannya.

Evan merasakan betapa memek Tya seperti meremas-remas batang kontolnya. Akibatnya, ia jadi tak tahan juga. “Oughh… ahhh… sshh… aaah… Mbak, aku juga mau… oughh...” Evan pun melenguh dan menekan dalam-dalam kontolnya ke lorong memek sempit Tya, lalu croot… crooott... croooottt… spermanya meledak mengisi rahim basah Tya.

”Auw!” Tya sedikit merintih merasakan dinding rahimnya disembur oleh cairan hangat pejuh Evan. Dia segera memeluk tubuh pemuda itu erat-erat dan mencium bibirnya dengan mesra, sementara kakinya ia kaitkan di belakang pinggul Evan, membiarkan cairan mereka saling bertemu dan bercampur menjadi satu. Beberapa saat kemudian, begitu kontol Evan sudah berhenti meludah, barulah Tya melepaskan kaitan kakinya. Di wajahnya tersungging senyum lebar penuh kepuasan.

"Baru kali ini aku merasa nikmat seperti ini, Van..." gumam Tya suka. "Jangan dicabut dulu kontolmu, biar aja di dalam, nanti juga lepas sendiri!" pintanya sambil mendekap tubuh kekar Evan, "Aku senang begini." tambahnya kemudian.

Bagi Evan, hari ini merupakan saat yang tak mungkin bisa ia lupakan. Bagaimana tidak, ini adalah hari pertama ia merasakan nikmatnya ngentot dengan perempuan. Perempuan yang sangat-sangat cantik dan seksi, juga begitu binal. Nikmat yang selama ini hanya dapat ia bayangkan dari cerita teman-temannya, sekarang terwujud menjadi kenyataan. Ia begitu gembira, hingga terbersit perasaan kecewa di hati Evan ketika Tya menyuruhnya turun dari atas tubuh bugilnya. Evan masih sayang untuk melepaskan tubuh indah wanita di depannya ini. Ia masih menginginkannya lagi.

"Kenapa diam, Van?" tanya Tya sambil menelusuri tubuh kekar Evan dengan tangan kirinya. Nafas Evan naik-turun. Degup jantungnya masih tak teratur.

"Capek, Van?" tanya Tya kembali. Joni masih terdiam.

Tya tersenyum. “Kamu hebat, Van. Aku betul-betul puas, kamu benar-benar perkasa. Jangan kamu berikan inimu untuk orang lain ya, sayang! Kamu harus janji sama aku, hanya memekku yang boleh merasakan keperkasaan kontol besarmu ini!” kata Tya sambil tangannya terus meremas dan mengocok dengan lembut batang kontol Evan yang masih lemas setelah dua kali memuncratkan pejuhnya. Perla­han namun pasti, Tya merasakan kontol itu bergerak-gerak dan ketika ia melihat ke arah selangkangan Evan, ia pun berseru kegirangan, "Ngaceng lagi, Van!!” jeritnya.

“Van... aku pingin lagi," rengek Tya dengan manja dan genit.

Evan tahu bahwa Tya tidak sekedar basa-basi. Wanita itu telah merasakan keperkasaannya, dan diapun telah menikmati kehangatan tubuh wanita itu. jadi, apalagi yang ditunggu. “Mbak mau dientot lagi? Sekarang? Sampai pagi pun Evan layani. Evan juga masih ingin menikmati nikmatnya lubang memek Mbak,” kata Evan. Ia menggulingkan tubuhnya hingga berhadapan dengan tu­buh bugil Tya. Ujung kontolnya menyentuh ku­lit perut Tya.

"Kamu benar-benar perkasa, Van!!" puji Tya sambil mencium bibirnya.

Birahi Evan naik dengan cepat. Akibat pengaruh obat yang diberikan Tya padanya membuat kondisi Evan selalu fit walapun dia telah dua kali mencapai puncak kenikmatan. Kembali didekapnya tubuh hangat Tya yang montok.

Namun tiba-tiba, dengan masih dalam dekapan Evan, Tya bangun dari posisi tidurnya sehingga sekarang mereka dalam posisi duduk berhadap-hadapan. Wajah mereka begitu berdekatan, Tya merasakan nafas yang keluar dari hidung Evan panas menerpa wajahnya, dengan lembut Evan lalu mengecup perlahan bibir Tya.

“Ohhhh…” Tya mendesah suka.

Evan melanjutkan aksinya dengan melumat seluruh bibir Tya, lidahnya mulai menerobos masuk ke dalam rongga mulut gadis itu, untuk kemudian menari-nari di dalam rongga mulut Tya yang hangat. Tya membalas dengan menyentuhkan lidahnya ke lidah Evan, lidah mereka menari bersentuhan di dalam rongga mulut Tya.

Sambil tetap mencumbu mulut Tya, tangan Evan mulai beraksi. Kedua tangannya kini pelan-pelan mulai turun dari leher Tya yang jenjang ke arah kedua susu Tya yang besar, bulat dan montok. Setelah kedua susu Tya berada dalam genggamannya, Evan mulai meremas-remas kedua susu gadis itu, yang kadang-kadang diselingi dengan pilinan-pilinan lembut di kedua pentilnya.

“Hhhmpp… ssshhh… oohh…” desah Tya merasakan nikmatnya sentuhan dan remasan tangan Evan di kedua bulatan susunya.

Aksi Evan semakin menjadi, ciumannya kini berpindah ke leher Tya, membuat Tya semakin merintih dan menggeliat keenakan, dan terus turun ke arah dada Tya. Dengan lembut pentil susu sebelah kanan Tya dikecupnya, dilanjutkan dengan jilatan-jilatan di pentil tersebut dan kadang-kadang dihisap-hisapnya dengan rakus. Tangan kiri Evan terus aktif dengan remasan dan pilinan di susu dan pentil sebelah kiri Tya, sementara tangan kanannya mulai meluncur ke arah selangkangan gadis itu. Dengan gerakan perlahan tapi pasti, tangan kanan Evan telah berada tepat di belahan memek Tya, terasa olehnya vagina gadis itu sudah begitu basah. Dengan jemarinya Evan menggesek-gesek itil Tya dengan lembut. Kombinasi aksi yang dilakukan Evan membuat Tya semakin mendesah dan merintih penuh kenikmatan. Desahan syahdu meluncur tanpa henti dari mulut manisnya.

“Oohh... enak... terus... kamu hebat, Vann... oohh… kamu makin pintar, Joooonn... melayang aku jadinya… puaskan aku lagi... ohh...” rintih Tya berkali-kali.

Kemudian Evan turun dari tempat tidur dan menarik tubuh Tya hingga posisi pantat gadis itu tepat berada di pinggiran tempat tidur, belahan memek Tya tepat berada di depan muka Evan, lalu Evan menarik pantat Tya agak maju dan meletakkan kedua kaki Tya di atas pundaknya. Dengan posisi tersebut, maka Evan akan dapat dengan leluasa mengekplorasi bagian selangkangan gadis itu. Kini posisi mulut Evan sedemikian dekatnya dengan bibir memek Tya. Dan kembali aroma khas bau memek perempuan dapat terhirup olehnya.

“Ooouuhh... Van! Ouufffsshh... aduhh... kamu! Yaahh... gitu... sshhttt!" Tya mengerang begitu Evan mulai menjulurkan lidahnya dan menjilat bibir luar vaginanya.

Evan sendiri sudah tidak sabar ingin segera merasakan dan mencicipi bagaimana rasanya memek wanita yang tadi sempat tertunda. Lubang vagina Tya yang sudah setengah merekah itu begitu mengundang hasratnya untuk segera menyusupkan lidahnya ke dalam. Perlahan Evan menyapu bibir memek Tya bagian bawah, dan... Ohh, ternyata ada sedikit kebasahan disitu, sejenak Evan kecap kebasahan itu yang berupa lendir bening yang dikeluarkan liang memek Tya.

"Hhmmm... lezat juga!" kata Evan dalam hati sambil meresapinya. "Eh, Mbak,  enak juga ya, Mbak..." ujarnya sambil menikmati rasa gurih lendir itu.

Sambil merintih manja, Tya menyahut, "Ouuhh... Van, itu baru lendir pelumas aja, coba deh nanti... oohh... sstt... kamu nanti akan menikmati banyak lendir yang keluar kalau aku orgasme, tapi kamu harus berusaha lebih keras!" Sambil berkata, Tya membuka pahanya semakin lebar agar lidah dan mulut Evan dapat bergerak lebih leluasa di lubang memeknya.

Kembali Evan menjulurkan lidahnya, menyusupkannya diantara belahan bibir memek Tya sambil dibantu oleh jari-jari Tya yang menguakkan belahan vaginanya hingga semakin lebar.

"Oouuhh... oouufff... ssttt... yah, begitu, sayanggg... terus masukkan lidah kamu lebih dalam! Yaahhh... teruusss... ooughh..." erangan Tya terdengar lembut dan bergairah menikmati sentuhan lidah Evan.

Saat lidah Evan mulai menyentuh itilnya yang sudah semakin keras dan mencuat keluar, rintihan Tya semakin keras terdengar. "Vannn... yah, betul! Teruss... yang lembut, sayang! Ooufff... eessshhhttt... ssttt... edann! Enak banget! Aduuhhh... eesshhh... kamu ternyata... uuufff... mulai pintar juga... eesshhttt..." desah Tya tiada henti.

Sebenarnya Evan melakukan hal tersebut hanya karena dorongan instingnya saja, dan juga sedikit mempraktekkan apa yang selama ini diceritakan oleh teman-temannya tentang bagaimana cara melakukan oral sex pada liang vagina perempuan. Kembali terasa di lidah Evan lendir yang keluar dari liang memek Tya semakin banyak saja.

“Oohhh...! Betapa nikmatnya rasa lendir memek wanita itu.” ujarnya dalam hati. Aroma harum memek Tya semakin tajam menusuk hidungnya seiring semakin banyaknya lendir itu yang membanjir keluar, membuat Evan semakin bernafsu untuk terus menjilat dan menghisap setiap bagian memek Tya, terutama itilnya yang berwarna merah muda kecoklatan itu.

"Aduh, Vann... eshh... pintar kamu, Van! Yah... terus jilati itilku, Vann… duh, nikmat sekali! Hhmm... kayaknya aku mau sampai nih! Terus, Vann... itilnya itu, uhh... itilnya!" rintih Tya yang terdengar semakin keras, dan malah sekarang seperti menjerit kecil setelah Evan yang dari tadi hanya menjilati itilnya, sekarang mulai memagut pelan dan langsung mengulumnya layaknya mengemut permen.

Evan mengulum dan mengemut itil Tya dengan gemas bercampur nafsu. Kontan tubuh Tya kelojotan dan menggelinjang hebat merasakan nikmat yang amat sangat. Ternyata itil merupakan bagian yang paling sensitif bagi gadis itu. Pusat kenikmatan Tya terletak pada itilnya. Bongkahan pantat Tya sekarang semakin diangkat ke atas menyambut setiap jilitan dan kuluman lidah Evan pada itilnya. Tya menekan kepala Evan kuat-kuat hingga muka pemuda itu semakin tenggelam di jepitan kedua pangkal pahanya.

Posisi demikian membuat Evan sulit bernafas, apalagi mulutnya masih terus mengulum dengan buasnya itil Tya yang sepertinya terasa semakin tegang dan mengeras. Tapi dia menyukainya, juga menikmatinya. Sementara dari sela-sela bulu jembut Tya, Evan melihat kedua tangan Tya meremas-remas kedua susunya seperti berusaha menambah rangsangan terhadap dirinya sendiri. Terlihat juga kepala Tya mendongak ke atas dan kedua bola matanya mendelik-delik serta pupil hitam di matanya sudah tidak terlihat, hanya terlihat warna putihnya saja.

"Vann... enngg... oukhh... essthh... Ya ampun, enak banget! Aduh... yaahh... sedikit lagi... yahhh... uufff... k-kamu ingin merasakan... ouhh... ingin mencicipi lendirku, kan? Yahh... sedikit lagi... dikit lagi, sayang! Uughh... emut terus! Uuh... lebih keras lagi. Yah... terus hisap itilku... teruss... emut yang kuat, sayang... yah begitu...!" jeritan dan rintihan kenikmatan Tya terdengar putus-putus, sementara Evan terus menghisap kuat itil gadis itu masuk ke dalam mulutnya.

Dan tiba-tiba suara desahan itu berhenti. Sama sekali tidak terdengar jeritan maupun rintihan Tya, yang ada hanya tubuh Tya yang bergetar hebat, gadis itu kelojotan hingga membuat pantat dan pinggulnya bergoyang kesana kemari. Namun pagutan dan hisapan mulut Evan pada itil Tya tetap tidak dia lepaskan, mau tidak mau kepala Evan ikut bergerak mengikuti gerakan liar bongkahan pantat Tya, padahal tangan Evan yang dari tadi meremas-remas bongkahan pantat Tya, kini sudah berusaha menahan gerakan liar itu. Sekuat tenaga Evan tetap mempertahankan posisi mulutnya menghisap dan memagut itil mungil Tya.

Semenit kemudian kelojotan tubuh Tya terhenti, Evan merasakan tubuh gadis itu meregang hebat, kedua pahanya kejat-kejat menghimpit kuat kepala Evan yang membuatnya jadi sangat sulit untuk bernafas, namun Evan rela menahannya untuk menanti apa yang akan terjadi pada saat dimana Tya akan menjemput puncak kenikmatan sejatinya.

Evan merasakan memek Tya berkedut-kedut dan kembali gadis itu menjerit-jerit, "Aah... eshtt... itu! Yah... ituu! Uuuh... enak... enak banget! Aahh... eshhtt... uuhh... ini, Sayang! Yah... ini aku keluarin cairan orgasmenya... Oouuffsshh... nikmat sekali... Aaaaaaaaaaaahhh...!"

Beberapa detik setelah itu, “Seeer... seerr... seeerrr...” terasa di lidah Evan semburan hangat cairan lendir yang keluar dari lubang memek Tya mengguyur ujung lidahnya, dan terus mengalir menerobos masuk ke dalam mulutnya. Evan langsung menelannya. Benar seperti yang dikatakan Tya, lendir bening yang dikeluarkan lubang memeknya benar-benar sangat lezat, rasanya gurih dan ada sedikit rasa manis bercampur asin. Sungguh suatu sensasi yang baru pertama kali Evan alami dan rasakan dalam hidupnya.

Entah mungkin ada 5 atau 6 kali mulut Evan menangkap semburan cairan lendir yang membanjir keluar dari lubang memek Tya. Saking derasnya aliran lendir itu hingga membuat Evan sampai sedikit tersedak. Semakin lama semburan cairan itu semakin melemah, sampai akhirnya berhenti sama sekali, kini hanya berupa tetesan-tetesan saja yang tentu tidak Evan lewatkan begitu saja. Jepitan kedua paha Tya di kepala Evan terasa mengendur hingga Evan dapat mengambil nafas panjang. Dia hirup udara dalam-dalam karena ada lebih semenit Evan menahan nafas sampai dadanya terasa sesak. Namun pengorbanan itu sesuai dengan sensasi dasyat yang ia dapatkan melalui hisapan mulutnya di setiap bagian lubang memek Tya. Khayalannya selama ini untuk mencicipi lezatnya cairan lendir liang memek seorang wanita sebagaimana yang telah diceritakan oleh teman-temannya selama ini kini menjadi kenyataan.

Seiring dengan melemahnya semburan lendir yang keluar dari dalam memek Tya, terlihat oleh Evan kedutan pada alat kelamin gadis itu juga mulai berhenti. Evan segera berdiri setelah badai nafsu Tya mereda, dan kejutan-kejutan tubuh Tya berhenti. Tangan kirinya merengkuh tubuh gadis itu, sementara tangan kanannya memegangi dagu Tya lalu diciumnya bibir Tya dengan lembut. Kemudian tangan kanannya beranjak ke susu Tya, dengan gemas Evan membelai-belai bulatan dan pentil susu Tya. Mendapat perlakuan tambahan ini, Tya merasakan sensasi yang berbeda daripada biasanya, sisa-sisa kenikmatan yang berhasil ia raih semakin indah ia rasakan akibat perlakuan Evan ini.

Kecupan-kecupan lembut Evan di bibirnya serta belaian tangan pemuda itu di susu dan pentilnya pelan-pelan membuat gelora birahi Tya yang telah mereda mulai bergejolak kembali, desahan mulai terdengar kembali dari mulut manisnya. Tangan kiri Tya mulai bergerak ke arah selangkangan Evan, dielus-elusnya kontol Evan. Kontol Evan yang sudah tegang semakin menegang akibat elusan itu, dan membuat Evan melenguh keenakan. Tya juga mulai menciumi dada Evan, pentil susu Evan tidak luput dari hisapan dan jilatannya, terdengar Evan kembali melenguh akibat serangannya.

Jilatan Tya mulai turun ke bawah, digenggamnya kontol Evan dengan kedua tangannya. Saking besarnya kontol Evan, masih ada sedikit bagian yang tidak tergenggam oleh kedua tangannya, lalu Tya mulai menjilati kepala kontol itu. Dengan lidahnya terjulur, ia mulai bermain di lubang kencing Evan, sementara kedua tangannya meremas-remas lembut bagian batangnya. Akibatnya tubuh Evan jadi semakin bergetar, lenguhannya kembali terdengar, kepalanya terdongak, matanya terpejam menikmati jilatan-jilatan lidah Tya serta remasan-remasan tangan gadis itu di batang kontolnya.

“Oohh… Mbak, terus… enak jilatannya…” lenguh Evan. “Enak juga dientot mulut Mbak… Ohhh…” desah Evan yang mulai berani berkata vulgar.

Tya mulai mengulum kontol Evan, mulutnya bergerak maju mundur di kontol Evan, tangan kanannya tetap meremas-remas sebagian kontol Evan sementara tangan kirinya mempermainkan biji pelernya. Evan semakin melenguh mendapatkan perlakuan ini, kedua tangannya memegang kepala Tya, reflek dengan perlahan ia memaju mundurkan kepala gadis itu untuk mengimbangi gerakan maju mundur mulut Tya di batang kontolnya.

“Oohh... arghh… Mbak, enak betul kulumannya, Mbak…” Evan mendesah. “Terus, Mbak… terus… kulum kontol Evan… Oohhh…” Evan kembali mendesah. Kepalanya terdongak, mulutnya setengah terbuka dan matanya terpejam menikmati permainan mulut Tya serta kedua tangan gadis itu di batang penis dan biji pelernya, tubuhnya semakin bergetar.

Tya tidak mau Evan puas dengan mulutnya, ia ingin Evan mencapai puncak kenikmatan dengan memeknya. Maka dia pun menghentikan kulumannya, dan dengan keahliannya ia memijat kuat-kuat daerah antara anus dan kemaluan Evan sehingga kontol Evan yang hampir menyemburkan pejuhnya mendadak berhenti. Evan tidak jadi menumpahkan spermanya.

Setelah beberapa saat, Tya kemudian berdiri dan berjalan ke arah meja rias yang tidak jauh dari tempat tidurnya. Sambil berpegangan pada tepian meja, ia menunggingkan pantatnya. “Hhm… Ayo, Van, puaskan aku lagi. Entot aku  dengan kontol besarmu itu, Oooh… bawa aku ke puncak kenikmatan lagi, Van!” Tya merengek sambil tangannya mengusap-usap belahan memeknya yang sudah sangat basah oleh cairan lendir birahi. Dia  memandang Evan melalui cermin yang ada dihadapannya.

Evan bangkit menghampiri gadis itu. Matanya nanar menatap bongkahan pantat Tya yang mulus dan bahenol. Disela-sela pantat itu, lubang memek Tya tampak mengintip malu-malu.

“Masukkan kontolmu yang besar dan keras itu, Sayang,” Tya mendesah, suaranya terdengar manja dan penuh nafsu birahi. Dengan tidak sabar ia menantikan kontol Evan yang besar agar segera menyodok lubang vaginanya, “Ayo, Sayang, berikan aku kepuasan, berikan aku kontolmu yang panjang dan besar itu,” rintih Tya.

Evan mulai memposisikan tubuhnya di belakang Tya. Diaturnya pantat gadis itu sedemikian rupa sehingga posisi lubang memek Tya sejajar dengan kontolnya.

Tya meraih batang penis Evan dan mengarahkannya tepat ke  depan lubang memeknya. “Masukkan, Van, jangan ragu-ragu.” katanya memerintah.

Evan menekan kontolnya sesuai posisi yang diarahkan oleh Tya.

“Yah, tekan begitu, Vann! Terus!!” teriak Tya ketika ujung kontol Evan terasa menyentuh celah bibir memeknya.

Evan terus menekan pantatnya hingga batang kontolnya mulai membelah bibir memek Tya. Sleepp… Kepala kontolnya terjepit di lubang memek Tya yang sempit dan mungil.

Tya yang merasakan lesakan kontol Evan di lubang memeknya tersentak kaget. Terasa ada yang mengganjal di lubang memeknya. Perlahan tapi pasti Evan terus menusukkan batang penisnya hingga makin menyeruak membelah lubang memek Tya yang masih sempit, yang sudah lama tidak pernah dikunjungi oleh batang kontol lelaki. Sedikit demi sedikit kontolnya mulai terbenam dalam lubang itu, bleeessss…

“Pelan-pelan, Van. Jangan terlalu nafsu nyodoknya, memekku sakit! Kontolmu kegedean sih. Rasanya punyaku penuh terisi sama kontolmu...” kata Tya ketika Evan mulai menusukkan kontolnya lebih dalam lagi.

Lalu bleess! Dengan sekali hentak, Evan mendorong masuk semua batang kontolnya sehingga terbenam seluruhnya di dalam lubang sempit Tya. “Arghhh… memek Mbak sempit banget,” Evan mengerang keenakan merasakan jepitan ketat memek Tya.

“Aduh... oghh... Nakal kamu, Van... aah… hmm… aaghh… Van!” Tya menjerit lalu mengerang antara sakit dan nikmat merasakan kontol Evan yang memenuhi rongga memeknya.

Evan merasakan nikmatnya cengkeraman lubang memek Tya yang ketat. Dalam posisi menungging, lubang itu terasa lebih sempit sehingga jepitannya terasa lebih kuat. Tya mulai merasakan enak akibat memeknya dipenuhi oleh kontol Evan.

Evan sendiri mulai merasakan memek Tya berdenyut-denyut pelan, seolah meremas-remas kontolnya dengan lembut. Dengan tidak menunggu lebih lama lagi, dia mulai menggerakkan kontolnya keluar masuk di lubang memek Tya, Sssrt… Bleees… Ssrrt… Bleeees… Sssrrt… Bleees…

“Oughh… enak, Van… aghh… sssh… Van, enak banget kontolmu… ughh... enak, Van… aah… genjot terus memekku, Van… aaahh…” Tya mendesah keenakan dengan tubuh menggelinjang hebat. Payudaranya yang besar tampak bergoyang-goyang indah akibat gerakannya.

“Ssshh... ughh… memek Mbak juga enak, sempit banget!” Evan ikut mengerang penuh kenikmatan, tak mau kalah.

“Oooh… Van… terus genjot memekku… yang cepat, Van... yang kuat… auw! Terus, Van… yah, begitu… makin cepat, Van… aghh… aku mau keluar… oohh... enaknya!” Tya mengerang sejadi-jadinya merasakan nikmatnya digenjot oleh Evan dari belakang.

Mendengar erangan Tya, Evan semakin mempercepat keluar masuk kontolnya di dalam lubang sempit gadis itu. Saat ia merasakan kedutan kuat di batang kontolnya akibat kontraksi dinding-dinding vagina Tya, Evan pun segera  menekan kontolnya kuat-kuat, dan... Ssrrrrrrr… Sssrrrrr… Sssrrrrrrr… Tya  akhirnya menyemburkan lahar kenikmatannya untuk yang kedua kalinya.

“Ooouugghhh… Van, enakk… nikmaat… hhmm...” Tya  mengerang keenakan saat memeknya terus menyemburkan cairan kenikmatannya.

Evan mendiamkan sejenak kontolnya di dalam lubang sempit itu untuk memberi kesempatan kepada Tya menikmati puncak orgasme yang telah diraihnya. Terlihat nafas gadis itu masih memburu, matanya terpejam, tapi di mulutnya tersungging senyuman penuh kepuasan. Untuk kedua kalinya Tya merasakan kenikmatan bersetubuh dan untuk kedua kalinya pula ia mencapai puncak kenikmatannya.

Setelah nafasnya sedikit mereda, pelan-pelan Evan mulai kembali memaju mundurkan kontolnya di lubang memek sempit Tya. Tya kembali melenguh merasakan gesekan batang kontol Evan di dinding rahimnya, mukanya semakin memerah saat kedua tangan Evan kembali menggerayangi kedua bulatan susunya, kemudian meremas-remasnya dengan gemas sambil tetap menggenjot kontolnya keluar masuk dengan perlahan. Erangan Tya pun kembali terdengar, nafsu birahinya perlahan mulai menyala kembali.

Irama genjotan Evan yang pelan tapi teratur membuat Tya merem-melek keenakan. Sensasi gesekan kontol Evan di dinding memeknya membuat lenguhan dan desahan Tya kerap terdengar keluar dari mulutnya. Apalagi remasan tangan Evan dan pilinan jemarinya yang bermain di kedua puting susunya, makin membuat Tya merintih karena merasakan kenikmatan yang amat sangat.

“Ohh… Van, aaghh… Van, enak, Van… kontolmu enak sekali... terus, Van, genjot memekku… aaaghh… hhhm… aghh...” desah Tya tiada henti.

“Enak, Mbak, oghh… memek Mbak juga enak…” Evan ikut mengerang keenakan merasakan jepitan memek Tya di batang kontolnya. Ia semakin gencar menggenjot tubuh mulus Tya, kontolnya keluar masuk semakin cepat di lubang memek gadis itu, semakin lama gerakannya menjadi bertambah cepat.

Tya yang menerimanya jadi tambah melenguh, tapi sama sekali tidak menolak. Yang ada malah desahan dan erangannya menjadi semakin menjadi, cairan pelicin semakin banyak mengalir dari lubang vaginanya, benda itu menjadi semakin basah dan licin, suara kecipak merdu terdengar mengiringi beradunya kedua alat kelamin mereka. Suara ini makin menambah gairah birahi mereka berdua, membuat nafsu keduanya semakin membara seiring dengan semakin kerasnya suara itu.

“Oughhh… Van... Enak banget… terus genjot… terus… yaah… ahh... kontolmu betul-betul enak… terus, Van, terus… Genjot terus… ohh… oooh…” Tya merintih-rintih keenakan.

Sambil satu tangannya meremas-remas kedua susu Tya secara bergantian dan satu tangannya lagi memilin-milin itil Tya, genjotan Evan pun semakin bertambah cepat. Sementara itu tangan kanan Tya pun mulai mengelus-elus biji peler Evan. Elusan dan remasan di biji pelernya membuat Evan makin keenakan dan makin kencang memaju mundurkan kontolnya.

“Hhm… enak, Mbak… enak banget memek Mbak… seret… rapet… dan sempit… oughh... hhmm…” Evan berbisik lirih di telinga Tya.

“Ohh… Van… ohh… percepat genjotanmu, Van… arghh... Mbak mau keluar lagi… iya, Van!” rintih Tya yang merasakan puncak kenikmatan yang akan ia raih kembali untuk yang ketiga kalinya.

Evan tersenyum mendengar jeritan gadis itu, hatinya membatin, jangan-jangan ini pengaruh obat yang dia minum tadi yang membuat staminanya terus-terusan prima. Untuk ketiga kalinya, ia kembali berhasil mengantar Tya meraih puncak kenikmatannya.

“Hhm… aghh… keluarin, Mbak, keluarin… enak, Mbak… kontolku enak… ini, terima kontolku… aghh!” kata Evan sambil mempercepat genjotannya.

“Iyah, Van… iyah… kontolmu enak banget… oughh.. Van, Mbak nggak kuat lagi… arghh… Van, Mbak keluar, Van!” Tya menjerit keenakan dan, Sssrrr… Sssrrr… Sssrrr… memeknya memuntahkan lahar kenikmatan untuk yang ketiga kalinya. Lubang itu terasa semakin basah oleh cairan kenikmatan.

Nafas Tya memburu menikmati puncak pendakian yang berhasil ia raih, dadanya naik turun seirama dengan tarikan nafasnya, kedua susunya bergoncang dengan perlahan mengikuti irama naik turun dadanya. Evan mendiamkan kontolnya terbenam di lubang memek gadis itu untuk memberikan kesempatan kepada Tya menikmati sensasi orgasmenya.

Kemudian Tya berusaha berdiri dari posisi menunggingnya sehingga kontol Evan terlepas dari jepitan memeknya, Plooop! Bunyi saat tautan alat kelamin mereka terlepas. Tya melihat kontol Evan bergoyang-goyang indah di hadapannya. Ia segera mendorong tubuh Evan agar telentang di atas tempat tidur, kemudian ia merangkak menaikinya perlahan-lahan.

Tya mulai menggesek-gesekkan batang kontol Evan ke belahan memeknya, dengan tidak sabar ia mengarahkannya ke lubang vaginanya. Sleeepp! kontol Evan langsung terjepit di bibir liang vaginanya, dan... Bleess! kontol itu mulai menyeruak masuk saat Tya mulai mendorong pantatnya ke bawah, lalu... Bleeessss! kontol Evan akhirnya terbenam seluruhnya di lubang vaginanya setelah dengan sekali hentakan kuat, Tya menekan pantatnya kuat-kuat ke bawah.

“Aaghh… Vann, masuk semua kontolmu… ughhh... sudah lama aku tidak merasakan kontol yang sebesar ini… oghhh!” Tya melenguh merasakan kontol Evan yang terbenam kuat di lubang memeknya.

“Mbak, aghhh… punya Mbak masih sempit… ahh… enak banget, Mbak... enak!” Evan Joni pun mengerang keenakan merasakan sempitnya lubang memek Tya.

Tanpa menunggu lama, Tya mulai menggerakkan pantatnya maju mundur sehingga kontol Evan bergerak keluar masuk dengan sendirinya. Sementara menggoyang pantat, bibirnya dengan penuh nafsu memagut bibir Evan, tubuh keduanya seolah menyatu.

Tya yang sudah berpuasa selama satu tahun lebih tidak merasakan kontol lelaki, tampak semakin liar beraksi di atas tubuh Evan. Goyangan pantatnya betul-betuk hebat, kadang pantatnya maju-mundur, kadang ia putar-putar, juga sesekali dihentak-hentak cepat. Tya merasakan kontol Evan yang menancap dalam di relung liang vaginanya seperti sedang mengebor memeknya saat ia memutar-mutar pantatnya.

“Ohhh… enak, Van... enaknya kontolmu… ahhh… hhmm… aaghh... kamu enak juga kan, Van... enak kan memekku… aaahhh!” Tya merintih keenakan.

“Aghh… Mbak, nikmat sekali… memek Mbak betul-betul legit… ooohhh…  terus, Mbak... goyang terus… ohhh… putar, Mbak, putar!” Evan mengerang merasakan kontolnya yang sedang keluar masuk di memek sempit Tya, ia merasakan kontolnya seperti dipilin-pilin saat Tya memutar pantatnya. Evan melihat kedua susu Tya bergoyang-goyang indah seiring dengan maju mundurnya pantat gadis itu. Tidak ingin menyia-nyiakan, Evan segera meraih dan meremas-remasnya gemas. Tidak hanya tangannya yang beraksi, tapi mulutnya juga. Silih berganti ia jilat dan hisap-hisap kedua pentil Tya yang terasa semakin mengeras dan memerah.

“Aghh… Van, hisap terus… yah begitu… oohhh… terus hisap, Van… ohhh…” Tya mendesah keenakan menikmati serangan Evan. Gerakan maju mundurnya semakin bertambah cepat, dia mengangkat pantatnya sedikit agar kontol Evan bisa semakin gencar menyodok-nyodok liang kelaminnya. Gerakan Tya mulai tidak beraturan, tubuhnya kadang-kadang mengejang, nampaknya dia hampir mencapai puncak kenikmatan untuk yang kelima kalinya.

“Aaagghh… Van, enak sekali, Van... oughh… aku mau keluar lagi, ahh… kontolmu memang benar-benar nikmat,” Tya mengerang.

“Ooghh… sshh… aahh… hhhm… iya, Mbak… aku juga mau keluar... arghhh… Mbak!” lenguh Evan tak mau kalah.

“Iya... barengan yuk, Van... oughhh… aarrgghhhh!” Tya pun berteriak kencang, sementara kontol Evan semakin cepat keluar masuk di lubang vaginanya seiring dengan semakin cepatnya gerakan naik turun pantat gadis itu. Tangan Evan juga semakin kuat meremas kedua bongkahan payudaranya.

Dan... dengan hentakan kuat, Evan menekan kontolnya dalam-dalam di lubang memek Tya, sementara kedua tangannya meremas dengan kuat sambil menekan ke bawah pantat bulat gadis itu. Tubuh Evan mengejang,  bersamaan dengan tubuh Tya yang bergetar hebat, memek gadis itu berkedut sangat kuat.

”Croott… sssrrr… crooot… sssrrr… crooott… sssrrr… crooot...”

Batang kontol Evan menyemburkan pejuhnya berbarengan dengan memek Tya yang menyemprotkan cairan kenikmatannya. Tya merasakan hangat pada dinding memeknya akibat siraman pejuh Evan, sementara Evan merasakan kontolnya menjadi basah akibat disiram oleh cairan kenikmatan Tya. Evan juga merasakan dinding memek Tya meremas-remas kuat batang penisnya, sementara Tya merasakan kontol Evan terus berkedut-kedut kuat seiring semburan spermanya.

Nafas mereka berdua terengah-engah, kedua tubuh mereka seolah menyatu, keringat mereka membanjiri seprai tempat tidur Tya. Senyum kepuasan tersungging di bibir kedua orang ini, mereka berdua betul-betul merasa puas dengan permainan seks hari ini, keduanya terkapar kelelahan kehabisan tenaga.

Setelah nafas mereka kembali teratur, sambil masih berpelukan, Tya berbisik lirih di telinga Evan, "Kamu betul-betul hebat, Van." pujinya jujur.

“Mbak juga hebat... selama hidup, Evan tidak akan melupakan peristiwa ini.” balas Evan.

“Betul?” tanya Tya.

“Sungguh!” jawab Evan yang kemudian dengan lembut mengecup kening Tya.

“Mulai sekarang kamu jangan panggil Mbak ya? Panggil saja Tya... toh usia kita nggak terpaut jauh, malah lebih tua kamu kayaknya.” pinta Tya. “Usia kamu berapa, Van” lanjut Tya bertanya pada Evan.

“Tigapuluh,” sahut Evan.

“Tuh kan bener, lebih tua kamu 5 tahun.” kata Tya. “Van, aku ingin malam ini kamu temanin aku ya?” Tya meminta agar Evan malam ini tidur di rumahnya. “Gimana, Van, kamu mau kan?” tanya Tya.

“Maaf, Tya... kalau malam ini aku tidak bisa. Aku harus menyelesaikan revisi tugas akhirku agar besok bisa kukonsultasikan dengan dosen pembimbing.” jelas Evan memberikan alasan. Tadi siang dia sudah janji dengan dosen pembimbingnya untuk berkonsultasi esok hari. “Kalau tidak ada tugas itu sih dengan senang hati Evan pasti mau menemani Tya. Siapa sih yang nggak mau tidur ditemani bidadari yang cantik kayak kamu?” goda Evan pada Tya sambil memijit lembut ujung hidung gadis itu. “Di lain waktu pasti aku akan tidur disini, atau kalau perlu aku pindah kos kesini, biar setiap saat kita bisa mengulang kenikmatan seperti ini.” sambung Evan.

“Huuh... maunya tuh! Nggak ah, enak aja, memangnya Tya nggak kerja apa!?” balas Tya sambil mencubit pinggang Evan. ”Sori ya, Van, aku nggak dapat ngantar ke tempat kos kamu? Aku capek banget habis dihajar sama kamu.” kata Tya malu-malu.

“Tapi enak kan dihajar sama aku?” goda Evan, makin membuat muka Tya memerah. ”Sudah, kamu istirahat aja, biar aku pulang naik angkot saja. Lagian aku sudah biasa naik angkot kok,” jawab Evan. Dia kemudian bangkit dari tidurnya dan meninggalkan tubuh telanjang Tya yang masih tergolek lemas di atas ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah mengenakan pakaiannya kembali, Evan bersiap-siap untuk pulang ke tempat kosnya.

Begitu mengetahui Evan berpamitan hendak pergi, Tya mencegahnya, “Tunggu sebentar, Van!” tahan gadis itu. Dalam keadaan masih telanjang bulat, dia berjalan ke arah lemari pakaian miliknya dan sebentar kemudian berbalik menghampiri Evan dengan membawa amplop tebal berisi uang dan menyerahkannya kepada Evan.

“Ambil ini, Van,” kata Tya.

“Apaan ini, Tya?” tanya Evan sambil tangannya gemetar menerima amplop tersebut.

“Itu uang... jangan kamu tolak, ini bukan berarti aku membelimu. Aku hanya mau berterima kasih karena hari ini aku merasakan suatu kenikmatan yang telah lama hilang dari hidupku. Aku benar-benar merasa bahagia hari ini. Aku mohon kamu mau merimanya, mungkin kamu akan membutuhkannya suatu saat nanti. Jumlahnya tidak seberapa. Semua itu tidak sebanding dengan kebahagian yang telah kamu berikan padaku. Jika kamu masih membutuhkannya lagi bilang saja padaku, jangan malu-malu.” jawab Tya.

“Terima kasih, Tya.” balas Evan sambil memeluk tubuh telanjang gadis itu, ia kecup lembut bibir Tya yang tipis.

“Sering-sering tengokin Tya ya, Van? Kapan saja setiap saat kamu boleh datang kesini.” kata Tya.

“Pasti, Tya... aku pasti akan kangen dengan ini dan ini,” jawab Evan sambil tangannya mencolek memek dan susu Tya.

Tya hanya tertawa menerimanya.

Dengan tubuh agak lemas, Evan berjalan meninggalkan rumah Tya. Karena sekarang dia memiliki uang, jadi Evan memanggil taxi untuk mengantarkannya kembali ke tempat kos. Di dalam taxi, ia membuka amplop pemberian Tya. Di dalam amplop itu ada lembaran seratus ribuan sebanyak tigapuluh lembar yang berarti isi amplop itu adalah 3juta rupiah. Wajah Evan bersinar cerah melihat uang tersebut.

Sesampainya di tempat kos, walau badan terasa capek, Evan tetap bersemangat menyelesaikan tugas-tugas dari dosen pembimbingnya. Terbayang di kepalanya kenikmatan dan kepuasan yang akan ia dapatkan dari Tya, si gadis cantik dan seksi, di hari-hari mendatang.
loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kisah Petualangan Evan 1 : Kenikmatan Pertama"

Post a Comment