Kegilaan dengan mamaku

Part 1. Aku, anak yang nakal.

Namaku Dio, umurku saat ini 16 tahun dan telah duduk dikelas 1 SMA. Aku seorang laki-laki yang biasa-biasa saja dan tidak terlalu populer dikalangan para gadis. Aku mempunyai nafsu seks yang cukup tinggi tapi tentunya hanya bisa aku tuntaskan dengan onani sambil menonton film dewasa, menyedihkan. Aku anak pertama dari keluargaku, adekku Sonya baru saja lahir 5 bulan yang lalu dan masih dalam tahap pemberian asi yang rutin oleh ibuku. Kadang setiap ada kesempatan, aku dapat melihat payudara ibuku yang sedang asik menyusui adikku yang masih bayi. Ibuku bernama Risa masih berumur 33 tahun karena ibuku menikah muda waktu umurnya masih 17 tahun, sedangkan ayahku saat ini berusia 41 tahun berbeda 8 tahun dari ibuku dan sedang sibuk-sibuknya dengan proyeknya sehingga kadang pulang larut malam atau bahkan tidak pulang karena ada kerjaan di luar kota. Awalnya tidak ada perasaan apapun melihat ibuku yang sedang menyusui, namun sejak aku menonton film ataupun cerita porno tentang hubungan sedarah ibu dan anak, aku mulai tertarik memperhatikan payudara ibuku yang putih mengkal penuh susu tersebut. Bahkan kadang aku mulai berani beronani sambil membayangkan tubuh dan payudara ibuku.

Hari demi hari nafsuku semakin tinggi saja, intensitas onaniku semakin sering dan tentunya yang menjadi target onaniku adalah ibu kandungku sendiri. Setiap ibu menyusui adikku, aku selalu berusaha mencari kesempatan supaya mendapatkan posisi yang pas melihat ibuku yang sedang menyusui, baik ketika sedang menonton tv atau saat dikamarnya. Awalnya tidak ada kecurigaan apapun terhadapku tapi lama kelamaan ibu mulai risih juga dengan kehadiranku setiap menyusui adikku.

“Sayang.. kenapa sih liatin mama terus?” katanya padaku sambil matanya melihat kearahku yang sedang asik memperhatikan payudaranya.

“Eh, eh… gak ada apa-apa kok mah..” kataku gagap.
“Beneran? Tapi kok liatin mama terus sih? Cemburu ya sama adikmu?” kata mama menggodaku. “Kalau kamu mau susu bikin aja tuh di dapur, masih ada kok susu Prenag*n mama dulu” katanya menggoda lagi.

“ahh.. mama becanda nih, masa Dio disuruh minum susu ibu hamil sih ma” kataku pura-pura ngambek, mamaku tertawa karenanya sehingga dadanya berguncang bahkan terlepas dari kuluman adikku sehingga memperlihatkan putingnya yang coklat menggoda.
“Hihi, kamu sih, lagian kamu ngapain sih liatin mama nyusuin adekmu?” tanya mamaku lagi.

“Gak ada apa-apa kok mah” jawabku yang masih agak takut ketahuan sedang horny ngebayangin mamaku.

“Hmmm.. iya deh.. kalau mau liat, liat aja.. tapi inget yah.. liatnya gak pakai nafsu, masa liat mama sendiri nafsu juga” ujar mamaku yang akhirnya membiarkan saja aku memperhatikan payudaranya yang sedang menyusui. Aku tentu saja senang bukan main mendengarnya dan tidak menyiakan kesempatan untuk melihat mamaku menyusui adikku tanpa perlu takut ditegur mamaku lagi. Aktifitas itu tidak berlangsung terlalu lama, adikku akhirnya tertidur setelah kenyang minum asi.



“Udah ya sayang.. adikmu udah tidur nih” kata mamaku sambil memasang kembali branya dan menutupnya dengan kemeja. Aku cukup kecewa karenanya, tapi mamaku cuek saja dan bangkit dari duduknya, sepertinya ingin mengantarkan adikku ke ranjang bawa di kamarnya. Aku iseng mengikutinya ke kamar, setelah masuk ke kamar dan meletakkan adek bayi mamaku heran melihat aku juga masuk ke kamar.

“sayang? Ada apa?” tanya mamaku. Aku berusaha tidak memandang matanya karena grogi, akhirnya aku memandang ke arah ranjang bayi.
“Gak ada kok mah, Cuma mau liat adik aja. Sonya cantik yah ma, imut-imut” kataku mengalihkan perhatian.

“Iya donk, mamanya kan juga cantik, iyakan sayang?” kata mamaku bercanda menggodaku.

“Hehe, iya mah, mama yang paling cantik di rumah ini” kataku membalas godaannya, mamaku tertawa kecil, sungguh tertawa yang renyah dan menyenangkan mendengarnya. Payudaranya sekali lagi ku liat naik turun karena tertawa, mamaku menyadari bahwa aku sedang memperhatikan payudaranya lagi.

“Kamu ini.. emang gak puas tadi liat susu mama?” katanya tenang namun masih dengan senyum manis menghiasi wajahnya. Sebuah senyum yang membuat hatiku berdebar apalagi mendengar kata-kata mamaku barusan.

“Eh… aaa.. a..anuu” kataku gelagapan.
“Dasar, mama tahu kok usia seperti kamu saat ini sedang panas-panasnya, tapi masa sama mama kamu sendiri nafsu juga, nakal yah..” kata mamaku.
“Kalau kamu horny banget, tuh nonton lagi sana bokepmu itu, mama tahu kok kamu sering nonton bokep di kamarmu” Dugh! Aku terkejut bukan main, ternyata mama mengetahui aktifitasku yang satu itu.

“Dan juga kalau onani di kamar mandi disiram dong sayang, masa dibiarkan gitu aja belepotan di dinding sama di lantai, kamu kelupaan yah nyiramnya? mama deh yang repot membersihkannya.. jorok tahu.” sambung mamaku lagi yang semakin membuat aku terkejut. Aku sadar kalau kadang aku lupa membersihkan sperma yang belepotan, aduh… malu bukan main ketahuan gini.

“eh.. eh.. iya ma.. sorry mah. Tapi gak apa-apa kan mah kalau Dio onani dan nonton bokep?” tanyaku pada mama tapi dengan agak malu dan takut.
“iya-iya.. normal kok untuk laki-laki seusiamu, tapi jangan keseringan” kata mamaku mengiayakan. Akhirnya sejak saat aku tidak perlu diam-diam lagi onani atau nonton bokep, bahkan pintu kamarku ku buka saja.

--

“Sayang.. makan malam…” kata mamaku di depan pintu kamarku. Aku cukup terkejut karenanya karena sedang asik nonton bokep sambil mengelus barangku.
“Ayoooo… lagi ngapain? Nonton bokep yah?” tanya mamaku menggoda.
“Eh, i-iya mah” jawabku gagap.

“ayo makan dulu, nanti sambung lagi.. “ kata mamaku lagi. Aku segera berusaha bangkit sambil mengeluarkan tanganku dari dalam celanaku.
“Emang nonton apaan sayang? Bagus ceritanya?” goda mamaku sambil tertawa.
“Eh.. iya mah, tentang ibu dan anak mah, panas banget tadi mah, mereka gituan mulu setiap hari mah di rumah, hehe”kataku terus terang pada mamaku walaupun agak malu menceritakannya.

“Ckckc.. kamu suka cerita begituan? Ya udah ayo makan dulu” ajak mamaku lagi. Kamipun makan malam berdua saja karena papa belum pulang dan adikku sudah tidur. Setelah makan malam kami habiskan waktu menonton tv. Mama saat itu hanya mengenakan baju tidur dengan kemeja dan celana panjang. Namun tonjolan payudaranya yang besar tidak mampu disembunyikan dari balik kemejanya sehingga membangkitkan nafsuku. Lagi-lagi mamaku mengetahui aku yang sedang memperhatikan payudaranya.

“Ckckck, kamu ini.. “ katanya namun membiarkan saja aku dan mataku yang asik melihat ke arah dadanya.
“Napa sayang? Mau liat lagi?” goda mamaku. Walaupun aku sudah sering melihatnya apalagi semenjak diperbolehkan melihat terang-terangan namun aku tidak pernah puas dan selalu ketagihan.

“Iya mah, boleh? Hehe” jawabku semangat.
“Iya-iya.. sini deh, dasar anak mama satu ini nakal sama mamanya” kata mamaku. Mamaku mulai membuka kancing bajunya, dimulai dari yang paling atas, lalu kancing kedua.

“Cepetan mah..” pintaku gak sabaran dengan dada yang semakin berdebar, mamaku hanya tersenyum manis saja kepadaku. Baru kali ini mama membuka bajunya yang hanya ada aku di depannya, biasanya harus ada adik bayi dahulu supaya aku dapat melihatnya. Mamapun membuka kancingnya yang ketiga dan menyisakan kancing ke empat yang masih melekat. Aku kini dapat melihat bra warna hitamnya yang tampak kontras dengan kulit payudaranya yang putih mulus dengan urat-urat biru disekitarnya. Mamaku mulai membuka branya yang mempunyai kait di depan supaya mempermudahnya menyusui adikku. Akhirnya kedua payudara mama yang mengkal padat berisi terpampang bebas di hadapan anak laki-laki sulungnya tanpa ada kepala bayi lagi menghalangi, membuat penisku langsung tegang di balik celanaku.

“Ma, kancing bajunya dibuka semua dong..” pintaku lagi.
“Iya-iya, dasar kamu abg mesum” setuju mamaku. Akhirnya mama membuka seluruh kancing kemejanya sehingga kini kemejanya menggantung di tubuhnya memperlihatkan belahan payudara hingga pusarnya untuk bebas aku nikmati.

“Udah? Puas? Dasar kamu.. terus mau ngapain lagi?” tanya mamaku menggoda sambil tersenyum. Aku yang tidak tahan segera memasukkan tanganku ke dalam celanaku dan mengelus-ngelus penisku, mamaku hanya tersenyum melihat tingkahku dan membiarkanku menikmati pemandangan yang ada di depan mataku.

“Ma.. boleh Dio peluk mama?” pintaku kali ini.
“Ya boleh dong.. masa anak sendiri gak boleh meluk mamanya…” jawab mamaku. Aku senang sekali, aku segera mendekatinya dan merangkul tanganku memeluk tubuh mamaku dari depan sehingga payudaranya yang padat tanpa halangan berhimpitan dengan dadaku. Nikmat sekali rasanya merasakan himpitan payudara mamaku yang menekan dadaku. Aku memeluknya sambil membelai punggung dan rambutnya begitu juga mamaku. Cukup lama kami berpelukan seperti itu, hingga aku melepaskan pelukanku. Mamaku tersenyum kepadaku sambil melepaskan pula pelukanku.

“Kenapa sayang? Berdebar gitu dadanya? Hihi” tanya mamaku menggoda.
“hehe, iya mah.. gimana gak berdebar mah, pemandangannya enak gini, terus susu mama tadi nekan-nekan dada Dio lagi.” Jawabku cengengesan.
“Ma, boleh gak Dio lepasin baju sama celana Dio juga?” Pintaku.

“mau apa sih kamu emangnya? Iya deh, buka aja.. sekalian aja dengan celana dalammu, bebasin aja tuh burungmu.. tegang gitu, nafsu ya?” jawab mamaku. Aku yang senang mendangar jawaban mamaku segera berdiri dan membuka baju dan celanaku menyisakan celana dalamku.

“Itu kolornya mau mama yang bukain?” tawar mamaku.
“hehe, boleh mah..” kataku sambil memajukan pinggulku ke arah mamaku. Dia segera menyeipkan jari lentiknya di sela celana dalamku dan menariknya perlahan ke bawah, memperlihatkan penisku yang telah mengacung tegak dihadapannya.

“wah.. udah tegang yah penisnya, gitu amat nafsunya ke ibu kandung kamu sendiri..” ujarnya menggoda. Aku cengengesan sendiri.
“Mau nyusu lagi gak seperti waktu kamu kecil dulu?” goda mamaku.
“Eh.. eh, mau mah..mau banget.. hehe” tentu saja aku mau, itu adalah sesuatu yang aku impi-impikan .

“Ya udah sini dekat-dekat ke mama” ajak mamaku. Aku mendekatinya dan duduk di sampingnya sambil bertelanjang bulat sedangkan mamaku hanya mengenakan celana panjang dengan kemeja yang terbuka didepannya, memperlihatkan kedua bukit payudaranya yang montok berisi penuh susu. Aku dekatkan wajahku ke pucuk payudaranya dan menempelkan bibirku ke putingnya. Aku mulai mengulum putingnya dan mengenyotnya sehingga air susunya yang hangat mulai keluar dan masuk dengan nikmat ke kerongkonganku.

“Dasar kamu, udah gede masih nyusu ke mamanya. Tuh lihat burung kamu negang gitu” ujar mamaku, aku hanya senyum-senyum saja mendengarnya sambil masih asik mengenyot susu mama. Tiba-tiba terdengar suara pagar digeser, papaku pulang. Dengan segera aku melepaskan kulumanku dan memungut pakaianku yang berserakan di lantai dan berlari ke kamarku. Mamaku juga segera memakai bra nya dan memasang kembali kemejanya. Sial… nanggung banget, gerutuku. Aku dapat mendengar percakapan mereka samar0samar dari kamarku.

“Udah pulang pa?”
“nggak, baru pergi.. ya iyalah baru pulang” kata papaku tertawa diikuti mamaku. Tapi.. duh gawat, celana dalamku tertinggal di sana. Aku panik.

Part 2. Risa, mamaku yang cantik.

“Dasar kamu, udah gede masih nyusu ke mamanya. Tuh lihat burung kamu negang gitu” Ujarku menggoda anakku yang nakal ini. Dia masih dengan enaknya menyusu ke mamanya dengan penis yang tegang dan menempel di celana tidurku. Tiba-tiba terdengar suara pagar digeser, suamiku pulang. Dengan segera Dio melepaskan kulumannya dan memungut pakaiannya yang berserakan di lantai dan berlari ke kamarnya. Aku juga segera memakai bra dan memasang kembali kancing kemejaku.

“Udah pulang pa?” tanyaku cukup panik.
“nggak, baru pergi.. ya iyalah baru pulang” katanya tertawa diikuti tawaku. Tunggu.. apa itu, celana dalamnya Dio, gawat.. udah barusan mesumin mamanya terus celana dalamnya pake ketinggalan lagi.
“Gimana di rumah? Baik-baik aja kan?” katanya menuju tempat aku dan Dio melakukan kemesuman barusan.

“iya pa, baik-baik aja kok” kataku tenang. Aku berusaha menutupi pandangan suamiku dari arah sofa dimana di bawahnya masih tergeletak mayat, maksudku celana dalam Dio.

“mandi dulu gih pa, bau tuh papanya seharian gak mandi. Mau dibuatin kopi?” anjurku padanya. Tentu saja supaya dia cepat beranjak dari sana sehingga aku bisa membereskan celana dalam itu. Dia mengiyakan dan segera beranjak ke kamar dan mandi. Aku segera memungut celana dalam anakku. Ku lihat bagian tengahnya agak basah tapi tidak lengket. Sepertinya dia memang susah horny dari tadi.

--

Aku ketuk pintu kamarnya, dia segera membukanya. Dia telah mengenakan baju dan celananya sendiri tapi aku tidak yakin dia pakai kolor.

“Nih celana dalam kamu ketinggalan, untung gak nampak sama papamu, lain kali hati-hati dong sayang, niiihh….” kataku sambil menyerahkan celana dalamnya.

“Iya mah, sorry buru-buru.” Jawabnya sekenanya.

“tapi tanggung nih, gak enak banget rasanya” sambungnya.

“ya gimana lagi dong sayang, papamu udah pulang tuh..” jawabku cuek.
“papa lagi mandi kan mah.. bisa tuh ma sebentar, ayo mah” katanya menarik tanganku masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu.

“ duh, aduh sayang.. iya-iya tapi pelan-pelan dong nariknya, sakit tangan mama” kataku pura-pura manja. Dia yang kayanya sudah tidak tahan apalagi tadi benar-benar tanggung baginya segera meloloskan pakaiannya memperlihatkan penisnya lagi dihadapan ibu kandungnya. Aku lagi-lagi terpana melihat ukuran penisnya yang cukup besar yang tidak kalah dari papanya.

“terus mama harus telanjang dada lagi nih di depan anak mama satu ini?” kataku menggodanya.
“iya dong mah, masa nggak.. kalau boleh sih gak cuma telanjang dada aja mah” ujarnya nakal.

“terus telanjang apa? ayooo.. kamu kepingin lihat mama telanjang di depanmu ya? Anak mama nakal yah…” kataku menggodanya lagi.

“lain kali yah sayang, kalau kelamaan entar ketahuan papamu” kataku, ku lihat wajahnya cukup kecewa tapi ya ku biarkan saja walau agak gak tega. Ku buka bra dan kancing kemejaku lagi, kali ini kololoskan seluruh kemeja dari tubuhku sehingga bagian atas tubuhku kini benar-benar polos di depan anak kandung laki-lakiku.

“mama cantik…” katanya terpesona melihat tubuh atasku, yang terpampang bebas dihadapan matanya untuk dia nikmati. Aku juga merasakan perasaan lain telanjang dada didepan anak kandung laki-lakiku sendiri apalagi suamiku ada dirumah dan kami bisa ketahuan kapanpun, hal ini membuat jantungku berdebar tidak karuan, ku rasa air susuku makin bertambah dan memenuhi payudaraku karena perasaan ini.

“ayo cepetan sayang” kataku padanya supaya mempercepat aktifitas mesum ini. Dia segera mendekatiku dan mengulum lagi payudaraku, air susuku kembali masuk ke mulutnya dengan derasnya. Tangannya yang satu lagi meremas payudaraku yang satunya sehingga air susuku menyemprot-nyemprot melumuri tangannya dan lantai kamarnya. Kami melakukan ini sambil berdiri. Di sela-sela aktifitas nakalnya ku lihat dilaptopnya menayangkan adegan porno, sepertinya sebelum ini dia yang merasa tanggung itu menuntaskan birahinya dengan menonton bokep.

Ku lihat air susuku mengalir disela mulutnya dan sampai kedagunya yang sudah ditumbuhi janggut tipis. Anakku benar-benar sudah besar sekarang. Kadang dia melepaskan kulumannya dan memainkan putingku dengan lidahnya, tidak hanya putingku, tapi seluruh permukaan kulit payudaraku juga mulai dijilatinya sehingga permukaan payudaraku basah dan tanpak mengkilap. Aku senyum-senyum saja, kubiarkan saja aktifitasnya mesumnya ini.

Tidak lama kemudian wajahnya mulai mengerut, sepertinya dia mau keluar.
“Keluarin aja sayang, tumpahin aja ke mamamu ini” ujarku padanya. Dia tidak menjawab dan semakin kencang mengulum dan menjilat payudara ibu kandungnya ini. “Crooot crooot… “ akhirnya spermanya keluar, karena posisi kami yang seperti itu spermanya jadi mengenai celana panjang piyamaku tepat di depan daerah kewanitaanku.

“udah sayang? Puaskan?” dia mengangguk. Akhirnya dia melepaskan kulumannya dan menarik diri menjauh dari sisiku. Aku segera mengenakan kembali bra dan kemejaku. Kulihat dia masih keenakan sambil duduk di ranjangnya. Aku segera keluar dari kamarnya.
“Besok lagi yah ma.. hehe” pintanya nakal.
“hmmm… liat aja deh besok, dasar kamu..” aku keluar dan menutup pintu kamarku dan segera menuju ke kamarku. Ku lihat suamiku telah selesai mandi. Karena tadi aku juga sempat horny karena kelakuanku dengan anakku aku mengajak suamiku melakukannya. Kami melakukan hubungan suami-istri yang panas malam itu hingga akhirnya kami tertidur (gak perlu diceritakan deh detailnya, soalnya biasa dan pembaca juga tahu apa yang terjadi).

Esok harinya aku bangun pagi seperti biasanya. Beres-beres rumah dan menyiapkan sarapan untuk suami dan anakku. Saat sedang sibuk memasak di dapur, sepasang tangan merangkul pinggangku, ku lihat ke belakang ternyata Dio anakku dengan tubuh telanjang hanya membawa handuk yang di kalungkan di lehernya.

“ sayang, apaan sih, bukannya mandi.. ntar kamu terlambat ke sekolahnya” kataku sambil berusaha melepas pelukan tangannya.

“bentar mah, abis bangun pagi ngaceng nih, apalagi liat mama gini.. mama lanjutin aja deh masaknya, Dio gak ganggu kok”jawabnya. Saat ini aku menggunakan daster dengan celemek untuk masak. Aku biarkan saja dia memelukku dari belakang sambil aku masih terus memasak. Lama-kelamaan dia mulai meraba payudaraku dari balik celemek dan dasterku, juga masih aku biarkan saja. Selanjutnya dia mulai menggoyangkan pinggulnya, menggesek-gesekkan penis tegangnya di belahan pantat ibu kandungnya ini yang masih tertutup kain.

“sayang, kamu mulai nakal yah.. masa gesek-gesikin itunya kamu ke mama sih” kataku tapi tidak berusaha melepaskan diriku darinya. Dianya ketawa-ketawa saja.
“itu apa mah? ngomong yang jelas dong mah” katanya pura-pura bodoh menggodaku.
“itu kamu.. burung kamu” kataku dengan agak sebal karenanya, hentakan penisnya makin keras dan kencang saja di belahan pantatku.

“itu bukan burung mah, tapi kontol mah.. coba mama bilang lagi” katanya kurang ajar mempermainkan mamanya.
“iya… kontol. Masa kontol kamu digesekin di pantat mama gitu sih sayang” kataku menuruti kemauannya.

“Digesekin gimana mah?” katanya pura-pura bodoh lagi, kali ini makin kencang saja gesekannya di belahan pantatku, bahkan menyelip di pahaku sehingga kain dasterku ikut terlipat di antara pahaku. Selanjutnya dia melepaskan pelukannya tapi kini malah meraih bokongku dan memegangnya, dia lanjutkan kembali aktifitas mesumnya terhadapku. Kini posisiku seperti sedang disetubuhi olehnya dari belakang.

“kainnya menghalangi aja nih mah” katanya. Aku diamkan saja perkataannya sambil dia masih asik dengan aktifitasnya.
“Ma, temenin Dio mandi dong mah.. udah lama nih gak rasain dimandiin mama” pintanya terhadapku. Sebenarnya itu adalah permintaan yang biasa dari seorang anak pada ibunya, namun tidak bila anaknya sudah sebesar ini, dengan bulu yang sudah tumbuh disekitar kemaluannya.

“kamu ini ada-ada aja, mandi sendiri sana.. lagian papamu bentar lagi bangun, udah sana mandi, terlambat nanti sekolahmu” jawabku menolak permintaanya.
“ yah.. mama, tapi nanti habis pulang sekolah Dio tagih ya ma, hehe” pintanya. Akhirnya dia masuk ke kamar mandi di samping dapur dan segera mandi. Dia sempat membuka pintu kamar mandi dan menunjukkan penisnya di hadapanku.

“Ma.. liat nih..” katanya sambil mengocok penisnya yang berlumuran busa sabun dihadapanku. Sungguh perbuatan yang cabul terhadap ibu kandungnya sendiri.
“kamu apa-apaan sih, tutup pintunya” suruhku padanya tapi tanpa menunjukkan kemarahan. Akhirnya dia menutup pintu dan melanjutkan mandinya.

Kami pagi itu serapan bersama seperti biasa, aku sarapan sambil menyusui bayiku dan Aku dan Dio duduk berhadap-hadapan, sehingga dia serapan sambil juga memandang payudaraku yang sedang menyusui adiknya. Suamiku sih menganggap biasa aku yang menyusui di hadapan Dio. Sedang asik-asiknya serapan kaki Dio mengelus-ngelus kakiku dari bawah meja sehingga perbuatannya ini tidak terlihat oleh suamiku. Aku hanya melototkan mataku kepadanya sebagai isyarat agar dia berheti, namun dia Cuma senyum-senyum kecil saja. Dasar anak nakal,kataku dalam hati. Dia lakukan kemesuman itu sampai kami selesai sarapan. Lalu diapun berangkat ke sekolah dengan motornya begitu juga suamiku yang juga berangkat kerja.

--

“Tok-tok” Terdengar suara ketukan pintu depan. “ma…. Dio pulang…” ternyata Dio anakku yang sudah pulang. Siang itu aku sedang mencuci baju, segera ku bangkit dan menuju pintu depan.
“Lama amat sih ma” sambil masuk dan melepaskan sepatunya.

“iya.. mama lagi nyuci dibelakang, tumben kamu cepat pulang biasanya keluyuran dulu?” tanyaku.

“kan mau nagih janji mandi bareng mama” jawabnya cengengesan.
“dasar kamu, emang ada mama janji? Hmm… yaudah letakkan tas kamu dulu ke kamar, mama tunggu di belakang.” Kataku sambil menuju kamar mandi belakang yang mana juga tempat mencuci, dia juga menuju kamarnya.
Setelah beberapa saat dia telah kembali dengan hanya mengenakan celana dalamnya. “dasar kamu.. udah gak tahan yah…?” godaku.

“Hehe.. iya nih ma” jawabnya. Aku segera mengajaknya masuk kedalam kamar mandi.
“ Masa udah gede gini masih dimandikan mamanya sih? Sini mama yang bukain kolor kamu” kataku tersenyum manis sambil membuka celana dalamnya dan menaruhnya ke tempat cucian. Penis tegangnya mencuat di hadapanku, ibu kandungnya .
“Mama harus ikutan mandi juga nih?” kataku menggoda padanya.

“Iya dong mah..” jawabnya penuh mesum.
“ dasar kamu.. mama sendiri dimesumin” kataku tersenyum menatap matanya.
“Mama sih.. cantik, seksi, terus gak nolak di mesumin anak kandungnya.. hehe” ujarnya kurang ajar padaku, aku hanya tersenyum saja mendengar jawabannya. Aku mulai membuka pakaianku dimulai dari kaos, kemudian celana, bra dan terakhir celana dalamku. Kini aku benar-benar bugil dihadapannya, dia menjadi orang kedua yang melihatku bugil setelah suamiku. Jantungku berdegup kencang, apa aku harus melakukan ini? Mandi bersama anak laki-lakiku yang sedang horny berat terhadap ibu kandungnya sendiri. Tapi sisi lain diriku ingin mencoba hal yang nakal seperti ini, menyadari hubungan kami ibu dan anak kandung makin membangkitkan gairahku menjadi meluap-luap, pastinya Dio anakku juga merasakan hal yang sama.

Dia mulai mendekati tubuhku yang telanjang didepannya. “Mama cantik banget” katanya mulai meraba payudaraku dan mengusap-ngusap punggung dan pinggangku.
“Aduh.. kamu ini mau mandi atau grepe-grepe mama sih sayang?” tanyaku tapi tidak berusaha menepis tangannya. Dia dekatkan mulutnya ke putingku, kembali air susuku yang sudah memenuhi payudaraku memenuhi mulutnya dan dengan nikmat masuk ke kerongkongannya. Air susuku dihisap habis-habisan olehnya.

“Hisap yang kiri juga dong sayang, masa yang kanan mulu” ujarku padanya. Diapun memindahkan kulumannya ke dada kiriku. Cukup lama dia hisap susuku sambil berdiri, kedua dadaku dia hisap bergantian. Penisnya yang tegang kadang menyentuh pangkal pahaku, menggesek-gesek disana disekitar vagina dan paha atasku, ku biarkan saja aksinya tersebut.

“Hmm.. sayang, penis kamu nyentil-nyentil mama tuh..” kataku tapi dia masih asik meminum susuku.

“Ma.. penis Dio diselipin di dada mama dong..” pintanya. Sepertinya dia sudah horny berat. Aku yang juga sudah mulai horny mengiyakan permintaannya. Aku jongkok di depannya, dia letakkan penisnya diantara kedua buah dadaku dan mulai memompanya maju mundur. Aku juga ikut membangkitkan gairahnya dengan ikut mengayunkan tubuhku naik-turun dan meremas kedua payudaraku sendiri sehingga air susuku muncrat mengenai pahanya dan melumuri penisnya yang sedang nikmat menggesek-gesek disela buah dada ibu kandungnya.

Kami keluar dari kamar mandi dengan masih bertelanjang bulat. Dia terduduk di ranjang sambil melihat aku yang sedang mengeringkan rambutku. Ku lihat penisnya bangkit lagi melihat tubuhku.

“Ayo… kamu mikirin apa? Tuh tegang lagi penismu” godaku.
“Hehe .. iya nih ma.. Dio liatin mama sambil ngebayangin Dio lagi ngentotin mama, pasti enak tu mah..” katanya vulgar kurang ajar kepada ibu kandungnya.
“Hushh.. kamu ngomongnya kurang ajar amat sama mama” kataku tersenyum dan tertawa kecil mendengarnya.

“Ma.. ngentot yukk” ajak anakku ini.
“Yuk ma.. udah gak tahan nih pengen ngentotin mama, apalagi diranjang mama sama papa” katanya makin kurang ajar saja. Aku tentu saja keberatan dengan permintaannya tersebut, itu sudah terlalu jauh, tapi aku yang tidak tega dan juga horny akhirnya memberi dia keringanan.

“Kamu gesek-gesekin penis kamu di vagina mama aja yah sayang.. tapi jangan dimasukin, dosa loh kalau bohong” anjurku, dia yang sudah horny mengiyakan saja ajakanku.
“Yuk, sayang naik ke ranjang mama” ajakku. Kami berdua naik ke atas ranjang, ranjang dimana biasanya hanya ada aku dan suamiku diatasnya untuk tidur ataupun bercinta, kini di atasnya telah berada aku dan anakku yang telah bertelanjang bulat, yang sudah terbawa nafsu sedarah yang menggebu-gebu.

Dia mulai merangkak diatas badanku dan mulai menggesek-gesekkan penisnya di permukaan vaginaku.“Inget ya sayang, jangan sampai masuk, punya papamu lo itu..” kataku mengingatkannya kembali. Dia hanya mengangguk saja sambil tersenyum dan melanjutkan aksinya menggesek-gesekkan penisnya dipermukaan vaginaku.

“Ma, masukin dikit boleh yah ma… kepalanya aja kok, plissss..” pintanya memelas.

“Kan tadi janjinya Cuma gesek-gesekin aja, gimana sih? Ya udah deh.. tapi janji ya Cuma kepalanya” kataku menyetujui permintaan mesumnya. Dia arahkan ujung penisnya tepat di depan vaginaku, mencoba memasukkan kepala penisnya diantara bibir kemaluanku. Perlahan ujungnya mulai masuk dan akhirnya kepala penisnya masuk ke dalam kemaluanku. Dia mulai mengayunkan badannya maju mundur dengan kepala penis yang telah masuk ke dalam vagina ibunya.

“Ouuhhh… enak mah” racaunya. Nafsu sudah meyelimuti kami, membakar birahi kami ibu dan anak. Walau hanya kepalanya saja yang masuk namun sepertinya sudah memberikan kenikmatan yang luar biasa baginya. Kadang penisnya masuk lebih dalam tapi tidak seluruhnya, aku yang menyadarinya membiarkannya saja. Melihat aku yang tidak melawan, dia lanjutkan kembali aksinya memasukkan penisnya lebih dalam ke vaginaku. Hingga akhirnya ku sadari bahwa dia telah memasukkan penisnya seluruhnya, maju-mundur di vagina ibunya.

“oghhhhhhh….. terus sayang, kamu nakal.. menyetubuhi ibu kandungmu sendiri… diatas ranjang mama dan papamu lagi… oghhhh… yaaahhh… enak sayang… terus anakku.. setubuhi ibumu” kataku kesetanan. Kami semakin menggila, dia makin cepat memompa diriku.

“Ma… mau keluar mah…” erangnya. Ranjangku betul-betul bergoyang kencang, bahkan dengan suamiku kami tidak pernah bersetubuh sehebat ini. Tubuh kami bermandikan keringat. Membayangkan hubungan kami ibu dan anak makin membuat nafsuku tak terkendali, apalagi membayangkan kalau aku hamil oleh anak laki-lakiku sendiri.

“Keluarin didalam saja sayang.. hamili mamamu iniiii” kataku yang telah dibanjiri nafsu yang tak terbendung. “Crooot…crooot” dia menyemprotkan spermanya berkali-kali berbarangan dengan orgasmeku, memenuhi rahim ibu kandungnya sendiri. Dia kelihatan sangat puas. Sesudah itu sepanjang sore hingga malam kami lanjutkan ronde-ronde selanjutnya, kami bahkan lupa untuk makan, bahkan bayiku yang sedang menangis-nangis sampai terabaikan olehku. Kini yang ada dipikiran kami hanya persetubuhan sedarah. Genangan sperma dan air susuku yang tidak berhenti menyemprot ada dimana-mana, belepotan diatas ranjang aku dan suamiku ini, bahkan ditubuhku sudah belepotan spermanya yang tidak pernah puas menyiram di dalam maupun diluar tubuh ibu kandungnya ini.

Sedangkan dia sangat kenyang meminum air susuku yang sepertinya tidak ada habisnya, melumuri penis dan tubuhnya dengan susuku. Aku bahkan melakukan apa yang belum pernah ku lakukan pada suamiku, yaitu menjilati dan mengulum penisnya serta menelan spermanya yang kini aku lakukan terhadap anakku tanpa rasa keberatan. Aku juga menjilati lubang anusnya dan menyodok lubang anusnya dengan lidahku sedalam yang ku bisa, selain itu aku juga membenamkan payudaraku dengan putting yang mencuat tegak ke sekitaran lubang anusnya, membasahi selangkanngannya dengan air susuku, yang semakin membuatnya merasa kenikmatan. Sebuah kenikmatan yang diperolehnya dari ibunya sendiri. Kami melakukan ini sampai lupa waktu, entah sudah jam berapa ini. Bisa saja suamiku pulang kapanpun itu, namun membayangkan suamiku memergoki kami sedang melakukan perbuatan tidak bermoral ini, antara istri dan anak kandungnya sendiri, di dalam kamar kami dan diatas ranjangku dan suamiku, malah membuat sisi binalku semakin gila menjadi-jadi.

“TERUS SAYANG.. SETUBUHI MAMA… JANGAN BERHENTI… SIRAM PEJUMU KE RAHIM MAMA SEPUAS-PUASMU… HAMILI MAMA… MAMA DISINI SEBAGAI PEMUAS NAFSUMU ANAKKU… “Racauku kesetanan.


Part 3 Papa yang baik.

Aku senang sekali akhirnya dapat segera pulang ke rumah, setelah seharian bekerja untuk keluargaku, apalagi kini bertambah satu lagi si kecil Sonya. Jalanan kota yang macet makin menambah letihku, sesudah ini aku ingin menghabiskan waktuku untuk beristirahat dan tidur karena besok kembali setumpuk pekerjaan yang menunggu.

Aku buka pagar rumahku, tapi anehnya tidak satupun lampu yang menyala diluar sini. Apa orang-orang rumah pada pergi? Pikirku. Tapi setelah aku masuk kerumah ternyata pintu depan juga tidak terkunci, begitu juga dengan lampu di dalam rumah yang tidak satupun menyala. Aku mulai takut bila terjadi perampokan atau apapun itu. Ku melangkah lebih dalam namun samar-samar terdengar suara, arahnya dari dalam kamarku. Segera ku naik ke lantai atas dimana kamarku berada, suara itu semakin keras dan seperti suara desahan. Ku lihat pintu kamarku terbuka dengan lampu yang menyala, dengan rasa agak cemas ku dekati pintu kamarku dan melihat ke dalam.

Jantungku serasa mau copot, sebuah pemandangan yang membuat dadaku sakit, dimana istriku sedang bersetubuh dengan liarnya dengan anakku sendiri. Di atas ranjangku dan istriku yang biasa menjadi tempat kami memadu kasih, sedang bersetubuh dua insan ibu beranak yang selama ini mati-matian aku hidupi.

“Halooo pa, sudah pulang?” sapa istriku.

Hatiku hancur-sehancurnya, kecewa, marah, dadaku seperti ditancap tombak tajam berkali-kali, kakiku tidak mampu menahan beban tubuhku, air mataku menetes.

Kejadian tersebut betul-betul merupakan pukulan telak bagi kehidupanku. Tidak lama setelah aku menangkap basah mereka berdua berbuat mesum di atas ranjangku sendiri, aku melayangkan cerai terhadap istriku. Tentu saja anakku Dio ikut dengan ibunya ke kota lain, namun hak asuh Sonya jatuh ke tanganku karena aku merasa lebih pantas merawatnya dari pada mantan istriku ini.

Kehidupan baruku dimulai, sudah 7 bulan berlalu, perlahan aku mulai bisa melupakan kejadian waktu itu. Aku tidak pernah lagi mendengar kabar istri maupun anakku Dio. Suatu hari aku mendapat kiriman paket, aku cukup terkejut mengetahui itu kiriman dari istriku, yang tidak ada kabar apapun selama ini tiba-tiba mengirimkan aku sebuah paket. Aku penasaran apa isinya dan langsung saja ku buka, sekeping dvd berada di dalamnya.

“Aneh.. tidak ada angin tidak ada hujan mengirimkan aku dvd?” kataku bicara sendiri.
Karena penasaran segera ku nyalakan dvd player dan ku putar dvd tersebut. Alangkah terkejutnya aku menyaksikan apa yang ditampilkan. Istriku bertelanjang dan dengan anakku Dio berada di sampingnya juga dalam keadaan terlanjang. Aku lebih terkejut lagi saat menyadari perut istriku buncit, dia hamil?? Oleh anakku?? Sekali lagi kepalaku terasa seperti dihantam gada, sebuah perasaan sakit dan sesak di dada seperti waktu itu, tanganku mengepal erat remot vcd player.

….
….

“Apa kabar suamiku? Sehat-sehat saja kan?” sapa mantan istriku memulai tayangan rekaman tersebut. Ku lihat Dio melambaikan tangannya ke kamera menyapaku.

“Pa lihat nih perut mama, buncit lagi nih.. lagi hamil nih pa, coba papa tebak anaknya siapa??? Yup.. betul pah, anaknya Dio dong… hihihi. Udah besar anak papa ini bisa menghamili perempuan, ibu kandungnya lagi..” kata istriku lagi sambil tertawa kecil, sementara disini dadaku samakin sesak.

“Hmm… pa, sorry banget yah ngirimin rekaman ini ke papa, abisnya Dio yang maksa sih.. mama Cuma ikut-ikutan aja, lagian kayaknya asik nih”

“Pa.. jangan dimatikan dulu ya.. tonton aja dulu sampai selesai..” katanya lagi ke kamera seperti tahu bahwa aku tidak tahan dengan apa yang aku lihat ini. Ya.. aku memang tidak tahan untuk terus menyaksikan ini namun aku penasaran dengan apa yang terjadi, jadi aku putuskan untuk kembali menontonnya.

“Pa, perut mama seksi yah pa?” kata Dio yang akhirnya mulai bersuara.
“Liat nih pa.. buncit.. mulus, duh enak banget nih kayaknya numpahin peju lagi ke perut buncit mama” katanya sambil meraba-raba perut istriku
.
“Susu mama juga makin gede aja, apa karena sering Dio semprot pake peju Dio yah ma? hehe..” kata Dio lagi.
“Ish.. Dio, gak malu apa omong gitu di hadapan papamu yg lagi nonton ini?” kata istriku menyela.
“Ye… kan emang gitu tujuannya mah, gimana ma perasaan mama bikin rekaman gini dengan Dio?”

“Hmm… gimana ya… asik, bikin gimanaaaaaa gitu.. hihi”
“Dasar mama mesum”
“Kamu tuh.. anak yang mesum, nakal gini ke mamanya”
“Tapi suka kan mah?” kata Dio sambil menepuk-nepuk perut buncit istriku. Sebuah percakapan yang tidak pantas antara ibu dan anak.
“Ma… ngentot yuk.. tunjukin ke papa gimana kita biasa ngentot, hehe” ajak anakku ini ke mamanya.
“Dasar kamunya… gak tahan yah?” tanya istriku menggoda sambil melirik ke kamera.
“Iya nih ma.. hehe”

“Ya udah, sini mama jilatin dulu kontol kamu” kata istriku. Dio berdiri di hadapan ibunya yang bersimpuh di depan selangkangannya. Penisnya kini tepat berada di depan hidung ibu kandungnya, kemudian menggenggam penis anaknya tersebut dan mulai mengocoknya, menjilatinya baik batangnya maupun buah zakar termasuk mengemut bulu kemaluan anaknya itu, semuanya istriku lakukan dengan sesekali melirik ke kamera.

“Ma.. masukin ke mulut ma, yang dalam ma” pinta anakku. Kemudian istriku mengambil posisi telantang di atas ranjang dengan kepala menggantung di sisi luar ranjang, sehingga rambut istriku tergurai kebawah. Anakku berdiri di hadapan kepala istriku dan mengarahkan penisnya ke mulut istriku dan mulai memasukkan penisnya yang cukup besar hingga mentok di kerongkongan ibu kandungnya itu, dia mulai menggoyangkan pinggulnya menyetubuhi mulut ibu kandungnya sedalam mungkin membuat ibunya kesusahan bernafas.

“Pa, lihat nih… Dio lagi ngentotin mulut mama, enak banget pa.. anget, upss.. mama kehabisan nafas yah?” kata Dio namun tidak berusaha melonggarkan ataupun melepaskan batang penisnya yang terbenam di mulut ibu kandungnya. Istriku itu terlihat sangat kesusahan sekali menahan nafas dengan wajah yang telah memerah dan penuh keringat.

“Plok” bunyi suara yang dihasilkan saat penisnya terlepas dari mulut istriku. Istriku langsung gelagapan mengambil nafas, namun hanya sejenak saja karena penis itu kembali menjejali mulut istriku. Sepertinya istriku menikmati perlakuan anaknya ini, terlihat dari dia yang sesekali melirik ke kamera dan berusaha tersenyum dengan mulut yang dijejali penis anaknya, istriku bahkan sempat tertawa kecil ketika penis terlepas dari mulutnya karena anaknya ini menggenjot mulutnya terlalu bernafsu. Mereka lakukan adegan itu cukup lama, liur istriku mengkilap melumuri penis anaknya bahkan liurnya sampai menetes-netes di lantai. Kadang istriku sempat muntah-muntah karena rasa sakit yang dirasakan di kerongkongannya namun masih saja terus melanjutkan aksi tersebut.

Entah kenapa aku yang menyaksikan ini ikut terangsang, tanpa ku sadari celanaku menjadi sempit. Aneh, memang apa yang aku lihat ini betul-betul menyayat hatiku namun entah kenapa menyaksikannya juga membuat aku terangsang. Mengetahui bahwa yang aku saksikan ini merupakan istri dan anakku sendiri malah membuat aku semakin merasa tidak karuan, sakit sekaligus terangsang.

“Ma.. sekarang dijepit di antara ke susu mama yah.. “ pinta anakku ini.
“oke sayang, kamu duduk aja sini di tepi ranjang, biar mama yang beraksi sekarang” kata mamaku beranjak turun dari ranjang dan memposisikan penis anakku di antara belahan susunya. Sebelum menjepitkan penis anaknya di antara buah dadanya, istriku meludahi penis anaknya sebanyak mungkin membuat daerah selangkangan Dio betul-betul berlumuran air liur ibunya, istriku juga meremas buah dadanya dan mengarahkan putting susunya tepat di lubang kencing di kepala penis anaknya, menggesek-gesekkannya di sana dengan air susu yang menyemprot kuat karena remasan tangannya. Daerah selangkangannya kini sudah basah berlumuran air liur dan air susu ibunya.

Mulailah penis itu di benamkan di antara buah dadanya, Istriku menggoyangkan badannya naik turun, menggesek-gesekkan penis itu di antara kulit buah dadanya yang mulus.
“Enak sayang?” tanya istriku pada Dio.
“Enak mah.. uhh…” lenguh Dio.
“Pa… si Dio keenakan nih ngentotin susu mama, hihi..” kata istriku tersenyum manis melirik ke kamera.

Sambil ibunya menjepit penisnya di buah dadanya, Dio mengelus-ngelus rambut ibunya bahkan kadang jari-jari tangannya dia masukkan ke mulut ibunya, menjelajahi rongga mulut ibunya dengan jari tangannya. Penisnya yang cukup panjang membuat ujung kepala penisnya berada di bawah mulut istriku, terkadang istriku sengaja menundukkan kepalanya sehingga kepala penis tersebut masuk ke mulut istriku sambil batang penis Dio masih asik menggesek di belahan dada ibunya.

“Ma… stop dulu ma.. keburu keluar ntar, enak banget sih.. hehe, mama mainin penisnya Hadi sama Yuda aja dulu..” Hadi?? Yuda?? Siapa pula itu. Astaga, aku baru sadar bahwa tidak hanya mereka berdua di ruangan tersebut, tentu saja ada yang memegang kamera ini dan mengambil gambar mereka.

“Di, Yud, giliran lo berdua, sini gue aja yang megang kameranya..” kata anakku. Ku lihat kamera seperti sedang berpindah tangan, entah tadi itu sedang dipegang oleh Hadi atau Yuda kini sepertinya sudah berpindah ke tangan anakku Dio, bersiap merekam ibu kandungnya sendiri bersama teman-temannya yang akan berbuat cabul ke ibunya, di hadapannya dan direkam olehnya sendiri.

“Sini-sini, sama aja kalian dengan Dio, sama-sama nakal” kata istriku menyuruh Hadi dan Yuda mendekat ke arahnya.
Istriku mulai membuka pakaian Hadi dan Yuda yang memang tinggal celana dalam saja, kemudian mulai mengocok dan menjilati penis-penis dua remaja teman anakku itu.
“Pa… lihat tuh.. mama ngapain tuh pa? hehe.. mau dikeroyok teman-teman Dio tuh pa..” kata Dio yang hanya terdengar suaranya saja.
“Dio, gimana nih perasaan kamu merekam ibumu sendiri seperti ini? Hihi.. Pa, liat nih anakmu.. sedang merekam ibu kandungnya lagi berbuat mesum dengan teman-temannya.. hihi” kata istriku lagi tertawa kecil ke kamera.

Mereka melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan anakku tadi, memasukkan penis mereka bergantian sedalam mungkin ke mulut istriku, melumuri penis-penis tersebut dengan air liur dan susunya dan menjepitkannya di antara buah dadanya. Cukup lama mereka memainkan penisnya ke bagian-bagian tubuh istriku.

“Oghh… enak tante.. Dio, mama lo emang mantap” erang Yuda. Istriku hanya tersenyum saja mendengar ocehan-ocehan mereka sambil melirik ke kamera.
“Hehe, iya nih.. kalau gue mah, udah gue bunuh orang yang giniin mama gue, tapi lo malah ngasih mama lo gratis gini ke kita, pake lo rekam lagi.. lo dan mama lo emang gila” kata Hadi ikut berkomentar.

“Hehehe.. iya, kalian puas-puasin deh nikmati tubuh nyokap gue.. siramin aja tuh peju kalian ke tubuh nyokap gue.. bebas pokoknya..” kata Dio membalas omongan temannya.
“Gimana? Enak yah.. makanya sering-sering aja main ke rumah tante.. hihi” ikut-ikutan istriku. Tidak lama kemudian penis mereka menumpahkan spermanya ke tubuh istriku, mereka menumpahkannya di buah dada istriku yang mulus. Sambil mereka enak ngecrot di dada itu, istriku meremas buah dadanya sehingga air susu memancar ke penis tersebut sambil penis tersebut juga menyemprotkan spermanya ke arah putting istriku. Istriku menjerit-jerit kecil sambil tertawa ke kamera saat buah dadanya dilumuri sperma teman-teman anakku.

Aku yang sedang menyaksikan rekaman ini sampai terpana dan terdiam, tidak menyangka istriku ini bisa sebinal dan sekotor ini, tapi entah kenapa menyaksikan ini membuat gairahku bangkit, aku bahkan telah meraih penisku sendiri dan mengocoknya sambil menyaksikan tayangan rekaman mesum dari istriku ini. Aku benar-benar tidak mengerti kenapa aku ikut bergairah menyaksikan ini, sebuah tayangan yang membuat hatiku teriris sekaligus membangkitkan gairahku. Aku makin mempercepat kocokan tanganku di penisku sendiri, hingga akhirnya aku tidak tahan karena begitu terangsang melihat adegan tersebut. Air maniku menyemprot membasahi tangan, sofa, dan karpet dibawah. Sebuah perasaan nikmat melandaku, dimana itu disebabkan tayangan rekaman mesum istriku bersama anakku dan teman-temannya.

Aku pause video ini sementara, aku bersihkan dahulu ceceran sperma di sekitarku dengan tisu, kemudian aku ke kamar mandi untuk membersihkan penis dan celanaku. Aku masih bingung dengan apa yang aku rasakan ini, namun aku masih penasaran adegan selanjutnya di rekaman tersebut. Memikirkan apa yang akan terjadi pada istriku membuat gairahku kembali bangkit. Aku kembali menuju ke ruang tv untuk melanjutkan menonton rekaman itu. Aku tekan tombol play dan tayangan rekaman tersebut kembali berlanjut. Kini istriku terlihat sedang membersihkan tubuhnya yang terkena ceceran sperma dengan tisu.

“Hihi.. pa, lihat nih.. banyak banget peju mereka, kena telak di susu mama..” kata istriku sambil mengusap dan membersihkan dadanya dengan mata melirik ke arah kamera.
“Oi, sekarang kalian pegang lagi nih kamera, gue udah gak tahan pengen genjotin mama gue.. tenang aja, ntar kalian juga dapat kok, nih kameranya..” kata Dio memberikan kamera ini lagi ke salah satu dari mereka, sepertinya kini Yuda yang memegang kamera.

“Hihi.. udah gak tahan yah sayang pengen genjotin mamamu? Sini-sini..” ajak istriku pada anakku itu. Dio langsung mendekati ibunya kemudian mengelus-ngeluskan dan menampar-namparkan penisnya ke perut buncit ibu kandungnya yang sedang hamil anaknya itu.
“Ma.. kalau nanti anaknya laki-laki bolehkan kalau dia sudah besar nanti ngentotin mama seperti yang Dio lakukan sekarang?” tanya anakku yang membuat aku disini terkejut mendengarnya. Permintaan yang sangat kurang ajar dan tidak bermoral.
“Hmm… kamu mau mama nanti gituan sama anak ini? Dasar kamu nakal, ada-ada aja fantasi kamu” balas istriku.

“Tapi kalau nanti anak kita perempuan gimana?” tanya istriku lagi.
“Kalau perempuan nanti kalau udah cukup umur Dio ngentotin dianya mah… hehe, jadi ada teman mama nih yang bantu muasin Dio” sebuah perkataan seorang maniak seks yang tidak lain disampaikan oleh seorang anak ke ibu kandungnya sendiri. Aku disini makin terkejut mendengarnya, mereka betul-betul sudah gila, namun aku yang mendengar percakapan tersebut juga ikut Horny, apalagi membayangkan kalau itu benar-benar terjadi nantinya.

“Jadi mau lubang yang di dapan atau di belakang?” tanya istriku menggoda Dio.
“Belakang dulu deh mah”
Istriku mengambil posisi menungging di atas ranjang, terlihat perutnya yang buncit besar menggantung. Aku tidak yakin posisi seperti itu aman untuk bayi di dalamnya, anak yang ada di rahim tersebut memang bukan anakku namun kekhawatiran muncul juga di kepalaku.

Terlihat Dio sudah di belakang ibunya dan mulai memasukkan penisnya ke lubang anus istriku, aku cukup terpana melihatnya. Aku saja selama ini tidak pernah melakukan anal seks kepada istriku ini namun sekarang anakku sendiri yg malah melakukannya ke ibu kandungnya itu. Mereka mulai bersetubuh lewat belakang, Dio dengan nafsu menggenjot anus ibunya membuat buah dada dan perut istriku itu ikut berayun-rayun.

“Duh.. sayang, hati-hati, jangan terlalu keras.. sakit tahu.. apalagi mama sedang hamil gini..”
“Iya mah… ougghhhh.. uhhh….”
Mereka melakukan anal seks tersebut cukup lama diiringi racauan dan rintihan kenikmatan mereka berdua.

“Ma.. masukin ke memek mama yah..” pinta anakku. Kini penisnya menjelajahi liang vagina istriku dan mengobok-ngobok rahim ibunya tempat dia berasal dulu. Aku yang menyaksikan ini juga gak kalah nafsunya mengocok penisku sendiri, melihat adegan demi adegan persetubuhan ibu beranak yang merupakan istri dan anakku sendiri.

“Yud, Di, yuk sini bareng.. “ ajak Dio pada temannya sambil melepaskan penisnya dari vagina ibunya. Apa-apaan ini? Anakku mengajak temannya menyetubuhi ibunya bersama-sama, betul-betul brutal perbuatan mesum mereka ini.

“Letakkan aja handycamnya di tripot, arahin kesini” pinta Dio lagi.
“Hihi.. iya sini deh kaliannya,kayaknya gak tahan banget tuh.. udah tegang gitu dari tadi” sambung istriku mengajak mereka yang dari tadi asik mengocok penis mereka sendiri sambil menonton adegan cabul temannya pada ibunya itu. Mereka tidak menunggu untuk disuruh lagi, langsung saja mereka ikut naik ke ranjang. Kini di atas ranjang itu istriku bersama dengan tiga remaja tanggung yang salah satunya merupakan anak kandungnya sendiri. Mereka mulai meraba-raba dan meremas bagian-bagian tubuh istriku, baik buah dada, pinggul maupun perut hamilnya yang buncit.

“Bentar yah..” kata istriku sambil melepaskan tangan-tangan nakal itu dari tubuhnya kemudian dia bersimpuh dan menghadap ke kamera.
“Pa, liat nih.. kayaknya mama bakal digangbang Dio dan teman-temannya, masih sanggup lihat kan pa? hihihi.. mama gak pernah dikeroyok gini nih Pa sebelumnya… agak deg-degkan juga sih, tapi mama penasaran banget rasanya dikeroyok gini, apalagi sama Dio anak kita dan teman-temannya” kata istriku tertawa binal ke arah kamera.

“Kalian siap??” kata istriku sambil melirik dan tersenyum nakal ke arah bocah-bocah nakal di sekelilingnya kemudian juga melirik ke kamera.
“Ayo mulaaaai, puas-puasin nafsu kalian anak-anakkuuuuuuu” teriaknya dengan nada manja.
Kemudian mulailah adegan gangbang tersebut, istriku dikeroyok oleh 3 remaja ini. Kembali tangan-tangan mereka meremas dan meraba istriku. Dia menjerit-jerit kecil karena remasan dan rabaan mereka pada buah dada maupun daerah vagina istriku ini. Suara rintihan dan erangan mereka betul-betul menggema, seperti tidak mempedulikan bahwa bisa saja suara teriakan erangan tersebut terdengar oleh tetangga di sana, walaupun aku sendiri tidak tahu mereka sedang dimana, bisa saja di rumah, villa atau kamar hotel.

“Siapa dulu nih? Atau kalian mau langsung masukin bersamaan? Pas tuh ada tiga lubang.. Hihihi” kata istriku menggoda.
“Boleh tante, tapi Hadi udah kebelet banget pengen coba analin tante.. Hadi di lubang belakang aja yah tante.. hehe” pinta Hadi ini dengan wajah mesumnya.
“Iya-iya.. boleh, dasar kamu doyan anal.. pasti kamu kalau udah gede besok mau jadi analis yah? Hihihi..” kata istriku menggoda Hadi.
“kalau Yuda mau yang mana?” tanya istriku sambil tersenyum pada Yuda.
“Lubang di depan aja dulu tante.. penasaran gimana rasanya ngentotin cewek hamil”
“Ish.. dasar kamu.. kalau gitu anak mama ini ngentotin mulutnya mama dulu yah sayang.. sip kan??”

“oke mam..” setuju anakku. Yuda mengambil posisi telentang di atas ranjang, penisnya yang tegang dari tadi menjulang ke atas bersiap untuk memasuki liang vagina istriku. Istriku mulai jongkok di atas penis Yuda dan perlahan menurunkan badannya, sedikit demi sedikit penis itu mulai tenggelam di liang vagina istriku hingga akhirnya penis itu mentok dan terbenam seluruhnya disana yang mungkin saja kepala penisnya bertemu dengan kepla cabang bayi di dalam sana. Istriku masih diam saja jongkok diatas penis itu, lalu dari belakang Hadi mulai mencari-cari lubang anus istriku untuk dimasuki penisnya.

“Sini tante bantu” kata istriku menggenggam penis Hadi dan menuntunnya ke lubang anusnya sambil badannya sedikit merunduk sehingga perut hamilnya yang buncit bergesekan dengan perut berbulu Yuda. Dio juga ikut serta dengan membenamkan penisnya dan menyetubuhi lagi mulut ibunya. Jadilah kini istriku dalam posisi dihimpit depan belakang, dengan ketiga lubangnya yang terisi penuh oleh penis-penis remaja. Mereka dengan brutal menggenjot lubang-lubang istriku yang sedang hamil, kadang sambil menyetubuhi istriku mereka meremas kuat buah dada istriku sehingga air susu kembali memancar dengan derasnya membasahi orang yang sedang ditunggangi oleh istriku. Setelah cukup lama mereka menggenjot penis mereka di bagian mereka masing-masing, mereka bergantian melakukannya pada lubang yang yang lain, sehingga masing-masing mereka dapat merasakan nikmatnya sensasi menyetubuhi perempuan hamil di semua lubang secara bergantian. Sesering mungkin istriku berusaha melihat dan tersenyum nakal ke kamera, membuat aku makin merasa tidak karuan menontonnya.

Mereka cukup lama melakukannya, aku sendiri juga tidak tahan menonton adegan ini, rasa perih yang teramat sangat sekaligus gairah yang luar biasa menyaksikan ini semua. Aku lakukan lagi mengocok penisku sendiri sambil menonton rekaman ini.
“Ma pindah tempat yuukk” ajak anakku.
“Dimana sayang??” tanya istriku yang masih digenjot depan belakang, tampak tubuhnya telah banjir keringat, baik keringatnya sendiri maupun yang bercampur dengan keringat bocah-bocah nakal itu.

“Di depan rumah yuk mah… pasti asik tuh, apalagi kalau ada yang lewat dan ngelihat, hehe..” pinta Dio mesum kurang ajar.
“Hah? Gila kamunya.. bisa masalah ntar kalau ada tetangga yang lihat.. ”
“Plisss mah… Dio pengen wujudkan fantasi Dio nih..”
“Oke deh.. tapi hati-hati yah.. jangan sampai ada yg ngelihat” akhirnya istriku ini setuju dengan ajakan gila anakku.
“Yud, lo yang pegang kamera yah.. ganti-gantian kita” kata Dio. Mereka turun dari ranjang dan menuju ke pintu depan dengan kamera yang kini sedang digenggam oleh Yuda masih merekam. Dapat ku lihat bahwa rumah ini cukup bagus, di halaman depan ada pagar yang cukup tinggi mengelilingi dan ada tanaman-tanaman tinggi yang cukup menutupi padangan dari luar.

Mereka kembali melanjutkan adegan mesum tersebut, namun kini hanya bertiga saja karena salah satu orang begantian memegang handycam. Mereka seperti menikmati berbuat mesum dengan hampir-hampir ketahuan seperti itu.

Kadang beberapa kendaraan seperti motor dan mobil melintas membuat mereka memperlambat aksinya. Sambil melekukan adegan tersebut Istriku kadang merintih dan menjerit-jerit terlalu keras. Aku saja yang hanya menonton disini merasa berdebar-debar, apalagi mereka yang melakukannya.

“Tuh.. lihat kan, hampir ketahuan tadi.. kalian sih dibilangin gak mau dengar” kata istriku yang kini dibawahnya ada Dio yang sedang menyetubuhi vagina ibunya.
“Hehe.. gak papa lah ma, belum ketahuan juga.. hehe” balas Dio.
“Mah.. coba mama teriak deh ma, bilang gini mah.. Kontol anakku enak.. coba mah” pinta Dio gila.
“Gila kamu.. kedengaran dong sama tetangga.. apalagi kalau ada orang lewat” tolak istriku.
“Gak kok mah.. jam segini kan tetangga lagi sibuk kerja, jalan juga sepi gak banyak amat yang lewat dari tadi.. mau yah ma??”
“Iya-iya.. dasar kamunya gila”
“Hehe.. mama sih mau aja di gilain anaknya.. hadap ke kamera mah” Istriku kemudian menghadap ke kamera dan mulai berteriak.
“Kontol anakku enaaak…” teriakku istriku menghadap ke kamera, setelah itu dia celingak celinguk ke arah luar khawatir kalau-kalau ada yang datang.
“Kurang keras mah.. lagi” kata Dio sambil menepuk perut hamil mamanya. Istriku mengulangi lagi.

“Kontol anakku enaaak.. “ teriaknya lagi.
“Masih kurang keras mama… nih” kata Dio sambil memilin putting mamanya.
“Kontol anakku Dio.. enaaakk… keraaass.. Setubuhi mamamu iniiiiiiiiiiiiiiii” teriak istriku ini sejadi jadinya. Betul-betul gila, dengan teriakan keras seperti itu mustahil rasanya tidak ada tetangga yang mendengar. Aku yang menonton rekaman ini menggeleng-gelengkan kepalaku.
“Tuh.. puas?” kata istriku sambil tersenyum ke Dio dan kemudian melirik kembali ke arah luar dengan harapan tidak ada yang datang dan mendengar teriakannya.

“Hehe.. mama paling top deh..”
Mereka bersetubuh lagi, bergantian dengan teman anakku. Hingga masing-masing mereka merasakan ingin keluar.
“keluarin dimana tante?”
“Coba tanya Dio deh.. mau dimana sayang?” tanya istriku pada anaknya.
“Di perut mama aja, kita keluarin bareng-bareng disana” ujar Dio.

“Dasar kamu.. nafsu banget yah lihat perut mama buncit gini?? Iya deh.. sini-sini” goda istriku. Istriku mengambil posisi telentang di teras depan rumah dikelilingi para remaja ini yang sedang mengocokkan penisnya di depan perut hamil istriku, kadang mereka menggesek-gesekkan penis mereka di permukaan perut hamil istriku.

“Croot.. crroott” sperma-sperma mereka menyemprot ke perut hamil buncit istriku ini. Begitu banyak hingga sebagian turun ke arah dadanya dan ke arah selangkangannya.
“Udah? Puas??” tanya istriku pada mereka di balas anggukan kepala mereka.
“Tuh.. lihat nih pa, sperma mereka berlumuran di perut mama nih” kata istriku tersenyum ke kamera sambil meraba cairan sperma di permukaan kulit perutnya.

“Ma.. enak banget mah.. makasih yah ma..” kata Dio.
“Iya tante,, enak banget.. puas deh..” sambung teman-teman anakku.
“Ma.. kita kasih pertunjukan terakhir ke papa mah.. itu loh ma yang kadang kita lakuin kalau abis ngentot..” pinta anakku pada ibunya. Sepertinya istriku paham maksud anakku ini.
“Iya-iya, tapi disini emangnya?”

“Iya mah.. disini aja, hehe” Mereka berdiri mengelilingi istriku yang duduk bersimpuh, kemudian… seeerrrrr… Air kencing mengalir dari masing-masing penis mereka, anakku mengencingi ibu kandungnya sendiri! Tidak hanya satu namun ada tiga penis yang mengencinginya! Aku semakin shock menyaksikannya. Tampak cairan bening kekuningan membasahi tubuh istriku, dia juga membuka mulutnya sehingga sebagian air seni itu tertampung mulutnya dan mengalir ke kerongkongannya.

“Dasar kamu.. nakal banget.. kurang ajar ke mamanya.. pa lihat nih.. sekarang badan mama dipenuhi kencing mereka nih.. bau pesing banget.. hihi” kata istriku manja.
“Hehe.. oke mah, udahan.. bilang bye-bye ke papa ma”
“Hmm.. bye-bye sayangku.. sekali lagi maaf yah aku cuma ngirim rekaman video ini ke kamu setelah selama ini.. salam untuk putri kita pa.. dadahh”

Layar menjadi berwarna biru, tayangan ini sudah berakhir. Aku masih terdiam sesaat terduduk di sofa ini. Aku benar-benar tidak menyangka istriku menjadi seperti itu, namun aku tidak mengingkari bahwa aku juga terangsang melihat rekaman barusan. Sudah beberapa bulan ini aku coba melupakan kejadian waktu itu, namun kini datang lagi bahkan lebih kejam dari sebelumnya. Beberapa bulan ini juga aku tidak pernah lagi merasakan tubuh wanita dan tadi aku akhirnya melepaskan dahagaku sambil menonton rekaman itu, rekaman persetubuhan istriku dan anakku, ibu dan anak kandung. Terbesit dibenakku aku harus bilang apa pada Sonya putriku saat dia besar nanti, aku tidak ingin dia tahu apa yang terjadi antara ibunya dan kakaknya itu. Lebih baik aku menyimpan rahasia ini dan berbohong padanya, mungkin cerita mereka kecelakaan adalah pilihan yang tepat.

*
*
*
Part 4 Sonya, gadis yang ceria.

14 Tahun kemudian…

“Oughhh… enak sayang.. nikmat.. “
“Oghhh terus pa… lebih kencang…”
“Badan kamu sexy sayang.. montok… oghhh…”
“Hmm… makasih pa… pokoknya Sonya miliknya papa” kataku pada papaku.

Aku tidak menyangka kenapa ini bisa terjadi, hubungan seks sedarah dengan papaku sendiri. Selama ini aku memang hanya hidup berdua dengan papaku, papaku mengatakan bahwa waktu aku kecil Ibu dan kakakku meninggal dalam sebuah kecelakaan namun Papaku tidak pernah mengajakku untuk melihat makam mereka. Dan kini, aku mengalami hubungan sedarah dengan papaku, yah.. ini semua berawal beberapa bulan yang lalu…

5 bulan yang lalu…

“Pa.. Sonya pulang..”
“Selamat datang sayang..”

Namaku Sonya umur 16 tahun, kulit putih bersih dihiasi mahkota rambut hitam lurus sebahu, kata teman-temanku sih aku orangnya cantik, baik dan mudah bergaul. Makanya aku punya banyak teman baik perempuan maupun laki-laki. Namun begitu aku dididik oleh papaku dengan baik agar jauh-jauh pergaulan bebas dan tetap pandai-pandai memilih teman.

Cuaca hari ini sangat panas, aku baru saja pulang dari sekolah dengan motor maticku. Ku heran melihat papa sudah pulang dari kantor, biasanya dia baru pulang sore atau malam hari.

“Pa.. Sonya pulang” sapaku sambil melepaskan sepatuku dan berjalan masuk ke dalam rumah.
“Selamat datang sayang..”
“Kok cepat pulangnya pa?”

“Iya, kebetulan aja pekerjaan papa tadi cepat selesainya..” kata papaku menjawab pertanyaanku. Dengan masih mengenakan seragam SMA aku kemudian berjalan ke arah dapur untuk mengambil minuman dingin di kulkas, mencari-cari sesuatu untuk menghilangkan dahagaku.

“Duh… mana sih jus jeruknya?? masa udah habis sih..” tanyaku sendiri dengan agak bete, di kulkas cuma ada air putih dingin saja, terpakasa aku cuma minum itu T.T

“Pa.. papa yang habisin yah jus jeruknya?” tanyaku agak kesal pada papaku.
“Eh, eh.. itu punya kamu? duh.. maaf yah sayang.. gak tahu papa, lagian tadi papa haus banget” jawab papaku menjelaskan.

“Yaahhh… papa…Ya udah deh..” kataku manja dengan muka bete sambil meneruskan minum air putih dingin itu. Aku beranjak duduk di sisinya diatas sofa ikut nonton tv bersamanya.

“Nonton apaan pah?” tanyaku padanya.
“Nonton berita, loh kamu kok kamu masih pake seragam, ganti baju dulu sana” suruhnya padaku.

“Males” jawabku enteng, aku masih bete sih :P
“Kamu ini.. sana ganti.. papa gelitikin kamu ntar..” suruhnya lagi namun aku masih diam saja dan terus menatap layar tv.

“Dasar kamu.. rasakan nih..” papaku mendekat dan menggelitikkan pinggangku yang masih dibungkus seragam dengan satu tangannya.

“Aw.. pa,, haha.. aduh.. aw, aw… geli” kataku berteriak kecil menghindari gelitikan tangannya dengan menggeserkan badanku menjauh sambil mencoba menepis tangannya namun masih duduk di atas sofa. Papaku kini menggunakan kedua tangannya menggelitikiku, aku semakin geli saja dan semakin berteriak karenanya.

“Iya.. iya.. ampun pa.. papa curang.. pake gelitikin Sonya segala.. udah tau Sonya gak tahan geli” akhirnya papaku melepaskan tangannya dari pinggangku. Aku akhirnya berdiri dari sofa dan merapikan seragamku. Dari dulu memang aku gak tahan dengan gelitikan papaku, makanya papaku sering jadikan itu sebagai senjata kalau aku membandel :v

“Tuh kan pa.. jadi kusut gini kemeja seragamnya.. ihhh papa” kataku manja dengan memasang wajah bete.

“Salah siapa emang? Kamu kan yang bandel.. kalau kusut tinggal seterika aja.. hehe” katanya merasa menang dari anaknya ini.
“Papa yang seterika!” perintahku pura-pura membentaknya, tapi tentu saja gak benar-benar membentaknya, papaku juga tau itu.

“Gak, enak aja, udah gede gitu masih nyuruh papanya yang seterika bajunya”
“Biarin.. kan papa yang bikin kusut.. melawan kamu yah pa!” kataku bercanda masih dengan memasang wajah bete memerintahnya.

“aw, aw aw.. anak papa ini berani membangkang yah.. papa gelitikin lagi kamunya.. sini..” kata papaku berdiri dan mendekatiku.

“Lariiiiiiii…. Hahaha.. gak kena.. gak kena….” Akupun berlari menuju kamarku, akhirnya kuturuti saja perintahnya mengganti pakaian, lagian gak tahan juga masih pakai seragam panas-panas gini. Aku lepaskan seragamku, sambil hanya mengenakan pakaian dalam ku buka lemari bajuku dan ku pilih apa yang akan ku kenakan. Karena hanya di rumah dan hari yang juga panas, aku pakai saja kaos pink polos yang agak longgar dengan celana pendek putih sebatas paha memperlihatkan keindahan paha mulusku, aku sih cuek saja, lagian cuma ada papa di rumah. Aku ambil ikat rambut dan ku ikat rambutku kuncir kuda.

Aku kembali ke ruang nonton tv, ku lihat papa masih disana.
“Nah.. kan lebih adem kalau ganti baju, kamu udah makan siang sayang? Tuh tadi papa bawain ayam KFC kesukaanmu”
“Wah… papa tau aja aku lagi lapar, makasih yah pa.. papa udah makan?? Makan bareng aja yuk..”

“Udah barusan, udah makan cepat sana... dingin ntar ayamnya” perintahnya. Aku kemudian menuju dapur dan membuka bungkusan ayam gorang itu. Ku bawa ke ruang nonton tv karena aku ingin makan sambil nonton.

“Hihihi.. papaku emang yang paling baik” kataku tersenyum manis ke papaku.
“Iya-iya.. makan deh..” aku mulai memakan ayam itu dengan nasi. Walaupun panas-panas gini aku tetap juga pake saos cabe yang banyak sehingga wajahku memerah dan penuh keringat.

“Ckckck.. kamu makan atau mandi sih sayang? Basah gitu wajah kamu”
“Iya.. pa, pedas…. Huff huhhh…” kataku kepedasan tapi memang lebih enak makan pedas gini XD

Aku teruskan makanku, keringatku makin bercucuran karenanya membasahi hingga leherku. Bahkan bagian depan bajuku sudah terlihat basah oleh keringatku sendiri. Aku teruskan makanku hingga akhirnya habis sudah ayam yang malang itu. Sisa sisa cabe dan remah-remah di jariku ku hisap-hisap pake mulutku, menjilatinya dan mengulum jariku sendiri yang lentik itu. Ku lihat papaku geleng-geleng memperhatikanku yang seperti orang gak makan 1 tahun.

“Napa pa lihatin sonya kaya gitu?? Papa mau? Nih…” kataku sambil mengulurkan jariku ke arahnya isyarat memperbolehkannya mengulum jariku namun dengan cepat memasukkan kembali jari itu ke mulutku.

“Hahaha..” kataku tertawa sendiri .

“Dasar kamu… piringnya gak kamu habiskan sayang?” kata papaku bercanda.
“Gak enak pa.. keras, Sonya bukan pemain debus makan-makan beling, hihihi” balasku sambil beranjak berdiri membawa piring tersebut ke tempat cuci piring serta mengambil minum. Sisa sore itu kemudian aku habiskan menonton tv dan mengobrol bersama papaku.

“Udah mau malam nih.. Sonya mandi dulu yah pa” kataku pada papaku.
“Iya..iya, udah bau gitu kamunya”
“Papa kali yang bau.. ya udah, Sonya ke atas dulu, papa gak mandi?”
“Iya.. bentar lagi sayang.. kamu aja dulu” kata papaku yang tampaknya masih asik menonton tv, gak beranjak-ranjak dari tadi.

“Kita mandinya sama-sama aja pah..” ajakku padanya.
“Mandi sama-sama?” tanya papaku melongo heran.
“Maksudnya papa mandi di kamar papa, Sonya mandi di kamar Sonya… ayo… papa mikirin apa emang barusan?? Pasti yang gak-gak.. ayo ngaku” kataku menggodanya.

“Eh.. gak kok sayang… kamu ini, iya-iya deh.. papa mandi” katanya akhirnya beranjak dari sofa tidak mau lama-lama kelihatan salah tingkah begitu XD

Akhirnya kami sama-sama telanjang di kamar mandi, tapi aku di kamar mandiku, papa dikamar mandi papa, hehe… waktu mandi adalah saat-saat menyenagkan bagiku, bisa lebih setengah jam aku disini berendam dalam bathtub, sedangkan papa mandinya cepat banget kaya kambing kena air, gak tahu deh papa itu mandinya sudah bersih atau belum. Sepertinya suatu saat aku harus mandiin dia dan ngajarin dia mandi deh..

Setelah mandi, aku hanya tiduran di atas ranjangku sambil bbm-an dan bikin pr. Aku kenakan pakaian seperti tadi, baju kaos dengan celana pendek, namun celana pendek kali ini agak ketat.

“Tik.. tik.. tikk.. jrussss” Hujan tiba-tiba turun dengan lebatnya disertai angin kencang, pantasan hawa tadi siang panas banget. Duh.. aku paling takut dengan badai. Paling takut lagi kalau badai listriknya pake padam segala. Aku yang takut sendiri di kamar segera keluar mencari papaku, ku temukan dia sedang berada di ruang tv (lagi-lagi disana -,-).

“Pa… badai..” kataku memasang wajah memelas ketakutan.
“Kamu udah gede masih aj takut.. “ jawab papaku enteng.
“JEDARRRR” suara petir dengan kerasnya mengagetkanku. Aku spontan mendekati papa dan memeluknya. Emang sudah biasa sih aku meluk papaku, dari kecil malahan. Sambil membalas pelukanku papa mengelus-ngelus rambut dan punggungku.

“Pa.. tidur bareng yah.. “ pintaku pada papaku karena gak berani tidur sendiri.
“Iya-iya.. dasar kamunya..” kami habiskan waktu bersama malam itu hingga akhirnya aku sudah mulai ngantuk, aku sudah mulai sering menguap.
“Udah ngantuk sayang? Mau tidur?” tanya papaku, mungkin karena melihatku sering menguap dari tadi.

“Iya pa.. temanin yah..” aku dan papaku kemudian bangkit dari tempat kami.
“Iyaaa… tidurnya di kamar papa atau kamar kamu nih?”

“Di kamar papa aja, lebih lebar ranjangnya” jawabku. Kamipun berjalan menuju kamar papaku dan masuk ke kamarnya. Sangat beda suasana kamarnya, ditambah bau parfum papa khas laki-laki.

“Kalau sampai berhari-hari badainya masa kamu mau tidur di kamar papa terus?”
“Hmm.. kalau badai terus ntar gantian tempatnya, di kamar Sonya terus di gudang.. hehe..” jawabku. Aku naik ke atas ranjang papaku, disana ada dua bantal dan satu guling, aku rebut saja guling itu dahulu.

“Itu kan guling papa sayang, curang kamu.. kamu ambil deh guling kamu ke kamarmu sekalian ganti pake piyama kamu..”

“Malas ah pa.. udah ngantuk pake ini aja, papa aja yang ngambilin guling sonya”
“Gak ah.. malas”
“Ya udah pa.. anggap aja Sonya guling papa, hihi..” kataku menggodanya sambil tertawa kecil.

“Oke… “ tiba-tiba papa menghimpitku, medindihku, dan memelukku.
“Aw… pah.. sakit.. hahaha… ampun…” kataku merintih manja dipeluk-peluk papaku. Akhirnya papa melepaskan pelukannya, suasana kembali reda.

“Sayang.. papa gak biasa tidur pakai baju gini, papa lepas yah?” tanyanya.
“Hah?? Papa mau telanjang?” aku terkejut juga melihat papa yang sudah melepaskan kaosnya memperlihatkan dadanya yang berbulu.

“Ya nggak lah.. Cuma lepas kaos aja, papa biasanya tidur cuma pakai celana pendek aja, gak pakai kolor. Emang kamu mau papa telanjang di depan kamu?” kata papaku sambil meraih tangannya ke celananya seperti akan melepaskan celana pendeknya.

“Papaaa.. nggaaakkk.. apa-apaan sih..” kataku menjerit kecil. Gila apa, telanjang di depan anak gadisnya yang udah remaja ini.

“Hehehe.. bercanda kok.. ya udah tidur sana” katanya menenangkanku. Hufhh.. hampir saja :v

“Selamat tidur sayang..” ujar papa sambil mencium keningku. Sebelum tidur kami memang biasa melakukan ciuman selamat tidur, biasanya papa yang ke kamarku dan mengecup keningku.

“Met tidur juga papaku sayang” tidak kama kemudian kami akhirnya tertidur nyenyak, dengan alunan suara hujan yang makin membuat suasana menjadi dingin dan membuat tidur serasa lebih nikmat. Besoknya aku bangun lebih cepat dari papaku, sepertinya hujan sudah reda. Tapi apa itu… Kulihat ada yang menyembul dibalik celana pendek papa. Punya papaku berdiri, pasti karena masih pagi, biasa bagi laki-laki.. hihi. Tidak lama kemudian papaku juga bangun.

“Udah lama bangunnya sayang?” tanya papaku yang sudah terduduk di atas ranjangnya.

“Baru kok pa, bukannya papa yang dulu bangun.. tuh anunya papa udah bangun dari tadi.. mesum” kataku sambil menunjuk ke arah selangkangan papaku.
“Eh, eh, anu… “ katanya gelagapan berusaha menutupi penisnya yang menyembul di balik celananya.

“Maaf deh sayang.. Biasa.. kalo pagi-pagi suka begini” kata papaku mencoba menjelaskan.
“Iya-iya, gak papa kok pa” kataku dengan masih memandang ke arah selangkangan papaku.

“Udah sana, kamunya mandi, ntar terlambat sekolah..” suruh papaku.

“Sekarang kan hari minggu pa, papa lupa ya.. hehe.. grogi nih papanya” kataku menggodanya. Aku kembali rebahan di ranjang di sisi papaku, masih ngantuk banget rasanya, enakan malas-malasan. Papaku memelukku dan mencium pipiku. Yah.. memeluk dan menciumku pun sebenarnya sudah biasa dilakukan papaku, namun diatas ranjangnya dan dia hanya mengenakan celana pendek dengan penis yang tegak baru kali ini. Aku biarkan saja aksinya, lagian memang tidak ada yang salah dan sah-sah saja orangtua memeluk dan mencium anaknya. Namun kadang terasa juga tonjolan di balik celananya menggesek pantatku yang juga hanya memakai celana pendek ini.

“Duh.. kamu udah makin besar ya sekarang.. makin enak rasanya papa meluk kamu, kulit kamu juga makin halus aja, wangi lagi” katanya dengan masih asik memelukku erat-erat dan masih ku biarkan saja.

“Apanya yang makin besar pa?” godaku.

“Badan kamu dong..” katanya, padahal aku tahu maksudnya itu dada dan bokongku. Aku tersenyum saja mendengar jawabannya. Kami berpelukan cukup lama, kini dia menarikku ke atas tubuhnya sehingga aku kini yang menindihnya, dia lanjutkan aksinya memelukku dan menciumi wajahku sambil membelai punggung dan kepalaku. Bahkan lama-lama tangannya masuk di balik kaosku dan mengusap punggungku disana.

“Udah ah pa.. lama-lama makin mesum.. kayak suami-istri aja” kataku menaikkan badanku duduk tepat diatas selangkangannya dengan penis yang masih keras menonjol di balik celananya sedangkan papaku masih terbaring dibawah ditindih putri kandungnya.

“Iya-iya.. maaf yah sayang” katanya, namun kini tangannya mengelus-ngelus kedua paha putih mulusku yang berada disisi kiri dan kanan tubuhnya yang aku duduki ini, aku biarkan saja aksinya tersebut tanpa ada pikiran buruk terhadapnya.

“Napa pa? horny?” kataku tertawa kecil melihat tingkahnya tersebut.
“Eh.. gak kok sayang.. cu.. cuma” katanya gelagapan menghentikan tangannya mengelus pahaku namun tangannya belum beranjak dari sana.

“Cuma apa? Ish.. papa jorok.. pasti pikirannya udah ngeres sekarang.. makanya cari istri lagi dong pa, masa menduda terus” kataku padanya, sepertinya terjadi perubahan di raut wajahnya, sepertinya perkataanku barusan salah, mungkin mengingatkannya tentang ibuku.

“Maaf yah pa..” kataku takut salah padanya.
“Kenapa kamu minta maaf sih.. kamu gak salah apa-apa juga” aku tenang mendengar jawabannya.

“Papa yang harusnya minta maaf.. udah lama papa sendiri, Kadang papa merasa butuh penyaluran papa lampiaskan ke psk-psk, sekarang tiba-tiba ada perempuan yang di ranjang papa tapi itu malah kamu anak gadis papa sendiri. Ya sejujunya papa mulai terangsang juga sih sayang, maafin papa yah..” Ujarnya, aku kasihan juga mendengar curhatnya itu, tapi tetap saja aku ini anaknya sendiri.

“Hmm ya udah deh pa.. masih mau lanjut meluk-meluk Sonya? Lanjut aja pah kalau emang mau.. papa boleh kok sedikit melampiaskan nafsu papa yang udah lama terbendung ke Sonya, tapi cuma sekedar peluk sama cium aja yah pa.. gak lebih, aku kan tetap anak papa” kataku menawarkan padanya. Ku lihat dia masih terdiam, namun lama-lama tanganya mulai mengelus-ngelus pahaku lagi.

“Hihi.. dasar papa.. enak banget kayanya ngelus-ngelus disana” kataku menggodanya.
“Hehe, paha kamu putih mulus sayang.. enak ngelusnya” katanya. Aku biarkan saja aksinya tersebut mengelus-ngelus kedua pahaku lagi. Kadang elusannya naik sampai ke daerah pinggulku yang masih tertutup celana pendekku.

“Hmmm.. pah, kalau papa mau… biar Sonya lepasin aja dulu celana pendek Sonya. Biar papa enak ngelusnya. Mau pah?” tawarku padanya.

“Bo-boleh sayang” suaranya mulai menggetar parau karena sudah mulai bernafsu. Aku kini berdiri tepat diatasnya yang masih terbaring di bawah. Tubuhnya berada diantara kedua kakiku. Ku mulai lepaskan celana pendekku perlahan hingga akhirnya lolos seluruhnya dari kakiku dan nyangkut di pergelangan kaki kiriku. Setiap detik aksiku merupakan tontonan yang menarik baginya. Kini aku hanya mengenakan celana dalam hitam dibagian bawah tubuhku dengan celana pendek yang menyangkut di kakiku. Ku biarkan saja celana pendekku itu menyangkut di pergelangan kakiku karena sepertinya memberikan kesan sexy. Aku kembali duduk di atas selangkangannya, kini penisnya hanya dibatasi celana dalamku dan celana pendek papa. Dia kembali melanjutkan aksi tangannya mengelus-ngelus pahaku hingga pinggulku yang kini sudah bebas namun masih ada tali celana dalamku yang menghalangi.

“Kalau celana dalam nggak yah pa, hihihi..” kataku menggodanya.
“hehe.. iya gak papa kok.. ini aja udah cukup kok..hmm sayang, kalau boleh mau gak kamu goyang-goyangin pinggul kamu.. dikit aja” pintanya mulai mesum.

“Dasar.. udah mulai nafsu papanya.. hihi, iya-iya boleh kok” aku menyetujui permintaanya. Aku kemudian mulai menggoyangkan pinggulku di atas selangkangannya, menggesek-gesekkan daerah vaginaku yang tertutup celana dalam dengan tonjolan yang ada di balik celana pendek papaku. Sambil aku menggesek-gesekkan selangkangan kami dia juga masih mengelus-ngelus pahaku dan pinggulku. Posisi dan kelakuan kami seperti orang yang sedang bersetubuh saja, ku lihat papaku meram melek kenikmatan, aku tersenyum saja melihatnya. Setelah cukup lama melakukan itu papa melenguh kenikmatan, sepertinya dia sudah sampai, kurasakan agak basah di daerah selangkangannya.

“Enak pa? udah puaskan?” tanyaku padanya sambil tersenyum manis.
“Makasih yah sayang… maaf yah papa melakukan ini padamu”
“Gak papa kok pa, kalau papa lagi horny bilang aja yah.. dari pada papa main sama pelacur” akupun turun dari pangkuannya dan kembali memakai celana pendekku.
“Kayaknya kamu lebih sexy kalau gak pakai celana pendek deh sayang”
“Ih…. Apaan sih pa.. mesum, kan udah tadi.. hihi..”

“Hehehe, bercanda kok.. ya udah, papa mandi dulu yah sayang.. mau ikutan gak?”
“Nggak!”
“Ya udah deh.. hehe” katanya beranjak dari ranjang dan masuk ke kamar mandi. Aku juga turun dari ranjang dan ingin kembali ke kamarku.
“Pa.. Sonya balik ke kamar yah..” kataku berteriak di depan pintu kamar mandinya.
“Iya sayang” jawabnya berteriak dari dalam.

Sejak saat itu papaku tidak segan-segan lagi memelukku maupun menciumku kapanpun dan dimanapun di rumah. Saat ciuman selamat tidur, ciuman papa lebih lama dari biasanya, bahkan kini tidak hanya mencium kening dan pipiku namun juga sudah mencium bibirku. Aku juga membalas ciumannya tersebut hingga akhirnya ciuman kami bukan ciuman bibir saja tapi sudah saling membelitkan lidah. Suatu malam papa datang ke kamarku untuk mengatakan selamat tidur seperti malam-malam biasanya, dia sudah hanya mengenakan celana pendeknya saja.

“Udah tidur sayang?” katanya setelah menutup pintu kamarku dan menuju ke ranjangku yang mana aku masih tidur-tiduran.

“Bentar lagi pah.. mau ciuman selamat tidur kan pa? sini..” kataku tersenyum melirik padanya.

“ hmmm.. anu sayang.. papa boleh gak malam ini tidur bareng kamu disini?” tanya papaku.

“Yee… pasti papa sedang horny nih.. biasanya Cuma mau ciuman selamat tidur aja.. tapi ranjang Sonya sempit kan pah.. kalau mau di kamar papa aja”

“Gak apa kok sayang, lebih enak kalau sempit, jadinya kamu gak kemana-kemana waktu tidur.. sekali-sekali dikamarmu dong.. hehe”

“Ya udah deh.. sini pa..” kataku memberi isyarat mendekat dengan telunjukku menggodanya. Papaku langsung naik ke atas ranjangku yang sebenarnya hanya untuk satu orang saja, terpaksa ntar malam bersempit-sempit ria T.T

Dia langsung saja menindihku dan melayangkan ciumannya ke wajahku, baik pipi, kening, maupun bibirku. Aku biarkan saja perlakuannya padaku anak gadisnya ini. Kini dia tidak lagi sekedar memelukku tapi mencumbui dan menggerayangi seluruh tubuhku yang masih lengkap mengenakan pakaianku.

“Pa.. bentar pah.. kok gitu mat sih.. duh.. aw…” Rintihku yang terus saja masih dicumbui olehnya. Papaku akhirnya menghentikan permainannya.
“Sorry sayang, papa kelewatan nafsu liat kamu” katanya.
“hmm.. iya pa, nafsu amat sih papanya.. gak tahan amat.. hihi..”
“Sayang, boleh gak papa liat kamu telanjang.. papa gak tahan nih.. pliss” pintanya memelas padaku. Sepertinya dia sudah benar-benar penuh nafsu birahi saat ini.

“ishhh.. gak mau.. apaan sih.. kan janjinya waktu itu cuma meluk dan cium-cium doang, gak perlu pake telanjang segala kan Sonyanya. Hmm.. tapi kalau papa mau, papa aj yang telanjang.. tapi sonya masih pake dalaman yah..” kataku memberi penawaran dari permintaan mesumnya.

“Ya udah deh sayang.. gak papa deh..” papaku menyetujui tawar-menawarn kemesuman itu.

Aku kemudian melepaskan baju kaosku dan melepaskan celana pendekku sehingga kini hanya mengenakan bra dan celana dalam saja sedangkan papaku sudah telanjang bulat di hadapan putrinya diatas ranjang tidurku yang sempit.

“Ih.. udah tegang poll gitu mengacung-ngacung ke Sonya” kataku manja menggodanya.

“Hehe.. habisnya didepannya ada anak papa yang cantik sexy sih..”

“Ishh.. dasar mesum” Kemudian aku merebahkan badanku sehingga kini aku berbaring telentang di ranjang, papaku mendekat dan kembali memeluk dan menciumiku yang kini bugil menindihku. Aku dapat merasakan kulitnya yang penuh bulu menggesek-gesek tubuhku yang hanya mengenakan pakaian minim setengah telanjang. Penisnya menggesek disekitar daerah kewanitaanku, kini vaginaku dan penisnya hanya dibatasi kain tipis celana dalamku.

“Enak sayang… ougghhh…” erangnya yang asik mencumbuiku, anak kandungnya.
“Enak yah pa?? hihi.. dasar mesum papanya” godaku ditengah-tengah cumbuannya. Kini tangannya sudah mulai meremas buah dadaku. Aku cukup terkejut namun aku biarkan saja. Aku yang merasakan remasannya pada buah dadaku mulai merasakan kenikmatan.

“Hmmfhh.. pah enak… geli pah..” racauku. Akhirnya malam itu kami habiskan saling mencumbu satu sama lain, kini tidak hanya dia yang aktif mencium dan memelukku namun aku juga demikian. Hingga akhirnya dia tiba-tiba melepaskan pelukannya dan berangsur ke pinggir ranjang membuang pejunya ke lantai kamarku.

“Ihhh… papa nembaknya sembarangan.. jorok… jadi belepotan kan lantai kamar Sonya” kataku dengan wajah kesal padanya.

“Kan tinggal di lap aja sayang.. nih” kata papaku sambil mengambil kaos yang ku kenakan tadi dan menjadikannya lap pembersih pejunya di lantai.
“Papa.. apa-apaan sih.. kok pake bajunya Sonya.. napa gak pake celana dalam papa aja coba”

“Ini yang paling dekat sayang.. hehe.. gak papa lah, tinggal cuci aja..”
“Dasar.. ya udah deh..” aku turun dari ranjang dan mengambil kaosku yang berlumuran pejunya dan meletakkan bajuku di tumpukan baju kotorku yang lain. Saat ku kembali ku lihat papaku terbaring penuh kepuasan karena baru saja menuntaskan nafsunya.

“Puas pah? Udahkan? Pakai lagi tuh bajunya papa.. tidur lagi yukk” ajakku.
“Biar aja deh sayang.. papa tidur gini aj deh.. kamu juga gak usah pakai baju sama celana lagi.. hehe” pintanya mesum. Aku turuti saja kemauaannya, kini kami berdua saling memeluk diatas ranjangku yang sempit dengan tubuh papaku yang masih telanjang sedangkan aku yang hanya pakai dalaman saja. Kamipun akhirnya tertidur hingga pagi menjelang.

Lagi-lagi saat bangun pagi yang ku lihat pertama adalah penisnya yang mengacung tegak, lagi-lagi penisnya dulu yang bangun sebelum orangnya. Karena iseng dan penasaran aku sentil–sentil penisnya, lucu aja melihat penisnya menjuntai-juntai gitu. Tidak lama kemudian papaku bangun karena ulahku yang memainkan penisnya.

“Udah bangun pah? Tuh anu papa bangun lagi.. “ kataku menggodanya.
“Hehe.. tadi kamu yah yang nyentil-nyentil burung papa?”
“Eh.. gak kok pa.. mungki tadi ada laba-laba yang lewat di atas penis papa kali..” kataku mengelak.

“Mana laba-labanya? Ini?” katanya sambil menggenggam pergelangan tanganku.
“Eh, eh.. gak pah..” kataku malu ketahuan.
“Hehe, kalau kamu mau pegang, pegang aj gak papa.. kan penis papanya sendiri.. ” katanya mesum sambil mengarahkan tanganku ke penisnya yang tegang sedari tadi. Setelah tanganku berada di penisnya, dia melepaskan genggaman tanganku.

“Ayo sayang.. kocokin dong..” pintanya mesum.

“Ish.. gak ah.. jijik..”
“Jijik apanya, Cuma ngocokin kok.. ya udah deh kalau gak mau.. sini baring ke atas papa” katanya merentangkan tangan menunggu pelukanku. Akupun menuruti perintahnya dan naik ke atas tubuhnya yang telanjang bulat. Aku cium mulutnya yang bau karena kami yang belum gosok gigi. Dia kembali mencumbuiku dan memeluk tubuhku sepuasnya. Dengan posisi ini, penisnya terasa sangat mengganjal ketika aku duduk di atasnya.
“Duh.. pa, mengganjal banget nih..” kataku padanya.

“makanya kamu kocokin dong.. “
“Iya-iya deh.. biar cepat selesai aja..” akhirnya kuturuti permintaannya ini. Akupun berangsur ke sebelahnya. Namun tanganku masih mengusap-ngusap perut berbulu nya saja, belum ke penisnya.

“Papa.. boleh gak anakmu ini ngocokin penis papa?” godaku padanya sambil masih mengusap perut dekat pusarnya.
“Hehe.. nakal kamu yah.. boleh dong..” katanya tergoda. Godain lagi ah.. XD
“Kalau di emut boleh gak??” kataku dengan tangan yang makin turun ke arah penisnya, penisnya makin berdenyut-denyut ku lihat.

“Bo-boleh dong sayang.. silahkan..” asiiik dia makin terpancing XD kini aku mendekatkan bibirku dan berbisik ke telinganya.

“Hmmm.. kalau papa mau, papa boleh kok ngentotin Sonya.. genjotin memek Sonya dalam-dalam pakai kontol papa terus-terusan siang malam.. Numpahin peju papa ke rahim atau ke mulut Sonya sebanyak yang papa mau.. hmm.. kalau mau sampai Sonya hamil juga boleh..” kataku menggodanya berbisik mesra dengan desahan. Papaku yang mendengar kata-kata nakal dari mulut anak gadisnya ini menjadi tidak tahan dan…

“Crooot.. crooot” Spermanya pun akhirnya menyemprot kencang ke atas, membasahi tubuhnya sendiri dan sprei tempat tidurku.
“Hore… keluar.. akhirnya gak perlu ngocokin penis papa.. kena papanya Sonya kerjain.. yee….” Teriakku bahagia berhasil mengerjainya.

“Kurang ajar kamunya.. ngerjain papa pake omongan-omongan nakal kamu.. awas kamunya… ouhhhh” katanya yang masih saja dilanda kenikmatan.

“Hihi.. ampun deh pa..” kataku sambil menempelkan kedua telapak tanganku seperti orang yang memohon ampun, aku masih tertawa renyah terbahak-bahak oleh kejadian barusan sedangkan dia sibuk membersihkan ceceran maninya.

“Ya udah deh pa.. sebagai permintaan maaf, ntar Sonya temanin papa mandi deh, ntar Sonya buka deh semua dalaman Sonya jadi papa bisa liat Sonya telanjang.. gimana? mau kan pa?” kataku sambil tersenyum manis padanya.

“Oke deh.. impas deh kalau gitu, tapi papa ada satu permintaan lagi karena kamu udah berani bohongin papa..”

“Hmm ya udah deh.. apaan pah?” tanyaku agak penasaran.
“Ntar kalau papa ngecrot lagi papa nyemprotin pejunya ke badan kamu yah..” pintanya yang sangat mesum.

“hmmm.. gimana ya.. bau kan pah? jijik lagi.. tapi ya udah deh.. sekali itu aja ya.. awas kalau minta lagi ntar” kataku menyetujui.

“Mau mandi sekarang pah? Atau papa mau rasain mandi ala Sonya.. mau gak pa?”
“Hah? Mandi ala kamu? Maksudnya sayang?” tanya papaku heran.
“Sonya mandiin papa pake… ini” kataku kemudian menunjuk lidahku yang aku julurkan.

“Hah.. kamu mandiin kamu pake lidah kamu?” tanya papaku masih bingung. Aku hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum nakal padanya.
“Hihi.. iya pa, kayak mandi kucing gitu.. mau gak pa? tapi gak sampai mandiin burung papa yah..” tawarku padanya lagi.

“Hehe.. kayaknya asik tuh sayang, ya udah boleh deh..”
“Ya udah.. papa baring deh.. biar Sonya mulai..” Papaku kemudian rebahan kembali di atas ranjang. Aku mulai menciumi wajahnya kemudian beralih menjadi jilatan-jilatan. Setelah cukup lama disana jilatanku turun ke leher, dada, dan ke perutnya. Ku angkat tangannya dan kujilati jari-jari tangannya, ku lakukan hal yang sama pada tangannya yang satunya.

“Enak pa?” tanyaku menggoda padanya.
“Enak banget sayang..” jawabnya
Aku lanjutkan lagi aksiku, kini aku jilati pahanya kemudian turun hingga ke ujung kakinya. Aku jilati jari-jari kakinya kemudian telapak kakinya.
“Sayang… gak jijik sayang?”

“Gak kok pa.. “ jawabku sambil tersenyum semanis mungkin padanya. Selama menjilat-jilat tersebut aku melirik dan berusaha tersenyum padanya sesering mungkin.
“Burung papa jilatin juga dong sayang..” pintanya yang sudah nafsu kembali.
“Gak ah pa.. geli, jijik. Janjinya kan gak pake jilatin burung papa” kataku menolak. Akhirnya seluruh bagian tubuhnya kecuali selangkangannya sudah basah oleh liurku termasuk ketiaknya.

“Makasih ya sayang.. sekarang kamunya yang papa mandiin pake peju papa, hehe”
“Iya-iya.. sekali ini aja.. awas ya minta lagi..” aku kemudian jongkok di atas ranjang di hadapannya sedangkan dia mengocok penisnya di depan putrinya yang cantik ini.

“Ayo pa.. tumpahin yang banyak..hihi..” godaku padanya. Papaku makin mempercepat kocokannya dan akhirnya pejunya menyemprot ke atas kepalaku, melumuri rambutku dengan spermanya. Cukup banyak spermanya, beberapa mengalir ke kening dan pipiku.

“Udahkan pa? puas?”
“Iya sayang.. makasih” akhirnya setelah itu kami beres beres karena aku bersiap ke sekolah. Semenjak kejadian itu papa semakin sering melepaskan nafsunya padaku, aku akhirnya mengiyakan saja permintaannya kalau ingin lagi menumpahkan pejunya ke badan atau wajahku. Bahkan kadang sewaktu aku ingin berangkat sekolah dia yang gak tahan mencumbuiku menumpahkan spremanya ke seragamku. Aku juga tidak menolak lagi permintaanya mengocok dan menjilati penisnya, bahkan aku mulai mengocok penisnya dengan sama-sama telanjang di atas ranjangku sendiri sampai dia semprotkan pejunya hingga tubuh dan ranjangku kembali berlumuran spermanya, aku harus sering-sering ganti sprei sejak itu.

Namun senekat-nekatnya kami melakukan itu tidak pernah sampai bersetubuh, paling jauh hanya menggesek-gesekkan kelamin kami. Namun suatu hari saat pulang sekolah, papa memintaku untuk mandi bersamanya.

“Oke deh.. pa.. yuukk” kataku berdiri dari ranjangku dan masuk ke kamar mandi, aku mengikutinya dari belakang dan akhirnya ikut masuk kesana.
“Sonya buka sekarang yah pa..” kataku berdiri di depannya yang mana pandanganya tidak lepas dari tubuhku.

“I-iya sayang.. Buka aja” aku mulai membuka celana dalamku dulu, aku buka perlahan menggodanya, sedikit demi sedikit memperlihatkan vaginaku yang mulus, melewati pahaku dan akhirnya jatuh dan jatuh ke lantai.

“Nih pa.. tangkap..” isengku melemparkan celana dalamku ke arahnya, namun karena dari tadi asik melongo responnya jadi lambat sehingga celana dalamku menghantam dengan lembut ke mukanya.

“Hihi.. maaf pah.. papa sih pikirannya kemana aj.. nih bantuin buka kaitan beha Sonya pah” kataku membelakanginya. Dia makin merasa gak karuan, kini dihadapannya tersaji pantat mulus yang bulat menggoda yang enak untuk di tepuk

Akhirnya dia menyentuh punggungku dan membuka kaitan bra ku. Kini kami berdua benar-benar sama-sama telanjang dikamar mandi yang sama. Kamipun mandi bersama di sana, sambil mandi dia asik melihat tubuhku yang polos di hadapannya bahkan mengocok penisnya di hadapan anak gadisnya ini. Kami bergantian saling menyirami shower ke badan. Tapi tentunya papa yang paling lama menyiramku pake shower, enak sekali dia kayanya melihat putrinya bugil basah-basah gini olehnya, penisnya terlihat sudah amat tegang. Kami pun selesai membasuh badan kami.

“Gimana pa? udah mau ngecrot belum? Lama amat..” tanyaku padanya.
“Hehe.. gak sabar yah mau di semprotin peju papa, ya udah kamu baring deh di lantai..”

“ih.. apanya yang gak sabar..” kataku jaim namun akhirnya aku berbaring di lantai, keramik kamar mandi yang dingin bersentuhan dengan kulitku. Papaku mengambil posisi berlutut di sampingku mengarahkan penisnya ke badanku.

“Keluarin yang banyak pa..” godaku sambil melirik kepadanya.
“I-iya sayang.. bentar lagi.. ouhhhh uggghhh…” papaku makin mempercepat kocokannya. Sepertinya tidak lama lagi akan keluar dan..
“Crooot.. crooot” spermanya menyemprot ke badanku, melumuri payudara dan perutku, banyak sekali dan amat lengket.

“Udahkan pa? puas?”
“Hehe iya makasih yah sayang.. hehe” setelah itu kami membersihkan badan sekali lagi. Timbul ide nakalku untuk menggodanya lagi.

“Pa.. kita rendaman dalam bathtub dulu yukk” ajakku. Papaku menyetujuinya. Biasanya hanya ku gunakan sendiri namun kini ada pria lain menemani yang tidak lain adalah papaku sendiri.

“Tapi jangan nakal yah pa di dalam bathtub” aku kemudian masuk duluan ke dalam diikuti papaku.
“Sini pah..” kataku mengulurkan tangan membantunya masuk ke dalam. Kini kami berdua sudah masuk. Aku duduk disisi satunya sedangkan papa disisi yang lainnya.

“Sini sayang.. duduk sini dong dipangkuan papa.. hehe” ajak papaku mesum. Aku turuti kemauannya dan beranjak duduk di pangkuannya, ku rasakan penisnya menempel di permukaan vaginaku, menggesek-gesekkan batangnya di permukaan vaginaku. Kembali penisnya mengganjal di bawah vaginaku. Dia menggoyang-goyangkan pinggulnya sedangkan tangannya meremas-remas buah dadaku.

“Ihhh.. papa.. keenakan gitu kayaknya.. tapi awas pa.. jangan sampai masuk” papaku tidak menjawab, dia asik saja melakukan hal mesum itu pada putrinya. Kadang kepala penisnya hampir menyeruak masuk, namun karena tidak benar-benar masuk aku biarkan saja terus aksinya. Semakin lama semakin sering saja penisnya seperti ingin masuk, aku masih saja membiarkannya. Hingga akhirnya aku tidak sadar bahwa penisnya sudah benar benar masuk dan amblas ke dalam vaginaku.

“Ihh.. papa, kok dimasukin sih?? Keluarin pa..” pintaku. Namun papaku tidak mengubrisnya danterus saja menggenjot vaginaku.
“Papa.. lepasin.. apa-apaan sih..” pintaku lagi mengiba. Aku berusaha melepaskan diri darinya, namun tenaga papaku lebih besar dariku. Akhirnya aku disetubuhi papaku sendiri. Dia genjot terus meenyetubuhiku tidak peduli aku sudah menangis menitikkan air mata hingga akhirnya dia tumpahkan spermanya di dalam rahimku.

“Maafin papa sayang.. papa gak tahan..” aku tidak menjawabnya. Dia kemudian keluar dari kamar mandi dan kembali ke kamarnya. Aku masih terdiam di kamar mandiku menangis sendiri.


--

Setelah itu hubungan kami seperti merenggang dan menjadi kaku. Tampak ayahku selalu berusaha menghindariku karena perasaan bersalahnya. Untung saja kejadian waktu itu tidak membuatku hamil. Entah kenapa sifat ayahku itu membuat perasaanku menjadi tidak enak gini. Dan semakin hari perasaan itu semakin menjadi-jadi dan membuatku tidak tahan lagi, hingga suatu malam aku putuskan menemuinya.

“Tok.. tok” aku ketuk pintu kamarnya. Tidak lama dia membuka pintu kamarnya.
“Ya sayang.. ada apa?”
“Boleh Sonya masuk pa?” dia kemudian mempersilahkanku masuk ke dalam kamarnya.

“Belum tidur pa?” tanyaku basa-basi.
“Belum” jawabnya dingin. Sepertinya dia masih merasakan kurang enak padaku karena kejadian waktu itu. Aku mencoba mengerti perasaannya.

“Hmmm pa, kok rasanya papa seperti menjauh gitu sih? Ada apa pa?”
“Gak ada apa-apa kok sayang” jawabnya berbohong.

“Hmm pa.. kalau masalah kejadian waktu itu aku udah maafin kok.. papa jangan gini lagi dong.. gak enak pa suasana jadi kaku gini..” kataku dengan mata mulai berlinang.
“Sayang.. “
“Tolong pa.. jadi papa yang dulu..” kataku lagi memeluknya, dia balas pelukanku. Kali ini benar-benar pelukan seorang sayang seorang ayah pada anaknya.

“Maafin papa sayang.. papa salah waktu itu, seharusnya papa gak ngelakukan itu padamu” katanya lagi dengan suara parau.

“iya pa.. gak papa, udah Sonya maafin kok.. maafin Sonya juga pa, salah Sonya juga yang terlalu memancing papa.”
“Sayang…” Akhirnya dia melepaskan pelukanku. Sekarang semua beban kami sepertinya sudah menghilang karena sudah menyampaikan apa yang ingin kami sampaikan.

“Tapi waktu itu enak kan pa? hihi” kataku mencoba mencairkan suasana.
“Ye… mulai lagi kamu, ntar papa nafsu lagi loh.. hahaha..” balasnya. Kamipun tertawa terbahak bersama-sama. Aku senang sekali suasana menjadi seperti yang dulu. Penuh tawa dan candaan yang menghiasi rumah ini.

“Hmm… pa..”
“ya sayang??”
“Kalau papa mau, papa boleh kok ngelakuinnya lagi..”
“Maksud kamu?”

“Yang waktu itu loh pa, yang di kamar mandi..” kataku dengan wajah agak malu. Entah kenapa aku merasakan perasaan yang begitu sayang kepadanya, membuatku ingin menyerahkan segalanya padanya. Namun sayang sekali kenapa kami harus mempunyai hubungan darah begini, satu-satunya halangan bagi kami yang ingin aku dobrak.

“Tapi kan sayang…”

“Gak papa kok pa.. aku tahu kok papa pasti masih ingin melakukannya lagi, sejujurnya Sonya juga ingin lagi pa.. Sonya bersedia kok menjadi pelampiasan papa lagi. Tapi setelah itu papa jangan merasa gak enak kayak kemarin-kemarin lagi pa.. gak enak suasan kaku kayak kemarin itu. Kali ini Sonya akan dengan suka rela melakukannya” kataku sambil sedikit mundur darinya dan melepaskan baju tidurku. Kini tubuh telanjangku terpampang di hadapannya lagi. Dengan cepat dia menyergap dan menarikku ke ranjangnya tanpa berkata-kata. Malam itu akhirnya kami melakukannya lagi. Hubungan cinta antara dua insan mendobrak tembok besar bernama hubungan darah. Kami tidak peduli lagi bahwa kami ayah dan anak.

Sejak saat itu aku tidak menolak lagi permintaan papaku bila nafsunya sedang tinggi. Kadang dia sempat minta yang aneh-aneh juga seperti menyuruhku mengenakan seragam sma ku sewaktu kami bersetubuh. Dia juga membeli mainan seks dan mencoba semuanya padaku. Bahkan ada juga vibrator kendali jarak jauh yang dia pasang pada permukaan vaginaku. Menyuruhku ke sekolah dengan mengenakan itu, sehingga waktu di kelas aku kadang meringgis kenikmatan dan menjerit-jerit kecil .

Baik ketika pulang sekolah atau saat tidur malam, papaku selalu meminta jatah. Suara rintihan kami semakin sering terdengar di rumah itu.

“Oughhh… enak sayang.. nikmat.. “
“Oghhh terus pa… lebih kencang…”
“Badan kamu sexy sayang.. montok… oghhh…”
“Hmm… makasih pa… pokoknya Sonya miliknya papa”



Beberapa minggu kemudian...

“Selamat pulang pa..”
“Makasih sayang.. ada apa sih? Kok ceria amat kayanya..”
“Hihihi.. sini deh aku bisikin” kata Sonya mendekati kuping papanya.



“Pa… Sonya bakal jadi ibu”
Part 5 Kegilaan Berlanjut

“Y-yang b-benar sayang?” Kataku terkejut.
“Iya.. pah… nih coba pegang perut Sonya.. gede kan pa?” aku memegang perutnya. Buncit?? Sejak kapan?? tubuhku terasa bergetar.
“gede kan pa??” dan kurasa tubuhku semakin berguncang.
“pa…..”
“pa……… papa…”
“pa, bangun pa… udah pagi….” Perlahan semua menjadi terang, aku terjaga, ku lihat putriku berada di sisiku mengguncang-guncang tubuhku untuk membangunkanku.
“Akhirnya… bangun juga, susah amat nih bangunin papa.. gara-gara kecapekan main tadi malam yah pa? hihi..” godanya.

“Hmmm… sayang.. udah lama kamu bangunnya?? Hoooaammmh..” Aku masih mengantuk berat, mungkin karena permainan kami tadi malam. Tunggu dulu, kejadian barusan itu mimpi? Berarti dia belum hamil? Aku coba memperhatikan tubuhnya terutama bagian perutnya memastikan kalau yang ku lihat tadi memang benar sebuah mimpi, dan ternyata memang benar sebuah mimpi. Dia belum hamil, syukurlah.

“Napa pa? liatin badan Sonya kaya gitu? Hmm.. papa nafsu yah?” godanya. Selepas melakukannya tadi malam kami memang melanjutkan tidur tanpa mengenakan pakaian, sehingga kini aku dan dia sama-sama bugil.

“Siapa sih yang gak nafsu liatin kamu kaya gini?” Aku sengaja tidak memberitahukannya tentang mimpiku dan apa yang ku pikirkkan barusan.

“Dasar.. mesum” katanya manja sambil merobohkan diri di atasku dan memelukku. Pagi itu kami melakukannya lagi, persetubuhan terlarang antara ayah dan anak kandung hingga akhirnya kami harus berhenti karena kami punya kegiatan masing-masing. Dia harus ke sekolah sedangkan aku masih punya perkerjaan di kantor.

“Sayang.. mau papa antar gak?” tanyaku padanya saat kami asik menikmati sarapan.
“Hmm.. tumben, tapi boleh tuh, lagian Sonya juga lagi malas bawa motor” setujunya. Setelah itu kamipun berangkat menggunakan mobilku, mengantarnya ke sekolahnya terlebih dahulu sebelum menuju kantorku.

“Ih.. papa tangannya kemana tuh? Bukannya ke perseneling malah ke paha Sonya..”
“gak papa dong.. hehe”
“ihh.. mesum” katanya namun tetap mengabulkan permintaanku mengangkat rok smanya hingga ke pangkal pahanya memperlihatkan pahanya yang mulus.
“Tapi tetap hati-hati nyetirnya pa.. jangan keenakan gitu.. hihi”
“iya-iya..” kataku tetap berusaha fokus sambil asik sesekali mengelus pahanya yang putih mulus menggoda.

“mesum ih, apa lagi nih permintaan mesum papa yang lain?” katanya menggoda.
“hehe.. apa yah sayang, gini deh.. sekolah kamu kan masih jauh nih, kamu telanjang dong..hehe” pintaku mesum kepadanya.
“hah? Telanjang? Di dalam mobil gini?? Gak ah.. ntar ada yang liat bisa brabe..”katanya berusaha menolak permintaanku.

“Gak bakal nampak dari luar kok sayang… “ Memang seluruh jendela ataupun kaca mobil dilengkapi dengan kaca film gelap yang cukup tebal sehingga tidak akan kelihatan dalam mobil dari luar, kecuali harus mengintip dengan menempelkan hidung agar dapat melihat ke dalam.

“mau yaahh??”
“Ih.. aneh-aneh aja nih maunya... iya deh..” dia akhirnya mulai membuka seragamnya yang tadi sudah rapi melekat di tubuhnya. Dia mulai dari membuka kancing kemejanya satu demi satu.
“hmm.. beneran gak nampak dari luar kan pa?” tanyanya meminta kepastian lagi.
“Iya.. gak bakal nampak kok, kecuali orang itu ngintip, tapi siapa juga yang bakal ngintip, mobil kan lagi jalan” sepertinya dia masih cemas, aku juga merasakan demikian. Tentu saja, walaupun tidak kelihatan dari luar, tapi kan tetap saja ini di tengah jalan yang ramai kendaraan, tapi justru itu yang membuat aku semakin merasa gak karuan. Dia akhirnya menarik kemejanya sehingga kini hanya menyisakan branya.

“branya juga dong sayang.. cepetan dong.. ntar keburu sampai nih ke sekolah kamu”
“iya.. tapi deg-deg kan banget nih pa” katanya. Dia lanjutkan melepaskan branya, kemudian membuka rok smanya dan menariknya ke bawah. Kini dia tinggal mengenakan celana dalamnya saja. Tapi mobil kami sampai ke lampu merah, membuat darahku dan Sonya makin berdesir karenanya. Disekitar mobil kami banyak kendaraan lainnya dan disini anak gadisku hampir telanjang. Bahkan tepat di samping pintu tempat duduk Sonya ini ada pengendara motor yang berhenti, kalau saja dia mengintip tentu akan terlihat bagaimana keadaan Sonya ini. Lampu merah masih menunjukkan angka mundur 100, masih cukup lama.

“Sayang, itu celana dalam kamu masih ada tuh.. buka juga dong..”
“Ihh.. iya deh, Sonya buka” katanya segera mengangkat pinggulnya dari tempat duduk dan menarik celana dalamnya, akhirnya kini dia sudah telanjang bulat di dalam mobil.
“Sayang, papa mau ngerokok nih, jendelanya papa buka yah.. biar asapnya keluar” kataku.
“Hah?? Jangan pa, papa ngerokoknya ntar aja abis antarin Sonya” jawabnya.
“Dikit aja kok sayang.. lagian kan di jendela papa, bukan jendela sebelahmu.. gak apa kan??”
“bodo..” katanya dengan wajah bete. aku kemudian menekan tombol untuk menurunkan kaca jendela, sehingga kini jendela di sampingku sedikit turun, sekitar seperempatnya.

“Udah hijau pah” katanya memberi tahuku. Aku lihat kedepan ternyata lampu memang sudah hijau, namun ku iseng menekan kembali tombol untuk menurunkan kaca jendela di sebelahku sehingga kini lebih dari setengahnya terbuka, lalu ku injak gas pedal.

“Ih.. pa kok d buka segitu sih.. turunin dong.. kalau gitu kan bisa nampak sama orang-orang”
“gak nampak kok kalau gak ada yang ngelihat ke sini, hehe..” mobil kami terus berjalan melewati jalanan yang semakin ramai ke arah sekolahnya. Aku kini bahkan membuka seluruhnya jendela di sebelahku namun jendela di sebelah Sonya masih aku biarkan saja tertutup. Aku pikir begini saja sudah sangat nekat dan sangat membuatku deg-degkan.

Ketika hampir tiba disekolahnya aku naikkan kembali kaca mobil disampingku namun Sonya belum ku perkenankan memakai kembali seragamnya. Kuberhentikan mobilku di dekat gerbang sekolahnya.

“Sayang.. kita gituan yukk.. hehe” pintaku.
“hah?? Disini? Ini udah sampai di depan sekolah Sonya loh pa?? lagian ntar dandanan Sonya jadi kusut lagi”
“Bentar aja kok sayang.. 3 menit cukup, papa udah nahan dari tadi nih, bentar juga keluar.. hehe” pintaku lagi.

“hmm.. iya deh.. cepetan yah pa.. ntar bel masuk keburu bunyi lagi..” katanya menyetujui. Akupun menyetubuhinya disana, diatas mobilku yang terparkir di dekat gerbang sekolahnya, dimana dia masih telanjang bulat sedangkan aku hanya mengenakan atasan. Mobilku bergoyan-goyang karena aksi kami, tentu saja sedikit mencurigakan mobil berkaca gelap terparkir disana dan bergoyang-goyang. Anak-anak sma tampak ramai menuju pintu gerbang tersebut melewati mobilku. Jika mereka penasaran, mereka bisa saja mengintip ke dalam, untung saja tidak ada yang melakukannya. Benar-benar keadaan yang membuat jantungku berdegub kencang, pastinya Sonya juga merasakan hal yang sama.

“Hmm.. sayang, papa sampai..” kataku yang sudah tidak tahan.
“Iya pa.. keluarin aja di dalam” katanya, namun aku punya ide lain.
“Sayang, papa semprotin ke rambut kamu yah??” pintaku.
“ih.. gak ah.. ada-ada aja, masa ke rambut Sonya, ntar lengket-lengket kan.. lagian pake apa mau dibersihkan?”

“Kamu jalan aja cepat-cepat ke toilet.. hehe, bersihkan disana, lama dikit bersihinnya gak papa lah.. mau ya??” pintaku lagi.
“ ihh.. ya udah deh.. dasar mesum” katanya berusaha menjongkok ke bawah jok, aku sendiri sedikit berdiri di atas jok supaya penisku tepat berada diatas rambutnya.
“Hmpph.. sayang papa keluar..”

“Crooot.. crooot” Spermaku memancar mengenai rambutnya, menggumpal disana. Terlihat beberapa tetes turun sehingga makin luas area rambutnya yang tergenang spermaku.
“Ih.. dasar.. jorok, piktor..” katanya dengan wajah yang dicemberut-cemberutkan, membuat wajahnya tampak imut menggemaskan. Akhirnya dia dengan cepat mengenakan seragamnya kembali, merapikan seragamnya dengan rambut yang sedikit kusut karena ulahku barusan. Aku iseng mengambil celana dalamnya dan menyuruhnya masuk ke sekolah tanpa mengenakan celana dalam.
“Nanti siang papa jemput ya sayang..” katanya yang telah turun dari mobil dan akan menutup pintu.

“Iya pa.. Sonya masuk dulu yah..” pintupun tertutup dan dia segera bergegas masuk kedalam sekolah karena takut bila ketahuan bahwa di atas rambutnya ada ceceran sperma, sambil menjauh dari mobilku sesekali dia menoleh ke belakang melihatku sambil tersenyum manis. Sejenak aku perhatikan dia sebelum aku jalankan mobilku. Dia terlihat risih dengan rambut kena sperma dan tanpa menggunakan celana dalam di balik rok sma nya.

Tidak lama setelah dia melewati gerbang depan,ada beberapa perempuan yang mendekatinya, sepertinya itu teman-temannya. Namun Sonya berusaha menghindar dan sedikit berlari, entah apa yang dia katakan pada teman-temannya tersebut, karena sepertinya teman-temannya sudah menyadari ada cairan putih diatas rambutnya. Setelah itu kembali ada seorang cowok yang mendekatinya, ku perhatikan sejenak cowok itu, itu Rahman, pacar anakku. Kali ini juga Sonya berusaha menghindar darinya. Tentu saja.. kalau sampai ketahuan di atas rambutnya ada ceceran sperma, entah apa yang akan dipikirkan teman-teman dan pacarnya itu. Kini dia sudah hilang dari padanganku, ku lajukan mobilku menuju kantorku. Beberapa saat setelah itu ada sms masuk, ku perhatikan bahwa Sonya yang mengirim sms itu, ku ambil hpku dan kubaca isi smsnya.

“Ih, tu kan pa.. hampir ketahuan tadi tuh.. tadi juga repot banget tuh bersihin pejunya papa.. lengket-lengket..” aku tertawa membaca isi smsnya dan ku balas smsnya.
“Hehe.. gak papa sayang.. ayo sana belajar yang rajin.. muachhh :*” isi balas smsku. Tidak lama datang balasannya.
“Muach juga papa ku :*”

**
**

Siangnya aku kembali menjemput Sonya dari sekolahnya. Sesampainya disana ku lihat Sonya sudah menunggu di depan gerbang.
“Lama amat sih pa? cape nungguin dari tadi”
“Iya.. iya.. sorry sayang.. jalanan rame.. oh ya, kali ini kamu yang bawa ya..”
“ha?? Kok tumben malah nyuruh Sonya yang bawa, biasanya Sonya gak dibolehin karena gak punya sim..”
“Kali ini boleh kok sayang.. hehe”
“Ih.. aneh, pasti papa ada maunya nih..” akhirnya kini dia yang menyetir mobil sedangkan aku duduk disebelahnya. Awal-awal tidak ada hal aneh yang ku lakukan padanya, namun lama-lama mulai juga keisenganku.
“Ih.. pa, apa-apan sih..” katanya yang mana aku sedang meraba-raba badannya yang masih berpakain lengkap itu.
“Fokus aja nyetirnya sayang.. ntar ketabrak loh..” kataku tertawa mesum.
“Iya… tapi.. geli pa.. risih nih.. papa ngapain sih”
“Sayang.. buka seragam kamu ya.. biar papa bantu, kamu tetap aja fokus nyetirnya” aku mulai membuka kancing bajunya, kemudian mulai melepaskan pakaian di tubuhnya hingga telanjang. Itu semua aku lakukan saat dia sedang fokus menyetir, tentu saja tidak bisa ngebut saat aku melepaskan pakaiannya.

“Dasar.. ada ada aja nih..” akhirnya kini dia berkendara sambil telanjang, yang mana kadang aku iseng meraba-raba badannya saat dia fokus menyetir. Bahkan saat dia menyetir aku membuka celanaku dan menaikkan badanku berdiri diatas jok dan menyuruhnya mengulum penisku. Jadilah aku menyetubuhi mulutnya namun dengan dia masih dengan pandangan lurus ke depan fokus nyetir hingga kami sampai di rumah. Benar-benar gila.

Malam harinya sebelum tidur kami bersetubuh lagi. Aku masih takut untuk kembali mengeluarkannya di dalam karena aku khawatir apa jadinya kalau dia hamil, sehingga untuk sekian kali aku hanya mengeluarkannya di perut anakku. Sonya sepertinya merasakan sesuatu, dia seperti membaca pikiranku.

“Kenapa pa?”
“Papa takut kamu hamil…” Dia tersenyum mendengar omonganku.
“Kalau papa ingin punya anak dari Sonya, gak papa kok pa..”
“Tapi kan kamu masih SMA, terus nanti gimana dengan sekolahmu? Terus apa kata orang liat kamu hamil gini tapi belum nikah?”

“Gak usah mikirin apa kata orang pa. Biar ini kita berdua aja yang merasakan karena kita yang mengalaminya, bukan mereka, jadi papa gak usah khawatir kalau nanti Sonya hamil, dan juga Sonya rela berhenti sekolah dan melayani papa layaknya seorang istri seutuhnya. Apa papa keberatan?” tanya Sonya menatap lurus ke dalam mataku, meyakinkanku bahwa semuanya akan baik-baik saja.

“kamu yakin sayang?” tanyaku balik padanya. Dia membalas dengan anggukan disertai senyuman manisnya. Kini kudapatkan keyakinan itu, aku tidak gusar lagi memikirkan masalah kehamilannya kelak setelah mendapatkan persetujuan darinya seperti itu karena di satu sisi aku ingin mempunyai anak darinya, putriku sendiri.

“Jadi gimana pa, mau lanjut gak??” tanyanya lagi dengan gaya imut khasnya itu.
“oke.. siapa takut”
“sampai hamil ya pa.. gak usah takut takut lagi hamilin putri papa ini. Sonya siap kok mengandung anak dari papa sendiri.. hihi” pintanya menggoda gairahku lagi yang tadi sempat turun.
“Dasar kamu.. awas, ntar papa bikin kamu gak bisa jalan baru tahu rasa kamu..”
“Hihihi.. mau dong.. suka-suka papa deh.. ” godanya lagi. Aku semakin tidak tahan, akhirnya dia ku libas kembali siang itu, menyetubuhinya sesuka hatiku sepanjang sisa malam tersebut namun mulai malam itu dan seterusnya aku tidak ragu lagi untuk mengeluarkannya di dalam rahimnya.

Semakin hari aku merasa ingin sesuatu yang lebih, memuaskan nafsu serta fantasi sex kami yang semakin gila dan menjadi-jadi. Aku merasa ingin melakukan hal gila dengannya lagi yang belum pernah kami lakukan sebelumnya, setan incest benar-benar telah menguasai kami. Beberapa hari kemudian, hari minggu siang, aku hanya menghabiskan waktuku menonton televisi.

“Pa…” tiba-tiba Sonya datang menemuiku, dia mengenakan pakaian yang biasa dia kenakan di rumah, baju kaos dan celana pendek.
“Ya sayang??”
“hmmmm…” Dia seperti ingin menyampaikan sesuatu, namun sepertinya dia malu untuk mengatakannya.
“ada apa sih?”
“hmmm… pa”
“iya..ngomong aja sayang..”

“gak bosan nih pa?” aku paham maksudnya. Dia ingin aku melakukan hal mesum padanya lagi.
“bosan?? Gak tuh…” aku mencoba menggodanya terlebih dahulu, memancingnya dan membuatnya memohon padaku untuk ku lakukan hal mesum padanya.
“Ihh… pa…”

“Apa sih sayang??” Dia mendekat kepadaku dan menarik tanganku, seperti ingin menarikku beranjak dari kursi yang dari tadi cuma asik menonton tv.
“….” Dia hanya terdiam, tidak tahu apa yang ingin diungkapkannya.
“kamu ngomong dong.. mana papa tau kamu maunya apa..” kataku semakin menggoda dan memancingnya.

“Pliss lakuin hal mesum pada Sonya lagi pa! Sonya mau lebih pa.. Sonya gak tau kenapa Sonya jadi merasa begini..” Pintanya dengan suara lantang kepadaku. Ya.. anakku kini seperti budak seks saja, yang meminta hal liar dan mesum untuk dilakukan padanya, sama dengan yang terjadi dengan ibunya dulu yang kini entah dimana rimbanya.

“Pliss pa.. lakukan hal mesum lagi ke Sonya.. yang lebih liar pa… Sonya mohon, Sonya budaknya papa” Dia meracau seperti orang gila. Aku dan anak gadisku kini sudah semakin gila, tidak mempedulikan batas-batas dan norma lagi. Di luar, kami mungkin kelihatan seperti bapak anak yang sangat bahagia, tapi di dalam rumah aku memperlakukan Sonya sebagai pemuas nafsuku.

“Kali ini Papa turutin deh.. bentar” Aku meninggalkannya sebentar dan kembali membawa sebuah kalung anjing dan rantainya. Aku kalungkan kalung itu di lehernya dan memegang rantai itu ditanganku.

“Kamu jadi anjing papa yang baik ya hari ini.. itu mau kamu kan?”
“Hihi.. iya pa..” katanya sambil tersenyum dengan imutnya. Rasanya bertolak belakang sekali wajahnya yang imut itu dengan kondisinya yang dirantai anjing ini sekarang. Sebuah sisi Sonya yang tidak pernah diketahui teman-temannya dan orang-orang disekitar kami. Seorang ayah yang menjadikan anak gadisnya yang begitu cantik dan imut sebagai budak seksnya.

“Ngomongnya jangan gitu dong..”
“Ouppss.. sorry pah.. guk guk.. waw.. waw.. hihi”
“Dasar kamu.. yuk jalan-jalan..” ajakku menarik rantai itu membuatnya jadi ikut tertarik. Kamipun berkeliling di dalam rumah dengan kondisi Sonya yang seperti itu. Aku juga sesekali menyuruhnya perintah-perintah layaknya seekor anjing seperti berguling dan lain-lain, yang anehnya dilakukannya dengan suka rela.


**
**

PART 6 FINAL

Delapan bulan kemudian..
“Pa.. sentuh deh.. ” kata Sonya meletakkan tanganku ke perutnya yang buncit. Ku rasakan ada yang bergerak dalam perut anak gadisku ini, ya bayi kami. Sonya akhirnya mengandung anakku.
“Kerasa kan Pa?” tanya Sonya dengan senyum penuh bahagia, ku balas juga dengan senyumku.
“Mau berapa anak pa dari Sonya? Dua? Tiga? Berapapun Papa mau deh pokoknya.. Hihihi..”

“Dasar kamu ini..” Kataku gemas menghimpit dirinya.
“Awh.. duh Pa.. pelan-pelan.. ntar kegencet adek bayinya.. rese ah..” kata Sonya khawatir. Aku ciumi wajah dan bibirnya sambil mengelus-ngelus perut buncitnya saking gemasnya. Ternyata setelah hamil penampilan Sonya malah membuatku semakin bernafsu. Tubuh mungilnya dengan perut membuncit itu betul-betul membangkitkan gairahku. Kini, meskipun dia telah hamil delapan bulan aku masih menyetubuhinya.
“Mau masukin sekarang Pa?”
“Hehe.. ayuk..”
“Huh.. Papa mesum, Sonya udah hamil gede gini masih juga dientotin..”
“Kamu sih, hamil gini malah makin hot aja..”
“Haha.. gak apa kok, lakuin aja sesuka Papa..”
Aku mulai memasuki penisku ke vaginanya, sungguh berbeda rasanya bersetubuh dengan wainta hamil, terlebih wanita itu anak gadisku yang sedang mengandung anakku sendiri. Terasa ujung penisku menyentuh sesuatu di sana.

“Pa.. ngghh.. enak Pa.. terusin.. yang dalam.. setubuhi anakmu ini Pa.. anak kandungmu sendiri ini”
“Ya.. sayang.. ough… kamu memang anak gadis Papa yang paling cantik.. terima penis Papa sayang.. aggh..”
“Nggmmhh…”
“Ougghh.. nnggmmhh..”

Tubuh kami berkeringat karena saking panasnya suasana ini. Wajah kami sama-sama sudah memerah karena kenikmatan. Tubuh anakku malah terlihat semakin menggoda dengan butiran-butiran keringat di badannya terlebih pada perut buncitnya itu. Sonya yang menyadari aku memandang nafsu padanya malah tersenyum-senyum manis padaku yang membuat aku makin birahi pada dirinya. Setelah sekian lama menggenjot vaginanya akhirnya aku pun tidak tahan menahan laju spermaku.
“Sayang.. Papa oughh.. keluar..”
“Iya.. Pa.. barengan yukk.. aghh.. aaaahhh…”
“crooot.. crroott” berkali-kali spermaku menembak masuk ke vagina anak gadisku, menyirami rahimnya yang sedang hamil anakku ini. Akupun rubuh tak berdaya di sampingnya, sungguh nikmat sekali rasanya sensasi ini.

“Ihh.. Papa.. keluar di dalam, ntar adek bayinya marah lho kebanjiran..”
“Hehe.. bisa-bisa aja kamu..” kataku mencubit hidungnya gemas. Kami beristirahat sejenak sebelum memulai ronde berikutnya.
“Udah selesai Pa? atau… mau lanjutin lewat lubang belakang?”
“Hehe.. boleh tuh..”

Ronde berikutnya dimulai, kali ini lubang anusnya yang akan menjadi sasaran kenikmatan penisku. Sonya mengambil posisi menungging membelakangiku, memperlihatkan lubang vagina dan anusnya yang begitu menggoda. Perut buncitnya tampak menggantung dengan posisi seperti itu. Aku lalu melanjutkan menyetubuhinya lewat belakang, ini juga sebuah sensasi yang begitu luar biasa bagiku, menggenjot anusnya ketika dia hamil. Kami akhirnya menghabiskan malam itu dengan bercinta penuh kemesraan berdua. Menikmati masa-masa indah kami yang hanya kami berdua yang tahu.

Aku akhirnya hidup bahagia dengan Sonya, sebuah kebahagiaan yang aku dapatkan ternyata berasal dari anakku sendiri. Sungguh aneh memang, dahulu istriku mengkhianatiku dengan anakku sendiri. Kini aku melakukan hal yang sama dengan anak gadisku sendiri hingga akhirnya ia pun hamil anakku. Ya.. tapi pada akhirnya aku menikmati semua ini. Aku pikir inilah takdir keluarga kami.

Sonya kini menjadi layaknya istriku, ia tidak meneruskan lagi sekolahnya dan melayaniku seutuhnya menjadi ibu rumah tangga yang baik. Meski begitu, kadang sesekali timbul kegilaanku memperlakukannya seperti budak seksku meskipun dia sedang hamil begini, tapi Sonya menikmatinya. Sonya akhirnya melahirkan sebulan kemudian, anak perempuan yang cantik secantik ibunya, Renata namanya. Kami membesarkan Renata dengan baik dan penuh kasih sayang, meyakinkan Renata bahwa aku adalah ayahnya dan bukanlah kakeknya.

Dua belas tahun telah berlalu, aku pikir kegilaan kami ini sudah berakhir. Ternyata kini aku sedang menikmati sosok mungil dibawaku. Bukan lagi Sonya, tapi Renata anakku yang sekaligus cucuku.

“Pa.. nggghh… aagghh.. pelan-pelan, punya Papa gede..” rengek Renata manja.
“Arrggh.. iya sayang, bukan punya Papa yang gede, tapi punya kamu yang kesempitan..”
“Papa keluar sayang.. keluarin di dalam yah?” pintaku.
“Ihh.. ntar lengket-lengket Pa..” kata Renata mencoba menolak. Tapi aku tidak peduli, ku tetap menggenjot vaginanya hingga akhirnya ku tumpahkan semuanya di sana.
“Ahh.. makasih sayang.. enak banget”

“Papa sih nakal, aku masih umur segini dientotin, ntar kalau Rena hamil gimana sekolah Rena? Iya gak Ma?” tanya Renata pada mamanya Sonya yang juga ada di sana.
“Iya.. Papa kamu ini emang nakal, yuk kita kasih Papa pelajaran biar tahu rasa dia..” kata Sonya sambil mendorong tubuhku hingga terlentang ke ranjang lalu menciumiku dengan buas.

“Hihi.. ayukk..” Renata pun ikut-ikutan memegangi tanganku membuatku tak berkutik.
“Ntar giliran lubang pantat Rena ya Pa.. hihi.. gak apa kan ma?” pinta Renata.
“Iya.. tapi habis mama yah..” kata Sonya.
“Sip, oce mah..” setuju Renata.

Aku akhirnya dikeroyok mereka lagi untuk kesekian kalinya, oleh anak gadis dan cucuku sendiri. Menggenjot vagina dan anus mereka bergantian. Yang paling luar biasa tentunya saat menggenjot lubang anus Renata yang masih luar biasa sempit, yang seakan menyedot dan meremas batang penisku kuat-kuat. Tubuh mungil khas anak remaja yang baru tumbuh, jeritan-jeritan manjanya, serta mengetahui bahwa yang sedang aku genjot anusnya dalam posisi menungging ini adalah cucu sekaligus anakku membuatku semakin tidak tahan, hingga akhirnya ku tumpahkan spermaku ke mulut Sonya yang sejak tadi mendampingi Renata yang aku entotin lubang pantatnya itu.

“Ma.. Rena minta juga dong, itunya…” rengek Rena sambil merangkak mendekati mamanya, agar ia juga diberikan sperma yg tertampung di dalam mulut Sonya.

“Kasih dong ma.. kasian tuh, Rena keliatannya kepingin banget..” ujarku. Segera Sonya bangkit dari posisi telentangnya, seraya memberi isyarat agar Rena membuka mulutnya.

“Ayo sayang buka mulut kamu..katanya minta..” suruhku, yang segera dituruti oleh Rena dengan membuka mulutnya lebar-lebar. “Glup, glup,” cairan putih kental dari mulut Sonya sebagian berpindah ke mulut anaknya itu, kapasitas mulutnya yg mungil membuat pipinya tampak mengembung menampung spermaku yg telah bercampur dengan air liur mamanya.

“Glek,” akhirnya berpindahlah cairan kental dalam mulut gadis cilik itu kedalam lambungnya.
“Enak yah sayang?” tanya Sonya pada anaknya itu.
“Enak ma.. sedaaaappp… ” ujar Renata dengan senyum imutnya sambil mengacungkan jempol.
“Ayo… Bilang apa dong sama mama?” tanyaku pada Renata.
“Makasih yah mah.. udah memberikan peju papa kepada Rena…”

“Iya… sama-sama sayang, aduh… Mama jadi gak puas nih, cuma dapet separuh..tapi gak apa deh, demi kamu” ujar Sonya.
“Kamu juga bilang apa dong sama papa?” ujar Sonya kepada anaknya itu.
“Terima kasih ya pa...” ucap renata begitu sopannya.
“Terima kasih untuk apa sayang?” tanya Sonya lagi.
“Terima kasih udah ngentotin lubang pantat Rena.. hihihi”

“Iya.. sama-sama sayang” jawabku sambil mengelus-ngelus lembut kepalanya.
“Sempit kan Pa? sempitan mana dari punya mama?” goda Renata.
“Iya, sempit banget, sempitan punya kamu dong…” jawabku yang langsung dibalas dengan cubitan Sonya ke pinggangku. Kamipun tertawa bersama.

"Ya udah, sekarang kamu bobo.. udah malam nih sayang... besok kamu sekolah kan?" suruh Sonya pada putrinya itu.
"Oce Ma... tapi Pa, besok sebelum pergi sekolah entotin Rena lagi yah Pa.." pinta Renata manja.
"Iya iya" jawabku.

"Jangan lupa lubang belakang dientotin juga" kata Renata lagi sambil berbisik menggoda, membuat aku semakin gemas saja.
"Hihihi, kamu ini.. udah sana bobo.. Papa udah capek itu dari tadi ngentotin kita terus" ujar Sonya.


“Iya deh.. tapi sebelum bobo Rena boleh nyanyi nggak?” ujar renata yg saat itu berbaring dengan posisinya berada diantara aku dan sonya.
“Emang kamu mau nyanyi apa sih sayang?” tanya Sonya.
“Nyanyi pok ame-ame mah..”
“Hmm? Coba mama dan papa mau dengar...”

“Pok ame ame belalang kupu kupu..siang makan nasi kalo malam minum peju… hihihi” senandung Renata dengan suara khasnya, suara anak umur dua belas tahun yang sedang imut-imutnya.
“Hihihi… ih, dasar kamu anak nakal..” ujar Sonya sambil mencubit pipi kiri anaknya itu. Aku juga ikut-ikutan mencubit pipi sebelah kanannya, membuat pipinya jadi tertarik-tarik oleh kami.

“Eh, ada lagi nih ma..”
“Ada lagi? Lagu apa?”
“Lagu satu satu aku sayang ibu”
“Coba kamu nyanyiin...”
“Satu satu aku ngentot ibu, dua dua juga ngentot ayah, tiga tiga ngentot adik kakak, satu dua tiga ngentot semuanya… ih, sayang sih rena enggak punya kakak dan adik, coba kalo punya, pasti udah rena ajak ngentot deh. Kan ntar Papa, kakak sama adik bisa entotin Rena rame-rame… hihihi”

“Ih, dasar kamu, nakal banget sih..” gemas sonya, kali ini Sonya menghimpit tubuh mungil Rena dan menggelitik-gelitik tubuh anaknya itu, membuat Rena teriak-teriak kegelian meminta ampun. Aku sendiri hanya tersenyum melihat tingkah mereka berdua, Sonya dan Renata, putri dan cucuku itu.

“Eh, tunggu dulu ma.. nanti kalau Rena hamil terus punya anak, kalo anaknya cowok boleh ngentotin Rena yah ma?” tanya Rena.
“Iya boleh… dan boleh ngentotin mama juga.. dan kalo anaknya cewek, biar dientotin sama papa, iya enggak pa?” tanya Sonya melirik ke arahku.
“Tentu dong sayang..” jawabku. Takdir memang gila, entah sampai kapan kegilaan ini berlanjut. Ah.. ya sudahlah, kunikmati saja apa yang akan terjadi.



TAMAT
loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kegilaan dengan mamaku"

Post a Comment