Istri yang Sendirian

Namaku Vera, sudah hampir satu tahun aku menemani suamiku pindah ke tugas ke Marseille, sebuah kota lumayan besar di Perancis, sekitar beberapa jam perjalanan menggunakan kereta dari ibukota Paris. Suamiku adalah seorang konsulat bagi kedubes Indonesia di Prancis.

Setahun yang lalu sebelum ia resmi ditugaskan disini, ia melamarku, dan kuterima pinangannya tanpa ragu. Meski pekerjaannya terdengar bergengsi, ia bertugas sebagai sekertaris bagi wakil duta besar Indonesia. Pekerjaannya itu membuat ia teramat sangat sibuk, terkadang ia pulang sangat larut malam. Bahkan ketika pulang pun tak jarang ia membawa tugas ke rumah. Namun aku sangat bangga bisa mendampinginya.

Meski bekerja di kedutaan, kami tak diberi rumah dinas layaknya duta besar dan wakilnya. Maklum, jabatan suamiku tergolong belum terlalu tinggi. Namun kami diberi tempat tinggal di sebuah apartemen tak jauh dari kedutaan. Meski disebut apartemen, gedung berlantai enam tersebut lebih layak disebut rumah susun. Namun kondisinya lebih baik dari rumah susun di Jakarta.



Rata-rata penghuninya adalah orang-orang multi etnis, seperti dari Maroko, Aljazair, dan Turki yang mencoba mengadu nasib di Perancis. Hanya beberapa lansia orang Perancis asli yang tinggal di sana.
Persis seperti layaknya rumah susun, keadaan apartemen selalu ramai dengan teriakan-teriakan bahasa asing yang tak kukenal dari ibu-ibu rumah tangga, tangisan atau tawa anak-anak kecil yang berlari-larian di sepanjang koridor, bau harum masakan rempah-rempah masakan timur tengah, bunyi televisi yang gaduh, dll.
Namun semua penghuni di lantaiku sangat ramah, baik Madame Alfarouq - penghuni di sebelah kamarku yang berasal dari Aljazair, maupun Madamme Emolet - penghuni kamar sebelah kananku yang seorang lansia dan memiliki gangguan pendengaran karena umurnya yang sudah sangat tua. Keadaan apartemen yang selalu ramai mampu mengusir kesepianku yang kerap ditinggal suami bekerja hingga larut malam.

Hari ini kuputuskan untuk berbelanja. Kurapihkan rambutku yang pendek sebahu sambil bercermin di depan kaca. Kukenakan cardigan untuk melapisi babydoll ku yang berwarna hitam dan bermotif polkadot putih pendek selutut. Setelah lengkap memakai stocking hitam tipis dan sepatu boot rendah, aku pun berjalan santai keluar menuju pasar terdekat.
“Selamat pagi, nyonya!” terdengar sapaan ramah yang sangat kukenal.
“Selamat pagi, Damian.” balasku dengan tak kalah ramah.
Damian adalah seorang pria berkebangsaan Maroko berkulit hitam yang bermigrasi ke Paris sekitar 5 tahun yang lalu. Ia bertugas membantu induk semangku yang sudah tua sebagai asistennya. Damien sangat cakap dalam membantu para penghuni apartemen, mulai dari membetulkan keran bocor, jendela yang rusak, dan pekerjaan lainnya. Meskipun berbadan tinggi dan besar, ia sangat ramah kepada para penghuni apartemen. Pada mulanya aku sedikit segan kepadanya, dibandingkan dengannya mungkin aku hanya setinggi dadanya. Namun ia rajin menegurku bahkan membantu membawakan belanjaan ketika aku pulang dari pasar.
Sore itu selepas aku pulang dari pasar, kuputuskan untuk mencuci piring. Namun ternyata lampu dapur tidak berfungsi, sepertinya bohlamnya putus. Aku hanya bisa menghela napas, akan susah bagiku untuk menggantinya sendiri. Langit-langit dapur lumayan tinggi, dan aku tidak memiliki tangga untuk menggantinya.
Setelah lama memutar otak akhirnya aku menemukan ide. Kukenakan lagi cardigan dan aku pun berjalan turun ke lobby.
“Selamat sore, Damian,” tegurku ramah dari balik pintu. Terlihat Damian tengah sibuk membetulkan sebuah radio yang tampaknya milik salah satu penghuni apartemen ini.
“Oh, selamat sore, nyonya Vera. Ada apakah gerangan?” tanyanya dengan bahasa Inggris namun masih tetap kental dengan aksen Maroko.
“Apakah kamu bisa membantuku? Lampu di dapurku putus dan aku kesulitan menggantinya. Apa kamu ada waktu?” tanyaku lagi.
“Tentu! Tentu saja, nyonya. Mari sekarang saya bantu.” ujar Damian dengan senyum ramah seraya menggotong tangga dan mengikutiku dari belakang.
Sesampainya di kamar, kupersilahkan Damian menuju dapur. “Maaf kalau agak berantakan.” ujarku berbasa-basi sambil tersenyum.
“Tidak sama sekali, nyonya! Rumah anda sangat indah.” jawabnya sambil tersenyum.
Sembari ia mengganti bohlam, kami mengobrol ringan di dapur. Kuputuskan untuk membuatkannya kopi sekedar sebagai tanda terima kasih untuknya.
“Sudah, nyonya, lampu anda kini sudah bekerja lagi.” ujarnya sambil merapikan tangga.
“Terima kasih, Damian. Eh, ini silahkan diminum dulu.” Kubawa nampan berisi kopi dan teh ke ruang depan.
Damian nampak ragu namun akhirnya ia seperti tak enak juga menolak tawaranku, apalagi setelah kopinya telah tersaji. Ia pun duduk santai di sofa sambil menyeruput kopi bersama denganku. Kami mengobrol lumayan banyak, ia tampak terbuka menceritakan tentang kehidupannya. Ia bercerita tentang keluarganya di Maroko, dan pekerjaannya yang dahulu sebelum akhirnya memutuskan mengadu nasib di Perancis.
Ternyata dulu ia sempat belajar untuk menjadi Professional Masseus (tukang pijat di spa) dan berharap bisa mendapat pekerjaan di spa-spa ternama di Perancis. Namun setelah bermigrasi, ia menemui banyak kesulitan dan akhirnya bekerja sebagai penjaga bangunan apartemen ini. Aku pun jadi tergerak mendengar kisah hidupnya, dan terbesit ide untuk memberinya sedikit uang sekedar untuk membantu.
Namun ia pasti menolak apabila tiba-tiba kuberi uang dengan cuma-cuma, dan aku juga takut menyinggung perasaannya apabila kuberi uang begitu saja seperti itu. Akhirnya aku iseng memintanya untuk mendemonstrasikan keahilannya sebagai pemijat profesional, dan nanti setelah selesai aku dapat memberikannya uang sebagai balas jasa.
Dengan begitu Damian mudah-mudahan tidak tersinggung, pikirku.
“Benarkah, nyonya? Wah, saya tidak tahu harus menjawab apa,” ujar Damian girang setelah kuutarakan pikiranku.
“Tidak, apa-apa. Aku jadi penasaran setelah mendengar ceritamu tadi. Kebetulan aku pegal-pegal beberapa hari ini.” kilahku.
“Kalau begitu, baiklah. Semoga nyonya menyukai pijatan saya.” ujarnya berbinar-binar.
Aku pun merasa bangga mampu membantu Damian seperti ini. Berikutnya Damian memintaku dengan sopan untuk berbaring telungkup di atas sofa. Setelah aku berbaring, Dia mulai memijiti kakiku. Dengan pelan Damian mulai menekan kakiku yang berlapis stocking hitam tipis, mulai dari pergelangan hingga ke betis. Aku memejamkan mata menikmati pijatannya. Tangannya yang besar membuat rasa pijatannya semakin mantap meski tak menggunakan lotion.
Damian kemudian mulai memijati punggungku. Aku pun mulai agak mengantuk menikmati pijatannya yang kuakui memang enak. Lama memijat, Damian menjadi lebih banyak diam dan berkonsentrasi. Hanya terdengar suara napasku yang pelan dan suara napas Damian yang entah kenapa terdengar semakin berat.
Aku nyaris saja terlelap ketika tiba-tiba kurasakan tangan besar Damian meremas gemas bongkahan pantatku. Aku segera tersadar dan membalik badan. Perasaanku tak karuan, antara marah dan tak percaya. Kupandangi Damian dengan tatapan bingung dan marah. Damian terlihat kaget juga, mungkin ia tak menyangka aku bakal menyadari kekurang-ajarannya itu.
“D-Damian.. aku harap hal barusan itu tidak disengaja,” ujarku dengan nada serius.
Damian terdiam agak lama. “Maaf, nyonya, sejujurnya saya tidak bisa menahan diri. Hal tadi memang saya sengaja.” jawabnya dengan nada menyesal.
Aku tak lagi mampu berkata-kata, rasanya aku ingin marah besar. Hampir saja aku berteriak dan mengeluarkan sumpah serapah, namun aku masih bisa menahan diri. “Silahkan keluar.” ujarku tegas dengan nada datar.
Damian masih terdiam, dan akhirnya berkata pelan, “Maaf, nyonya.”
Namun yang tak kupercaya adalah apa yang Damian lakukan berikutnya. Sejenak kukira ia akan bergegas keluar, namun ternyata ia malah bergerak maju dan menerkamku. Direngkuhnya tubuhku kuat-kuat hingga aku merasa agak sesak napas.
“D-Damian..?!” Aku begitu terkejut hingga tak bisa berkata-kata. Badan Damian yang jauh lebih besar dan lebih kuat dariku membuatku tak mampu melepaskan diri dari rengkuhannya.
“Damian.. lepaskan aku!” perintahku dengan nada suara bergetar. Rasa takut mulai timbul di dalam diriku.
Namun Damian tidak mendengarkan, malahan ia merangsekkan wajahnya di leherku. “Oh, nyonya... anda begitu cantik...” ujarnya di sela-sela berusaha mendaratkan ciuman di leherku.
“Da-Damian... hentikan! Tolong hentikan!” ujarku makin ketakutan. Tenaga Damian yang begitu besar tak mampu kubendung. Rontaanku hanyalah sekedar geliatan sia-sia belaka.
Kini hidung Damian terus mengendusi leherku tanpa henti. Aku merinding antara jijik dan ketakutan. Aku tak menyangka Damian yang begitu ramah dan baik kepadaku tega berbuat seperti ini. Tak terasa setitik airmata mulai mengalir di pipiku. Kedua tangannya tak henti-henti merabai sisi badanku. Semakin lama badannya semakin rapat dan menindih badanku.
“Nyonya, jangan menangis. Anda terlalu cantik untuk mengeluarkan air mata. Mohon mengertilah, nyonya, saya tidak ada niatan untuk menyakiti anda.” rayunya berusaha menenangkan diriku.
 Aku begitu ketakutan hingga menangis tanpa suara. Tenggorokanku seakan tak mampu mengeluarkan kata-kata. Sedari tadi aku berusaha berteriak minta tolong, namun tak ada satu pun suara yang keluar dari mulutku kecuali isakan pelan.
Damian terus mengendusi leherku tanpa henti. Kini diangkatnya babydoll-ku sedikit ke atas hingga sebatas perut, lalu dengan cepat ia masukkan kedua tangannya ke dalam dan mulai mengelusi kedua sisi tubuhku perlahan-lahan.
Tangisku makin menjadi-jadi. Dalam benakku terbayang wajah kecewa suamiku apabila ia mengetahui bahwa istrinya ini tengah dinodai oleh orang lain. Aku mengutuk Damian, dan mengutuk badanku yang tak sanggup melawan invasi Damian. Mataku terbelalak ketika merasakan kedua tangan Damian telah menggenggam kedua payudaraku dari luar bra. Tangannya yang tadi masuk ke dalam babydoll kini sudah naik sebegitu tinggi hingga ke daerah dada.
“Oh, nyonya, badanmu begitu mempesona... dan dadamu...” Damian tak melanjutkan perkataannya, melainkan ia mulai meremas payudaraku dengan pelan.
Meski payudaraku cukup besar bagi ukuran orang Asia, namun ukuran tangan Damian yang besar mampu menampungnya dengan pas di kedua telapak tangan. Diremasnya lembut secara berirama kedua payudaraku yang berada di telapak tangannya.
“Arghhh!” Aku segera berontak ketika Damian mulai meremas-remas keras.  Namun tubuhnya yang begitu besar menindihku sehingga aku tak berdaya dan tak bisa kemana-mana.
“Sabarlah, nyonya. Saya janji tidak akan menyakiti anda.” rayunya lagi dengan suara bergetar penuh nafsu.
Aku hanya bisa kembali menitikkan air mata sembari menahan rasa jijik. Aku memohon dalam hati agar penderitaan ini cepat usai. Yang membuatku makin jijik adalah rasa nikmat yang ditimbulkan dari pijitan Damian. Tangannya yang begitu terampil sebagai pemijit mampu membuat payudaraku diam-diam merasa enak dibuatnya. Kufokuskan pikiranku dan kuenyahkan perasaan itu sejauh-jauhnya dari kepala. Namun tubuh dan akal sehat seringkali tak sejalan, dan kali ini ia mulai mengkhianatiku.
Badanku menggelepar panik ketika kedua telunjuk Damian munyusup masuk ke dalam bra. Kedua telunjuk sialan itu dengan lembut mengusap dan merangsang puting susuku sedemikian rupa hingga lama kelamaan putingku berdiri mengeras dan makin sensitif.
“Damian.. hentikan, Damian! Aku mohon..” ujarku dengan suara lirih diiringi isakan pelan.
“Mengapa, nyonya? Bukankah enak, nyonya?” balas Damian bertanya balik kepadaku.
Perkataan tadi bagaikan tamparan kencang di pipiku, aku merasa malu. Bagaimana mungkin dalam keadaan paksaan seperti ini badanku malah bereaksi terhadap perbuatan Damian?
Namun kenyataannya hal itulah yang terjadi. Puting susuku kini mengacung keras dan makin sensitif di setiap usapan telunjuknya. Aku tak bisa lagi memungkiri rasa geli yang kian kuat terasa di puting susuku.
Puas memainkan kedua puting itu, kini Damian menarik babydoll-ku ke atas hingga sebatas leher. Dengan paksa dibukanya kedua cup bra ku ke atas. Aku hanya bisa menutupi kedua payudaraku dengan kedua tangan, namun sayangnya kedua tanganku kalah kuat dibanding tenaga Damian. Ditahannya kedua tanganku di atas kepala hingga aku tak bisa lagi menutupi payudaraku yang kini terpampang bebas tanpa penutup.
“Hiks... aku mohon, Damian, hentikan ini sekarang juga!” mohonku.
Tetapi Damian yang sudah begitu kalap tak memperdulikan permohonan itu. Kedua matanya tak berkedip memandangi payudara indah di depannya, lengkap dengan dua puting susu coklat kemerahan yang mengacung tegak di kedua pucuknya.
“Kyaaa!!” aku memekik ketika tanpa ragu Damian menerkam payudaraku. Dijilatinya rakus hingga habis semua. Kedua puting susuku juga tak luput dari sapuan lidahnya yang hangat dan basah.
Berikutnya Damian mulai mengisapi puting susu kiriku dengan kuat. Dihisapnya sekuat tenaga dengan gemas hingga mendecit-decit. Aku hanya bisa merintih antara geli dan ngilu karena hisapannya yang sangat bersemangat itu.
Lama Damian menetek di kedua payudaraku. Rasa jijik dan takutku kini makin bercampur aduk dengan rasa geli yang ditimbulkan dari hisapan Damian di kedua puting susuku. Semakin lama badanku semakin lemas, dan rontaanku kian melemah. Badanku seperti menyerah pada rangsangan lidah Damian yang tanpa henti itu.
Puas menetek, Damian mengambil napas sejenak. Ia diam memperhatikanku yang kini hanya bernapas lemah dengan mata terpejam. Kedua puting susuku mengkilat merah akibat hisapan liarnya. Dibelainya lembut diriku yang masih terengah-engah kehabisan napas, kegelian menetekinya.
“Awwh..!!” aku memekik pendek ketika Damian iseng menyenggol puting susuku. Puting itu kini menjadi sangat sensitif setelah dirangsangnya bermenit-menit. Bahkan sentuhan pelan di putting itu akan sangat terasa geli bagiku.
Keadaanku yang tak berdaya itu dimanfaatkan Damian dengan sangat baik. Tangan kanannya kini merabai paha dan selangkanganku. Kemudian dengan beraninya ia mengusap kemaluanku dari luar celana dalam. Aku menggelinjang menghindari usapannya, namun tentunya Damian tak berhenti begitu saja. Kini bahkan usapannya makin kuat dan gesit di permukaan celana dalamku.
“Ahh.. Damian, sudah! Kumohon... sudah! Hentikan!” kembali aku memohon kepadanya. Aku takut aku akan jatuh ke dalam perangkapnya.
Damian hanya diam tersenyum, ia seakan tahu aku tengah mengalami pergolakan batin yang amat hebat. Akal sehatku berusaha tetap sadar, namun tubuhku mengikuti kemauan Damian. Terlihat celana dalamku kini telah basah akibat usapan-usapan tangan terampil Damian. Aku memalingkan wajah berusaha agar tidak merasakan usapan Damian, namun tetap saja aku tak sanggup. Tangan terampil Damian terus menggoda imanku. Jari telunjuknya kini menekan-nekan bibir vaginaku dari luar celana dalam, berusaha menekannya lebih dalam. Kugigit bibirku sekuat tenaga menahan rangsangan itu.
Tak lama Damian menelusupkan jemarinya ke dalam celana dalamku dari sisi samping. Aku terhenyak dan langsung mengapitkan kedua pahaku rapat-rapat. Kemaluan yang hanya diperuntukkan untuk suamiku ini kini tengah dirabai oleh orang yang bukan haknya. Hatiku menangis pilu, memohon maaf kepada suamiku karena tak becus menjadi istri yang menjaga kesuciannya.
“Aaahh...” aku mendesah pelan tak kuasa merasakan rabaan lembut jari Damian di permukaan vagina. Wajahku memerah malu ketika Damian memergoki vaginaku yang sudah agak basah akibat rangasangannya sedari tadi.
“Sudah kubilang kan, nyonya, saya tidak akan menyakiti anda.. justru sebaliknya..” bisik Damian dengan nada menggoda.
Kupejamkan mata dalam-dalam berusaha tetap tenang. Namun jemari Damian tak henti-hentinya terus meraba, diusapnya bibir kemaluanku serta sesekali klitorisnya juga. Darahku kian berdesir-desir ditingkahi rabaan cabul Damian di kemaluanku. Bibir vaginaku kian merekah dan licin meyambut tarian jemari Damian. Jari itu terus bergerak mengikuti garis vertikal di sepanjang bibir vaginaku. Ketika sudah sangat licin, Damian berinisiatif memasukkan jari telunjukknya lebih dalam.
“Ahhhggg..!!” aku mendesah tertahan. Setengah jari Damian telah merangsek masuk di kemaluanku. Jarinya yang besar itu menggocek-gocek pelan kemaluanku yang rapat. Licinnya permukaan vaginaku memudahkan Damian menggerak-gerakkan jarinya di dalam.
Kugigit bibirku kuat-kuat. Aku tak ingin mengakui bahwa kali ini rangsangan Damian membuatku kalang kabut keenakan. Tiap gerakan jarinya mengobok vaginaku seakan membuat badanku kian lemas. Otakku mengirimkan sinyal-sinyal kenikmatan ke seluruh tubuhku, membuatku menggelinjang-gelinjang mengikuti gerakan jemari Damian. Aku makin kalap ketika Damian menekan jarinya lebih dalam lagi hingga seluruhnya masuk ke dalam vagina. Tanpa sadar aku makin terpejam keenakan sambil mendesah lirih.
Damian tampak puas melihat reaksi tubuhku yang kini tenggelam dalam rangasangannya. Mulai dikocoknya jarinya keluar masuk pelan-pelan, sembari jarinya dilengkungkan seperti kait di dalam kemaluanku.
“Ough.. Damian, stop!!” ujarku yang makin mabuk kenikmatan ketika Damian melancarkan serangan jarinya secara terus menerus. Cairan basah yang makin banyak keluar dari vaginaku kian melancarkan gerakan jari-jemarinya.
Damian terus menggoyang-goyangkan jarinya dengan tempo yang semakin cepat. Kakiku secara otomatis mulai merenggang, mempersilahkan Damian untuk terus memainkannya. Demi membuatku makin puas, dicubitnya puting kananku oleh tangannya yang satu lagi.
Gelinjangan badanku kini tak mampu lagi dibendung. Aku terus bergerak-gerak liar seperti cacing kepanasan. Jari Damian yang besar-besar adalah satu faktor utama yang dapat membuatku kelimpungan seperti ini. Bayangkan, dua jarinya saja nyaris menyamai ukuran penis suamiku. Tak heran aku mampu dibuat keenakan seperti ini.
Beberapa menit berselang, gerakan jari Damian makin cepat dan aku pun makin tak mampu mengontrol kenikmatan yang ada di dalam diri. Pinggulku kini ikut bergoyang-goyang kencang akibat kocokan jarinya. Vaginaku seperti diaduk-aduk rasanya. Dan tak heran dalam beberapa menit berikutnya, orgasmeku pun meledak.
“Arrrghh! Daaamiaaaannhh..” aku mendesah panjang memanggil namanya ketika saluran vaginaku berkedut kencang berkontraksi dan mengeluarkan cairan licin lebih banyak lagi.
Beberapa detik aku serasa di awang-awang, melayang bebas dan kemudian terhempas lagi ke bumi. Napasku tersengal-sengal kehabisan udara, Damian tampak berbinar-binar melihatku yang baru saja tiba di puncak. Dijilatinya jarinya yang belepotan cairan vaginaku.
“Bagaimana, nyonya? Saya tidak berbohong, kan?” tanyanya sembari tersenyum.
Aku hanya bisa terdiam, memandang jijik ke arahnya. Ingin rasanya aku meludahi mukanya. Aku tak mengira aku bakal orgasme dibuatnya. Kini Damian berdiri di samping sofa, sementara aku masih terkulai lemas. Dengan santai Damian memulai mempreteli kancing bajunya, dan memelorotkan celananya. Seketika dadaku berdegup kencang lagi.
“Jangan, Damian. Hentikan... kumohon, jangan diteruskan lagi.” ujarku masih dengan napas agak tersengal-sengal.
Damian tak menggubris permohonanku, kini ia tinggal mengenakan celana dalamnya saja. “Ayolah, nyonya, puaskan saya juga.” ujarnya sembari menanggalkan celana dalam.
Kedua mataku terbelalak melihat batang keras di antara kedua pahanya. Bulu kudukku merinding seketika melihat ukuran penis Damian. Dia yang notabene adalah orang kulit hitam tentu saja memiliki batang yang luar biasa besar. Dan mitos itu memang benar adanya.
Batang penis Damian terlihat tegak mengacung nyaris mencapai pusar, berwarna hitam legam, dan juga berurat-urat. Lebih tepat disebut terong atau mungkin ular boa ketimbang penis manusia. Melihat diameter dan panjangnya membuatku bergidik ngeri, bisa-bisa robek dibuatnya kemaluanku apabila ditembus penis sebesar itu. Segera aku bertindak dan berupaya kabur lagi, namun Damian dengan cekatan segera menimpah tubuhku lagi di atas sofa dan mengunciku di bawahnya.
 “Jangan takut, nyonya, saya janji anda akan menyukainya.” bisiknya berusaha menenangkan.
Namun aku begitu ketakutan dan tetap berontak, aku tak mau kemaluanku rusak sehabis ditusuk batang penis Damian yang luar biasa besar itu. “Jangan, Damian, jangaan..!” ujarku berusaha menghentikannya.
Tetapi Damian sangat terampil, ia tak buru-buru memasukkan penisnya. Ia juga tahu apabila dimasukkan langsung pasti akan membuatku kesakitan. Maka dengan lembut Damian menggesekkan batang penisnya yang hitam berurat itu di bibir vaginaku agar aku lebih rileks. Digenggamnya kedua pergelangan kakiku dan didorongnya ke atas hingga kedua lututku nyaris menyentuh pundak. Dengan posisi begitu otomatis vaginaku terpampang lebar, dan Damian pun langsung menggesekkan batangnya dengan khidmat.
“Aah... sudah, Damian. Hentikaan...” mohonku sambil menutup mata rapat-rapat.
Batang penisnya yang tebal dan berurat mengundang sensasi kenikmatan tersendiri ketika bergesekan dengan bibir kemaluanku yang sensitif. Pinggulnya bergerak maju mundur menggesekkan seluruh permukaan batangnya di kemaluanku. Sensasi kenikmatan yang muncul lagi itu tak ayal memancing vaginaku untuk kembali memproduksi cairan pelumas lebih banyak lagi.
Kini Damian sesekali menodongkan kepala penisnya dan menekan bibir kemaluanku seperti mengecek kesiapannya dalam menerima penetrasi, sambil kemudian ia kembali melanjutkan ritual menggesekkan batangnya di kemaluanku. Kuakui Damian sangat sabar dan telaten dalam memancing libidoku lagi, ia tak buru-buru mempenetrasi kemaluanku dan terus memancing agar aku makin terangsang dan semakin licin hingga nanti mudah memasukkan penis di vaginaku.
Napasku kembali tersengal-sengal, gesekan Damian berhasil memancing libidoku lagi. Kini cairan vaginaku bahkan mulai meluber keluar dan kian membasahi batang Damian lebih banyak lagi. Sesekali dicocolnya kemaluanku seakan memancing vaginaku agar merekah lebih lebar. Dan kini Damian mulai mencocol lebih dalam. Ditekannya agak kuat sehingga nyaris kepala penisnya masuk semua.
Aku menggelinjang geli menerima sodokannya. Dalam hati aku berdoa agar vaginaku tidak apa-apa. Namun Damian tetap sabar, ditariknya lagi kepala penisnya keluar dan dengan lembut dicocolnya lagi sedikit lebih dalam dari yang tadi. Damian sepertinya tengah membiasakan vaginaku yang belum terbiasa dengan diameter penis sebesar itu. Dibanding penis Damian mungkin vaginaku hanya seukuran vagina gadis kecil saja, jadi wajar Damian sangat berhati-hati agar aku tidak kesakitan.
Damian terus mencocol kepala penisnya seperti tadi, tidak terlalu dalam dan kemudian dicabutnya lagi. Terus menerus seperti itu. Hampir lima menit lewat hanya untuk membiasakan vaginaku dengan kepala penisnya. Namun tak bisa dipungkiri, hanya dengan kepala penisnya saja aku sudah dibuat keenakan begini, apalagi jika seluruh batangnya masuk?
Ah tidak, kenapa aku malah berpikiran seperti ini. Kenapa aku malah semakin menikmati perkosaan Damian? Oh, suamiku, apa yang harus kulakukan?
Kali ini Damian menerobos masuk agak lebih dalam hingga setengah batang penisnya tenggelam. “Mmmggh!” aku meringis sambil mengernyit.
“Anda tidak apa-apa, nyonya?” tanya Damian penuh perhatian.
Aku hanya menggeleng cepat. Tidak terasa sakit, namun lebih tepatnya ngilu. Vaginaku tidak terbiasa dengan ukuran diameter seperti itu, bahkan ukuran penis suamiku saja tidak ada setengahnya. Kali ini didiamkannya penisnya di dalam vaginaku. Damian hanya sedikit menggoyang-goyangkan pinggulnya, beberapa centi keluar dan masuk. Namun aku benar-benar gelagapan dibuatnya sampai ternganga-nganga.
Lama bermain setengah batang seperti itu, akhirnya Damian menekan pinggulnya lagi hingga hampir seluruh batangnya masuk ke dalam vaginaku. Mungkin hanya tersisa seperempat yang tidak muat. Aku terhenyak oleh gerakan tiba-tiba Damian itu. Kucengkeram lengan sofa kuat-kuat sambil menggigit bibir.
“Ough... Damian, sudah! Damian..” desahku sambil meringis.
“Iya, nyonya, sudah hampir masuk semua.” ujarnya sembari membelai mesra rambutku.
Vaginaku yang sudah sedemikian licin sedikit membantu pergerakan penis Damian di dalam. Meski hanya gerakan-gerakan kecil, namun perlahan batangnya mulai terlihat memompa.
“Ough tidak, Damian.. tidaak!” ujarku sambil mencengkeram sofa kuat-kuat. Vaginaku terasa penuh sesak oleh batangnya, tiap gerakan sedikit saja yang menggesek liang vaginaku menimbulkan rasa nikmat luar biasa.
Damian kini mulai menambah kecepatan genjotan, ayunannya pun makin panjang. Meskipun masih terasa kesat namun penisnya kini bergerak lumayan lancar keluar masuk di vagina. Bibir dalam vaginaku tampak seperti ikut tertarik keluar tiap kali Damian menarik mundur pinggulnya. Nafas kami berdua makin memburu, keringat pun mulai bercucuran di sekujur tubuh kami.
Tempo ayunan pinggang Damian makin meninggi dan meninggi. Hingga akhirnya Damian menghentakkan pinggulnya ke depan kuat-kuat, menenggelamkan seluruh batang penisnya ke dalam rongga vaginaku. Terdengar bunyi Plak! yang sangat kuat antara kulit Damian yang menampar keras kulitku. Ditekannya dalam-dalam penisnya, sembari Damian mendengus puas.
Aku melotot seperti mau copot kedua bola mataku. Begitu dalamnya penis Damian menghentak masuk hingga seperti terasa ke ulu hati. “Unnngghh.. Damiaanhh..” Aku menggelinjang lembut, begitu pula pinggulku yang seperti kejang-kejang pelan.
“Uuggrrhhh...” Damian mendengus sambil memejamkan matanya dalam-dalam, dia menikmati otot vaginaku yang berkedut-kedut mengurut batang penisnya yang tertanam begitu dalam.
Batang penis itu serasa tertekuk di dalam karena tak muat di rongga vaginaku yang begitu kecil dan sempit. Mataku memutih merasakan sinyal kenikmatan yang mengalir ke seluruh tubuhku. Penis Damian tak sengaja menyentuh titik terdalam dari vaginaku yang memancing rasa kenikmatan yang luar biasa, yang tak pernah tersentuh dan kurasakan sebelumnya.
Ujung penisnya bersentuhan dengan bibir rahimku sehingga menimbulkan geli dan nikmat yang sangat dahsyat. Wajar saja, penis suamiku tak mampu mencapai titik itu sebelumnya. Berbeda dengan penis Damian, ukurannya yang di luar rata-rata mampu meraih daerah tersebut dengan mudah. Aku menggelinjang seperti cacing kepanasan, dan Damian sepertinya tahu ia telah menemukan titik kelemahan melihat dari reaksiku yang sangat menikmatinya.
Dia pun kini terus mendesak-desak maju menempelkan ujung penisnya di bibir rahimku, membuatku jadi makin gila. “Nikmat, nyonya? Anda suka?” tanya Damian bersemangat sembari terus menohok-nohok bibir rahimku dengan ujung penisnya.
Aku tak mampu menjawab dan hanya bisa terpejam-pejam sembari menggeliat-geliat penuh nafsu. Hanya suara nafas beratku yang menjawab pertanyaannya. Damian tak perlu repot-repot menggenjot penisnya untuk membuatku terbang ke awang-awang, cukup ditekan-tekannya saja penis itu aku pun sudah kelojotan seperti ini. Dalam hati aku tak percaya dengan pengalaman yang kurasakan.
Seks memang nikmat, namun tak pernah senikmat ini, pikirku.
Hanya dengan sedikit goyangan aku mampu dibuat merasakan sensasi yang tak pernah kurasakan sebelumnya, bahkan seluruh kenikmatan seks yang selama ini telah kulakukan dengan suamiku belum mampu menyaingi kenikmatan yang kurasakan kini. Dan akupun tak percaya dengan keajaiban vaginaku, melihat dari ukurannya mustahil vaginaku bisa menelan seluruh batang Damian. Namun kenyataannya penis Damian kini tertancap dalam hingga ke pangkal-pangkalnya.
Aku tak lagi mampu berpikir lurus, semua rasa bersalah dan berdosa terhadap suamiku dan kesucian rumah tanggaku telah hilang entah kemana. Yang ada di  otakku adalah kenikmatan dan kenikmatan saja. Aku haus akan kenikmatan seperti ini, kenikmatan seks yang sesungguhnya. Kuraih leher Damian dan berpegangan lebih kuat.
“Ahhh... aahh... nikmat sekali, Damian. Jangan berhenti...” desahku seperti orang kesurupan.
Damian pun menuruti permintaan itu, terus disogoknya bibir rahimku hingga terasa makin geli dan nikmat. Mataku memutih, dan air liur pun menetes dari sudut bibirku yang senantiasa mangap dan mendesah. Damian begitu takjub melihat ekspresiku yang seperti itu, dijilatnya air liur yang terus menetes dari mulutku.  Begitu hebatnya kenikmatan yang diberi Damian hingga aku tak sadar mengences. Bibir rahimku pun tak kuat lagi menahan rangsangan dari penis Damian, hingga akhirnya aku tak kuat membendung orgasmeku yang kedua di hari itu.
“Damiaaaaaaaaaaahhhhnnnn...” ujarku sambil mendesah panjang.
“Urrgh... nyonya, ohh! Nyonyaaa...” Damian meringis dalam kenikmatan ketika batang penisnya diremas kuat-kuat oleh dinding vaginaku yang memang sudah sangat sempit.
Ditariknya kemaluannya keluar, membiarkan banjir bandang dari vaginaku bobol. Vaginaku tak henti-hentinya berkedut sambil terus menyemburkan cairan setengah encer-setengah kental dari dalam, begitu banyaknya hingga mengotori sofaku habis-habisan.
Sekali lagi aku terbang ke awang-awang, namun kali ini jauh lebih tinggi dari yang biasa. Aku mengalami ekstasi yang luar biasa hingga tak bisa mengontrol seluruh otot tubuhku yang kejang-kejang kaku.
Beberapa detik yang mengasyikkan itu pun akhirnya berlalu, kejang-kejangku mereda dan aku pun kembali terkulai terengah-engah. Begitu tersadar, Damian ada di sana sembari menatapku dengan senyum lembut dari sisi sofa sambil mengusap-usap rambutku mesra. Kutatap balik wajahnya dengan rasa campur aduk, terlintas beribu tanya di benakku.
Bagaimana mungkin ia bisa membuatku orgasme seperti ini? Mengapa suamiku tak pernah lagi menyentuhku akhir-akhir ini dan memberikan kenikmatan seperti itu padaku?
Sembari terhuyung-huyung aku berusaha duduk di sofa, dan langsung menyambar bibirnya. Dibalasnya tak kalah lembut ciumanku oleh Damian. Entah apa yang membuatku reflek memagut bibirnya, namun entah kenapa ada dorongan yang menyuruhku berbuat demikian. Kucium dan kupagut makin liar bibirnya. Rasa gemas, kesal, syukur, dan haru, kutumpahkan semua dalam ciuman itu.
Kami menyudahi pagutan dengan terengah-engah. Damian kembali menatapku dengan pandangan mesra dan membelai pipiku lembut. “Anda cantik sekali tadi ketika tengah orgasme, nyonya.” ujarnya sambil tersenyum.
Aku pun hanya bisa menunduk dan memerah malu mendengar pujiannya.
“Mari kita lanjutkan, nyonya.” ajaknya sembari merengkuh tubuhku.
Lagi?! pikirku dalam hati.
Dadaku kembali berdebar-debar ketika Damian mengangkat tubuhku di kedua lengannya dan membawaku ke kamar tidur. Direbahkannya aku dengan lembut sembari ia menaruh bantal di belakang kepalaku untuk menyangga. Begitu posisi kami mantap, Damian merendahkan tubuhnya dan kembali menciumi bibirku dengan mesra.
Anehnya libidoku kini naik lagi! Padahal biasanya setelah sekali berhubungan dengan suamiku, aku tak pernah bernafsu lagi. Tetapi kini setelah dua kali orgasme, aku mampu dibuatnya kembali bernafsu. Apalagi kini Damian kembali melakukan ritual menggesekkan batangnya di kemaluanku. Cukup satu kali gesekan, nafsuku langsung menggelora. Bibir vaginaku yang kini makin sensitif mungkin salah satu alasannya.
Ugh, entah kenapa kini Damian begitu menggairahkan di mataku. Ingin rasanya kulumat habis badannya, hal ini tercermin dari bagaimana liarnya aku membalas pagutan Damian.
Damian seperti tahu aku sudah siap lagi disetubuhi, maka segera ia arahkan tongkat ajaibnya dan langsung dicoblosnya lagi memekku dalam-dalam.
“Ouuugghhh!!” aku mengerang panjang, seketika otakku kembali mengirimkan sinyal-sinyal kenikmatan ke seluruh tubuhku.
Kali ini tanpa banyak kesulitan penis Damian dapat masuk dengan mudah. Nampaknya vaginaku sudah mulai terbiasa dengan penisnya. Masih dalam posisi saling bertindihan dan berciuman seperti tadi, Damian dengan lancarnya memasukkan penis itu.
“Mmmuuach... ayo, Damian, lakukan lagi.” ujarku dengan tidak sabar sembari melepas ciuman kami.
“Mmmhh... baik, nyonya cantik.” ujar Damian setengah menggoda.
Dia kini berlutut dengan kedua dengkulnya, dipeganginya lagi kakiku hingga menempel pundak. Dan kali ini Damian langsung tancap gas, dia menggenjot dengan cepat dan kuat.
“OUGH...!! IYA, DAMIAN... SEPERTI ITU! OUGHH... IYA! OUGH!” ujarku sambil berteriak kencang menerima gesekkan liar batang Damian di dinding vaginaku.
Padahal keadaan kala itu masih sore, namun aku tak peduli lagi apabila tetangga mendengarku berteriak-teriak keenakan seperti ini. Untungnya madame Emolet di sebelah kamarku sudah tuli karena tua, dan madame Alfarouq di sebelah kamarku yang satu lagi selalu bising rumahnya oleh suara tv dan canda tawa ke lima anaknya, sehingga tak akan ada yang mendengar desahanku.
“Ouggh.. nyonya! Oouugh.. nikmatnya.” ujar Damian yang tak henti menggenjot vaginaku kuat-kuat. Sesekali ia juga meracau dalam bahasa aslinya yang tak kumengerti. Lucunya aku pun terkadang juga ikut meracau dalam bahasa Indonesia saking keenakan digagahi oleh Damian.
“Iya, Damian... terus, Damian.. ya ampun, enaknya kontolmuuu.” ujarku meracau dalam bahasa Indonesia. Aku pun heran, tak pernah sebelumnya aku meracau vulgar seperti itu tiap berhubungan dengan suami.
Mataku kembali memutih dan terpejam-pejam, air liurku lagi-lagi menetes hingga ke pipi. Aku mulai memasuki kondisi trance, lupa daratan dan seperti hilang kesadaran. Aku tak lagi ingat suamiku, tak lagi ingat bahwa aku adalah istri orang, bahwa aku telah ikut menodai kesucian pernikahanku. Yang ada di pikiranku sekarang hanyalah kenikmatan.
Damian mengajakku naik lebih tinggi lagi. Bunyi tamparan senantiasa tercipta hasil dari tabrakan antara pahaku dan pahanya. Ranjang pernikahanku ikut berderit-derit akibat genjotan liar Damian. Damian terus mendengus-dengus bak banteng liar, dan aku adalah betinanya. Secara naluriah kulebarkan kakiku sebisa mungkin hingga nyaris seperti split di udara, menyambut tiap genjotan piston penis Damian.
Vaginaku begitu becek dan basah hingga meluber ke kanan dan kiri, bahkan menetes ke bawah ke anusku dan ke sprei. Adukan penis Damian membuat cairan vaginaku menjadi berbuih dan mengental, yang tadinya bening kini mulai berwarna putih terang. Bunyi kecipak vaginaku makin nyaring terdengar bak bubur yang tengah diaduk, yang mampu membangkitkan nafsu siapa pun yang mendengarnya.
“Damiaan.. oouhh Damiaan.. jangan berhenti, Damian...” racauku dengan mata yang kian memutih.
Damian kini berganti posisi menunduk dan menetek di puting kiriku. Otot panggulnya berkedat-kedut tiap kali ia menggenjot vaginaku dalam-dalam. “Oh nyonya, anda wanita terliar yang pernah saya temui. Saya tak kuat nyonya...” ujarnya meringis-ringis manja.
Sprei yang kami tiduri telah acak-acakan, basah oleh keringat kami dan juga menggenang basah di bagian bawah pantatku akibat cairan yang keluar dari vagina. Kedua badan kami melekat lengket, bersatu dalam gerakan-gerakan liar. Damian terus menggenjotkan tongkatnya, diiringi oleh goyangan liar pinggulku. Oh, tak bisa dilukiskan betapa nikmat rasanya. Akhirnya aku mengerti arti dari kata ‘Kenikmatan Dunia’ itu. Inilah yang membuat orang ketagihan akan seks.
Kini dinding vaginaku berkedut dan menjepit batang Damian makin kuat. Hanya sepuluh menit aku nyaris mencapai orgasmeku lagi. Namun stamian Damian adalah yang membuatku salut. sepuluh menit ini, ditambah lima belas menit yang tadi sudah nyaris total setengah jam Damian menggempur vaginaku. Dibanding suamiku yang biasanya hanya tahan kurang dari lima menit.
Kakiku berjinjit di udara, terkadang jari-jemariku meregang dan menguncup dari balik stocking hitam tipis. Damian sama sekali tak memperdulikan bau keringat pekat yang menguap dari telapak kaki dan stockingku, ia malah asyik menciumi dan menjilatinya dengan penuh nafsu.
Beberapa menit kemudian, badanku menegang kaku. Kejang-kejang yang tak bisa kukontrol kembali menyergap sekujur tubuh. Vaginaku berkedut kencang, menggigit dan mengempot batang Damian yang terjebak di dalamnya.
“Uurggh... nyo-nyonyaah...” Damian meringis-ringis menikmati gigitan beringas dinding vaginaku.
Mataku kembali memutih seperti orang kesurupan, dan jiwaku melayang ke puncak langit. Damian tak kuat lagi menahan klimaksnya, pijatan dinding vagina sempitku akhirnya membuat penisnya menyerah. Damians segera mencabut penisnya, diiringi semburan-semburan cairan cairan klimaks yang keluar dari dalam rahimku.
Damian secepat kilat berjongkok di samping wajahku dan menumpahkan cairan spermanya yang begitu kental dan banyak. Diarahkannya ke dalam mulutku yang masih menganga dan mendengkik pelan, namun begitu kuatnya semburan sperma itu hingga tak semuanya masuk ke dalam mulutku. Beberapa tumpah di mata kanan, sebagian keningku, juga hidung, dan menetes ke pipi kananku, serta beberapa gumpalan besar di daerah bibirku. Wajahku terlihat seperti baru saja ditumpahi segelas penuh sperma.
 Aku terengah-engah puas, Damian membersihkan ceceran sperma yang bertebaran di wajahku dan kemudian menyuapkannya ke mulutku. Secara instingtif kukulum jarinya dan kutelan habis setiap sperma yang disuapkannya kepadaku. Beberapa gumpalan yang jatuh di daerah bibirku segera disorongkannya masuk ke dalam mulutku. Lalu ditempelkannya batangnya di mulutku, dan dengan sekenannya kujilati dan kubersihkan kepala dan sebagian batang penisnya. Kuhisap-hisap lembut dan kuseka penisnya dengan lidah.
Sejujurnya aku tak pernah merasakan sperma sebelumnya. Jangankan mengulum batang penis suamiku, memegangnya saja aku geli. Tapi kini sebaliknya, Damian mampu membangkitkan sisi liar diriku hingga aku dibuatnya pasrah dan rela mengemuti batang penisnya dan meminum spermanya. Hangat dan kentalnya sperma Damian mengalir masuk ke dalam kerongkonganku. Kukecap rasanya yang hambar dan sedikit asin, yang ternyata tak seburuk yang kukira.
Aku tak ingat apa-apa lagi setelah itu. Semuanya gelap dan aku langsung tertidur saking lelahnya. Rasanya begitu puas dan lemas seperti habis berlari berkilo-kilo meter. Aku terbangun satu setengah jam kemudian seperti baru terbangun dari mimpi buruk sekaligus juga mimpi indah.
Aku kaget dan langsung terduduk di atas kasur. Kuperhatikan sekeliling bagaimana spreiku yang sudah acak-acakan dan begitu basah akibat cairan keringat dan cairan-cairan lain yang tak kuketahui. Sisi wajahku serasa kaku akibat ceceran sperma yang mengering. Kemaluanku terasa aneh dan ngilu ketika kucoba untuk berjalan. Akhirnya aku memutuskan untuk duduk dahulu guna memulihkan tenaga. Aku menelungkupkan wajah sembari menyesali apa yang tadi terjadi pada diriku. Kutatap fotoku dan suamiku yang terbingkai rapih di atas meja di samping kasur dengan rasa sesal.
Rasa bersalah yang amat sangat menyerang batinku. Kedua mataku mulai berkaca-kaca. Namun hatiku mulai mencari-cari alasan, memang sebenarnya salah suamiku juga yang kini jarang menyentuhku hingga akhirnya aku dengan mudah mau saja diperdayai Damian. Dan ah, Damian.. ia terlalu hebat. Kusalahkan suamiku dan Damian. Aku hanyalah wanita lemah dan tak berdaya.
Kini aku membenci Damian hingga ke ubun-ubun. Ingin rasanya kuhajar Damian habis-habisan. Namun rasa itu surut begitu melihat sepucuk surat yang tergeletak tak jauh dari fotoku dan suamiku.
“Nyonya Vera, maafkan perbuatan tercela saya. Saya tidak ingin menyakiti nyonya, dan saya pun bahagia melihat nyonya ikut menikmatinya. Saya tak sanggup oleh pesona kecantikan nyonya. Sekali lagi maafkan saya...”
Begitu kira-kira surat itu berbunyi. Namun masih ada bagian lanjutan akhir surat.
“Apabila nyonya kesepian, nyonya tahu harus menghubungi siapa.”
Kuremas dan kubuang surat itu ke kotak sampah. Bagian akhir surat itu membuatku berdebar-debar lagi. Terbayang kilasan-kilasan bagaimana perbuatan tercela kami tadi siang. Rasa benci tadi menyurut seiring darahku yang kembali berdesir sesaat.
Sial kau, Damian! ujarku dalam hati. Namun timbul pula setitik rasa rindu di hati kecilku.
Segera aku berjalan perlahan dan segera mandi air hangat, untuk kemudian membersihkan kasurku. Terngiang kata-kata Damian di surat tadi kala aku mengganti sprei yang basah kuyup itu. Apabila aku kesepian ia siap datang lagi dan menghiburku. Diam-diam aku tersenyum kecil membayangkan dirinya.
Aaah Damian....
loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Istri yang Sendirian "

Post a Comment