Anak Titipan

Perbedaan, walau sedikit, sering membuat manusia merasa hina. Apalagi di masyarakat yang menjunjung tinggi norma dan silsilah. Begitu juga yang terjadi pada kehidupanku. Menjadi sedikit berbeda, membuat jalan hidupku dipenuhi kebencian. Banyak manusia merasa lebih baik dari yang lain, walau pada dasarnya, mereka belum tentu bersih adanya.

Waktu kecil, aku kenyang sekali dengan ejekan, bahkan hinaan. Bukan karena fisikku yang memang sedikit berbeda dibanding yang lain, tapi lebih pada latar belakangku. Saat ibuku berusia 18 tahun, dia pergi ke Arab menjadi tkw. Belum 2 tahun, ibuku pulang dengan perut tengah mengandung aku, tapi saat itu ibuku pulang bersama seorang pria yang katanya suaminya. Menurut ibu, mereka telah menikah secara siri.



Saat aku baru 6 bulan, ayahku pergi lagi untuk bekerja. Sejak itu beliau tidak pernah datang lagi. Saat aku berusia sekitar 1 tahun, ibuku kembali berangkat menjadi tkw. Jadilah aku dalam pengasuhan nenek. Waktu itu kami tinggal bersama anak-anak nenek yang lain. Bukan hanya oleh lingkungan, bahkan oleh keluargaku sendiri aku sering dihina. Sebutan anak haram, atau ejekan seperti domba keriting, karena rambutku sedikit ikal, biasa aku dengar. Bahkan adik ibuku tak jarang suka memukulku.

Saat aku duduk di kelas 3 SD, ibuku akhirnya kembali. Walau bahagia, tapi aku sendiri merasa harus membiasakan diri. Karena merasa asing, ibu akhirnya membawaku pindah, membeli rumah kecil di pinggir jalan dan membuka warung makan kecil. Bahkan dia membelikanku sepeda. Waktu itu aku sangat bersyukur bisa pindah dari lingkungan yang membuatku merasa hina.
Aku juga pernah menanyakan kepada ibu, kenapa mereka menghinaku. Ibuku hanya bilang; mereka sirik karena aku lebih cakep dari mereka. Liat saja hidung kamu, kata ibuku, mereka kan pesek, begitu kata ibuku. Walau ejekan di rumahku berkurang, tapi di sekolahku sesekali mereka masih mengejekku.
Setahun hidup bersama ibu, ibu memperkenalkanku dengan lelaki pacarnya, usianya 5 tahun lebih muda dari ibuku. Seorang pemuda berwajah lumayan tampan, sebut saja mas Tarno, yang di mataku tak lebih dari seorang playboy yang memanfaatkan uang ibuku. Tapi kemudian mereka menikah secara siri.
Belum lama merasakan kebahagian, musibah menerpa keluargaku; nenek sakit dan butuh biaya operasi. Akhirnya ibuku menggadaikan rumah karena saudara ibu yang lain tak ada yang mampu membantu. Tapi nyawa nenek tak tertolong, saat aku kelas 6 SD, nenek meninggal. Untuk melunasi biaya nenek, ibu akhirnya menjual rumah. Hanya sepeda yang tersisa untukku. Kami tidak kembali ke rumah nenek, tapi mengontrak di rumah kecil. Entah karena rejeki atau apa, kurang dari sebulan sejak kematian nenek, ibu mendapat tawaran kerja di Jakarta. Ibu menerima pekerjaan tersebut, sebelumnya ibu telah minta mas Tarno merawatku, sementara, sebelum nanti akupun akan diboyong ibu ke Jakarta.
Akhirnya secara mendadak, aku pindah ke rumah mas Tarno, rumah di pinggiran desa yang jauh dari mana-mana. Rumah yang sebenarnya lumayan besar, yang terletak persis di belakang balai desa hingga kalau dari depan tidak terlihat. Aku akhirnya diperkenalkan mas Tarno kepada ibunya, sebut saja bi Narti, wanita yang menurutku terlalu muda untuk menjadi ibu mas Tarno. Usianya masih sekitar 30 tahun. Masih cantik dan seksi. Saat pertama bertemu, aku sudah merasakan bahwa beliau kurang bersahabat. Wajahnya seperti tak acuh menanggapi kehadiranku. Ternyata bi Narti adalah ibu tiri mas Tarno.
“Apa yang aku bilang dulu,” begitu katanya ketika pertama kami bertemu.
“Sudah lah, mbok.” kata mas Tarno.
Aku akhirnya tahu dari percakapan mereka, walau secara diam-diam aku mencuri dengar. Bi Narti ternyata tidak menyetujui hubungan mas Tarno dengan ibuku. Mukaku sempat panas saat kudengar bi Narti  bilang, “Apa aku bilang, wanita nakal gitu dinikahi. Jadinya bawa sial, masa ninggalin anak gitu aja, emang gak dikasih makan apa?!” katanya.
“Sudah, mbok, nanti ibunya kan ngasih uang untuk ganti biaya makan disini,” kata mas Tarno.
Memang bukan pertama kalinya aku mendengar ibuku disebut sebagai wanita nakal, tapi tetap saja sering membuatku kesal.
Awalnya saat ujian terakhir kelas enam selesai, aku merasa bahagia, akhirnya aku bisa pindah ke Jakarta menyusul ibuku. Tapi kemudian mas Tarno bilang, ibuku lagi persiapan ke Malaysia. Sungguh, saat itu hatiku merasa hancur, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa pasrah.
Aku sendiri saat pindah ke rumah bi Narti, berusaha menyenangkan hati perempuan itu dengan rajin bekerja. Pagi hari aku sudah bangun, menimba air hingga bak mandi penuh dan menjaganya untuk tidak pernah kosong. Bahkan tiap pagi juga aku mengepel lantai. Selain itu aku menawarkan diri membantu bi Narti membungkus makanan kecil jualannya. Tapi tetap saja, bi Narti selalu judes terhadapku.
Mas Tarno kadang suka mencoba menenangkanku, “Sifat mbok memang begitu,” katanya.
Mas Tarno sendiri seringnya jarang di rumah. Saat mendengar aku tak jadi ke Jakarta, bi Narti tak henti-hentinya menyalahkan mas Tarno. Sungguh, awal masa SMP-ku, sangat berat bagiku. Aku seperti berada dalam penjara, meski ada orang, tapi kami asing satu sama lain. Tiap malam, aku hanya bisa menangis. Sedikit melakukan kesalahan, seperti pulang telat, bi Narti akan marah besar. Sumpah serapah kadang keluar dari mulutnya.
“Badan kamu saja yang gede, otak kamu kosong!” katanya.
Aku sangat tak leluasa, bahkan makanpun aku dijatah. Mas Tarno sering bilang, ”Senangin hati bi Narti, pasti dia jadi baik,” katanya. Tapi aku bingung, aku telah berusaha sebisa mungkin, tapi tetap saja hasilnya sama.
Di SMP, aku mempunyai kawan, sebut saja joko. Bersama dia, kadang aku melakukan hal-hal negatif; seperti mencuri buah-buahan, atau apalah, untuk mengganjal perut kami. Aku sebenarnya diberi uang jajan, tapi seringnya kurang. Mas Tarno sendiri tak memberi tahu berapa uang yang ibu berikan untuknya. Kepada Joko aku bahkan bilang ingin kabur, Joko bahkan sering bercanda. “Gak ada suami tuh, jadi uring-uringan. Perkosa aja,” katanya menanggapi kejudesan bi Narti. Aku hanya tertawa.
Sampai suatu waktu, tak sengaja aku mendengar percakapan di balai desa. Dua wanita membicarakan bi Narti. Dari mereka akhirnya aku tahu, ternyata bi Narti juga bukan termasuk wanita baik-baik. Mereka bilang bi Narti dinikahi ayah mas Tarno karena sudah hamil duluan. Tapi sayang anaknya meninggal pas baru dilahirkan, menyusul ayah mas Tarno yang sudah meninggal duluan.
Sejak itu, aku kadang berusaha mencuri dengar pembicaraan mas Tarno dengan bi Narti. Lama-lama aku sadar, ternyata mas Tarno seperti tidak begitu patuh terhadap ibunya itu, bahkan sering membangkang. Maklum cuma ibu tiri. Dan suatu hari, sungguh membuatku sakit hati dan tekejut. Mas Tarno membawa wanita muda ke rumahnya, walau cuma singgah sebentar.
Aku sebenarnya pura-pura tak peduli. Tapi saat mas Tarno pergi, bi Narti bilang, “Syukurlah kalo si Tarno dapat jodoh yang benar, ya?” begitu ia berkata sambil melihatku. Aku hanya bisa masuk ke kamar.
Saat libur tengah kelas satu selesai, waktu itu aku pulang dari masjid. Aku lewat belakang, saat kudengar percakapan yang sedikit keras. ”Pokoknya kamu jangan cari aku lagi.”
Dari pertengkaran itu, aku baru tahu kalau ternyata bi Narti punya pacar seorang pemuda, tapi kemudian bi Narti ditinggal. Dari jauh aku sempat melihat sosok lelaki itu dengan jelas, lelaki yang pernah sekali aku lihat keluar dari rumah bi Narti juga, waktu awal-awal aku pindah kesini. Tapi saat itu bukan malam, sekitar jam 10 pagi. Inikah pemuda yang dibicarakan perempuan di balai desa tadi, pemuda yang suka datang diam-diam, yang pura-pura menjadi pembeli makanan bi Narti, padahal sebenarnya mereka tengah berpacaran. Itu yang ada di pikiranku saat itu.
Sejak kejadian itu, bi Narti kelihatan lebih murung, bahkan sering mengurung diri di kamar. Aku sendiri menceritakan hal tersebut ke Joko. ”Ternyata rusak juga,” begitu kata Joko mengomentari.
Sementara bi Narti tetap memperlakukanku seperti orang asing. Sesekali dia marah jika aku melakukan kesalahan. Sampai akhirnya aku naik di kelas dua.
Hari itu aku baru pertama masuk. Jam sepuluh aku sudah pulang, ternyata di rumah bi Narti gak ada orang. Aku tak berani makan, akhirnya aku tiduran di kamarku. Hari itu kurasakan panas, jadi aku tiduran hanya mengenakan celana dalam saja. Hal itu biasa aku lakukan ketika aku tidur malam.
Saat terlelap tiba-tiba pipiku disentuh. “Bangun, tidur melulu!!” seru sebuah suara.
Akupun terbangun. Kulihat bi Narti memelototiku. “Maaf, bi, ketiduran.” jawabku.
”Sudah, bantuin goreng sana.” katanya. Matanya terus melihat ke arahku yang hanya mengenakan celana dalam, berusaha mencari pakaian.
Aku sedikit merasa aneh saat itu. Dan keanehan itu, sesekali terjadi. Saat sepertinya bi Narti selalu berusaha mencuri pandang ke arahku jika aku hendak pergi mandi, yang hanya mengenakan handuk. Atau saat mengganti baju di kamar karena kamarku hanya ditutup tirai kain, yang kadang sedikit terbuka.
Kemudian, suatu hari, saat aku mandi, aku dikejutkan oleh kehadiran bi Narti yang tiba-tiba masuk ke kamar mandi juga. Kamar mandi yang memang tampa pintu itu tiba-tiba terbuka. “Ngapain aja sih, mandi kok lama amat?” katanya, kemudian bi Narti mengambil ember di samping bak mandi.
Aku yang lagi mengguyur tubuhku hanya bisa kaget. Mata bi Narti melihat ke arah kemaluanku, aku berusaha menutupi dengan tanganku dan berbalik. ”Maaf, bi, tadi buang air dulu, jadi lama.” kataku saat aku beres mandi dan melintas di hadapannya. Kulihat matanya masih melirik ke arah kemaluanku.
Sungguh, hal-hal sepele sering menjadi bahan amarah bi Narti. Aku sendiri tak apa jika dia menyebutku goblok atau apalah, tapi kalau sudah menjelek-jelekkan ibuku, amarahku sering terbakar.
Dan sore itu, sore yang akan kuingat selalu dalam hidupku. Aku masih di pertengahan kelas 2. Aku telah minta ijin bi Narti untuk pulang sore karena ada tugas sekolah. Saat pulang, hujan turun dengan deras, akupun kehujanan. Tiba di rumah, kulihat bi Narti sudah marah-marah. Dia meributkan jemuranku, juga ketelatanku pulang. Selain itu, aku lupa membeli plastik yang dia pesan sebelumnya. Sungguh, saat itu walau badanku dingin, tapi kepalaku serasa panas. Belum lagi saat hendak mengambil handuk, kakiku membuat lantai basah. Akhirnya hanya dengan mengenakan handuk, aku pel sebentar lantainya. Ocehan bi Narti tak aku dengar. Aku berusaha mencari bajuku yang siangnya kujemur, tapi tak ada. Kulihat bi Narti keluar dari kamarnya dengan hanya mengenakan kain tipis untuk menutup dadanya yang sintal.
“Bibi mau mandi juga ya? Bibi aja duluan,” kataku.
“Nggak usah... kamu saja! Nanti sakit, malah bikin repot!” bentaknya.
Akupun cepat-cepat mandi, hanya 5 menit, terus keluar lagi. ”Bi, aku sudah.” kataku.
“Ini baju kamu, pisahin!” bentak bi Narti.
Aku cepat ke kamarnya. Kulihat tumpukan baju di lantai kamar bi Narti, di sampingnya strika arang terlihat masih mengepul. Aku memilih-milih bajuku sambil jongkok.
“Kamu tuh nggak tahu diri ya, sudah telat, mana plastiknya lupa, jadi besok gmana?” katanya.
“Maaf, bi, tadi guru minta tolong dulu.” jawabku jujur.
“Alah, bilang aja main.” kata bi Narti tak percaya.
Aku akhirnya berdiri dan membawa pakaianku.
”Eh, kalo ada orang ngomong didenger, malah pergi. Dasar kurang ajar!” katanya.
“Maaf, bi.” kataku.
Bi Narti berdiri, dia memukul ke arah tanganku hingga sebagian bajuku jatuh. ”Dasar anak nggak punya bapak, jadi nggak ada yang didik!” bentaknya. “Awas kalo lupa lagi!” katanya sambil mendorong pundakku.
“Iya, bi, maaf.” kataku.
“Pasti goblok dari ibunya,” sahutnya.
Aku hendak memungut bajuku, tapi kulihat kaki bi Narti menendangnya hingga sebagian menjauh. Aku ambil sebagian bajuku, saat itulah kurasakan handukku melorot lepas. Aku cepat-cepat memeganginya.
“Kamu enak-enakan main, aku kerja seharian.” kata bi Narti memulai lagi.
”Iya, bi, maaf. Aku kan dah minta maaf, biar nanti aku setrika semuanya.” kataku.
“Eh, malah melawan! Berani ya?” katanya dengan tangan hendak menjewerku. Tapi aku sigap menangkisnya, malah kini memegangnya, entah kenapa aku melakukannya. Tiba-tiba satu tangan bi Narti melayang, akupun menangkap dengan tanganku yang lain. Saat itulah aku baru sadar, handukku yang sudah terlepas langsung melorot turun ke lantai.
Mata bi Narti melirik cepat ke arah kemaluanku. ”Telanjang di depan orang, dasar anak haram!!” katanya.
Mukaku menjadi merah, aku semakin menggenggam tangannya erat. Bi Narti mencoba berontak, aku malah menekannya hingga dia terjongkok. Sambil terus berontak sesekali kulihat matanya melirik ke arah kemaluanku.
“Berani kamu ya, dasar anak pelacur sialan!!” katanya dengan kaki berusaha menendangku, tapi aku tahan dengan kakiku juga. Akhirnya kubuat dia berbaring telentang sambil kutekan tangannya di dadanya.
“Mau apa kamu?!” kata bi Narti sambil melirik ke kemaluanku yang sudah sedikit tegang.
Saat itu terlintas kata-kata Joko, ”Perkosa saja dia!” Ya, aku akan melakukannya, biar dia tahu rasa.
Aku tak berkata apa-apa, badanku yang sedikit lebih besar, juga tenagaku yang jauh dibanding tenaganya, membuat gerakan berontak bi Narti jadi sia-sia belaka. Dengan cepat aku akhirnya berhasil menarik kain yang menutup di badannya hingga terbuka.
”Coba saja kalau berani!!” bentaknya.
Entah kenapa, kata-kata itu malah membuatku semakin bernafsu. Aku sama sekali belum pernah melakukannya, tapi entah naluri darimana yang menutunku. Aku hanya berusaha menempelkan kontolku di daerah yang kulihat ada rimbunan bulu hitam. Aku hanya mengingat-ingat gambar yang pernah diperlihatkan Joko, gambar yang berisi adegan-adegan seronok dan berusaha untuk mempraktekkannya sekarang.
Sambil kurentangkan tangan bi Narti hingga bisa kulihat dengan jelas tonjolan bukit payudaranya yang bulat menggoda, kontolku yang perlahan mulai bangkit akibat gesekan dengan bulu kemaluanya, berusaha kutusuk-tusukkan, berharap menemukan sebuah lubang. Bi Narti awalnya berontak, tapi lama-lama dia terdiam. Tak lama kurasakan ada lubang hangat yang menempel di ujung kontolku, akupun berusaha menancapkan kontolku disana. Saat sudah melesak masuk, dengan paksa aku mulai mengenjot tubuh molek bi Narti.
Kudengar dia mengaduh saat aku menggoyang dengan cukup kencang, namun aku tak peduli. Terus aku menikmati tubuh sintalnya sambil mulai kuremas-kuremas tonjolan buah dadanya yang besar, juga aku menyusu di putingnya yang mungil memerah secara bergantian, sampai sekitar lima belas menit kemudian, kurasakan aliran spermaku mulai muntah keluar. Bi Narti hanya diam melihat mukaku yang keringetan.
“Kalau bibi bilang sama mas Tarno, aku akan bilang bi Narti yang suruh aku.” kataku mengancam sebelum aku mengambil bajuku satu persatu. Dan setelah memakai handukku, aku akhirnya kembali ke kamar.
Sekitar pukul 11 malam, aku merasa lapar sekali. Akhirnya aku keluar karena kulihat sejak kejadian tadi, bi Narti tak keluar dari kamarnya. Saat subuh, barulah bi Narti keluar, aku cepat-cepat menghampirinya. “Maafkan aku, bi.” kataku. Bi Narti hanya diam.
Sejak itu, hampir sebulan, kami tak bertegur sapa, bahkan aku tak membantunya membungkus makanan. Mas Tarno tak menyadarinya karena dia datang hanya sebentar dan lebih sering dengan selingkuhannya. Dan kemudian di suatu subuh juga, aku memberanikan diri bicara kepada bi Narti.
“Bi, aku minta alamat ibu. Mungkin lebih baik aku kos aja, tolong bilang ke mas Tarno.” kataku.
“Sudah, kamu mandi sana, trus makan. Nanti bibi mau suruh kamu.” katanya.
Tumben, pikirku. Mungkin bi Narti sudah nggak marah. Selesai mandi dan berseragam, aku berjalan ke pintu kamarnya. ”Bibi mau suruh apa?” tanyaku.
”Makan dulu sana,” kata bi Narti.
”Nanti aja, bi, masih pagi.” jawabku.
”Ya udah, masuk sini.” katanya.
Akupun perlahan masuk. Dalam kamar, aku berdiri tak jauh dari pintu. Kulihat bi Narti duduk di samping ranjang. ”Buka baju kamu!” katanya.
Aku kaget, ”Mau apa, bi?” tanyaku.
”Udah, buka dulu.” katanya lagi.
Aku kemudian membuka baju seragamku.
”Semuanya!” katanya saat melihatku cuma bertelanjang dada.
Aku kembali heran, tapi kemudian tetap membuka celanaku. ”Ini juga, bi?” kataku sambil menunjuk celana dalamku, satu-satunya kain yang tersisa.
Bi Narti mengangguk. Sungguh kurasakan jantungku deg-degan dan kikuk, aku kemudian menutup kontolku dengan dua tangan saat kulihat mata bi Narti terus memandangi kontolku; kontol yang ujungnya masih dipenuhi bulu-bulu halus, tapi menyebar hingga ke pusar, bahkan di dadapun sudah sedikit nampak, begitu juga di punggungku, hanya warnanya masih samar.
”Ada apa, bi?” kataku.
“Udah sini,” katanya sambil melambaikan tangan.
Aku mendekatinya. ”Bibi mau apa?” kataku saat kulihat dia mulai merebahkan badannya yang sintal di atas ranjang.
”Sudah, jangan pura-pura nggak tahu. Cepat entoti bibi!” serunya.
Kupingku langsung merasa panas, apalagi saat kemudian kulihat bi Narti membuka kainnya, dan ternyata dia sudah tak memakai celana dalam. Saat kulihat itu, tak terasa kontolku mulai bergerak berdiri.
”Hayo naik!” katanya. Kulihat dia menganjalkan bantal di pantatnya yang bulat saat aku mendekat.
Aku akhirnya berjongkok di hadapannya. Perlahan tangan bi Narti menggapai kontolku yang lumayan sudah menegang dan mendekatkan ke arah lubang memeknya. Aku hanya menurut, kurasakan kepala kontolku dia gosok-gosokkan ke bibir kemaluanya, membuatnya jadi semakin keras dan menegang.
”Gila, kontolmu gede juga! Coba dari dulu bibi tahu,” bisiknya.
Akhirnya dengan gerakan halus dia memasukkan batang kontolku ke arah belahan memeknya. Sungguh kurasakan nikmat yang jauh lebih fantastis daripada pertama dulu. Sesaat kemudian aku mulai menggerakkan pinggulku maju mundur. Hanya kurang dari 15 menit, kurasakan kontolku mulai menggeli hebat akibat jepitan dinding-dinding memeknya. Bi Narti mendekapku erat, sampai akhirnya, ”Aahh... ahhh...” tanpa peringatan, kusemprotkan cairan hangat milikku ke dalam lubang kemaluannya yang masih terasa sempit.
Bi Narti menatapku saat aku mulai mencabut kontol. Setelah sekali menyusu dan meremas-remas tonjolan buah dadanya, aku kemudian melangkah keluar kamar. Dia mengikuti. Aku pergi ke kamar mandi untuk membasuh batang kontolku, bi Narti juga melakukan hal yang terhadap lubang kemaluannya. Kami sama-sama tidak berbicara, hanya saling menatap dengan pikiran masing-masing.
Dari kamar mandi, aku berpakaian dan kemudian makan. Kami tetap saling diam, hanya bi Narti bilang, ”Makan yang banyak,” katanya sambil mengeluarkan nasi dari kurungan. Sungguh, perubahan itu membuatku kaget. Biasanya aku hanya diberi makan yang hanya ada dalam piringku. Apakah benar kata mas Tarno, bahwa aku harus membahagiakanya hingga bi Narti  bisa menjadi baik. Tapi apakah dengan cara itu baru dia bahagia? tanyaku balik dalam hati.
Nasiku tinggal setengah piring saat kemudian bi Narti menghampiriku. ”Tambah lagi,” katanya.
”Kenyang, bi.” kataku.
Tiba-tiba dia jongkok di samping kursi, tangannya kemudian meraba dan meremas-remas batang kontolku. Aku hanya diam, pun saat resletingku mulai ia turunkan, aku tetap diam. Kemudian tangannya merogoh ke dalam celanaku dan mengambil batang kontolku keluar. Aku hanya terus mengunyah nasi saat wajah bi Narti perlahan mendekati kontolku dan kemudian mengulumnya. Kurasakan geli saat dia menghisap batang kontolku. Dia melakukan itu sampai tak terasa kontolku jadi mengeras kembali.
”Bibi masih mau, boleh?” katanya.
Aku mengangguk. Segera kuhabiskan air dalam gelas saat celanaku ia turunkan, kemudian dia duduk di atasku sambil kemudian kontolku dia arahkan ke jepitan lubang memeknya. Aku sungguh tak mengira, baru sekali bermain, tapi sudah merasakan gaya yang berlainan. Bi Narti mulai menaik turunkan memeknya  dengan sangat lembut, sementara aku duduk pasrah saja tanpa tahu harus berbuat apa.
”Bajunya buka aja ya, nanti kusut.” kata bi Narti sambil perlahan membuka kancingnya satu persatu. Aku hanya diam memegangi pinggangnya. Kemudian bi Narti membuka kaosnya, juga kaitan behanya. Dengan tubuh hampir telanjang ia kembali menaik-turunkan pinggulnya, payudara yang besar berada tepat di hadapanku.
”Hisapin,” katanya.
Akupun menurut. Seperti bayi kelaparan, kuhisap dua payudara itu secara bergantian. ”Bi, sambil tiduran aja yuk?” kataku saat sudah capek duduk.
Dia menganguk, akhirnya kami pergi ke kamarku. Aku telentang dan bi Narti, mengenjotku dari atas seperti kuda liar. Lama sekali kami melakukannya, sampai akhirnya dia memelukku erat, dan kemudian lemas di atas badanku. Aku kemudian menggerakkan kontolku maju mundur, sesaat bi Narti menarik badanku hingga posisi kami bertukar. Aku kemudian mengenjotnya dan tak lama kemudian giliran tubuhku yang terkulai di atas tubuhnya, dengan dipenuhi oleh peluh serta denyutan dari kontolku yang sangat cepat.
Sejak saat itu, kami sesekali suka mengulangnya. Biasanya bi Narti yang meminta dengan menyuruhku masuk ke kamarnya, atau dengan cara merabaku. Jutek bi Narti jadi sangat berkurang,dia kini sangat menyayangiku. Tetapi jika mas Tarno ada, dia bertingkah seperti dahulu, kembali benci dan marah-marah kepadaku. Aku tidak apa karena tahu itu hanya pura-pura. Yang aku bingung, mas Tarno sesekali suka mengoda bi Narti.
”Mbok kok jadi jarang keluyuran, dah ada mainan baru ya?” katanya. Atau kepadaku mas Tarno suka bilang, ”Hati-hati diperkosa bibi! Tapi gak papa, buat pengalaman.” kata mas Tarno. Bahkan ia pernah berbisik padaku. “Dulu mas sering lihat anak-anak di kamar bibi, malah mas sering intipin. Makanya kalo ada cowok datang, intip aja, atau kamu mau nyoba juga gak papa.” katanya.
Akhirnya aku sedikit tak peduli jika mas Tarno tahu. Dan betul saja, suatu hari dia memergoki kami. Siang itu sekitar jam 12, saat aku lagi asyik-asyiknya mengenjot tubuh bi Narti di kamarku, kami tak mendengar pintu depan dibuka. Aku tengah sibuk menghantamkan kontolku ke kemaluan bi Narti yang terasa memijit-mijit kuat, sementara sambil merintih bi Narti mengangkangiku erat, kakinya terangkat dan melipat di atas pinggangku. Mulutku menyusu di tonjolan buah dadanya sambil tak lupa juga kuremas-remas bulatannya yang tak cukup bila kugenggam karena saking besarnya.
Saat itulah, tiba-tiba terdengar suara mas Tarno. ”Lagi asyik nih,” katanya sambil tertawa.
Aku kaget. Spontan aku berhenti. Kulihat dia berdiri di depan pintuku sambil kepalanya menyandar di tiang. Tapi mas Tarno melanjutkan, “Kok berhenti, teruskan aja!” katanya, kemudian dia menutup tirai kamarku walau tidak rapat dan pergi ke kamarnya sendiri.
”Gimana, bi?” kataku.
”Lanjutin aja,” jawabnya.
Sungguh hal itu malah membuatku semakin bergairah, bi Narti juga sepertinya tak peduli dengan kehadiran mas Tarno. Ia merintih dan menggelinjang-gelinjang semakin keras seiring tusukan kontolku yang jadi semakin cepat. Tak lama, kami sama-sama mencapai puncak kenikmatan yang sangat kami rindukan.
Mas Tarno ternyata acuh aja. Sorenya saat bertemu denganku, dia cuma berbisik, “Enak ya?” katanya.
Aku sempat berfikir bahwa mereka gila. Tapi mas Tarno rupanya punya siasat, dia berjanji kepadaku untuk tidak bilang ke ibuku, asal aku juga merahasiakan perselingkuhannya. Aku yang tidak punya pilihan lain, dengan patuh terpaksa menyetujuinya. Sejak itu, semakin sering mas Tarno membawa teman wanitanya ke rumah. Sesekali aku juga mengintip mereka, tentunya atas seijin mas Tarno, yang ujung-ungnya kulampiaskan nafsuku kepada bi Narti kalau sudah terpancing.
Semua itu tak aku ceritakan kepada joko. Tapi entah kenapa, suatu hari, saat aku sudah kelas 3, Joko sering berkata ingin mencoba perempuan, dia bahkan berani bayar. Entah dari mana, tiba-tiba ide gilaku muncul. Hari itu, aku mengajak Joko menginap di rumahku. Joko awalnya bingung, tapi kubilang bibiku memberi ijin karena aku juga sudah pernah menginap di rumah Joko.
Saat malam hari, aku sempat memancing Joko, “Kalo sama bi Narti, mau nggak?” tanyaku.
“Mau aja, pokoknya yang penting cewek. Lagian, bi Narti juga  seksi kok.” katanya.
Kami saling tertawa.
Sekitar jam 8 malam, aku masuk ke kamar bi Narti. ”Bi, aku lagi pengen.” kataku.
”Walah, tumben? Biasanya nggak pernah minta... tapi jangan deh, nanti ketahuan sama teman kamu,” katanya.
”Kita ajak aja sekalian, bi.” kataku.
”Gila kamu, jangan!” seru bi Narti.
”Bi, dia dah tahu kok aku dah gituan sama bibi. Makanya aku ajak dia, mau aku jebak. Dia kan masih perjaka,” kataku menggoda.
“Gila, jangan!” sahut bi Narti, tapi kulihat sudah mulai tertarik.
”Supaya dia nggak cerita ke orang-orang, bi.” kataku lagi.
Akhirnya walau tanpa mengiyakan, bibi menyuruhku untuk kembali ke kamar menjemput Joko. ”Jok, dia mau. Kamu gimana, mau nggak?” kataku.
”Gila, bohong kamu!” bisik Joko.
”Sumpah!” kataku.
”Nggak ah, nggak jadi.” katanya.
”Nggak apa-apa kok, aku juga pernah. Tiap hari malah.” kataku.
”Bohong!” katanya.
”Sumpah! Kalo nggak percaya, nanti aku liatin depan kamu.” kataku.
Akhirnya kutarik tangan Joko dan kuajak pindah masuk ke kamar bi Narti. Bi Narti sudah menunggu kami dengan duduk di samping ranjang. Saat melihat kedatangan kami, dia langsung berbaring. Aku kemudian membuka seluruh pakaianku. Joko tampak kaget dengan apa yang kulakukan.
”Langsung nih?” tanyanya masih tak percaya.
”Ayo, buka aja.” kataku sambil mengangguk.
Setelah kami telanjang, aku kemudian jongkok di hadapan bi Narti untuk membuka kain dan menurunkan celananya. Setelah aku melepas kutang, tumpahlah isinya. Tampak buah dada bi Narti yang besar terbuka bebas. Kulihat Joko melotot memandanginya. Kontolku kurasakan ada yang memegang, ternyata bi Narti. Saat aku mulai menyusu di gundukan payudaranya, ia juga mulai mengusap dan mengocok-ngocok batang kemaluanku.
Kulihat kontol Joko langsung menegang melihat apa yang kami lakukan. Akupun berdiri, memberi tempat pada Joko. Kontolnya memang tidak sebesar punyaku, tapi lumayan juga untuk anak seusianya. Tak berkedip Joko menatap benda yang ada di bawah pusar bi Narti. Bulu yang lebat dan hitam menarik perhatiannya. Aku duduk di lantai, ingin melihat apa yang terjadi selanjutnya.
Bi Narti menaikkan kakinya lalu membukanya lebar-lebar hingga memeknya yang sehat jadi terbuka lebar, dan tentu saja terlihat semua isi-isinya. Joko  mendekat untuk melihatnya.
"Ini namanya memek, baru pertama ngeliat ya?" goda bi Narti.
Joko mengangguk, ”Bagus banget!” katanya dengan tangan mulai mengelus-elus bibir kemaluan bi Narti. Jarinya menusuk masuk ke lobangnya yang sempit dan bermain-main di sana. Cairan bening tampak mulai membanjiri liang memek bi Narti. "Ouw... a-aduh... enak sekali... terus..." wanita itu merintih.
Lama Joko mengobok-obok lubang kemaluan bi Narti, sampai akhirnya ia ditarik agar berdiri. Sekarang ganti bi Narti yang berjongkok di hadapan Joko sambil tangannya memegang dan meremas-remas batang kontolnya, sebelum mulai mendekatkan wajah dan mengulumnya. Tampak kedua lutut Joko gemetar, apalagi saat bi Narti memasukkan seluruh batang penisnya ke dalam mulut dan membuat gerakan maju mundur cepat. Tangan Joko mencengkeram erat kepala perempuan itu.
“Bibi… a-aku mau... kencing!!” ia merintih. Tampaknya ia akan keluar.
Bi Narti yang tak ingin itu terjadi karena masih ingin permainan ini berlanjut, segera melepaskannya. Ia kemudian rebahan di atas ranjang sambil mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar sehingga memeknya terbuka jelas. "Ayo masukin kesini, Jok!" katanya dengan tangan menunjuk ke lobang memeknya yang nampak sudah basah kuyup memerah.
Joko naik ke atas ranjang dan mengangkangi tubuh molek bi Narti. Tampak penisnya yang tegang mengkilat siap menusuk lobang wanita yang pantas menjadi ibunya itu. Dengan bantuan bi Narti, Joko mulai memasukkan batang penisnya secara perlahan-lahan untuk melepas keperjakaannya.
"Ahh..." Joko mendesis keenakan saat batang kontolnya dijepit oleh daging yang sangat basah.
"Masukkan lebih dalam lagi, Jok... dan genjot tubuhku!" bi Narti memberi perintah.
"Iya, bi! Ughh... enak sekali..." Joko berkata sambil mulai memompa pinggulnya. Genjotannya semakin lama semakin cepat, yang diimbangi oleh bi Narti dengan goyangan mantab. Tampaknya hal ini jadi membuat Joko tidak kuat lagi menahan semburan pejuhnya yang akan memancar keluar.
"Bibi… a-aku mau kencing!!" jeritnya setengah berteriak. Ia merangkul erat tubuh sintal bi Narti dan... Cret! Cret! Cret! Cairan hangatnya membanjiri liang memek wanita itu.
Joko terkulai lemas di atas tubuh bi Narti, butiran-butiran keringat keluar dari sekujur tubuhnya. "E-enak sekali, Bi." Ia berkata.
"Iya, tapi sekarang gantian ya." sahut bi Narti sambil melirikku.
Joko segera mencabut keluar penisnya yang sudah agak mengempis dan terkapar lemas menjauhi badan bi Narti.
"Kamu tusuk bibi dari belakang ya!" bi Narti memberi perintah. Kemudian ia mengambil posisi menungging sehingga memeknya yang masih penuh oleh sperma Joko jadi terlihat jelas. Aku mengelapnya dulu dengan celana dalam, entah milik siapa. Baru kemudian aku menusuknya.
Gerakanku yang maju mundur di pantatnya, disambut oleh bi Narti dengan goyangan erotis. Semakin lama gerakannya menjadi tidak teratur, semakin cepat dan kuat, sampai akhirnya dengan memeluk bantal erat-erat, ia menggapai puncaknya. Merasakan pijitan-pijitan ringan saat bi Narti menyemburkan cairannya, akupun jadi ikutan tak tahan. Sambil memeluk erat tubuhnya dari belakang dan meremas-remas susunya yang menggantung indah itu, akupun memuntahkan spermaku.
Kulihat Joko memelototiku dengan kontol kembali mengeras. Setelah mengerang puas, akupun menyingkir. ”Ayo lagi, Jok!” kataku.
Ia tampak sedikit ragu, tapi akhirnya kembali mengenjot kembali tubuh sintal bi Narti. Malam itu sungguh luar biasa bagi kami bertiga, khususnya bagi Joko yang baru pertama kali merasakan tubuh hangat wanita.
Hubungan ini terus berjalan sampai aku lulus SMP. Di awal tahun ajaran baru, ibuku tiba-tiba muncul. Ia yang tahu kalau sudah dibohongi oleh mas Tarno, tentu saja marah besar. Malam itu juga ia mengajakku ikut ke Jakarta. Perpisahan dengan bi Narti membuatku merasa kehilangan. Aku yang masih begitu bernafsu pada perempuan, terpaksa hanya bisa melampiaskannya dengan onani, yang lama-lama membuatku bosan juga.
Sampai tanpa sengaja kupergoki ibuku yang tertidur di kamarnya dengan hanya memakai daster. Kain tipis itu tersingkap, menampakkan paha dan celana dalamnya yang berenda. Aku bisa melihat tubuh ibuku yang masih mulus dan sintal. Meski usianya sudah 38 tahun, ia masih sangat cantik.
Aku berdiri di pintu kamarnya, memang pintunya sengaja dibuka agar sewaktu-waktu kalau ia memanggilku aku bisa dengar. Entah setan mana yang menguasaiku, aku tiba-tiba memelorotkan celana dan mulai mengocok kontolku sambil membayangkan tubuh molek ibuku yang ada di depan sana.
“Ohh…” aku terus mengocok, makin lama semakin cepat, dan maniku pun muncrat. Banyak sekali hingga sampai mengotori lantai, buru-buru aku bersihkan dengan kain pel yang ada di sebelah pintu. Aku juga tak mengerti kenapa bisa sampai terangsang dengan ibuku sendiri, namun yang jelas rencana jelekku tidak berhenti sampai di situ saja.
Esoknya, sekolahku libur sebab hari ini adalah hari minggu. Aku bangun agak siang, kelelahan masturbasi semalam. Pagi ini, aku berniat memandikan ibuku, aku ingin melihat tubuh sintalnya secara utuh. Aku pun pergi ke kamar ibuku, ia sudah bangun dan sedang bersiap untuk mandi.
“Ibu mau mandi?” tanyaku.
“Iya, ada apa?” katanya.
“Boleh aku mandiin ibu?” tanyaku.
“Nggak usah, ibu bisa sendiri kok,” jawabnya.
“Nggak apa-apa, bu, anggap aja sebagai bakti anak kepada orang tua.” kataku merayu.
“Baiklah,” jawab ibuku tanpa curiga.
Akupun mengantarnya ke kamar mandi. Inilah saatnya, pikirku. Aku melihatnya melepas daster, beha dan cd-nya satu per satu. Tampaklah dua bukit payudaranya yang masih mancung, juga memeknya yang tembem yang bikin aku penasaran sejak semalam. Aku hanya terbengong, tak terasa batang kontolku sudah tegang. Darah mengalir cepat ke ubun-ubunku.
“Kamu kenapa?” tanya ibu.
“Ah... nggak apa-apa, bu,“ jawabku.
“Bajunya dilepas dong, nanti basah.” kata ibuku. “Kamu belum mandi juga kan?”
“I-iya,” kataku. Aku pun melepas pakaianku. Ibu tampak terkejut melihat punyaku yang menegang besar. Lalu dia duduk di pinggir bak mandi. Seakan mengerti, akupun mengambil gayung dan menyiramkan ke tubuhnya yang sintal. Lalu ganti ia mengambil gayung dan menyiramkannya ke tubuhku. Kami benar-benar saling memandikan.
Tibalah saat menyabuni. Aku mengambil sabun cair. Kusabuni punggungnya. Lalu dari belakang aku menyusuri pundak, hingga ke depan. Aku agak takut saat menyentuh buah dadanya. Takut kalau dia marah. Tapi ternyata tidak. Akupun sedikit membelai payudaranya, dan agak meremas juga.
Ibu tetap diam, hanya bahasa tubuhnya yang berbicara. Kubelai terus dadanya, lalu ke perutnya. Dan tak lama kemudian sudah sampai di bibir kewanitaannya. Mulanya aku hanya sekedar menggosok, tapi lama-lama aku sedikit menyentuh kelentitnya. Ibuku memejamkan mata sejenak, sepertinya ia keenakan. Aku teruskan, namun aku tak berani lama-lama.
Ibu tersentak ketika aku menyudahinya. Ia menghirup nafas agak dalam, sepertinya sedikit horni. Aku mengguyurkan air ke daerah kewanitaannya. Lalu sekarang giliranku. Aku disabun oleh ibuku. Mula-mula punggung, lalu dadaku yang bidang, dan sampai di kontolku yang menegang. Ibu mengurutnya sesaat, lalu menggosok buah pelirku, sepertinya ia tahu kalau bagian-bagian itu enak sekali jika disentuh.
“Eh… bu, boleh aku minta sesuatu?” tanyaku.
“Minta apaan?”
“Emm... dari kemarin kontolku ngilu, tapi tadi jadi enak waktu ibu pegang-pegang.” aku bersiasat.
Ibuku terdiam. Tapi sesaat kemudian tangannya yang lembut itu mulai mengocok punyaku, membelainya mesra. Oh, aku serasa melayang. Ibu benar-benar mengocok kontolku yang sudah tegang. Kontolku yang dikocok berpadu dengan air sabun, busanya sangat banyak. Begitu juga dengan payudara ibuku, membuatku jadi ingin kembali memegang dan meremasnya.
“Bu, boleh aku meremas dada ibu?” tanyaku terangsang. Dan tanpa menunggu jawaban segera kusambar dan kuelus-elus mesra, sementara ibuku terus membelai pelan batang kontolku. Sampai aku mencengkram kuat pundaknya tak lama kemudia tanda mau orgasme.
Ibu yang tahu akan hal itu, mengocok semakin cepat. Dua detik kemudian, sperma muncrat ke wajah dan dadanya. Banyak sekali. Sebagian meleleh di jemarinya. “Sudah?” ia bertanya.
“I-iya, bu.” kataku lemas.
Ibu lalu membersihkan spermaku yang ada di tubuhnya dengan membasuhnya menggunakan air. “Jangan bilang ini sama orang lain ya.” ia berpesan.
Kami segera keluar dari kamar mandi. Entah apa yang aku lakukan barusan, terangsang oleh ibuku sendiri, tapi yang jelas aku sangat menikmatinya. Dengan hanya memakai handuk saja, kami lalu sarapan. Melihat tubuh montok ibuku yang hanya dibalut handuk, membuatku kembali bergairah. Dasarnya gampangan, aku tak kuasa menahan godaan ini.
“Bu, maaf kalau tadi aku lancang,” kataku sambil duduk di sampingnya.
“Tak apa-apa, nak. Itu normal, semua remaja pasti demikian, bahkan bisa lebih.” kata ibuku.
“Bu, apakah boleh aku lihat lagi dada ibu?” tanyaku nekat.
“Buat apa?” tanyanya.
“Sebentar saja, bu, boleh ya?” kataku.
“Baiklah,” katanya. Ia lalu membuka handuknya hingga tampaklah dua buah bukit kembar yang aku inginkan. Aku memegang putingnya, dan entah kenapa tiba-tiba menyusu di sana.
“Ohh…” Ibu tak melawan walaupun aku menghisap rakus. Ia hanya bisa merintih dan menggelinjang kegelian. Bahkan tak terasa, ia sudah berbaring di meja makan dengan tanpa sehelai benang pun membalut tubuh sintalnya.
Aku terus mengunyah putingnya yang mungil, yang terasa kenyal di dalam mulutku. Aku juga meremasi kedua bukitnya yang terasa mulus dan halus di dalam genggaman. Setelah puas, baru aku turun ke bawah. Kuciumi perutnya yang ramping, dan terus meluncur hingga tiba di belahan memeknya yang kesat. Aku semakin bergairah. Ibuku terus meronta, bukan karena tidak mau, namun karena suka dan kegelian.
Ia tampak terangsang dengan perbuatanku. Tanpa perlu kupaksa, pahanya sudah terbuka. Setelah menjilati memeknya sejenak, segera kusiapkan batang kontolku. Kutindih tubuh sintalnya dan Ibuku tampak meneteskan air mata saat alat kelamin kami bertemu.
“Maaf, bu, tapi aku tak kuasa menahan ini.” kataku.
Ibu hanya mengangguk menanggapi. Penisku mulai kugesek-gesekkan di bibir kemaluannya. Terasa geli dan enak. Aku senggol-senggol klitorisnya, ibuku memejamkan mata, ia menggelinjang setiap kali kepala penisku menyentuhnya. Lalu akupun memasukkannya. Memeknya sudah basah sekali. Tak perlu tenaga banyak untuk bisa masuk. Sleeb!! Sensasinya sungguh luar biasa.
Aku tak peduli ia ibuku atau bukan, aku sudah menggenjotnya naik turun. Pinggulku aku gerakkan maju mundur dengan ritme sedang. Kurasakan sensasi memek ibuku yang masih seret menjepit batang kontolku yang panjang dan besar. Aku usahakan ibuku juga merasakan sensasi ini. Aku angkat bokongnya, aku remas-remas penuh nafsu. Kakinya mulai kejang dan menjepit pinggangku.
“Ohh… terus, sayang… cepat selesaikan, cepat!!” rintihnya. Ia mencengkeram bahuku. Wajahnya yang cantik dan bibirnya yang seksi membuatku terangsang. Dadanya yang besar juga terlihat naik turun, indah  sekali.
“Bu, ahh... aku ingin keluar!” aku mendesis sambil terus mencumbunya.
Ibu pun sepertinya juga mau keluar, ia mengejang nikmat, pertanda orgasme. Aku menyusul tak lama kemudian. Spermaku muncrat di rahimnya, aku tekan kuat-kuat batang penisku sampai spermaku habis. Ibuku lemas. Ia masih beralaskan handuk bekas mandi, berbaring telanjang di meja makan dengan aku menindih tubuh sintalnya dari atas. Aku perlahan mencabut penisku, tampak masih tegang dan belepotan sperma.
Ibuku memandanginya tanpa bersuara.
”Maafkan aku, bu, tapi enak sekali.” kataku.
Lalu ibuku menyuruhku untuk kembali ke kamar. Di dalam, sambil berbaring di atas ranjang, aku memikirkan apa yang terjadi barusan. Aku sudah menjadi anak durhaka. Tapi siangnya ibu bertingkah seperti biasa, seolah tadi pagi tidak pernah terjadi apa-apa. Tapi tatapan kami mempunyai arti.
Malamnya, jawabannya baru aku terima. Tanpa sebab yang jelas ibu memanggilku ke kamarnya. Dengan senang hati aku mengiyakannya. Malam itu, kami tidur seranjang. Tanpa babibu, ibu bangkit lalu menurunkan celana pendekku, lalu dengan cepat mengulum penisku. Aku kaget mendapatkan serangannya yang mendadak itu.
Dengan ganas Ibu mengocok, mengulum dan menjilat batang kontolku. Juga ia gesek-gesekkan ujung penisku ke putingnya, lalu ia jepit dengan buah dadanya. Akupun tak menyia-nyiakan hal ini, segera kulepas bajuku hingga kami jadi sama-sama telanjang. Ibu masih terus mengemut penisku.
Aku berbaring menikmati sensasi yang sangat nikmat itu. Sampai rasanya aku mau keluar, sedotannya benar-benar mantap. Aku tak kuasa lagi dan… ”Aaahh...” spermaku moncrot meski tak sebanyak tadi pagi. Tapi cukup untuk memenuhi isi mulut ibuku, ia menyedot semua spermaku sampai habis.
“Nih lihat,” kata ibuku sambil membuka sedikit mulutnya. Aku bisa lihat lidahnya yang terbungkus cairan putih spermaku.
“Ibu hebat,” kataku takjub.
Saat ia menelan spermaku bulat-bulat, aku bangkit dan langsung nenen di susunya seperti bayi. Tidak seperti tadi pagi, kali ini ibu berada di atas, sedangkan aku berbaring telentang atas ranjang. Kontolku sudah tegang lagi. Ibu berjongkok dan menuntun penisku masuk ke lubang kemaluannya. Setelah masuk semua, ia pun mulai menggerakkan tubuhnya naik turun sambil tangannya bertumpu pada pahaku. Makin lama makin cepat gerakannya hingga membuatku jadi tak kuasa, aku sudah ingin jebol duluan.
Ibu yang tahu kalau aku mau jebol, segera menghentikan gerakannya. Ia ganti dengan meremas-remas telurku. Oh… ini baru teknik baru. Lalu setelah beberapa saat kemudian, ia bergoyang lagi naik turun. Ibu terus mengulangi hal itu kalau aku mau ke puncak, rasanya spermaku berkumpul di ujung penis tapi ditahan tidak boleh keluar. Seolah-olah pijatan itu membuatku seperti menahan bom.
“Oh… anak ibu yang nakal… kontolmu gede! Nikmat banget! Ibu mau sampai! Ayo, basahi rahim ibumu ini! Hamili ibumu, nak!” rintihnya dengan lebih cepat bergerak. Ibu tak lagi bertumpu di pahaku, tapi di dadaku..
Kami orgasme secara bersama-sama. vaginanya sangat basah, begitu juga dengan kontolku. Spermaku masuk ke rahimnya banyak sekali, dan benar, spermaku tadi yang terkumpul di ujung, lepas dengan semprotan yang luar biasa deras.
Kami berpandangan sesaat, aku mencium bibirnya. Kami berciuman dengan aku masih memangkunya. Dan tak perlu waktu lama, kami ambruk dan saling berpelukan. Lalu tertidur.
Sejak itu hubungan kami jadi seperti suami istri. Aku tak tahu bagaimana kami menyebutnya. Hampir setiap hari kami melakukannya, dengan gaya yang berbeda-beda.
Suatu hari aku diajak ibuku ke tempat kerjanya, ternyata sebuah salon. Disana di mengenalkanku dengan seorang wanita cantik, ternyata tante girang. Ibu menjual tubuhku, yang sama sekali tidak kusesali. Selain dapat enak, aku juga dapat uang banyak. Wanita itu bernama Listiani, tapi minta dipanggil dengan tante Lis saja.
Tubuhnya terlihat sangat putih dan mulus sekali begitu telanjang di depanku. Baru kali ini aku melihat tubuh seindah itu karena baik bi Narti dan ibuku sama-sama berkulit coklat. Tanpa berkata-kata ia segera memelukku. Kubalas dengan menciumi bibirnya yang tipis menggoda. Hujan gerimis yang turun sedari sore membuat gairah kami berdua semakin memuncak. Diapun semakin ganas menciumi bibirlu, sambil tangannya membantu melepas baju dan celanaku.
Ketika kami sudah telanjang bulat, ia  langsung memegang batang kontolku dan mengarahkan ke liang memeknya. ”Aghh…” erangnya tertahan saat aku mulai menembus tubuhnya.
Oh, vaginanya terasa begitu sempit seperti perawan, tidak sesuai dengan umur tante Lis yang sudah 33 tahun. Akupun mulai menggenjot tubuh sintalnya. “Aghhhh... pelan-pelan, sayang.” ia merengek. Namun aku tak peduli, terus kupercepat sodokan kontolku.
“Aaah... ahhh... ahhh…” nafas tante Lis semakin memburu. Diapun mulai menjambaki rambut dan mencengkeram bahuku. “Ahh... ahh…” ia mendesah panjang.
Aku semakin mempercepat goyanganku. Tante Lis  terlihat mengimbangi goyanganku dengan sangat bernafsu. Dan tak lama kemudian terasa banyak cairan hangat di ujung penisku. Langsung aku mencabutnya dan mengarahkan ke mulut tante Lis saat pejuhku ikut menyembur keluar. Kumuntahkan seluruh isi penisku ke mulut perempuan cantik itu.
“Agghhh…” akupun mendesah panjang.
Tante Lis tampak gelagapan menelan pejuku yang muncrat banyak sekali, setelah itu kami berpelukan meskipun nafas kami masih tersengal-sengal. “Kamu hebat!” kata tante Lis sambil mencium keningku.
Aku hanya tersenyum menanggapi. Sejak saat itulah aku resmi menjadi brondong langganan para tante, dengan ibuku yang bertindak sebagai manajernya.
Lulus SMA, ibuku hamil. Itu tentu bayiku, aku sangat yakin sekali. Kami sepakat untuk membesarkannya karena kini kami sudah memiliki materi yang lumayan melimpah. Semua hasil kerjaku aku tabung. Kalau menurut orang uang panas cepat habisnya, entah mengapa tidak terjadi padaku, aku malah mampu membeli rumah dan mobil baru.
Ya, dengan kelebihan yang aku miliki, aku jadi gigolo tenar khusus untuk tante-tante yang berani membayar mahal. Sunguh aku akhirnya bersyukur memiliki darah Arab, banyak yang terpesona melihat kontolku yang besar, dan tak sedikit yang relah merogoh uang dalam-dalam untuk merasakannya. Aku sendiri tak peduli, asal aku suka dan mereka berani memenuhi semua syaratku, aku pasti akan memuaskannya.
loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Anak Titipan"

Post a Comment